HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden a. Jumlah responden
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Kelas responden Frekuensi (n) Presentase (%)
Kelas 4 31 54,4
Kelas 5 26 45,6
Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa distribusi siswa kelas IV dan kelas V di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang didapatkan bahwa distribusi siswa kelas IV dan kelas V di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota
Semarang didapatkan bahwa sebagian besar responden adalah kelas IV yaitu sebesar 31 siswa (54,4%) dan kelas V sebesar 26 responden (45,6%).
b. Jenis Kelamin
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 Berdasarkan Jenis Kelamin di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Jenis kelamin Frekuensi (n) Presentase (%)
Laki-laki 34 59,6
Perempuan 23 40,4
Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa distribusi responden berdasarkan jenis kelamin. Didapatkan bahwa sebagian besar responden adalah laki – laki yaitu sebesar 34 siswa (56,9%) dan perempuan sebesar 23 siswa (40,4%).
c. Umur
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 Berdasarkan Umur di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Umur Frekuensi (n) Presentase (%)
13 3 5,3 12 2 3,5 11 23 40,4 10 18 431,6 9 11 19,3 Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.3 tentang distribusi responden berdasarkan umur responden di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang, didapatkan ada 23 responden (40,4%)
yang berumur 11 tahun,18 responden (31,6%) berumur 10 tahun, 11 responden (19,3%) berumur 9 tahun, 3 responden (5,3%) yang berumur 13 tahun, dan 2 responden (3,5%) dengan umur 12 tahun. 2. Analisis Univariat
a. Dukungan Orang tua
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 Berdasarkan Dukungan Orang Tua di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n=57
Dukungan orang tua Frekuensi (n) Presentase (%)
Buruk 5 8,8
Sedang 45 78,8
Baik 7 12,4
Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan dukungan orang tua dengan kategori sedang sebanyak 45 (78,8%) responden, sedangkan dukungan orang tua dengan kategori baik ada 7 (12,4%) responden dan 5 (8,8%) dengan kategori dukungan orang tua buruk. Perhitungan statistik dapat diketahui bahwa rata – rata nilai dukungan orang tua adalah 50,33 dengan standar deviasi 8,442 dan mempunyai nilai terendah 33 serta nilai tertinggi 66.
Tabel 4.5 Distribusi Berdasarkan Dukungan Orang tua Siswa kelas 4 dan kelas 5 di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n=57)
Presentase (%) Aspek penelitian (%)
Tidak pernah
Jarang Sering Selalu Total
Dukungan Instrumental / Finansial 32,9 21,07 19,72 26,32 100 Dukungan Emosional 23,68 32,27 17,72 28,24 100 Dukungan Informatif 5,72 19,75 20,62 53,95 100 Dukungan Penilaian 6,15 29,85 19,3 44,75 100
Berdasarkan tabel 4.5 tentang distribusi jawaban responden berdasarkan dukungan orang tua di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang menurut jawaban pada kuesioner didapat dukungan instrumental/finansial pada jawaban jarang sebesar 21,07%, sering sebesar 19,72%, dan selalu sebesar 26,32%; dukungan emosional orang tua responden pada jawaban jarang diperoleh 32,27%, sering sebesar 17.72%, dan 28,24% pada jawaban selalu; dukungan informatif pada jawaban jarang didapat sebesar 19,75%, sering sebesar 20,62%, dan 53,95% pada jawaban selalu; dan dukungan penilaian orang tua pada jawaban jarang didapat sebesar 29,85%, sering sebesar 19,3%, dan jawaban selalu sebesar 44,75%.
b. Motivasi Belajar
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar Anak Pada Usia Sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Motivasi belajar Frekuensi (n) Presentase (%)
Buruk 0 0
Sedang 26 45,6
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar mempunyai motivasi belajar dengan kategori baik yaitu sebanyak 31 (54,6%) responden, sedangkan motivasi belajar dengan kategori sedang ada 26 (45,6%) responden. Perhitungan statistik dapat di ketahui bahwa rata – rata nilai motivasi belajar adalah 60,42 dengan standar deviasi 9,108 dan mempunyai nilai terendah 44 serta nilai tertinggi 79.
Tabel 4.7 Distribusi Motivasi Belajar Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Presentase (%) Aspek penelitian
Tidak pernah
Jarang Sering Selalu Total
Motivasi Persiapan Belajar 9,48 22,1 20,7 47,72 100
Motivasi Belajar 6,3 27,77 25,88 40,02 100
Motivasi Mengerjakan Tugas 8,2 26,33 18,7 46,77 100 Berdasarkan tabel 4.7 tentang distribusi jawaban responden berdasarkan motivasi belajar anak pada usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang menurut jawaban pada kuesioner tentang motivasi persiapan belajar pada jawaban jarang didapat sebesar 22,1%, sering sebesar 20,7%, dan 47,72% pada jawaban selalu; motivasi belajar anak pada jawaban jarang didapat sebesar 27,77%, sering sebesar 25,88%, dan 40,05% pada jawaban selalu; motivasi mengerjakan tugas pada jawaban jarang didapat sebesar 26,33%, sering sebesar 18,7%, dan 46,77% pada jawaban selalu.
c. Hubungan Dukungan Orang tua dengan Motivasi Belajar
Gambar 4.8 Diagram Tebar Hubungan Antara Dukungan Orang tua dengan Motivasi Belajar Pada Anak Usia Sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Berdasarkan skema 4.8 dapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan semakin tinggi nilai dukungan orang tua maka nilai motivasi belajar juga semakin tinggi. Hasil uji statistik dengan korelasi pearson diperoleh nilai p value sebesar 0,038 yang lebih kecil dari nilai α (0,05) dan nilai r sebesar 0,275. Dapat diputuskan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar pada anak usia sekolah diSD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
C. Pembahasan
1. Dukungan Orang tua
Berdasarkan hasil, dukungan orang tua dalam penelitian ini berada pada kategori dukungan sedang yaitu sebanyak 45 (78,8%) responden dengan dukungan orang tua yang bersifat dukungan informatif sebesar 53,95%. Dukungan informatif yang dilakukan seperti selalu menasehati anak untuk giat belajar, membimbing dan mengarahkan belajar jika anak terlalu banyak bermain atau menonton televisi, dan menyuruh anak untuk segera belajar jika jam belajar tiba. Sedangkan dukungan yang bersifat instrumental / finansial dalam penelitian ini mendapatkan hasil yang paling kecil diantara dukungan orang tua yang lainnya yaitu sebesar 26,32%. Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian orang tua dengan rata-rata masih kurang sehingga kebanyakan orang tua siswa masih belum mampu menyediakan fasilitas-fasilitas belajar seperti membelikan buku pelajaran tambahan atau peralatan belajar, memodifikasi lingkungan belajar dan mendatangkan guru les pribadi.
Baron dan Byrne (1997) mendefinisikan dukungan sosial sebagai suatu bentuk pemberian rasa nyaman, baik secara fisik maupun psikologis oleh keluarga atau teman dekat dalam menghadapi tekanan – tekanan atau masalah tertentu. Seseorang yang mendapat rasa nyaman akan lebih efektif dalam menghadapi tekanan – tekanan atau masalah tertentu dari pada orang yang mendapat penolakan dari orang lain, sehingga orang tua yang memberikan dukungan pada anaknya dalam belajar akan mampu
meningkatkan semangat untuk belajar lebih giat, tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan belajar dan belajar dengan sungguh – sungguh.
Johnson dan Johnson (1991) dalam tulisan Indie (2009), dukungan sosial didefinisikan sebagai keberadaan orang lain yang dapat dijadikan untuk memberikan bantuan, semangat, penerimaan, dan perhatian sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan individu.
House dan Kahn (1985) dalam tulisan Indie (2009), juga menyebutkan bentuk – bentuk dukungan sosial, yaitu adanya dukungan emosional berupa penghargaan, cinta, kepercayaan, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan. Kemudian dukungan informatif, yaitu berupa nasihat, sugesti, arahan langsung, dan informasi. Selain itu juga ada dukungan instrumental, yaitu berupa bantuan uang, kesempatan, dan modifikasi lingkungan serta dukungan penilaian, yaitu umpan balik dan membandingkan dengan orang lain.
Hal ini diperkuat juga oleh penelitian Nasution (2005), yang menyatakan bahwa orang tua memiliki peran terbesar di dalam keluarga, peran tersebut antara lain sebagai motivator, fasilitator, dan mediator. Sebagai motivator orang tua harus senantiasa memberikan motivasi atau dorongan terhadap anaknya untuk menuntut ilmu pengetahuan. Sebagai fasilitator, orang tua harus memberikan fasilitas, pemenuhan kebutuhan keluarga/anak berupa sandang, pangan, dan papan, termasuk kebutuhan pendidikan. Sebagai mediator, orang tua harus bertindak sebagai mediasi
(perantara/penengah) dalam hubungan kekeluargaan, kemasyarakatan terutama dengan sekolah.
Peneliti memberikan pendapat, bahwa dukungan orang tua yang baik adalah dukungan penuh orang tua yang bersifat informatif dan dukungan penilaian. Dukungan informatif dan dukungan penilaian yang bisa diberikan adalah membimbing dan mengarahkan anak untuk belajar serta menghargai usaha – usaha yang dilakukan anak, karena dengan seperti itu anak akan terbiasa dan bersemangat untuk belajar.
2. Motivasi Belajar
Berdasarkan hasil ini didapatkan bahwa motivasi belajar anak pada usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang berada pada kategori baik sebanyak 31 (54,4%) responden, dengan motivasi yang bersifat motivasi persiapan belajar sebesar 47,72%. Tingginya motivasi tersebut karena adanya minat dan rasa antusiasme dalam diri siswa yang tinggi. Motivasi persiapan belajar dilakukan oleh anak seperti belajar sebelum pelajaran dimulai, menyiapkan buku dan perlengkapan belajar, berusaha untuk mendapatkan nilai yang baik dan menentukan jadwal belajar siswa sesuai dengan keinginannya. Sedangkan motivasi yang bersifat motivasi belajar didapatkan hasil rata-rata prosentase paling kecil yaitu sebesar 40,05%. Motivasi belajar tersebut antara lain membaca buku yang bermanfaat, menggunakan jam kosong untuk membaca atau berdiskusi, belajar meskipun tidak ada pekerjaan rumah (PR) dan mempelajari kembali materi yang sudah diajarkan.
Uno (2008) menjelaskan bahwa motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada individu yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung.
Indie (2009) juga menjelaskan bahwa motivasi memiliki peran penting dalam proses belajar. Siswa dengan motivasi rendah akan banyak mengalami masalah dalam belajar, misalnya siswa terkesan lambat melakukan tugas yang berhubungan dengan kegiatan belajar, jadi pemalas, mudah putus asa, suka membolos, melalaikan tugas sekolah, dan acuh tak acuh terhadap segala hal yang berkaitan dengan kegiatan sekolah. Kondisi ini akan berdampak buruk terhadap keberhasilan belajarnya.
Motivasi dan belajar dapat dipengaruhi diri sendiri (intrinsik), yang didasari oleh adanya kebutuhan untuk belajar, dan dari luar diri sendiri (ekstrinsik) yaitu kondisi yang berasal dari lingkungan terutama keluarga (Dhien, 2006).
Niewhof dkk (2004) dalam tulisan Indie (2009), bahwa motivasi belajar dipengaruhi oleh cita – cita yang telah direncanakan dengan proses belajar yang dilakukan tersebut, kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan, kebutuhan untuk aktualisasi diri, dan kebutuhan untuk memahami serta menguasai apa yang dipelajari.
Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Sisca (2007), menjelaskan bahwa motivasi belajar erat kaitannya dengan minat. Lemahnya motivasi belajar siswa disebabkan oleh berbagai macam hal diantaranya; 1) Latar
belakang keluarga individu bermasalah, seperti masalah ekonomi keluarga, komunikasi atau relasi dengan orang tua kurang, fasilitas belajar yang kurang memadai; 2) Daridalam diri siswa, seperti sikap menganggap mudah mata pelajaran, adanya tekanan psikologis, siswa kurang simpati dan antusias dengan guru yang mengajar, dan daya juang siswa lemah.
Peneliti berpendapat bahwa motivasi belajar yang baik dapat dilakukan melalui upaya dari diri sendiri dan dorongan dari lingkungan. Upaya dari diri sendiri dapat dinilai dari persiapan belajar yaitu menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan belajar seperti belajar sebelum pelajaran dimulai, menyiapkan buku dan alat belajar. Upaya motivasi dari diri sendiri yang lain adalah motivasi untuk mengerjakan tugas dan motivasi untuk belajar. Motivasi mengerjakan tugas dapat dilakukan oleh anak seperti mengerjakan tugas dengan baik dan pergi ke perpustakaan jika ada tugas. Motivasi belajar dapat dilakukan seperti selalu memperhatikan penjelasan guru dengan antusias, membaca, berdiskusi, berusaha tekun dalam belajar dan mempelajari materi yang sudah diajarkan.
3. Hubungan Dukungan Orang tua dengan Motivasi Belajar
Hasil uji statistik dengan korelasi pearson diperoleh nilai p value sebesar 0,038 yang lebih kecil dari nilai α (0,05) dan terdapat hubungan antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang. Berdasarkan data penelitian menunjukkan bahwa semakin baik dukungan orang tua akan semakin baik
pula motivasi belajar anak, dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,275. Dukungan yang diberikan oleh orang tua siswa di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang ini mempengaruhi motivasi belajar terutama dukungan yang bersifat informatif, meskipun hubungan tersebut tidak begitu kuat. Dukungan atau perhatian orang tua secara tidak langsung mempengaruhi minat belajar siswa.
Purwanto (2007) menjelaskan bahwa suasana dengan keadaan keluargayang bermacam – macam, ikut menentukan bagaimana dan sampai di mana belajar dialami dan dicapai oleh anak – anak, termasuk dalam keluarga yang ada tidaknya atau tersedia tidaknya fasilitas – fasilitas yang diperlukan dalam belajar turut memegang peranan yang penting.
Penelitian lain menjelaskan bahwa latar belakang keluarga baik masalah ekonomi dan keharmonisan keluarga yang kurang dapat berpengaruh pada emosi dan mengalami tekanan psikologi sehingga mempengaruhi minat belajar siswa (Sisca, 2007).
Motivasi dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan keluarga atau orang tua, sebab pendidikan bukan hanya tanggungjawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggungjawab keluarga dan masyarakat.sikap anak terhadap sekolah akan dipengaruhi oleh sikap orang tua, sehingga diperlukan kepercayaan orang tua kepada sekolah yang menggantikan tugasnya selama berada di sekolah. Peran keluarga yang lain adalah
mengajarkan nilai- nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang diajarkan di sekolah (Indie, 2009).
Peneliti mengemukakan bahwa dukungan orang tua, baik dukungan fisikmaupun psikologis yang baik sangat dibutuhkan oleh anak dalam memacu semangat belajarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendampingi anak pada saat belajar, membantu anak mengerjakan tugas sekolah, memberikan kenyamanan dalam belajar, memberikan penghargaan kepada anak, mengarahkan anak dan memfasilitasi kebutuhan belajar sehingga hasil belajar yang dicapai anak optimal.