PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG SKRIPSI, AGUSTUS 2009 ABSTRAK
Eska Susi Rimba Wahyuni
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR ANAK PADA USIA SEKOLAH DI SD PETOMPON 01 KECAMATAN GAJAH MUNGKUR KOTA SEMARANG
(xv + 68 Halaman + 8 Tabel + 7 Skema + 5 Lampiran + 23 Kepustakaan)
Belajar merupakan perubahan tingkah laku akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon, akibat interaksi antara manusia (individu) dengan lingkungannya, sehingga memperoleh sesuatu yang baru, baik sesuatu itu yang bersifat positif (baik) maupun sesuatu yang negatif (jelek). Banyak sekali yang mempengaruhi proses dan hasil belajar individu,antara lain faktor dari diri sendiri (intrinsik), yang didasari oleh adanya kebutuhan untuk belajar, dan faktor dari luar diri sendiri (ekstrinsik) yaitu faktor yang berasal dari lingkungan terutama orang tua.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar anak pada usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang yang menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah populasi 135 dan sampel yang digunakan 57 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Instrumen menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden.
Analisis data dilakukan dengan uji statistik analisis univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan analisis bivariat dilakukan dengan uji korelasi pearson , untuk mencari hubungan variabel dependen dengan variabel independen. Hasil uji validitas dan realibilitas instrument menggunakan product moment dan alpha cronbach.
Hasil penelitian pada analisis univariat menunjukkan bahwa dukungan orang tua dan motivasi belajar di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang berada pada kategori sedang dan baik (78,8% dan 54,4%). Analisis bivariat menunjukkan dukungan orang tua secara statistik mempunyai hubungan signifikan dengan motivasi belajar yaitu 0,275.
Dari hasil penelitian tersebut, diharapkan bagi para orang tua lebih meningkatkan dukungan dan perhatian kepada anaknya dalam menuntut ilmu sehingga anak akan lebih optimal dalam belajarnya.
Kata Kunci : Dukungan Orang tua, Motivasi Belajar, dan Anak Usia Sekolah Kepustakaan : 23 (1998 – 2009)
UNDERGRADUATE NURSING SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF NURSING AND HEALTH SCIENCES MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF SEMARANG THESIS, AUGUST 2009
ABSTRACT Eska Susi Rimba Wahyuni
THE CORRELATION BETWEEN PARENTS SUPPORT WITH LEARNING MOTIVATION OF SCHOOL AGE CHILDREN IN PETOMPON 01 ELEMENTARY SCHOOL GAJAH MUNGKUR SEMARANG
(xv + 68 pages + 8 Tables + 5 Attachments + 7 Schemes + 23 Bibliographys)
Learning is a behavior changing as a result of the interaction between stimulus and response, due to interactions between humans (individuals) with their environment, so get something new, either that are a positive (good) or negative (bad). So much factors to influence the process and results of individual learning. That factors are come from within themselves (intrinsic), which is based on the need for learn, and outside factors (extrinsic) that come from the environment especially their parents.
This study aims to determine the correlation between parents support with learning motivation of school age children in Petompon 01 elementary school Gajah Mungkur Semarang, that is using descriptive correlation design with a cross-sectional approach with total population 135 and 57 sample respondents. Sampling technique using a stratified random sampling. Instruments using questionnaires filled by the respondents.
Data analysis using with univariate analysis statistical tests to determine the frequency distribution and bivariate analysis using pearson correlation test to search the correlation between dependent variable and independent variable. The result validity and reliability using product moment and alpha cronbach.
The results of univariate analysis showed that parent support and learning motivation of school age children in Petompon 01 elementary school Gajah Mungkur Semarang is located in the medium and good categories (78.8% and 54.4%). Statistically Bivariate analysis showed support for parents has significant correlation with learning motivation is 0.275.
From the results of these studies, expected to parents more increased support and attention to children in their studies so that the child will be optimized in the study.
Keywords: Parent Support, Learning Motivation and School Age Children Bibliography: 23 (1998 - 2009)
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar adalah usaha untuk memperoleh hal – hal baru dalam tingkah laku (pengetahuan, kecakapan, ketrampilan, dan nilai – nilai) dengan aktivitas kejiwaan sendiri. Dari pernyataan tersebut tampak jelas bahwa sifat khas dari proses belajar adalah memperoleh sesuatu yang baru, yang dahulu belum ada, sekarang menjadi ada, yang semula belum diketahui sekarang diketahui, yang dahulu belum dimengerti, sekarang dimengerti ( Notoatmodjo 2003). Sedangkan menurut Slavin (2000) dalam wikipedia, belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah usaha memperoleh sesuatu yang baru dengan adanya interaksi antara stimulus dan respon yang mengakibatkan perubahan perilaku seseorang.
Unsur – unsur dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan pendidik kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, perubahan akibat belajar dapat
terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif, efektif, dan atau psikomotor (Wikipedia.com).
Belajar merupakan elemen yang penting dalam mendukung perkembangan intelektual anak oleh sebab itu membangun budaya belajar (learning culture) pada diri anak, baik di rumah maupun di sekolah sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan perkembangan otak sangat pesat ketika usia 0 – 6 tahun, kemudian berangsur berkurang hingga usia 8 tahun, sehingga pada usia ini atau selambatnya 9 tahun anak sudah menjadi pembelajar mandiri (self starter) dan berhenti pada usia 12 tahun, artinya sesudah usia 12 tahun yang harus kita lakukan adalah mengoptimalkan fungsi otak. Untuk membangun budaya belajar pada anak – anak yang kuat dapat melakukan dengan: membuat aktivitas belajar menjadi momen yang menyenangkan, menciptakan kegiatan yang dapat membuat anak menjadi kaya dengan pengalaman, membangun nilai spiritual yang kuat untuk membentuk integritas anak, membangun budaya membaca yang kuat dan membangun visi anak dengan menciptakan alasan yang kuat bagi anak untuk berbuat ( reason
for being ). Inilah sumber motivasi yang menggerakkan anak untuk terus –
menerus lebih baik dan belajar lebih gigih (Duniasikecil.com ).
Visi besar yang dibangun pada diri anak memacu motivasi anak untuk belajar, mencari ilmu, dan melakukan berbagai hal baru untuk menemukan pengalaman ilmiah yang menantang. Motivasi menurut Arianto (2008) adalah kesediaan untuk melakukan usaha dalam mencapai tujuan tertentu, yang disebabkan oleh adanya kebutuhan tertentu. Atau dorongan dan semangat
untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi belajar adalah kesediaan, dorongan, dan semangat untuk melakukan kegiatan belajar pada berbagai tempat dan waktu yang ada.
Motivasi belajar dapat dipengaruhi dari diri sendiri (intrinsik), yang didasari oleh adanya kebutuhan untuk belajar, dan dari luar diri sendiri (ekstrinsik) yaitu motivasi yang berasal dari keluarga (terutama orang tua), sebagai lingkungan terdekat anak. Motivasi belajar intrinsik perlu ditumbuhkan untuk menanamkan kepada anak bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Jika kesadaran itu telah timbul, maka anak akan melakukan kegiatan belajar dengan kesadarannya sendiri, tanpa perlu ada paksaan dari pihak manapun, atau hanya pada saat akan ujian, Sedangkan untuk menumbuhkan belajar ekstrinsik sekaligus memberikan motivasi belajar intrinsik pada anak dapat melakukannya dengan: memberikan penghargaan pada setiap usaha yang dilakukan anak untuk belajar, menghargai setiap perkembangan yang berhasil dicapai anak dalam kegiatan belajarnya, mendengarkan keluh kesah anak mengenai kegiatan belajar yang dilakukannya, memberikan hukuman yang mengandung pelajaran, memberi perhatian pada hal – hal yang dilakukan anak pada saat ia belajar, dan meluangkan waktu untuk menemani anak belajar (Dhiean, 2006).
Peran orangtua merupakan komponen penting dalam pendidikan anak. Hal ini menuntut adanya kontak secara langsung yang dapat diwujudkan dalam bentuk dukungan orangtua pada anaknya. Menurut Johnson dan Johnson (1991) dalam tulisan Indie (2009), dukungan sosial didefinisikan
sebagai keberadaan orang lain yang dapat dijadikan untuk memberikan bantuan, semangat, penerimaan, dan perhatian, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan individu. Baron dan Byrne (1997) mendefinisikan dukungan sosial sebagai suatu bentuk pemberian rasa nyaman, baik secara fisik maupun secara psikologis oleh keluarga atau teman dekat dalam menghadapi tekanan-tekanan atau masalah tertentu. Seseorang yang mendapatkan rasa nyaman akan lebih efektif dalam menghadapi tekanan-tekanan atau masalah tertentu.
Dukungan sosial bersumber dari orang-orang yang memiliki hubungan berarti bagi individu, misalnya: orangtua atau keluarga, teman, pasangan hidup, rekan kerja, saudara, dan tetangga (Thots, 1986). Sedangkan House dan Kahn (1985) dalam Indie (2009), menyebutkan bentuk-bentuk dukungan sosial, yaitu adanya dukungan emosional berupa penghargaan, cinta, dan kepercayaan, perhatian dan kesediaan untuk mendengarkan. Kemudian dukungan informatif, yaitu berupa nasehat, sugesti, arahan langsung, dan informasi. Selain itu juga ada dukungan instrumental, yaitu berupa bantuan uang, kesempatan, dan modifikasi lingkungan serta dukungan penilaian, yaitu umpan balik dan membandingkan dengan orang lain. Penilaian positif terhadap anak akan meningkatkan rasa percaya diri akan kemampuan yang dimiliki oleh anak, sehingga siswa termotivasi untuk belajar lebih giat. Dengan demikian, motivasi belajar siswa dan dukungan orangtua merupakan dua faktor yang dapat dijadikan sebagai prediktor keberhasilan siswa dalam belajar.
Tidak semua orangtua memiliki perhatian yang sama terhadap pendidikan anaknya, ada yang perhatiannya baik, misalnya menyediakan fasilitas belajar yang dibutuhkan anak, dan menemani anaknya belajar dengan memberikan bimbingan secara intensif, ada juga yang bersikap acuh, artinya perkembangan anak diserahkan sepenuhnya kepada guru dan anak itu sendiri. Berkenaan dari perhatian orang tua tersebut, tidaklah cukup jika orangtua sekedar menyediakan dan melengkapi fasilitas fisik saja, sebab lengkapnya fasilitas fisik belum tentu menjamin seseorang anak belajar dengan giat. Orangtua hanya dapat memberikan fasilitas fisik saja tanpa diikuti perhatian yang lain yang ditujukan kepada anak setiap hari khususnya dalam bentuk kesediaan menemani anak pada saat belajar, memungkinkan anak didalam menggunakan fasilitas tersebut tidak untuk kepentingan yang berhubungan dengan peningkatan prestasi belajarnya (Suhaeli, 2008).
Berdasarkan data base siswa tahun pelajaran 2008/2009 SD Petompon 01 kecamatan Gajah Mungkur Semarang pada tanggal 9 Januari 2009, diperoleh data siswa kelas IV sebesar 73 dan kelas V sejumlah 62 siswa. Pekerjaan orang tua siswa antara lain; sebagai wiraswasta, Pegawai Negeri Sipil (PNS), buruh, polisi atau TNI, dan guru. Penghasilan rata-rata sekitar Rp. 950.000,00 tiap bulannya.
Pekerjaan dan tuntutan ekonomi yang tinggi di era yang serba modern ini membuat orang tua siswa di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang khususnya, harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Sehingga waktu yang diluangkan untuk keluarga
sangat terbatas untuk memperhatikan dan memantau aktivitas belajar anak, akibatnya anak belajar sesuai kemauannya dan dalam kesehariannya digunakan anak untuk bermain dengan temannya, bermain playstation, games di komputer maupun internet. Selain itu kebanyakan orangtua siswa juga masih belum mampu untuk menyediakan fasilitas-fasilitas belajar, seperti halnya buku-buku pelajaran tambahan.
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti di dalam catatan pencapaian target dan taraf serap pada tahun ajran 2005/2006 diperoleh nilai rata-rata dari semua mata pelajaran termasuk di dalamnya muatan lokal sebesar 64,45 pada semester I dan 65,70 pada semester II. Di tahun ajaran 2006/2007, nilai rata-rata siswa mengalami kenaikan yang cukup signifikan, untuk semester I nilai rata-ratanya menjadi 69,01 dan pada semester II nilai rata-ratanya sebesar 70,94. Kemudian pada tahun 2007/2008, nilai rata-rata siswa mengalami penurunan, yaitu sebesar 68,36 pada semester I dan 69,72 untuk semester II.
Fenomena di atas menarik untuk diteliti, dengan peneliti mengambil obyek penelitian kelas IV dan V di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Semarang. Penulis akan melakukan penelitian dengan judul: Hubungan Antara Dukungan Orangtua dengan Motivasi Belajar Pada Anak Usia Sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
B. Rumusan Masalah
Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga, yang salah satu caranya adalah mencari pekerjaan tambahan dan orangtua jarang mempunyai waktu untuk bersama keluarga khususnya memperhatikan dan memantau aktivitas belajar anak. Selain itu anak-anak juga kurang perhatian dari orangtua sehingga hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh anak untuk bermain secara leluasa. Misalnya bermain play
station, video game, komputer, dan lain-lain.Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahannya yaitu: “Apakah ada hubungan antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar pada anak usia sekolah”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar pada anak usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan dukungan orang tua terhadap anaknya di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
b. Mendeskripsikan motivasi anak dalam belajar di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
c. Menganalisis hubungan antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar pada anak usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap khasanah keilmuan, khususnya bidang ilmu keperawatan yang terkait dengan masalah psikologi anak.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat: a. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi kepada institusi pendidikan yaitu mendeskripsikan kondisi atau realitas keberhasilan belajar selama dididik di lingkungan sekolah.
b. Bagi Orangtua/Keluarga/Masyarakat
Dari hasil penelitian ini diharapkan supaya orangtua, keluarga atau masyarakat mampu memberikan perhatian yang lebih, khususnya meningkatkan motivasi anak dalam belajar sehingga efektif dalam meningkatkan keberhasilan belajarnya.
c. Bagi Pelayanan Kesehatan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada bidang pelayanan kesehatan mengenai gambaran hubungan psikologis anak dengan orangtua.
d. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu dan pengetahuan bagi peneliti sehingga mampu mendeskripsikan hubungan antara sikap kesediaan orang tua mendampingi anak dengan motivasi belajar pada anak usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
E. Bidang Ilmu
Penelitian ini termasuk dalam bidang ilmu keperawatan yang difokuskan dalam bidang ilmu keperawatan anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Motif atau motivasi berasal dari kata latin ‘moreve’ yang berarti dorongan dari dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku. Motivasi tidak terlepas dari kata kebutuhan atau ‘needs’ atau ‘want’, kebutuhan adalah suatu potensi dalam diri manusia yang perlu ditanggapi atau direspon. Tanggapan terhadap kebutuhan tersebut dan hasilnya orang akan merasa puas. Apabila kebutuhan tersebut belum direspon atau dipenuhi, maka akan berpotensi untuk muncul kembali sampai terpenuhinya kebutuhan yang diinginkan (Notoatmodjo, 2007).
Setiap individu memiliki kondisi internal, dimana kondisi tersebut ikut berperan dalam aktivitas dirinya sehari-hari. Salah satu dari kondisi internal tersebut adalah ‘motivasi’. Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakan seseorang untuk bertingkah laku. Dorongan tersebut berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dapat diartikan juga sebagai dorongan mental
terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat (Uno, 2008).
Menurut Purwanto (1998) motif adalah penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu. Motif manusia merupakan dorongan, keinginan atau tenaga penggerak lainnya yang berasal dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif-motif tersebut memberi tujuan dan arah kepada perilaku manusia, juga kegiatan yang dilakukan setiap hari mempunyai motif-motif tertentu.
Niewhof, dkk (2004) dalam tulisan Indie (2009), menggambarkan motivasi sebagai “why” of human behavior, yang berarti bahwa motivasi yang ada dalam diri seseorang merupakan satu dorongan dasar yang menjadi alas an seseorang untuk memutuskan melakukan sesuatu atau tidak.
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu dorongan atau keinginan dalam diri manusia yang menyebabkan individu melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.
2. Konsep Motivasi
Menurut Notoatmodjo (2007), para ahli merumuskan konsep atau teori tentang motivasi, diantaranya yaitu:
a. Teori Mc Clelland
Teori ini menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada dua motivasi, yakni motif primer atau motif yang yang tidak dipelajari, dan
motif skunder atau motif yang dipelajari melalui pengalaman serta interaksi dengan orang lain. Motif ini sering disebut dengan motif sosial. Motif primer atau motif yang tidak dipelajari ini secara alamiah timbul pada setiap manusia secara biologis, sehingga mendorong seseorang untuk terpenuhinya kebutuhan biologis seperti makan, minum, seksualitas dan kebutuhan-kebutuhan biologis yang lain. Motif skunder adalah motif yang ditimbulkan karena dorongan dari luar akibat interaksi sosial. Motif sosial ini dapat dibedakan menjadi 3 motif yaitu:
1) Motif Berprestasi
Berprestasi adalah suatu dorongan yang ada pada setiap manusia untuk mencapai hasil kegiatannya atau hasil kerjanya secara maksimal. Dalam memperoleh hasil yang lebih baik realitanya tidak mudah dan banyak kendala, oleh sebab itu perlu dorongan untuk berusaha mengatasi kendala tersebut dengan memelihara semangat belajar yang tinggi, sehingga motif berprestasi adalah dorongan untuk sukses dalam situasi kompetisi yang didasarkan kepada ukuran keunggulan dibanding dengan standar ataupun orang lain.
2) Motif Berafiliasi
Motif berafiliasi adalah kebutuhan atau dorongan manusia untuk menjadi bermakna interaksinya dengan manusia yang lain (sosial). Agar kebutuhan berafiliasi ini terpenuhi, maka harus menjaga hubungan baik dengan orang lain.
3) Motif Berkuasa
Motif berkuasa adalah dorongan manusia untuk berusaha mengarahkan perilaku seseorang atau manusia lain untuk mencapai kepuasan melalui tujuan tertentu, seperti kekuasaan dengan cara mengontrol atau mengawasi orang lain.
b. Teori Mc Gregor
Dalam penelitiannya, Mc Gregor menyimpulkan teori motivasi itu dalam teori X dan Y. Teori ini didasarkan pada pandangan konvensional atu klasik (teori X) dan pandangan baru atau modern (teori Y). Teori X yang bertolak dari pandangan klasik ini bertolak dari anggapan bahwa : 1) Pada umumnya manusia itu tidak senang bekerja; 2) pada umumnya manusia cenderung sesedikit mungkin melakukan aktivitas atau bekerja; 3) pada umumnya manusia bersifat egois dan kurang acuh terhadap organisasi. Oleh sebab itu, dalam melakukan pekerjaan harus diawasi denga ketat.
Teori Y yang bertumpu pada pandangan atau pendekatan baru ini beranggapan bahwa; 1) Pada dasarnya manusia itu tidak pasif, tetapi aktif; 2) pada dasarnya manusia itu tidak malas kerja, tapi suka bekerja; 3) pada umumnya manusia itu dapat berprestasi dalam menjalankan pekerjannya; 4) pada umumnya manusia selalu berusaha mencapai sasaran atau tujuan organisasi; 5) pada umumnya manusia selalu mengembangkan diri untuk mencapai tujuan atau sasaran.
c. Teori Herzberg
Teori motivasi ini dikenal dengan teori motivasi ‘dua faktor’ (Herzberg’s two factors motivation theory). Jadi menurut teori ini, ada dua faktor yang mempengaruhi seseorang dalam tugas atau pekerjaannnya, antara lain:
1) Faktor-faktor penyebab kepuasaan (Satisfierr) atau faktor motivasional. Faktor ini menyangkut kebutuhan psikologis seseorang seperti serangkaian kondisi intrinsik. Apabila kepuasaan belajar tercapai, maka akan menggerakkan tingkat motivasi atau kepuasan ini antara lain; prestasi (achievement), penghargaan (recognition), tanggung jawab (responsibility), kesempatan untuk maju (possibility of growth), dan pekerjaan itu sendiri (work).
2) Faktor-faktor penyebab ketidakpuasan (dissastifaction) atau
hygiene factor. Faktor ini menyangkut kebutuhan akan
pemeliharaan atau maintenance factor yang merupakan hakikat manusia yang ingin memperoleh kesehatan badaniyah. Hilangnya faktor-faktor ini akan menimbulkan ketidakpuasan bekerja (dissatisfaction). Faktor higienes ini meliputi kondisi fisik lingkungan (physical environment), hubungan interpersonal (interpersonal relationship) kebijakan dan administrasi (policy and
administration), dan pengawasan (supervision), reward, dan
d. Teori Maslow
Teori motivasi ini merupakan lanjutan atau pengembangan dari teori Eltom Mayo (1880-1949) dengan mendasarkan pada kebutuhan manusia yang dibedakan antara kebutuhan biologis dan kebutuhan psikologis, atau disebut kebutuhan materi (biologis) dan kebutuhan non materi (psikologis). Maslow menyatakan bahwa kebutuhan manusia secara hierarkis semuanya laten pada diri manusia. Kebutuhan tersebut mencakup kebutuhan fisiologis (sandang pangan), kebutuhan rasa aman (bebas cahaya), kebutuhan kasih sayang, kebutuhan dihargai dan dihormati, dan kebutuhan aktualisasi diri. Teori ini dikenal sebagai teori kebutuhan (needs) yang digambarkan seperti berikut:
Gambar 2.1 Hierarki kebutuhan Maslow
(Sumber: Stephen P. Robbin, 1996:214 dikutip oleh Uno 2008)
Teori ini mempunyai makna serta peranan kognisi dalam kaitannya dengan perilaku seseorang yang menjelaskan adanya peristiwa internal yang terbentuk sebagai perantara dari stimulus tugas dan tingkah laku berikutnya (Uno, 2008).
Aktualisasi Diri
Kebutuhan Fisiologis Penghargaan/penghormatan Rasa memiliki dan cinta/sayang
3. Tujuan Motivasi
Tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Dalam mencapai tujuan motivasi, maka setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian orang yang akan dimotivasi (Purwanto, 2007).
4. Jenis Motivasi
Menurut Abraham C. dan Shanley F.(1999) dalam bukunya Sunaryo (2004), jenis motivator secara umum adalah uang, penghormatan, tantangan, pujian, kepercayaan atasan, lingkungan kerja yang menarik, jam kerja yang fleksibel, promosi, persahabatan, pengakuan, penghargaan, kemandirian, lingkungan yang kreatif, bonus atau hadiah, ucapan terimakasih, dan keyakinan dalam bekerja.
B. Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar sangat penting bagi kehidupan seorang manusia, karena manusia selain sebagai makhluk biologis, manusia merupakan makhluk sosial dan budaya. Artinya manusia tidak mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak dididik atau diajar oleh manusia lain. Seperti contoh bayi yang baru dilahirkan tidak mempunyai daya, sehingga membutuhkan bantuan
orang dewasa yang lain agar mampu bertahan hidup. Selain itu bayi yang baru dilahirkan memiliki beberapa naluri atau insting dan potensi-potensi yang terbatas. Potensi-potensi bawaan itu tidak berkembang dengan baik tanpa adanya pengaruh dari luar (Purwanto, 2007).
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, dan ada juga kemungkinan untuk mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Belajar juga merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman (Purwanto, 2007). Dalam Wikipedia (2007), Slavin (2000) mendefinisikan belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah ‘input’ yang berupa stimulus dan ‘output’ yang berupa respon.
Uno (2008) menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu pengalaman yang diperoleh berkat adanya interaksi antara individu dan lingkungannya. Belajar adalah proses perubahan perilaku atau pribadi seorang berdasarkan interaksi antara individu dan lingkungannya yang dilakukan secara formal, informal, dan nonformal.
Belajar adalah usaha memperoleh hal baru dalam tingkah laku (pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan nilai-nilai) dengan aktivitas kejiwaan sendiri. Dari pernyataaan tersebut tampak jelas bahwa sifat khas dari proses belajar adalah memperoleh sesuatu yang baru yang dahulu
belum ada, sekarang menjadi ada, yang semula belum diketahui, sekarang diketahui, yang dulu belum dimengerti, sekarang dimengerti (Notoatmodjo, 2003:37). Dijelaskan bahwa belajar pada hakikatnya adalah penyempurnaan potensi atau kemampuan pada organisme biologis dan psikis yang diperlukan dalam hubungan manusia dengan dunia luar dan hidup bermasyarakat (Notoatmodjo, 2007).
Dari beberapa definisi belajar diatas dapat dirumuskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon akibat interaksi antara manusia (individu) dengan lingkungannya, sehingga memperoleh sesuatu yang baru, baik sesuatu itu yang bersifat positif (baik) maupun sesuatu yang negatif (jelek).
2. Ciri-ciri Kegiatan Belajar
Kegiatan belajar dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Seseorang dikatakan belajar apabila di dalam dirinya terjadi perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi dapat mengerjakan sesuatu. Dapat disimpulkan bahwa belajar mempunyai ciri-ciri, yaitu belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu tersebut, baik aktual maupun potensial, perubahan tersebut didapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama, dan perubahan itu terjadi karena usaha, bukan karena proses kematangan.
3. Konsep Proses Belajar
Teori proses belajar dapat dikelompokkan kedalam 2 (dua) kelompok besar, yakni teori stimulus-respon yang kurang memperhitungkan faktor internal dan teori transformasi yang memperhitungkan faktor internal. Teori stimulus-respon ini apa yang terjadi pada diri subjek belajar merupakan rahasia atau biasa disebut ‘black
box’. Belajar adalah mengambil tanggapan-tanggapan dan
menggabung-gabungkan tanggapan dengan jalan mengulang-ulang. Tanggapan tersebut diperoleh melalui pemberian stimulus atau rangsangan. Teori transformasi yang berlandaskan pada psikologi kognitif seperti yang dirumuskan oleh Neisser, bahwa proses belajar adalah transformasi dari masukan (input). Kemudian input tersebut direduksi, diuraikan, disimpan, ditemukan kembali, dan dimanfaatkan.
Para ahli psikologi kognitif menggunakan faktor eksternal dan internal dalam mengembangkan teorinya. Mereka berpendapat bahwa kegiatan belajar merupakan proses yang bersifat internal yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti metode pembelajaran atau pengajaran. Proses belajar tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Faktor Eksternal
Faktor Internal
Skema 2.2. Faktor Eksternal dan Internal yang Mempengaruhi Peristiwa Belajar (Sumber Notoatmojo, 2007:41)
4. Teori-teori Belajar
Teori belajar yang merupakan hasil penyelidikan para ahli psikogi dan ahli pendidikan antara lain (Purwanto, 2007) :
a. Teori Conditioning
1) Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Menurut teori ini belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (condition) yang kemudian menimbulkan reaksi (response). Segala tingkah laku manusia tidak lain adalah hasil dari pada conditioning, yaitu hasil latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan yang bereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialami dialami di dalam kehidupannya.
2) Teori Conditioning dari Guthrie
Dalam teori ini Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai
deretan-Peristiwa belajar Persentuhan (contigultg) Repetisi (Repetition) Penguat (Reinforcement) Keterampilan Intelektual (Intelectual Skill) Fakta Informasi (Factual Information) Strategi-strategi (Strategies)
deretan tingkah laku yang terdiri dari unit tingkah laku yang berikutnya secara terus-menerus. Pada proses Conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit-unit tingkah laku satu sama lain yang beruntutuan. Ulangan-ulangan atau latihan-latihan memperkuat asosiasi yang terdapat antar unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang lainnya.
3) Teori Operant Conditioning
Teori ini merupakan penyempurnan dari teorinya Ivan Pavlov dan John Watson, yang dikembangkan oleh Burhus Fredik Skinner (1930), menurut pendapatnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila pembelajar atau subjek (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur. 4) Teori Systematic Behavior oleh Clark C. Hull
Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau keadaan terdorong (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. Efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingakat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon-respon yang dibuat individu itu.
Prinsip penguat menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis (kebutuhan utama seseorang) sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran (reward) misalnya: uang, perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial tingkat tinggi. Dua hal penting dalam proses belajar dari Hull adalah adanya incentive motivation (motivasi insentif) dan drive
stimulus reduction (pengurangan stimulus pendorong).
b. Teori Conditioning of learning dari Robert M. Gagne
Menurut Gagne (1968) belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah efek dari belajar yang komulatif. Belajar bukan proses tunggal dan bersifat kompleks, dalam teorinya ini Gagne mendefinisikan belajar adalah mekanisme dimana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi kompleks. Kompetisi itu meliputi, skill, pengetahuan,
attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan oleh manusia,
sehingga belajar merupakan hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya di sebut kapasitas atau out come (Aderusliana, 2007). c. Teori connectionism (Thorndike)
Proses belajar menurut Thorndike melalui dua proses (Purwanto, 2007):
G. Trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan).
Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan
melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba. Jika dalam usaha mencoba-coba itu kebetulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan itu dipegangnya. H. Law of effect;
Artinya bahwa segala tingkah laku yang berakibat suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan) akan diingat dan dipelajari dengan baik dan dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan atau ganjaran dan juga memberi hukuman dalam pendidikan. Adanya law of effect ini terjadi hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku atau reksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasilnya (effect).
d. Teori Belajar Menurut Gestalt
Setiap fenomena terdiri dari suatu kesatuan esensial yang melebihi jumlah dari unsur-unsurnya, yang artinya bahwa keseluruhan (gestalt) itu tidak sama dengan penjumlahan. Keseluruhan itu lebih dari bagian-bagiannya. Dalam peristiwa belajar, keseluruhan situasi belajar sangat penting karena belajar merupakan interaksi antara subjek belajar dengan lingkungannya. Sehingga seseorang dikatakan belajar apabila ia memperoleh pemahaman atau insight. Pemahaman tersebut ditandai dengan adanya: 1) Perubahan yang tiba-tiba dari keadaan yang tidak berdaya menjadi keadaan yang mampu menguasai atau memecahkan masalah; 2) retensi yang baik; 3) peristiwa transfer. Pemahaman yang diperoleh dari situasi, dibawa, dan dimanfaatkan
atau ditransfer kedalam situasi lain yang mempunyai pola atau struktur yang sama atau hampir sama secara keseluruhan.
Dari uraian tersebut dapat diambil disimpulkan bahwa menurut teori ini, belajar adalah memberikan problem kepada subjek belajar untuk dipecahkan dari berbagai macam segi (Notoatmodjo, 2007). e. Teori Belajar Menghafal dan Mental Disiplin
Para ahli pendidikan membedakan teori belajar sebagai berikut (Notoatmodjo,2007):
1) Teori Menghafal
Belajar adalah menghafal, dan menghafal adalah usaha mengumpulkan pengetahuan melalui ‘pembeoan’ untuk kemudian digunakan bila diperlukan. Orang yang sedang belajar dimiripkan dengan burung beo, otak dipandang sebagai gudang kosong yang perlu diisi dengan berbagai pengertian dan pengetahuan. Tugas pengajar adalah memberikan pengertian yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhitungkan subjek belajar maupun fungsi dari pengetahuan tersebut.
2) Teori Mental Disiplin
Menurut teori ini belajar diartikan mendisiplinkan mental. Disiplin mental ini dapat diperoleh melalui latihan secara terus-menerus, berencana, dan teratur. Manusia mempunyai beberapa jenis daya, seperti daya pikir, daya fantasi, daya tangkap, daya ingat, daya mengamati, dan sebagainya. Daya tersebut diperkuat, dikembangkan dan dipertajam melalui latihan-latihan tertentu,
seperti menghafal untuk melatih daya ingat, dan melatih daya pikir dengan mempelajari matematika, statistik, dan lain-lain. Dalam melatih daya pikir ada 2 (dua) faktor penting.
a) Faktor Asah Otak
Semakin sering melatih daya pikir kita, maka daya pikir yang sudah terlatih itu dapat digunakan untuk memecahkan masalah apa saja yang ditemukandalam segala bidang kehidupan.
b) Faktor Transfer
Dalam mempelajari sesuatu yang baru, akan dipermudah dengan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki. Sehingga pengetahuan dan ketrampilan yang akan diberikan kepada subjek belajar hendaknya dapat di transfer dalam kehidupan atau pekerjaan sehari-hari.
f. Teori Asosiasi ( Lock and Herbart)
Teori ini dirintis oleh John Lock dan Herbart. Menurut teori ini belajar adalah mengambil tanggapan-tanggapan dan menggabung-gabungkan tanggapan dengan jalan mengulang-ulang. Tanggapan di sini adalah suatu lukisan yang timbul dalam jiwa sesudah diadakan pengamatan atau penginderaan. Tanggapan yang ada saling berhubungan, sedangkan yang baru bertemu dengan cara bergabung (mengasosiasikan diri) dengan tanggapan lama. Sehingga
menyebabkan adanya penarikan dari tanggapan-tanggapan yang sudah ada (Aderusliana, 2007).
Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah mengulang-ulang di dalam mengasosiasikan tanggapan-tanggapan, sehingga reproduksi yang lain dalam ingatan. Konsekuensinya pengajar harus sebanyak mungkin memberikan stimulus kepada subjek belajar untuk menimbulkan respon. Makin banyak terjalin stimulus dan respon, maka makin mendalam orang mempelajari sesuatu, dan makin banyak stimulus maka makin banyak respon. (Aderusliana, 2007).
g. Teori Belajar Sosial (Social Learning)
Belajar sosial ini diartikan jika seseorang mempelajari peranannya dan peran-peran orang lain dalam kontak sosial. Selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya dengan peran sosial yang telah dipelajarinya (Notoatmojo,2007). Dalam tulisan Aderuslina (2007) teori belajar sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1977) dan N.E Miller dan J. Dalard.
1) Teori Belajar oleh Albert Bandura
Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami atau lingkungan sebenarnya. Dalam hipotesa A. Bandura menyatakan bahwa baik dengan tingkah laku (behavior), lingkungan (environment), dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (perception) adalah merupakan hubungan yang
saling mempengaruhi (interlocking). Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku, tingkah laku sendiri sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal. Tingkah laku juga mengaktifkan kontingensi lingkungan seperti; karakter fisik (ukuran), jenis kelamin, dan atribut social yang menumbuhkanreaksi lingkungan yang berbeda (Aderusliana, 2007).
Menurut Notoatmodjo (2007) pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini dibedakan menjadi 3 macam. a) Efek modeling (Modelling Effect)
Peniru melakukan tingkah laku-tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model. b) Efek Penghambat (inhibition) dan penghapus hambatan
(disinhibition)
Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku-tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku nyata.
c) Efek Kemudahan (Facilitation Effect)
Tingkah laku-tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru, lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.
2) Teori Belajar Sosial oleh N.E Miller dan J. Dallard
Menurut teori ini, tingkah laku manusia merupakan hasil belajar, oleh karena itu, untuk memahami tingkah laku sosial dan proses belajar social, kita harus mengetahui prinsip-prinsip belajar antara lain; dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku balas (response), dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini saling terkait dan saling dipertukarkan satu sama lain, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi ganjaran, dan seterusnya.
Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme (manusia) untuk bertingkah laku. Simulasi yang cukup kuat pada umumnya bersifat bilogis seperti lapar, haus, seksualitas, kejenuhan, dan sebagainya.
Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu respon akan timbul dan terjadi. Isyarat dapat disamakan dengan rangsangan diskriminatif . Dalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku orang lain, baik yang langsung ditujukan kepada orang tertentu maupun yang tidak.
Tingkah laku balas (response) adalah tingkah laku yang timbul pada hierarki bawaan tingkah laku tersebut. Setelah beberapa kali terjadi hukuman, maka timbul tingkah laku balas yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut. Dalam tingkah laku sosial, seseorang tinggal meniru tingkah laku orang lain untuk dapat memberikan respon yang tepat sehingga ia tidak perlu
membuang waktu untuk belajar dengan mencoba dan meralat. Ganjaran adalah yang menetapkan apakah tingkah laku balas diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Berhasil atau tidaknya belajar tergantung pada berbagai macam faktor. Adapun faktor-faktor itu dapat dibedakan menjadi 2 golongan (Purwanto, 2007).
a. Faktor Individual
Faktor individual adalah faktor yang ada pada diri organisme atau seseorang itu sendiri, seperti:
1) Faktor Kematangan atau Pertumbuhan
Dalam proses belajar harusmemperhatikan kematangan atau tingkat pertumbuhan dari pembelajar atau subjek, sebagai contoh kita tidak dapat mengajar ilmu filsafat kepada anak-anak yang baru duduk di bangku sekolah menengah pertama, dikarenakan pertumbuhan mentalnya belum matang untuk menerima pelajaran itu.
2) Faktor Kecerdasan atau Intelejensi
Taraf kecerdasan juga turut memgang peranan penting dalam keberhasilan belajar, faktanya menunjukkan bahwa, meskipun anak yang berumur 14 tahun keatas pada umunya telah matang untuk belajar ilmu pasti , tetapi tidak semua anak pandai dalam ilmu tersebut.
3) Faktor Latihan
Semakin sering berlatih atau mengulang sesuatu, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimiliki individu tersebut akan semakin dikuasai. Sebaliknya tanpa latiahan pengalaman-pengalaman yang telah dimilikinya dapat menjadi berkurang atau hilang.
4) Faktor Motivasi
Motivasi merupakan pendorong bagi suatu organisme (individu) untuk melakukan sesuatu, sehingga seseorang tidak mungkin berusaha mempelajari sesuatu dengan sebaik-baiknya, jika ia mengetahui seberapa penting dan manfaat yang akan dicapai dari belajarnya.
5) Faktor Pribadi
Setiap orang mempunyai sifat-sifat kepribadian masing-masing yang berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Sifat-sifat kepribadian yang ada sedikit banyaknya berperan dalam hasil belajarnya, seperti faktor fisik kesehatan, sifat keras hati, berkemauan keras, tekun dalam usahanya, dan sebagainya.
b. Faktor Sosial
Faktor sosial adalah faktor yang ada di luar individu meliputi: 1) Faktor Keluarga
Suasana dan keadaan keluarga yang beraneka macam turut menentukan keberhasilan belajar anak-anak, termasuk ada tidaknya
atau tersedia tidaknya fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam belajar.
2) Guru dan Cara Mengajar
Sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan cara guru itu mengajar anak-anak didiknya turut menentukan hasil belajar yang dapat dicapai anak.
3) Faktor Alat atau Fasilitas Pelajaran
Alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar, dapat membantu dan mempermudah guru (pendidik) dalam proses belajar mengajar di sekolah.
4) Faktor Motivasi Sosial
Motivasi sosial dapat timbul pada orang lain di sekitarnya, seperti teman-teman sekolahnya, tetangga, dan saudara dekat. Motivasi sosial ini dapat membangkitkan hasrat dan dorongan untuk belajar lebih baik. Anak dapat menyadari apa gunanya belajar dan apa tujuan yang hendak dicapai dengan pelajaran itu. 5) Faktor Lingkungan dan Kesempatan
Faktor lingkungan di sini seperti jarak antara rumah dan sekolah, jika jarak antara runah dan sekolah jauh yang memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan kelelahan pada anak. Untuk faktor kesempatan seperti anak anak-anak yang tidak dapat belajar dengan baik dan tidak dapat meningkatkan belajarnya, akibat tidak adanya kesempatan yang disebabkan oleh pekerjan dan pengaruh lingkungan yang buruk.
Belajar adalah suatu proses yang terdiri dari masukan (input) dan hasil (output). Dalam hal ini belajar dapat dianalisis dengan pendekatan analisis sistem sehingga dapat melihat berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Skema 2.3 Proses Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Sumber: Notoatmodjo,2007 : 50)
Selain itu, masih ada lagi faktor lain yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar pada setiap orang seperti yang digambarkan sebagai berikut:
Proses Belajar metode
Fasilitas
Belajar Bahan Ajar
Alat bantu
Alam Lingkungan Luar Sosial Kurikulum/Bahan Pelajaran Guru/Pengajar Sarana dan Fasilitas Faktor Instrumen Administrasi/ managemen
Kondisi Fisik Fisiologi Kondisi Panca Indra
Dalam Bakat
Psikologi Minat
Kecerdasan Motivasi
Kemampuan Kognitif Skema 2.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar
(Sumber: Purwanto,2007:107)
6. Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar pada hakekatnya meliputi (Notoatmodjo, 2007): a. Prinsip 1
Belajar adalah suatu penagalaman yang terjadi dalam diri si pelajar yang diaktifkan oleh individu itu sendiri. Proses belajar dikontrol oleh si pelajar sendiri dan bukan oleh si pengajar. Oleh karena itu mengajar bukan berarti memaksakan sesuatu terhadap si pelajar sehingga perubahan persepsi pengetahuan, sikap, dan perilaku adalah suatu produk manusia itu sendiri, bukan kekuatan yang
b. Prinsip 2
Belajar adalah proses penggalian ide-ide yang berhubungan dengan dir sendiri dan masyarakat sehingga pelajar dapat dapat menentukan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai, untuk itu apa yang relevan bagi pelajar harus ditemukan oleh pelajar itu sendiri. c. Prinsip 3
Belajar adalah suatu konsekuensi dari pengalaman, seseorang menjadi bertanggung jawab ketika ia diserahi tanggung jawab. Orang tidak akan mengubah perilakunya hanya karena seseorang mengatakan kepadanya untuk mengubahnya, sehingga belajar efektif tidak cukup jika hanyadengan member informasi saja, tetapi juga memberikan pengalaman.
d. Prinsip 4
Belajar adalah proses kerjasama dan kolaborasi. Kerjasama akan memperkuat proses belajar, karena pada hakekatnya orang senang saling bergantung dan saling membantu. Dengan kerjasama, saling berinteraksi, dan saling berdiskusi, disamping memperoleh pengetahuan dari orang lain juga dapat mengembangkan pemikiran-pemikiran dan daya kreasi individu.
e. Prinsip 5
Belajar adalah proses evaluasi, bukan proses revolusi karena perubahan perilaku memerlikan waktu dan kesabaran. Perubahan perilaku adalah suatu proses yang lama, karena memerlukan
pemikiran-pemikiran dan pertimbangan orang lain, contoh, dan mungkin pengalaman sebelum menerima atau berperilaku baru.
f. Prinsip 6
Belajar kadang-kadang merupakan suatu proses yang menyakitkan karena menghendaki perubahan kebiasaan yang sangat menyenangkan dan sangat berharga bagi dirinya dan mungkin harus melepaskan sesuatu yang menjadi jalan hidup atau pegangan hidupnya. Maka dalam mengenalkan hal-hal baru yang menghendaki subjek untuk berperilaku baru, sebaiknya tidak secara dramatis atau radikal. g. Prinsip 7
Belajar adalah proses emosional dan intelektual. Belajar dipengaruhi oleh keadaan individu atau si pelajar secara keseluruhan. Oleh karena itu hasil belajar sangat ditentukan oleh situasi psikologis individu pada saat belajar, sehingga harus diciptakan iklim proses belajar sedemikian rupa sehingga tidak kaku, tidak tegang, dan mati. h. Prinsip 8
Belajar bersifat individual dan unik. Setiap orang mempunyai gaya belajar dan keunikan sendiri dalam belajar. Untuk itu harus menyediakan media belajar yang bermacam-macam sehingga tiap individu dapat memperoleh pengalaman belajar sesuai dengan keunikan dan gaya masing-masing.
C. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah kebutuhan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung (Uno, 2008). Menurut Dian (2006) motivasi belajar adalah kesediaan, dorongan, dan semangat untuk melakukan kegiatan belajar pada berbagai tempat dan waktu yang ada.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Motivasi belajar pada dasarnya dapat timbul karena 2 (dua) faktor antara lain:
a. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik ini berasal dari dalam diri sendiri yang didasari oleh adanya kebutuhan untuk belajar, yang berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan keinginan kebutuhaan belajar, harapan akan cita-cita. Biasanya motivasi belajar intrinsik ini merupakan motivasi yang baik (Dian, 2006). Selain itu faktor fisiologis, yaitu keadaan sifat jasmani pada umumnya misalnya kondisi atau keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu (panca indra) juga
mempengaruhi anak (siswa) untuk belajar (Suryabrata, 1993 dalam tulisan Indie, 2009).
b. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik ini merupakan motivasi yang berasal dari luar, seperti dukungan keluarga (terutama orang tua), sebagai lingkungan terdekat dimana anak berada dalam kehidupan sehari-harinya, adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif (Uno, 2008). Faktor non sosial seperti suhu, cuaca, waktu, letak sekolah atau tempat belajar harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat dengan kebisingan atau jalan ramai serta kelengkapan alat-alat pelajaran (Suryabrata, 1993 dalam tulisan Indie, 2009).
Motivasi belajar yang ada pada seorang pelajar dipengaruhi oleh cita-cita yang telah direncanakan dengan proses belajar yang dilakukan tersebut, kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan, kebutuhan untuk aktualisasi diri, dan kebutuhan untuk memahami serta menguasai apa yang dipelajari (Niewhof dkk, 2004 dalam tulisan Indie, 2009).
3. Peranan Motivasi Dalam Belajar
Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa peranan dari motivasi dalam belajar antara lain (Uno, 2008) :
a. Peran Motivasi Dalam Menentukan Penguatan Belajar
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang membutuhkan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan oleh bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya.
b. Peran Motivasi Dalam Memperjelas Tujuan Belajar
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu jika yang dipelajarinya itu sediktnya sudah dapat dinikmati atau dapat diketahui manfaatnya bagi anak.
c. Peran Motivasi Dalam Menentukan Ketekunan Belajar
Seorang anak yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal ini tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar.
D. Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar
Karakteristik anak usia sekolah dasar antara lain (Sofa, 2008) : 1. Pertumbuhan Fisik atau Jasmani
Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama lain, sekalipun anak-anak tersebut usianya relatif sama, bahkan dalam kondisi ekonomi yang relatif sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-anak berbeda ras juga menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini
antara lain disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orangtua terhadap anak, kebiasaaan hidup dan lain-lain.
Nutrisi dan kesehatan sangat mempengaruhi perkembangan fisik anak. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan pertumbuhan anak menjadi lamban, kurang berdaya dan tidak aktif. Sebaliknya anak yang memperoleh makanan bergizi, lingkungan yang menunjang, perlakuan orang tua serta kebiasaan hidup baik akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.
2. Perkembangan Intelektual dan Emosional
Perkembangan intelektual anak sangat tergantung pada berbagai faktor utama, antara lainj kesehatan gizi, kebugaran jasmani, pergaulan dan pembinaan orang tua. Akibat terganggunya perkembangan intelektual tersebut anak kurang dapat berpikir operasional, tidak memiliki kemampuan mental dan kurang aktif dalam pergaulan maupun dalam berkomunikasi.
Perkembangan emosional anak berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia, lingkungan, pergaulan dan pimbinaan orang tua maupun guru di sekolah. Perbedaan perkembangan emosional tersebut juga dapat dilihat berdasarkan ras, budaya, etnik dan bangsa.
3. Perkembangan Bahasa
Bahasa telah berkembang sejak anak usia 4-5 bulan. Orang tua yang selalu membumbing anaknya untuk belajar berbicara mulai dari yang
sederhana sampai anak memiliki ketrampilan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa. Oleh karena itu bahasa berkembang setahap demi setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak dan kesediaan orang tua untuk membimbing anaknya.
Fungsi dan tujuan berbicara antara lain: sebagai pemuas kebutuhan, sebagai alat untuk menarik orang lain, sebagai alat untuk membina hubungan sosial, sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri, untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain dan untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
4. Perkembangan Moral, Sosial dan Sikap.
Orangtua diharapkan dapat memberikan bimbingan agar anak dapat bergaul dalam masyarakat dengan tepat, dan dituntut menjadi teladan yang baik bagi anak, mengembangkan ketrampilan anak dalam bergaul dan memberikan penguatan melalui pemberian hadiah kepada anak apabila berbuat atau berperilaku yang positif serta memberi hukuman yang sesuai jika anak berperilaku negatif.
Fungsi hadiah bagi anak, antara lain: memiliki nilai pendidikan, memberikan motivasi kepada anak, memperkuat perilaku dan memberikan dorongan agar anak berbuat lebih baik lagi. Sedangkan fungsi hukuman yang diberikan kepada anak adalah: sebagai fungsi restruktif, fungsi pendidikan dan sebagai penguat motivasi.
E. Kerangka Teori
Skema 2.5 Kerangka Teori (Sumber: Purwanto, 2007)
F. Kerangka Konsep
Skema 2.6 Kerangka Konsep Faktor Individual (Internal)
1. Kematangan/pertumbuhan 2. Kecerdasan/intelejensi 3. Latihan/mengulang 4. Minat 5. Kemauan 6. Keadaan fisik 7. Ketekunan Faktor Luar (Eksternal)
1. Lingkungan Keluarga a. Suasana dan keadaan
keluarga b. Fasilitas belajar c. Dukungan orangtua 2. Lingkungan dan Sosial
1. Motivasi sosial (teman, tetangga,dll)
2. Faktor keadaan geografis 3. Instrumental
a. Kurikulum/bahan pelajaran b. Guru/pengajar
c. Sarana dan fasilitas d. Administrasi/manejemen
Motivasi
Belajar Belajar Proses
Dukungan Orangtua Motivasi Belajar Anak Variabel Independen Variabel Dependen
G. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi, variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen penelitian ini yaitu dukungan orangtua, sedangkan motivasi belajar sebagai variabel dependennya.
H. Hipotesis Penelitian
Ada hubungan antara dukungan orangtua dengan motivasi belajar anak pada anak usia sekolah.
I. Jadwal Penelitian Terlampir.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis atau Rancangan Penelitian
Jenis atau rancangan penelitian ini adalah descriptive correlational yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antara variabel dependen dan variabel independen dengan menggunakan pendekatan cross sectional (Nursalam, 2003). Metode penelitian dengan pendekatan cross sectional (potong lintang) yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan atau sekali waktu (Hidayat, 2007).
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi disebut juga ‘universe’, adalah keseluruhan subjek/elemen/unit/anggota/item (misalnya manusia) dari sebuah riset (Murti, 2006). Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang berada dalam wilayah penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SD kelas IV dan kelas V di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang pada tahun ajaran 2008/2009.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian, kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat dan tidaknya sampel tersebut dapat digunakan (Hidayat, 2007). Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel. Sedangkan kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel dikarenakan tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian yang penyebabnya antara lain; adanya hambatan etik, menolak menjadi responden, keadaan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian dan terdapat keadaan atau penyakit yang mengganggu pengukuran maupun interpretasi hasil penelitian (Nursalam, 2003). Besar populasi kurang dari 10.000, penentuan jumlah sampelnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Notoatmodjo, 2002): n =
( )
2 1 N d N + Keterangan: n : besar sample N : besar populasiDalam penelitian ini besarnya populasi (N) adalah 135, dengan jumlah siswa kelas IV yaitu 73 dan kelas V 62 siswa. Maka jumlah sampel perstratanya adalah:
n =
( )
2 1 , 0 135 1 135 + n = 57,44 n = 57 Kelas IV : (57/135)X 73 = 30,82 =31 Kelas V : (57/135)X 62 = 26,17 =26Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan stratified
random sampling, kemudian menggunakan simple random sampling
dengan hasil perhitungan rumus di atas sejumlah 57 siswa. Kriteria inklusi subjek penelitian ini antara lain: siswa masih tercatat sebagai siswa di kelas 4 dan 5 di SD Petompon 01 tahun ajaran 2008/2009, siswa dalam keadaan sehat dan sadar serta bersedia menjadi responden penelitian yang dibuktikan dengan tanda persetujuan (informed consent).
C. Definisi Operasional, Variabel Penelitian dan Skala Penelitian No. Variabel Definisi
Operasional Alat ukur Hasil ukur Skala 1. Varibel bebas: Dukungan orangtua Dukungan orangtua adalah suatu bentuk pemberian perhatian, baik secara fisik maupun psikologis dari orangtua kepada anaknya.
Kuesioner A Jumlah nilai: - Kurang jika nilai skor antara 20 - 39.
- Sedang jika nilai skor antara 40 – 59. - Baik jika nilai skor antara 60 – 80.
interval
2. Variabel terikat:
Motivasi Belajar Motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai keinginan dengan segala upaya anak untuk belajar secara rutin.
Kuesioner B Jumlah nilai: - Kurang jika nilai skor antara 20 - 39.
- Sedang jika nilai skor antara 40 – 59. - Baik jika nilai skor antara 60 – 80.
interval
Tabel 3.1 Definisi Operasional
D. Metode Pengumpulan Data 1. Alat Pengumpulan Data
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner atau angket yang berisi sejumlah pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi tentang dukungan orangtua dan motivasi belajar anak dari responden. Peneliti membuat kuesioner yang dibagi menjadi 2 bagian:
a. Kuesioner A
Yaitu kuesioner untuk mengetahui tentang dukungan orangtua terhadap anak, yang terdiri dari 20 pertanyaan dengan pilihan jawaban :
Tidak pernah, jika tidak pernah dilakukan (skor = 1) Jarang, jika dilakukan 2 x perminggu (skor = 2) Sering, jika dilakukan 4 x perminggu (skor = 3)
Selalu, jika dilakukan terus menerus dalam seminggu (skor = 4) b. Kuesioner B
Yaitu kuesioner untuk mengetahui motivasi belajar anak yang terdiri dari 20 pertanyaan dengan pilihan jawaban :
Tidak pernah, jika tidak pernah dilakukan (skor = 1) Jarang, jika dilakukan 2 x perminggu (skor = 2) Sering, jika dilakukan 4 x perminggu (skor = 3)
Selalu, jika dilakukan terus menerus dalam seminggu (skor = 4) 2. Uji Validitas dan Reliabilitas
a. Uji validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2007). Uji validitas penelitian ini menggunakan rumus pearson product
moment, pada pengujian ini telah dilakukan pada 20 siswa kelas VI
yang ada di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang.
Pengambilannya dilakukan dengan teknik simple random
sampling karena populasi yang homogen. Adapun ketentuan
pengujiannya adalah apabila nilai r hitung lebih besar dari r tabel, maka item pertanyaan tersebut dinyatakan valid. Dari perhitungan
statistik didapatkan hasil r hitung (0,502 – 0,963) > r tabel (0,444) sehingga 20 item pertanyaan tersebut valid.
b. Uji reliabilitas
Reliabilitas dapat menunjukkan bahwa sesuatu instrumen penelitian cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data apabila instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2007). Tinggi rendahnya reliabilitas tes tercermin oleh nilai
chronbach alpha di atas 0,60. Berdasarkan hasil perhitungan uji
statistikl didapatkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,760 lebih besar dari 0,60 sehingga reliabel.
3. Cara Pengumpulan data
Cara pengumpulan data yang dilakukan peneliti di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang, sebagai berikut: Peneliti menjelaskan tujuan penelitian yang akan dilakukan, Peneliti memberikan lembar persetujuan penelitian (informed consent) kepada sampel penelitian yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian untuk ditandatangani, Peneliti membagikan kuesioner kepada sample penelitian dan memberikan instruksi agar sample atau responden menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan, dan Peneliti mengambil kuesioner setelah kuesioner diisi oleh sampel penelitian.
E. Metode Pengolahan dan Analisa Data 1. Pengolahan Data
Dalam proses pengolahan data terdapat langkah – langkah yang harus ditempuh, diantaranya ( Hidayat, 2007) :
a. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran
data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numeric
(angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data
menggunakan komputer, dalam pemberian kode dibuat juga daftar
kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari arti suatu variabel.
c. Entry data
Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master table atau data base komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bias juga dengan membuat tabel kontigensi.
d. Melakukan teknik analisis
Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian akan menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis.
2. Analisa Data
a. Analisis Univariat
Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan untuk menganalisis tiap variabel yang ada secara deskriptif. Analisis ini digunakan digunakan untuk mendeskripsikan dukungan orang tua sebagai variabel independen dan motivasi belajar sebagai variabel dependennya dengan SPSS 13.
b. Analisis bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Analisis ini untuk mendapatkan hubungan antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar, menggunakan uji analisis kenormalan uji
kolmogorov smirnov dan uji korelasi pearson dengan interpretasi p value < 0,05 sehingga Ho ditolak, berarti ada hubungan antara
dukungan orang tua dengan motivasi belajar anak pada usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang tahun ajaran 2008/2009. Analisis bivariat ini menggunakan SPSS 13.
F. Etika Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti memberikan surat ijin permohonan penelitian kepada pihak sekolah SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang, dengan memperhatikan etika penelitian, yang meliputi (Hidayat, 2007):
1. Informed consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti
dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.
Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dengan
memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuannya adalah supaya subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian. Jika subjek bersedia, maka responden harus menandatangani lembar persetujuan, jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak responden.
2. Anonimity (tanpa nama)
Dalam penggunaan subjek penelitian dilakukan dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar kuesioner dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3. Confidentiality (kerahasiaan)
Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan responden. Hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang. Dengan mengambil sampel pada siswa SD kelas IV dan kelas V pada tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan orangtua dengan motivasi belajar anak pada usia sekolah di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang dengan jumlah responden yang diambil yaitu 57 siswa. Kuesioner yang dibagikan pada responden terisi semua dan tidak ada yang cacat.
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden a. Jumlah responden
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Kelas responden Frekuensi (n) Presentase (%)
Kelas 4 31 54,4
Kelas 5 26 45,6
Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa distribusi siswa kelas IV dan kelas V di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang didapatkan bahwa distribusi siswa kelas IV dan kelas V di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota
Semarang didapatkan bahwa sebagian besar responden adalah kelas IV yaitu sebesar 31 siswa (54,4%) dan kelas V sebesar 26 responden (45,6%).
b. Jenis Kelamin
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 Berdasarkan Jenis Kelamin di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Jenis kelamin Frekuensi (n) Presentase (%)
Laki-laki 34 59,6
Perempuan 23 40,4
Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa distribusi responden berdasarkan jenis kelamin. Didapatkan bahwa sebagian besar responden adalah laki – laki yaitu sebesar 34 siswa (56,9%) dan perempuan sebesar 23 siswa (40,4%).
c. Umur
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 Berdasarkan Umur di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n = 57)
Umur Frekuensi (n) Presentase (%)
13 3 5,3 12 2 3,5 11 23 40,4 10 18 431,6 9 11 19,3 Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.3 tentang distribusi responden berdasarkan umur responden di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang, didapatkan ada 23 responden (40,4%)
yang berumur 11 tahun,18 responden (31,6%) berumur 10 tahun, 11 responden (19,3%) berumur 9 tahun, 3 responden (5,3%) yang berumur 13 tahun, dan 2 responden (3,5%) dengan umur 12 tahun. 2. Analisis Univariat
a. Dukungan Orang tua
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Siswa Kelas 4 dan Kelas 5 Berdasarkan Dukungan Orang Tua di SD Petompon 01 Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang Tahun 2008/2009 (n=57
Dukungan orang tua Frekuensi (n) Presentase (%)
Buruk 5 8,8
Sedang 45 78,8
Baik 7 12,4
Total 57 100
Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan dukungan orang tua dengan kategori sedang sebanyak 45 (78,8%) responden, sedangkan dukungan orang tua dengan kategori baik ada 7 (12,4%) responden dan 5 (8,8%) dengan kategori dukungan orang tua buruk. Perhitungan statistik dapat diketahui bahwa rata – rata nilai dukungan orang tua adalah 50,33 dengan standar deviasi 8,442 dan mempunyai nilai terendah 33 serta nilai tertinggi 66.