BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
25
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian fenomenologi ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan tentang pengalaman ibu melakukan terapi musik selama
kehamilan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam ( Depth Interview).
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Karakteristik Partisipan
Para partisipan terdiri dari empat orang ibu hamil yang melakukan terapi musik. Umur partisipan berkisar antara 24-38 tahun dan rata-rata umur partisipan adalah 31 tahun. Usia kehamilan partisipan berkisar antara 32-36 minggu, dua orang dari partisipan merupakan kehamilan yang pertama, satu orang merupakan kehamilan yang kedua dan satu orang lagi merupakan kehamilan yang ketiga. Tiga dari empat responden berasal dari suku Batak dan satu orang suku Jawa. Satu orang responden beragama Islam dan tiga orang beragama Kristen. Pendidikan formal terakhir dari setiap partisipan adalah jenjang perguruan tinggi, dua dari antara partisipan pendidikan terahirnya adalah Diploma III dan dua orang lagi pendidikan terakhirnya adalah sarjana. Masing- masing pekerjaan partisipan adalah Guru, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Bidan dan ibu rumah tangga (IRT).
26
26
Berikut adalah karakteristik dari masing-masing partisipan 1) Partisipan A
Partisipan A adalah seorang wanita berusia 32 tahun, hamil anak yang kedua, usia kehamilan 32 minggu, anak pertama berusia 5 tahun, beragama Kristen, suku Batak, pendidikan formal terakhir sarjana, pekerjaan saat ini Guru .
2) Partisipan B
Partisipan B adalah seorang wanita berusia 28 tahun, hamil anak yang pertama, usia kehamilan 36 minggu, beragama Islam, suku Batak, pendidikan formal terakhir Diploma III (D-3), pekerjaan saat ini ibu rumah tangga.
3) Partisipan C
Partisipan C adalah seorang wanita berusia 24 tahun, hamil anak yang pertama, usia kehamilan 34 minggu, beragama Kristen, suku Jawa, pendidikan formal terakhir Diploma III (D-3), pekerjaan saat ini Bidan. 4) Partisipan D
Partisipan D adalah seorang wanita berusia 38 tahun, hamil anak yang ketiga, usia kehamilan 36 minggu, anak pertama berusia 8 tahun, anak kedua berusia 4 tahun, beragama Kristen, suku Batak, pendidikan formal terakhir sarjana, pekerjaan saat ini PNS (Pegawai Negeri Sipil).
27
Tabel 4.1. Karakteristik Partisipan Umur Range Mean 24-38 tahun 30,5 tahun Usia kehamilan 32 minggu 34 minggu 36 minggu 1 orang 1 orang 2 orang Jumlah anak 0 orang 1 orang 2 orang 2 orang 1 orang 1 orang Agama Islam Kristen 1 orang 3 orang Suku Jawa Batak 1 orang 3 orang Pendidikan Diploma III Sarjana (S-1) 2 orang 2 orang Pekerjaan PNS Guru Bidan IRT 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang
28
4.1.2. Hasil Wawancara 1) Pengertian terapi Musik
Terapi musik merupakan respon positif untuk menumbuhkan suasana yang menenangkan, menyenangkan dan bersifat menghibur. Hal ini dinyatakan oleh tiga partisipan berikut ini:
“Menurut saya terapi musik itu baguslah, bisa buat kita tenang, pikiran kacau jadi rileks gitulah. Tapi memang dari sananya kakak sudah senang dengar musik juga, tapi ini kan beda, anaknya juga ikut dengar jadi bukan hanya untuk kesenangan ibunya lagi, tapi juga untuk si buah hati”
(Partisipan A)
“Bagi saya terapi musik itu ya, suatu hal yang menyenangkan, mungkin semua orang suka musik kali ya, mendengar musik setiap hari, supaya nanti anaknya pintar”
(Partisipan D )
2) Pengalaman Ibu tentang Manfaat Terapi Musik
Semua jenis musik, khususnya musik klasik menimbulkan kesan rileks, santai, memberi dampak menenangkan dan menyenangkan. Keempat partisipan menyatakan bahwa terapi musik selama kehamilan sangat bermanfaat bagi ibu, hal tersebut dinyatakan oleh pernyataan partisipan berikut:
“ Kalau sudah melakukan terapi musik saya agak tenang juga, jadi merasa santai kemudian saya tertidur”
(Partisipan A)
“Biasanya aku merasa santai, bayinya bergerak tapi gak terasa sakit”
( Partisipan B)
29
“Saya lebih tenang juga, karena lagunya Melankolis, lebih tenang dan senanglah seperti itu kira-kira”
(Partisipan C)
“ Ya, Pikiran rileks gitu, ga emosian, apalagi kita ikuti alunan lagunya, pikiran jadi plong”
(Patrisipan D)
Musik juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa stress. Pernyataan tersebut di dukung oleh dua dari empat partisipan yang menggunakan terapi musik pada saat ada masalah. Hal ini di ungkapkan dengan pernyataan berikut: “Dari dulu saya kalau ada masalah saya menenangkan diri dengan mendengar musik, daripada stress lebih baik dengar lagu, apalagi lagu-lagu rohani, langsung hati terasa teduh.
(Partisipan A)
“Supaya santai, ga tegang, ngak stress gitulah, masalah bisa lupa sebentar, ga papalah dari pada dipendam takut masalah sama bayinya”
(Partisipan D)
Terapi musik juga membuat ibu merasa siap menghadapi persalinan. Hal ini didukung oleh partisipan berikut ini:
”Sekarang aku merasa lebih siaplah, tapi agak takut juga kalau dibayang-bayangkan, namanya anak pertama. Cuma agak berkurang karena kita sudah tau cara mengatasinya”
(Partisipan B)
”Saya merasa lebih siaplah menjelang persalinan, walaupun ini kehamilan yang ketiga, tapi agak was-was juga, cuman klo sudah terapi musik agak tenang, apalagi instruktornya juga mengajar kami tehnik relaksasi”
(Partisipan D)
30
Untuk memacu perkembangan otak pada, perlu dilakukan berbagai cara atau metode yang bijaksana antara lain dengan memberi rangsangan suara. Hal tersebut di dukung oleh partisipan berikut:
“ Saya dan papanya sering mengajak bayi kami bicara”
(Partisipan C) “Saya selalu mengajak janin saya bicara, ayahnya juga sering mengajak calon bayi kami ngobrol sambil mengelus-elus perut saya”
( Partisipan A)
Setelah dilakukan wawncara lanjut hal tersebut juga berguna bagi ibu yaitu menimbulkan rasa dekat dengan bayinya dan membuat ibu merasa tenang. Hal tersebut didukung oleh pernyataan partisipan berikut:
”Saya merasa senang, sepertinya saya dekat sekali dengan bayi saya, seolah-olah dia sudah bisa dengar saya”
(Partisipan A) ”Saya merasa senang, apalagi kalau papanya yang mengajak bayi kami bicara, saya merasa seolah-olah bayi saya mendengarnya, biasanya dia nendang-nendang gitu, lasak kali”
(Partisipan C)
3) Pengalaman Ibu tentang Waktu Melakukan Terapi Musik
Terapi musik dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja tetapi lebih baik dimulai pada saat kehamilan 16 minggu atau pada saat ibu mulai merasakan gerakan janinnya. Berikut pernyataan partisipan:
“Saya sudah mulai terapi musik sejak bayi saya mulai bergerak, pada saat itu saya pikir bayi saya sudah bisa mendengar, kira-kira empat bulan inilah”
(Partisipan A)
31
“Sudah hampir lima bulan inilah saya terapi musik, inikan kehamilan saya sudah sembilan bulan”
(Partisipan D)
Setelah dilakukan pertanyaan lanjut mengapa ibu melakukan terapi musik pada usia kehamilan 16 minggu berikut pernyataan partisipan:
“Saya rasa itu waktu yang tepat, pada saat itu saya mulai merasakan anak saya bergerak, jadi saya mulai saja mendengar musik. Untuk anak saya yang pertama dan kedua juga saya terapi musik”
(Partisipan D)
Satu dari empat partisipan melakukan terapi musik pada usia kehamilan 20 minggu (5 bulan). Berikut pernyataannya:
“Saya melakukan terapi musik sejak usia kehamilan saya lima bulan”
(Partisipan C)
Salah seorang partisipan mulai melakukan terapi musik ketika ibu mengetahui ibu hamil. Berikut pernyataannya:
“Pertama-tama aku pintar-pintaran aja, saya sering nonton TV, saya ingat mendengar musik saat hamil katanya bisa buat anak nantinya pintar, begitu aku hamil aku langsung deh mulai dengar musik”
(Partisipan B)
Saat yang tepat untuk mendengar musik (terapi Musik ) adalah saat ibu merasa santai, pikiran konsentrasi. Partisipan juga melakukan hal yang sama diungkapkan dalam pernyataan berikut ini:
“ Kapan saja ada waktu santai atau waktu luang saya mendengar musik”
(Partisipan D)
32
“Tiap hari harus mendengar musiklah, paling tidak setengah jam sehari pasti saya dengar musik”
(Partisipan A)
“Tiap hari pasti ada, kata dokter paling tidak 30 menit per hari, kalau aku sih mungkin lebih”
(Partisipan C)
Waktu yang digunakan untuk terapi musik kira-kira 30 menit sampai satu jam pada saat santai setiap hari dilakukan di rumah atau dimana saja. Hal ini dinyatakan oleh partisipanberikut:
“Seringnya dikamar pada saat mau tidur, kadang malam, kadang siang, tapi kalau lagi santai juga sering kog, daripada menghayal”
(Partisipan B)
“Biasanya sebelum tidur siang atau sebelum tidur malam, kalau sudah gitu biasanya saya langsung tertidur”
(Partisipan A)
“ Kalau di rumah saya terapi musik pada saat istirahat”
(Partisipan C)
“Kalau yang rutin sih sebelum tidur siang atau malam, itu haruslah minimal 30 menit”
(Partisipan D)
4) Pengalaman Ibu tentang Cara Melakukan Terapi Musik
Cara melakukan terapi musik adalah dengan cara mendengar musik langsung, atau memakai hearset, sesekali hearset dapat ditempelkan di perut ibu. Keempat partisipan mempunyai kebiasaan yang sama. Hal ini di uraikan dalam pernyataan partisipan berikut:
33
”Saya mendengar musik biasanya pakai tape yang kecil, (Walkman), Pakai hearset di kuping sebelum tidur malam atau siang”
(Partisipan A)
“Pakai Walkman atau Diskman, aku bisa tidur-tiduran, atau duduk kemudian aku dengar musiknya, suaranya biasa aja, kadang pake hearset, kadang hearsetnya saya tempel di perut saya”
(Partisipan B)
“Pakai seperti tape mu ini nih (Walkman), tapi saya pakai hearsetnya, saya tempel ke kuping dan perut saya, atau saya putar musik di rumah saya dekatkan ke arah perut saya”
(Partisipan D)
5) Jenis-Jenis Musik Yang Biasa Didengar Ibu Selama Kehamilan Ibu hamil lebih senang mendengar musik yang iramanya lembut.
“Yang paling sering saya dengar musik yang dikasi dokter itu, tapi instrumen aja, katanya musik Mozart atau musik Klasik”
(Partisipan B)
“Kebanyakan melankolis, kadang-kadang lagu girang juga, tapi waktunya sedikit untuk itu”
(Partisipan C)
“Saya punya musik instumental, nadanya mendayu-dayu gitu, kata suami saya itu musik klasik, nah itu yang paling sering saya dengar”
(Partisipan D)
34
Salah seorang partisipan mendengar musik yang beragam. Berikut ini pernyataanya:
“Macam-macamlah, kadang lagu Pop, lagu Rohani, lagu Nina bobo, atau lagu asal jadi ( Lagu yang syair dan nadanya di buat sendiri oleh ibu) Pokoknya bisa membuat hati saya dan anak saya tenang”
(Partisipan A)
Selain itu jenis musik yang biasa ibu dengar adalah lagu Pop, Dangdut dan yang iramanya lembut. Tiga orang partisipan mengungkapkanya dalam pernyataan berikut:
“Tergantung selera, kalau saya lebih suka lagu-lagu yang lembut, Pop, tapi kadang Dangdut juga, tergantung seleralah yang penting buat hati senang”
(Partisipan A)
“Instrumen sajalah, paling-paling lagu Pop, kalau Dangdut hampir tidak pernah, yang musiknya seperti senandung gitu, iramanya lembut, teratur, pokoknya buat hati senang”
(Partisipan D)
“Lagu Pop, jaranglah, kadang-kadang dangdut, tapi kalau lagu Rock tidak pernahlah, soalnya aku tidak suka lagu-lagu Rock gitu enak dengar lagu Tembang kenangan”
(Partisipan B)
Satu orang dari partisipan hanya mendengar lagu melankolis saja. Berikut ini pernyataanya:
“saya tidak pernahlah dengar lagu dangdut atau pop selama kehamilan ini, saya lebih banyak dengar lagu melankolis saja atau Mozart gitu”
(Partisipan C)
35
6) Harapan Ibu Setelah Melakukan Terapi Musik
Setiap orang mempunyai harapan yang berbeda, begitu juga ibu hamil dalam melakukan terapi musik. Keempat responden menyatakan harapannya agar anaknya pintar dan cerdas dengan ungkapan yang berbeda, berikut pernyataan Partisipan:
“ Harapan saya anak saya nantinya pintar, punya nilai lebih dari teman– temannya. kitakan senang kalau anak kita cerdas dan pintar”
(Partisipan A)
Nantinya kalau anak kita lahir, selamat, insya Allah kalau sudah besar pintar, Cerdas, menyenangkan ibu dan ayahnya. Apalagi anak pertama, mudah-mudahan menjadi contoh bagi adek-adeknya nanti”
(Partisipan B)
“Harapan saya mungkin dengan terapi musik ini, meningkatkan kecerdasan anak, brain stormingnya, supaya anaknya aktif, kreatif nantinya karena selama kehamilan pakai terapi musik untuk perkembangan otak bayinya”
(Partisipan C)
“Harapan saya apa ya, saya berharap anak saya juga dengar musik yang saya dengarlah, sehingga otaknya juga berkembang’
(Partisipan D)
7) Masalah-Masalah yang Dihadapi Ibu Selama Melakukan Terapi Musik
Selama melakukan terapi musik hampir semua partisipan tidak mengalami masalah yang berarti. Berikut ungkapan dari partisipan:
“Saya bersyukur karena selama hamil tidak ada masalah yang berarti, kalau masalah-masalah kecil itu wajarlah dalam keluarga”
(Partisipan C)
36
“ Alhamdulillah, selama kehamilan tidak ada masalah, paling kalau saya jalan-jalan ya tidak pake musiklah, kalau sudah pulang ke rumah pas mau tidur baru dengar musik lagi”
(Partisipan B)
“ Gak ada masalah, paling kalau saya jalan-jalan jauh biasanya saya bawa tapenya saya dengar di mobil supaya ga bosan, biar rileks”
(Partisipan D)
4.2. Pembahasan
Kehamilan membutuhkan persiapan secara fisik maupun secara psikologis, oleh sebab itu perlu melakukan Ante natal care untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan janin, maka dari itulah wanita dan keluarga perlu melakukan persiapan dengan tugas-tugas kehamilan ( Bobak, 2005).
Faktor biologis dan fisiologis anak dapat dibentuk sejak anak masih di dalam kandungan. Sejumlah musik klasik tertentu memberi pengaruh rasa aman pada orang yang mendengarkan termasuk ibu pada saat hamil. Kondisi ini mempengaruhi janin untuk tumbuh dan berkembang dalam suasana yang relatif
tenang sehingga proses perkembangannya berlangsung optimal
(Kasdu Dini, 2004).
4.2.1. Terapi Musik
Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang baik fisik maupun mental. Musik memberi rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak seperti fungsi-fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisis intelek dan fungsi kesadaran (Satiadarma, 2004).
37
Terapi musik merupakan suatu disiplin ilmu yang rasional yang memberi nilai tambah pada musik sebagai dimensi baru secara bersama dapat mempersatukan seni, ilmu pengetahuan dan emosi (Widodo, 2000).
Dari hasil wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini Terapi Musik adalah hal yang menyenangkan, menenangkan, dan memberi perasaan rileks dengan mendengar musik setiap hari agar nantinya anaknya pintar dan cerdas.
Musik adalah segala sesuatu yang menyenangkan, mendatangkan keceriaan mempunyai irama (ritme), melody, timbre (tone colour) tertentu untuk membantu tubuh dan pikiran saling bekerja sama (Fauzi, 2006).
Dari hasil wawancara kepada empat partisipan dengan terapi musik pikiran jadi rileks, merasa santai/tidak emosian (mengurangi stres), dan pikiran jadi tenang. Musik merupakan suatu hal yang menyenangkan.
4.2.2. Jenis-Jenis Musik
Kemajuan tehnologi juga semakin meningkatkan jenis-jenis musik seperti musik Rock, musik Contry, musik Jazz, musik Barok, musik Klasik (Mozart), dll. Sebagian dari musik ini dapat digunakan untuk merangsang kecerdasan, walau demikian bukan berarti musik lain tidak berpengaruh sama sekali (Satiadarma, 2004).
Dari hasil penelitian semua partisipan lebih senang mendengar musik yang iramanya lembut, melankolis seperti musik klasik/Mozart, namun sebagian ibu juga mendengar jenis musik Pop, Dangdut, lagu Rohani atau lagu Tembang kenangan yang penting membuat ibu merasa senang.
38
4.2.3. Manfaat Terapi Musik
Menurut Fauzi (2006), memberi perangkat bagi mental untuk memecahkan masalah, meningkatkan keterampilan kognitif dan perilaku, menumbuhkan rasa percaya diri.
Menurut pengalaman ibu melakukan terapi musik pada kehamilan, ibu merasa lebih tenang, santai/rileks dan mengurangi stres, tetapi ibu belum merasakan manfaat langsung pada bayinya karena ibu masih dalam keadaan hamil tetapi ibu merasakan gerakan janinnya lebih aktif. Terapi musik juga ternyata mempunyai manfaat yang baik bagi ibu hamil dan membuat ibu hamil lebih siap menghadapi persalinan.
4.2.4. Cara Pelaksanaan Terapi Musik
Terapi musik dapat dilakukan di rumah, disaat santai dan di mana saja, jaraknya sekitar setengah meter (50 cm) dari tape dapat juga menggunakan walkman. Usahakan suara (volume) tidak terlalu keras atau lemah, intinya volume tersebut dapat membuat ibu merasa nyaman dan membuat ibu berkonsentrasi penuh.
Jika mempunyai hearphone, sesekali dapat menempelkanya ke perut ibu agar janin bisa mendengarkan lebih jelas, ibu boleh berdendang mengikuti melodi atau lirik lagu yang di dengarnya (Satiadarma, 2004) .
39
Dari hasil penelitian keempat partisipan melakukan terapi musik minimal 30 menit sampai satu jam setiap hari pada saat menjelang tidur siang atau malam. Dua dari partisipan mengatakan bahwa dalam perjalanan ibu juga melakukan terapi musik dan mengikuti irama lagu yang didengarnya dengan bersenandung. Satu dari empat partisipan menggunakan tape dan mendekatkan ke arah perutnya.
40