• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada Bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap di ruang rawat inap anak Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.Penelitian ini dilaksanakan dalam waktu 3 bulan yaitu mulai tanggal 6 Agustus dan 6 November 2012.Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel yang didasarkan pada analisis univariat dan bivariat. Berikut ini akan disajikan data – data hasil penelitian yaitu sebagai berikut:

Analisis Univariat

Analisis univariat ini bertujuan menjelaskan karakteristik masing – masing variabel yang diteliti. Analisis ini meliputi karakteristik demografi meliputi usia, jenis kelamin, diagnosa medis dan pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap.

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup umur, jenis kelamin, dan diagnosa medis. Berdasarkan tabel 5.1 dapat digambarkan bahwa mayoritas responden 11 orang (36,7%) berada pada usia 8 bulan. Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah laki laki berjumlah 16 orang (53,3%) dan berdasarkan diagnosa medis, GE + Dehidrasi ringan sedang merupakan

diagnosa medis yang paling banyak pada responden yaitu 53,3%. Karakteristik responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Karakteristik Responden ( n = 30 )

Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Umur 4 bulan 5 bulan 6 bulan 7 bulan 8 bulan 8 6 3 2 11 26,7 20 10 6,7 36,7 Jenis Kelamin Laki - laki Perempuan 16 14 53,3 46,6 Diagnosa Medis GE + Dehidrasi Bronchopneumonia 16 14 43,3 53,3

2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum Menjalani Rawat Inap

Hasil penelitian menemukan bahwa rata – rata skor pola temperamen bayi sebelum menjalani rawat inap yaitu 58,53 dengan standar deviasi 8,858 (95% CI = 55,23 – 61,84). Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini rata – rata pola temperamen bayi sebelum rawat inap adalah diantara 55,23 sampai dengan 61,84. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum Menjalani Rawat Inap ( n = 30 )

Variabel Mean SD 95% CI

Sebelum rawat inap 58,53 8,858 55,23 – 61,84

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata skor pola temperamen bayi selama menjalani rawat inap yaitu 34,83 dengan standar deviasi 6,193 (95% CI = 32,52 – 37,15). Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini rata – rata pola temperamen bayi selama menjalani rawat inap adalah diantara 32,52 sampai dengan 37,15. Lihat tabel 3

Tabel 3 Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Selama Menjalani Rawat Inap ( n = 30 )

Variabel Mean SD 95% CI

Selama Rawat Inap 34,83 6,193 32,52 – 37,15

Analisa Bivariat

1. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap

Berdasarkan tabel 4 dapat digambarkan hasil uji statistik bahwa rata –

rata pola temperamen sebelum menjalani rawat inap adalah 58,83 dengan standar deviasi 8,858. Sedangkan rata – rata pola temperamen selama menjalani rawat inap adalah 34,83 dengan standar deviasi 6,193. Terlihat nilai mean perbedaan antara pola temperamen sebelum dan selama menjalani rawat

inap yaitu 23,700 dengan standar deviasi 9,639. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pola temperamen sebelum dan selama menjalani rawat inap.

Tabel 4 Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap ( n=30 )

Variabel Mean SD Beda mean pvalue

Pola temperamen

Sebelum 58,53 8,86 23,700 0,000 Selama rawat inap 34,83 6,19

B. Pembahasan

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup umur, jenis kelamin, dan diagnosa medis. Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa mayoritas responden berada pada usia 8 bulan. Sementara jenis kelamin terbanyak adalah laki laki dan untuk GE + Dehidrasi merupakan diagnosa medis terbanyak yang dialami responden.

2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum Menjalani Rawat Inap Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat bahwa rata – rata skor pola temperamen bayi sebelum menjalani rawat inap yaitu 58,53 dengan standar deviasi 8,858. Artinya sebelum bayi menjalani rawat inap, rata – rata bayi memiliki pola temperamen mudah. Hal ini ditandai dengan bayi sering berteriak

kuat untuk memperlihatkan kesenangan ketika bermain dengan kerincingandan bayi tersenyum atau tertawa bila diajak bercanda oleh orang yang tidak dikenalnya.Hal ini didukung dengan penjelasan dalam Mulyadi (2008) bahwa bayi dengan pola temperamen mudah, sangat mudah untuk diajak bekerja sama dengan lingkungan sosial dan cenderung tidak rewel serta memiliki perilaku yang positif terhadap orang lain.

3. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Selama Menjalani Rawat Inap

Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat bahwa rata – rata skor pola temperamen bayi selama menjalani rawat inap yaitu 34,83, dengan standar deviasi 6,193. Artinya bahwa selama menjalani rawat inap, rata – rata bayi memiliki pola temperamen sedang yaitu cenderung tidak stabil kondisi emosinya dalam merespon stimulus dari lingkungan hidupnya, sehingga kadang – kadang bayi merasa mudah, tetapi kadang merasa sulit menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan sosial ( Mulyadi, 2008 ). Hal ini dikarenakan pada saat bayi dirawat di rumah sakit banyak hal yang baru dan asing yang harus dihadapi antara lain bayi mengalami perasaan yang tidak menyenangkan seperti takut, cemas, tegang dan nyeri akibat proses penyakit (Supartini, 2004).Ini menimbulkan suatu krisis yang terjadi akibat perubahan lingkungan, terbatasnya kemampuan kognitif bayi untuk membentuk mekanisme koping guna mengatasi stressor yang dialaminya. Dimana dalam perkembangan kognitif bayi selama fase sensorimotor terdapat tiga peristiwa yang terjadi terkait terbatasnya kemampuan kognitif bayi yaitu perpisahan, penerimaan konsep keberadaan objek dan kemampuan unuk menggunakan simbol dan representasi mental (Wong, 2003). Akan tetapi ketiga

hal tersebut tidak dapat dilakukan bayi bahkan menjadi stressor utama bagi bayi selama menjalani rawat inap. Bayi cemas akibat perpisahan, bayi tidak dapat menyesuaikan diri terhadap hal – hal yang baru dialami dan bayi susah untuk memberikan tanda atau simbol terhadap apa yang ia inginkan (Wong, 2003). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardiningsih(2006), yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan bayi selama menjalani hospitalisasi, diperoleh hasil bahwa sebanyak 80% bayi menunjukkan reaksi menangis serta menjerit dikarenakan prosedur tindakan dan proses penyakit.

4. Perbandingan Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap

Berdasarkan hasil analisa statistik didapatkan nilai p = 0,000. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku sehari – hari yang dilakukan bayi sebelum menjalani rawat inap, sebagian besar tidak dilakukan bayi selama menjalani rawat inap. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam Mulyadi (2008) bahwa pola temperamen bayi dapat berubah tergantung situasi dan kondisi yang dialami bayi.Bayi yang dirawat inap mempunyai kesukaran lebih besar akibat terbatasnya kemampuan kognitif bayi untuk membentuk mekanisme koping guna mengatasi stressor yang dialaminya. Dimana stressor utama dari hospitalisasi yang sering dialami bayi antara lain cemas akibat perpisahan, kehilangan kendali dan cemas terhadap cedera tubuh dan nyeri yang dialami. Bayi terlihat lebih sering diam dan menangis karena proses penyakit yang diderita serta cenderung menolak kehadiran orang yang tidak

dikenalnya.Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Munasih (2007), yang bertujuan untuk mengetahui kecemasan bayi dalam pemberian terapi vena (infus), dimana ternyata hampir 100% pasien bayi menunjukkan respon kecemasan seperti menangis, menolak berinteraksi dengan orang lain, berusaha melepaskan infus dengan menunjukkan reaksi gelisah. Hal ini juga sesuai dengan penjelasan dalam Wong (2008) bahwa perbedaan temperamen bayi disebabkan juga oleh faktor petugas ( perawat, dokter dan tenaga medis lainnya).Dimana asuhan atau tindakan keperawatan yang tidak konsisten dan penyimpangan dari rutinitas harian bayi menyebabkan rasa tidak percaya dan akhirnya bayi menjadi cemas. Berdasarkan kondisi di ruangan anak didapati bahwa suasana ruangan yang panas, jumlah pasien yang terlalu ramai dan penataan ruangan yang belum disesuaikan dengan usia bayi sehingga dapat menyebabkan bayi kehilangan kendali dan mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, seperti takut, cemas dan tegang.

BAB 6

Dokumen terkait