• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Temperamen Bayi Usia 4 - 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan Tahun 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pola Temperamen Bayi Usia 4 - 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan Tahun 2012"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

POLA TEMPERAMEN BAYI USIA 4 - 8 BULAN SEBELUM

DAN SELAMAMENJALANI RAWAT INAP DI RUANG

RAWAT INAP ANAK RSUD Dr. PIRNGADI

MEDAN

SKRIPSI

Oleh:

Yulia Permata Sari 111121117

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

(2)
(3)

PRAKATA

Segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha

Esa atas segala Rahmat dan Karunia Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan judul “ Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan

Selama Menjalani Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan

Tahun 2012".

Skripsi ini dapat selesai atas bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak.

Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada

pihak-pihak yang telah memberikan bimbingan dan dukungan selama dalam proses

penyelesaian Skripsi ini:

1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara.

2. Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

3. Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns, M.Kep selaku dosen Pembimbing Skripsi

yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta memberikan

masukan-masukan yang bermanfaat bagi penulis dan juga memberi motivasi

terbaik, semangat, dan dukungan kepada penulis untuk berpikir kritis, serta

memberi pengetahuan yang berharga selama proses penyelesaian skripsi ini.

4. Erniyati, S.Kp, MNS selaku Dosen Penguji I danNur Afi Darti, S.Kep,

Ns.,M.Kep selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan banyak masukan

(4)

5. Yesi Ariani, S.Kep,Ns., M.Kep selaku dosen Pembimbing Akademik.

6. Dr. Fauziah Syahnan, Sp. THT RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan yang telah

memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian

7. Orangtua saya tercinta, Alm. A. Tarigan dan K. br. Sinulingga terima kasih

atas segala doa, dukungan dan dorongan Ayahanda dan Ibunda baik moril

maupun materil. Terima kasih atas pengorbanan dan kasih sayang yang selalu

kalian berikan.

8. Teman-teman satu angkatan saya, kelas ekstensi tahun 2011, baik kelas pagi

dan khususnya ekstensi sore terima kasih atas dukungan dan bantuannya

selama ini.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah

banyak membantu yang tidak dapat disebutkan satu per satu.Semoga Tuhan

memberkati dan kiranya Skripsi ini dapat bermanfaat.

Medan, Februari 2013

Peneliti

(5)
(6)

D. Pertimbangan Etik 26

E. Instrumen Penelitian 27

F. Uji Validitas dan Reabilitas 28

G. Pengumpulan Data 29

H. Analisa Data 30

Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan 32

A. Hasil Penelitian 32

B. Pembahasan 35

BAB 6. Kesimpulan Dan Saran……… 40

A. Kesimpulan……… 40 B. Saran……….. 40

Daftar Pustaka 41

Lampiran – lampiran 43

Lampiran 1.Inform Concent

Lampiran 2.Jadwal Tentatif Penelitian Lampiran 3.Taksasi Dana

(7)

DAFTAR TABEL

(8)

Judul : Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama

Perkembangan bayimerupakan masa kritis dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna baik dari segi lingkungan maupun interaksi dengan orang lain. Lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan bayi, salah satunya saat sakit dan harus menjalani rawat inap.Bayi yang dirawat inap mempunyai kesukaran lebih besar dalam mengidentifikasitehnik koping yang mereka gunakan selama di rawat di rumah sakit. Hal ini disebabkan karena bayi memiliki pola temperamen yang berbeda – beda yakni mudah, sedang dan sulit. Tujuan penelitian ini untuk membandingkanpola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap. Desain penelitian yang digunakan adalah komparatif. Jumlah sampel 30 responden bayi usia 4 – 8 bulan dan sedang menjalani rawat inap. Pengambilan sampel penelitian menggunakan

accidental sampling.Analisa data dengan menggunakan uji pair t-test.Berdasarkan

penelitian diperoleh bahwa responden berada pada usia 8 bulan sebanyak 11 orang (36,7%) dan didominasi oleh responden laki - laki16 orang (53,3%). Diagnosa medis responden terbanyak adalah GE + Dehidrasi ringan sedang sebanyak 16 orang (53,3%). Pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap adalah temperamen mudah dengan nilai rata – rata 58,53 dan temperamen sedang, dengan nilai rata – rata 34,83. Berdasarkan dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap ( nilai p = 0,000 ).Berdasarkan hasilpenelitian, disarankan kepada perawat agar dalam merawat bayi dapat mengidentifikasi stressor sehingga perubahan temperamen bayi bisa diminimalkan.

(9)

Judul : Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama

Perkembangan bayimerupakan masa kritis dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna baik dari segi lingkungan maupun interaksi dengan orang lain. Lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan bayi, salah satunya saat sakit dan harus menjalani rawat inap.Bayi yang dirawat inap mempunyai kesukaran lebih besar dalam mengidentifikasitehnik koping yang mereka gunakan selama di rawat di rumah sakit. Hal ini disebabkan karena bayi memiliki pola temperamen yang berbeda – beda yakni mudah, sedang dan sulit. Tujuan penelitian ini untuk membandingkanpola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap. Desain penelitian yang digunakan adalah komparatif. Jumlah sampel 30 responden bayi usia 4 – 8 bulan dan sedang menjalani rawat inap. Pengambilan sampel penelitian menggunakan

accidental sampling.Analisa data dengan menggunakan uji pair t-test.Berdasarkan

penelitian diperoleh bahwa responden berada pada usia 8 bulan sebanyak 11 orang (36,7%) dan didominasi oleh responden laki - laki16 orang (53,3%). Diagnosa medis responden terbanyak adalah GE + Dehidrasi ringan sedang sebanyak 16 orang (53,3%). Pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap adalah temperamen mudah dengan nilai rata – rata 58,53 dan temperamen sedang, dengan nilai rata – rata 34,83. Berdasarkan dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap ( nilai p = 0,000 ).Berdasarkan hasilpenelitian, disarankan kepada perawat agar dalam merawat bayi dapat mengidentifikasi stressor sehingga perubahan temperamen bayi bisa diminimalkan.

(10)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Derajat kesehatan anak pada masa balita sangat berkaitan erat dengan

tingkat kesehatannya pada masa bayi baru lahir. Dengan demikian, derajat

kesehatan anak tidak dapat dicapai dengan upaya yang dilakukan sesaat,

melainkan merupakan hasil dari upaya yang berkesinambungan selama kehidupan

anak.Dengan demikian upaya pembangunan kesehatan anak tidak dapat

dipenggal-penggal untuk kurun umur tertentu, meskipun masing-masing kurun

umur memiliki karakteristik masalah kesehatan yang berbeda.Oleh karena itu

kesehatan anak perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari pemerintah, petugas

kesehatan maupun masyarakat, guna mengoptimalkan pertumbuhan dan

perkembangan pada masa bayi dan anak.

Perkembangan bayi terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan

atau stimulasi yang berguna agar potensi tetap berkembang, sehingga perlu

mendapatkan perhatian.Perkembangan psikososial sangat dipengaruhi lingkungan

dan interaksi antara bayi dengan orang tuanya atau orang dewasa lainnya.

Lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan bayi, salah

satunya saat bayi sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit ( Nursalam,

2005 )

Setiap bayi memiliki pola temperamen yang berbeda – beda. Dimana

temperamen merupakan gaya berperilaku atau bagaimana perilaku yang

mempengaruhi tipe interaksi yang terjadi antara bayi dan orang tua serta anggota

(11)

karakter yang dimiliki bayi. Temperamen yang dimiliki bayi telah dibawa sejak

bayi terlahir dan hal ini dipengaruhi oleh faktor keturunan maupun faktor

lingkungan. Menurut Gotfried ( 1998 ) ditemukan bahwa bayi yang lahir dari

orang tua yang tak mampu menyesuaikan diri , ternyata juga tak mampu

menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan hidupnya. Bayi yang

memiliki orang tua yang mudah (easy adulthood) cenderung mudah untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Begitu juga dengan faktor

lingkungan, dimana lingkungan sangat mempengaruhi kondisi temperamen

individu, misalnya perlakuan / pemeliharaan bayi dari orangtua serta lingkungan

baru yang membuat bayi perlu beradaptasi ( Nursalam, 2005 )

Pada saat bayi dirawat di rumah sakit banyak hal yang baru dan juga asing

yang harus dihadapi antara lainbayi mengalami perasaan yang tidak

menyenangkan, seperti takut, cemas, tegang, nyeri saat dirawat di rumah sakit

(Supartini, 2004). Ini menimbulkan suatu krisis yang terjadi akibat perubahan

lingkungan, bayi mengalami keterbatasan untuk mengatasi kecemasan. Krisis ini

dipengaruhi oleh berbagai hal, yaitu usia perkembangan bayi, pengalaman masa

lalu tentang penyakit, perpisahan atau perawatan di rumah sakit, support system

serta keseriusan penyakit dan ancaman perawatan (Wong, 2003).

Stresor utama dari hospitalisasi yang sering dialami bayi adalah antara lain

cemas akibat perpisahan, kehilangan kendali dan cemas terhadap cedera tubuh dan

nyeri yang dialami. Reaksi perilaku yang dialami bayi antara lain, protes yaitu

(12)

minum, serta reaksi pelepasan, dimana bayi mulai berinteraksi dengan orang lain

dan hal ini jarang terlihat pada bayi yang dihospitalisasi.( Wong, 2003 )

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Munasih (2007), yang

bertujuan untuk mengetahui kecemasan bayi dalam pemberian terapi vena

( infus ) dengan menggunakan desain deskriptif dan jumlah sampel sebanyak 30

orang, ternyata hampir 100% pasien bayi menunjukkan respon kecemasan seperti

menangis, menolak berinteraksi dengan orang lain, berusaha melepaskan infus

dengan menunjukkan reaksi gelisah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ardiningsih(2006), yang bertujuan

untuk mengetahui tingkat kecemasan bayi selama menjalani hospitalisasi,

diperoleh hasil bahwasanya sebanyak 80% bayi menunjukkan reaksi menangis

serta menjerit dikarenakan prosedur tindakan dan proses penyakit. Dimana

populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi yang dirawat di RuangAnggrek

RSUD Cilacap yaitu sebanyak 201 orang. Sampel yang digunakan sebanyak 30

responden yang diambil secara Quota dan dengan menggunakan desaincross

sectional.

Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada 10 ibu responden pada

tanggal 26 April 2012 di Ruang rawat III Anak RSUD dr.Pirngadi Medan

mengatakan bahwa selama bayi mereka dirawat inap, bayi tampak gelisah dan

rewel. Hal ini disebabkan karena lingkungan yang asing bagi bayi, tindakan

pengobatan yang diberikan dan proses penyakit dan nyeri yang di alami bayi.

Sementara apabila di rumah, ibu mengatakan bahwa bayinya mempunyai perilaku

(13)

mengompol, mau bersosialisasi dengan orang lain ketika orang tersebut

menggendong bayi tersebut.

Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampakpada

bayi.Bayi yang dirawat inap mempunyai kesukaran lebih besar dalam

mengidentifikasitehnik koping yang mereka gunakan selama di rawat di rumah

sakit. Jika seorang bayi dirawat di rumah sakit, maka bayi tersebut akanmudah

mengalami krisis karena bayi mengalami stres akibat perubahan, baikterhadap

status kesehatannya maupun lingkungannya dalam kebiasaan sehari - hari,dan

bayi mengalami keterbatasan dalam mekanisme koping untukmengatasi masalah

maupun kejadian-kejadian yang bersifat menekan.Perawat bisamembantu

keluarga untuk mengenal temperamen bayi dalam mempertahankan koping bayi

( Wong, 2003 )

Berdasarkan uraian di atas dan beberapa penelitian terhadap reaksi bayi,

maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Pola temperamen

bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap di ruang III Anak RSUD dr

Pirngadi Medan

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola temperamen bayi

sebelum dan selamamenjalani rawat inap di ruang III Anak RSU dr Pirngadi

(14)

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama

menjalani rawat inap di ruang III Anak RSUD dr Pirngadi Medan

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik responden di Ruang III Anak RSUD dr.

Pirngadi Medan

b.Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum menjalani

rawat inap di Ruang III Anak RSUD dr Pirngadi Medan

c.Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan selama menjalani

rawat inap di ruang III Anak RSUD dr Pirngadi Medan

d.Membandingkan pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama

menjalani rawat inap di ruang III anak RSUD dr Pirngadi Medan

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Keluarga

Dengan penelitian ini dapat menambah pengetahuan orang tua untuk

mengenal perubahan temperamen anak sebelum dan selama menjalani

rawat inap guna memenuhi rasa nyaman bayi.

2. Praktik Keperawatan

Sebagai bahan masukan yang bermakna kepada perawat praktisi sehingga

dapat meminimalkan perubahan pola temperamen bayi yang dirawat di

(15)

3. Pendididikan Keperawatan

Sebagai bahan masukan atau sumber data bagi peserta didik keperawatan

tentang pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan

selamamenjalani rawat inap

4. Penelitian Keperawatan

Sebagai sumber informasi untuk penelitian selanjutnya atau penelitian yang

(16)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Bayi

1. Definisi Bayi

Bayi merupakan individu yang berusia 0-12 bulan yang ditandai dengan

pertumbuhan dan perkembangan yang cepat disertai dengan perubahan dalam

kebutuhan zat gizi (Wong, 2003).

2. Tumbuh Kembang Bayi

2.1Perkembangan Kognitif

Fase Sensorimotor ( Piaget )

Selama fase sensorimotor bayi, terdapat tiga peristiwa yang terjadi

selama fase ini yang melibatkan antara lain; (1) perpisahan yaitu bayi belajar

memisahkan dirinya sendiri dari benda lain di dalam lingkungan, (2)

penerimaan konsep keberadaan objek atau penyadaran bahwa benda yang

tidak lagi ada dalam area penglihatan sesungguhnya masih ada. Misalnya

ketika bayi mampu mendapatkan benda yang diperhatikannya telah

disembunyikan di bawah bantal atau di belakang kursi. (3) kemampuan untuk

menggunakan simbol dan representasi mental. Dalam hal ini fase sensorimotor

terdiri atas 4 tahap yaitu:

Tahap pertama, dari lahir sampai 1 bulan diidentifikasi dengan

penggunaan refleks bayi. Pada saat lahir, individualitas dan temperamen bayi

diekspresikan dengan refleks fisiologis menghisap, rooting, menggenggam

dan menangis.Tahap Kedua, reaksi sirkulasi primer. Menandai permulaan

(17)

bulan, aktifitas seperti menghisap dan menggenggam menjadi tindakan yang

sadar yang menimbulkan respon tertentu.Permulaan akomodasi tampak

jelas.Bayi menerima dan mengadaptasi reaksi mereka terhadap lingkungan

dan mengenai stimulus yang menghasilkan respon. Sebelumnya bayi akan

menangis sampai puting dimasukkan ke dalam mulut, sekarang mereka

menghubungkan puting dengan suara orang tua.

Tahap Ketiga, reaksi sirkular sekunder adalah lanjutan dari reaksi

sirkulasi primer dan berlangsung sampai usia bulan. Dari menggenggam dan

memegang sekarang menjadi mengguncang dan menarik.Mengguncang

digunakan untuk mendengar suara, tidak hanya sekedar kepuasan saja. Terjadi

3 proses perilaku pada bayi yaitu Imitasi, bermain dan afek yaitu manifestasi

emosi atau perasann yang dikeluarkan. Selama 6 bulan bayi percaya bahwa

benda hanya ada selama mereka dapat melihatnya secara visual. Keberadaan

objek adalah komponen kritis dari kekuatan hubungan orang tua dan anak,

terlihat dalam pembentukan ansietas terhadap orang asing pada usia 6 – 8

bulan. Tahap Keempat, koordinasi skema kedua dan penerapannya ke situasi

baru. Bayi menggunakan pencapaian perilaku sebelumnya terutama sebagai

dasar untuk menambah keterampilan intelektual dan keterampilan motorik

sehingga memungkinkan eksplorasi lingkungan yang lebih besar.

2.2 Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik pada bayi dikategorikan dalam beberapa usia antara

lain yaitu dimana Usia 4 bulan, bayi mulai mengences, refleks Moro, leher

(18)

gigi, begitu juga dengan berat badan menjadi dua kali lipat dari berat badan

lahir. Usia 6 bulan, kecepatan pertumbuhan mulai menurun, terjadi

pertambahan berat badan 90 – 150 mg perminggu selama enam bulan

kemudian, pertambahan tinggi badan 1,25 cm per bulan selama enam bulan

kemudian, mulai tumbuh gigi dengan munculnya dua gigi seri di sentral

bawah serta bayi mulai dapat mengunyah dan menggigit. Di Usia 7 bulan,

mulai tumbuh gigi seri di sentral atas serta memperlihatkan pola teratur

dalam pola eliminasi urine dan feces di Usia 8 bulan ( Wong, 2008 )

2.3 Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik bayi dibedakan menjadi 2 bagian yaitu motorik

kasar dan motorik halus. Dimana motorik kasar terdiri dari, kepala tidak

terjuntai ketika ditarik keposisi duduk dan dapat menyeimbangkan kepala

dengan baik, punggung kurang membulat, lengkung hanya di daerah lumbal,

mampu duduk tegak bila ditegakkan, mampu menaikan kepala dan dada dari

permukaan sampai sudut 90 derajat, melakukan posisi simetris yang dominan

seperti berguling dari posisi telentang ke miring. Begitu juga ketika duduk

bayi mampu mempertahankan kepala tetap tegak dan kuat, duduk dengan

lebih lama ketika punggung disangga dengan baik.Ketika posisi prone, bayi

mengambil posisi simetris dengan lengan ekstensi, berguling dari posisi

telungkup ke telentang, dapat mengangkat dada dan abdomen atas dari

permukaan serta menahan berat badan pada satu tangan.Selain itu ketika

supine, bayi memasukkan kakinya ke mulut dan bayi mengangkat kepala dari

(19)

ketika dipegang dalam posisi berdiri bayi menahan hampir semua berat

badannya dan tidak lagi memperhatikan tangannya.Duduk condong kedepan

pada kedua tangan, ketika dipegang pada posisi berdiri, bayi berusaha

melonjak dengan aktif. Di usia 8 bulan bayi duduk mantap tanpa ditopang

dan menahan berat badan pada kedus tungkai serta menyesuaikan postur

tubuh untuk mencapai seluruh benda.

Motorik halus bayi meliputi menginspeksi dan memainkan tangan,

menarik pakaian dan selimut ke wajah untuk bermain, mencoba meraih benda

dengan tangan namun terlalu jauh, bermain dengan kerincingan dan jari kaki,

dapat membawa benda kemulut.Bayi mampu menggenggam benda dengan

telapak tangan secara sadar, memegangi satu kubus sambil memperhatikan

kubus lainnya.Meraih kembali benda yang terjatuh, menggenggam kaki dan

menariknya ke mulut, memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya,

memegang dua kubus lebih lama dan membantingnya ke atas meja. Di usia 8

bulan bayi sudah melakukan genggaman dengan cubitan menggunakan jari

telunjuk, jari ke empat dan kelima, mempertahankan dua kubus dengan

memperhatikan kubus ketiga, membawa benda dengan menarik pada tali dan

berusaha untuk tetap meraih mainan yang diluar jangkauan ( Wong, 2008 )

2.4 Perkembangan Bahasa

Komunikasi verbal bermakna bayi pertama kali adalah menangis,

untuk mengekspresikan ketidaksenangannya, mengeluarkan suara yang parau,

kecil dan nyaman selama pemberian makan, berteriak kuat untuk

(20)

jarang menangis selama periode terjaga, berteriak mengeluarkan suara

mendekut dan bercampur huruf konsonan dan tertawa keras, mulai menirukan

suara, menggumam menyerupai ucapan satu suku kata, vokalisasi kepada

maianan dan bayangan di cermin, menikmati mendengarkan suaranya sendiri.

Selanjutnya menghasilkan suara vocal dan merangkai suku kata, berbicara

ketika orang lain berbicara, mendengarkan secara selektif kata – kata yang

dikenal, mengucapkan tanda penekanan dan emosi serta menggabungkan suku

kata sepertidada, namun tidak ada maksud di dalamnya.

2.5 Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial bayi pada awalnya dipengaruhi oleh refleksinya,

seperti menggenggam dan pada akhirnya bergantung terutama pada interaksi

antara mereka dengan pemberian asuhan utama.Kelekatan kepada orang

tua.Kelekatan orang tua dan anak yang dimulai sebelum kelahiran, sangat

penting disaat kelahiran.Menangis dan perilaku refleksi adalah metode untuk

memenuhi kebutuhan bayi dalam periode neonatal dan senyum social

merupakan langkah awal dalam komunikasi social. Bermain juga menjadi

agen sosialisasi utama dan memberikan stimulus yang diperlukan untuk

belajar dan berinteraksi dengan lingkungan( Wong, 2008 )

B. Konsep Temperamen

1. Definisi Temperamen

Temperamen adalah gaya berperilaku atau bagaimana perilaku yang

mempengaruhi tipe interaksi yang terjadi antara bayi dan orang tua serta

(21)

2. Pola Temperamen Bayi

2.1Tipe Mudah ( The Easy Infant )

Bayi mudah ( the easy infant ) merupakan bayi yang ditandai dengan

karakteristik atau sifat – sifat yang mudah untuk diajak bekerja sama dengan

lingkungan sosial dan cenderung tidak rewel. Bayi memiliki perilaku yang

positif terhadap orang lain ( selain orang tua / anggota keluarga ). Ia mudah

untuk melakukan aktifitas yang rutin ( makan, minum, tidur ) dan hal yang

tidak rutin seperti berhubungan dengan orang asing. Pada umumnya sikap

penerimaan lingkungan sosial cenderung kurang perhatian, kurang penerimaan

maupun kurang dukungan terhadap anak yang sulit ( difficult infant ).

Sebanyak 40% bayi tergolong mudah ( easy infant )

2.2Tipe Sulit ( The Difficult Infant )

Bayi yang sulit ( difficult infant ) merupakan bayi yang cenderung memiliki

karakteristik atau sifat – sifat negatif, sehingga mereka sulit untuk

menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosialnya . Umumnya bayi

tidak mampu/ sulit menjalin hubungan dengan orang baru (di luar anggota

keluarga). Selain itu, bayi pun juga mengalami kesulitan untuk melakukan

aktifitas rutin (makan, minum dan tidur ), sehingga hal ini membuat marah,

jengkel atau kesal orang tuanya. Bayi yang memiliki temperamen sulit

cenderung mengekspresikan sisa kondisi emosi yang buruk ( bad mood),

sering menangis dan melarikan diri (menghindar ) dari pengalaman –

(22)

2.3Tipe Sedang / Lambat ( Slow to Warm up )

Bayi sedang ( slow to warm up infant ) merupakan bayi yang cenderung tak

stabil kondisi emosinya dalam merespon stimulus dari lingkungan hidupnya,

sehingga kadang – kadang bayi merasa mudah, tetapi kadang merasa sulit

menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan sosial. Bayi mungkin menarik

diri dari situasi sosial yang dianggap asing.Jadi bayi agak lamban dalam

merespon terhadap suatu stimulus. Dalam penelitian jangka panjang selama 30

tahun yang dilakukan oleh New York Longitudinal Study ( NYLS ) ditemukan

bahwa sebanyak 15% bayi tergolong tipe yang sedang ( slow to warm up

infant ) ( Mulyadi, 2008 )

3. Pengkajian Dalam Temperamen

3.1Tingkat Aktifitas

Tingkat aktifitas merupakan taraf perilaku yang berhubungan erat

dengan kualitas aktifitas seorang bayi.Taraf ini dijadikan suatu tolak ukur

mengenai temperamen seorang bayi.Skor dalam hal gerakan selama tidur,

makan, bermain, berpakaian, memegang, menggapai, merangkak, berjalan dan

siklus tidur bangun. Tingkat aktifitas dibagi 2 yaitu Aktifitas tinggi, merujuk

pada aktifitas motorik tinggi, seperti lebih menyukai merangkak atau tidak

mampu duduk diam.Aktifitas rendah,merujuk pada aktifitas motorik rendah,

seperti lebih menyukai permainan yang tenang, dan mampu untuk tetap duduk

untuk periode lama. Misalnya bayi yang mudah akan menunjukkan

aktifitasnya seperti berteriak kuat untuk memperlihatkan kesenangan ketika

(23)

3.2Keteraturan ( Rhytmicity / Regularity )

Keteraturan ( Rhytmicity) ialah suatu fungsi aktifitas yang didasarkan

pada pola keteraturan, rutinitas ( makan, tidur ) dan memberi manfaat bagi diri

sendiri yang dapat diperkirakan atau tidak dapat diperkirakan. Skor dalam hal

siklus tidur bangun, lapar, makan, pola dan jadwal eliminasi. Ritmisitas

terbagi menjadi 2 yaitu Ritmisitas Tinggi,merujuk pada bayi dengan kebiasaan

tubuh teratur danRitmisitas Rendah,merujuk pada bayi dengan kebiasaan

tubuh yang tidak teratur.Bayi tipe sulit akan rewel pada saat bangun dan akan

tidur. Sementara bayi tipe mudah akan menunjukkan reaksi menangis ketika

merasa tidak nyaman dengan popok yang basah.

3.3Mendekat atau Menarik diri ( Menjauh )

Mendekat ( approach) merupakan suatu respon awal dari bayi

terhadap suatu stimulus tertentu. Skor dalam hal respon terhadap makanan

baru, individu atau pengalaman.Mendekat,merujuk pada respon positif yang

utama seperti, tersenyum, berkata – kata dan mendekati stimulus.Menarik

diri,merujuk pada respon negatif yang utama seperti rewel, menangis, dan

menjauh atau menolak stimulus.Setiap bayi dihadapkan pada suatu stimulasi

dari lingkungan sosial. Bayi yang mudah ( easy infant ) ditandai dengan

ketepatan merespon terhadap stimulus sosial. Sebaliknya bayi yang sulit

( difficult infant ) cenderung tidak tepat responnya terhadap stimulus tersebut.

Misalnya bayi memalingkan wajah dan melekat pada ibu ketika orang yang

(24)

3.4Adaptibilitas ( Kemampuan untuk menyesesuaikan diri )

Adaptabilitas merupakan suatu kemampuan bagi seorang bayi untuk

dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang baru

maupun tidak. Skor dalam hal kemudahan menyesuaikan diri pada situasi baru

atau perubahan situasi ( serupa dengan mendekat-menarik diri ) tetapi lebih

ditekankan pada lebih dari sifat respon awal. Kemampuan Adaptasi

tinggi,menunjukkan kemampuan untuk tetap dalam ketenangan. Kemampuan

Adaptasi rendah,menunjukkan ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan

mudah. Bayi yang sulit ditandai dengan kesulitan menyesuaikan diri dengan

tuntutan lingkungan sosial.

3.5Ambang / Batas respon yang wajar

Merupakan berapa banyak rangsangan diperlukan sebelum bayi

bereaksi pada situasi yang ada.Skor dalam hal tingkat rangsangan sensori yang

diperlukan sebelum bayi berespon.Ambang rendahmenunjukkan intensitas

tinggi untuk rangsangan ringan seperti bangun karena suara yang

halus.Ambang tinggimenunjukkan intensitas tinggi sampai sedang pada

rangsangan kuat , seperti kurangnya ketidaknyamanan dengan popok basah.

Bayi yang mudah akan dapat memberi respon yang wajar, proporsional dan

sesuai dengan situasinya; sebaliknya bayi yang mudah akan memberi respon

positif terhadap orang lain ketika dirinya berada dalam situai yang asing,

misalnya bersikap ramah, tersenyum atau tertawa bila diajak bercanda.

(25)

berteriak – teriak atau menghindar dari orang lain bila diajak berbicara atau

bercanda.

3.6Intensitas Reaksi ( Reaction Intensity )

Intensitas reaksi ialah suatu kemampuan seorang bayi untuk

memberikan reaksi terhadap tindakan orang lain. Intensitas tinggi,

menunjukkan pada reaksi perilaku seperti menangis keras atau tertawa sebagai

respon terhadap stimulus, seperti menerima mainan baru. Intensitas

rendah,menunjukkan pada reaksi perilaku seperti merengek atau menjatuhkan

diri untuk bereaksi terhadap stimulus. Bayi yang mudah ( easy infant ) akan

mampu memberi reaksi yang tepat terhadap tindakan atau perilaku orang lain.

Sebaliknya bayi yang sulit cenderung tak mampu memberi reaksi yang tepat

terhadap tindakan orang lain. Seorang bayi yang mudah, akan menerima

makanan atau minuman sambil tersenyum atau tertawa bila diberi makanan

oleh orang lain. Sebaliknya bayi yang sulit, mungkin akan bereaksi menolak,

melempar atau membuang makanan / minuman bila diberi makanan /

minuman yang diberi oleh orang lain.

3.7Kualitas Mood ( Alam perasaan / Suasana hati )

Kualitas suasana hati ialah suatu kondisi suasana hati yang terekspresi

dalam diri setiap bayi ketika menghadapi suatu stimulus eksternal. Kualitas

suasana hati pada seorang bayi akan terlihat nyata dengan penampilan reaksi

emosi seperti rasa senang , gembira, cemas, khawatir, takut, marah, jengkel,

sedih dan sebagainya. Alam perasaan positif,merujuk pada anak yang secara

(26)

secara umum rewel dan mengeluh. Misalnya, bayi tipe mudah menerima

waktu mandinya kapan saja tanpa menolak, sementara bayi tipe sulit akan

rewel ketika dilakukan pemakaian baju

3.8Distraksibilitas

Distraksibitas ialah keefektifan rangsangan luar dan mengalihkan

perilaku atau perhatian bayi.Distraktibitas rendah, merujuk pada bayi yang

tidak mudah dialihkan perhatiannya. Distraktibitas tinggi, merujuk pada bayi

yang mudah dialihkan perhatian. Ada bayi yang memberi respon yang sulit

terhadap sesuatu hal yang mudah, atau sebaliknya ada sesuatu hal mudah

tetapi direspon dengan sulit. Misalnya, seorang bayi yang sulit bila ditanya

tentang namanya, ia tidak menjawab, berdiam diri atau mungkin takut dan

menghindar padahal ia mengetahui namanya sendiri. Bayi yang mudah, akan

segera menjawab namanya bila ditanya namanya oleh orang lain meskipun

masih dibantu oleh orang tuanya. Hal ini menunjukkan keberanian dan sikap

percaya diri untuk menghadapi orang lain.

3.9Kuat Lemahnya Perhatian

Yang dimaksud dengan taraf perhatian ialah sejauhmana individu

mampu untuk melakukan konsentrasi terhadap suatu aktifitas.Perhatian lama

– sangat,merujuk pada bayi yang dapat memperhatikan untuk periode waktu

yang lama dan terus bekerja pada proyek orangtua. Mengatakan padanya

untuk berhenti atau seseorang memperhatikan aktifitasnya.Perhatian Lama –

kurang menetap,merujuk anak yang memiliki kesulitan memperhatikan dan

(27)

cukup lama terhadap sesuatu hal yang baru karena ada dorongan ingin tahu.

Sebaliknya untuk bayi yang sulit, tidak akan bertahan lama dalam

memperhatikan sesuatu karena tidak menarik perhatian bagi dirinya ( Wong,

2008 )

4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Temperamen

4.1Faktor Herediter

Faktor herediter ialah kondisi temperamen telah dibawa sejak

kelahiran bayi yang bersangkutan dan ini bersifat stabil, permanen atau

menetap. Menurut penelitian Gotfried ( 1998 )ditemukan bahwa bayi yang

lahir dari orang tua yang tak mampu menyesuaikan diri , ternyata juga tak

mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan hidupnya. Bayi

yang memiliki orang tua yang mudah ( easy adulthood ) cenderung mudah

untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Gunnar menyebutkan

5 alasan bahwa faktor biologis-genetis berpengaruh besar terhadap

pembentukan dan perkembangan temperamen yaitu (1) temperamen

dipengaruhi oleh sistem syaraf pusat, (2) aktifitas – aktifitas perilaku, emosi

diatur oleh sistem syaraf, (3) proses emosi maupun temperamen terjadi pada

setiap mahkluk hidup seperti manusia dan mamalia, (4) gugahan dan

pengaturan diri berhubungan erat dengan sistem kerja fisiologis ( organ –

organ tubuh manusia )

4.2Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan ialah sejauhmana lingkungan sangat mempengaruhi kondisi

(28)

serta lingkungan baru yang membuat bayi perlu beradaptasi. Banyak bayi

yang ketika lahir mengekspresikan perilaku menangis dan emosi yang negatif

( menangis ) selama 3 bulan pertama, karena hubungan orang tua tak

harmonis. Tetapi hal ini akan berubah, setelah hubungan orangtua harmonis

( Nursalam, 2005 )

C. Konsep Rawat Inap

1. Definisi Rawat Inap

Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakitdan

dirawat di rumah sakit. Keadaan ini terjadi karena anak berusaha

untukberadaptasi dengan lingkungan asing dan baru yaitu rumah sakit,

sehinggakondisi tersebut menjadi faktor stressor bagi anak baik terhadap anak

maupunorang tua dan keluarga (Wong, 2000)

2. Reaksi Bayi Terhadap Rawat Inap

Stressor utama dari rawat inap adalah antara lain cemas akibat

perpisahan, kehilangan kendali dan cemas terhadap cedera tubuh dan nyeri

yang dialami. Reaksi terhadap krisis – krisis tersebut dipengaruhi oleh usia

perkembangan mereka, pengalaman mereka sebelumnya dengan penyakit dan

perpisahan (Wong, 2008). Dampak dari perpisahan dengan orang tua yang

dialami bayi dapat menyebabkan gangguan pembentukan rasa percaya dan

kasih sayang. Pada anak usia lebih dari 6 bulan terjadi stranger anxiety atau

cemas apabila berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya. Bila

(29)

perilaku yang ditunjukkan adalah menangis keras, marah dan banyak

melakukan gerakan.

Kehilangan kendali.Disaat kehilangan kendali yang paling penting adalah

terbentuknya kepercayaan ( trust ). Rasa percaya dibangun melalui pemberian

kasih sayang yang terus menerus dari orang yang mengasuhnya.Bayi berusaha

mengendalikan lingkungan dengan ungkapan emosional, seperti menangis

atau tersenyum.Di Rumah sakit, tanda – tanda semacam itu sering terlewatkan

atau disalah artikan dan rutinitas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan staf

rumah sakit bukan kebutuhan bayi tersebut.Asuhan yang tidak konsisten dan

penyimpangan dari rutinitas harian bayi tersebut dapat menyebabkan rasa

tidak percaya dan menurunkan rasa kendali.

Cedera tubuh dan Nyeri.Pada bayi cedera tubuh dan nyeri terbatas hanya

dapat dilihat dari reaksinya dalam menanggapi nyeri. Respon bayi terhadap

nyeri tampak dari gerakan – gerakan tubuhnya yaitu menggeliat dan

menyentak. Sebagian bayi dapat menangis dengan keras dan menunjukkan

ekspresi wajah yang tidak menyenangkan ( Wong, 2008 )

3. Dampak Rawat Inap Pada Bayi

Rawat inap pada anak dapat menyebabkan kecemasan dan stres pada

semua tingkat usia. Penyebab dari kecemasan dipengaruhi oleh banyaknya

faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya),

lingkungan baru, maupun lingkungan keluarga yang mendampingi selama

perawatan.Keluarga sering merasa cemas dengan perkembangan keadaan

(30)

bersifat langsung terhadap anak, secara fisiologis anak akan merasakan

perubahan perilaku dari orang tua yang mendampingi selama perawatan. Anak

menjadi semakin stres dan hal ini berpengaruh pada proses penyembuhan, yaitu

menurunnya respon imun. Pasien anak akan merasa nyaman selama perawatan

dengan adanya dukungan sosial keluarga, lingkungan perawatan yang

terapeutik, dan sikap perawat yang penuh dengan perhatian akan mempercepat

proses penyembuhan. (Wong, 2003 )

4. Memaksimalkan Manfaat Rawat Inap

Walaupun hospitalisasi sangat membuat stres bagi anak dan keluarga,

tetapi hal tersebut juga membantu untuk memfasilitasi perubahan kearah positif

antara anak dan anggota keluarganya antara lain; (1) Membantu perkembangan

hubungan orang tua-anak.Rawat inap memberikan kesempatan kepada orang

tua untuk belajar mengenai pertumbuhan dan perkembangan bayi.Jika orang

tua mengetahui reaksi bayi terhadap stres, seperti regresi dan agresif, maka

mereka cepat memberikan dukungan. Sosialisasi juga dapat dilakukan dengan

tim kesehatan. (2) Memberikan kesempatan untuk pendidikan. Rawat inap

memberikan kesempatan pada anak dan anggota keluarga untuk belajar

mengenai tubuh dan profesi kesehatan.(3) Meningkatkan pengendalian diri.

Pengalaman menghadapi krisis seperti penyakit atau rawat inap akan

memberikan kesempatan untuk pengendalian diri. Anak yang lebih muda

seperti bayi, memberikan kesempatan untuk menguji fantasinya melawan

(31)

inap dapat memberikan kesempatan khusus kepada bayi untuk penerimaan

sosialdan sosialisasi juga dapat dilakukan dengan tim kesehatan.

( Wong, 2008 )

5. Pencegahan Dampak Rawat Inap

Dirawat di rumah sakit bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan

pengalaman yang mengerikan bagi bayi.Bayi seringkali mengalami hal-hal

yang tidak menyenangkan selama di rumah sakit, mulai dari lingkungan

rumah sakit yang asing, serta pengobatan maupun pemeriksaan yang kadang

kala menyakitkan bagi si bayi.Oleh karena itu, peran perawat sangat

diperlukan dalam upaya pencegahan dampak tersebut.(1) Menurunkan atau

mencegah dampak perpisahan dari keluarga, (2) Meningkatkan kemampuan

orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, (3) Mencegah atau

mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis).Mengurangi nyeri

merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak. Proses

pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi

dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya distraksi, relaksasi,

imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan

nyeri akan berlangsung lama pada bayi sehingga dapat mengganggu

pertumbuhan dan perkembangan bayi. (4) Tidak melakukan kekerasan pada

anak. (5) Modifikasi Lingkungan Fisik, melalui modifikasi lingkungan fisik

yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dan

nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa

(32)

Pola Temperamen - Mudah - Sedang - Sulit

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

A. Kerangka Konseptual

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan

antara konsep – konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian –

penelitian yang akan digunakan ( Notoadmodjo, 2003 ).

Skema dibawah ini menjelaskan bahwa dalam penelitian ini variabel

yang diteliti hanya satu variabel yaitu variabel pola temperamen bayi. Dimana

dalam hal ini pola temperamen sebelum dan selama menjalani rawat inap

menimbulkan pola temperamen antara lain sulit, mudah maupun temperamen

lambat. Berdasarkan hal tersebut, maka kerangka konsep penelitian ini dapat

digambarkan sebagai berikut:

Skema 1.1 :Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap

Pola temperamen

bayi usia 4 – 8 bulan

Sebelum rawat

inap

(33)

B. DEFINISI OPERASIONAL

Hipotesa dalam penelitian ini adalah ada perbedaan pola temperamen

bayi berusia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap di Ruang

(34)

BAB 4

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Komparatifyang bertujuan membandingkan pola temperamen bayi usia 4 – 8

bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap di Ruang III Anak RSUD dr

Pirngadi Medan.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi berusia 4 – 8 bulan yang

dirawat di Ruang III Anak Rumah Sakit dr Pirngadi Medan yang

berjumlah 120 orang pada tahun 2012

2. Sampel

Menurut Arikunto ( 2006 ), bila total populasi lebih dari 100 maka

pengambilan sampel 10% - 15% dan 20% - 25% dari total populasi,

dimana total populasi 120 orang dan peneliti mengambil 25% dari total

populasi. Dengan jumlah populasi bayi 120 orang, maka sampel yang

dilibatkan adalah sebanyak 30 orang.Namun karena disini kemampuan

bayi terbatas, maka yang menjadi responden yaitu orang tua bayi.Tehnik

pengambilan sampel menggunakan accidental sampling yaitu cara

penetapan sampel dimana subjek dalam penelitian dijumpai pada tempat

dan waktu yang bersamaan pada saat pengumpulan data. Kriteria Inklusi

(35)

compos mentis ( sadar ). Sementara kriteria untuk orang tua yaitu ibu

bayi, orangtua bersedia menjadi responden dan mengerti bahasa Indonesia.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Ruang III Anak Rumah Sakit Umum

Daerah dr Pirngadi Medan pada bulan Agustussampai November 2012

D. Pertimbangan Etik Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti sangat menghormati keputusan responden

(autonomy). Jika responden menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian ini

maka peneliti tidak akan memaksa dan menghargai keputusan responden.

Demikian halnya juga dengan aspek pribadi, peneliti dapat menjamin

kerahasiaan (confidentiality) dari hasil penelitian Peneliti tidak akan

menyebarluaskan identitas responden kepada orang lain, kecuali seizin

responden. Untuk itu peneliti menggunakan kode responden demi kerahasiaan

identitas responden. Peneliti juga mempertimbangkan aspek keadilan

( justice) dalam penelitian ini. Dimana semua responden memperoleh

perlakuan yang sama dari peneliti. Peneliti menjamin bahwa tindakan atau

perlakuan yang diberikan tidak akan membahayakan ( nonmaleficence)

kehidupan responden.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa

kuisioner yang terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama berisi pertanyaan

mengenai data demografi bayi yaitu usia, jenis kelamin diagnosa medis.

(36)

sebelum dan selama menjalani rawat inap. Dimana kuisioner yang kedua ini

menggunakan kuisioner pola temperamen bayi yaitu RITQ ( Rate Infant

Temperament Questionnaire ) untuk bayi 4 – 8 bulan yang diperoleh langsung

dari Buku Ajar Wong, 2008 dan sudah teruji validitas dan reliabelitasnya.

Untuk pertanyaan pola temperamen berasal dari tinjauan pustaka yang

merupakan indikator pola temperamen yang terdiri dari tingkat aktifitas,

keteraturan, mendekat atau menarik diri, adaptibilitas, ambang ( batas respon

yang wajar), intensitas reaksi, kualitas mood, distraksibilitas dan kuat

lemahnya perhatian.

Untuk penilaian pertanyaan dari kuisioner pola temperamen bayi,

kuisioner yang terdiri dari 14 pertanyaan tersebut dibedakan menjadi beberapa

kriteria penilaian yaitu sebagai berikut: Nilai 6 untuk pernyataan “hampir

selalu”, nilai 5 untuk pernyataan “sering”, nilai 4 untuk pernyataan variabel

yang “biasa dilakukan”, nilai 3 untuk pernyataan variabel yang biasanya

“tidak dilakukan”, nilai 2 untuk pernyataan “jarang” dan nilai 1 untuk

pernyataan “ tidak pernah”. Dimana untuk mendapatkan skor ini, jumlah soal

dikalikan dengan kriteria penilaian kuisioner.Kemudian di dapat skor tertinggi

yaitu 84.Skor total jawaban responden yang diperoleh terhadap instrumen

yang diberikan menentukan ada tidaknya perbedaan. Skor ini bertujuan untuk

mengidentifikasi pola temperamen bayi. Sehingga diperoleh hasil sebagai

berikut :

Skor56 - 84 : Temperamen mudah

(37)

Skor < 28 : Temperamen sulit

F. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen

Uji validitas dapat diuraikan sebagai tindakan ukuran penelitian yang

sebenarnya yang memang didesain untuk mengukur. Validitas berkaitan

dengan nilai sesungguhnya dari hasil penelitian dan merupakan karakteristik

yang penting dalam penelitian yang baik (Setiadi, 2007). Uji validitas

penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Content Validity Index

( CVI) dan dikonsultasikan kepada Dosen Keperawatan yang ahli di bidangnya

di Fakultas Keperawatan USU yaitu Ibu Farida Linda Sari, S.Kep,Ns.,M.Kep

selaku dosen keperawatan anak dan diperoleh hasil validitas yaitu 0,9

Uji reliabilitas instrumen adalah suatu uji yang dilakukan untuk

mengetahui sejauh mana suatu instrumen akan menghasilkan suatu hasil yang

sama/konsistensi dalam penggunaannya secara berulang kali, sehingga dapat

digunakan untuk penelitian selanjutnya dalam ruang lingkup yang sama.

Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan internal

consistency, yaitu dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian

hasilnya dianalisa. Uji reliabilitas ini diberikan kepada 10 orang perawat yang

bertugas di ruang rawat inap anak RSUD Dumai.Pada penelitian ini pengujian

reliabilitas menggunakan analisis Cronbach’s Alpha, yaitu untuk mencari

reliabilitas instrumen. Instrumen dikatakan reliabel bila nilai alpha 0,6 – 0,9

(Polit & Hugler, 1995). Hasil uji reliabel terhadap 10 orang responden yaitu

diperoleh nilai 0,773 untuk pola temperamen sebelum rawat inap dan 0,775

(38)

G. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan setelah mengikuti langkah-langkah

pengumpulan data yaitu: Tahap persiapan, yaitu mengajukan permohonan

izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan (Fakultas keperawatan

USU) dan mengirimkan izin tersebut kepada institusi tempat penelitian

(RSUD dr. Pirngadi Medan). Setelah mendapatkan izin dari institusi tempat

penelitian, pengumpulan data dilaksanakan.Kemudian peneliti menentukan

responden yang bersedia untuk menjadi sampel penelitian.

Tahap Pelaksanaan, dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh

seorang assisten yaitu Ibu Nelly Sinulingga selaku perawat yang bertugas di

Ruang III Anak.Pelaksanaannya dilakukan pada pagi hari pukul 10.00 WIB

di Ruang III Anak. Sebelum pelaksanaannya assisten diberitahu bagaimana

cara pengumpulan data yaitu dengan terlebih dahulu menjelaskan mengenai

tujuan, manfaat dan proses pengisian kuisioner kepada responden. Kemudian

peneliti memberikan lembar kuisioner kepada responden yang terdiri atas 2

bagian yaitu pertanyaan mengenai data demografi bayi dan kuisioner tentang

pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap.

Dimana untuk pemberian dan pengisian kuisioner sebelum dan selama

menjalani rawat inap dilakukan diwaktu yang sama. Misalnya untuk

kuisioner sebelum ( pre ) menjalani rawat inap diberikan pertama sekali dan

kemudian dilanjutkan dengan pengisian kuisioner selama ( post ) menjalani

(39)

menit.Setelah seluruh lembar kuisioner terisi maka data yang telah terkumpul

pada assisten dikumpulkan kembali dan siap dianalisis oleh peneliti.

Hari pertama tanggal 6 Oktober 2012, peneliti mulai menyebarkan

kuisioner kepada responden pada pukul 10.00 WIB. Sebelumnya peneliti

mengucapkan salam dan menjelaskan prosedur pengisian kuisioner. Setelah

itu peneliti memberikan kuisioner yang berisi pertanyaan mengenai data

demografi bayi dan pola temperamen sebelum menjalani rawat

inap.Responden diberikan waktu selama 15 menit untuk mengisi lembar

kuisioner.Setelah selesai pengisian kuisioner yang pertama maka responden

diberikan kuisioner kedua yang berisi pernyataan pola temperamen selama

menjalani rawat inap dalam waktu 15 menit.Selanjutnya data dikumpulkan

kembali dan lanjut untuk hari berikutnya.

H. Analisa Data

Setelah data terkumpul, maka dilakukan proses pengolahan data dalam

beberapa tahap. Pertama, Editing yaitu dilakukan pengecekan kelengkapan

pada data yang telah terkumpul. Bila terdapat kesalahan dan kekurangan

dalam pengumpulan data, dapat diperbaiki dengan memeriksanya dan

dilakukan pendataan ulang. Kemudian Coding yaitu pemberian kode atau

tanda pada setiap data yang telah terkumpul untuk mempermudah

memasukan ke dalam tabel. Ketiga,Tabulating yaitu untuk mempermudah

analisa data, pengolahan data serta pengambilan kesimpulan dalam bentuk

tabel distribusi frekuensi.Metode statistik untuk analisa data yang digunakan

(40)

1. Analisa Univariat

Statistik univariat adalah suatu metode untuk menganalisa data dari

suatu variabel yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu hasil penelitian

(Polit & Hugler, 2002). Pada penelitian ini yang di analisis pertama adalah

karakteristik bayi. Hasil data dengan jenis data kategorik yakni jenis

kelamin dan diagnosa medis serta umur akan dideskripsikan berdasarkan

tabel frekuensi, sedangkan data numerik yaitu pola temperamen bayi

sebelum dan selama menjalani rawat inap akan dideskripsikan berdasarkan

mean.

2. Analisa Bivariat

Setelah diketahuai karakteristik variabel pola temperamen bayi usia

4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap dapat dilakukan

analisis lebih lanjut, yaitu ingin mengetahui perbedaan pola temperamen

bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap. Untuk

mengetahuai adanya perbedaan pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan

sebelum dan selama menjalani rawat inap dilakukan analisa bivariat

dengan Uji t berpasangan atau pair t - test dengan cara komputerisasi,

karena dilakukan pengukuran sebelum dan selama menjalani rawat inap

pada satu kelompok sampel yang sama yaitu bayi berusia 4 – 8 bulan di

Ruang III Anak RSU dr. Pirngadi Medan. Uji hipotesa dilakukan dengan

membandingkan nilai ρ dimana α = 0,05. Jika nilai ρ < α maka hipotesa

(41)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada Bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai

pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap

di ruang rawat inap anak Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Jumlah

responden dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.Penelitian ini dilaksanakan

dalam waktu 3 bulan yaitu mulai tanggal 6 Agustus dan 6 November 2012.Hasil

penelitian disajikan dalam bentuk tabel yang didasarkan pada analisis univariat

dan bivariat. Berikut ini akan disajikan data – data hasil penelitian yaitu sebagai

berikut:

Analisis Univariat

Analisis univariat ini bertujuan menjelaskan karakteristik masing – masing

variabel yang diteliti. Analisis ini meliputi karakteristik demografi meliputi usia,

jenis kelamin, diagnosa medis dan pola temperamen bayi sebelum dan selama

menjalani rawat inap.

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup umur, jenis

kelamin, dan diagnosa medis. Berdasarkan tabel 5.1 dapat digambarkan bahwa

mayoritas responden 11 orang (36,7%) berada pada usia 8 bulan. Berdasarkan

jenis kelamin, mayoritas responden adalah laki laki berjumlah 16 orang (53,3%)

(42)

diagnosa medis yang paling banyak pada responden yaitu 53,3%. Karakteristik

responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Karakteristik Responden

( n = 30 )

Karakteristik Frekuensi Persentase (%)

Umur

2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum Menjalani Rawat Inap

Hasil penelitian menemukan bahwa rata – rata skor pola temperamen bayi

sebelum menjalani rawat inap yaitu 58,53 dengan standar deviasi 8,858 (95% CI =

55,23 – 61,84). Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95%

diyakini rata – rata pola temperamen bayi sebelum rawat inap adalah diantara

(43)

Tabel 2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum Menjalani Rawat

Inap ( n = 30 )

Variabel Mean SD 95% CI

Sebelum rawat inap 58,53 8,858 55,23 – 61,84

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata skor pola temperamen

bayi selama menjalani rawat inap yaitu 34,83 dengan standar deviasi 6,193 (95%

CI = 32,52 – 37,15). Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95%

diyakini rata – rata pola temperamen bayi selama menjalani rawat inap adalah

diantara 32,52 sampai dengan 37,15. Lihat tabel 3

Tabel 3 Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Selama Menjalani Rawat Inap

( n = 30 )

Variabel Mean SD 95% CI

Selama Rawat Inap 34,83 6,193 32,52 – 37,15

Analisa Bivariat

1. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani

Rawat Inap

Berdasarkan tabel 4 dapat digambarkan hasil uji statistik bahwa rata –

rata pola temperamen sebelum menjalani rawat inap adalah 58,83 dengan

standar deviasi 8,858. Sedangkan rata – rata pola temperamen selama

menjalani rawat inap adalah 34,83 dengan standar deviasi 6,193. Terlihat nilai

(44)

inap yaitu 23,700 dengan standar deviasi 9,639. Dari hasil uji statistik diperoleh

nilai p = 0,000. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan

antara pola temperamen sebelum dan selama menjalani rawat inap.

Tabel 4 Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani

Rawat Inap ( n=30 )

Variabel Mean SD Beda mean pvalue

Pola temperamen

Sebelum 58,53 8,86 23,700 0,000

Selama rawat inap 34,83 6,19

B. Pembahasan

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup umur, jenis

kelamin, dan diagnosa medis. Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa mayoritas

responden berada pada usia 8 bulan. Sementara jenis kelamin terbanyak adalah

laki laki dan untuk GE + Dehidrasi merupakan diagnosa medis terbanyak yang

dialami responden.

2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum Menjalani Rawat Inap

Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat bahwa rata – rata skor pola

temperamen bayi sebelum menjalani rawat inap yaitu 58,53 dengan standar

deviasi 8,858. Artinya sebelum bayi menjalani rawat inap, rata – rata bayi

(45)

kuat untuk memperlihatkan kesenangan ketika bermain dengan kerincingandan

bayi tersenyum atau tertawa bila diajak bercanda oleh orang yang tidak

dikenalnya.Hal ini didukung dengan penjelasan dalam Mulyadi (2008) bahwa

bayi dengan pola temperamen mudah, sangat mudah untuk diajak bekerja sama

dengan lingkungan sosial dan cenderung tidak rewel serta memiliki perilaku yang

positif terhadap orang lain.

3. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Selama Menjalani Rawat Inap

Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat bahwa rata – rata skor pola

temperamen bayi selama menjalani rawat inap yaitu 34,83, dengan standar deviasi

6,193. Artinya bahwa selama menjalani rawat inap, rata – rata bayi memiliki pola

temperamen sedang yaitu cenderung tidak stabil kondisi emosinya dalam

merespon stimulus dari lingkungan hidupnya, sehingga kadang – kadang bayi

merasa mudah, tetapi kadang merasa sulit menyesuaikan diri terhadap tuntutan

lingkungan sosial ( Mulyadi, 2008 ). Hal ini dikarenakan pada saat bayi dirawat di

rumah sakit banyak hal yang baru dan asing yang harus dihadapi antara lain bayi

mengalami perasaan yang tidak menyenangkan seperti takut, cemas, tegang dan

nyeri akibat proses penyakit (Supartini, 2004).Ini menimbulkan suatu krisis yang

terjadi akibat perubahan lingkungan, terbatasnya kemampuan kognitif bayi untuk

membentuk mekanisme koping guna mengatasi stressor yang dialaminya. Dimana

dalam perkembangan kognitif bayi selama fase sensorimotor terdapat tiga

peristiwa yang terjadi terkait terbatasnya kemampuan kognitif bayi yaitu

perpisahan, penerimaan konsep keberadaan objek dan kemampuan unuk

(46)

hal tersebut tidak dapat dilakukan bayi bahkan menjadi stressor utama bagi bayi

selama menjalani rawat inap. Bayi cemas akibat perpisahan, bayi tidak dapat

menyesuaikan diri terhadap hal – hal yang baru dialami dan bayi susah untuk

memberikan tanda atau simbol terhadap apa yang ia inginkan (Wong, 2003). Hal

ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardiningsih(2006), yang

bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan bayi selama menjalani

hospitalisasi, diperoleh hasil bahwa sebanyak 80% bayi menunjukkan reaksi

menangis serta menjerit dikarenakan prosedur tindakan dan proses penyakit.

4. Perbandingan Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama

Menjalani Rawat Inap

Berdasarkan hasil analisa statistik didapatkan nilai p = 0,000. Maka dapat

disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pola temperamen bayi

sebelum dan selama menjalani rawat inap.Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa perilaku sehari – hari yang dilakukan bayi sebelum menjalani rawat inap,

sebagian besar tidak dilakukan bayi selama menjalani rawat inap. Hal ini sesuai

dengan penjelasan dalam Mulyadi (2008) bahwa pola temperamen bayi dapat

berubah tergantung situasi dan kondisi yang dialami bayi.Bayi yang dirawat inap

mempunyai kesukaran lebih besar akibat terbatasnya kemampuan kognitif bayi

untuk membentuk mekanisme koping guna mengatasi stressor yang dialaminya.

Dimana stressor utama dari hospitalisasi yang sering dialami bayi antara lain

cemas akibat perpisahan, kehilangan kendali dan cemas terhadap cedera tubuh dan

nyeri yang dialami. Bayi terlihat lebih sering diam dan menangis karena proses

(47)

dikenalnya.Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian yang dilakukan

oleh Munasih (2007), yang bertujuan untuk mengetahui kecemasan bayi dalam

pemberian terapi vena (infus), dimana ternyata hampir 100% pasien bayi

menunjukkan respon kecemasan seperti menangis, menolak berinteraksi dengan

orang lain, berusaha melepaskan infus dengan menunjukkan reaksi gelisah. Hal

ini juga sesuai dengan penjelasan dalam Wong (2008) bahwa perbedaan

temperamen bayi disebabkan juga oleh faktor petugas ( perawat, dokter dan

tenaga medis lainnya).Dimana asuhan atau tindakan keperawatan yang tidak

konsisten dan penyimpangan dari rutinitas harian bayi menyebabkan rasa tidak

percaya dan akhirnya bayi menjadi cemas. Berdasarkan kondisi di ruangan anak

didapati bahwa suasana ruangan yang panas, jumlah pasien yang terlalu ramai dan

penataan ruangan yang belum disesuaikan dengan usia bayi sehingga dapat

menyebabkan bayi kehilangan kendali dan mengalami perasaan yang tidak

(48)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakaan pada tanggal 6

Agustus sampai dengan 6 November 2012 di RSUD Dr Pirngadi Medan dan dari

hasil pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa:

1.Karakteristik responden dapat digambarkan sebagai berikut: mayoritas

responden berada pada usia 8 bulan. Sementara jenis kelamin terbanyak

adalah laki laki dan untuk GE + Dehidrasi merupakan diagnosa medis

terbanyak yang dialami responden.

2. Pola temperamen bayi sebelum menjalani rawat inap adalah temperamen

mudah dengan nilai rata – rata 58,53 dan standar deviasi 8,858. Hal ini dapat

ditunjukkan dari perilaku bayi yang menerima adanya perubahan apapun,

pada tempat atau posisi pemberian makan atau individu yang memberikannya

sedangkan selama menjalani rawat inap hal itu jarang dilakukan oleh bayi.

3. Pola temperamen bayi selama menjalani rawat inap yaitu temperamen sedang,

dengan nilai rata – rata 34,83 dan standar deviasi 6,193. Hal ini dapat

ditunjukkan dari perilaku bayi selama menjalani rawat inap yaitu bayi jarang

berhenti menangis ketika diberikan kerincingan oleh orang lainsedangkan sebelum

(49)

4.Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,000. Maka dapat disimpulkan bahwa ada

perbedaan yang signifikan antara pola temperamen bayi sebelum dan selama

menjalani rawat inap.

B. Saran

1. Bagi PraktekKeperawatan

Diharapkan kepada pelayanan keperawatan khususnya perawat di ruangan anak

agar dapat mengidentifikasi dan memberikan asuhan keperawatan yang optimal

yang meliputi strategi serta intervensi guna mengurangi stress dan cemas pada

anak yang berujung pada perubahan temperamen bayi.

2. Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi pendidik dan para

mahasiswa serta diperlukan penekanan oleh para pendidik kepada mahasiswa

agar melaksanakan asuhan keperawatan anak yang optimal bila sedang

melakukan praktek keperawatan.

3. Penelitian Selanjutnya

Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam pengumpulan data yang seharusnya

dilakukan pertiga hari namun peneliti hanya melakukan satu hari saja.Hal ini

dikarenakan adanya keterbatasan sampel dan waktu.Dengan adanya

keterbatasan tersebut, untuk itu diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat

(50)

DAFTAR PUSTAKA

Alimul A. Azis, 2003. Riset Keperawatan Dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta

Ardiningsih Fitri, dkk (2006). Hubungan antara dukungan Informasional dengan

Kecemasan perpisahan akibat Hospitalisasi pada anak.The Soedirman

Journal of Nursing, Volume1, No.1, Juli 2006 dari website: http://

wwwjos.unsoed.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/238

Arikunto, Suharsimi. 2006.Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan

Praktik.PT.Rineka cipta: Jakarta

Dariyo, Agoes dkk 2007. Psikologi Perkembangan Anak.Refika Aditama. Jakarta

Fakultas Keperawatan USU. 2006. Pedoman Penyusunan Proposal dan Skripsi

Sarjana Keperawatan: Medan

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2011). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik

Analisis Data (Edisi 1). Jakarta: Salemba Medika.

Hurlock D. Elisabeth. 2001. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan

Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi 5. Erlangga: Jakarta

Kurniawan, Arif.2008. Faktor - Faktor yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Orang tua Terkait Hospitalisasi Anak di BRSD RAA Soewonso

Patidari website:

http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/FIKkeS/article/view/160/155

Notoadmodjo, Soekidjo 2010.Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan. Salemba Medika: Surabaya

2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (Untuk perawat dan bidan ). Salemba Medika. Jakarta

Polit&Hungler. (1995). Nursing Research: Principles and Methods. Philadelphia: Lippincot.

(51)

Supartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC

Wahyuni S. Arlinda. 2011. Statistika Kedokteran. Jakarta

Wong, Donna L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.Volume I. Edisi 6.EGC: Jakarta

2003. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong Vol.2.EGC. Jakarta

(52)

Lampiran 1

Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Pola Temperamen BayiUsia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap di Ruang Rawat Inap Anak RSUD Dr Pirngadi Medan

Saya adalah mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Medan.Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam

menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia4 –

8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap di ruang III Anak RSUD dr

Pirngadi Medan

Saya mengharapkan kesediaan Anda untuk berpartisipas dalam penelitian ini

dimana penelitian ini tidak akan memberi dampak yang membahayakan. Jika

Anda bersedia menjadi peserta penelitian ini, silahkan Anda menandatangani

formulir persetujuan di bawah ini. Terimakasih atas perhatian dan partisipasi yang

Anda berikan.

Partisipasi Anda dalam penelitian ini bersifat bebas, Anda dipersilahkan

memilih untuk bersedia menjadi peserta penelitian atau menolak dan

mengundurkan diri tanpa ada sangsi apa pun.

Medan, Juni 2012

Peneliti Responden

(53)

Gambar

Tabel 1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Karakteristik Responden
Tabel 2.  Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum Menjalani  Rawat
Tabel 4 Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani

Referensi

Dokumen terkait

Melalui hasil penelitian yang menggambarkan penerimaan keluarga pasien skizofrenia yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit jiwa Daerah Surakarta, diharap dapat

Agnes Chrismanto T : Pola Pemberian Makan Bavi Baru Lahir Di Ruang Rawat Inap RSUP.H.Adam Malik Medan..., 2003.. Agnes Chrismanto T : Pola Pemberian Makan Bavi Baru Lahir Di

Berkat taufik serta hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul: “POLA PERESEPAN DIARE DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KRATON PEKALONGAN

Bagaimana gambaran peresepan yang meliputi: jenis obat, rute pemberian kombinasi obat dan lama pemakaian obat antibiotik yang diberikan kepada pasien diare yang menjalani rawat inap

Penyebab Perubahan efisiensi pelayanan rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Nanggulan adalah kurang maksimalnya promosi yang dilakukan rumah sakit sehingga belum

Pola penggunaan obat asma pada pasien asma rawat inap periode Juli 2014 – Juni 2015 di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan berdasarkan jenis obat, golongan obat,

Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa pola peresepan obat kombinasi pada pasien psikiatri lanjut usia rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Grhasia tahun 2018 yang

Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah dengan menggambarkan kelengkapan pengisian dokumen rawat inap bayi baru lahir berdasarkan elemen penilaian