POLA TEMPERAMEN BAYI USIA 4 - 8 BULAN SEBELUM
DAN SELAMAMENJALANI RAWAT INAP DI RUANG
RAWAT INAP ANAK RSUD Dr. PIRNGADI
MEDAN
SKRIPSI
Oleh:
Yulia Permata Sari 111121117
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
PRAKATA
Segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas segala Rahmat dan Karunia Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan judul “ Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan
Selama Menjalani Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan
Tahun 2012".
Skripsi ini dapat selesai atas bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak.
Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada
pihak-pihak yang telah memberikan bimbingan dan dukungan selama dalam proses
penyelesaian Skripsi ini:
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara.
2. Erniyati, S.Kp, MNS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara.
3. Nur Asnah Sitohang, S.Kep, Ns, M.Kep selaku dosen Pembimbing Skripsi
yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta memberikan
masukan-masukan yang bermanfaat bagi penulis dan juga memberi motivasi
terbaik, semangat, dan dukungan kepada penulis untuk berpikir kritis, serta
memberi pengetahuan yang berharga selama proses penyelesaian skripsi ini.
4. Erniyati, S.Kp, MNS selaku Dosen Penguji I danNur Afi Darti, S.Kep,
Ns.,M.Kep selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan banyak masukan
5. Yesi Ariani, S.Kep,Ns., M.Kep selaku dosen Pembimbing Akademik.
6. Dr. Fauziah Syahnan, Sp. THT RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian
7. Orangtua saya tercinta, Alm. A. Tarigan dan K. br. Sinulingga terima kasih
atas segala doa, dukungan dan dorongan Ayahanda dan Ibunda baik moril
maupun materil. Terima kasih atas pengorbanan dan kasih sayang yang selalu
kalian berikan.
8. Teman-teman satu angkatan saya, kelas ekstensi tahun 2011, baik kelas pagi
dan khususnya ekstensi sore terima kasih atas dukungan dan bantuannya
selama ini.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah
banyak membantu yang tidak dapat disebutkan satu per satu.Semoga Tuhan
memberkati dan kiranya Skripsi ini dapat bermanfaat.
Medan, Februari 2013
Peneliti
D. Pertimbangan Etik 26
E. Instrumen Penelitian 27
F. Uji Validitas dan Reabilitas 28
G. Pengumpulan Data 29
H. Analisa Data 30
Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan 32
A. Hasil Penelitian 32
B. Pembahasan 35
BAB 6. Kesimpulan Dan Saran……… 40
A. Kesimpulan……… 40 B. Saran……….. 40
Daftar Pustaka 41
Lampiran – lampiran 43
Lampiran 1.Inform Concent
Lampiran 2.Jadwal Tentatif Penelitian Lampiran 3.Taksasi Dana
DAFTAR TABEL
Judul : Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama
Perkembangan bayimerupakan masa kritis dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna baik dari segi lingkungan maupun interaksi dengan orang lain. Lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan bayi, salah satunya saat sakit dan harus menjalani rawat inap.Bayi yang dirawat inap mempunyai kesukaran lebih besar dalam mengidentifikasitehnik koping yang mereka gunakan selama di rawat di rumah sakit. Hal ini disebabkan karena bayi memiliki pola temperamen yang berbeda – beda yakni mudah, sedang dan sulit. Tujuan penelitian ini untuk membandingkanpola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap. Desain penelitian yang digunakan adalah komparatif. Jumlah sampel 30 responden bayi usia 4 – 8 bulan dan sedang menjalani rawat inap. Pengambilan sampel penelitian menggunakan
accidental sampling.Analisa data dengan menggunakan uji pair t-test.Berdasarkan
penelitian diperoleh bahwa responden berada pada usia 8 bulan sebanyak 11 orang (36,7%) dan didominasi oleh responden laki - laki16 orang (53,3%). Diagnosa medis responden terbanyak adalah GE + Dehidrasi ringan sedang sebanyak 16 orang (53,3%). Pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap adalah temperamen mudah dengan nilai rata – rata 58,53 dan temperamen sedang, dengan nilai rata – rata 34,83. Berdasarkan dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap ( nilai p = 0,000 ).Berdasarkan hasilpenelitian, disarankan kepada perawat agar dalam merawat bayi dapat mengidentifikasi stressor sehingga perubahan temperamen bayi bisa diminimalkan.
Judul : Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama
Perkembangan bayimerupakan masa kritis dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna baik dari segi lingkungan maupun interaksi dengan orang lain. Lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan bayi, salah satunya saat sakit dan harus menjalani rawat inap.Bayi yang dirawat inap mempunyai kesukaran lebih besar dalam mengidentifikasitehnik koping yang mereka gunakan selama di rawat di rumah sakit. Hal ini disebabkan karena bayi memiliki pola temperamen yang berbeda – beda yakni mudah, sedang dan sulit. Tujuan penelitian ini untuk membandingkanpola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap. Desain penelitian yang digunakan adalah komparatif. Jumlah sampel 30 responden bayi usia 4 – 8 bulan dan sedang menjalani rawat inap. Pengambilan sampel penelitian menggunakan
accidental sampling.Analisa data dengan menggunakan uji pair t-test.Berdasarkan
penelitian diperoleh bahwa responden berada pada usia 8 bulan sebanyak 11 orang (36,7%) dan didominasi oleh responden laki - laki16 orang (53,3%). Diagnosa medis responden terbanyak adalah GE + Dehidrasi ringan sedang sebanyak 16 orang (53,3%). Pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap adalah temperamen mudah dengan nilai rata – rata 58,53 dan temperamen sedang, dengan nilai rata – rata 34,83. Berdasarkan dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap ( nilai p = 0,000 ).Berdasarkan hasilpenelitian, disarankan kepada perawat agar dalam merawat bayi dapat mengidentifikasi stressor sehingga perubahan temperamen bayi bisa diminimalkan.
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Derajat kesehatan anak pada masa balita sangat berkaitan erat dengan
tingkat kesehatannya pada masa bayi baru lahir. Dengan demikian, derajat
kesehatan anak tidak dapat dicapai dengan upaya yang dilakukan sesaat,
melainkan merupakan hasil dari upaya yang berkesinambungan selama kehidupan
anak.Dengan demikian upaya pembangunan kesehatan anak tidak dapat
dipenggal-penggal untuk kurun umur tertentu, meskipun masing-masing kurun
umur memiliki karakteristik masalah kesehatan yang berbeda.Oleh karena itu
kesehatan anak perlu mendapatkan perhatian khusus baik dari pemerintah, petugas
kesehatan maupun masyarakat, guna mengoptimalkan pertumbuhan dan
perkembangan pada masa bayi dan anak.
Perkembangan bayi terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan
atau stimulasi yang berguna agar potensi tetap berkembang, sehingga perlu
mendapatkan perhatian.Perkembangan psikososial sangat dipengaruhi lingkungan
dan interaksi antara bayi dengan orang tuanya atau orang dewasa lainnya.
Lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan bayi, salah
satunya saat bayi sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit ( Nursalam,
2005 )
Setiap bayi memiliki pola temperamen yang berbeda – beda. Dimana
temperamen merupakan gaya berperilaku atau bagaimana perilaku yang
mempengaruhi tipe interaksi yang terjadi antara bayi dan orang tua serta anggota
karakter yang dimiliki bayi. Temperamen yang dimiliki bayi telah dibawa sejak
bayi terlahir dan hal ini dipengaruhi oleh faktor keturunan maupun faktor
lingkungan. Menurut Gotfried ( 1998 ) ditemukan bahwa bayi yang lahir dari
orang tua yang tak mampu menyesuaikan diri , ternyata juga tak mampu
menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan hidupnya. Bayi yang
memiliki orang tua yang mudah (easy adulthood) cenderung mudah untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Begitu juga dengan faktor
lingkungan, dimana lingkungan sangat mempengaruhi kondisi temperamen
individu, misalnya perlakuan / pemeliharaan bayi dari orangtua serta lingkungan
baru yang membuat bayi perlu beradaptasi ( Nursalam, 2005 )
Pada saat bayi dirawat di rumah sakit banyak hal yang baru dan juga asing
yang harus dihadapi antara lainbayi mengalami perasaan yang tidak
menyenangkan, seperti takut, cemas, tegang, nyeri saat dirawat di rumah sakit
(Supartini, 2004). Ini menimbulkan suatu krisis yang terjadi akibat perubahan
lingkungan, bayi mengalami keterbatasan untuk mengatasi kecemasan. Krisis ini
dipengaruhi oleh berbagai hal, yaitu usia perkembangan bayi, pengalaman masa
lalu tentang penyakit, perpisahan atau perawatan di rumah sakit, support system
serta keseriusan penyakit dan ancaman perawatan (Wong, 2003).
Stresor utama dari hospitalisasi yang sering dialami bayi adalah antara lain
cemas akibat perpisahan, kehilangan kendali dan cemas terhadap cedera tubuh dan
nyeri yang dialami. Reaksi perilaku yang dialami bayi antara lain, protes yaitu
minum, serta reaksi pelepasan, dimana bayi mulai berinteraksi dengan orang lain
dan hal ini jarang terlihat pada bayi yang dihospitalisasi.( Wong, 2003 )
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Munasih (2007), yang
bertujuan untuk mengetahui kecemasan bayi dalam pemberian terapi vena
( infus ) dengan menggunakan desain deskriptif dan jumlah sampel sebanyak 30
orang, ternyata hampir 100% pasien bayi menunjukkan respon kecemasan seperti
menangis, menolak berinteraksi dengan orang lain, berusaha melepaskan infus
dengan menunjukkan reaksi gelisah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ardiningsih(2006), yang bertujuan
untuk mengetahui tingkat kecemasan bayi selama menjalani hospitalisasi,
diperoleh hasil bahwasanya sebanyak 80% bayi menunjukkan reaksi menangis
serta menjerit dikarenakan prosedur tindakan dan proses penyakit. Dimana
populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi yang dirawat di RuangAnggrek
RSUD Cilacap yaitu sebanyak 201 orang. Sampel yang digunakan sebanyak 30
responden yang diambil secara Quota dan dengan menggunakan desaincross
sectional.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada 10 ibu responden pada
tanggal 26 April 2012 di Ruang rawat III Anak RSUD dr.Pirngadi Medan
mengatakan bahwa selama bayi mereka dirawat inap, bayi tampak gelisah dan
rewel. Hal ini disebabkan karena lingkungan yang asing bagi bayi, tindakan
pengobatan yang diberikan dan proses penyakit dan nyeri yang di alami bayi.
Sementara apabila di rumah, ibu mengatakan bahwa bayinya mempunyai perilaku
mengompol, mau bersosialisasi dengan orang lain ketika orang tersebut
menggendong bayi tersebut.
Sakit dan dirawat di rumah sakit merupakan krisis utama yang tampakpada
bayi.Bayi yang dirawat inap mempunyai kesukaran lebih besar dalam
mengidentifikasitehnik koping yang mereka gunakan selama di rawat di rumah
sakit. Jika seorang bayi dirawat di rumah sakit, maka bayi tersebut akanmudah
mengalami krisis karena bayi mengalami stres akibat perubahan, baikterhadap
status kesehatannya maupun lingkungannya dalam kebiasaan sehari - hari,dan
bayi mengalami keterbatasan dalam mekanisme koping untukmengatasi masalah
maupun kejadian-kejadian yang bersifat menekan.Perawat bisamembantu
keluarga untuk mengenal temperamen bayi dalam mempertahankan koping bayi
( Wong, 2003 )
Berdasarkan uraian di atas dan beberapa penelitian terhadap reaksi bayi,
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Pola temperamen
bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap di ruang III Anak RSUD dr
Pirngadi Medan
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola temperamen bayi
sebelum dan selamamenjalani rawat inap di ruang III Anak RSU dr Pirngadi
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama
menjalani rawat inap di ruang III Anak RSUD dr Pirngadi Medan
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik responden di Ruang III Anak RSUD dr.
Pirngadi Medan
b.Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum menjalani
rawat inap di Ruang III Anak RSUD dr Pirngadi Medan
c.Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan selama menjalani
rawat inap di ruang III Anak RSUD dr Pirngadi Medan
d.Membandingkan pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama
menjalani rawat inap di ruang III anak RSUD dr Pirngadi Medan
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Keluarga
Dengan penelitian ini dapat menambah pengetahuan orang tua untuk
mengenal perubahan temperamen anak sebelum dan selama menjalani
rawat inap guna memenuhi rasa nyaman bayi.
2. Praktik Keperawatan
Sebagai bahan masukan yang bermakna kepada perawat praktisi sehingga
dapat meminimalkan perubahan pola temperamen bayi yang dirawat di
3. Pendididikan Keperawatan
Sebagai bahan masukan atau sumber data bagi peserta didik keperawatan
tentang pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan
selamamenjalani rawat inap
4. Penelitian Keperawatan
Sebagai sumber informasi untuk penelitian selanjutnya atau penelitian yang
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Bayi
1. Definisi Bayi
Bayi merupakan individu yang berusia 0-12 bulan yang ditandai dengan
pertumbuhan dan perkembangan yang cepat disertai dengan perubahan dalam
kebutuhan zat gizi (Wong, 2003).
2. Tumbuh Kembang Bayi
2.1Perkembangan Kognitif
Fase Sensorimotor ( Piaget )
Selama fase sensorimotor bayi, terdapat tiga peristiwa yang terjadi
selama fase ini yang melibatkan antara lain; (1) perpisahan yaitu bayi belajar
memisahkan dirinya sendiri dari benda lain di dalam lingkungan, (2)
penerimaan konsep keberadaan objek atau penyadaran bahwa benda yang
tidak lagi ada dalam area penglihatan sesungguhnya masih ada. Misalnya
ketika bayi mampu mendapatkan benda yang diperhatikannya telah
disembunyikan di bawah bantal atau di belakang kursi. (3) kemampuan untuk
menggunakan simbol dan representasi mental. Dalam hal ini fase sensorimotor
terdiri atas 4 tahap yaitu:
Tahap pertama, dari lahir sampai 1 bulan diidentifikasi dengan
penggunaan refleks bayi. Pada saat lahir, individualitas dan temperamen bayi
diekspresikan dengan refleks fisiologis menghisap, rooting, menggenggam
dan menangis.Tahap Kedua, reaksi sirkulasi primer. Menandai permulaan
bulan, aktifitas seperti menghisap dan menggenggam menjadi tindakan yang
sadar yang menimbulkan respon tertentu.Permulaan akomodasi tampak
jelas.Bayi menerima dan mengadaptasi reaksi mereka terhadap lingkungan
dan mengenai stimulus yang menghasilkan respon. Sebelumnya bayi akan
menangis sampai puting dimasukkan ke dalam mulut, sekarang mereka
menghubungkan puting dengan suara orang tua.
Tahap Ketiga, reaksi sirkular sekunder adalah lanjutan dari reaksi
sirkulasi primer dan berlangsung sampai usia bulan. Dari menggenggam dan
memegang sekarang menjadi mengguncang dan menarik.Mengguncang
digunakan untuk mendengar suara, tidak hanya sekedar kepuasan saja. Terjadi
3 proses perilaku pada bayi yaitu Imitasi, bermain dan afek yaitu manifestasi
emosi atau perasann yang dikeluarkan. Selama 6 bulan bayi percaya bahwa
benda hanya ada selama mereka dapat melihatnya secara visual. Keberadaan
objek adalah komponen kritis dari kekuatan hubungan orang tua dan anak,
terlihat dalam pembentukan ansietas terhadap orang asing pada usia 6 – 8
bulan. Tahap Keempat, koordinasi skema kedua dan penerapannya ke situasi
baru. Bayi menggunakan pencapaian perilaku sebelumnya terutama sebagai
dasar untuk menambah keterampilan intelektual dan keterampilan motorik
sehingga memungkinkan eksplorasi lingkungan yang lebih besar.
2.2 Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik pada bayi dikategorikan dalam beberapa usia antara
lain yaitu dimana Usia 4 bulan, bayi mulai mengences, refleks Moro, leher
gigi, begitu juga dengan berat badan menjadi dua kali lipat dari berat badan
lahir. Usia 6 bulan, kecepatan pertumbuhan mulai menurun, terjadi
pertambahan berat badan 90 – 150 mg perminggu selama enam bulan
kemudian, pertambahan tinggi badan 1,25 cm per bulan selama enam bulan
kemudian, mulai tumbuh gigi dengan munculnya dua gigi seri di sentral
bawah serta bayi mulai dapat mengunyah dan menggigit. Di Usia 7 bulan,
mulai tumbuh gigi seri di sentral atas serta memperlihatkan pola teratur
dalam pola eliminasi urine dan feces di Usia 8 bulan ( Wong, 2008 )
2.3 Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik bayi dibedakan menjadi 2 bagian yaitu motorik
kasar dan motorik halus. Dimana motorik kasar terdiri dari, kepala tidak
terjuntai ketika ditarik keposisi duduk dan dapat menyeimbangkan kepala
dengan baik, punggung kurang membulat, lengkung hanya di daerah lumbal,
mampu duduk tegak bila ditegakkan, mampu menaikan kepala dan dada dari
permukaan sampai sudut 90 derajat, melakukan posisi simetris yang dominan
seperti berguling dari posisi telentang ke miring. Begitu juga ketika duduk
bayi mampu mempertahankan kepala tetap tegak dan kuat, duduk dengan
lebih lama ketika punggung disangga dengan baik.Ketika posisi prone, bayi
mengambil posisi simetris dengan lengan ekstensi, berguling dari posisi
telungkup ke telentang, dapat mengangkat dada dan abdomen atas dari
permukaan serta menahan berat badan pada satu tangan.Selain itu ketika
supine, bayi memasukkan kakinya ke mulut dan bayi mengangkat kepala dari
ketika dipegang dalam posisi berdiri bayi menahan hampir semua berat
badannya dan tidak lagi memperhatikan tangannya.Duduk condong kedepan
pada kedua tangan, ketika dipegang pada posisi berdiri, bayi berusaha
melonjak dengan aktif. Di usia 8 bulan bayi duduk mantap tanpa ditopang
dan menahan berat badan pada kedus tungkai serta menyesuaikan postur
tubuh untuk mencapai seluruh benda.
Motorik halus bayi meliputi menginspeksi dan memainkan tangan,
menarik pakaian dan selimut ke wajah untuk bermain, mencoba meraih benda
dengan tangan namun terlalu jauh, bermain dengan kerincingan dan jari kaki,
dapat membawa benda kemulut.Bayi mampu menggenggam benda dengan
telapak tangan secara sadar, memegangi satu kubus sambil memperhatikan
kubus lainnya.Meraih kembali benda yang terjatuh, menggenggam kaki dan
menariknya ke mulut, memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya,
memegang dua kubus lebih lama dan membantingnya ke atas meja. Di usia 8
bulan bayi sudah melakukan genggaman dengan cubitan menggunakan jari
telunjuk, jari ke empat dan kelima, mempertahankan dua kubus dengan
memperhatikan kubus ketiga, membawa benda dengan menarik pada tali dan
berusaha untuk tetap meraih mainan yang diluar jangkauan ( Wong, 2008 )
2.4 Perkembangan Bahasa
Komunikasi verbal bermakna bayi pertama kali adalah menangis,
untuk mengekspresikan ketidaksenangannya, mengeluarkan suara yang parau,
kecil dan nyaman selama pemberian makan, berteriak kuat untuk
jarang menangis selama periode terjaga, berteriak mengeluarkan suara
mendekut dan bercampur huruf konsonan dan tertawa keras, mulai menirukan
suara, menggumam menyerupai ucapan satu suku kata, vokalisasi kepada
maianan dan bayangan di cermin, menikmati mendengarkan suaranya sendiri.
Selanjutnya menghasilkan suara vocal dan merangkai suku kata, berbicara
ketika orang lain berbicara, mendengarkan secara selektif kata – kata yang
dikenal, mengucapkan tanda penekanan dan emosi serta menggabungkan suku
kata sepertidada, namun tidak ada maksud di dalamnya.
2.5 Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial bayi pada awalnya dipengaruhi oleh refleksinya,
seperti menggenggam dan pada akhirnya bergantung terutama pada interaksi
antara mereka dengan pemberian asuhan utama.Kelekatan kepada orang
tua.Kelekatan orang tua dan anak yang dimulai sebelum kelahiran, sangat
penting disaat kelahiran.Menangis dan perilaku refleksi adalah metode untuk
memenuhi kebutuhan bayi dalam periode neonatal dan senyum social
merupakan langkah awal dalam komunikasi social. Bermain juga menjadi
agen sosialisasi utama dan memberikan stimulus yang diperlukan untuk
belajar dan berinteraksi dengan lingkungan( Wong, 2008 )
B. Konsep Temperamen
1. Definisi Temperamen
Temperamen adalah gaya berperilaku atau bagaimana perilaku yang
mempengaruhi tipe interaksi yang terjadi antara bayi dan orang tua serta
2. Pola Temperamen Bayi
2.1Tipe Mudah ( The Easy Infant )
Bayi mudah ( the easy infant ) merupakan bayi yang ditandai dengan
karakteristik atau sifat – sifat yang mudah untuk diajak bekerja sama dengan
lingkungan sosial dan cenderung tidak rewel. Bayi memiliki perilaku yang
positif terhadap orang lain ( selain orang tua / anggota keluarga ). Ia mudah
untuk melakukan aktifitas yang rutin ( makan, minum, tidur ) dan hal yang
tidak rutin seperti berhubungan dengan orang asing. Pada umumnya sikap
penerimaan lingkungan sosial cenderung kurang perhatian, kurang penerimaan
maupun kurang dukungan terhadap anak yang sulit ( difficult infant ).
Sebanyak 40% bayi tergolong mudah ( easy infant )
2.2Tipe Sulit ( The Difficult Infant )
Bayi yang sulit ( difficult infant ) merupakan bayi yang cenderung memiliki
karakteristik atau sifat – sifat negatif, sehingga mereka sulit untuk
menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosialnya . Umumnya bayi
tidak mampu/ sulit menjalin hubungan dengan orang baru (di luar anggota
keluarga). Selain itu, bayi pun juga mengalami kesulitan untuk melakukan
aktifitas rutin (makan, minum dan tidur ), sehingga hal ini membuat marah,
jengkel atau kesal orang tuanya. Bayi yang memiliki temperamen sulit
cenderung mengekspresikan sisa kondisi emosi yang buruk ( bad mood),
sering menangis dan melarikan diri (menghindar ) dari pengalaman –
2.3Tipe Sedang / Lambat ( Slow to Warm up )
Bayi sedang ( slow to warm up infant ) merupakan bayi yang cenderung tak
stabil kondisi emosinya dalam merespon stimulus dari lingkungan hidupnya,
sehingga kadang – kadang bayi merasa mudah, tetapi kadang merasa sulit
menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan sosial. Bayi mungkin menarik
diri dari situasi sosial yang dianggap asing.Jadi bayi agak lamban dalam
merespon terhadap suatu stimulus. Dalam penelitian jangka panjang selama 30
tahun yang dilakukan oleh New York Longitudinal Study ( NYLS ) ditemukan
bahwa sebanyak 15% bayi tergolong tipe yang sedang ( slow to warm up
infant ) ( Mulyadi, 2008 )
3. Pengkajian Dalam Temperamen
3.1Tingkat Aktifitas
Tingkat aktifitas merupakan taraf perilaku yang berhubungan erat
dengan kualitas aktifitas seorang bayi.Taraf ini dijadikan suatu tolak ukur
mengenai temperamen seorang bayi.Skor dalam hal gerakan selama tidur,
makan, bermain, berpakaian, memegang, menggapai, merangkak, berjalan dan
siklus tidur bangun. Tingkat aktifitas dibagi 2 yaitu Aktifitas tinggi, merujuk
pada aktifitas motorik tinggi, seperti lebih menyukai merangkak atau tidak
mampu duduk diam.Aktifitas rendah,merujuk pada aktifitas motorik rendah,
seperti lebih menyukai permainan yang tenang, dan mampu untuk tetap duduk
untuk periode lama. Misalnya bayi yang mudah akan menunjukkan
aktifitasnya seperti berteriak kuat untuk memperlihatkan kesenangan ketika
3.2Keteraturan ( Rhytmicity / Regularity )
Keteraturan ( Rhytmicity) ialah suatu fungsi aktifitas yang didasarkan
pada pola keteraturan, rutinitas ( makan, tidur ) dan memberi manfaat bagi diri
sendiri yang dapat diperkirakan atau tidak dapat diperkirakan. Skor dalam hal
siklus tidur bangun, lapar, makan, pola dan jadwal eliminasi. Ritmisitas
terbagi menjadi 2 yaitu Ritmisitas Tinggi,merujuk pada bayi dengan kebiasaan
tubuh teratur danRitmisitas Rendah,merujuk pada bayi dengan kebiasaan
tubuh yang tidak teratur.Bayi tipe sulit akan rewel pada saat bangun dan akan
tidur. Sementara bayi tipe mudah akan menunjukkan reaksi menangis ketika
merasa tidak nyaman dengan popok yang basah.
3.3Mendekat atau Menarik diri ( Menjauh )
Mendekat ( approach) merupakan suatu respon awal dari bayi
terhadap suatu stimulus tertentu. Skor dalam hal respon terhadap makanan
baru, individu atau pengalaman.Mendekat,merujuk pada respon positif yang
utama seperti, tersenyum, berkata – kata dan mendekati stimulus.Menarik
diri,merujuk pada respon negatif yang utama seperti rewel, menangis, dan
menjauh atau menolak stimulus.Setiap bayi dihadapkan pada suatu stimulasi
dari lingkungan sosial. Bayi yang mudah ( easy infant ) ditandai dengan
ketepatan merespon terhadap stimulus sosial. Sebaliknya bayi yang sulit
( difficult infant ) cenderung tidak tepat responnya terhadap stimulus tersebut.
Misalnya bayi memalingkan wajah dan melekat pada ibu ketika orang yang
3.4Adaptibilitas ( Kemampuan untuk menyesesuaikan diri )
Adaptabilitas merupakan suatu kemampuan bagi seorang bayi untuk
dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang baru
maupun tidak. Skor dalam hal kemudahan menyesuaikan diri pada situasi baru
atau perubahan situasi ( serupa dengan mendekat-menarik diri ) tetapi lebih
ditekankan pada lebih dari sifat respon awal. Kemampuan Adaptasi
tinggi,menunjukkan kemampuan untuk tetap dalam ketenangan. Kemampuan
Adaptasi rendah,menunjukkan ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan
mudah. Bayi yang sulit ditandai dengan kesulitan menyesuaikan diri dengan
tuntutan lingkungan sosial.
3.5Ambang / Batas respon yang wajar
Merupakan berapa banyak rangsangan diperlukan sebelum bayi
bereaksi pada situasi yang ada.Skor dalam hal tingkat rangsangan sensori yang
diperlukan sebelum bayi berespon.Ambang rendahmenunjukkan intensitas
tinggi untuk rangsangan ringan seperti bangun karena suara yang
halus.Ambang tinggimenunjukkan intensitas tinggi sampai sedang pada
rangsangan kuat , seperti kurangnya ketidaknyamanan dengan popok basah.
Bayi yang mudah akan dapat memberi respon yang wajar, proporsional dan
sesuai dengan situasinya; sebaliknya bayi yang mudah akan memberi respon
positif terhadap orang lain ketika dirinya berada dalam situai yang asing,
misalnya bersikap ramah, tersenyum atau tertawa bila diajak bercanda.
berteriak – teriak atau menghindar dari orang lain bila diajak berbicara atau
bercanda.
3.6Intensitas Reaksi ( Reaction Intensity )
Intensitas reaksi ialah suatu kemampuan seorang bayi untuk
memberikan reaksi terhadap tindakan orang lain. Intensitas tinggi,
menunjukkan pada reaksi perilaku seperti menangis keras atau tertawa sebagai
respon terhadap stimulus, seperti menerima mainan baru. Intensitas
rendah,menunjukkan pada reaksi perilaku seperti merengek atau menjatuhkan
diri untuk bereaksi terhadap stimulus. Bayi yang mudah ( easy infant ) akan
mampu memberi reaksi yang tepat terhadap tindakan atau perilaku orang lain.
Sebaliknya bayi yang sulit cenderung tak mampu memberi reaksi yang tepat
terhadap tindakan orang lain. Seorang bayi yang mudah, akan menerima
makanan atau minuman sambil tersenyum atau tertawa bila diberi makanan
oleh orang lain. Sebaliknya bayi yang sulit, mungkin akan bereaksi menolak,
melempar atau membuang makanan / minuman bila diberi makanan /
minuman yang diberi oleh orang lain.
3.7Kualitas Mood ( Alam perasaan / Suasana hati )
Kualitas suasana hati ialah suatu kondisi suasana hati yang terekspresi
dalam diri setiap bayi ketika menghadapi suatu stimulus eksternal. Kualitas
suasana hati pada seorang bayi akan terlihat nyata dengan penampilan reaksi
emosi seperti rasa senang , gembira, cemas, khawatir, takut, marah, jengkel,
sedih dan sebagainya. Alam perasaan positif,merujuk pada anak yang secara
secara umum rewel dan mengeluh. Misalnya, bayi tipe mudah menerima
waktu mandinya kapan saja tanpa menolak, sementara bayi tipe sulit akan
rewel ketika dilakukan pemakaian baju
3.8Distraksibilitas
Distraksibitas ialah keefektifan rangsangan luar dan mengalihkan
perilaku atau perhatian bayi.Distraktibitas rendah, merujuk pada bayi yang
tidak mudah dialihkan perhatiannya. Distraktibitas tinggi, merujuk pada bayi
yang mudah dialihkan perhatian. Ada bayi yang memberi respon yang sulit
terhadap sesuatu hal yang mudah, atau sebaliknya ada sesuatu hal mudah
tetapi direspon dengan sulit. Misalnya, seorang bayi yang sulit bila ditanya
tentang namanya, ia tidak menjawab, berdiam diri atau mungkin takut dan
menghindar padahal ia mengetahui namanya sendiri. Bayi yang mudah, akan
segera menjawab namanya bila ditanya namanya oleh orang lain meskipun
masih dibantu oleh orang tuanya. Hal ini menunjukkan keberanian dan sikap
percaya diri untuk menghadapi orang lain.
3.9Kuat Lemahnya Perhatian
Yang dimaksud dengan taraf perhatian ialah sejauhmana individu
mampu untuk melakukan konsentrasi terhadap suatu aktifitas.Perhatian lama
– sangat,merujuk pada bayi yang dapat memperhatikan untuk periode waktu
yang lama dan terus bekerja pada proyek orangtua. Mengatakan padanya
untuk berhenti atau seseorang memperhatikan aktifitasnya.Perhatian Lama –
kurang menetap,merujuk anak yang memiliki kesulitan memperhatikan dan
cukup lama terhadap sesuatu hal yang baru karena ada dorongan ingin tahu.
Sebaliknya untuk bayi yang sulit, tidak akan bertahan lama dalam
memperhatikan sesuatu karena tidak menarik perhatian bagi dirinya ( Wong,
2008 )
4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Temperamen
4.1Faktor Herediter
Faktor herediter ialah kondisi temperamen telah dibawa sejak
kelahiran bayi yang bersangkutan dan ini bersifat stabil, permanen atau
menetap. Menurut penelitian Gotfried ( 1998 )ditemukan bahwa bayi yang
lahir dari orang tua yang tak mampu menyesuaikan diri , ternyata juga tak
mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan hidupnya. Bayi
yang memiliki orang tua yang mudah ( easy adulthood ) cenderung mudah
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Gunnar menyebutkan
5 alasan bahwa faktor biologis-genetis berpengaruh besar terhadap
pembentukan dan perkembangan temperamen yaitu (1) temperamen
dipengaruhi oleh sistem syaraf pusat, (2) aktifitas – aktifitas perilaku, emosi
diatur oleh sistem syaraf, (3) proses emosi maupun temperamen terjadi pada
setiap mahkluk hidup seperti manusia dan mamalia, (4) gugahan dan
pengaturan diri berhubungan erat dengan sistem kerja fisiologis ( organ –
organ tubuh manusia )
4.2Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ialah sejauhmana lingkungan sangat mempengaruhi kondisi
serta lingkungan baru yang membuat bayi perlu beradaptasi. Banyak bayi
yang ketika lahir mengekspresikan perilaku menangis dan emosi yang negatif
( menangis ) selama 3 bulan pertama, karena hubungan orang tua tak
harmonis. Tetapi hal ini akan berubah, setelah hubungan orangtua harmonis
( Nursalam, 2005 )
C. Konsep Rawat Inap
1. Definisi Rawat Inap
Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakitdan
dirawat di rumah sakit. Keadaan ini terjadi karena anak berusaha
untukberadaptasi dengan lingkungan asing dan baru yaitu rumah sakit,
sehinggakondisi tersebut menjadi faktor stressor bagi anak baik terhadap anak
maupunorang tua dan keluarga (Wong, 2000)
2. Reaksi Bayi Terhadap Rawat Inap
Stressor utama dari rawat inap adalah antara lain cemas akibat
perpisahan, kehilangan kendali dan cemas terhadap cedera tubuh dan nyeri
yang dialami. Reaksi terhadap krisis – krisis tersebut dipengaruhi oleh usia
perkembangan mereka, pengalaman mereka sebelumnya dengan penyakit dan
perpisahan (Wong, 2008). Dampak dari perpisahan dengan orang tua yang
dialami bayi dapat menyebabkan gangguan pembentukan rasa percaya dan
kasih sayang. Pada anak usia lebih dari 6 bulan terjadi stranger anxiety atau
cemas apabila berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya. Bila
perilaku yang ditunjukkan adalah menangis keras, marah dan banyak
melakukan gerakan.
Kehilangan kendali.Disaat kehilangan kendali yang paling penting adalah
terbentuknya kepercayaan ( trust ). Rasa percaya dibangun melalui pemberian
kasih sayang yang terus menerus dari orang yang mengasuhnya.Bayi berusaha
mengendalikan lingkungan dengan ungkapan emosional, seperti menangis
atau tersenyum.Di Rumah sakit, tanda – tanda semacam itu sering terlewatkan
atau disalah artikan dan rutinitas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan staf
rumah sakit bukan kebutuhan bayi tersebut.Asuhan yang tidak konsisten dan
penyimpangan dari rutinitas harian bayi tersebut dapat menyebabkan rasa
tidak percaya dan menurunkan rasa kendali.
Cedera tubuh dan Nyeri.Pada bayi cedera tubuh dan nyeri terbatas hanya
dapat dilihat dari reaksinya dalam menanggapi nyeri. Respon bayi terhadap
nyeri tampak dari gerakan – gerakan tubuhnya yaitu menggeliat dan
menyentak. Sebagian bayi dapat menangis dengan keras dan menunjukkan
ekspresi wajah yang tidak menyenangkan ( Wong, 2008 )
3. Dampak Rawat Inap Pada Bayi
Rawat inap pada anak dapat menyebabkan kecemasan dan stres pada
semua tingkat usia. Penyebab dari kecemasan dipengaruhi oleh banyaknya
faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya),
lingkungan baru, maupun lingkungan keluarga yang mendampingi selama
perawatan.Keluarga sering merasa cemas dengan perkembangan keadaan
bersifat langsung terhadap anak, secara fisiologis anak akan merasakan
perubahan perilaku dari orang tua yang mendampingi selama perawatan. Anak
menjadi semakin stres dan hal ini berpengaruh pada proses penyembuhan, yaitu
menurunnya respon imun. Pasien anak akan merasa nyaman selama perawatan
dengan adanya dukungan sosial keluarga, lingkungan perawatan yang
terapeutik, dan sikap perawat yang penuh dengan perhatian akan mempercepat
proses penyembuhan. (Wong, 2003 )
4. Memaksimalkan Manfaat Rawat Inap
Walaupun hospitalisasi sangat membuat stres bagi anak dan keluarga,
tetapi hal tersebut juga membantu untuk memfasilitasi perubahan kearah positif
antara anak dan anggota keluarganya antara lain; (1) Membantu perkembangan
hubungan orang tua-anak.Rawat inap memberikan kesempatan kepada orang
tua untuk belajar mengenai pertumbuhan dan perkembangan bayi.Jika orang
tua mengetahui reaksi bayi terhadap stres, seperti regresi dan agresif, maka
mereka cepat memberikan dukungan. Sosialisasi juga dapat dilakukan dengan
tim kesehatan. (2) Memberikan kesempatan untuk pendidikan. Rawat inap
memberikan kesempatan pada anak dan anggota keluarga untuk belajar
mengenai tubuh dan profesi kesehatan.(3) Meningkatkan pengendalian diri.
Pengalaman menghadapi krisis seperti penyakit atau rawat inap akan
memberikan kesempatan untuk pengendalian diri. Anak yang lebih muda
seperti bayi, memberikan kesempatan untuk menguji fantasinya melawan
inap dapat memberikan kesempatan khusus kepada bayi untuk penerimaan
sosialdan sosialisasi juga dapat dilakukan dengan tim kesehatan.
( Wong, 2008 )
5. Pencegahan Dampak Rawat Inap
Dirawat di rumah sakit bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan
pengalaman yang mengerikan bagi bayi.Bayi seringkali mengalami hal-hal
yang tidak menyenangkan selama di rumah sakit, mulai dari lingkungan
rumah sakit yang asing, serta pengobatan maupun pemeriksaan yang kadang
kala menyakitkan bagi si bayi.Oleh karena itu, peran perawat sangat
diperlukan dalam upaya pencegahan dampak tersebut.(1) Menurunkan atau
mencegah dampak perpisahan dari keluarga, (2) Meningkatkan kemampuan
orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, (3) Mencegah atau
mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis).Mengurangi nyeri
merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak. Proses
pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi
dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya distraksi, relaksasi,
imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan
nyeri akan berlangsung lama pada bayi sehingga dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan bayi. (4) Tidak melakukan kekerasan pada
anak. (5) Modifikasi Lingkungan Fisik, melalui modifikasi lingkungan fisik
yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dan
nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa
Pola Temperamen - Mudah - Sedang - Sulit
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
A. Kerangka Konseptual
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan
antara konsep – konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian –
penelitian yang akan digunakan ( Notoadmodjo, 2003 ).
Skema dibawah ini menjelaskan bahwa dalam penelitian ini variabel
yang diteliti hanya satu variabel yaitu variabel pola temperamen bayi. Dimana
dalam hal ini pola temperamen sebelum dan selama menjalani rawat inap
menimbulkan pola temperamen antara lain sulit, mudah maupun temperamen
lambat. Berdasarkan hal tersebut, maka kerangka konsep penelitian ini dapat
digambarkan sebagai berikut:
Skema 1.1 :Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap
Pola temperamen
bayi usia 4 – 8 bulan
Sebelum rawat
inap
B. DEFINISI OPERASIONAL
Hipotesa dalam penelitian ini adalah ada perbedaan pola temperamen
bayi berusia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap di Ruang
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Komparatifyang bertujuan membandingkan pola temperamen bayi usia 4 – 8
bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap di Ruang III Anak RSUD dr
Pirngadi Medan.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi berusia 4 – 8 bulan yang
dirawat di Ruang III Anak Rumah Sakit dr Pirngadi Medan yang
berjumlah 120 orang pada tahun 2012
2. Sampel
Menurut Arikunto ( 2006 ), bila total populasi lebih dari 100 maka
pengambilan sampel 10% - 15% dan 20% - 25% dari total populasi,
dimana total populasi 120 orang dan peneliti mengambil 25% dari total
populasi. Dengan jumlah populasi bayi 120 orang, maka sampel yang
dilibatkan adalah sebanyak 30 orang.Namun karena disini kemampuan
bayi terbatas, maka yang menjadi responden yaitu orang tua bayi.Tehnik
pengambilan sampel menggunakan accidental sampling yaitu cara
penetapan sampel dimana subjek dalam penelitian dijumpai pada tempat
dan waktu yang bersamaan pada saat pengumpulan data. Kriteria Inklusi
compos mentis ( sadar ). Sementara kriteria untuk orang tua yaitu ibu
bayi, orangtua bersedia menjadi responden dan mengerti bahasa Indonesia.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Ruang III Anak Rumah Sakit Umum
Daerah dr Pirngadi Medan pada bulan Agustussampai November 2012
D. Pertimbangan Etik Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti sangat menghormati keputusan responden
(autonomy). Jika responden menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
maka peneliti tidak akan memaksa dan menghargai keputusan responden.
Demikian halnya juga dengan aspek pribadi, peneliti dapat menjamin
kerahasiaan (confidentiality) dari hasil penelitian Peneliti tidak akan
menyebarluaskan identitas responden kepada orang lain, kecuali seizin
responden. Untuk itu peneliti menggunakan kode responden demi kerahasiaan
identitas responden. Peneliti juga mempertimbangkan aspek keadilan
( justice) dalam penelitian ini. Dimana semua responden memperoleh
perlakuan yang sama dari peneliti. Peneliti menjamin bahwa tindakan atau
perlakuan yang diberikan tidak akan membahayakan ( nonmaleficence)
kehidupan responden.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa
kuisioner yang terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama berisi pertanyaan
mengenai data demografi bayi yaitu usia, jenis kelamin diagnosa medis.
sebelum dan selama menjalani rawat inap. Dimana kuisioner yang kedua ini
menggunakan kuisioner pola temperamen bayi yaitu RITQ ( Rate Infant
Temperament Questionnaire ) untuk bayi 4 – 8 bulan yang diperoleh langsung
dari Buku Ajar Wong, 2008 dan sudah teruji validitas dan reliabelitasnya.
Untuk pertanyaan pola temperamen berasal dari tinjauan pustaka yang
merupakan indikator pola temperamen yang terdiri dari tingkat aktifitas,
keteraturan, mendekat atau menarik diri, adaptibilitas, ambang ( batas respon
yang wajar), intensitas reaksi, kualitas mood, distraksibilitas dan kuat
lemahnya perhatian.
Untuk penilaian pertanyaan dari kuisioner pola temperamen bayi,
kuisioner yang terdiri dari 14 pertanyaan tersebut dibedakan menjadi beberapa
kriteria penilaian yaitu sebagai berikut: Nilai 6 untuk pernyataan “hampir
selalu”, nilai 5 untuk pernyataan “sering”, nilai 4 untuk pernyataan variabel
yang “biasa dilakukan”, nilai 3 untuk pernyataan variabel yang biasanya
“tidak dilakukan”, nilai 2 untuk pernyataan “jarang” dan nilai 1 untuk
pernyataan “ tidak pernah”. Dimana untuk mendapatkan skor ini, jumlah soal
dikalikan dengan kriteria penilaian kuisioner.Kemudian di dapat skor tertinggi
yaitu 84.Skor total jawaban responden yang diperoleh terhadap instrumen
yang diberikan menentukan ada tidaknya perbedaan. Skor ini bertujuan untuk
mengidentifikasi pola temperamen bayi. Sehingga diperoleh hasil sebagai
berikut :
Skor56 - 84 : Temperamen mudah
Skor < 28 : Temperamen sulit
F. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen
Uji validitas dapat diuraikan sebagai tindakan ukuran penelitian yang
sebenarnya yang memang didesain untuk mengukur. Validitas berkaitan
dengan nilai sesungguhnya dari hasil penelitian dan merupakan karakteristik
yang penting dalam penelitian yang baik (Setiadi, 2007). Uji validitas
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Content Validity Index
( CVI) dan dikonsultasikan kepada Dosen Keperawatan yang ahli di bidangnya
di Fakultas Keperawatan USU yaitu Ibu Farida Linda Sari, S.Kep,Ns.,M.Kep
selaku dosen keperawatan anak dan diperoleh hasil validitas yaitu 0,9
Uji reliabilitas instrumen adalah suatu uji yang dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana suatu instrumen akan menghasilkan suatu hasil yang
sama/konsistensi dalam penggunaannya secara berulang kali, sehingga dapat
digunakan untuk penelitian selanjutnya dalam ruang lingkup yang sama.
Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan internal
consistency, yaitu dengan cara mencobakan instrumen sekali saja, kemudian
hasilnya dianalisa. Uji reliabilitas ini diberikan kepada 10 orang perawat yang
bertugas di ruang rawat inap anak RSUD Dumai.Pada penelitian ini pengujian
reliabilitas menggunakan analisis Cronbach’s Alpha, yaitu untuk mencari
reliabilitas instrumen. Instrumen dikatakan reliabel bila nilai alpha 0,6 – 0,9
(Polit & Hugler, 1995). Hasil uji reliabel terhadap 10 orang responden yaitu
diperoleh nilai 0,773 untuk pola temperamen sebelum rawat inap dan 0,775
G. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah mengikuti langkah-langkah
pengumpulan data yaitu: Tahap persiapan, yaitu mengajukan permohonan
izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan (Fakultas keperawatan
USU) dan mengirimkan izin tersebut kepada institusi tempat penelitian
(RSUD dr. Pirngadi Medan). Setelah mendapatkan izin dari institusi tempat
penelitian, pengumpulan data dilaksanakan.Kemudian peneliti menentukan
responden yang bersedia untuk menjadi sampel penelitian.
Tahap Pelaksanaan, dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh
seorang assisten yaitu Ibu Nelly Sinulingga selaku perawat yang bertugas di
Ruang III Anak.Pelaksanaannya dilakukan pada pagi hari pukul 10.00 WIB
di Ruang III Anak. Sebelum pelaksanaannya assisten diberitahu bagaimana
cara pengumpulan data yaitu dengan terlebih dahulu menjelaskan mengenai
tujuan, manfaat dan proses pengisian kuisioner kepada responden. Kemudian
peneliti memberikan lembar kuisioner kepada responden yang terdiri atas 2
bagian yaitu pertanyaan mengenai data demografi bayi dan kuisioner tentang
pola temperamen bayi sebelum dan selama menjalani rawat inap.
Dimana untuk pemberian dan pengisian kuisioner sebelum dan selama
menjalani rawat inap dilakukan diwaktu yang sama. Misalnya untuk
kuisioner sebelum ( pre ) menjalani rawat inap diberikan pertama sekali dan
kemudian dilanjutkan dengan pengisian kuisioner selama ( post ) menjalani
menit.Setelah seluruh lembar kuisioner terisi maka data yang telah terkumpul
pada assisten dikumpulkan kembali dan siap dianalisis oleh peneliti.
Hari pertama tanggal 6 Oktober 2012, peneliti mulai menyebarkan
kuisioner kepada responden pada pukul 10.00 WIB. Sebelumnya peneliti
mengucapkan salam dan menjelaskan prosedur pengisian kuisioner. Setelah
itu peneliti memberikan kuisioner yang berisi pertanyaan mengenai data
demografi bayi dan pola temperamen sebelum menjalani rawat
inap.Responden diberikan waktu selama 15 menit untuk mengisi lembar
kuisioner.Setelah selesai pengisian kuisioner yang pertama maka responden
diberikan kuisioner kedua yang berisi pernyataan pola temperamen selama
menjalani rawat inap dalam waktu 15 menit.Selanjutnya data dikumpulkan
kembali dan lanjut untuk hari berikutnya.
H. Analisa Data
Setelah data terkumpul, maka dilakukan proses pengolahan data dalam
beberapa tahap. Pertama, Editing yaitu dilakukan pengecekan kelengkapan
pada data yang telah terkumpul. Bila terdapat kesalahan dan kekurangan
dalam pengumpulan data, dapat diperbaiki dengan memeriksanya dan
dilakukan pendataan ulang. Kemudian Coding yaitu pemberian kode atau
tanda pada setiap data yang telah terkumpul untuk mempermudah
memasukan ke dalam tabel. Ketiga,Tabulating yaitu untuk mempermudah
analisa data, pengolahan data serta pengambilan kesimpulan dalam bentuk
tabel distribusi frekuensi.Metode statistik untuk analisa data yang digunakan
1. Analisa Univariat
Statistik univariat adalah suatu metode untuk menganalisa data dari
suatu variabel yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu hasil penelitian
(Polit & Hugler, 2002). Pada penelitian ini yang di analisis pertama adalah
karakteristik bayi. Hasil data dengan jenis data kategorik yakni jenis
kelamin dan diagnosa medis serta umur akan dideskripsikan berdasarkan
tabel frekuensi, sedangkan data numerik yaitu pola temperamen bayi
sebelum dan selama menjalani rawat inap akan dideskripsikan berdasarkan
mean.
2. Analisa Bivariat
Setelah diketahuai karakteristik variabel pola temperamen bayi usia
4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap dapat dilakukan
analisis lebih lanjut, yaitu ingin mengetahui perbedaan pola temperamen
bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap. Untuk
mengetahuai adanya perbedaan pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan
sebelum dan selama menjalani rawat inap dilakukan analisa bivariat
dengan Uji t berpasangan atau pair t - test dengan cara komputerisasi,
karena dilakukan pengukuran sebelum dan selama menjalani rawat inap
pada satu kelompok sampel yang sama yaitu bayi berusia 4 – 8 bulan di
Ruang III Anak RSU dr. Pirngadi Medan. Uji hipotesa dilakukan dengan
membandingkan nilai ρ dimana α = 0,05. Jika nilai ρ < α maka hipotesa
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada Bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai
pola temperamen bayi usia 4 – 8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap
di ruang rawat inap anak Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Jumlah
responden dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.Penelitian ini dilaksanakan
dalam waktu 3 bulan yaitu mulai tanggal 6 Agustus dan 6 November 2012.Hasil
penelitian disajikan dalam bentuk tabel yang didasarkan pada analisis univariat
dan bivariat. Berikut ini akan disajikan data – data hasil penelitian yaitu sebagai
berikut:
Analisis Univariat
Analisis univariat ini bertujuan menjelaskan karakteristik masing – masing
variabel yang diteliti. Analisis ini meliputi karakteristik demografi meliputi usia,
jenis kelamin, diagnosa medis dan pola temperamen bayi sebelum dan selama
menjalani rawat inap.
1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup umur, jenis
kelamin, dan diagnosa medis. Berdasarkan tabel 5.1 dapat digambarkan bahwa
mayoritas responden 11 orang (36,7%) berada pada usia 8 bulan. Berdasarkan
jenis kelamin, mayoritas responden adalah laki laki berjumlah 16 orang (53,3%)
diagnosa medis yang paling banyak pada responden yaitu 53,3%. Karakteristik
responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Karakteristik Responden
( n = 30 )
Karakteristik Frekuensi Persentase (%)
Umur
2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum Menjalani Rawat Inap
Hasil penelitian menemukan bahwa rata – rata skor pola temperamen bayi
sebelum menjalani rawat inap yaitu 58,53 dengan standar deviasi 8,858 (95% CI =
55,23 – 61,84). Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95%
diyakini rata – rata pola temperamen bayi sebelum rawat inap adalah diantara
Tabel 2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum Menjalani Rawat
Inap ( n = 30 )
Variabel Mean SD 95% CI
Sebelum rawat inap 58,53 8,858 55,23 – 61,84
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata skor pola temperamen
bayi selama menjalani rawat inap yaitu 34,83 dengan standar deviasi 6,193 (95%
CI = 32,52 – 37,15). Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95%
diyakini rata – rata pola temperamen bayi selama menjalani rawat inap adalah
diantara 32,52 sampai dengan 37,15. Lihat tabel 3
Tabel 3 Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Selama Menjalani Rawat Inap
( n = 30 )
Variabel Mean SD 95% CI
Selama Rawat Inap 34,83 6,193 32,52 – 37,15
Analisa Bivariat
1. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani
Rawat Inap
Berdasarkan tabel 4 dapat digambarkan hasil uji statistik bahwa rata –
rata pola temperamen sebelum menjalani rawat inap adalah 58,83 dengan
standar deviasi 8,858. Sedangkan rata – rata pola temperamen selama
menjalani rawat inap adalah 34,83 dengan standar deviasi 6,193. Terlihat nilai
inap yaitu 23,700 dengan standar deviasi 9,639. Dari hasil uji statistik diperoleh
nilai p = 0,000. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan
antara pola temperamen sebelum dan selama menjalani rawat inap.
Tabel 4 Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 bulan Sebelum dan Selama Menjalani
Rawat Inap ( n=30 )
Variabel Mean SD Beda mean pvalue
Pola temperamen
Sebelum 58,53 8,86 23,700 0,000
Selama rawat inap 34,83 6,19
B. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini mencakup umur, jenis
kelamin, dan diagnosa medis. Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa mayoritas
responden berada pada usia 8 bulan. Sementara jenis kelamin terbanyak adalah
laki laki dan untuk GE + Dehidrasi merupakan diagnosa medis terbanyak yang
dialami responden.
2. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum Menjalani Rawat Inap
Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat bahwa rata – rata skor pola
temperamen bayi sebelum menjalani rawat inap yaitu 58,53 dengan standar
deviasi 8,858. Artinya sebelum bayi menjalani rawat inap, rata – rata bayi
kuat untuk memperlihatkan kesenangan ketika bermain dengan kerincingandan
bayi tersenyum atau tertawa bila diajak bercanda oleh orang yang tidak
dikenalnya.Hal ini didukung dengan penjelasan dalam Mulyadi (2008) bahwa
bayi dengan pola temperamen mudah, sangat mudah untuk diajak bekerja sama
dengan lingkungan sosial dan cenderung tidak rewel serta memiliki perilaku yang
positif terhadap orang lain.
3. Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Selama Menjalani Rawat Inap
Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat bahwa rata – rata skor pola
temperamen bayi selama menjalani rawat inap yaitu 34,83, dengan standar deviasi
6,193. Artinya bahwa selama menjalani rawat inap, rata – rata bayi memiliki pola
temperamen sedang yaitu cenderung tidak stabil kondisi emosinya dalam
merespon stimulus dari lingkungan hidupnya, sehingga kadang – kadang bayi
merasa mudah, tetapi kadang merasa sulit menyesuaikan diri terhadap tuntutan
lingkungan sosial ( Mulyadi, 2008 ). Hal ini dikarenakan pada saat bayi dirawat di
rumah sakit banyak hal yang baru dan asing yang harus dihadapi antara lain bayi
mengalami perasaan yang tidak menyenangkan seperti takut, cemas, tegang dan
nyeri akibat proses penyakit (Supartini, 2004).Ini menimbulkan suatu krisis yang
terjadi akibat perubahan lingkungan, terbatasnya kemampuan kognitif bayi untuk
membentuk mekanisme koping guna mengatasi stressor yang dialaminya. Dimana
dalam perkembangan kognitif bayi selama fase sensorimotor terdapat tiga
peristiwa yang terjadi terkait terbatasnya kemampuan kognitif bayi yaitu
perpisahan, penerimaan konsep keberadaan objek dan kemampuan unuk
hal tersebut tidak dapat dilakukan bayi bahkan menjadi stressor utama bagi bayi
selama menjalani rawat inap. Bayi cemas akibat perpisahan, bayi tidak dapat
menyesuaikan diri terhadap hal – hal yang baru dialami dan bayi susah untuk
memberikan tanda atau simbol terhadap apa yang ia inginkan (Wong, 2003). Hal
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardiningsih(2006), yang
bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan bayi selama menjalani
hospitalisasi, diperoleh hasil bahwa sebanyak 80% bayi menunjukkan reaksi
menangis serta menjerit dikarenakan prosedur tindakan dan proses penyakit.
4. Perbandingan Pola Temperamen Bayi Usia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama
Menjalani Rawat Inap
Berdasarkan hasil analisa statistik didapatkan nilai p = 0,000. Maka dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pola temperamen bayi
sebelum dan selama menjalani rawat inap.Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa perilaku sehari – hari yang dilakukan bayi sebelum menjalani rawat inap,
sebagian besar tidak dilakukan bayi selama menjalani rawat inap. Hal ini sesuai
dengan penjelasan dalam Mulyadi (2008) bahwa pola temperamen bayi dapat
berubah tergantung situasi dan kondisi yang dialami bayi.Bayi yang dirawat inap
mempunyai kesukaran lebih besar akibat terbatasnya kemampuan kognitif bayi
untuk membentuk mekanisme koping guna mengatasi stressor yang dialaminya.
Dimana stressor utama dari hospitalisasi yang sering dialami bayi antara lain
cemas akibat perpisahan, kehilangan kendali dan cemas terhadap cedera tubuh dan
nyeri yang dialami. Bayi terlihat lebih sering diam dan menangis karena proses
dikenalnya.Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian yang dilakukan
oleh Munasih (2007), yang bertujuan untuk mengetahui kecemasan bayi dalam
pemberian terapi vena (infus), dimana ternyata hampir 100% pasien bayi
menunjukkan respon kecemasan seperti menangis, menolak berinteraksi dengan
orang lain, berusaha melepaskan infus dengan menunjukkan reaksi gelisah. Hal
ini juga sesuai dengan penjelasan dalam Wong (2008) bahwa perbedaan
temperamen bayi disebabkan juga oleh faktor petugas ( perawat, dokter dan
tenaga medis lainnya).Dimana asuhan atau tindakan keperawatan yang tidak
konsisten dan penyimpangan dari rutinitas harian bayi menyebabkan rasa tidak
percaya dan akhirnya bayi menjadi cemas. Berdasarkan kondisi di ruangan anak
didapati bahwa suasana ruangan yang panas, jumlah pasien yang terlalu ramai dan
penataan ruangan yang belum disesuaikan dengan usia bayi sehingga dapat
menyebabkan bayi kehilangan kendali dan mengalami perasaan yang tidak
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakaan pada tanggal 6
Agustus sampai dengan 6 November 2012 di RSUD Dr Pirngadi Medan dan dari
hasil pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.Karakteristik responden dapat digambarkan sebagai berikut: mayoritas
responden berada pada usia 8 bulan. Sementara jenis kelamin terbanyak
adalah laki laki dan untuk GE + Dehidrasi merupakan diagnosa medis
terbanyak yang dialami responden.
2. Pola temperamen bayi sebelum menjalani rawat inap adalah temperamen
mudah dengan nilai rata – rata 58,53 dan standar deviasi 8,858. Hal ini dapat
ditunjukkan dari perilaku bayi yang menerima adanya perubahan apapun,
pada tempat atau posisi pemberian makan atau individu yang memberikannya
sedangkan selama menjalani rawat inap hal itu jarang dilakukan oleh bayi.
3. Pola temperamen bayi selama menjalani rawat inap yaitu temperamen sedang,
dengan nilai rata – rata 34,83 dan standar deviasi 6,193. Hal ini dapat
ditunjukkan dari perilaku bayi selama menjalani rawat inap yaitu bayi jarang
berhenti menangis ketika diberikan kerincingan oleh orang lainsedangkan sebelum
4.Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,000. Maka dapat disimpulkan bahwa ada
perbedaan yang signifikan antara pola temperamen bayi sebelum dan selama
menjalani rawat inap.
B. Saran
1. Bagi PraktekKeperawatan
Diharapkan kepada pelayanan keperawatan khususnya perawat di ruangan anak
agar dapat mengidentifikasi dan memberikan asuhan keperawatan yang optimal
yang meliputi strategi serta intervensi guna mengurangi stress dan cemas pada
anak yang berujung pada perubahan temperamen bayi.
2. Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi pendidik dan para
mahasiswa serta diperlukan penekanan oleh para pendidik kepada mahasiswa
agar melaksanakan asuhan keperawatan anak yang optimal bila sedang
melakukan praktek keperawatan.
3. Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam pengumpulan data yang seharusnya
dilakukan pertiga hari namun peneliti hanya melakukan satu hari saja.Hal ini
dikarenakan adanya keterbatasan sampel dan waktu.Dengan adanya
keterbatasan tersebut, untuk itu diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat
DAFTAR PUSTAKA
Alimul A. Azis, 2003. Riset Keperawatan Dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta
Ardiningsih Fitri, dkk (2006). Hubungan antara dukungan Informasional dengan
Kecemasan perpisahan akibat Hospitalisasi pada anak.The Soedirman
Journal of Nursing, Volume1, No.1, Juli 2006 dari website: http://
wwwjos.unsoed.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/238
Arikunto, Suharsimi. 2006.Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan
Praktik.PT.Rineka cipta: Jakarta
Dariyo, Agoes dkk 2007. Psikologi Perkembangan Anak.Refika Aditama. Jakarta
Fakultas Keperawatan USU. 2006. Pedoman Penyusunan Proposal dan Skripsi
Sarjana Keperawatan: Medan
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2011). Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik
Analisis Data (Edisi 1). Jakarta: Salemba Medika.
Hurlock D. Elisabeth. 2001. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi 5. Erlangga: Jakarta
Kurniawan, Arif.2008. Faktor - Faktor yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Orang tua Terkait Hospitalisasi Anak di BRSD RAA Soewonso
Patidari website:
http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/FIKkeS/article/view/160/155
Notoadmodjo, Soekidjo 2010.Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Salemba Medika: Surabaya
2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (Untuk perawat dan bidan ). Salemba Medika. Jakarta
Polit&Hungler. (1995). Nursing Research: Principles and Methods. Philadelphia: Lippincot.
Supartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC
Wahyuni S. Arlinda. 2011. Statistika Kedokteran. Jakarta
Wong, Donna L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.Volume I. Edisi 6.EGC: Jakarta
2003. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong Vol.2.EGC. Jakarta
Lampiran 1
Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Pola Temperamen BayiUsia 4 – 8 Bulan Sebelum dan Selama Menjalani Rawat Inap di Ruang Rawat Inap Anak RSUD Dr Pirngadi Medan
Saya adalah mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Medan.Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam
menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi pola temperamen bayi usia4 –
8 bulan sebelum dan selama menjalani rawat inap di ruang III Anak RSUD dr
Pirngadi Medan
Saya mengharapkan kesediaan Anda untuk berpartisipas dalam penelitian ini
dimana penelitian ini tidak akan memberi dampak yang membahayakan. Jika
Anda bersedia menjadi peserta penelitian ini, silahkan Anda menandatangani
formulir persetujuan di bawah ini. Terimakasih atas perhatian dan partisipasi yang
Anda berikan.
Partisipasi Anda dalam penelitian ini bersifat bebas, Anda dipersilahkan
memilih untuk bersedia menjadi peserta penelitian atau menolak dan
mengundurkan diri tanpa ada sangsi apa pun.
Medan, Juni 2012
Peneliti Responden