• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kampus Universitas Sumatera Utara yang terletak di Jalan Dr. T. Mansyur No.9 Medan. Pada tanggal 20 November 1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia. Kampus USU Padang Bulan sebagai kampus utama berlokasi di Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru. Kampus ini mulai digunakan sejak tahun 1957, sebelumnya beberapa fakultas di lingkungan USU menggunakan sejumlah gedung yang tersebar di kota Medan termasuk di antaranya berlokasi di Jalan Seram, Jalan Cik Ditiro, Jalan Sempali, dan Jalan Gandhi.

Kampus Padang Bulan yang pada awalnya terdapat di pinggiran kota Medan, kemudian dengan perkembangan kota Medan sehingga sekarang berada di tengah – tengah kota. Kampus ini memiliki luas sekitar 122 Ha, dengan zona akademik seluas sekitar 100 Ha yang berada di tengahnya. USU memiliki 12 fakultas yaitu : Fakultas Kedokteran, Hukum, Psikologi, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sastra, Kedokteran Gigi, Teknik dan Pertanian.

Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan yang kelima di Indonesia. Sampel penelitian diambil dari mahasiswi angkatan 07 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden

Jumlah responden yang terlibat dalam studi ini adalah sebesar 50 responden yang merupakan mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Angkatan 2007 USU. Jumlah sampel ini adalah sama dengan jumlah sampel yang diperlukan yaitu 50 orang. Responden yang terpilih adalah perempuan dengan persentase 100% atau 50 orang. Responden dipilih secara rawak di antara seluruh mahasiswi FKG angkatan 2007.

Setiap soal yang dijawab dengan betul diberi 1 markah dan setiap soal yang dijawab salah diberi 0. Penilaian dibuat dengan menggunakan skala pengukuran Pratomo (1966). Distribusi nilai dapat dilihat pada Tabel 5.1 Berdasarkan umur, mayoritas responden berusia 21 dan 22 tahun dengan persentase 26%. Sedangkan usia responden dengan jumlah yang paling kecil adalah 19 dan 20 tahun atau hanya 2% saja, seperti terlihat pada Table 5.1. Usia responden yang termuda adalah 19 tahun dengan persentase 2% dan usia responden tertua adalah 24 tahun dengan persentase 20%.

Tabel 5.1. Distribusi nilai skala pengukuran Pratomo

Tingkat pengetahuan Nilai Skala pengukuran Pratomo (%) Frekuensi Baik 16-20 75-100 17 Sedang 8-15 40-75 33 Buruk <8 <40 0

Tabel 5.2. Karakteristik responden berdasarkan umur

Umur Frekuensi Persen (%)

19-20 1 2 20-21 1 2 21-22 13 26 22-23 13 26 23-24 12 24 24-25 10 20 Total 50 100

5.1.3 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa

Dari keseluruhan responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 50 responden, terdapat 17 responden dengan persentase 34% mempunyai tingkat pengetahuan yang baik mengenai faktor resiko terjadinya kanker serviks. Sedangkan mayoritas responden,yaitu 33 orang dengan persentase 66% mempunyai tingkat pengetahuan yang sedang mengenai faktor resiko terjadinya kanker serviks. Data tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.3.

Tabel 5.3. Tingkat pengetahuan mahasiswi berdasarkan umur

TINGKAT PENGETAHUAN Umur

respon

den Baik Sedang Total

19-20 0 1 1 20-21 1 0 1 21-22 1 12 13 22-23 6 7 13 23-24 6 6 12 24-25 3 7 10 Total 17 33 50

Penelitian telah dibuat di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan yang sedang. Sedangkan minoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Tiada responden yang mempunyai tingkat pengetahuan yang buruk terhadap faktor resiko terkenanya kanker serviks. Data tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.3.

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden

NO PERTANYAAN

JAWAPAN

YA TIDAK

F % F %

1.

Penyebab paling umum terjadinya kanker serviks adalah terinfeksi virus HPV (human papillomavirus)

48 96 2 4

2.

HPV 6b dan 11, yang terkait dengan SIL tahap rendah tetapi tidak pernah dijumpai dalam kanker invasif.

34 68 16 32

3.

Virus herpes simpleks tipe-2 tidak dapat menjadi faktor pendamping bagi

terkenanya kanker serviks

21 42 29 48

4.

HPV tipe 16, 18, 45 dan 31 yang

merupakan penyebab kanker serviks yang paling umum pada wanita

5. Trauma kronis pada bahagian serviks tidak

bisa menyebabkan kanker Serviks 25 50 25 50 6. Infeksi pada daerah vagina dapat

menyebabkan terjadinya kanker serviks 32 64 18 36

7.

Ada dua macam penyebaran kanker serviks yaitu :

Melalui pembuluh limfe (limfogen) menuju ke kelenjar getah bening lainnya dan

Melalui pembuluh darah (hematogen)

26 52 24 48

8.

Kombinasi obat paling aktif yang

digunakan untuk mengatasi kanker serviks semuanya mengandung cisplatin. Agen tersebut paling sering digunakan bersama bleomycin.

40 80 10 20

9.

Kanker Serviks tidak menyebabkan penyebaran langsung ke parametrium, korpus uterus dan vagina

42 84 8 16

10.

Penyebaran ke paru-paru menimbulkan gejala batuk, batuk darah, dan kadang-kadang nyeri dada.

47 94 3 6 11. Pemeriksaan PAP SMEAR adalah cara

untuk mendeteksi dini kanker serviks. 45 90 5 10 12. Kanker serviks tidak bisa menginvasi

kandung kemih dan rectum secara terus. 13 26 37 74 13.

Gangguan sistem kekebalan tubuh yang berulang bisa menyebabkan kanker serviks pada wanita

28 56 22 44

14.

Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia tua bisa menyebabkan kanker serviks pada wanita

16 32 34 68

15.

Wanita yang merokok mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk terkena kanker serviks berbanding dengan wanita biasa

36 72 14 28

16.

Perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun.

40 80 10 20

17.

Wanita yang berganti-ganti pasangan seksual tidak mempunyai resiko mengenai kanker serviks yang lebih tingi.

8 16 42 84

18.

Wanita yang melahirkan banyak anak mempunyai resiko menderita kanker serviks yang lebih tinggi berbanding

dengan wanita yang mempunyai anak sedikit

19.

Penggunaan bahan kimia yang terlalu berlebihan untuk rahim/vagina tidak bisa menyebabkan kanker serviks

17 34 33 66 20. Penggunaan kondom merupakan cara

terbaik untuk mencegah kanker serviks 13 26 37 74 Daripada 50 responden yang mengambil bahagian, sebanyak 33 responden atau dengan persentase 66% mempunyai tingkat pengetahuan yang sedang terhadap faktor resiko terkenanya kanker serviks. Sedangkan sisanya yaitu 17 responden dengan persentase 34% mempunyai tingkat pengetahuan yang baik terhadap faktor resiko terkenanya kanker serviks

Sebanyak 48 responden atau dengan persentase 96% menyatakan penyebab paling umum terjadinya kanker serviks adalah terinfeksi virus HPV (human papillomavirus).

Sebanyak 29 responden atau dengan persentase 48% menyatakan bahwa virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping bagi terkenanya kanker serviks. Sedangkan 21 orang lagi dengan persentase 42% mengatakan ia tidak dapat menjadi faktor pendamping bagi terkenanya kanker serviks.

Setengah responden yang mengambil bahagian dalam penelitian, yaitu 25 orang dengan persentase 50% mengatakan trauma kronis pada bahagian serviks dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks. Sedangkan sisanya 25 orang lagi dengan persentase 50% mengatakan trauma kronis pada bahagian serviks tidak dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks. Daripada 50 responden yang mengambil bahagian, sebanyak 45 responden atau dengan persentase 90% mengetahui bahwa pemeriksaan PAP SMEAR adalah cara untuk mendeteksi dini kanker serviks. Sedangkan sisanya yaitu 5 responden dengan persentase 10% mempunyai tidak mengetahui bahwa PAP SMEAR merupakan cara untuk mendeteksi dini kanker serviks.

Sebanyak 22 orang responden dengan persentase 44% mengatakan gangguan sistem kekebalan tubuh yang berulang tidak dapat menyebabkan

kanker serviks pada wanita. Sedangkan 28 orang lagi dengan persentase 56% mengatakan kanker serviks dapat disebabkan karena terjadinya gangguan sistem kekebalan tubuh yang berulang.

Sebanyak 16 responden, yaitu dengan persentase 32% mengatakan bahwa hubungan seksual pertama dilakukan pada usia tua bisa menyebabkan kanker serviks pada wanita. Sedangkan 34 orang lagi dengan persentase 68% mengatakan yang sebaliknya,yaitu hubungan seksual pertama dilakukan pada usia tua tidak bisa menyebabkan kanker serviks pada wanita.

Daripada 50 responden yang mengambil bahagian, sebanyak 36 responden atau dengan persentase 72% mengatakan wanita yang merokok mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk terkena kanker serviks berbanding dengan wanita biasa. Sedangkan sisanya yaitu 14 responden dengan persentase 28% mengatakan sebaliknya

Sebanyak 40 responden, yaitu persentase 80% mengatakan perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun. Manakala sisanya 10 responden, dengan persentase 20% mengakui bahwa ia bukan merupakan satu faktor resiko terjadinya kanker serviks. Sebanyak 42 responden, yaitu persentase 84% mengatakan wanita yang berganti-ganti pasangan seksual mempunyai resiko mengenai kanker serviks yang lebih tinggi. Manakala sisanya yaitu 16% ataupun 8 responden mengatakan yang sebaliknya.

Sebanyak 36 responden, yaitu dengan persentase 72% mengatakan bahawa wanita yang melahirkan banyak anak mempunyai resiko menderita kanker serviks yang lebih tinggi berbanding dengan wanita yang mempunyai anak sedikit. Sedangkan sisanya 28% mengatakan bahawa ini bukan merupakan faktor resiko terkenanya kanker serviks.

Sebanyak 33 responden, yaitu dengan persentase yang tinggi 66% mengakui bahwa penggunaan bahan kimia yang terlalu berlebihan untuk rahim/vagina bisa menyebabkan kanker serviks. Sedangkan 17 responden

lagi, dengan persentase 34% mengatakan penggunaan bahan kimia yang terlalu berlebihan untuk rahim/vagina tidak bisa menyebabkan kanker serviks. .

Sebanyak 37 responden dengan persentase 74% mengatakan penggunaan kondom merupakan cara terbaik untuk mencegah kanker serviks. Sedangkan sisanya pula mengatakan penggunaan kondom bukan merupakan cara terbaik untuk mencegah kanker serviks.

Dokumen terkait