HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pemberian kuesioner yang diisi oleh pekerja salon di semua salon yang berlokasi di Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, pada tahun 2016.
5.1.1 Deskripsi lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di seluruh salon yang berada di Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan. Terdapat sejumlah 26 salon yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian dari jumlah keseluruhan salon di Kecamatan Medan Petisah sebanyak 30 salon.
Salon yang berpartisipasi dalam penelitian merupakan salon kecantikan yang menyediakan fasilitas penyucian rambut yang dilayani oleh pegawai salon yang bertugas sebagai pekerja salon. Proses pelayanan pencucian rambut di salon salon tersebut dilakukan menggunakan produk-produk perawatan kecantikan dan kesehatan rambut yang langsung terpapar pada kulit pegawai pencuci rambut.
Penelitian ini dilakukan langsung di salon-salon tersebut dan kuesioner diisi langsung oleh pekerja salon dengan waktu yang telah disesuaikan dengan jadwal kerja para pekerja salon tersebut.
5.1.2 Deskripsi karakteristik
Karakteristik yang digunakan untuk menjadi responden dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja salon yang bekerja di seluruh salon yang terdapat di Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan pada tahun 2016. Jumlah kesuluruhan
responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 108 sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi penelitian ini.
Tabel 5.1. Distribusi Sampel Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase
Laki – laki 19 17,6%
Perempuan 89 82,4%
Total 108 100,0%
Berdasarkan Tabel 5.1. dapat dilihat bahwa jumlah pekerja salon menurut jenis kelamin yang paling banyak adalah perempuan yaitu sebanyak 89 perempuan (82,4%).
5.1.3 Hasil analisa data
Tabel 5.2. Tingkat Pengetahuan Pekerja Salon Terhadap Gejala DK Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase
Baik 3 2,8%
Cukup 46 42,6%
Kurang 59 54,6%
Total 108 100,0%
Berdasarkan Tabel 5.2. dapat dilihat bahwa pekerja salon mayoritas memiliki tingkat pengetahuan kurang terhadap gejala DK yaitu sebanyak 59 sampel (54,6%).
Tabel 5.3. Tingkat Pengetahuan Pekerja Salon Terhadap Penyebab DK Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase
Baik 0 0,0%
Cukup 67 62,0%
Total 108 100,0%
Berdasarkan Tabel 5.3. dapat dilihat bahwa pekerja salon mayoritas memiliki tingkat pengetahuan cukup terhadap penyebab DK yaitu sebanyak 67 sampel (62,0%).
Tabel 5.4. Tingkat Pengetahuan Pekerja Salon Terhadap Cara Penanggulangan DK Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase
Baik 36 33,3%
Cukup 67 62,1%
Kurang 5 4,6%
Total 108 100,0%
Berdasarkan Tabel 5.4. dapat dilihat bahwa pekerja salon mayoritas memiliki tingkat pengetahuan cukup terhadap cara penanggulangan DK yaitu sebanyak 67 sampel (62,1%).
Tabel 5.5. Tingkat Pengetahuan Pekerja Salon Terhadap Cara Penegakan Diagnosa DK
Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase
Baik 22 20,4%
Cukup 81 75,0%
Kurang 5 4,6%
Total 108 100,0%
Berdasarkan Tabel 5.5. dapat dilihat bahwa pekerja salon mayoritas memiliki tingkat pengetahuan cukup terhadap cara penanggulangan DK yaitu sebanyak 81 sampel (75,0%).
Tingkat Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase
Baik 15 13,9%
Cukup 71 65,7%
Kurang 22 20,4%
Total 108 100,0%
Berdasarkan Tabel 5.6. dapat dilihat bahwa pekerja salon mayoritas memiliki tingkat pengetahuan cukup terhadap cara penanggulangan DK yaitu sebanyak 71 sampel (65,7%).
5.2. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pekerja salon di seluruh salon di Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan terhadap DK pada tahun 2016. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di lokasi tersebut, diperoleh 108 sampel yang memenuhi kriteria inklusi.
5.2.1. Karakteristik sampel menurut jenis kelamin
Pada penggolongan sampel menurut jenis kelamin, jumlah seluruh pegawai laki-laki adalah 19 sampel (17,6%) dan perempuan sebanyak 89 sampel (82,4%). Persentase pegawai perempuan lebih tinggi daripada pegawai laki – laki.
Hasil yang serupa juga didapatkan pada penelitian lain yang pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia, terhadap pekerja salon di lokasi tersebut pada tahun 2012, menunjukkan bahwa pekerja salon yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki – laki dengan proposi 100,0% dan 0,0%.32
Serupa juga dengan penelitian Karen Hu untuk lembaga National Healthy Nail Salon Alliance yang mendapati 95% dari pekerja salon adalah perempuan.33 5.2.2. Gambaran tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap gejala DK
Pada pembagian kategori tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap gejala DK, didapati yang memiliki tingkat pengetahuan baik adalah sebanyak 3 sampel (2,8%) sementara yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 46 sampel (42,6%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang adalah sebanyak 59 sampel (54,6%).
Penderita pada umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis. Pada dermatitis kontak akut dimulai dengan bercak eritema berbatas jelas, kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah). Pada yang kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas. Kelainan ini sulit dibedakan dengan dermatitis kontak lainnya.12
5.2.3. Gambaran tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap penyebab DK Pada pembagian kategori tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap penyebab DK, didapati yang memiliki tingkat pengetahuan cukup adalah sebanyak 67 sampel (62,0%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 41 sampel (38,0%) dari keseluruhan responden sebanyak 108 sampel, Tidak ada sampel yang dikategorikan memiliki tingkat pengetahuan baik terhadap gejala DK (0,0%).
Menurut hasil penelitian lain yang pernah dilakukan faktor yang paling utama mempengaruhi terjadinya dermatitis akibat kerja karena kontak dengan bahan kimia. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi dermatitis kontak akibat kerja adalah adanya kontak dengan bahan kimia, lama kontak, dan frekuensi kontak. Faktor umur, riwayat atopi, kebiasaan mencuci tangan, suhu dan kelembapan udara tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Belum terincinya standar prosedur kerja aman yang diterapkan oleh pihak manajemen sesuai dengan potensi bahaya kimia, khususnya bahaya kontak kimia termasuk logam dengan kulit pekerja operator. 34
5.2.4. Gambaran tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap cara penanggulangan DK
Pada pembagian kategori tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap cara penanggulangan DK, didapati yang memiliki tingkat pengetahuan baik adalah sebanyak 36 sampel (33,3%), yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 67 sampel (62,1%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang
sebanyak 5 sampel (4,6%).
5.2.5. Gambaran tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap cara penegakan diagnosa DK
Pada pembagian kategori tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap cara penegakan diagnosa DK, didapati yang memiliki tingkat pengetahuan baik adalah sebanyak 22 sampel (20,4%), yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 81 sampel (75,0%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 5 sampel (4,6%).
Diagnosis dermatitis kontak didasarkan pada anamnesis yang teliti, pengamatan gambaran klinis dan uji tempel. Dermatitis kontak mempunyai variasi gambaran klinis yang luas, sehingga kadang sulit dibedakan dengan berbagai dermatitis kontak lainnya.12 Untuk ini diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicurigai, tetapi uji tempel tidak dapat dilakukan pada dermatitis berfase akut, sebab dapat memperberat penyakit.17
5.2.6. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pekerja Salon Terhadap DK Secara Keseluruhan
Pada pembagian kategori tingkat pengetahuan pekerja salon terhadap DK secara keseluruhan, didapati yang memiliki tingkat pengetahuan baik adalah sebanyak 15 sampel (13,9%), yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 71 sampel (65,7%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 22 sampel (20,4%).
Berbeda dengan hasil penelitian lain yang pernah dilakukan sebelumnya pada pekerja pencuci piring di beberapa restoran di Kota Medan. Mayoritas pekerja pencuci piring memiliki pengetahuan yang dapat di – kategorikan kurang yaitu sebanyak 58,0%, pengetahuan yang cukup sebanyak 32,0%, dan pengetahuan yang baik sebanyak 10,0%.35
Berbeda juga dengan hasil penelitian Susetiati dkk, yang mendapati hasil berupa tingkat pengetahuan baik sebanyak 56,8% dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 43,2%.36