BAB 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Analisis Data Tahap Awal
Analisis tahap awal dilakukan untuk membuktikan bahwa antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol berangkat dari kondisi awal yang sama. Disamping itu, analisis data awal digunakan sebagai syarat penggunaan teknik cluster random sampling dalam pengambilan sampel. Data yang digunakan untuk analisis tahap awal diambil dari nilai UAS (Ulangan Akhir Semester) kimia kelas X pada semester ganjil. Data awal dari populasi kelas X yang berjumlah 5 kelas di tunjukkan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Data Awal Populasi
Kelas N Rata-rata SD Skor
tertinggi Skor terendah X - 1 41 58,34 9,03 75 43 X - 2 40 59,80 9,32 75 43 X - 3 41 59,85 9,01 78 45 X - 4 42 59,82 8,76 75 43 X - 5 42 58,07 9,27 73 43
Sumber : data yang diolah
Hasil Uji Normalitas
Uji ini digunakan untuk mengetahui data yang akan dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Hasil perhitungan uji normalitas disajikan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Hasil Uji Normalitas Data Awal
No. Kelas χ 2 hitung χ 2 tabel Kriteria 1 X – 1 7,57 9,49 Berdistribusi normal 2 X – 2 6,99 9,49 Berdistribusi normal 3 X – 3 7,19 9,49 Berdistribusi normal 4 X – 4* 7,21 9,49 Berdistribusi normal 5 X – 5* 6,51 9,49 Berdistribusi normal * sampel penelitian
Keterangan :Data lengkap pada Lampiran 14.
Berdasarkan perhitungan uji normalitas data populasi pada semua kelas diperoleh χ2
hitung<χ2
tabel, maka dapat disimpulkan bahwa semua kelas telah berdistribusi normal sehingga memenuhi syarat untuk dijadikan sampel dalam penelitian.
4.1.2.2Hasil Uji Homogenitas Populasi
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui homogenitas populasi yang merupakan syarat dari pemakaian cluster random sampling. Dari perhitungan
diperoleh χ2
hitung = 11,74 dan χ2
Karena χ2
hitung< χ2
tabel , maka dapat disimpulkan bahwa populasi mempunyai homogenitas yang sama.
Dari hasil tersebut, maka teknik claster random dapat digunakan untuk menentukan 2 kelas sebagai sampel penelitian yang diambil dari 5 kelas SMK Grafika Bakti Nusantara yaitu antara X-1, X-2, X-3, X-4, danX-5Sampel pada penelitian ini yaitu kelas X-5 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-4 sebagai kelas kontrol. Perhitungan uji homogenitas dapat dilihat pada Lampiran 15.
4.1.3 Analisis Data Tahap Akhir
Data yang diperoleh yaitu data hasil belajar kognitif sebelum perlakuan (pre tes) danhasil belajar kognitif setelah perlakuan (pos tes).
Uji yang dilakukan pada tahap ini yaitu uji normalitas, uji kesamaan dua varians, dan uji hipotesis menggunakan uji perbedaan dua rata-rata dua pihak, satu pihak kanan, uji korelasi biserial.
4.1.2.2Deskripsi Hasil Penelitian
Analisis tahap akhir menggunakan data dari hasil belajar dengan instrumen tes obyektif sebanyak 30 soal. Data hasil belajar kedua kelompok untuk pre tes dan pos tes di tunjukkan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Data Hasil Pre-tes dan Pos-tes
Sumber Variansi
Kelas Ekeperimen (X-5) Kelas Kontrol (X-4)
Pre-tes Post-tes Pre-tes Pos-tes
Nilai Tertinggi 50 87 50 83
Nilai Terendah 27 67 27 63
Rata-rata 36 80 37 76
Sumber : data yang diolah
Sebelum diberi perlakuan, kedua kelas memiliki rata-rata nilai tes awal (pre tes) yang tidak jauh berbeda yaitu 36 pada kelas eksperimen dan 37 pada kelas kontrol. Nilai pre tes untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol masih jauh dibawah nilai ketuntasan yaitu 71, hal ini terjadi karena siswa belum diberi materi pelajaran hukum-hukum dasar dan perhitungan kimia.
Setelah diberi perlakuan dengan metode yang berbeda, hasil nilai rata-rata kedua sampel mengalami perbedaan. Perbedaan rata-rata-rata-rata hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol maupun pengaruh dari metode yang diberikan belajar dapat diketahui menggunakan uji t setelah data diuji normalitasnya.
4.1.2.1.1 Hasil Uji Normalitas Data Pos tes
Uji ini digunakan untuk mengetahui data yang akan dianalisis
berdistribusi normal atau tidak sebagai syarat uji selanjutnya menggunakan uji statistik parametrik atau non-parametrik. Data yang dianalisis diambil dari hasil ulangan akhir materi hukum-hukum dasar kimia. Dari hasil perhitungan diperoleh hasil untuk kelas eksperimen (kelas X-5) nilai χ2
hitung = 6,234 dengan kriteria =5 % dan dk = k-3 diperoleh χ2
tabel = 9,488. Karena χ2
hitung< χ2
tabel maka dapat disimpulkan bahwa kelas 5 berdistribusi normal. Untuk kelas kontrol (kelas X-4) diperoleh nilai χ2
hitung = 9,222 dengan kriteria = 5 % dan dk = k-3 diperoleh
χ2
tabel = 9,488. Karena χ2
hitung< χ2
tabel maka dapat disimpulkan bahwa kelas X-4 berdistribusi normal. Perhitungan ini dapat dilihat pada Lampiran 22-23.
4.1.2.1.2 Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Pos tes
Uji kesamaan 2 varians bertujuan untuk mengetahui kesamaan varians dari populasi agar pengujian dapat dilaksanakan. Berdasarkan perhitungan diperoleh varians kelas eksperimen = 19,31 sedangkan varians kelas kontrol = 20,27, sehingga diperoleh harga Fhitung = 1,049. Untuk α = 5 % dengan dk
pembilang = 41 dan dk penyebut = 41 diperoleh F(0,025)(41:41)= 1,860. Dari perhitungan tersebut, diketahui Fhitung< F(0,025)(41:41), berarti varians kedua kelompok sampel tidak berbeda atau mempunyai varians yang sama. Perhitungan ini dapat dilihat pada Lampiran 25.
4.1.2.1.3 Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Hasil Belajar (Uji t Dua Pihak) Uji perbedaan dua rata-rata hasil belajar bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Hipotesis awal yang diambil dari uji perbedaan dua rata-rata hasil belajar yaitu hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol tidak berbeda. Hipotesis alternatif yang diambil yaitu ada perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol hal tersebut di tunjukkan pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata
Kelas Rata-rata Varians dk thitung ttabel Kriteria
Eksperimen 80,62 19,31
82 4,979 1,989 Ada perbedaan Kontrol 75,79 20,27
Sumber : data yang diolah
Berdasarkan perhitungan uji perbedaan rata-rata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol, diperoleh thitung = 4,979 sedangkan ttabel = 1,989. Data tersbut menunjukkan bahwa thitung> ttabel maka H0 ditolak yang berarti ada perbedaan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol setelah diberi perlakuan yang berbeda.
4.1.2.1.4 Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Pihak Kanan
Uji t pihak kanan bertujuan untuk membuktikan hipotesis awal yang menyatakan bahwa rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol hal ini di tunjukkan pada Tabel 4.5.
Tabel 4. 5. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-rata Pihak Kanan
Kelas Rata-rata Varians dk thitung ttabel Kesimpulan
Eksperimen 80,62 19,31
82 4,979 1,989
Kelas eksperimen lebih baik Kontrol 75,79 20,27
Sumber: data yang diolah
Keterangan: data selengkapnya disajikan pada Lampiran 26
Berdasarkan perhitungan uji perbedaan rata-rata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol, diperoleh thitung = 4,979 sedangkan ttabel = 1,989. Hasil dari uji t pihak kanan menyatakan bahwa thitung> ttabel sehingga H0 ditolak yang berarti bahwa rata-rata kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol sehingga hasil belajar dengan menggunakan metode CIRC berbasis website lebih baik daripada metode diskusi saja.
4.1.2.1.5 Penentuan Koefisien Determinasi (Uji Hipotesis)
Uji hipotesis ini digunakan untuk membuktikan kebenaran dari hipotesis yang diajukan.Uji ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kegiatan belajar menggunakan metode CIRC berbasis website dengan hasil belajar pada pokok materi hukum-hukum dasar dan perhitungan kimia.
Hasil perhitungan diperoleh harga rb sebesar 0,60. Harga ini diinterpretasikan kedalam tabel koefisien korelasi menunjukkan korelasi yang kuat. Artinya pembelajaran dengan menggunakan metode CIRC berbasis website
ini memberikan pengaruh yang kuat terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok hukum-hukum dasar dan perhitungan kimia.
Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai SErb*1,96 = 0,268. Dari hasil perhitungan harga rb (0,60) > SErb*1,96 (0,28), maka dengan kriteria rb > SErb*1,96 maka korelasi dapat dikatakan reliabel.
Untuk mengetahui pengaruh ini signifikan atau tidak, digunakan uji t. Kriteria
pengujiannya yaitu H0 ditolak jika thitung > ttabel. Dari perhitungan diperoleh thitung = 4,08 dan ttabel pada taraf kesalahan 5% dan dk = 82 adalah 1,99. Data tersebut menunjukkan thitung > ttabel yang berarti pengaruh yang ditimbulkan signifikan. Perhitungan selengkapnya pada Lampiran 28.
4.1.2.1.6 Penentuan Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi suatu variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel bebas dan variabel terikat dari penelitian ini yaitu penggunaan metode CIRC berbasis website dan hasil belajar siswa SMK Grafika Bakti Nusantara.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh besarnya koefisien korelasi biserial hasil belajar (rb) sebesar 0,62, sehingga besarnya koefisien determinasi (KD) adalah 38,06 %. Jadi besarnya kontribusi metode CIRC berbasis website
terhadap hasil belajar siswa materi hukum-hukum dasar dan perhitungan kimia sebesar 38,06 %. Perhitungan koefisien determinasi hasil belajar dapat dilihat pada Lampiran 28.
4.1.2.1.7 Hasil Uji Ketuntasan Belajar
Uji ketuntasan belajar bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar kimia kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat mencapai ketuntasan belajar atau tidak. Untuk mengetahui ketuntasan belajar individu dapat dilihat dari data hasil belajar siswa. Siswa dikatakan tuntas belajar jika hasil belajar mendapat nilai 71 atau lebih. Hasil perhitungan ketuntasan belajar pada kelas ekeperimen diperoleh thitung = 14,184 sedangkan ttabel = 2,019. Pada kelas kontrol, diperoleh thitung = 6,811 sedangkan ttabel = 2,019. Data tersebut menunjukkan bahwa thitung> ttabel maka H0 ditolak yang berarti ada peningkatan hasil belajar yang signifikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Perhitungan ini dapat dilihat pada Lampiran 34 dan lampiran 35.
Masing-masing kelompok eksperimen selain dihitung ketuntasan belajar individu juga dihitung ketuntasan belajar klasikal (keberhasilan kelas). Menurut Mulyasa (2003:99) keberhasilan kelas dapat dilihat sekurang-kurangnya 85 % dari jumlah siswa yang ada di kelas tersebut telah mencapai ketuntasan individu.
Perhitungan ketuntasan belajar dapat disajikan pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Hasil Uji Ketuntasan Hasil Belajar
Kelas Jumlah siswa Rata-rata Persen ketuntasan
Eksperimen 42 80,62 97,6 %
Kontrol 42 75,79 90,5 %
Sumber : data yang diolah.
Keterangan : data selengkapnya disajikan pada Lampiran 28-29
Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh persentase ketuntasan belajar klasikal (keberhasilan kelas) untuk kelompok eksperimen sebesar 97,6% dan kelompok kontrol sebesar 90,5 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar klasikal kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol.
4.1.2.2Analisis Deskriptif untuk data hasil belajar Afektif dan Psikomotorik
4.1.2.2.1 Analisis Deskriptif Hasil Belajar Afektif
Penilaian aspek afektif diperoleh dari hasil observasi terhadap siswa pada saat proses pembelajaran. Nilai afektif diperoleh dari jumlah skor tiap aspek dibagi dengan skor total kemudian dikalikan seratus persen. Terdapat tujuh aspek yang diobservasi pada penilaian afektif pada kelas eksperimen dan enam aspek pada kelas kontrol dengan kategori tiap aspek meliputi sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui perubahan sikap dan tanggapan siswa baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol terhadap pembelajaran kimia pada materi pokok hukum-hukum dasar dan perhitungan kimia.
4.1.2.2.1.1 Analisis Deskriptif Hasil Belajar Afektif Kelas Eksperimen
Metode CIRC berbasis website yang diterapkan pada kelas eksperimen, dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Melalui petunjuk-petunjuk yang diberikan guru, siswa tertarik untuk memperhatikan pelajaran. Disamping itu, metode CIRC berbasis website yang digunakan pada kelas eksperimen dapat membuat siswa semakin aktif dalam belajar sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan lancar.
Skor rata-rata afektif siswa kelas eksperimen mencapai 23,38 atau
mencapai persentase skor 83,5 %, sehingga termasuk kriteria “baik”. Rata-rata skor afektif untuk masing-masing aspek dari kelas eksperimen disajikan dalam Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Rata-rata Skor Tiap Aspek Afektif Kelas Eksperimen
No Aspek Skor
rata-rata
Kriteria
1 Aspek kehadiran siswa di kelas 3,71 Sangat Tinggi 2 Aspek perhatian saat mengikuti
pelajaran
3,50 Sangat tinggi
3 Aspek keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan
3,11 Tinggi
4 Aspek keberanian siswa dalam mengerjakan tugas di depan kelas
3,11 Tinggi
5 Aspek kelengkapan pembuatan makalah 3,77 Sangat Tinggi 6 Aspek sikap/tingkah laku terhadap guru 3,52 Sangat tinggi 7 Aspek kejujuran dalam mengerjakan tes 2,88 Tinggi Sumber :data yang diolah
Keterangan : data lengkap disajikan pada Lampiran 32
4.1.2.2.1.2 Analisis Deskriptif Hasil Belajar Afektif Kelas Kontrol
Metode Diskusi yang diterapkan pada kelas kontrol, mebuat siswa aktif dalam mempelajari materi dan bertanya jika ada yang belum faham.Siswa menjadi lebih termotivasi untuk menyelesaikan soal-soal dan menjadi lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Keterbiasaan latihan tersebut membangkitkan keberanian siswa dalam mengerjakan soal secara mandiri baik dari tugas maupun di depan kelas.
Skor rata-rata afektif siswa kelas kontrol mencapai 18,81 atau mencapai
persentase skor 78,4 %, sehingga termasuk kriteria “baik”. Rata-rata skor afektif untuk masing-masing aspek dari kelas eksperimen disajikan dalam Tabel 4.8.
Tabel 4.8. Rata-Rrata Skor Tiap Aspek Afektif Kelas Kontrol
No Aspek Skor
rata-rata
Kriteria
1 Aspek kehadiran siswa di kelas 3,54 Sangat Tinggi 2 Aspek perhatian saat mengikuti
pelajaran
3,54 Sangat Tinggi
3 Aspek keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan
2,88 Tinggi
5 Aspek kelengkapan pembuatan makalah 3,26 Sangat Tinggi 6 Aspek sikap/tingkah laku terhadap guru 3,41 Sangat Tinggi 7 Aspek kejujuran dalam mengerjakan tes 3,08 Tinggi
Sumber : data yang diolah
Keterangan : data lengkap disajikan pada Lampiran 32
Rata-rata nilai afektif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol sudah
mencapai kriteria ”baik”, namun antara keduanya memiliki perbedaan kuantitatif,
yaitu rata-rata nilai afektif kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan rata-rata nilai afektif kelas kontrol. Hal ini menunjukkan hasil belajar pada kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol.
4.1.2.2.2 Analisis Deskriptif Hasil Belajar Psikomotorik
Penilaian aspek psikomotorik diperoleh dari hasil observasi terhadap siswa pada saat melakukan praktikum. Ada tujuh aspek yang diobservasi pada penilaian psikomotorik pada saat praktikum, dengan kategori tiap aspek meliputi sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah (skor berturut-turut dari 4 sampai
dengan 1). Jumlah aspek dan kategori yang diobservasi untuk kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol.
4.1.2.2.2.1 Analisis Deskriptif Hasil Belajar Psikomotorik Pada Praktikum Kelas Eksperimen
Skor rata-rata psikomotorik kelas eksperimen mencapai 22,3 atau mencapai persentase skor 79,59 %, sehingga termasuk kriteria “baik”. Rata-rata skor psikomotorik masing-masing aspek dari kelas eksperimen disajikan dalam Tabel 4.9.
Tabel 4.9. Rata-Rata tiap Aspek Psikomotorik Kelas Eksperimen
No Aspek Skor
rata-rata
Kriteria
1 Persiapan praktikum 3,21 Tinggi
2 Dinamika kelompok 3,38 Tinggi
3 Keterampilan alat dan bahan praktikum 2,74 Sedang 4 Keterampilan menggunakan alat percobaan 3 Tinggi 5 Keterampilan melakukan pengamatan 3,24 Tinggi
6 Kerjasama dalam kelompok 3,38 Tinggi
7 Kegiatan akhir praktikum 3,33 Tinggi
Sumber : data yang diolah
Keterangan : data lengkap disajikan pada lampiran 32
4.1.2.2.2.2 Analisis Deskriptif Hasil Belajar Psikomotorik Pada Praktikum Kelas Kontrol
Skor rata-rata psikomotorik siswa kelas kontrol mencapai 22 atau mencapai persentase skor 78,40 %, sehingga termasuk kriteria “baik”. Rata-rata skor psikomotorik untuk masing-masing aspek dari kelas kontrol disajikan dalam Tabel 4.10.
Tabel 4.10. Rata-Rata tiap Aspek Psikomotorik Kelas Kontrol
No Aspek Skor
rata-rata
Kriteria
1 Persiapan praktikum 3,21 Tinggi
2 Dinamika kelompok 3,33 Tinggi
3 Keterampilan alat dan bahan praktikum 2,74 Sedang 4 Keterampilan menggunakan alat percobaan 2,93 Tinggi 5 Keterampilan melakukan pengamatan 3,12 Tinggi
6 Kerjasama dalam kelompok 3,29 Tinggi
7 Kegiatan akhir praktikum 3,33 Tinggi
Sumber : data yang diolah
Keterangan : data lengkap disajikan pada Lampiran 32
Dari hasil perhitungan, rata-rata nilai siswa aspek psikomotorik pada saat praktikum kelas eksperimen mencapai kriteria baik dan kelas kontrol mencapai kriteria baik. Perincian nilai psikomotorik siswa pada saat praktikum pada kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Lampiran 37 dan 38.
4.1.2.2.2.3 Analisis Angket Tanggapan Siswa terhadap Pembelajaran Kimia menggunakan metode CIRC berbasis website
Penyebaran angket dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan metode CIRC berbasis website pada materi pokok hukum-hukum dasar dan perhitungan kimia. Hasil penyebaran angket dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10. Hasil Angket Tanggapan Siswa Terhadap Pembelajaran Kimia Materi Pokok Hukum-Hukum Dasar dan Perhitungan Kimia Dengan
Metode CIRC Berbasis Website
No Pernyataan SS (%) S (%) TS (%) STS( %)
1. Saya selalu hadir di kelas selama pembelajaran
berlangsung 100 0 0 0
2. Saya memperhatikan setiap penjelasan yang
diberikan oleh guru 0 80,95 14,29 4,76
3. Saya belajar sungguh-sungguh karena saya senang dengan pelajaran kimia materi hukum-hukum dasar kimia
0 61,90 35,71 2,38 4. Saya bersemangat mengikuti pelajaran kimia
materi hukum-hukum dasar kimia 0 66,67 28,57 4,76 5. Saya berani mengungkapkan gagasan/
pendapat/ jawaban di depan kelas 0 59,52 30,59 9,52 6. Saya mengerjakan setiap tugas yang diberikan
oleh guru 0 76,19 16,67 7,14
7. Saya menyukai belajar dengan cara membuat catatan kecil dang sering berlatih mengerjakan soal
7,14 66,67 14,29 11,90 8. Setelah mengikuti pembelajaran dengan
metode CIRC berbasis website, saya lebih tertarik mengikuti pembelajaran kimia
7,14 66,67 21,43 4,76 9. Saya dapat memahami materi hukum-hukum
dasar kimia lebih mudah dengan pembelajaran menggunakan metode CIRC Berbasis website
7,14 76,19 16,67 0 10. Saya tidak mengalami kesulitan selama
mempelajari kimia materi hukum-hukum dasar kimia
7,14 71,43 16,67 4,76 11. Saya dapat mengaitkan materi hukum-hukum
setelah melakukan pembelajaran dan praktikum dan dengan bimbingan dari guru
12. Saya membantu teman apabila mengalami
kesulitan 19,05 76,19 4,76 0.00
13. Saya berdiskusi dengan teman dalam
menyelesaikan tugas 19,05 80,95 0 0.00
14. Saya menyukai sikap guru dalam mengajar
dengan metode CIRC berbasis website 28,57 69,05 2,38 0.00
Sumber : data yang diolah
Keterangan : Perhitungan lengkap pada Lampiran 31.
Berdasarkan Tabel 4.10 hasil perhitungan dapat disimpulkan siswa menyukai pembelajaran yang menggunakan metode CIRC berbasis website
dengan online siswa dapat menemukan hal baru yang belum di jumpai pada buku dan siswa juga dapat melihat simulasi-simulasi yang merupakan contoh aplikatif dari materi yang dipelajari. Hal ini dibuktikan pada hasil belajar siswa yang telah berada diatas KKM.