• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil penelitian

5.1.1 Karakteristik Responden

Dari hasil penelitian diperoleh data karakteristik responden, berdasarkan latar belakang pendidikan responden paling banyak adalah DIII keperawatan sebanyak 57 orang (89,1%). Sedangkan berdasarkan, masa kerja diperoleh data yang bekerja selama 1-5 tahun sebanyak 38 orang (59,4%). Mayoritas responden tidak pernah mengikuti pelatihan HIV/AIDS sebanyak 61 orang (95,3%). Untuk lebih jelasnya tentang karakteristik responden dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.1. Deskripsi karakteristik responden tentang Kesiapan Perawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai (n=64)

No Karakteristik Responden Frekuensi

(n) Persentase (%) 1 Tingkat pendidikan SPK AKPER Sarjana Keperawatan 3 57 4 4,7% 89,1% 6,3% 2 Lama Bekerja <1tahun 1-5 tahun 5-10 tahun >10 tahun 4 38 16 6 6,3% 59,4% 25,0% 9,4% 3 Pelatihan HIV/AIDS Pernah Tidak pernah 3 61 4,7% 95,3% 5.1.2 Kesiapan Perawat

Pada tabel 5.2. hasil analisa untuk kesiapan perawat diperoleh bahwa perawat yang memiliki kesiapan baik yaitu 45 perawat(69,77%) dan perawat yang memiliki kesiapan yang kurang baik yaitu 19 perawat (30,23%).

Tabel 5.2. Kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai (n=64)

No Variabel

Baik Kurang baik

Frekuensi (n) Persentase Frekuensi (n) Persentase 1 Kesiapan 45 69, 77 19 30,23

Pada tabel 5.3 hasil analisa untuk ketiga sub variabel kesiapan yaitu kesiapan pengetahuan, kesiapan mental dan kesiapan fisik pada perawat, diperoleh bahwa mayoritas perawat memiliki kesiapan pengetahuan yang kurang baik yaitu 33 perawat (51,6%), 47 perawat (73,4%) memiliki kesiapan mental yang baik dan 56 perawat (87,5%) memiliki kesiapan fisik yang baik.

Tabel 5.3. Kesiapan pengetahuan, mental dan fisik perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS diRSUD Kota Dumai (n=64)

No Kesiapan Perawat

Baik Tidak baik

Frekuensi (n) Persentase Frekuensi (n) Persentase 1 Kesiapan Pengetahuan 31 48,4% 33 51,6% 2 Kesiapan Mental 47 73,4% 17 26,6% 3 Kesiapan Fisik 56 87,5% 8 12,5% 5.2Pembahasan

5.2.1. Kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan

Hasil penelitian tentang kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai didapatkan hasil bahwa sebagian besar perawat (67,79%) sudah memiliki kesiapan yang baik dalam memberikan pelayanan pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai. Halini mengambarkan bahwa perawat RSUD Kota Dumai mempunyai kesiapan dalam hal mental dan fisikseperti misalnya perawat tidak mengalami kesulitan jika kontak dengan pasien HIV/AIDS (71,9%), tetapi pengetahuannya kurang seperti

tentang gejala minor HIV/AIDS (29,7%), prinsip utama Universal Precaution

memulai pekerjaan, karena dengan memiliki kesiapan pekerjaan, apapun akan dapat teratasi dan dikerjakan dengan lancar dan hasil yang baik. Kesiapan merupakan keseluruhan kondisi seseorang atau individu yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi, kondisi individu mencakup setidaknya tiga aspek yaitu kondisi fisik, mental, emosional, kebutuhan-kebutuhan, motif dan tujuan, ketrampilan dan pengetahuan.

5.2.2. Kesiapan Pengetahuan Perawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian yang telah dilakukan lebih dari setengah responden memiliki pengetahuan yang kurang baik. Yang memberikan gambaran tentang masih adanya faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan pada perawat, terkait dengan pendidikan, pengalaman kerja dan juga pelatihan di ruang rawat inap, high care dan IGD.

Seperti misalnya tingkat pendidikan perawat yang bekerja di ruang rawat inap, high care dan IGD RSUD Kota Dumai mayoritas berpendidikan DIII (89,1%), dilihat dari masa kerja sebagian besar perawat di RSUD Kota Dumai mempunyai masa kerja 1-5 tahun (59,4%), dilihat dari pelatihan yang pernah diikuti oleh perawat hanya 4,7% perawat yang pernah mengikuti pelatihan HIV/AIDS hal ini sesuai dengan pendapat Notoadmodjo (2003) bahwa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan, pengalaman, budaya, kepercayaan/agama.Notoatmodjo (2007) juga menyatakan bahwa semakin banyak sumber informasi yang didapat maka semakin tinggi tingkat pengetahuan

seseorang.Perawat di RSUD Kota Dumai harus mempunyai pengetahuan baik tentang HIV/AIDS agar dapat memberikan pelayanan menyangkut informasi atau pendidikan kesehatan tentang HIV/AIDS kepada pasien maupun kepada keluarga pasien seperti tentang gejala minor HIV/AIDS, pendiagnosaan HIV/AIDS, dan prinsip utama Universal Precaution. Sesuai dengan pernyataan Nursalam & Dian (2007) dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS perawat perlu mempunyai pemahaman yang benar mengenai AIDS dan perlu disebarluaskan.

5.2.3. Kesiapan MentalPerawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan

Di lihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa lebih dari setengah responden memiliki kesiapan mental baik. Hal ini menggambarkan bahwa perawat di RSUD Kota Dumai dalam memberikan pelayanan keperawatan padapasien HIV/AIDStidak merasa kesulitan, mau untuk kontak dan selalu bisa mendampingi pasien ketika dilakukan tindakan. Sejalan dengan pernyataan Nursalam & Dian. K (2007) dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS perawat mampu memberikan dukungan emosional, membuat pasien merasa nyaman; dihargai; dicintai dan diperhatikan. Lakukan pendampingan dan pertahankan hubungan yang sering dengan pasien sehingga pasien tidak merasa sendiri dan telantarkan. Perawat di RSUD Kota Dumai lebih dari setengah (51,6%) tidak pernah mempunyai perasaan was-was dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS. Sejalan dengan Smeltzer& Bare(2008) yang menyatakan bahwa Perawat dari segala bidang

pekerjaan dapat diminta untuk dapat memberikan perawatan kepada penderita HIV. Dalam melaksanakan perawatan, mereka bukan saja menghadapi tantangan fisik penyakit yang bersifat epidemic tetapi juga masalah emosi dan etis.

5.2.3 Kesiapan Fisik Perawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan Pada penelitian tentang kesiapan fisik didapatkan hasil perawat di RSUD Kota Dumai memiliki kesiapan fisik yang mayoritas baik seperti mencuci tangan sebelum tindakan, memakai sarung tangan jika melakukan tindakan pada pasien HIV/AIDS, meletakkan limbah tajam, mendesinfeksi dan mensterilkan alat, melakukan prosedur kerja yang jelas yang sesuai dengan standar RSUD Kota Dumai pada pasien HIV/AIDS. Hal ini sejalan dengan pernyataan menurut Yanri (2005) pencegahan umum atau dengan kata lain “kewaspadaan universal (universal precaution)” merupakan salah satu upaya pengendalian infeksi disarana pelayanan kesehatan yang telah dikembangkan oleh Departemen Kesehatan RI sejak tahun 1980-an. Penerapan pencegahan umum didasarkan pada keyakinan bahwa darah dan cairan tub uh sangat potensial menularkan penyakit baik yang berasal dari pasien maupun petugas kesehatan. Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal adalah menjaga hygiene individu, sanitasi ruangan, dan sanitasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi lima kegiatan pokok yaitu mencuci tangan, pemakaian alat pelindung diri seperti masker, kacamata pelindung, schort dan sepatu pelindung, pengelolaan alat bekas pakai, pengelolaan jarum dan benda tajam, pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

Penelitian ini juga mendapatkan hasil bahwa masih ditemukan kekurangan fasilitas universal precaution seperti kaca mata pelindung, schort

(celemek) dan sepatu pelindung. Pihak rumah sakit masih kurang dalam memberikan pengarahan tentang profilaksis pasca pajanan pada perawat di RSUD Kota Dumai salah satunya mengadakan test HIV bagi petugas kesehatan di RSUD Kota Dumai. Hal ini sejalan dengan Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (2011)yang menyatakan bahwa profilaksis pasca pajanan HIV merupakan tindakan pencegahan terhadap petugas kesehatan yang tertular HIV akibat tertusuk jarum, tercemar darah dari penderita atau mayat penderita HIV.

47 BAB 6

Dokumen terkait