SKRIPSI
Ummi Umaina 111121087
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
i PRAKATA
Segala Puji kepada Allah SWT atas segala berkat rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikanskripsi ini tepat pada waktunya
dengan judul “Kesiapan Perawat Dalam Memberikan Pelayanan Keperawatan
Pada Pasien HIV/AIDS Di RSUD Kota Dumai”.
Peneliti menyadari dalam skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik
dari isi serta bahasa yang digunakan, hal ini dikarenakan pengetahuan dan
kemampuan peneliti masih terbatas. Oleh karena itu peneliti mengharapkan kritik
dan saran pembaca yang sifatnya membangun agar penelitian ini dapat menjadi
lebih baik dikemudian hari.
Pada kesempatan ini peneliti menyampaikan rasa hormat, penghargaan
dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. dr. Dedi Ardinata, M.Kes, selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Syaiful selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Dumai
3. Yesi Ariani, S.Kep, Ns, M.Kep selaku dosen pembimbing Proposal dan Skripsi di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
4. Wardiah Daulay, S.Kep, M.Kep, selaku dosen Pembimbing Akademik di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
5. Seluruh staf dan dosen pengajar di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
ii
menjadikan motivasi dan dorongan kuat dalam menggapai kesuksesan ananda, serta sentuhan kasih sayang dan doa menjadi inspirasi yang mampu melahirkan goresan-goresan indah setiap ananda melangkah.
7. Suamiku tercinta M. Yanis, SE yang telah banyak memberikan motivasi dan dukungan serta buah hatiku Khaizuran Yaumi Zafran yang sudah memberikan perhatian dan motivasi.
8. Rekan-rekan mahasiswa jalur B ekstensi sore stambuk 2011 di Fakultas Keperawatan USU semoga kita tetap menjadi sahabat selamanya dan terima kasih atas kebersamaannya, support serta semangat yang selalu kalian berikan.
Akhir kata peneliti sekali lagi mengucapkan terimakasih bagi semua pihak yang turut membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini semoga segenap bantuan, bimbingan dan arahan yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT.
Medan, 4 February2013
iii
BAB 1. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 5
1.3.Tujuan Penelitian ... 5
1.4.Manfaat Penelitian ... 6
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian ... 8
2.2.Patofisiologi ... 8
2.3. Tanda dan Gejala ... 10
2.4. Kriteria Diagnostik HIV/AIDS ... 13
2.5. Penularan ... 15
2.6. Pencegahan Penularan HIV/AIDS ... 16
2.7. Penerapan Teknik Pencegahan ... 17
2.8. Profilaksis Pasca Pajanan ... 21
2.9. Konsep Kesiapan ... 24
BAB 3. KERANGKA PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian ... 30
3.2. Kerangka Operasional... 31
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian... 33
4.2. Populasi dan Sampel ... 33
4.3. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35
4.4. Pertimbangan Etik... 35
4.5. Instrumen Penelitian ... 36
4.6. Validitas dan Realibilitas Instrumen ... 38
4.7. Pengumpulan Data ... 39
4.8. Analisa Data ... 40
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian ... 41
5.2. Pembahasan... 43
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 48
6.2. Saran... 49
DAFTAR PUSTAKA ... 51
Lampiran-lampiran ... 54
1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden... 55
iv
3. Lembar Bukti Bimbingan... 62
4. Lembar Surat Pengambilan Data Dari Fakultas Keperawatan ... 64
5. Lembar Surat Pemberian Izin Pengambilan Data Dari Rumah Sakit 65 6. Permohonan Validitas ... 66
7. Lampiran distribusi frekuensi... 67
8. Taksasi Dana ... 68
9. Table waktu pelaksanaan ... 69
v
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Kerangka Operasional ... 31
Tabel 4.1. Teknik Pengambilan sampel ... 35
Tabel 5.1. Deskripsi Karaketristik responden ... 42
Tabel 5.2. Hasil Penelitian kesiapan perawat ... 42
vi
DAFTAR SKEMA
vii
Judul : Kesiapan Perawat dalam Memberikan Pelayanan
Keperawatan pada Pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai.
Penulis : Ummi Umaina
Nim : 111121087
Jurusan : Fakultas Ilmu Keperawatan
Tahun Akademik : 2011/2012
ABSTRAK
Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS)atau sindrom kehilangan kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV. Walaupun profesi tenaga kesehatan bukan resiko tinggi tertular HIV, namun tetap ada resiko tertular HIV, melalui kontak dengan darah, cairan tubuh pasien, tertusuk jarum suntik bekas pasien, dan bahaya-bahaya lain yang dapat menjadi media penularan penyakit. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang yang bertujuan untuk mengetahui kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai yang meliputi kesiapan pengetahuan, mental dan fisik. Sampel yang diambil adalah perawat yang bekerja diruang rawat inap dan emergency di RSUD Kota Dumai, sebanyak 64 orang dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat di RSUD Kota Dumai siap dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai sebanyak 67,79% yang terdiri dari kesiapan pengetahuan sebanyak 48,4%, kesiapan mental sebanyak 73% dan kesiapan fisik sebanyak 87,5%. Kesimpulan penelitian ini kesiapan merupakan keseluruhan kondisi seseorang atau individu yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi, kondisi individu mencakupsetidaknya pengetahuan, mental dan kondisi fisik.
vii
Judul : Kesiapan Perawat dalam Memberikan Pelayanan
Keperawatan pada Pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai.
Penulis : Ummi Umaina
Nim : 111121087
Jurusan : Fakultas Ilmu Keperawatan
Tahun Akademik : 2011/2012
ABSTRAK
Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS)atau sindrom kehilangan kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV. Walaupun profesi tenaga kesehatan bukan resiko tinggi tertular HIV, namun tetap ada resiko tertular HIV, melalui kontak dengan darah, cairan tubuh pasien, tertusuk jarum suntik bekas pasien, dan bahaya-bahaya lain yang dapat menjadi media penularan penyakit. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang yang bertujuan untuk mengetahui kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai yang meliputi kesiapan pengetahuan, mental dan fisik. Sampel yang diambil adalah perawat yang bekerja diruang rawat inap dan emergency di RSUD Kota Dumai, sebanyak 64 orang dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawat di RSUD Kota Dumai siap dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai sebanyak 67,79% yang terdiri dari kesiapan pengetahuan sebanyak 48,4%, kesiapan mental sebanyak 73% dan kesiapan fisik sebanyak 87,5%. Kesimpulan penelitian ini kesiapan merupakan keseluruhan kondisi seseorang atau individu yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi, kondisi individu mencakupsetidaknya pengetahuan, mental dan kondisi fisik.
1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Acquired immune deviciency syndrome (AIDS) ditemukan pertama kali di
Amerika Serikat pada tahun 1981, sedangkan di Indonesia kasus AIDS ditemukan
pada tahun 1987 di Bali, penderita adalah seorang wisatawan asing. HIV/AIDS
merupakan penyakit menular dengan angka kematian yang tinggi dan dapat
menjangkiti semua lapisan masyarakat mulai dari bayi sampai dewasa baik
laki-laki maupun perempuan (Murtiastutik, 2007).
AIDS sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat dengan lebih dari 500.000
orang terjangkit dan 300.000 meninggal sampai bulan oktober 1995. Di Sub
Sahara Afrika 22,4 juta orang menderita HIV/AIDS dengan kasus baru 1,9 juta
orang, di Amerika Utara, Eropa Tengah dan Eropa Barat terdapat 2,3 juta
penderita HIV/AIDS dengan kasus baru 75.000 orang dan jumlah kematian
38.000 orang. Asia merupakan wilayah penduduk terinfeksi HIV terbesar kedua di
dunia setelah sub-sahara Afrika. Di Asia terdapat 4,7 juta orang terinfeksi HIV.
Jumlah kasus baru 350.000 orang dengan 21.000 orang diantaranya adalah
anak-anak (UNAIDS, 2008).
Menurut ditjen PP dan Kemenkes RI (2011), jumlah kasus HIV di
Indonesia yang dilaporkan dari 1 januari sampai 31 desember 2011 adalah 21031
kasus, sedangkan kasus AIDS 4162 kasus. Propinsi Riau menduduki peringkat
menduduki peringkat teratas dengan kasus HIV 1007 kasus, AIDS 4162
kasus. Sementara itu jumlah pasien HIV/AIDS sekota Dumai pada tahun 2010
HIV 47 orang, AIDS 20 orang. Pada tahun 2011 terjadi peningkatan HIV 54
orang dan AIDS 19 orang (Dinkes Kota Dumai, 2011).
Menurut Djoerban (2010) walaupun profesi tenaga kesehatan bukan resiko
tinggi tertular HIV, namun tetap ada resiko tertular HIV,melalui kontak dengan
darah, cairan tubuh pasien, tertusuk jarum suntik bekas pasien, dan bahaya-bahaya
lain yang dapat menjadi media penularan penyakit. Walaupunkecil, sehingga
harus bekerja dengan hati-hati.
Di Amerika Serikat pada tahun 2001 terdapat 57 kasus tenaga kesehatan
yang terinfeksi HIV akibat resiko pekerjaan. Dari 57 kasus tersebut, 24 kasus
diantaranya (terbanyak) dialami oleh perawat (Averting HIV and AIDS, 2010).
Keadaan tak jauh berbeda dengan data di Indonesia. Walaupun belum ada data
yang pasti tentang tenaga kesehatan yang terinfeksi namun ada beberapa tenaga
kesehatan yang terpapar. Djoerban (2010) menjelaskan bahwa data tenaga medis
di RSCM yang pernah terpapar darah/cairan pasien HIV hingga tahun 2007
adalah 100 orang. Mereka terdiri dari 60 orang di RSUPN Cipto Mangunkusumo
berupa 35 orang dokter dan 25 orang perawat. Dari 60 orang ini 50 orang akibat
tertusuk, 5 tersayat, dan akibat terciprat darah sebanyak 5 orang. Lalu rujukan dari
rumah sakit lain ke RSCM sebanyak 40 orang. Mereka adalah 5 orang dokter, 10
orang perawat, umum 5 orang, serta tertusuk sebanyak 20 orang. Pada tahun 2009
terdapat 51 orang tenaga medis yang terpapar beruntungnya tidak satupun dari
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) kota Dumai merupakan sarana pelayanan kesehatan rujukan milik
pemerintah kota Dumai yang terletak di tengah-tengah kota yang mempunyai visi
“ Menjadi Rumah Sakit Terunggul Di Pantai Timur Sumatera Yang Modern
Dengan Nuansa Melayu”. Di rumah sakit ini jumlah tenaga perawat merupakan
tenaga terbanyak di antara tenaga kesehatan yang lainnya, dan sebagai ujung
tombak pelayanan keperawatan. Dengan jumlah perawat 239 orang. Rumah sakit
merupakan sarana yang sangat rentan terjadinya pemaparan HIV dari pasien ke
pekerja medisnya maupun kepada pasien lainnya. Di RSUD ini jumlah kasus
HIV/AIDS pada tahun 2010 HIV 4 kasus, AIDS 13 kasus. Pada tahun 2011 HIV
15 kasus dan AIDS 16 kasus (RSUD Kota Dumai, 2011).
Diperlukan kewaspadaan universal mencakup berbagai upaya pencegahan.
Mengingat sangat besarnya bahaya penularan AIDS, semua cairan tubuh pasien
AIDS dianggap potensial menularkan virus. Karena itu rumah sakit harus
melakukan pengawasan bangunan dan peralatan, pelaksanaan prosedur baku dan
pengadaan alat pelindung. Selain itu sarana perawatan juga merupakan situasi
yang paling beresiko memberikan pemaparan yang bisa berakibat kontaminasi.
Karenanya para petugas, perawat maupun yang lainnya diwajibkan melakukan
upaya pencegahan diantaranya dengan mencegah kontak lansung dengan darah,
cairan tubuh yang tercampur darah, jaringan dan cairan tubuh lainnya. Memakai
perangkat pengamanan seperti sarung tangan, masker, kacamata, baju, gaun dan
Perawat dari segala bidang pekerjaan dapat diminta untuk dapat
memberikan perawatan kepada penderita HIV. Dalam melaksanakan perawatan,
mereka bukan saja menghadapi tantangan fisik penyakit yang bersifat epidemic
tetapi juga masalah emosi dan etis. Kekhawatiran oleh petugas kesehatan meliputi
persoalan seperti takut tertular,pertanggung jawaban untuk memberikan
perawatan, penghargaan terhadap klarifikasi, kerahasiaan atau konfidensialitas
tahap perkembangan pasien serta orang yang merawatnya, dan prognosis penyakit
yang buruk (Smeltzer&Bare, 2008).
Banyak penderita HIV sudah terikat dalam prilaku yang terstigmatisasi
yaitu orang yang terkena HIV/AIDS dianggap pasti disebabkan prilaku yang dekat
dengan narkoba, seks bebas, amoral dan sebagainya. Karena prilaku ini dianggap
berlawanan dengan agama dan moral maka perawat memiliki keengganan
merawat pasien-pasien ini. Disamping itu petugas mungkin masih mempunyai
perasaan takut dan cemas terhadap kemungkinan tertular bila harus menangani
pasien ODHA kendati tahu bahwa HIV/AIDS hanya menular lewat hubungan
seks darah yang tercemar dan sebagainya (Haroen, 2011).
Menurut hasil penelitian Iqbal (2010) di Jogjakarta tentang Gambaran
Tingkat Pengetahuan dan Prilaku Perawat dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
pada Pasien HIV/AIDS dengan 47 responden, (48,9%) 23 responden memiliki
tingkat pengetahuan cukup dan 40 responden (85,1%) memiliki prilaku yang
cukup saat melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien HIV/AIDS.
Sementara itu penelitian Ibrahim (2007) di Garut tentang Hubungan antara
Perawat dalam Pencegahan Penularan HIV/AIDS dengan 90 responden
menunjukkan 74% perawat melaporkan pernah mengalami kecelakaan kerja
cedera benda tajam dengan jenis cedera terbanyak berupa tertusuk jarum suntik
(32,8%), diikuti tergores pecahan ampul (24,5%), dan teriris pisau (3,3%).
Kecelakaan cedera tersebut terjadi paling sering ketika menutup kembali jarum
suntik, membuka obat ampul, dan saat menusukkan jarum suntik ke botol obat.
Lebih dari 52% memiliki pengetahuan tentang pencegahan umum penularan HIV
AIDS. Berdasarkan kedua penelitian diatas peneliti menyimpulkan bahwa masih
banyak hal- hal yang menyebabkan perawat beresiko terinfeksi HIV/AIDS.
Berdasarkan fenomena diatas, dan belum ada yang meneliti tentang
kesiapan perawat maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul
Kesiapan Perawat Dalam Memberikan Pelayanan Keperawatan Pada Pasien
HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai.
1.2.Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah : Bagaimanakah kesiapan
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di
RSUD kota Dumai?
1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan
1.3.2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang penularan dan
pencegahan HIV/AIDS
b. Untuk mengetahui kesiapan mental perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS
c. Untuk mengetahui kesiapan fisik perawat dalam melaksanakan
Universal Precaution meliputi: mencuci tangan, pemakaian alat
pelindung, pengelolaan alat bekas pakai, pengelolaan jarum dan benda
tajam, pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan. Dalam rangka
memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS
1.4.Manfaat penelitian
1.4.1. Bagi pihak Rumah Sakit
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana
kesiapan perawat RSUD kota Dumai dalam memberikan pelayanan keperawatan
pada pasien HIV/AIDS dan dapat dijadikan sebagai bahan masukan kepada
perawat dan pihak Rumah Sakit agar pada saat bekerja menunjukkan sikap yang
siap baik secara fisik maupun mental atau pengetahuan sehingga dapat menjaga
mutu pelayanan keperawatan.
1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
1.4.3. Bagi Perawat
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman bagi perawat dalam
memberikan pelaya nan kesehatan khususnya RSUD Kota Dumai.
1.4.4. Bagi peneliti
Memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah
dipelajari selama mengikuti perkuliahan serta menambah pengalaman dibidang
8
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Pengertian
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom kehilangan
kekebalan tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh
manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV
(human Immunodevficiency virus) (Djoerban, 1999).Syndrome imunodefisiensi
yang didapat (AIDS, acquired immunodeficiency syndrom) diartikan sebagai
bentuk paling berat dari keadaan sakit terus-menerus yang berkaitan dengan
infeksi human immunodefiency virus (HIV) (Smeltzer&Bare, 2008).
Jadi dapat disimpulkan AIDS merupakan penyakit menular seksual yang
ditularkan oleh virus HIV yang menyerang system kekebalan tubuh.
2.2.Patofisiologi
Muma (1997); Rachimhadhi (1999) mengatakan HIV tergolong ke dalam
kelompok virus yang dikenal sebagai retrovirus yang menunjukkan bahwa virus
tersebut membawa materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA). HIV
bersifat limfotropik dan neurotropik. Setelah menginfeksi seseorang, HIV dapat
diisolasi dari limfosit (terutama limfosit T-4), limfosit B, monosit, sel glia, dan
makrofag. Virus sebenarnya bukan satu sel yang lengkap dan hanya mengandung
bahan genetic, yaitu bahan yang diperlukan untuk berkembang biak. Untuk
sendiri, dengan cara masuk kedalam sel tersebut dan selanjutnya melalui
bantuan sel itu dapat dihasilkan virus-virus baru dari jenis yang sama.
Rachimhadhi (1999) mengatakan sebelum seseorang menderita penyakit
AIDS pada umumnya selalu didahului oleh infeksi HIV. Agar dapat masuk ke
dalam sel tubuh, virus membutuhkan reseptor khusus yang dikenal dengan nama
CD4 antigen, yang hanya terdapat pada permukaan sel limfosit T-4, monosit dan
makrofag. Setelah HIV melekat ke reseptor CD4 antigen, selanjutnya HIV masuk
kedalam sel itu dengan cara endositosis. Selama berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun HIV dalam sel tersebut dalam keadaan tidak aktif. Fase ini dikenal sebagai
fase laten. Fase laten berakhir setelah virus menjadi aktif berkembang biak.
Murtiastutik (2007); Smeltzer&Bare (2008) mengatakan, Untuk
mengaktifkan HIV dalam fase produktif diperlukan faktor- faktor tertentu.
Faktor-faktor ini belum jelas benar, namun diduga apabila penderita tersebut
mendapatkan infeksi virus lain, seperti misalnya infeksi cytomegalo virus, virus
herpes simpleks, dan virus hepatitis B, maka HIV akan menjadi aktif dan
berkembang biak. Dalam proses pengaktifan virus ini sel dimana HIV bersarang,
yaitu sel limfosit T-4 dihancurkan. Akibatnya tubuh penderita akan mengalami
kehilangan banyak sel limfosit T-4 dan akibat selanjutnya ialah kelemahan dan
kerusakan kekebalan tubuhnya. Kerusakan system kekebalan tubuh penderita
akan menyebabkan penderita lebih mudah mendapat infeksi parasit, virus dan
jamur jenis tertentu, disamping mungkin pula menderita kanker jenis tertentu.
Pada infeksi HIV jumlah limfosit B normal atau malah meningkat,
lain, adanya antibody spesifik ini merupakan pertanda bahwa orang itu pernah
terpapar HIV. Immunoglobin dalam sirkulasi darah bertambah terutama IgA dan
IgB. Akibat kelainan fungsi limfosit T-4 dan karena limfosit B terinfeksi HIV,
maka fungsi limfosit B berkurang, yang akan menyebabkan respon limfosit B
terhadap antigen lain juga berkurang. Kerusakan kekebalan tubuh penderita akibat
HIV berbeda dengan penyakit infeksi lainnya yang dapat menurunkan kekebalan
tubuh dalam jangka waktu tertentu, dan setelah infeksi tersebut sembuh,
kekebalan tubuh akan kembali normal. Hal ini tidak berlaku untuk infeksi HIV
karena kerusakan tubuh yang tejadi bersifat menetap (Rachimhadhi,1999).
2.3.Tanda dan gejala
Menurut Murtiastutik (2007); Smeltzer&Bare (2008); Tengadi (1996)
tanda dan gejala HIV/AIDS dibagi menjadi 4 sub- grup yaitu gejala konstitusi,
gejala neurologis, gejala infeksi, dan gejala tumor.
1. Gejala konstitusi
Penderita mengalami paling sedikit dua gejala klinis yang menetap selama
3 bulan atau lebih. Gejala tersebut berupa :
a. Demam terus menerus lebih dari 37°C
b. Kehilangan berat badan 10% atau lebih
c. Radang kelenjer getah bening yang meliputi 2 atau lebih kelenjer getah
bening diluar daerah inguinal
d. Diare yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
2. Gejala neurologis
Stadium ini memberikan gejala neurologi yang beraneka ragam seperti
kelemahan otot, kesulitan berbicara, gangguan keseimbangan, disorientasi,
halusinansi, mudah lupa, psikosis dan dapat sampai koma (gejala radang otak)
3. Gejala infeksi
Infeksi oportunistik merupakan kondisi dimana daya tahan tubuh penderita
sudah sangat lemah sehingga tidak ada kemampuan melawan infeksi sama sekali
bahkan pathogen yang normal dalam tubuh manusia. Infeksi ditemukan antara
lain :
a. Pneumocystic carinii pneumonia (PCP)
Merupakan infeksi paling sering ditemukan pada penderita AIDS (80%).
Dengan gejala batuk-batuk, sesak nafas (dispnea), nyeri dada.
b. Tuberculosis
Penyakit ini cenderung terjadi secara dini dalam perjalanan infeksi HIV dan
biasanya mendahului diagnosis AIDS
c. Infeksi mukokutan
Herpes simplex, herpes zoster dan kandidiasis oris merupakan penyakit
paling sering ditemukan. Infeksi mukokutan yang timbul bisa satu jenis atau
4. Gejala tumor
Tumor yang paling sering menyertai penderita AIDS adalah Sarkoma
Kaposi dan limfoma maligna non- hodkin. Diantara kedua keganasan ini, yang
paling sering ditemukan adalah Sarkoma Kaposi dengan gejala berupa bercak
merah coklat, ungu atau kebiruan pada kulit yang pada awalnya hanya
berdiameter beberapa millimeter, tetapi dalam perkembangan selanjutnya
membesar sampai beberapa sentimeter.
Infeksi HIV menyebabkan suatu penyakit dengan spectrum yang luas, mulai
dari golongan penyakit tanpa gejala tetapi pemeriksaan darahnya menunjukkan
adanya infeksi HIV, sampai pada go longan AIDS yang merupakan stadium akhir
dan mematikan dari spectrum ini. Karena penyakit HIV itu mempunyai spectrum
yang luas, maka penyakit ini mulai dari awal infeksi HIV sampai stadium akhir
(Rachimhadhi, 1999).
Menurut Hudak&Gallo (1996) transmisi infeksi HIV/AIDS terdiri dari lima fase,
yaitu:
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi, tidak ada
gejala
2. Fase infeksi primer akut. Lamanya 1-2 minggu, sakit seperti flu.
3. Infeksi asimtomatik. 1-15 tahun atau lebih dengan tidak ada gejala.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun, dengan gejala demam, keringat pada
malam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan, ruam kulit,
5. AIDS lamanya bervariasi: 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS.
Didapatkan infeksi oportunistik berat dan tumor-tumor pada setiap system
tubuh, manifestasi neurologic.
2.4.Kriteria Diagnostik HIV/AIDS.
Nursalam dan Dian. K (2007) mengatakan WHO mengklasifikasikan
HIV/AIDS menjadi klasifikasi laboratorium dan klinis.
a) Klasifikasi laboratorium
Limfosit CD4+/
b) Klasifikasi klinis
Pada beberapa negara, pemeriksaan limfosit CD4+ tidak tersedia.
Dalam hal ini pasien bisa didiagnosis berdasarkan gejala klinis, yaitu
berdasarkan tanda dan gejala mayor dan minor. Dua gejala mayor
ditambah dua gejala minor didefenisikan sebagai HIV simptomatik.
Gejala Mayor :
• Penurunan berat badan = 10%
• Diare kronis
• Tuberculosis
Gejala Minor :
• Kandidiasis orofaringeal
• Batuk menetap lebih dari satu bulan
• Kelemahan tubuh
• Berkeringat malam
• Hilang nafsu makan
• Infeksi kulit generalisata
• Limfadenopati generalisata
• Herpes zoster
• Infeksi Herpes simplex kronis
• Pneumonia
• Sarcoma Kaposi
Diagnosis HIV pada anak
Nursalam dan Dian. K (2007) mengatakan bayi yang tertular dari ibu bisa
saja tampak normal secara klinis selama periode neonatal. Gejala umum yang
ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang,
kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali. Untuk pemeriksaan PCR
(polymerase chain reaction), bayi harus dilakukan pengambilan sampel darah
untuk tes PCR pada dua saat yang berlainan. DNA PCR pertama diambil saat bayi
berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitif selama periode 1 bulan setelah lahir.
pemeriksaan DNA PCR setidaknya diulang pada saat bayi berusia empat bulan.
Jika tes ini negatif, maka bayi tidak terinfeksi HIV. Tetapi bila bayi tersebut
mendapatkan ASI maka bayi beresiko tertular HIV sehingga tes PCR perlu
diulang setelah bayi disapih. Pada usia 18 bulan, pemeriksaan ELISA bisa
dilakukan pada bayi bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lain.
2.5.Penularan
Isselbacher (2000); Murtiastutik (2007) mengatakan, HIV ditularkan
melalui kontak seksual, homoseksual dan heteroseksual; melalui darah atau
produk darah; dan oleh ibu yang terinfeksi kepada bayinya intrapartum, secara
perinatal, atau melalui air susu ibu. Sampai dekade kedua epidemic, tidak terdapat
bukti bahwa HIV ditularkan melalui kontak biasa atau bahwa vir us dapat
disebarkan oleh serangga misalnya gigitan nyamuk.
a. Penularan seksual. Kontak seksual adalah cara utama penularan diseluruh
dunia. Walaupun penularan melalui kontak homoseksual merupakan cara
tersering penularan seksual di Amerika, diseluruh dunia penularan
heteroseksual merupakan cara penularan tersering, terutama di negara- negara
yang sedang berkembang.
b. Penularan juga terjadi dari ibu keanak. Kebanyakan infeksi HIV pada anak
didapat dari ibunya saat ia dikandung, dilahirkan dan sesudah lahir. Penularan
HIV juga bisa terjadi melalui pemberian ASI. Dalam hal ini dianjurkan bagi
wanita HIV positif untuk tidak menyusui bayinya dan menggantikan dengan
c. Disamping itu kontak dengan darah atau sekret yang infeksius terjadi melalui
tranfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan virus HIV.
Penularan lainnya dapat terjadi melalui jarum suntik atau alat kesehatan
lainnya yang ditusukkan atau tertusuk kedalam tubuh yang terkontaminasi
dengan virus HIV, seperti jarum tato atau pada pengguna narkotik suntik
secara bergantian. Hal ini bisa juga terjadi ketika melakukan prosedur
tindakan medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja (tidak sengaja) bagi
petugas kesehatan. Penularan juga dapat terjadi melalui transplantasi organ
pengidap HIV.
2.6.Pencegahan Penularan HIV/AIDS
Dengan memahami cara penularan HIV, maka akan lebih mudah
melakukan langkah- langkah pencegahannya. Menurut UNAIDS (2006) secara
mudah pencegahan HIV dapat dilakukan dengan rumusan ABCD yaitu:
A = Abstinence, tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
B = Being faithful, setia pada satu pasangan, atau menghindari berganti-ganti
pasangan seksual.
C = Condom, bagi yang beresiko dianjurkan selalu menggunakan kondom secara
benar selama berhubungan seksual.
D= Drugs injection, jangan menggunakan obat (narkotika) suntik dengan jarum
tidak steril atau digunakan secara bergantian.
Dengan semakin meningkatnya kasus HIV/AIDS diperlukan kesiapan para
HIV/AIDS. Disisi lain, dengan kemajuan ilmu dan teknologi dibidang kesehatan,
HIV/AIDS yang tadinya merupakan penyakit progresif yang mematikan bergeser
menjadi penyakit kronis yang bisa dikelola. Meskipun belum ditemukan obat
yang bisa membunuh virus secara tuntas, dengan ditemukannya obat
antiretroviral, para penderita HIV/AIDS bisa lebih meningkat usia harapan
hidupnya. Hal ini tentunya harus didukung oleh upaya perawatan yang adekuat
agar tercapai kualitas hidup yang optimal (Djoerban, 1999).
2.7.Penerapan tehnik pencegahan umum dipelayanan kesehatan dalam mencegah resiko penularan HIV/AIDS
Menurut Yanri (2005) pencegahan umum atau dengan kata lain
“kewaspadaan universal (universal precaution)” merupakan salah satu upaya
pengendalian infeksi disarana pelayanan kesehatan yang telah dikembangkan oleh
Departemen Kesehatan RI sejak tahun 1980-an. Penerapan pencegahan umum
didasarkan pada keyakinan bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial
menularkan penyakit baik yang berasal dari pasien maupun petugas kesehatan.
Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal adalah menjaga hygiene individu,
sanitasi ruangan, dan sanitasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan
menjadi lima kegiatan pokok yaitu:
1) Cuci tangan untuk mencegah infeksi silang.
Cuci tangan yang dilakukan secara benar dapat menghilangkan
mikroorganisme yang menempel di tangan. Cuci tangan harus dilakukan sebelum
menyentuh darah, cairan tubuh, atau ekskresi pasien. Tiga cara cuci tangan
dilaksanakan sesuai kebutuhan yaitu cuci tangan hygienis atau rutin untuk
menghilangkan kotoran dengan menggunakan sabun atau deterjen, cuci tangan
aseptic yang dilakukan sebelum melakukan tindakan aseptic ke pasien, cuci
tangan ini dilakukan dengan menggunakan zat antiseptic, dan cuci tangan bedah
yang dilakukan sebelum melakukan tindakan bedah cara aseptic. Sarana yang
perlu dipersiapkan untuk melakukan cuci tangan adalah air mengalir, sabun dan
deterjen, larutan antiseptic, dan pengering dari mulai handuk/lap bersih, kain lap
atau handuk steril sampai alat pengering tangan (hand drier).
2) Pemakaian alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, kaca mata, barak
short dan sepatu pelindung.
Tidak semua alat pelindung diri harus dipakai pada waktu bersamaan,
tergantung pada jenis tindakan yang akan dikerjakan. Misalnya ketika akan
menolong persalinan sebaiknya semua pelindung diri dipakai untuk mengurangi
kemungkinan terpajan darah/cairan tubuh pada petugas, namun untuk tindakan
menyuntik atau memasang infus, cukup dengan memakai sarung tangan.
3) Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai.
Pengelolaan alat-alat kesehatan bekas pakai ini bertujuan untuk mencegah
penyebaran infeksi melalui alat kesehatan, atau untuk menjamin bahwa alat-alat
tersebut dalam kondisi steril dan siap digunakan. Semua alat yang akan
dimasukkan ke dalam jaringan bawah kulit pasien harus dalam keadaan steril.
Proses pengelolaan alat-alat kesehatan ini dilakukan melalui empat tahap kegiatan
a. Dekontaminasi, yaitu menghilangkan mikroorganisme pathogen dan kotoran
dari suatu benda sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya. Cara
dekontaminasi yang lazim dilakukan adalah dengan merendam alat kesehatan
dalam larutan desinfektan misalnya klorin 0,5% selama 10 menit.
b. Pencucian, dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang kasat mata dengan
cara mencuci dengan air, sabun/deterjen, dan sikat.
c. Sterilisasi, yaitu proses menghilangkan seluruh mikroorganisme termasuk
endosporanya dari alat kesehatan. Cara sterilisasi yang sering dilakukan
adalah dengan uap panas bertekanan, pemanasan kering, gas etilin oksida, dan
zat kimia cair. Dengan kata lain, penggolongan cara sterilisasi juga dapat
dikategorikan cara fisik seperti pemanasan, radiasi, filtrasi, dan cara kimiawi
dengan menggunakan zat kimia.
d. Penyimpanan, penyimpanan yang baik sama pentingnya dengan proses
sterilisasi atau desinfeksi itu sendiri. Ada dua metoda penyimpanan yaitu cara
terbungkus dan tidak terbungkus.
4) Pengelolaan jarum dan benda tajam untuk mencegah perlukaan
Jarum suntik sebaiknya digunakan sekali pakai dan jarum bekas atau
benda tajam lainnya dibuang ke tempat khusus (safety box) yang memiliki dinding
keras atau tidak tembus oleh jarum atau benda tajam yang dibuang ke dalamnya.
Kecelakaan yang sering terjadi pada prosedur penyuntikan adalah ketika petugas
berusaha memasukkan kembali jarum suntik bekas pakai ke dalam tutupnya
(recapping). Oleh karenanya menurut rekomendasi teknik kewaspadaan universal
tidak perlu dilakukan, jadi jarum suntik bersama syringnya lansung saja dibuang
ke kotak khusus. Jika sangat diperlukan untuk menutup kembali, misalnya karena
masih ada sisa obat yang bisa digunakan, maka penutupan jarum suntik kembali
dianjurkan dengan menggunakan teknik satu tangan (single handed recapping
method).
5) Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan
Secara umum limbah dapat dibedakan menjadi limbah cair dan limbah
padat, namun lebih khusus lagi limbah yang berasal dari rumah sakit dibedakan
menjadi:
a. Limbah rumah tangga atau limbah non medis
b. Limbah medis terdiri dari limbah klinis, laboratorium
c. Limbah berbahaya yaitu limbah kimia yang mempunyai sifat beracun
misalnya senyawa radioaktif dan bahan sitotoksik.
Cara penanganan limbah di sarana pelayanan kesehatan harus dimulai dari
tempat sampah diproduksi dengan cara :
a. Pemilahan, dilakukan dengan menyediakan wadah yang sesuai dengan jenis
sampah, misalnya hitam untuk limbah non medis, kuning untuk limbah medis
infectious, dan merah untuk bahan beracun, dan seterusnya.
b. Semua jenis limbah ditampung dalam wadah berupa kantong palstik yang
kedap air.
c. Bila sudah terisi 2/3 volume kantong sampah, kantong sampah harus diikat
d. Pengumpulan sampah dari ruang perawatan atau pengobatan harus tetap pada
wadahnya jangan dituangkan pada gerobak terbuka.
e. Petugas yang menangani sampah harus selalu menggunakan sarung tangan
dan sepatu serta selalu mencuci tangan selesai mengambil sampah.
f. Sampah dari tempat penampungan sementara diangkut ke tempat
pemusnahan. System pemusnahan yang dianjurkan adalah dengan pembakaran
(insenerasi) pada suhu tinggi (>1200°C).
2.8.Profilaksis Pasca Pajanan HIV (PPP)
Menurut Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (2011) profilaksis pasca
pajanan HIV merupakan tindakan pencegahan terhadap petugas kesehatan yang
tertular HIV akibat tertusuk jarum, tercemar darah dari penderita atau mayat
penderita HIV.
1. Faktor yang mempengaruhi profilaksis pasca pajanan HIV yaitu jumlah dan
jenis cairan yang mengenai, dalamnya tusukan/luka, dan tempat
perlukaan/paparan
2. Indikasi pemberian PPP
a. Tertusuk/luka superficial yang merusak kulit oleh jarum yang telah
terpapar sumber dengan HIV yang asimptomatik. Membran mukosa
terpapar oleh darah terinfeksi dalam jumlah banyak, dari sumber HIV yang
asimtomatik (tergantung dari banyak tidaknya volume tetesan)
b. Membran mukosa terpapar darah yang terinfeksi HIV dalam jumlah sedikit,
c. Terpapar dengan orang HIV yang asimtomatik lewat tusukan yang dalam
jarum berlubang yang berukuran besar.
d. Luka tusukan jarum dengan darah yang terlihat dipermukaan jarum
e. Luka tusukan jarum yang telah digunakan untuk mengambil darah arteri
atau vena pasien
f. Luka tusuk dari jenis jarum apapun yang telah digunakan pada sumber
dengan HIV yang asimtomatik
g. Membran mukosa yang terpapar oleh darah yang terinfeksi HIV dalam
jumlah yang banyak dari sumber HIV yang simtomatik.
h. Tusukan jarum dengan tipe jarum apapun dan berbagai derajat paparan dari
sumber dengan status HIV tidak diketahui tetapi memiliki faktor resiko
HIV
i. Tusukan jarum dengan tipe jarum apapun dan berbagai derajat paparan dari
sunber yang tidak diketahui status HIV dan tidak diketahui faktor resikonya
namun dianggap sebagai sumber HIV
j. Membran mukosa yang terpapar darah dalam jumlah berapapun dari
sumber yang tidak diketahui status HIV tetapi memiliki faktor resiko HIV
k. Membran mukosa yang terpapar darah dalam jumlah berapa pun dari
sumber yang tidak diketahui statusnya HIVnya, namun sumber tersebut
dianggap sebagai sumber HIV
3. Penatalaksanaan Pasca Pajanan
a. Keputusan pemberian ARV harus segera diambil dan ARV diberikan < 4
b. Penanganan luka
c. Beri Informed consent
d. Lakukan test HIV
e. Pemberian ARV profilaksis
f. Penanganan tempat paparan/luka : segera
1) Luka tusuk : bilas air mengalir dan sabun/antiseptic
2) Pajanan mukosa mulut : ludahkan dan kumur
3) Pajanan mukosa mata : irigasi dengan air/garam fisiologis
4) Pajanan mukosa hidung : hembuskan keluar dan bersihkan dengan air,
jangan dihisap dengan mulut, jangan ditelan.
Desinfeksi luka dan daerah sekitar kulit dengan salah satu :
1) Betadine (povidon iodine 2,5%) selama 5 menit
2) Alcohol 70% selama 3 menit
a. Pelaporan terjadinya paparan. Rincian waktu, tempat, paparan dan
konseling serta manajemen pasca paparan
b. Evaluasi dan resiko transmisi
c. Konseling berupa resiko transmisi, pencegahan transmisi sekunder, tidak
boleh hamil dan sebagainya.
d. Pertimbangan pemakaian terapi profilaksis pasca paparan
4. Pengobatan
Penggunaan ART dilakukan sesegera mungkin setelah terpapar cairan atau
bahan yang mengandung HIV dengan mempertimbangkan resiko (drug
toxicity) dan manfaat pemakaian ART tersebut.
1) Diberikan selama 1 bulan
2) Diberikan ha nya hasil test HIV negative
3) Diberikan 4 jam setelah paparan maksimal 48 jam setelah paparan
4) Rejimen yang digunakan adalah :
a) AZT/TDF + 3TC + EFV
b) AZT/TDF + 3TC + Lop/r
c) AZT + 3TC
5. Pemantauan
Tes antibody dilakukan pada minggu ke-6, minggu ke -12, dan bulan ke 6.
Dapat diperpanjang sampai bulan ke 12.
2.9.Konsep kesiapan
Menurut Slameto (1995), kesiapan sangat penting untuk memulai pekerjaan,
karena dengan memiliki kesiapan pekerjaan, apapun akan dapat teratasi dan
dikerjakan dengan lancar dan hasil yang baik. Kesiapan merupakan keseluruhan
kondisi seseorang atau individu yang membuatnya siap untuk memberikan respon
atau jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi, kondisi individu
a. Kondisi fisik, mental dan emosional
b. Kebutuhan-kebutuhan, motif dan tujuan
c. Ketrampilan dan pengetahuan
2.9.1. Konsep pengetahuan
Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan
pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk
manusia dan kehidupannya (Keraf; Dua, 2001). Baik secara perorangan atau
bersama, ternyata pengetahuan berlansung dalam dua bentuk dasar yang berbeda.
Bentuk pertama adalah pengetahuan hanya untuk memenuhi kepuasan hati
manusia. Bentuk yang kedua adalah pengetahuan untuk digunakan dan
diterapkan, misalnya untuk melindungi dan membela diri, memperbaiki tempat
tinggal, mempermudah pekerjaannya, memperlancar hubungan dengan orang lain,
mencegah bencana, meningkatkan kesehatan, dan lain sebagainya (Verhaak &
Iman, 1991).
Menurut Notoatmojo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu
akibat proses penginderaan terhadap suatu objek. Penginderaan tersebut terjadi
sebagian besar dari penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan dalam kognitif
mempunyai enam tingkatan yaitu: mengetahui (know), memahami
(comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (syntesis),dan
evaluasi (evaluation).
Tingkat pertama adalah mengetahui (know) yaitu tingkatan pengetahuan
yang paling rendah, pada tahap ini tahu diartikan sebagai mengingat materi yang
kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan
menginterpretasikan materi secara benar. Ketiga, aplikasi (application) yaitu
kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi nyata.
Keempat, analisis (analysis) yang diartikan sebagai menguraikan materi kedalam
komponen-komponen yang berkaitan satu dengan lainnya. Tingkatan kelima
adalah sintesis (syhthesis) yaitu kemampuan menyimpulkan materi sebagai suatu
bentuk keseluruhan yang baru. Tingkatan tertinggi yaitu evaluasi (evaluation)
yang berkaitan dengan kemampuan.
Menurut Nursalam dan Dian. K (2007) dalam memberikan pelayanan
keperawatan pada pasien HIV/AIDS perawat perlu mempunyai pemahaman yang
benar mengenai AIDS dan perlu disebarluaskan.Kenyataan bahwa dalam era obat
antiretroviral, AIDS sudah menjadi penyakit kronik yang dapat dikendalikan juga
perlu dimasyarakatkan karena konsep tersebut dapat memberi harapan pada
masyarakat dan penderita HIV/AIDS bahwa penderita AIDS dapat menikmati
kualitas hidup yang lebih baik dan berfungsi di masyarakat.Upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan memberikan konseling, edukasi yang benar tentang
HIV/AIDS baik pada penderita, keluarga dan masyarakat. Sehingga penderita,
keluarga maupun masyarakat dapat menerima kondisinya dengan sikap yang
benar dan memberikan dukungan kepada penderita.
Menurut Notoadmodjo (2003) bahwa faktor yang dapat mempengaruhi
pengetahuan adalah pendidikan, pengalaman, budaya, kepercayaan/agama. Dan
akan semakin tinggi daya serapnya terhadap informasi yang didapatkannya,
sehingga tingkat pengetahuannya semakin tinggi.
2.9.2. Konsep kesiapan mental
Seorang perawat dalam melaksanakan tugasnya selalu berhubungan
dengan penderita, keluarga, teman seprofesi, dan profesi lain yang memiliki
kepribadian bermacam- macam dan unik. Oleh karena itu, seorang perawat
hendaknya dapat memahami kepribadian pasien, keluarga pasien, teman sejawat,
penyelia, instruktur. Disamping itu seorang perawat hendaknya dapat memahami
perbedaan kepribadian yang ia miliki dan menyadari ciri-ciri yang khas yang ia
miliki agar dapat membantu memudahkan berinteraksi secara positif dengan
orang lain (Sunaryo, 2004).
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS
perawat mampu memberikan dukungan emosional, membuat pasien merasa
nyaman; dihargai; dicintai dan diperhatikan.Peran seorang perawat dalam
mengurangi beban psikis seorang penderita AIDS sangatlah besar. Lakukan
pendampingan dan pertahankan hubungan yang sering dengan pasien sehingga
pasien tidak merasa sendiri dan ditelantarkan. Tunjukkan rasa menghargai dan
menerima orang tersebut. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
Aspek spiritual juga merupakan salah satu aspek yang tidak boleh dilupakan
perawat (Nursalam & Dian 2007).
Mengingat beban psikososial yang dirasakan penderita AIDS akibat
stigma negatif dan diskriminasi masyarakat adakalanya sangat berat, perawat
perlu mengidentifikasi adakah sistem pendukung yang tersedia bagi pasien.
hubungan telepon dan aktivitas sosial dalam tingkat yang memungkinkan bagi
pasien. Partisipasi orang lain, bantuan dari orang terdekat dapat mengurangi
perasaan kesepian dan ditolak yang dirasakan oleh pasien. Perawat juga perlu
melakukan pendampingan pada keluarga sehingga keluarga dapat berespons dan
memberi dukungan bagi penderita.
Dalam memberikan perawatan mereka bukan saja menghadapi tantangan
fisik tetapi juga muncul kekhawatiran, yang dikemukakan oleh para profesional
kesehatan meliputi persoalan seperti perasaan takut tertular. Penderita yang sudah
terikat dengan prilaku yang terstigmatisasi yang berlawanan dengan nilai agama,
moral, perawat dapat memiliki keengganan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien ini. Disamping itu para petugas masih mempunyai
perasaan takut dan cemas terhadap kemungkinan tertular penyakit tersebut kendati
mereka sudah diberikan penyuluhan tentang pengendalian infeksi, perawat
dianjurkan untuk memeriksa kepercayaan dirinya dan menggunakan proses
klarifikasi nilai untuk mendekati persoalan yang kontroversial (Smeltzer & Bare,
2002).
2.9.3. Konsep kesiapan Fisik
Petugas kesehatan sangat beresiko terpapar bahan infeksius termasuk virus
HIV, paparan yang sering terjadi biasanya berupa tusukan jarum atau tusukan
benda tajam lainnya, kontak mukosa atau kulit yang tidak utuh dengan darah,
jaringan atau cairan tubuh yang telah terkontaminasi virus HIV. Pencegahan
terhadap paparan tersebut yaitu dengan menerapkan standar universal precaution
29 BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
3.1.Kerangka Penelitian
Kerangka penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara
konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang
akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005). Syarat kerangka penelitian adalah harus
didasarkan pada teori yang ada, adanya hubungan antara variabel, dan berupa
gambar atau diagram. Kerangka penelitian ini akan membantu peneliti dalam
menghubungkan hasil penemuan dengan teori (Nursalam, 2008). Dan kerangka
penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesiapan perawat dalam
memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota
Dumai.
Adapun kerangka penelitian yang digunakan pada penelitian yang
berjudul kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan HIV/AIDS
di RSUD Dumai sebagai berikut :
Skema 1. Kerangka Penelitian Kesiapan perawat dalam
memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS:
a. Pengetahuan
b. Mental
3.2.Kerangka Operasional
Kerangka Operasional Kesiapan Perawat dalam Memberikan Pelayanan
Keperawatan Pada Pasien HIV/AIDS
Tabel3.1. Kerangka Operasional
Variabel Defenisi
yang diketahui
32 BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk
mengetahui Kesiapan Perawat dalam Memberikan Pelayanan Keperawatan Pada
Pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai.
4.2Populasi dan Sampel 4.2.1 Populasi
Perawat yang bekerja di RSUD Kota Dumai di ruang rawat inapdan IGD
yang berjumlah 173 orang.
4.2.2 Sampel
Pada penelitian ini pengambilan sampel menggunakan metode Simple
Random Sampling setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan
yang sama untuk diseleksi sebagai sampel (Notoadmojo, 2005). Penelitian ini
dilakukan pada perawat pelaksana yang bekerja di ruang rawat inap dan IGD,
dengan jumlah sampel sebanyak 64 orang.
Perhitungan besar sampel ditetapkan dengan menggunakan rumus Notoadmojo
n= N 1+ N (d²)
Keterangan :
N = Besar populasi
N = Besar sampel
d = tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan
n= 173
1 + 173 (0,1²)
n= 173
1 + 173 (0,01) n= 63,3
Berdasarkan perhitungan di atas, maka sampel yang digunakan adalah
sebanyak 64 orang.
Pengambilan sampel dari tiap unit ditentukan dengan menggunakan rumus
Isgiyanto (2009) :
n1 = N1 x n
N Keterangan :
n1 = Besar sampel yang harus diambil dari 1 unit
Tabel 4.1
Tehnik Pengambilan Sampel dari Tiap-Tiap Ruangan
NO Ruangan Populasi Sampel
Sampel diambil dari tiap unit dengan teknik lottery technique. Sampel yang
diambil mempunyai beberapa ketetapan dan kriteria yang ditetapkan yaitu,
perawat, bekerja di RSUD kota Dumai dirawat inap IGD dan bersedia menjadi
responden.
4.3Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Pengambilan data dilakukan di RSUD Kota Dumai pada bulan November
2012. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi penelitian ini karena rumah sakit
tersebut merupakan rumah sakit tipe B, rumah sakit pendidikan dan sampel
penelitian jumlahnya tersedia.
4.4Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah institusi pendidikan mengirimkan surat
persetujuan untuk dilakukan penelitian disampaikan kepada Direktur RSUD Kota
Dumai dan pihak Direktur menyetujui penelitian tersebut dan memberikan
balasannya kembali ke Instans i Pendidikan. Peneliti menyerahkan langsung
lembar persetujuan kepada responden, kemudian peneliti menjelaskan maksud,
tujuan dan prosedur penelitian. Jika responden bersedia diteliti maka diminta
Jika responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap
menghormati hak responden. Kerahasiaan catatan mengenai responden dijamin
dengan menggunakan inisial responden atau memberi kode pada masing- masing
lembar kuesioner dan menyimpan instrumen penelitian selesai digunakan untuk
kepentingan peneliti.
4.5Instrument Penelitian
Dalam pengumpulan informasi dari responden, peneliti menggunakan alat
pengumpulan data dalam bentuk kuesioner. Data lembar kuesioner berisi data
demografi dan data quesione r tentang kesiapan Perawat.
4.5.1 Kuisioner Demografi
Kuesioner data demografi pasien yang meliputi umur, jenis kelamin,
pendidikan, masa kerja, pengalaman mengikuti pelatihan HIV/AIDS. Data
demografi ini digunakan untuk mengetahui karakteristik responden dan sebagai
pendukung untuk variabel penelitian.
4.5.2 Kuisioner Kesiapan Perawat
Data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data
yang dilakukan dengan kuesioner yang akan dibagikan, kemudian lemb aran
kuesioner dibagi kepada perawat di RSUD kota Dumai untuk diisi dan dijawab
sesuai dengan pertanyaan yang terdapat pada lembaran kuesioner yang berisi
tentang kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien
HIV/AIDS. Jumlah pertanyaan tersebut sebanyak 32 pertanyaan, diantaranya
1-11 berisi tentang pengetahuan perawat tentang HIV AIDS, 12-21 berisi tentang
HIV/AIDS dan 22-32 berisi tentang kesiapan fisik perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS. Untuk kesiapan pengetahuan
terdiri dari pertanyaan pilihan berganda jika jawaban benar nilainya 1 jika salah
nilainya 0. Pilihan berganda terdiri dari 11 pertanyaan yaitu pada nomor 1-11.
Untuk kesiapan mental dan fisik terdiri dari pernyataan positif dan negatif.
Pada pertanyaan positif apabila responden menjawab selalu nilai nya 4, sering
nilai nya 3, kadang-kadang 2, tidak pernah 1, pada pertanyaan negatif apabila
responden menjawab selalu nilai nya 1, sering nilai nya 2, kadang-kadang nilai
nya 3 dan tidak pernah nila nya 4. Pernyataan positif terdiri dari 13 pernyataan
terdapat pada nomor 12, 14, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 31, 32 dan
pernyataan negatif terdiri dari 7 pernyataan terdapat pada nomor 13, 15, 16, 17,
18, 19, 29.
Dalam penelitian ini indikator yang digunakan dalam mengkaji kesiapan
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan yang terdiri dari tiga sub
variabel yaitu kesiapan pengetahuan, mental dan fisik dikategorikan atas 2 kelas
interval yaitu baik (47-95) dan kurang baik (0-47). Untuk kuisioner tentang
kesiapan pengetahuan menggunakan pilihan berganda nilai terendah yang
mungkin diperoleh oleh setiap responden adalah 0 dan nilai tertinggi 11.
Berdasarkanrumus statistika P = rentang dibagi dengan banyak kelas (menurut
sudjana, 1992). Dimana p merupakan panjang kelas, dengan rent ang (nilai
tertinggi dikurang dengan nilai terendah) sebesar 11 (11-0) dan dibagi atas 2
kategori kelas yaitu baik (6-11) dan kurang baik (0-5). Untuk kuisioner kesiapan
responden adalah 10 dan nilai tertinggi adalah 40. Rentang kelas sebesar 30
(40-10) dan banyak kelas yang diinginkan 2 yaitu, baik (25-40), kurang baik (10-24).
Untuk kuisioner kesiapan fisik terdiri dari 11 pernyataan dengan nilai terendah
yang diperoleh dari setiap responden adalah 11 dan nilai tertinggi adalah 44
rentang kelas sebesar 30 (44-11). Dan banyak kelas yang diinginkan 2 yaitu, baik
(28-44), kurang baik (11-27). Untuk mengukur kesiapan perawat secara
keseluruhan terdiri dari 2 kelas yang di inginkan baik (total kesiapan baik dibagi
tiga) dan kurang baik (total kesiapan kurang baik dibagi tiga).
4.6Validitas dan Reliabilitas instrumen 4.6.1 Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu
benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoadmojo, 2005). Sebuah instrumen
dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat
mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya
validitas menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari
gambaran tentang yang dikumpulkan (Arikunto, 2002). Untuk kuisioner kesiapan
perawat uji validitas ini menggunakan validitas isi. Validitas isi merupakan
sebuah instrument pengukuran yang mengukur sampai sejauh mana instrumen
tersebut dapat mewakili faktor yang diteliti. Beberapa ahli yang menguasai topik
studi tersebut kemudian diminta untuk menguji setiap poin dan untuk menilai
seberapa jauh poin dan instrumen keseluruhan mewakili area isi yang tadi sudah
ditetapkan (Dempsey, dkk, 2002). Dalam penelitian ini dilakukan uji validitas isi
4.6.2 Uji Reliabilitas
Demsey, P. (2002) menjelaskan Uji reliabilitas merupakan indeks yang
menunjukkan sejauh mana instrument cukup dapat dipercaya untuk dapat
digunakan sebagai alat pengumpulan data. Dalam penelitian ini digunakan uji
reliabilitas internal yang diperoleh dengan cara menganalisis konsistensi
butir-butir yang ada pada instrument dengan teknik tertentu. Untuk kuisioner kesiapan
perawat pelaksanaan uji reliabilitas dilakukan dengan teknik Cronbach Alpa
dengan menggunakan program komputerisasi, pada 30 orang perawat di RSUD
Arifin Achmad Pekanbaru dengan hasil 0, 818. Dari hasil analisis Cronbach Alpa
tersebut dinyatakan bahwa kuisioner penelitian ini telah memenuhi nilai reliable,
karena berdasarkan tabel taraf significant yang reliabel diperlukan 0, 463 (Aziz.
A, 2009).
4.7 Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara peneliti mengajukan
permohonan izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan (Fakultas
Keperawatan USU), mengirim surat ijin dari permohonan izin institusi
pendidikan ketempat penelitian (RSUD Kota Dumai), peneliti hadir di RSUD
Kota Dumai untuk bertemu responden sesuai dengan kriteria yang telah dibuat
sebelumnya, memberikan lembar persetujuan menjadi responden dan melakukan
observasi, menjelaskan kepada calon responden tentang prosedur yang dilakukan
dan manfaat penelitian, peneliti membagi kuesioner dan meminta responden
untuk mena ndatangani lembar persetujuan menjadi responden dan mengikuti
dimulai dengan waktu 15 menit, setelah dibagi dikumpulkan dan diperiksa, data
yang tidak lengkap dilengkapi saat itu juga.
4.8 Analisa Data
Data yang telah terkumpul diolah dan ditabulasi dengan langkah – langkah
yaitu memeriksa kembali semua kuisioner yang telah diisi oleh responden, dengan
maksud untuk memeriksa apakah setiap kuisioner telah diisi sesuai dengan
petunjuk (editing). Memberikan kode tertentu pada kuisioner yang telah diajukan
untuk mempermudah sewaktu mengadakan tabulasi dan analisa data (coding).
Untuk mempermudah analisa data, pengolahan dan pengambilan kesimpulan
melakukan tabulasi (tabulating). Setelah data terkumpul, maka analisa data
dilakukan melalui pengo lahan dan secara komputerisasi. Disajikandalam bentuk
tabel distribusi frekuensi untuk melihat kesiapan perawat dalam memberikan
40 BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai
kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien
HIV/AIDS di RSUD kota Dumai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
November 2012. Dengan jumlah responden sebanyak 64 orang perawat di RSUD
kota Dumai. Hasil penelitian ini diuraikan dalam empat bagian yaitu: karakteristik
responden, kesiapan pengetahuan, kesiapan mental dan kesiapan fisik perawat
dalam memberikan pelayanan keperawatan di RSUD kota Dumai.
5.1Hasil penelitian
5.1.1 Karakteristik Responden
Dari hasil penelitian diperoleh data karakteristik responden, berdasarkan
latar belakang pendidikan responden paling banyak adalah DIII keperawatan
sebanyak 57 orang (89,1%). Sedangkan berdasarkan, masa kerja diperoleh data
yang bekerja selama 1-5 tahun sebanyak 38 orang (59,4%). Mayoritas responden
tidak pernah mengikuti pelatihan HIV/AIDS sebanyak 61 orang (95,3%). Untuk
lebih jelasnya tentang karakteristik responden dapat dilihat pada tabel dibawah
Tabel 5.1. Deskripsi karakteristik responden tentang Kesiapan Perawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai (n=64)
No Karakteristik Responden Frekuensi
(n)
Persentase (%)
1 Tingkat pendidikan
SPK AKPER
Sarjana Keperawatan
3
3 Pelatihan HIV/AIDS
Pernah
5.1.2 Kesiapan Perawat
Pada tabel 5.2. hasil analisa untuk kesiapan perawat diperoleh bahwa
perawat yang memiliki kesiapan baik yaitu 45 perawat(69,77%) dan
perawat yang memiliki kesiapan yang kurang baik yaitu 19 perawat
(30,23%).
Tabel 5.2. Kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai (n=64)
No Variabel
Baik Kurang baik
Frekuensi (n)
Persentase Frekuensi (n)
Persentase
Pada tabel 5.3 hasil analisa untuk ketiga sub variabel kesiapan yaitu
kesiapan pengetahuan, kesiapan mental dan kesiapan fisik pada perawat,
diperoleh bahwa mayoritas perawat memiliki kesiapan pengetahuan yang
kurang baik yaitu 33 perawat (51,6%), 47 perawat (73,4%) memiliki
kesiapan mental yang baik dan 56 perawat (87,5%) memiliki kesiapan
fisik yang baik.
Tabel 5.3. Kesiapan pengetahuan, mental dan fisik perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS diRSUD Kota Dumai (n=64)
No Kesiapan Perawat
Baik Tidak baik
Frekuensi (n)
Persentase Frekuensi (n)
5.2.1. Kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan
Hasil penelitian tentang kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai didapatkan hasil
bahwa sebagian besar perawat (67,79%) sudah memiliki kesiapan yang baik
dalam memberikan pelayanan pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai. Halini
mengambarkan bahwa perawat RSUD Kota Dumai mempunyai kesiapan dalam
hal mental dan fisikseperti misalnya perawat tidak mengalami kesulitan jika
kontak dengan pasien HIV/AIDS (71,9%), tetapi pengetahuannya kurang seperti
tentang gejala minor HIV/AIDS (29,7%), prinsip utama Universal Precaution
memulai pekerjaan, karena dengan memiliki kesiapan pekerjaan, apapun akan
dapat teratasi dan dikerjakan dengan lancar dan hasil yang baik. Kesiapan
merupakan keseluruhan kondisi seseorang atau individu yang membuatnya siap
untuk memberikan respon atau jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu
situasi, kondisi individu mencakup setidaknya tiga aspek yaitu kondisi fisik,
mental, emosional, kebutuhan-kebutuhan, motif dan tujuan, ketrampilan dan
pengetahuan.
5.2.2. Kesiapan Pengetahuan Perawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian yang telah dilakukan lebih dari setengah responden memiliki
pengetahuan yang kurang baik. Yang memberikan gambaran tentang masih
adanya faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan pada perawat, terkait
dengan pendidikan, pengalaman kerja dan juga pelatihan di ruang rawat inap, high
care dan IGD.
Seperti misalnya tingkat pendidikan perawat yang bekerja di ruang rawat inap,
high care dan IGD RSUD Kota Dumai mayoritas berpendidikan DIII (89,1%),
dilihat dari masa kerja sebagian besar perawat di RSUD Kota Dumai mempunyai
masa kerja 1-5 tahun (59,4%), dilihat dari pelatihan yang pernah diikuti oleh
perawat hanya 4,7% perawat yang pernah mengikuti pelatihan HIV/AIDS hal ini
sesuai dengan pendapat Notoadmodjo (2003) bahwa faktor yang dapat
mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan, pengalaman, budaya,
kepercayaan/agama.Notoatmodjo (2007) juga menyatakan bahwa semakin banyak
seseorang.Perawat di RSUD Kota Dumai harus mempunyai pengetahuan baik
tentang HIV/AIDS agar dapat memberikan pelayanan menyangkut informasi atau
pendidikan kesehatan tentang HIV/AIDS kepada pasien maupun kepada keluarga
pasien seperti tentang gejala minor HIV/AIDS, pendiagnosaan HIV/AIDS, dan
prinsip utama Universal Precaution. Sesuai dengan pernyataan Nursalam & Dian
(2007) dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS
perawat perlu mempunyai pemahaman yang benar mengenai AIDS dan perlu
disebarluaskan.
5.2.3. Kesiapan MentalPerawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan
Di lihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa lebih dari
setengah responden memiliki kesiapan mental baik. Hal ini menggambarkan
bahwa perawat di RSUD Kota Dumai dalam memberikan pelayanan keperawatan
padapasien HIV/AIDStidak merasa kesulitan, mau untuk kontak dan selalu bisa
mendampingi pasien ketika dilakukan tindakan. Sejalan dengan pernyataan
Nursalam & Dian. K (2007) dalam memberikan pelayanan keperawatan pada
pasien HIV/AIDS perawat mampu memberikan dukungan emosional, membuat
pasien merasa nyaman; dihargai; dicintai dan diperhatikan. Lakukan
pendampingan dan pertahankan hubungan yang sering dengan pasien sehingga
pasien tidak merasa sendiri dan telantarkan. Perawat di RSUD Kota Dumai lebih
dari setengah (51,6%) tidak pernah mempunyai perasaan was-was dalam
memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS. Sejalan dengan
pekerjaan dapat diminta untuk dapat memberikan perawatan kepada penderita
HIV. Dalam melaksanakan perawatan, mereka bukan saja menghadapi tantangan
fisik penyakit yang bersifat epidemic tetapi juga masalah emosi dan etis.
5.2.3 Kesiapan Fisik Perawat dalam memberikan Pelayanan Keperawatan Pada penelitian tentang kesiapan fisik didapatkan hasil perawat di RSUD
Kota Dumai memiliki kesiapan fisik yang mayoritas baik seperti mencuci tangan
sebelum tindakan, memakai sarung tangan jika melakukan tindakan pada pasien
HIV/AIDS, meletakkan limbah tajam, mendesinfeksi dan mensterilkan alat,
melakukan prosedur kerja yang jelas yang sesuai dengan standar RSUD Kota
Dumai pada pasien HIV/AIDS. Hal ini sejalan dengan pernyataan menurut Yanri
(2005) pencegahan umum atau dengan kata lain “kewaspadaan universal
(universal precaution)” merupakan salah satu upaya pengendalian infeksi disarana
pelayanan kesehatan yang telah dikembangkan oleh Departemen Kesehatan RI
sejak tahun 1980-an. Penerapan pencegahan umum didasarkan pada keyakinan
bahwa darah dan cairan tub uh sangat potensial menularkan penyakit baik yang
berasal dari pasien maupun petugas kesehatan. Prinsip utama prosedur
kewaspadaan universal adalah menjaga hygiene individu, sanitasi ruangan, dan
sanitasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi lima kegiatan pokok
yaitu mencuci tangan, pemakaian alat pelindung diri seperti masker, kacamata
pelindung, schort dan sepatu pelindung, pengelolaan alat bekas pakai, pengelolaan
jarum dan benda tajam, pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
Penelitian ini juga mendapatkan hasil bahwa masih ditemukan
(celemek) dan sepatu pelindung. Pihak rumah sakit masih kurang dalam
memberikan pengarahan tentang profilaksis pasca pajanan pada perawat di RSUD
Kota Dumai salah satunya mengadakan test HIV bagi petugas kesehatan di RSUD
Kota Dumai. Hal ini sejalan dengan Direktorat Kesehatan Angkatan Darat
(2011)yang menyatakan bahwa profilaksis pasca pajanan HIV merupakan
tindakan pencegahan terhadap petugas kesehatan yang tertular HIV akibat
47 BAB 6
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
6.1Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesiapan perawat dalam
memberikan pelayanan keperawatan pada pasien HIV/AIDS diRSUD Kota
Dumai. Penelitian ini dilakukan terhadap 64 responden yaitu perawat di RSUD
Kota Dumai. Pengambilan sampel dilakukan denga n cara simple random
sampling.
1. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa mayoritas pendidikan perawat di
RSUD Kota Dumai yaitu AKPER sebanyak 57 responden (89,1%), mayoritas
masa kerja responden selama 1-5 tahun sebanyak 38 responden (59,4%).
Mayoritas responden tidak mengikuti pelatihan sebanyak 61 responden
(95,3%).
2. Hasil penelitian tentang kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai didapatkan bahwa
sebagian besar (69,77%) perawat memiliki kesiapan yang baik.
3. Hasil penelitian tentang kesiapan pengetahuan perawat di RSUD Kota Dumai
mayoritas kurang baik sebanyak 33 responden (51,6%).
4. Hasil penelitian tentang kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai untuk
5. Hasil penelitian tentang kesiapan perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan pada pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai untuk
berdasarkan kesiapan fisik mayoritas baik sebanyak 58 responden (87,5%).
6.2Rekomendasi
1. Praktek Keperawatan
Dalam pelayanan keperawatan hendaknya tenaga keperawatan harus aktif
dan berinisiatif untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan baru
tentang perkembangan ilmu keperawatan khususnya HIV/AIDS.
2. Rumah Sakit
Rumah sakit diharapkan agar berupaya meningkatkan pengetahuan
tenaga pelayanan kesehatan terutama perawat tentang HIV/AIDS,
profilaksis pasca pajanan. Selain pemberian pendidikan dan latihan
dirumah sakit tentang HIV/AIDS secara rutin, hendaknya juga diberikan
kesempatan kepada tenaga perawat dan memfasilitasi perawat untuk
mengikuti seminar ataupun pelatihan resmi tentang HIV/AIDS. Pihak
rumah sakit diharapkan dapat membuat ruangan rawat inap khusus untuk
pasien HIV/AIDS dan ruangan bagi orang terkena pasca pajanan
HIV/AIDS. Peneliti juga menyarankan agar fasilitas seperti kacamata
pelindung, schort, sepatu pelindung dilengkapi oleh pihak rumah sakit
agar rumah sakit lebih siap lagi dalam memberikan pelayanan pada
3. Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian ini hanya menunjukkan gambaran tentang kesiapan
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada pasien
HIV/AIDS di RSUD Kota Dumai. Hal ini dapat dijadikan sebagai
sumber data baru bagi penelitian selanjutnya yang lebih menekankan
pada pengaruh kesiapan perawat terhadap penanganan pasien HIV/AIDS.
4. Pendidikan Keperawatan
Dalam bidang pendidikan keperawatan hendaknya diberikan materi
perkuliahan yang lebih mendalam tentang kesiapan perawat dalam
menangani pasien HIV/AIDS sehingga pendidikan keperawatan memiliki
lulusan tenaga perawat yang trampil dalam penanganan pasien