BAB I PENDAHULUAN
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil penelitian
Hasil penelitian yang dilakukan di Desa Toso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara yang berjumlah 75 pengusaha tenun troso. Responden yang dijadikan subyek dalam penelitian ini adalah semua pengusaha tenun karena jumlah pengusaha kurang dari 100 orang, yang telah dilakukan di Jepara dengan judul faktor-faktor penghambat perkembangan tenun troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara melibatkan kelompok responden yaitu pengusaha tenun troso di desa troso kecamatan pecangaan kabupaten jepara sebanyak 75 orang. Penelitian ini menggunakan satu variabel yaitu Faktor-Faktor Penghambat Perkembangan Tenun Troso Di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, yang terdiri dari modal, bahan baku, tenaga kerja, desain, teknologi dan pemasaran. Jumlah pertanyaan yang diberikaan kepada responden pengusaha berjumlah 50 soal.
4.2. Deskripsi Data
Deskripsi data hasil penelitian faktor-fakor penghambat perkembangan tenun troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara adalah sebagai berikut: modal dari jawaban responden memperoleh skor 840 atau 58.30% masuk dalam kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso, bahan baku dari jawaban responden memperoleh skor 1587 atau 55.10% masuk dalam kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso, tenaga kerja dari jawaban responden memperoleh skor 2681 atau 58.80% masuk
dalam kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso, desain dari jawaban responden memperoleh skor 864 atau 60.00% masuk dalam kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso, teknologi dari jawaban responden memperoleh skor 389 atau 54.00% masuk dalam kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso dan pemasaran dari jawaban responden memperoleh skor 609 atau 63.40% masuk dalam kategori tinggi dalam menghambat perkembangan tenun troso. Penjelasan deskripsi data hasil penelitian faktor-faktor penghambat perkembangan tenun troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara dapat dilihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Hasil Penelitian faktor-faktor yang mengambat perkembangan tenun troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara
No Sub variabel Skor diperoleh % skor kriteria 1. 2. 3. 4. 5. 6. Modal Bahan baku Tenaga kerja Desain Teknologi Pemasaran 840 1587 2681 864 389 609 58.30 55.10 58.80 60.00 54.00 63.40 Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Tinggi
Rata-rata persentase 6970 58.10% Sedang Sumber : Data Olah 2011
Gambar 4.1 Grafik Data Hasil Penelitian
Deskripsi data dari 6 sub variabel yaitu modal, bahan baku, tenaga kerja, teknologi desain dan pemasaran
4.2.1. Modal
Modal sebagai salah satu faktor penghambat tenun troso dibagi menjadi 2 indikator yaitu modal kerja dan modal tetap. Indikator modal kerja memperoleh skor sebanyak 403 atau 53.33% dan indikator modal tetap memperoleh skor sebanyak 437 atau 60.7%.
Tabel 4.2 Hasil Analisis Deskriptif Persentase Modal
No Indikator Skor diperoleh % Skor Kriteria 1. 2. Modal kerja Modal tetap 403 437 56.0 60.7 Sedang Sedang Sumber: Data primer penelitian 2011
Gambar 4.2 Grafik Modal 4.2.2 Bahan Baku
Bahan baku sebagai penghambat tenun troso dibagi 2 indikator yaitu persediaan bahan baku dan letak sumber bahan baku. Indikator persediaan bahan baku memperoleh skor sebanyak 498 atau 51.9%, indikator letak sumber bahan baku memperoleh skor sebanyak 254 atau 52.9% .
Tabel 4.3 Hasil Analisis Deskriptif Bahan Baku
No Indikator Skor diperoleh % Skor Kriteria 1.
2.
Persediaan bahan baku Letak sumber bahan baku
498 254 51.9 52.9 Sedang Sedang
Gambar 4.3 Grafik Bahan Baku 4.2.3 Tenaga kerja
Tenaga kerja sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso dibagi menjadi 7 indikator yaitu kemampuan dan ketangkasan, upah, motivasi, disiplin, pendidikan dan pengalaman, kesehatan dan keslamatan kerja serta fasilitas kerja. Indikator kemampuan dan ketangkasan memperoleh skor sebanyak 452 atau 62.80%, indikator upah memperoleh skor sebanyak 775 atau 64.60%, indikator motivasi memperoleh skor sebanyak 235 atau 49.00%, indikator disiplin memperoleh skor sebanyak 251 atau 52.30%, indikator pendidikan dan pengalaman memperoleh skor sebanyak 416 atau 57.80%, kesehatan dan keselamatan kerja 150 atau 62.50% dan indikator fasilitas kerja memperoleh skor sebanyak 402 atau 55.80%.
Tabel 4.4 Hasil Analisis Deskriptif Persentase Tenaga Kerja No Indikator Skor diperoleh % skor kriteria 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
Kemampuan dan ketangkasan Upah
Motivasi Disiplin
Pendidikan dan pengalaman Kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas kerja 452 775 235 251 416 150 402 62.8 64.6 49.0 52.3 57.8 62.5 55.8 Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang sedang
Sumber : Data olah Primer Penelitian 2011
Gambar 4.4 Gambar Grafik Tenaga Kerja 4.2.4 Desain
Desain sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso dibagi menjadi 2 indikator yaitu motif tenun dan jenis benda. Indikator motif tenun memperoleh skor sebanyak 292 atau 60.8% dan indikator jenis benda memperoleh skor sebanyak 572 atau 59.6%.
No Indikator Skor diperoleh % Skor Kriteria 1. 2. Motif tenun Jenis benda 292 572 60.8 59.6 Sedang Sedang Sumber : Data Olah Primer 2011
Gambar 4.5 Grafik Desain 4.2.5 Teknologi
Teknologi sebagai penghambat perkembangan tenun troso dibagi menjadi 2 indikator yaitu teknologi pembuatan tenun dan pengoprasian alat. Indikator teknologi pembuatan tenun memperoleh skor sebanyak 268 atau 55.8% dan indikator pengoperasian alat memperoleh skor sebanyak 121 atau 50.4%.
Tabel 4.6 Hasil Analisis Deskriptif Persentase Teknologi
No Indikator Skor
diperoleh
% Skor Kriteria 1.
2.
Teknologi pembuatan tenun Pengoperasian alat 268 121 55.8 50.4 Sedang Sedang Sumber : Data Primer Penelitian 2011
Gambar 4.6 Grafik Teknologi 4.2.6 Pemasaran
Pemasaran sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso pemasaran merupakan sub variabel tertinggi. Pemasaran dibagi menjadi 3 indikator yaitu wilayah pemasaran, distribusi dan promosi penjualan. Indikator wilayah pemasaran memperoleh skor sebanyak 148 atau 61.7%, indikator distribusi memperoleh skor sebanyak 135 atau 55.0%, dan indikator promosi penjualan memperoleh skor sebanyak 329 atau 68.5%.
Tabel 4.7 Hasil Analisis Deskriptif Persentase Sub Variabel pemasaran
No Indikator Skor diperoleh % skor kriteria 1. 2. 3. Wilayah pemasaran Distribusi Promosi penjualan 148 135 328 61.7 55.0 68.5 Sedang Sedang Tinggi Sumber : Data primer penelitian 2011
Gambar 4.7 Grafik Pemasaran
4.3 Pembahasan
Analisis hasil penelitian faktor-faktor penghambat perkembangan tenun troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kebupaten Jepara dengan menggunakan analisis Deskriptif Persentase
4.3.1 Modal
Modal dengan persentase 58.30% sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso termasuk kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso. Pengusaha tenun troso sebagian besar pengusaha mengeluarkan modal kerja berupa biaya produksi Rp. 5.000.000,00 per bulan, sedangkan modal tetap yang digunakan untuk memulai usaha oleh para pengusaha rata-rata Rp 5.000.000,00 –
Rp 7.000.000,00. membeli peralatan menenun dengan biaya dari kekayaan pribadi dan keluarga. Para pengusaha banyak yang berpendapat jika modal usaha habis, para pengusaha akan meminjam modal ke bank.
4.3.2 Bahan Baku
Bahan baku dengan persentase 55.10% sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso termasuk kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso. Letak sumber bahan baku yang jauh dari tempat usaha yaitu dari Surabaya dan Kudus, sehingga menambah biaya pengangkutan. Para pengusaha merasakan biaya produksi bertambah mahal. Pengusaha tenun troso memperoleh bahan baku benang dan zat warna dengan cara membeli di toko khusus yang jauh dari tempat usaha yaitu di luar kota.
Bahan baku yang dibuat untuk membuat tenun troso pada umumnya adalah benang. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan pengusaha tenun troso mencoba membuat tenun dengan menggunakan bahan pembuat benang yang alami seperti serat nanas, serat pisang dan sebagainya untuk menambah produksi yang lebih bervariasi.
4.3.3 Tenaga Kerja
Tenaga kerja dengan persentase 58.80% termasuk kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso. Usia tenaga kerja yang dimiliki oleh para pengusaha rata-rata 25-40 tahun, yang merupakan usia produktif, namun pengalaman menenun yang mereka miliki umumnya masih kurang hal ini terjadi karena tidak mendapat pendidikan khusus menenun.
Upah tenaga kerja merupakan salah satu faktor penghambat perkembangan tenun troso Jepara. Karena upah yang diterima tenaga kerja rata-rata Rp 400.000,00. Upah jumlah tersebut masih berada dibawah upah minimum regional (UMR) Jepara sebesar Rp 750.000,00 perbulan berdasarkan keputusan bupati
Jepara nomor 561.4/51/2009 (http//google.com//Upah Minimum Regional Jepara ). Hal ini kurang memuaskan bagi tenaga kerja karena tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Motivasi sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso Jepara. Hal ini dikarenakan pengusaha tenun troso perlu memperhatikan dan memberikan motivasi kepada tenaga kerja supaya bersemangat dalam mengerjakan tugas- tugas. Motivasi ini berupa pujian, uang bahkan kenaikan upah walaupun dalam jumlah sedikit.
Disiplin termasuk sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso Jepara. Peraturan bagi tenaga kerja pada perusahaan tidak terlalu ketat dan memberikan teguran jika ada karyawan yang bermasalah. Tenaga kerja cukup disiplin dalam bekerja karena sistem kerja termasuk sistem hasil harian.
Pendidikan dan pengalaman kerja sebagai faktor peghambat perkembangan tenun troso Jepara. Tingkat pendidikan tenaga kerja ynag dimiliki oleh pengusaha tenun troso jepara sebagian besar SMP tetapi sebagian karyawan ada yang berpendidikan SD dan SMU.
Kesehatan dan keselamatan kerja menjadi faktor penghambat perkembangan tenun troso Jepara. Hal ini terjadi karena tidak ada tunjangan kesehatan bagi tenaga kerja. Masalah keselamatan kerja dapat mengganggu jalanya proses produksi, namun intensitas kecelakaan kerja di lingkungan perusahaan tenun troso pada umumnya kecil.
Fasilitas merupakan sebagai faktor penghambat perkembangan tenun troso Jepara, hal ini terjadi karena kurang bisa dan kurang lengkap fasilitas yang
tersedia di perusahaan seperti kamar, tempat istirahat dan lain-lain sehingga fasilitas yang kurang mencukupi dapat menimbulkan suasana kerja kurang nyaman.
4.3.4 Desain
Desain dengan persentase 60.00% termasuk kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso Jepara. Sebagian pengusaha tenun troso jepara kurang melakukan pengembangan motif tenun. Hal ini dikarenakan kurangnya ketrampilan mendesain yang dimiliki oleh pengusaha.
Jenis yang dihasilkan pengusaha tenun troso bermacam-macam. Pengusaha tenun troso diharapkan dapat mendatangkan tenaga ahli dalam bidang desain, motif, corak maupun pewarnaan untuk menciptakan motif khusus dari tenun troso sehingga masyrakat akan mengenal lebih dekat.
4.3.5 Teknologi
Teknologi dengan persentase 54.00% termasuk dalam kategori sedang dalam menghambat perkembangan tenun troso Jepara. Hal ini dikarenakan pembuatan tenun troso masih menggunakan teknologi yang sederhana tidak menggunakan mesin dan masih tradisional yaitu meenggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
4.3.6Pemasaran
Pemasaran dengan persentase 63.40% termasuk kategori tinggi dalam menghambat perkembangan tenun troso. Hal ini disebabkan karena sistem pemasaran masih sederhana dan konvensional sehingga jumlah produk belum banyak dipasaran.
Dari hasil penelitian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa faktor tertinggi penghambat perkembangan tenun troso Jepara yaitu pemasaran, hal ini ditandai dengan jumlah produk tenun troso belum banyak dipasaran. Konsumen hanya dapat membeli tenun troso di show room yang terletak tidak jauh dari proses pembuatan tenun troso yaitu di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara dan bila membutuhkan dalam jumlah banyak mereka harus memesanya langsung ke pengusaha tenun troso Jepara.
Faktor terendah penghambat perkembangan tenun troso Jepara adalah bahan baku. Letak sumber bahan baku yang jauh dari tempat usaha yaitu dari Surabaya dan Kudus, sehingga menambah biaya pengangkutan. Para pengusaha merasakan biaya produksi bertambah mahal. Pengusaha tenun troso memperoleh bahan baku benang dan zat warna dengan cara membeli di toko khusus yang jauh dari tempat usaha yaitu Surabaya.
4.4 Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian yang telah dianalisis dengan menggunakan analisa deskriptif persentase ini masih kurang sempurna dan masih terdapat kelemaha- kelemahan antara lain:
4.4.1 Responden yang digunakan sebagai sampel penelitian adalah seluruh pengusaha tenun troso tidak menutup kemungkinan untuk meneliti lebih lanjut faktor-faktor penghambat perkembangan tenun troso dengan responden yang berbeda.
4.4.2 Faktor-faktor penghambat perkembangan tenun troso terdiri dari sub variabel modal, bahan baku, tenaga kerja, desain, teknologi dan pemasaran hal ini tidak menutup kemungkinan untuk mengungkap lebih dalam tentang faktor-faktor penghambat perkembangan tenun troso di Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara misalnya peran pemerintah, masyarakat dan keluarga.
4.4.3 Kurangnya kerja sama pengusaha dengan peneliti sehingga menyulitkan dalam pengambilan data
4.4.4 Peneliti tidak membahas perbedaan industri besar dan industri rumahan semua dijadikan sampel.