• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa wawasan dan pengetahuan khususnya dalam dunia pendidikan. Selain itu, diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya khususnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar matematika.

2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

Penelitian ini memberikan kesempatan pada peneliti untuk dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dan sebagai bekal kelak ketika menjadi seorang pendidik agar memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar.

b. Bagi guru,

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan acuan dalam mengajar sebagai upaya meningkatkan hasil belajar.

c. Bagi sekolah

Sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam upaya untuk memperbaiki, meningkatan mutu dan kemampuan siswa dalam bidang studi matematika.

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

1. Kesiapan Belajar

Kesiapan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran. Dengan memiliki kesiapan belajar maka sesuatu yang dihasilkan akan menjadi lebih baik dibandingkan hasil yang dicapai tanpa adanya sebuah kesiapan belajar. Kesiapan belajar yang baik akan membuat siswa lebih mudah dalam mengikuti proses pembelajaran. Jamies Drever (Slameto, 2015: 59) mengemukakan bahwa kesiapan adalah preparedness to respond or react maksudnya kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Selanjutnya Slameto (2015: 113) menjelaskan bahwa kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respons/jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi. Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan berpengaruh pada atau kecenderungan untuk memberi respons.

Djamarah (Eliya Fitriana, 2013: 5) menjelaskan bahwa kesiapan untuk belajar merupakan kondisi diri yang telah dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan. Faktor kesiapan meliputi:

a) Kesiapan fisik, misalnya tubuh sehat (jauh dari gangguan lesu, mengantuk, gangguan penglihatan, sakit, dsb).

b) Kesiapan psikis, misalnya adanya hasrat untuk belajar dan konsentrasi. c) Kesiapan materiil, misalnya bahan yang dipelajariatau dikerjakan berupa

Sedangkan Cronbach (Nyoman, dkk, 2014) memberikan pengertian tentang kesiapan sebagai segenap sifat atau kekuatan yang membuat seseorang dapat berinteraksi dengan cara tertentu.

Kesiapan peserta didik untuk belajar akan membuat peserta didik tersebut siap untuk melakukan pembelajaran, seperti pernyataan dari Philip L. Ramsey (Ashhabul Umam, 2015) “If we assume that learning is a natural process and that when people are ready to learn learning is bound to happen, then readiness to learn provides us with an effective lens to help us measure, describe and compare learning organisations”. Belajar adalah proses alami dan ketika seseorang siap untuk belajar maka itu akan terjadi, kemudian kesiapan belajar yang tersedia dengan baik dapat membantu seseorang untuk belajar dengan lebih maksimal serta dapat membentuk kebiasaan belajar.

Menurut Thorndike (Maryani, 2014) terdapat tiga prinsip atau hukum dalam belajar yaitu: law of readiness, law of exercise and law of effect. Dalam law of readiness atau hukum kesiapan dinyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila dilandasi oleh kesiapan belajar. Kemudian Johri (Maryani, 2014) mendefinisikan readiness is the most important factor that influences learning.

Menurut Mulyani (Rohmatin, 2016: 3) siswa yang tidak memiliki kesiapan belajar cenderung mendapatkan prestasi belajar yang rendah. Sebaliknya siswa yang memiliki kesiapan belajar dengan baik memiliki prestasi belajar yang baik pula. Menurut Darsono (Nyoman, dkk, 2014) faktor kesiapan, baik fisik maupun psikologis, merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar.

Oemar Hamalik (Rohmatin, 2016: 3) mengungkapkan bahwa kesiapan adalah tingkatan atau keadaan yang harus dicapai dalam proses perkembangan perorangan pada tingkatan pertumbuhan mental, fisik, sosial, dan emosional”. Dengan adanya kesiapan belajar, siswa akan termotivasi untuk mengoptimalkan hasil belajarnya.

Ada beberapa aspek dalam kesiapan belajar yaitu: kondisi fisik, kondisi mental (emosional), kebutuhan, motif dan tujuan, serta keterampilan pengetahuan yang mendukung, maka proses belajar serta tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dimana kesiapan(readiness) mempengaruhihasil belajar peserta didik.

Kesiapan menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik. Seorang peserta didik yang memiliki kesiapan belajar yang baik sangat besar kemungkinannya untuk mendapatkan hasil belajar yang baik pula. Untuk itulah kesiapan menjadi faktor yang sangat perlu diperhatikan oleh guru dalam proses pembelajaran, sebaliknya siswa yang tidak memiliki kesiapan belajar akan kesusahan dalam megikuti proses pembelajaran serta apa yang disampaikan oleh guru tidak dapat ia pahami dan hasil belajar yang diterima siswa tersebut kurang baik.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa kesiapan belajar adalah suatu keadaan siswa yang siap untuk melakukan kegiatan belajar yang akan membuat seorang siswa dapat memberi respon/bereaksi pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

2. Kedisplinan

Kedisiplinan berasal dari kata dasar disiplin, menurut John (Wirantasa, 2017: 88-89) Disiplin berasal dari bahasa Inggris discipline yang berarti training to act accordance with rules, artinya melatih seseorang untuk bertindak sesuai aturan.

Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian. Disiplin belajar merupakan suatu kondisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan seorang siswa dalam proses belajarnya. Disiplin bertujuan mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, agar berperilaku tertib dan efisien. Menurut Darmono dkk (Sobri dan Moerdiyato, 2014: 48) menjelaskan bahwa disiplin mengandung arti pengendalian dan pengarahan diri (self control and self direction).

Menurut Ekosiswoyo dan Rachman (Rosma Elly, 2016: 47) disiplin hakikatnya adalah pernyataan sikap mental individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan.

Tu’u (Sasmita, 2013: 6) menyatakan bahwa dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa akan berhasil dalam belajarnya. Sebaliknya, siswa yang kerap kali melanggar ketentuan sekolah pada umumnya terhambat optimalisasi potensi dan prestasinya.

Menurut Prijodarminto (Solihin, 2017: 9) kedisiplinan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban.

Disiplin belajar di sekolah adalah keseluruhan sikap dan perbuatan siswa yang timbul dari kesadaran dirinya untuk belajar, dengan mentaati dan melaksanakan tanggung jawab sebagai siswa dalam berbagai kegiatan belajarnya di sekolah, sesuai dengan peraturan yang ada.Yang didukung adanya kemampuan guru, fasilitas, sarana dan prasarana sekolah, seperti buku penunjang pelajaran, sekolah yang nyaman, dan

terdapatnya pustaka sekolah sebagai media belajar siswa. Macam-macam disiplin belajar di sekolah perilaku disiplin belajar siswa di sekolah dapat dibedakan menjadi empat macam (Slameto dalam Solihin, 2017: 9) yaitu :

a. Disiplin siswa dalam masuk sekolah

Disiplin siswa dalam masuk sekolah ialah keaktifan, kepatuhan dan ketaatan dalam masuk sekolah. Artinya seorang siswa dikatakan disiplin masuk sekolah jika ia selalu aktif masuk sekolah pada waktunya, tidak pernah terlambat serta tidak pernah membolos setiap hari.

b. Disiplin siswa dalam mengerjakan tugas

Mengerjakan tugas merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam belajar, yang dilakukan di dalam maupun di luar jam pelajaran sekolah. Tujuan dan pemberian tugas biasanya untuk menunjang pemahaman dan penguasaan mata pelajaran yang disampaikan di sekolah, agar siswa berhasil dalam belajarnya.

c. Disiplin mengikuti pelajaran di sekolah

Siswa yang memiliki disiplin belajar dapat dilihat dari keteraturan dan ketekunan belajarnya.Disiplin siswa dalam mengikuti pelajaran di sekolah menuntut adanya keaktifan, keteraturan, ketekunan dan ketertiban dalam mengikuti pelajaran, yang terarah pada suatu tujuan belajar.

d. Disiplin siswa dalam mentaati tata tertib di sekolah

Disiplin siswa dalam menjalankan tata tertib di sekolah adalah kesesuaian tindakan siswa dengan tata tertib atau peraturan sekolah yang ditunjukkan dalam setiap perilakunya yang selalu taat dan mau melaksanakan tata tertib sekolah dengan penuh kesadaran.

Disiplin belajar di rumah adalah suatu tingkat konsistensi dan konsekuensi serta keteraturan dalam kegiatan belajar untuk memperoleh tingkah laku yang timbul dari kesadaran dirinya untuk belajar dengan mentaati dan melaksanakan tugasnya sebagai siswa di rumah dengan dukungan orangtua yang mengawasi, mengarahkan, serta berupaya untuk membuat anak menyadari kesadaran untuk berdisiplin diri. Serta orang tua memberikan fasilitas belajar kepada anak agar dapat belajar di rumah dengan lebih baik. Macam-macam disiplin belajar di rumah, Wijaya dan Rusyan (Solihin, 2017:10) mengemukakan beberapa indikator yang dapat dikemukakan agar disiplin belajar dapat dibina dan dilaksanakan dalam proses pendidikan sebagai mutu pendidikan dapat ditingkatkan diantaranya yaitu tidak membangkang peraturan yang berlaku baik bagi para pendidik maupun peserta didik.

a. Tepat waktu dalam belajar dirumah

Belajar merupakan kewajiban bagi seorang siswa karena untuk mengetahui dan mendapatkan berbagai kecakapan disiplin dalam belajar akan membuat siswa memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik. Dengan disiplin siswa akan dapat menghargai waktunya dengan sebaik-baiknya. Untuk membagi waktu belajar siswa harus membuat jadwal yang tepat untuk membatasi kegiatan lain yang tidak berguna yang dapat mengganggu kegiatan belajar.

b. Disiplin dalam mengerjakan tugas sekolah di rumah

Pemanfaatan waktu secara efisien dan efektif merupakan salah satu cara terbaik untuk melatih sikap disiplin terutama disiplin dirumah. Pekerjaan rumah misalnya bila dikerjakan secara mendadak tidak banyak menguntungkan karena hasilnya pasti kurang maksimal hal ini didasarkan waktu yang singkat.

c. Belajar secara teratur

Keteraturan dalam belajar merupakan usaha untuk menghasilkan atau untuk memperoleh suatu prestasi yang maksimal, karena dengan keteraturan kita akan lebih disiplin dalam belajar.

Sulistyowati (Rosma Elly, 2016: 48) menyebutkan agar seorang pelajar dapat belajar dengan baik ia harus bersikap disiplin, terutama disiplin dalam hal-hal sebagai berikut:

a. Disiplin dalam mencapai jadwal belajar.

b. Disiplin dalam menguasai semua godaan yang akan menunda-nunda waktu belajar.

c. Disiplin terhadap diri sendiri untuk dapat menumbuhkan kemauan dan semangat belajar baik di sekolah seperti menaati tata terbit maupun disiplin di rumah seperti teratur dalam belajar.

d. Disiplin dalam menjaga kondisi fisik agar selalu sehat dan fit dengan cara makan yang teratur dan bergizi serta berolahraga secara teratur. Disiplin belajar berfungsi sebagai pengendali diri yang berada pada diri orang tersebut sehingga belajar akan penuh kesadaran, tanpa paksaan dan penuh sukacita/bersyukur. Spesifikya yaitu orang yang berdisiplin belajar akan belajar tanpa paksaan dan sadar untuk belajar.

Sebanding dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Ali Imron (Rini Riana, 2013) bahwa orang-orang yang berhasil dalam bidangnya masing-masing umumnya mempunyai kedisiplinan yang tinggi. Sebaliknya orang yang gagal, umumnya tidak disiplin.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa displin merupakan keadaan dimana seorang siswa memiliki sikap taat, patuh dan tertib pada peraturan yang ada dengan senang hati tanpa menyia-nyiakan waktu untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan. Seorang siswa yang memiliki kedisiplinan yang tinggi akan memperoleh hasil belajar yang tinggi.

3. Lingkungan Sekolah

Sekolah pada dasarnya menjadi tempat menuntut ilmu bagi setiap orang, dimana sekolah sebagai pendidikan formal harus bisa memenuhi kebutuhan pendidikan dalam menunjang proses belajar dan mengajar dalam hal ini sekolah harus memiliki lingkungan sekolah yang sesuai standar.

Lingkungan dalam pengertian umum berarti situasi di sekitar kita. Menurut Baharuddin (Ade Andriana, 2017: 7) dalam pendidikan lingkungan adalah semua faktor yang terdapat diluar diri anak dan yang mempunyai arti bagi pengembangannya serta senantiasa memberikan pengaruh terhadap dirinya.

Menurut Syamsu dan Nani (Abdul Latief, 2014: 17) sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang sistematis melaksanakan bimbingan, pengajaran dan pelatihan dalam rangka membantu para peserta didik agar mampu mengembangkan potensinya secara optimal, baik menyangkut aspek moral-spritual, intelektual, emosional, sosial, maupun fisik-motoriknya.

Selanjutnya dalam buku Dasar-dasar Pendidikan yang di tulis oleh Marlina Gazali: Lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berada diluar diri anak. Dalam artian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar anak, baik berupa benda-benda, peristiwa-peristiwa yang terjadi maupun kondisi masyarakat

terutama yang dapat memberi pengaruh kuat kepada anak didik yaitu lingkungan yang mana terjadi proses pendidikan berlangsung dan lingkungan anak-anak bergaul sehari-hari.

Menurut Muhibbin Syah (widiarsih T, 2017: 29 ) Lingkungan Sekolah terdiri dari lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Dijelaskan lebih lanjut, lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para tenaga pendidikan dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar siswa, sedangkan lingkungan nonsosial sekolah misalnya gedung sekolah dan letaknya, alat-alat belajar, dan waktu belajar. Selain itu, keadaan sekolah tempat belajar turut memengaruhi tingkat keberhasilan belajar.

Menurut Sukmadinata (Anisa Widyaningtyias, 2012: 13) lingkungan sekolah memegang perananan penting bagi perkembangan belajar para siswanya. Sekolah yang kaya dengan aktivitas belajar memiliki sarana dan prasarana yang memadai, terkelola dengan baik, diliputi suasana akademis yang wajar, akan sangat mendorong semangat belajar para siswanya. Sedangkan menurut Sabdulloh (Cahyaningrum, 2014: 6) bahwa sekolah merupakan lingkungan pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat seperti harus berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut pendidikan formal dan sekolah adalah lembaga khusus, suatu wahana, suatu tempat untuk menyelenggarakan pendidikan, yang di dalamnya terdapat suatu proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Oemar Hamalik (Anisa Widyaningtyas, 2012: 9) menyatakan bahwa lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna atau pengaruh tertentu

kepada individu. Kondisi lingkungan belajar yang kondusif baik lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah akan menciptakan ketenangan dan kenyamanan siswa dalam belajar, sehingga siswa akan lebih mudah untuk menguasai materi belajar secara maksimal.

Menurut Muhibbin Syah (2017: 135) lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para tenaga kependidikan (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang posistif bagi kegiatan belajar siswa.

Menurut Menurut Tu’u (2004: 18) faktor lingkungan sekolah sebagai berikut: a. Guru

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik. Dengan ilmu dan keterampilan yang dimiliki, guru dapat menjadikan siswa menjadi individu yang cerdas dan disiplin.

b. Sarana dan prasarana

Prasarana dan sarana pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Keadaan gedung sekolah dan ruang kelas yang tertata rapi, ruang perpustakaan sekolah yang teratur, tersedianya fasilitas kelas dan laboratorium, tersedianya buku-buku pelajaran, media/alat bantu belajar merupakan komponen yang penting untuk mendukung kegiatan-kegiatan belajar.

c. Kondisi gedung

Diantaranya ventilasi udara yang baik, sinar matahari dapat masuk, penerangan lampu yang cukup, ruang kelas yang luas, kondisi gedung yang kokoh. Apabila suasana ruang gelap, ruangan sempit, tidak ada ventilasi dan gedung rusak akan menjadikan proses belajar yang kurang baik sehingga memungkunkan proses belajar menjadi terhambat.

Ogbeba & Ali (Yudha dan Idris, 2014: 3-4), explains that the school environment involves the totality of the atmosphere within which the school staff and students function. It is a dynamic and comprehensive picture of all those influences that mold physical, emotional, psychological and social life of the members of the school.

Menurut Slameto (2015: 64) faktor-faktor dalam lingkungan sekolah yang mempengaruhi belajar siswa mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa lingkungan sekolah merupakan wahana dimana kegiatan dan proses pendidikan berlangsung dengan aturan-aturan yang ketat, serta berjenjang dan berkesinambungan. Lingkungan sekolah yang baik akan berdampak pada peningkatan keberhasilan belajar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

4. Hasil Belajar Matematika

Menurut Sudjana (Firmansyah, 2015: 37) hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.

Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Abdurrahman (Sobri & Moerdiyanto, 2014: 45) mendefinisikan hasil belajar sebagai kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan dan dapat dipandang sebagai salah satu ukuran keberhasilan siswa dalam pendidikan di sekolah.

Menurut Djamarah (Fitri, dkk, 2014: 18) hasil belajar adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan sesudah penilaian.

Mulyono (Supriadi, 2005: 15-16) memberikan pengertian hasil belajar sebagai suatu kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar. Belajar merupakan hal yang sangat penting terutama dalam kemajuan anak didik karena belajar itu sendiri merupakan proses dalam diri sesorang menuju tercapainya tujuan belajar yang sebenarnya.

Menurut Ruseffendi (Firmansyah, 2015: 36) belajar matematika adalah belajar konsep dimulai dari benda-benda real kongkrit secara intutif, kemudian pada tahap-tahap yang lebih tinggi konsep itu diajarkan lagi dalam bentuk yang lebih abstrak dengan mengunakan notasi yang lebih umum dipakai dalam matematika.

Sedangkan hasil belajar matematika menurut Susanti (Hayati, 2016: 12) adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai dan memahami bahan pelajaran matematika setelah proses belajar mengajar yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil belajarnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa hasil belajar sebagai suatu pencapaian yang dilakukan siswa setelah adanya proses pembelajaran yang diperoleh dari hasil ujian semester, hasil yang berupa nilai yang akan menunjukkan apakah proses pembelajaran sudah mencapai hasil belajar yang maksimal atau masih belum.

B. Kerangka Pikir

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. faktor tersebut terdiri atas faktor internal maupun faktor eksternal. Karena itu untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor jasmaniah (mencakup intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan) dan faktor kelelahan. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor keluarga (mencakup cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, displin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah) dan faktor masyarakat (mencakup kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat).

Dari sekian banyak faktor tersebut, peneliti hanya melihat pengaruh faktor kesiapan, kedisiplinan dan lingkungan sekolah. Faktor kesiapan mempengaruhi hasil belajar karena dengan memiliki kesiapan belajar maka sesuatu yang dihasilkan akan menjadi lebih baik dibandingkan hasil yang dicapai tanpa adanya sebuah kesiapan belajar. Kesiapan belajar yang baik akan membuat siswa lebih mudah dalam mengikuti proses pembelajaran. Kedisiplinan siswa juga mempunyai pengaruh yang

besar terhadap hasil belajar siswa. Seorang siswa yang berdisiplin dalam belajar akan belajar tanpa paksaan dan sadar untuk belajar sehingga akan mendapatkan hasil belajar yang lebih baik, dibandingkan dengan siswa yang belajar namun tidak disiplin karena siswa yang tidak memiliki kedisiplinan dalam belajar akan merasa terpaksa dalam belajar sehingga akan sukar memahami materi yang dipelajarinya. Faktor lingkungan sekolah merupakan wahana dimana kegiatan dan proses pendidikan berlangsung. Lingkungan sekolah yang baik akan berdampak pada peningkatan keberhasilan belajar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan hal yang telah dipaparkan diatas, kesiapan belajar, kedisiplinan dan lingkungan sekolah dianggap berpengaruh pada hasil belajar siswa. Berikut bagan kerangka pikir disajikan:

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Faktor-faktor belajar (faktor internal dan eksternal)

Kesiapan belajar - Kondisi fisik - Kondisi mental (emosional) - Kebutuhan, motif dan tujuan - Keterampilan pengetahuan Kedispilinan - Disiplin belajar di sekolah - Disiplin belajar di rumah Lingkungan sekolah - Metode mengajar - Relasi guru dengan

siswa

- Relasi siswa dengan siswa

- Alat, media, dan keadaan gedung

C. Hipotesis Penelitian

1. Kesiapan belajar, kedisiplinan, dan lingkungan sekolah memiliki pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMAN 3 Pangkep Kabupaten Pangkep

2. Kesiapan belajar memiliki pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMAN 3 Pangkep Kabupaten Pangkep

3. Kedisiplinan memiliki pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMAN 3 Pangkep Kabupaten Pangkep

4. Lingkungan sekolah memiliki pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMAN 3 Pangkep Kabupaten Pangkep

23

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data numerical (angka) yang diolah dengan metode statistika.

Dilihat dari jenisnya, penelitian ini termasuk penelitian ex-post facto. Penelitian ex-post facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian-kejadian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variabel bebas yang secara keseluruhan sudah terjadi dan menjelaskan atau menemukan bagaimana variabel-variabel dalam penelitian

Dokumen terkait