• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah bagian statistik yang digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan data tanpa bermaksud membuat kesimpulan tetapi hanya menjelaskan kelompok data. Berikut ini disajikan analisis deskriptif hasil belajar fisika peserta didik yang terlihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik

Secara rinci hasil analisis deskriptif dapat dilihat pada lampiran D.1 (Halaman 170-176). Jika skor Pretest dan Posttest hasil belajar fisika peserta didik pada kelas X MIPA 2 SMA Negeri 9 Enrekang dikategorisasikan kedalam skala lima yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi, maka akan diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.2.

32

Tabel 4.2 Kategorisasi Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik No Interval

Skor Kategori

Pretest Posttest

Frekuensi Presentase

% Frekuensi Presentase

%

Adapun diagram kategorisasi skor dan frekuensi Pretest dan Posttest hasil belajar fisika peserta didik pada kelas X MIPA 2 SMA Negeri 9 Enrekang dapat dilihat pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Gambar Diagram Kategorisasi Skor dan Frekuensi Peserta Didik

Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

33

peserta didik berada pada kategori sangat rendah, 53,6% peserta didik berada pada kategori rendah dan 10,7% peserta didik berada pada kategori sedang. Persentase tertinggi untuk perolehan skor saat pretest berada pada kategori rendah, sehingga tingkat hasil belajar fisika peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran guided discovery berada pada kategori rendah. Sedangkan data untuk posttest 14,3% peserta didik berada pada kategori sedang, 60,7% peserta didik berada pada kategori tinggi dan 25,0% peserta didik berada pada kategori sangat tinggi.

Persentase tertinggi untuk perolehan skor saat posttest berada pada kategori tinggi, sehingga tingkat hasil belajar fisika peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran guided discovery berada pada kategori tinggi.

2. Uji N-Gain

Pengujian ini dilakukalan untuk mengetahui peningkatan yang terjadi sebelum dan setelah diberikan perlakuan, serta untuk mengetahui peningkatan hasil belajar fisika peserta didik berada pada kategori rendah, sedang atau tinggi.

Berikut adalah hasil analisis dari data yang telah diperoleh.

Tabel 4.3 Kategori Uji N-Gain Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Sebelum dan Setelah Perlakuan

Kriteria Indeks Gain N-Gain Ternormalisasi Tinggi g > 0,70

0,55 Sedang 0,70 ≥ g ≥ 0,30

Rendah g < 0,30

Sumber: Data Hasil Pengolahan (2019)

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat digambarkan hasil perhitungan uji N-Gain rata-rata yang diperoleh adalah 0,55, maka peningkatan hasil belajar fisika

34

peserta didik yang terjadi setelah menerapkan model pembelajaran guided discovery pada kelas X MIPA 2 SMA Negeri 9 Enrekang termasuk kategori sedang. Secara rinci dapat dilihat pada lampiran D.2 (Halaman 177-178).

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, hasil belajar peserta didik dapat diperoleh dengan melakukan Pretest dan Posttest, dari hasil Pretest dan Posttest yang kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial untuk mengetahui hasil belajar fisika peserta didik kelas X MIPA 2 SMA Negeri 9 Enrekang sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran guided discovery.

Dari hasil analisis deskriptif diperoleh skor rata-rata peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran guided discovery sebesar 8,29 dan skor rata-rata peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran guided discovery yaitu 18,07 yang artinya skor rata-rata peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran lebih rendah dibandingkan skor rata-rata peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran guided discovery. Untuk kategori skor hasil belajar fisika peserta didik dari analisis deskriptif yang diperoleh diketahui bahwa hasil belajar fisika peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran guided discovery berada pada kategori rendah dan hasil belajar fisika peserta didik setelah diterapkan model pembelajaran guided discovery berada pada kategori tinggi. Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar fisika peserta didik maka

35

dilakukan uji N-Gain. Dari hasil analisis N-Gain diperoleh peningkatan hasil belajar fisika peserta didik sebesar 0,55 dan masuk dalam kategori sedang.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran guided discovery dapat meningkatkan hasil belajar fisika peserta didik. Peningkatan hasil belajar fisika peserta didik disebabkan karena model pembelajaran guided discovery dirancang untuk membuat peserta didik dapat aktif dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik dapat menemukan suatu teori fisika dengan guru sebagai fasilitator dan pembimbing. Hasil penelitian ini relevan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Suciarsy (2017: 10), mengenai Model Pembelajaran Guided Discovery untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Sikap Ilmiah Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fisika Kelas XI menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran guided discovery dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, terlihat dari kompetensi pengetahuan peserta didik yang meningkat.

Di penelitian yang lain yaitu Habibbulloh, Jatmiko dan Widodo (2017) mengenai Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model Guided Discovery Berbasis Lab Virtual untuk Mereduksi Miskonsepsi Siswa SMK Topik Efek Fotolistrik menunjukkan bahwa guided discovery berbasis lab virtual telah memenuhi syarat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan sehingga layak untuk digunakan mereduksi miskonsepsi siswa SMK pada topik Efek Fotolistrik. Demikian pula dengan hasil penelitian Khasanah, Dwiastuti dan Nurmiyati (2016) mengenai Pengaruh Model Guided Discovery Learning Terhadap Literasi Sains ditinjau dari Kecerdasan Naturalis menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan model guided discovery learning terhadap literasi sains dan ada pengaruh penggunaan

36

model guided discovery learning terhadap literasi sains ditinjau dari kecerdasan naturalis.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memiliki beberapa kendala dalam menerapkan model pembelajaran guided discovery diantaranya yaitu masalah waktu, di mana dalam proses pembelajaran pada saat peserta didik melakukan sebuah percobaan lebih banyak waktu yang mereka perlukan untuk menyelesaikan sebuah percobaan dan mengerjakan LKPD yang seharusnya dilakukan dalam waktu 45 menit harus selesai lebih lama. Kendala selanjutnya adalah adanya waktu istirahat selama 15 menit di tengah proses pembelajaran fisika, sehingga pembelajaran kurang efisien dan biasanya peserta didik mengambil waktu istirahat lebih lama dari yang seharusnya. Di mana mata pelajaran fisika dimulai pukul 9.30 kemudian istirahat pukul 10.00 – 10.15 dan kembali belajar pukul 10.15 – 12.00. Adapun cara untuk mengatasi kendala tersebut, yang pertama yaitu menegaskan bahwa waktu yang diperlukan peserta didik dalam menyelesaikan sebuah percobaan dan mengerjakan LKPD hanya 45 menit. Dan yang kedua yaitu menghilangkan waktu istirahat ditengah proses pembelajaran.

37 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Hasil belajar fisika peserta didik kelas X MIPA 2 SMA Negeri 9 Enrekang sebelum diajar dengan menerapkan model pembelajaan guided discovery berada pada kategori rendah yang ditunjukkan dengan skor rata-rata yang diperoleh sebesar 8,29.

2. Hasil belajar fisika peserta didik kelas X MIPA 2 SMA Negeri 9 Enrekang setelah diajar dengan menerapkan model pembelajaan guided discovery berada pada kategori tinggi yang ditunjukkan dengan skor rata-rata yang diperoleh sebesar 18,07.

3. Terdapat peningkatan hasil belajar fisika peserta didik kelas X MIPA 2 SMA Negeri 9 Enrekang setelah diajar dengan menerapkan model pembelajaan guided discovery dengan N-Gain 0,55 (kriteria sedang).

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran-saran yang dapat direkomendasikan baik untuk pendidik maupun peneliti selanjutnya, yaitu:

1. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengefisienkan waktu dan tegas pada peserta didik dalam masalah menyelesaikan sebuah percobaan dan mengerjakan LKPD.

38

2. Karena adanya peningkatan yang berarti dari penggunaan model pembelajaran guided discovery dalam proses belajar mengajar maka disarankan kepada para pendidik hendaknya lebih mempertimbangkan penggunaan model ini dalam proses pembelajaran.

3. Kepada pendidik diharapkan mampu menerapkan berbagai model pembelajaran yang dapat meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dalam memperoleh pengetahuan.

39

Dokumen terkait