• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

3. Model Pembelajaran Guided Discovery

Menurut Sagala (2014: 196) Guided discovery merupakan model mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah, menempatkan peserta didik lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam memecahkan masalah.

Menurut Setiani dan Priansa (2015: 219)

Pembelajaran penemuan terbimbing (guided discoverylearning) merupakan model pembelajaran yang menciptakan situasi belajar yang melibatkan peserta didik belajar secara aktif dan mandiri dalam menemukan suatu konsep atau teori, pemahaman dan pemecahan masalah. Proses penemuan tersebut membutuhkan guru sebagai fasilitator dan pembimbing.

Menurut Sukmana (Setiani & Priansa, 2015: 219) pembelajaran penemuan merupakan pembelajaran yang mengajak para peserta didik atau didorong untuk melakukan kegiatan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya peserta didik menemukan sesuatu yang diharapkan. Sedangkan menurut Hamalik (Setiani &

Priansa, 2015: 219) menyatakan bahwa penemuan terbimbing melibatkan peserta didik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Peserta didik melakukan penemuan, sedangkan guru membimbing mereka kearah yang benar/tepat.

Hanafiah dan Suhana (dalam Setiani & Priansa, 2015: 219)

Menyatakan bahwa pembelajaran terbimbing merupakan pelaksanaan penemuan yang dilakukan atas petunjuk dari guru. Pembelajarannya

11

dimulai dari guru mengajukan berbagai pertanyaan yan melacak, dengan tujuan untuk mengarahkan peserta didik pada titik kesimpulan kemudian peserta didik melakukan percobaan untuk membuktikan pendapat yang dikemukakan.

Menurut Eggen (Maya 2018: 185) Model pembelajaran Guided Discovery adalah suatu model pembelajaran dimana peserta didik dihadapkan pada situasi yang bebas dalam mengapresiasikan dirinya untuk menyelidiki rumus yang digunakan, dimana guru memberi peserta didik contoh-contoh topik spesifik dan memandu peserta didik untuk memahami topik tersebut. Model pembelajaran Guided Discovery memiliki ciri khas yaitu peserta didik dapat menemukan/menyelidiki suatu konsep yang sesuai dengan langkah-langkah yang diarahkan oleh guru. Dengan melakukan suatu penemuan peserta didik diharapkan dapat meningkatkan peran aktif sehingga terjadinya peningkatan pada pemahaman peserta didik dalam pembelajaran. Hal ini memungkinkan peserta didik agar dapat memahami konsep, dan menyelesaikan masalah sesuai dengan indikatornya sehingga hasil belajar peserta didik menjadi optimal.

Jadi dapat disimpulkan model pembelajaran guided discovery atau yang sering dikenal dengan penemuan terbimbing yaitu salah satu model pembelajaran dalam kurikulum 2013 dimana peserta didiknya berperan aktif di dalam proses pembelajaran untuk memahami suatu konsep sedangkan guru sebagai fasilitator dan pembimbing.

12

Bruner (dalam Setiani & Priansa, 2015: 220) menyatakan bahwa tahap-tahap dalam implementasi pembelajaran penemuan terbimbing adalah sebagai berikut:

1. Stimulus

Stimulus adalah memberikan pertanyaan atau menganjurkan peserta didik untuk mengamati gambar maupun membaca buku mengenai materi.

2. Pernyataan masalah

Berkaitan dengan pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis.

3. Pengumpulan data

Berkaitan dengan pemberian kesempatan kepada peserta didik mengumpulkan informasi.

4. Pemrosesan data

Berkaitan dengan pengolahan data yang telah diperoleh oleh peserta didik 5. Verifikasi

Berkaitan dengan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis

6. Generalisasi

Berkaitan dengan penarikan simpulan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.

13

Beberapa pakar pendidikan dan pembelajaran lainnya menyatakan bahwa pembelajaran penemuan terbimbing terdiri dari kegiatan:

1. Pernyataan masalah

Masalah untuk masing-masing kegiatan dapat dinyatakan sebagai pertanyaan atau pernyataan biasa.

2. Tingkat atau kelas

Mengacu pada tingkat atau kelas peserta didik terkait dengan ketercapaian pembelajaran sesuai dengan tingkat dan kelas peserta didik.

3. Prinsip atau konsep yang diberikan

Konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan harus ditulis dengan jelas dan tepat melalui aspek kognitif, psikomotorik dan afektif

4. Alat atau bahan

Alat atau bahan harus disediakan sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik untuk melakukan kegiatan

5. Diskusi pengarahan

Diskusi pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik (kelas) untuk mendiskusikan sebelum peserta didik melakukan kegiatan penemuan terbimbing

6. Percobaan terarah

Berupa kegiatan percobaan atau penyelidikan yang dilakukan oleh peserta didik untuk menemukan konsep-konsep dengan atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh guru

14

7. Proses berpikir kritis dalam ilmiah

Proses berpikir kritis dan ilmiah harus ditulis dan dijelaskan untuk menunjukkan kepada guru lain tentang operasional peserta didik yang diharapkan selama kegiatan berlangsung

8. Pertanyaan yang bersifat terbuka

Pertanyaan yang bersifat terbuka harus berupa pertanyaan yang mengarah ke pengembangan tambahan kegiatan penyelidikan atau percobaan yang dapat dilakukan oleh peserta didik

9. Catatan guru

Catatan guru berupa catatan guru lain yang meliputi beberapa hal terkait dengan:

a) Penjelasan tentang hal-hal atau bagian-bagian yang sulit dari kegiatan atau pelajaran

b) Isi materi pelajaran yang relevan dengan kegiatan

Faktor-faktor atau variabel-variabel yang dapat mempengaruhi hasil-hasilnya terutama penting sekali apabila percobaan atau penyelidikan tidak berjalan (gagal).

Dahar (dalam Setiani & Priansa, 2015: 223) menyatakan bahwa peranan guru dalam pembelajaran penemuan adalah:

1. Merencanakan pembelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para peserta didik.

2. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para peserta didik untuk memecahkan masalah.

15

3. Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik, dan simbolik.

4. Bila peserta didik memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai pembimbing atau tutor.

5. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan.

Seperti yang disampaikan Carin dan Sund (dalam Suciarsy, 2016: 47) ada tiga alasan guru menggunakan model pembelajaran guided discovery, yaitu:

1. Sebagian besar dari guru lebih nyaman menggunakan pendekatan ekspositori, mugkin karena sudah lama sekali dikenal dalam dunia pendidikan

2. Jika menginginkan peserta didik menjadi seorang saintis yang selalu mengikuti perkembangan teknologi dan mampu menyelesaikan masalah, peserta didik harus selalu berperan aktif dalam setiap tingkat kegiatan sains dengan petunjuk dan pendampingan dari guru. Penemuan terbimbing pada anak yang usianya lebih muda akan mengarahkan anak kearah penemuan bebas ketika anak menginjak masa remaja dan dewasa

3. Pembelajaran dengan model guided discovery akan mengembangkan kemampuan metode mengajar guru untuk mempertemukan berbagai macam tingkat pemahaman peserta didik dalam pembelajaran.

Dokumen terkait