• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini, peneliti akan memaparkan gaya bahasa metafora apa saja yang terdapat di dalam novel karya Fiersa Besari dan memaparkan gaya bahasa metafora tersebut secara lebih mendalam.

4.2.1 Wujud Gaya Bahasa Metafora

Peneliti mengelompokkan data yang telah ditemukan dan peneliti menjabarkan data yang telah ditemukan secara lebih mendalam. Berikut ini akan dipaparkan gaya bahasa metafora yang digunakan pada novel karya Fiersa Besari: a. Metafora Antropomofik

Metafora yang tergolong antropomofik merupakan satu gejala semesta. Stephen (2014) menyatakan sebagian besar tuturan atau ekspresi yang mengacu pada benda-benda tidak bernyawa dilakukan dengan mengalihkan atau memindahkan dari tubuh manusia atau bagian-bagiannya, dari makna atau nilai dan nafsu-nafsu yang dimiliki manusia. Jadi, intinya penciptaan metafora antropomorfik bertolak dari tubuh atau bagian tubuh manusia atau nilai atau makna dan nafsu-nafsu kesenangan yang dimiliki manusia. Kemudian, dialihkan atau ditransfer untuk benda-benda yang sebenarnya tidak hidup atau bernyawa.

Ungkapan metaforis seperti itu yang dikenal dengan gaya personifikasi. Berikut adalah penjelasan dari metaora yang disebutkan di atas, metafora-metafora tersebut akan dijelaskan sesuai dengan hal yang dimetafora-metaforakan.

1. Tangan kecilnya itu mengepal, seolah siap meninju congkaknya dunia. 2. Degup jantungku berlarian.

3. Secangkir kopi menendangku keras, melengkapi hari yang kian panas 4. Sebenarnya perutku sudah menyanyikan lagu keroncong sejak tadi,

akhirnya kumakan juga sepiring nasi berhiaskan dendeng itu.

Data (1) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 220). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada meninju congkaknya dunia. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora antropomorfik/personifikasi pada kata meninju karena terjadi ekspresi manusia yaitu memukul dengan tinju kepada dunia yang tidak bisa digapai. Mengepal berarti menggenggam sesuatu dengan jari yang ditekan kuat-kuat. Pengarang menggunakan kata meninju untuk sebuah kekesalan sehingga dimetaforakan dengan meninju congkaknya dunia.

Data (2) di atas terdapat dalam novel Arah Langkah (halaman 32). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada degup jantungku berlarian. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora antropomorfik/personifikasi pada kata berlarian karena memetaforakan jantung yang berdebar seolah jantung dapat berlari ke mana-mana seperti yang dilakukan manusia.

Data (3) di atas terdapat dalam novel Arah Langkah (halaman 43). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada secangkir kopi menendangku keras.

Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora antropomorfik/personifikasi pada kata menendang karena menjelaskan bahwa kopi dengan rasa pahit yang kuat seolah dapat menendang keras. Kalimat tersebut menggambarkan bahwa sebuah minuman kopi sebagai sesuatu yang dapat menendang seperti layaknya manusia yang menggunakan bagian tubuh kaki untuk menendang sesuatu.

Data (4) di atas terdapat dalam novel Arah Langkah (halaman 219). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada perutku sudah menyanyikan lagu keroncong. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora antropomorfik/personifikasi pada kata menyanyikan karena menggambarkan kelaparan yang menghasilkan bunyi dalam perut yang seolah-olah bernyanyi layaknya penyanyi.

b. Metafora Binatang

Metafora binatang lazim digunakan oleh pemakai bahasa untuk menggambarkan satu kondisi atau kenyataan di alam sesuai pengalaman pemakai bahasa. Jenis metafora ini menggunakan binatang atau bagian tubuh binatang atau sesuatu yang berkaitan dengan binatang untuk pencitraan sesuatu yang lain. Pada umumnya didasarkan atas kemiripan bentuk yang cukup jelas sehingga kurang menghasilkan daya ekspresivitas yang kuat. Berikut ini penjelasan dari metafora-metafora yang disebutkan di atas, metafora-metafora-metafora-metafora tersebut akan dijelaskan dengan hal yang dimetaforakan. Perhatikan data di bawah ini.

1. Cacing-cacing dalam perut yang telah berdemo membuat mereka sigap dalam menyantap mie rebus.

2. Aku beruntung bisa datang kesini dan menyaksikan betapa air mengharu biru dengan ikan-ikan yang menari di atas terumbu karang.

3. Sebagai seorang perokok yang saklek, tentu aku memilih untuk cuek bebek, berjudi pada nasib, dan berharap diagnosa dokter tersebut salah. 4. Dan sebelum memakai emosi lalu marah-marah membabi buta.

5. Kami lalu menelusuri jalan setapak yang sesekali meliuk bagai ular. Data (5) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 44). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada cacing-cacing dalam perut yang telah berdemo. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora binatang karena menyebutkan cacing-cacing di dalam perut manusia. Metafora tersebut merujuk pada binatang kecil, melata, tidak berkaki, tubuhnya bulat atau pipih panjang dan tidak beranggota (ada yang hidup dalam air, tanah, perut manusia, atau perut binatang). Kalimat tersebut menggambarkan bahwa binatang yaitu cacing yang seolah berdemo di dalam perut.

Data (6) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 61). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada ikan-ikan yang menari. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora binatang karena menggunakan ikan-ikan yang seolah dapat seperti manusia yang dapat menari. Metafora tersebut merujuk pada vetebrata yang hidup dalam air, berdarah dingin, umumnya bernapas dengan insang, tubuhnya biasanya bersisik, bergerak, dan menjaga keseimbangan badannya dengan menggunakan sirip.

Data (7) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 61). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada Cuek bebek. Metafora tersebut merupakan sebuah frasa. Data tersebut termasuk metafora binatang karena menggunakan hewan yaitu bebek untuk menjuluki sikap yang dimiliki seseorang.

Kalimat tersebut menggunakan binatang bebek untuk menggambarkan perilaku seseorang yang menyerupai seekor bebek. Metafora tersebut merujuk pada unggas yang hidupnya di darat, pandai berenang, badannya seperti angsa.

Data (8) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 84). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada marah-marah membabi buta. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora binatang karena binatang babi digunakan untuk mendeskripsikan sifat dan perilaku yang dimiliki seseorang, sehingga dimetaforakan dengan membabi buta. Data tersebut merujuk pada binatang menyusui yang bermoncong panjang, berkulit tebal, dan berbulu kasar.

Data (9) di atas terdapat dalam novel Arah Langkah (halaman 244). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada jalan setapak yang sesekali meliuk bagai ular. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora binatang karena menggunakan binatang ular untuk mendeskripsikan sebuah jalan, ular dikatakan serupa dengan jalan setapak. Metafora tersebut menggunakan binatang ular dan merujuk pada hewan yang memiliki tubuh tidak terlalu besar dan panjang sebagai penjelasan sebuah jalanan kecil untuk mendatangi suatu tempat tujuan.

c. Metafora Sinestesia

Menurut Parera (dalam Maghfirah, 2018) merupakan salah satu tipe metafora berdasarkan pengalihan indera atau pengalihan dari indera satu ke indera yang lain. Ungkapan jenis metafora ini dapat diciptakan dengan pengalihan stimulus dari

organ pancaindera yang satu ke organ lainnya, misalnya dari indera pendengaran ke indera penglihatan, dari indera peraba ke indera pendengaran, dan sebagainya. Metafora jenis ini pada dasarnya adalah suatu pemindahan dari pengalaman yang satu ke pengalaman yang lain, atau dari tanggapan yang satu ketanggapan yang lain. Misalnya, “kulihat suara’. Secara umum suara adalah sesuatu yang bisa didengar. Namun, dalam tuturan ini ‘suara’ diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat dilihat. 1. Terima kasih karena telah mengambil hatiku tanpa sekalipun

menusuknya

2. Realitas membuatnya mengubur dalam-dalam impian menjadi sutradara

3. Kita menjadi pegawai teladan di kantor, tapi tidak mempertanyakan kenapa harus menjilat dan memperkaya bos kita.

4. Sebuah tangan melayang di atas buku yang sedang Suar baca, mengembalikan dari lamunan.

5. Hmmm ... sejak kapan kita menjadi pembenci hujan? 6. Mereka beradu pandang.

Data (10) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 228). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada mengambil hatiku tanpa sekalipun menusuknya. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora sinestesia karena menggambarkan sebuah hubungan yang tidak pernah menyakiti pasangannya sehingga dimetaforakan mengambil hatiku. Metafora tersebut merupakan sebuah pengalaman sepasang kekasih yang mengungkapkan perasaannya.

Data (11) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 50). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada mengubur dalam-dalam impian menjadi sutradara. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut

termasuk metafora sinestesia karena menunjukkan perasaan seseorang yang telah patah semangat untuk menggapai impiannya. Metafora tersebut merupakan sebuah kegagalan dalam pengalaman hidup sehingga dimetaforakan mengubur. Mengubur adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan manusia untuk menyembunyikan sesuatu hal agar tidak terlihat.

Data (12) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 53). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada menjilat dan memperkaya bos. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora sinestesia karena terjadi sebuah tindakan untuk dianggap kehadirannya oleh atasan, sehingga dimetaforakan menjilat. Menjilat berarti berbuah sesuatu supaya mendapatkan pujian (dinaikkan pangkat dan sebagainya.

Data (13) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 59). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada tangan melayang di atas buku. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora sinestesia karena terjadi sebuah kegiatan menggebrak buku dengan telapak tangan sehingga dimetaforakan sebuah tangan melayang di atas buku.

Data (14) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 69). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada pembenci hujan. Metafora tersebut merupakan sebuah frasa. Data tersebut termasuk metafora sinestesia karena mengungkapkan bagaimana perasaan membenci kondisi hujan.

Data (15) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 82). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada beradu pandang. Metafora tersebut

merupakan sebuah frasa. Data tersebut termasuk metafora sinestesia karena mengambarkan terdapat dua orang yang sedang bertatapan satu sama lain, sehingga dimetaforakan beradu pandang.

d. Metafora Abstrak ke Konkret

Menurut Parera (dalam Maghfirah, 2018) metafora ini yaitu menjabarkan pengalaman-pengalaman abstrak ke dalam hal konkret. Contohnya, metafora-metafora bahasa Inggris yang berkaitan dengan light ‘sinar, cahaya, lampu’. Sangat banyak ungkapan metaforis yang menggunakan kata light dengan berbagai ciri yang melekat. Misalnya, sorot mata, sinar wajar, otak cemerlang, dunia gemerlap, senyum berseri, dan sebagainya. Metafora jenis ini dapat dinyatakan sebagai kebalikan dari hal yang abstrak atau samar diperlukan sebagai sesuatu yang bernyawa sehingga dapat berbuat secara konkret atau bernyawa.

1. Dia terlalu borjuis.

2. Keramaian pecah menjadi lautan kembang api.

3. Ana tidak menyangka, ego lelaki itu menjulang untuk dirayapi penjelasan.

4. Mungkin ini cara alam semesta memutarbalikan keadaan agar dirinya dapat lebih arif.

5. Iya. Seolah-olah, kau adalah potongan teka-teki yang tepat yang bertugas untuk melengkapiku.”.

6. Oh, betapa ego yang pernah membumbung dadanya kini menciut dilahap pepehonan yang berdiri tegap di sekelilingmu.

7. Beberapa langit memuntahkan gemuruh sebelum berujung diturunkannya rintik hujan yang membasahi bumi.

Data (16) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 4). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan dia terlalu borjuis. Metafora

tersebut merupakan sebuah kalimat. Data tersebut termasuk metafora abstrak ke konkret karena menggambarkan sebuah yang dimiliki seseorang. Borjuis berarti kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas (biasanya dipertentangkan dengan jelata).

Data (17) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 117). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada keramaian pecah menjadi lautan kembang api. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora abstrak ke konkret karena menggambarkan keramaian orang menjadi lautan kembang api. Lautan merupakan sesuatu yang abstrak untuk dilihat secara keseluruhan oleh indera penglihatan atau mata.

Data (18) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 143). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada ego lelaki itu menjulang untuk dirayapi penjelasan. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora abstrak ke konkret karena memetaforakan ego yang tinggi karena kekesalan. Ego merupakan sesuatu yang abstrak yang dimiliki manusia tetapi tidak dapat dilihat oleh pandangan mata dan memberikan sebuah penjelasan untuk mendeskripsikan sifat manusia .

Data (19) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 38). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada alam semesta memutarbalikan keadaan agar dirinya dapat lebih arif. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora abstrak ke konkret karena menggambarkan pemikiran seseorang bahwa sudah terjadi pembaharuan dalam hidupnya. Alam

semesta berarti seluruh alam dan merupakan sesuatu yang abstrak tidak dapat terlihat bentuknya secara keseluruhan.

Data (20) di atas terdapat dalam novel 11.11 (halaman 229). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada potongan teka-teki yang tepat yang bertugas untuk melengkapiku. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora abstrak ke konkret karena menjelaskan pemikiran dan keinginan untuk saling melengkapi yang dimetaforakan dengan teka-teki. Teka-teki merupakan abstrak karena hanyalah sebuah permainan yang tidak dapat disandingkan dengan sebuah kehidupan seseorang.

Data (21) di atas terdapat dalam novel 11.11 (halaman 253). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada ego yang pernah membubung dadanya kini menciut dilahap pepohonan yang berdiri tegap di sekelilingmu. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut termasuk metafora abstrak ke konkret karena ego adalah sesuatu yang abstrak, tidak dapat dilihat secara langsung bentuknya sehingga dimetaforakan dengan ego yang pernah membumbung dadanya kini menciut dilahap pepohonan yang berdiri tegap di sekelilingmu. Kalimat tersebut menggunakan makhluk hidup yaitu pohon sebagai sesuatu yang dapat meredakan emosi atau kekesalan seseorang karena posisi atau keberasaan pohon bersebelahan dengan seseorang yang dengan mengalami perasaan kesal.

Data (22) di atas terdapat dalam novel Arah Langkah (halaman 81). Penanda gaya bahasa metafora dapat ditemukan pada langit memuntahkan gemuruh sebelum berujung diturunkannya rintik hujan. Metafora tersebut merupakan sebuah klausa.

Data tersebut termasuk metafora abstrak ke konkret karena menjelaskan proses terjadinya hujan. Kalimat tersebut menjelaskan kondisi langit dengan adanya gemuruh yang menandakan bahwa akan terjadi turunnya hujan dalam waktu dekat. 4.2.2 Fungsi Gaya Bahasa Metafora

Pada bagian ini dijelaskan mengenai fungsi-fungsi bahasa dalam novel karya Fiersa Besari. Hal yang diamati adalah apa saja fungsi bahasa dalam lima novel yaitu novel Konspirasi Alam Semesta Tahun 2017, Catatan Juang Tahun 2017, 11:11 Tahun 2018, Arah Langkah Tahun 2018 dan Tapak Jejak Tahun 2019. Sejauh pengamatan peneliti ada enam fungsi bahasa dalam lima novel ini yaitu fungsi menjelaskan, fungsi bertanya, fungsi meminta/memohon, fungsi mendeskripsikan/menggambarkan, fungsi menyatakan rasa benci. Peneliti mengelompokkan data yang telah ditemukan dan peneliti menjabarkan data fungsi gaya bahasa metafora secara semantik yang telah ditemukan secara lebih mendalam. Berikut akan dipaparkan fungsi gaya bahasa metafora.

a. Fungsi Menjelaskan

1. Beberapa mimpi memang harus menjadi bunga tidur. 2. Juang berusaha lari dari pisau yang menikam dada.

3. Mungkin ini cara alam semesta memutarbalikan keadaan agar dirinya dapat lebih arif.

4. Kita menjadi pegawai teladan di kantor, tapi tidak mempertanyakan kenapa harus menjilat dan memperkaya bos kita.

5. Kita dicuci otak agar menghamba pada uang tapi tidak melihat gambaran besarnya bahwa uang hanyalah alat, bukan tujuan.

6. Perasaan Suar bercampur aduk.

7. “Kisah ini cuma sebatas imajinasi belaka,” Timur malah melanjutkan. 8. Kejujuran adalah sebilah pisau terasah tajam yang siap menusuk dada

orang-orang yang tidak siap menghadapinya.

10. Sebenarnya perutku sudah menyanyikan lagu keroncong sejak tadi, akhirnya kumakan juga sepiring nasi berhiaskan dendeng itu.

Data (1) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 20). Metafora tersebut merupakan sebuah frasa. Data bunga tidur tersebut termasuk berfungsi menjelaskan karena mengungkapkan sebuah perasaan sedih akan hal keinginan atau harapan yang tenggelam. Metafora tersebut merupakan sebuah kegagalan menggapai cita-cita. Menunjukkan mimpi-mimpi atau harapan tersebut sudah berakhir. Mimpi berarti sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur. Kejadian dalam bermimpi biasanya mustahil dalam dunia nyata.

Data (2) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 136). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut berfungsi menjelaskan karena menggungkapkan perasaan sakit hati akan sesuatu hal yang baru saja dialami, menikam berarti sebuah benda yaitu pisau yang seakan mengampiri untuk melukai atau menusuk dengan senjata tajam tubuh manusia (dada). Dapat disimpulkan perasaan sakit hati yang dirasakan seseorang akan perbuatan pasangannya.

Data (3) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 38). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut berfungsi menjelaskan karena menguraikan pemikiran mengenai kehidupan yang terus berubah sehingga dimetaforakan dengan alam semesta memutarbalikan keadaan. Kalimat tersebut membicarakan perubahan hidup yaitu kemajuan dalam proses dari belum baik menjadi seseorang yang lebih baik dalam kehidupan.

Data (4) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 53). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data menjilat dan memperkaya bos berfungsi menjelaskan karena adanya pesan yang disampaikan bahwa tindakan menjilat atau mencari muka kepada seseorang dengan tujuan yang tidak baik dan menguntungkan diri sendiri. Penulis mengungkapkan bahwa adanya sebuah tindakan yang biasanya dilakukan oleh berbagai pihak untuk mendapatkan suatu keinginan dengan cara yang cepat atau cara yang dapat merugikan orang lain sehingga dimetaforakan dengan menjilat dan memperkaya bos.

Data (5) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 54). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data kita dicuci otak berfungsi menjelaskan karena menggungkapkan sebuah pemikiran bahwa telah dipengaruhi yang dilontarkan seseorang kepada rekannya. Hal ini berkaitan dengan pemikiran seseorang yang berusaha menyadarkan bahwa uang hanyalah alat dalam kesatuan hitungan.

Data (6) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 92). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut berfungsi menjelaskan karena menerangkan perasaan seseorang yang mengalami rasa bermasam-macam dan dialami menjadi satu sehingga dimetaforakan bercampur aduk gembira, kagum, kesal, sedih, dan sebagainya bercampur menjadi satu. Penulis menggunakan metafora perasaan Suar bercampur aduk untuk menggambarkan segala macam perasaan.

Data (7) di atas terdapat dalam novel 11.11 (halaman 236). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data kisah ini cuma sebatas imajinasi belaka tersebut berfungsi menjelaskan karena menguraikan perasaan seseorang yang sedang sakit hati atau patah hati dan menganggap bahwa kisah cintanya hanya dalam bayangan dirinya sehingga dimetaforakan dengan kisah ini cuma sebatas imajinasi belaka. Kisah merupakan cerita tentang kejadian dalam kehidupan seseorang dan sebagainya sedangkan imajinasi berarti daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang.

Data (8) di atas terdapat dalam novel 11.11 (halaman 272). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut berfungsi menjelaskan karena mengungkapkan dan menjelaskan mengenai konsep kejujuran. Pernyataan tersebut adalah kejujuran yang sulit dilakukan sehingga dimetaforakan kejujuran adalah sebilah pisau terasah tajam. Pisau merupakan bilah besi tipis dan tajam yang berbingkai digunakan sebagai alat pengiris.

Data (9) di atas terdapat dalam novel 11.11 (halaman 289). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data kekuasaan memang selalu mempunyai jalan untuk menutupi boroknya berfungsi menjelaskan karena adanya ungkapan dari seseorang yang bercerita mengenai kesalahan yang selalu ditutupi demi sebuah kekuasaan sehingga dimetaforakan dengan menutupi boroknya. Menutupi berarti menutup berkali-kali.

Data (10) di atas terdapat dalam novel Arah Langkah (halaman 219). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut berfungsi menjelaskan

karena menerangkan sebuah pesan adanya keinginan seseorang untuk makan karena sudah menahan kelaparan dan disertai dengan kegiatan makan. Penulis memberikan pesan bahwa seseorang sedang lapar menggunakan lagu keroncong yang berasal dari perut manusia sehingga dimetaforakan dengan perutku sudah menyanyikan lagu keroncong.

b. Fungsi Bertanya

1. Hmmm ... sejak kapan kita menjadi pembenci hujan?

Data (11) di atas terdapat dalam novel Catatan Juang (halaman 69). Metafora tersebut merupakan sebuah frasa. Data tersebut berfungsi untuk bertanya karena adanya metafora pembenci hujan, mempertanyakan kepada diri sendiri dan juga orang yang menjadi lawan bicara mengenai sikap kebencian terhadap hadirnya hujan.

c. Fungsi Meminta/Memohon

1. Tapi, mereka tidak tahu saja, ada api yang tumbuh di dada kedua remaja tersebut.

2. “kau adalah potongan teka-teki yang tepat yang bertugas untuk melengkapiku.”

Data (12) di atas terdapat dalam novel 11.11 (halaman 224). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut ber ungsi meminta/memohon karena timbulnya sebuah perasaan hati dan menjelaskan tingkah laku yang menggambarkan perasaan hati yang saling mencintai.

Data (13) di atas terdapat dalam novel 11.11 (halaman 229). Metafora tersebut merupakan sebuah kalimat. Data kau adalah potongan teka-teki yang tepat

yang bertugas untuk melengkapiku berfungsi untuk meminta atau memohon kepada seseorang untuk menjadi pasangannya. Metafora tersebut juga mengungkapan kenyamanan hati seseorang kepada pasangannya untuk saling melengkapi satu sama lain. Dalam metafora ini terdapat adanya sebuah pesan untuk saling memiliki dan berkeinginan untuk saling melengkapi.

d. Fungsi Mendeskripsikan/Menggambarkan

1. Aku beruntung bisa datang kesini dan menyaksikan betapa air mengharu biru dengan ikan-ikan yang menari di atas terumbu karang. 2. Ana tidak menyangka, ego lelaki itu menjulang untuk dirayapi

penjelasan.

3. Keramaian pecah menjadi lautan kembang api.

4. “Kisah ini cuma sebatas imajinasi belaka,” Timur malah melanjutkan. 5. Secangkir kopi menendangku keras, melengkapi hari yang kian panas. 6. Beberapa langit memuntahkan gemuruh sebelum berujung

diturunkannya rintik hujan yang membasahi bumi.

7. Kami lalu menelusuri jalan setapak yang sesekali meliuk bagai ular. 8. Membeli anak ayam untuk dipelihara, sandalnya berbicara.

Data (14) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 61). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut berfungsi untuk mendeskripsikan karena menggambarkan rasa gembira dengan melihat kondisi ikan yang berenang seperti sesorang yang sedang menari, berlenggak-lenggok. Metafora ikan-ikan yang menari di atas terumbu karang menggambarkan seseorang yang menyukai ikan-ikan yang berada di laut bergerak kesana kemari menjelajahi terumbu karang yaitu tanaman yang hidup di bawah laut.

Data (15) di atas terdapat dalam novel Konspirasi Alam Semesta (halaman 143). Metafora tersebut merupakan sebuah klausa. Data tersebut berfungsi mendeskripsikan karena menggambarkan sebuah perasaan kesal dengan adanya ego yang dimiliki seseorang dan mengungkapkan sebuah hubungan yang tengah terjadi pertengkaran dan berusaha untuk dipertahankan dengan penjelasan. Metafora ego lelaki itu menjulang untuk dirayapi penjelasan mengambarkan timbulkan kekesalan yang tidak dihasilkan oleh perbuatan diri sendiri tetapi

Dokumen terkait