• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Petugas atau karyawan laundry di RSI Surakarta berjumlah 9 orang dimana 3 karyawan telah berstatus pekerja tetap sedangkan yang lainnya masih berstatus kontrak. Dibagi menjadi dua sift kerja yaitu sift pertama masuk pukul 07.00 sampai pukul 14.00 sedangkan sift dua pukul 10.00 sampai pukul 17.00, untuk istirahat makan siang selama setengah jam.

Makan siang juga diberikan oleh pihak rumah sakit sendiri. Untuk libur digilir, satu orang mendapat libur sehari dalam seminggu.

Laundry di RSI Surakarta terletak paling pinggir dari sebuah bangunan, jadi jauh dari ruang perawatan. Terdiri dari dua lantai, lantai pertama untuk tempat pencucian atau penanganan linen kotor, sedangkan lantai dua untuk tempat peniris dan penyetrikaan dan pelipatan. Jadi lantai dua digunakan untuk penanganan linen bersih.

Sarana dan prasarana yang tersedia di unit laundry di Rumah Sakit Islam Surakarta adalah satu mesin cuci dengan kapasitas 30 kg, dua water hitter sebagai pengganti mesin uap, satu mesin pengering, dan satu setrika gulung. Sarana dan prasarana lainnya yaitu kereta linen bersih satu buah, kereta linen kotor lima buah dimana satu buah berukuran lebih kecil khusus di gunakan untuk mengambil linen kotor di bagian OK, almari

(tempat penyimpanan stock linen), buku nota pencatatan linen kotor dari ruangan, buku nota pengambilan linen bersih ke ruangan, bak cuci, ember untuk penjemuran, tempat setrika, alat setrika, alat mencuci manual seperti sikat, serta bahan kimia untuk mencuci seperti detergent yang aman, softener atau pewangi pakaian, alkohol 70 %, larutan khlorine 0,5%, dan disinfektan.

2. Persyaratan Laundry a. Suhu air cuci

Adapun suhu pencucian berkisar 30oC dengan waktu pencucian 45 menit, artinya pencucian tersebut tidak menggunakan air panas, melainkan air biasa atau air dingin.

b. Deterjen dan disinfektan

Semua bahan cuci ataupun softener yang digunakan telah dinyatakan ramah linkungan. Pemasok bahan sendiri telah ada MSDS (contoh MSDS lihat lampiran 2) untuk setiap produknya dan pemasok tersebut telah menguji produknya secara berkala.

c. Standar angka kuman

Pengukuran angka kuman bekerja sama dengan BBTKL (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan) Yogyakarta, dengan jangka waktu setiap enam bulan sekali, dan berikut hasil uji usap linen tanggal 21 Desember 2010 :

Tabel 2. Hasil Uji Usap Linen

No Jenis Linen Hasil pengukuran (CFU/cm2)

1.

Sumber: Data primer, pengukuran oleh BBTKL tgl 21 Desember 2010

3. Pengelolaan laundry a. Kualitas air

Untuk kualitas air dillihat dari tekanan air dan kejernihan air.

Tekanan air telah yang mencukupi kebutuhan mesin cuci dengan cara memasang pompa tambahan. Sebelum air masuk ke dalam mesin juga diberi filter tambahan untuk memaksimalkan kualitas kejernihan air.

b. Peralatan cuci

Peralatan cuci disini adalah mesin cuci, telah dipasang permanen, mesin cuci tersebut juga dapat diatur untuk mencuci berbagai jenis linen. Penempatan mesin dengan saluran air limbah telah dekat, namun saluran tidak tertutup.

c. Mesin cuci dan ruang cuci.

Untuk ruangan cuci telah disediakan secara terpisah antara ruang infeksius dan non infeksius.Namun untuk mesin cuci baru ada satu buah, artinya belum dipisah antara mesin cuci untuk linen infeksius dan mesin cuci untuk linen non infeksius.

d. Saluran dan pengelolaan air limbah.

Saluran limbah pada bagian ruang cuci infeksius tertutup namun untuk saluran sisa air cucian dari ruang linen non infeksius dan mesin cuci belum tertutup. Pengelolaan awal (pre-treatment) terhadap sisa air cucian tidak ada, artinya air limbah langsung dibuang ke saluran limbah.

e. Penyediaan ruang-ruang.

Ruangan yang tersedia adalah ruang linen bersih, ruang untuk perlengkapan kebersihan, ruang perlengkapan cuci, kamar mandi, dan ruang peniris.

4. Pengelolaan linen a. Pengumpulan

Adapun cara pengumpulan linen kotor yaitu di setiap bangsal perawatan bagi perawat yang telah selesai mengganti linen pasien yang kotor, kemudian meletakkan linen tersebut ke dalam boks linen kotor yang tersedia di ruangan masing-masing yang selalu dalam keadaan tertutup. Linen kotor dimasukkan ke dalam boks, disesuaikan jenisnya (infeksius dan non infeksius). Linen infeksius adalah yang dipakai untuk kasus penyakit menular, seperti diare, hepatitis, muntaber, dan lainnya. Untuk linen linen kotor infeksius tersebut ditempatkan dalam plastik bewarna kuning sebagai penanda. Petugas laundry berkeliling mengambil linen kotor, pengambilan linen kotor

terjadwal mulai pukul tujuh (07.00) pagi sampai kurang lebih 08.30 WIB.

b. Pencatatan

Saat pengumpulan linen langsung dihitung dan dicatat dalam buku pencatatan sesuai dengan jenisnya serta mengambil nota pencucian linen kotor dari petugas ruangan. Kemudia linen kotor dimasukkan ke kereta dorong di bawa ke unit pencucian.

Untuk mengkoordinasi kebutuhan linen ditunjuk seorang koordinator yang bertanggung jawab untuk menjaga jumlah linen tetap sama dan kebutuhan linen untuk seluruh unit di rumah sakit terpenuhi dengan baik. Selain itu koordinator disini juga mengatur tugas pekerja di laundry, serta mengatur jadwal jika ada yang ingin bertukar hari libur. Jadi selain bertanggung jawab atas kebutuhan linen dan kegiatan di laundry lancar, koordinator juga harus bisa menjaga keharmonisan hubungan antar pekerja.

c. Pemilahan

Semua linen yang sampai di unit laundry akan dipilah menjadi beberapa kelompok yaitu :

1) Linen infeksius :

a) Linen yang diletakkan di plastik kuning oleh perawat.

b) Linen dengan kotor berat 2) Linen non infeksius :

a) Linen kotor berat

b) Linen kotor ringan c) Selimut tebal d) Perlak

Setelah pemisahan tersebut maka penanganan atau pembersihan linen akan berbeda-beda berdasarkan dengan kelompok tersebut.

d. Penimbangan

Penimbangan dilakukan sesuai dengan kapasitas mesin yaitu 30kg. Perbandingan penggunaan antara deterjen dan disinfektan adalah 1:2.

e. Pembersihan

Pembersihan dilakukan untuk linen yang kotor berat dengan cara pengguyuran dengan air, sehingga kotoran berkurang. Setelah itu perendaman dengan disinfektan baru dicuci secara manual.

f. Pencucian

Pencucian dilakukan sampai semua linen bersih dan perlakuan pencucian sesuai dengan kelompoknya yaitu :

1) Linen infeksius :

Untuk linen infeksius penanganan di ruang infeksius.

Namun terkadang penanganan linen yang bukan infeksius pun dilakukan di sana. Dalam linen ini pun tidak ada kelompok linen kotor ringan, karena linen yang kotor ringan entah masuk infeksius maupun non infeksius akan langsung masuk mesin cuci. Misalnya

linen yang berasal dari OK atau ruang operasi yang tidak terkena noda darah akan dicuci di mesin cuci.

a) Linen yang diletakkan di plastik kuning oleh perawat.

Linen yang telah berada di plastik kuning oleh petugas laundry langsung di rendam dengan disinfektan dan air panas dengan suhu air panas kira-kira berkisar 80oC. Perendaman tersebut tanpa perlu pemilhan. Jadi meski linen tersebut kotor berat ataupun ringan jenis linen apapun semua direndam menjadi satu. Lama perendaman sebenarnya 15 menit cukup namun petugas biasanya membiarkannya semalaman atau hingga dingin air perendaman, baru di pilah-pilah mana saja linen yang kotor berat dan yang ringan. Perendaman linen tersebut tidak dilakukan di ruang infeksius, melainkan ember rendaman di tempatkan di samping mesin cuci tepat dibawah watter hitter. Air sisa rendaman juga dibuang di sekitarnya.

Untuk yang berat akan disikat atau dibersihkan secara manual, baru setelah tidak ada noda dicuci lagi dengan mesin cuci.

Untuk yang kotor ringan langsung masuk mesin cuci.

b) Linen dengan kotor berat

Linen yang kotor berat biasanya berasal dari ruang operasi atau ruang OK. Linen tersebut akan ditangani di ruang cuci infeksius. Linen-linen tersebut ditangani secara manual (protab untuk mencuci secara manual lihat lampiran 3) akan

dihilangkan terlebih dahulu dari noda darah, mutahan, berak, dan lainnya dengan disinfektan serta bahan pembersih lainnya setelah noda hilang baru dicuci dengan mesin cuci.

2) Linen non infeksius :

Penanganan linen non infeksius tidak jauh berbeda dengan linen infeksius, hanya saja ruang atau tempat cucinya yang berbeda. Namun begitu, terkadang linen yang non infeksius dicuci di ruang atau tempat cuci infeksius.

a) Linen kotor berat

Linen dengan kotor berat penanganannya akan dihilangkan nodanya setelah bersih baru di masukkan mesin cuci untuk dicuci lagi.

b) Linen kotor ringan

Kelompok linen ini entah berasal dari infeksius ataupun non infeksius asal bukan dari post penyakit menular maka akan dicuci menjadi satu mesin dalam sekali waktu.

c) Selimut tebal

Selimut yang tebal pencuciannya dilakukan secara manual (protab mencuci manual lihat lampiran 3) mulai dari perendaman dengan disinfektan hingga penyikatan. Namun untuk pemerasan dengan mesin cuci.

d) Perlak

Perlak dicuci secara manual dalam semua proses.

g. Pengeringan

Pengeringan telah dilakukan dengan mesin untuk hampir keseluruhan linen, kecuali selimut tebal dan perlak. Selimut tebal dan perlak perlu ditiriskan atau diangin-anginkan terlebih dahulu.

h. Penyetrikaan

Untuk semua linen kecuali selimut tebal dan perlak disetrika.

Penyetrikaan dengan setrika gulung.

Semua linen yang akan disterilkan dalam autoklaft sebelum dipakai tidak perlu disetrika. Contoh linen tersebut adalah linen yang dipakai di OK atau unit operasi dan ICU.

i. Penyimpanan

Di RSI Surakarta tidak ada linen yang disimpan dalam ruang laundry. Karena jumlah linen yang bisa dicapai 1:3 yaitu :

1) 1 parstok di cuci 2) 1 parstok dipakai

3) 1 parstok disimpan dalam almari unit terkait siap pakai j. Pendistribusian.

Pendistribusian dilakukan dua kali oleh sift pertama dan ke dua. Distribusi pertama sekitar jam 13.30 WIB untuk yang ke dua sekitar jam 16.30 WIB.

Pintu keluar linen bersih berbeda dengan pintu masuk linen kotor. Penanganan linen bersih ada di lantai dua, maka cara untuk menurunkan linen bersih dengan lift.

k. Pengangkutan

Dalam pengangkutan linen bersih tidak dibungkus dalam kantong. Melainkan langsung dimasukkan kedalam kereta dorong.

Kereta dorong telah dibedakan, pembersihan kereta dorong selalu dibersihkan sebelum digunakan untuk pengangkutan (protab mencuci kereta dorong linen kotor lihat lampiran 4). Lift yang digunakan untuk turun juga menggunakan kereta dorong yang telah di modifikasi dan dipasang permanen. Setelah sampai bawah linen tersebut akan dipindahkan ke kereta dorong yang lain untuk didistribusikan.

Kereta dorong telah diberi pembeda dengan kereta dorong yang digunakan untuk linen kotor dengan memeberi tulisan ³752/<

%(56,+´. Semua kereta dorong yang digunakan tertutup.

5. Alat Pelindung Diri (APD)

Pakaian khusus untuk petugas laundry yaitu berupa kaos panjang dan celana panjang. Untuk alat pelindung diri saat proses pencucian adalah:

a. Kap kepala atau penutup kepala.

b. Masker

c. Sarung tangan rumah tangga yang agak tebal serta panjang hingga siku.

d. Sepatu bot

Pemeriksaan berkala merupakan perlidungan diri secara telah dilakukan namun dengan jangka atau rentan waktu yang belum bertahap atau teratur. Pekerja yang telah bekerja hampir 16 tahun baru menerima pemeriksaan berkala sebanyak dua kali.

Vaksin hepatitis B akan diberikan jika hasil pemeriksaan darah dalam pemeriksaan berkala berada dalam skala untuk divaksin. Jika hasil pemerikasaan bagus artinya jauh dari skala untuk vaksin, maka vaksin hepatitis tidak diberikan.

6. Hasil pengukuran bising di ruang laundry adalah 71,18 dB.

7. Hasil pengukuran pencahayaan 270,8 lux. Sumber pencahayaan hanya satu yaitu alami, karena laundry beroprasi tidak pada malam hari.

8. Penanggulangan kebakaran

Penanggulangan kebakaran di unit laundry tersedia tombol alaram kebakaran. Jadi jika terjadi kebakaran tombol tersebut ditekan untuk pemberi tahuan. Tombol bewarna merah mencolok dan diletakkan di dekat pintu dengan ketinggian yang dapat dijangkau dengan mudah. Belum ada peralatan pemadam kebakaran seperti APAR.

Tabung gas LPG (Liqiud Petrolium Gas) telah dipasang regulator sebagai indikasi tekanan gas. Selang yang digunakan untuk pengaliran juga telah memenuhi standar.

Larangan untuk tidak merokok juga telah terpatuhi dengan baik di unit laundry tersebut.

9. Instalasi Listrik

Tegangan listrik yang digunakan di unit laundry sebesar 53 kV.

Karena termasuk tegangan menengah maka perancangan instalasi telah menggunakan standar PUIL oleh ahli kelistrikan di sana. Panel induk maupun cabang telah diberi box dan terdapat gembok atau kunci setiap box. Terdapat pengaman listrik seperti MCB (Mini Circuit Breaker) pada setiap panel, fuse atau sekering, dan ohm saklar pada setrika roll. Kabel yang digunakan dibingkai atau diberi selubung dan berstandar SNI.

Penggunaan kabel juga telah diperhitungkan ukuran yang sesuai dengan arusnya, begitu pula dengan MCB. Disana juga telah ada tenaga ahli kelistrikan.

10. Penanganan hewan penganggu

Binatang pengganggu yang ada di Rumah Sakit Islam Surakarta berupa nyamuk, tikus, kecoa, lalat, semut dan rayap. Dalam hal ini, rumah sakit bekerjasama dengan CV. PROTON untuk membasmi serangga yang ada. Teknik yang digunakan adalah dengan cara umpan dengan bahan kimia, perangkap, dan penyemprotan dengan bahan kimia. Dalam teknik pelaksanaan pihak PROTON datang setiap dua minggu sekali untuk pengecekan dan pembasmian.

Pengendalian binatang pengganggu yaitu tikus dengan cara pemberian umpan racun tikus yang bereaksi dalam beberapa menit setelah memakan umpan tersebut. Serta untuk pengendalian kucing dengan pemasangan perangkap yang didalamnya telah diberi umpan.

Dokumen terkait