• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Pembahasan mengacu kepada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004.

1. Laundry

Untuk lamanya jam kerja bagi karyawan sudah sesuai yaitu tujuh jam kerja, hal ini telah sesuai dengan Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 77 yang mengatur tentang Waktu Kerja, yaitu untuk waktu kerja sehari 8 (delapan) jam dan seminggu 40 jam. Setiap petugas juga telah diberi satu hari libur hal ini telah sesuai dengan Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 79 yang mengatur tentang waktu istirahat dan waktu cuti bagi tenaga kerja.

Dalam peletekkan ruangan atau bangunan untuk mencuci telah benar yaitu jauh dari ruang perawatan. Antara ruang cuci linen kotor dan penanganan linen bersih telah di batasi secara fisik yaitu berbeda lantai.

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 laundry adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya berupa mesin cuci, alat dan desinfektan, mesin uap (steam boiler), pengering, meja dan mesin setrika. Di RSI Surakarta telah memenuhi fasilitas tersebut namun, sarana prasarana di unit laundry memang kurang mencukupi kebutuhan. Disana hanya tersedia satu mesin cuci, sehingga pemisahan pencucian linen infeksius dan non infeksius dengan mesin cuci belum ada pemisahan tempat. Setrika yang manual

juga tidak tersedia. Setrika manual ini berfungsi untuk menyetrika bahan linen yang tebal, karena linen yang tebal tidak dapat masuk ke dalam setrika gulung. Dua watter hitter yang digunakan sebagai penyedia air panas pun yang digunakan hanya satu, yaitu untuk perendaman linen dari post penyakit menular. Sedangkan watter hitter yang satunya disediakan dalam memenuhi kebutuhan air panas untuk mesin cuci, namun belum dimanfaatkan dengan baik dikarenakan pasokan listrik yang besar.

Watter hitter tersebut untuk pasokan listriknya berasal dari PLN maupun matahari. Jika sinar matahari dapat cukup memenuhi kebutuhan dalam penyediaan air panas maka listrik PLN otomatis akan ditutup begitu sebaliknya jika sinar matahari tidak cukup misalnya keadaan mendung atau sore hari maka sumber listrik dari PLN akan otomatis terbuka.

2. Persyaratan Laundry menurut Kepmenkes nomor

1204/MENKES/SK/X/2004 adalah:

a. Suhu air cuci adalah air panas 70o C dalam waktu 25 menit atau 95o C dalam waktu 10 menit.

Air yang digunakan dalam mencuci belum bisa mencapai standar yang ada. Air yang panas dalam mencuci dimaksutkan untuk disinfektan, karena disinfaksi akan maksimal jika dalam keadaan air panas. Selain itu dapat mempersingkat waktu pencucian yang biasanya dengan air biasa 45 menit namun dengan air panas cukup 25 menit atau 10 menit dalam suhu 90oC. Watter hitter atau pemanas air sudah disediakan sendiri untuk pemenuhan mesin cuci namun

belum dimanfaatkan secara maksimal karena pasokan listrik yang kurang. Padahal jika pencucian dilakukan dengan air panas akan mempersingkat waktu pencucian sehingga pasokan listrik bisa berkurang.

b. Deterjen dan disinfektan, penggunaan deterjen dan disenfektan untuk proses pencucian yang ramah lingkungan agar limbah cair yang dihasilkan mudah terurai oleh lingkungan.

Pemakaian bahan cuci atau deterjen telah memenuhi standar yaitu ramah linkungan serta tercantum MSDS pada setiap produk.

Pihak ke tiga yang memasok bahan tersebut pun sudah bersetifikasi dalam menjamin produknya ramah lingkungan.

c. Standar angka kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak mengandung 6x103 spora spesies bacilus per inci persegi

Hasil pemeriksaan uji usap linen telah sesuai standar.

Pemeriksaan juga dilakukan secara berkala yaitu setahun dua kali dengan pihak penguji yang berkompeten pula. Sebaiknya linen yang diperiksa lebih menyeluruh dengan sampling yang lebih banyak pula.

3. Pengelolaan laundry a. Kualitas air

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 di tempat laundry tersedia kran air bersih dengan kualitas dan

tekanan aliran yang memadai, air panas untuk disinfeksi dan tersedia disinfektan.

Air bersumber pada air tanah, namun untuk kualitas sudah mencukupi. Mulai dari tingkat kejernihannya maupun tekanan air masuk. Filter yang digunakan adalah filter yang sama dipakai dalam sistem air RO untuk kebutuhan hemodialisa atau cuci darah. Filter tersebut diganti satu minggu sekali. Air yang digunakan mesin cuci memang diusahakan sejernih mungkin untuk mencegah terjadinya sumbatan dalam mesin cuci.

Penyediaan air panas telah ada yaitu watter hitter, meskipun belum bisa memenuhi untuk mesin cuci namun untuk perendaman linen secara manual masih bisa.

b. Peralatan cuci

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 peralatan cuci dipasang permanen dan diletakkan dekat dengan saluran pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencuci jenis-jenis linen yang berbeda.

Mesin cuci telah dipasang permanen begitu juga dengan mesin pengering. Letaknya juga dekat dengan saluran pembuangan namun saluran terbuka, sehingga air yang keluar dari mesin kadang tercecer ke lantai. Sebaiknya dipasang pipa dari mesin tersebut hingga ke saluran main hole limbah.

c. Mesin cuci dan ruang cuci

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 tersedia ruangan dan mesin cuci yang terpisah untuk linen infeksius dan non infeksius.

Mesin yang tersedia hanya satu buah. Jika penanganan dengan cara menggilir pemakaian mesin cuci akan memakan waktu sementara parstok yang tersedia hanya 1:3, maka penambahan mesin cuci memang harus dilakukan. Untuk menghemat biaya mesin cuci bisa menggunakan mesin yang kapasitasnya tidak begitu besar.

Penempatan mesin tersebut sebaiknya di taruh di ruang cuci infeksius yang telah tersedia.

Tujuan utama pemisahan mesin cuci tersebut adalah untuk pencegahan infeksi silang melalui linen. Untuk linen dari operasi atau OK tidak perlu dikhawatirkan terinfeksi karena masih ada proses sterilisasi. Namun linen yang lain yang dikhawatirkan terinfeksi, sementara linen tersebut sebagian besar digunakan oleh pasien. Uji usap memang menunjukan angka jauh di bawah standar namun bagaimana pun juga tindak pencegahan harus dilakukan.

d. Saluran dan pengelolaan air limbah

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 laundry harus dilengkapi saluran air limbah tertutup yang dilengkapi dengan pengelolaan awal (pre-treatment).

Sistem pembuangan air sisa dari mesin cuci masih terbuka, jarak saluran buang air limbah yang utama atau main hole limbah juga masih agak jauh. Sebenarnya air sisa cucian bisa dialirkan melalui pipa secara tertutup dan alirannya tertuju lansung pada main hole air limbah yang berjarak kira-kira hanya 4-5 meter. Sehingga air tidak tercecer keluar bila melewati saluran air atau got. Lantai sekitar mesin cuci juga terjaga kering sehingga potensi terpeleset bisa dihindarkan.

Saluran air limbah dengan sistem air terbuka yaitu di ruang non infeksius dan mesin cuci. Saluran tersebut dialirkan melalui got yang berada di tengah ruang cuci. Resikonya air bisa meluap dan menimbulkan genangan yang bisa menyebabkan terpeleset serta menyebarnya kuman maupun bakteri tersebar. Sisa air cuci memang tidak terlalu bahaya karena bukan dari linen infeksius yang kotor berat, namun akan lebih baik jika dibuat tertutup agar lantai tidak tergenang dan menekan sekecil mungkin resiko yang diakibatkan saluran limbah yang terbuka dalam ruangan.

Belum ada pengolahan awal untuk air limbah yang dibuang karena pengolahan air limbah yang digunakan adalah sistem dewats.

Sistem tersebut tidak memandang dari mana air limbah berasal. Jadi semua saluran air limbah akan dikumpulkan menjadi satu baru diolah.

e. Penyediaan ruang-ruang

Dalam Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 laundry harus disediakan ruang-ruang terpisah sesuai kegunaannya yaitu ruang linen kotor, ruang linen bersih, ruang untuk perlengkapan kebersihan, ruanng perlengkapan cuci, ruang kereta linen, kamar mandi dan ruang peniris atau pengering untuk alat-alat termasuk linen.

Ruang yang belum tersedia adalah ruang linen kotor. Tidak tersedia ruangan tersebut karena setelah pengambilan linen kotor, linen langsung di pisah-pisah dari kereta dorong dan langsung masuk proses pencucian, jadi ruangan untuk linen kotor juga tidak terlalu dibutuhkan. Kereta linen juga belum memiliki ruangan tersendiri biasanya bila tidak dipakai kereta hanya diletakkan di ruang cuci non infeksius karena memang tidak begitu makan tempat. Jadi ruang kereta dorong juga belum begitu dibutuhkan.

4. Pengelolaan linen a. Pengumpulan

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, pemilihan antara linen infeksius dan non-infeksius dimulai dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastik dan di beri label.

Pengumpulan sudah berjalan baik. Pemilahan linen kotor yang berasal dari post penyakit menular hanya bisa dilakukan perawat,

karena perawatlah yang tahu kondisi pasien. Maka sebaiknya perawat bersedia membedakan linen tersebut dengan memasukkan ke plastik kuning, karena jika tidak penularan atau infeksi secara silang bisa terjadi. Dari linen ke petugas atau linen ke linen lain atau dari linen ke pasien. Karena penanganan linen dari post penyakit menular ada sendiri caranya.

b. Pencatatan

Dalam pencatatan menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 menghitung dan mencatat linen di ruangan.

Pencatatan telah berjalan baik. Buku atau nota untuk pencatatan juga telah tersedia. Koordinator juga bisa bertanggung atas semua kebutuhan linen di rumah sakit dan mendata semua linen yang masuk harus sama dengan yang keluar, sehingga kehilangan maupun kekurangan linen dapat teratasi.

c. Pemilahan

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 linen dipilah berdasarkan kekotorannya.

Pemilahan dilakukan tidak hanya berdasarkan kekotorannya tetapi juga jenisnya. Meskipun pemilahan telah dilakukan dengan baik namun untuk kelompok kotor ringan masih belum dipisah antara infeksius dan non infeksius. Kelompok linen ini dicuci secara bersamaan di mesin cuci, dikarenakan mesin cuci baru ada satu.

Saat pemilahan karyawan juga harus meniliti apakah di dalam linen tertinggal barang atau tidak. Karenan sering barang-barang seperti jam tangan, remoute AC, termometer, jarum, uang ikut tercuci atau masuk ke dalam mesin cuci. Barang-barang tersebut bisa saja membuat mesin rusak. Maka dari itu pemilahan sebaiknya dilakukan secara teliti dan menggunakan sarung tangan yang tersedia untuk menghindari tusukan jarum saat pemilahan.

Akibat dari barang-barang yang tertinggal tersebut pekerja laundry bisa mendapat faktor bahaya psikososial. Hal tersebut terjadi apabila karyawan lain atau pengunjung mengungkapkan bahwa uangnya tertinggal di dalam linen. Maka pekerja linen lah yang pertama akan ditanya perihal uang tersebut. Kejujuran memang sangatlah dibutuhkan bagi pekerja namun, himbauan atau memastikan tidak ada barang tertinggal pada linen, itu yang seharusnya dilakukan.

Himbauan tersebut bisa melalui poster. Poster ditempel di setiap box penempatan linen kotor. Contoh poster ELVDGLWXOLV³SDVWLNDQWLGDNDGD

barang tertinggal di linen, kehilangan bukan tanggung jawab kami´

Setidaknya kalimat tersebut bisa sebagai pengingat ataupun ancaman, agar lebih hati-hati.

d. Penimbangan

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan disinfektan.

Penimbangan telah berjalan dengan baik dan sesuai kapasitas mesin cuci begitu juga dengan penggunaan deterjen dan disinfektan.

e. Pembersihan

Membersihkan linen kotor dan tinja, urin, darah, dan muntahan kemudian merendamnya dengan menggunakan disinfektan.

Hal tersebut telah dilakukan sesuai aturan. Untuk linen dari post penyakit menular perendaman dengan air panas.

f. Pencucian

Menurut Kepmenkes RI nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 mencuci dikelompokan berdasarkan kekotorannya.

Dalam penanganan pencucian linen yang masih belum sesuai standar adalah pencampuran linen infeksius dan non infeksius dalam satu mesin cuci dan dalam waktu yang bersamaan. Jadi pemisahan sebaiknya dilakukan meskipun linen tersebut hanya kotor ringan.

Penanganan linen dari post penyakit menular sebaiknya penempatan ember dalam perendaman sebaiknya dilakukan di ruang infeksius. Agar air sisa rendaman bisa langsung dibuang ikut bersama aliran air limbah di ruang infeksius.

g. Pengeringan

Untuk hal pengeringan tidak ada masalah. Tetapi jika memang menginginkan hasil perasan yang maksimal sebaiknya memakai mesin peras. Tetapi untuk saat ini mesin itu belum begitu diperlukan. Lebih penting penambahan mesin cuci dari pada mesin pemeras.

h. Penyetrikaan

Penyetrikaan seharusnya dilakukan untuk semua linen kecuali linen ruang OK yang justru tidak perlu disetrika. Namun untuk menyetrika selimut tebal secara manual waktu tidak akan mencukupi sedangkan linen bersih harus segera didistribusikan saat itu juga mengingat di laundry tidak menyediakan stok. Jadi pemecahan sebaiknya selain menambah mesin cuci juga menambah parstok linen sehingga target jumlah parstok linen bisa mencapai standar yaitu 1:4.

i. Penyimpanan

Karena parstok linen yang dicapai 1:3 maka di laundry tidak ada penyimpanan. Namun jika nantinya ada maka akan ditambah ruangan baru yaitu ruang penyimpanan. Gambaran atau denah dari tata ruang yang baru jika ada ruang penyimpanan terlampir di lampiran 6. Penyekat fisik bangunan pengusulan dari kaca karena selain murah dan cukup kuat juga anti jamur atupun rayap, mudah dibersihkan, serta mudah terlihat jika kotor. Almari dan juga rak sebaiknya dari kaca karena alesan yang sama.

j. Pendistribusian

Untuk pendistribusian telah berjalan baik, dan sesuai aturan.

Pintu keluar linen bersih dan waktu pendistribusian telah berebeda dengan pintu masuk linen kotor dan waktu pengabilannya.

k. Pengangkutan

Untuk pengangkutan sudah sesuai aturan. Kereta dorong yang digunakan juga telah tertutup rapat. Jalur serta waktunya telah dibedakan antara jalur linen kotor serta waktu pengambilan linen kotor.

5. Alat Pelindung Diri (APD)

Menurut Linda Tiedjen, 2004 dari daftar APD yang diperlukan di unit laundry maka APD yang kurang hanya apron karet atau plastik yang berguna untuk melindungi cairan atau cipratan darah ke tubuh. Bukan dari kain agar tidak meresap ke tubuh, sehingga perlindungan bisa maksimal.

Pemakaian APD secara lengkap baru beberapa petugas yang bersedia memakainya, maka cara menimbulkan kesadaran untuk memakainya harus dilakukan seperti penyuluhan langsung, peneguran, poster (gambar atau contoh poster (lampiran 5) serta pengawasan. Untuk APD, ada satu pekerja yang alergi terhadap sarung tangan karet berbahan lateks, maka dari itu sebaiknya menggunakan sarung tangan karet berbahan nitril. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memakai sarung tangan.

Mengenai pemeriksaan berkala sebaiknya diperbaiki sistem rentan waktunya. Karena pemeriksaan tersebut menentukan apakah petugas tersebut sudah waktunya mendapat vaksin hepatitis atau tidak. Jika waktunya terlanjur artinya hasil pemeriksaan menunjukkan positif hepatitis maka fatal akibatnya. Vaksinpun percuma dilakukan.

6. Hasil pengukuran kebisingan dikatakan aman yaitu 71,18 dB dimana NAB nya 78 dB, jadi masih dalam skala aman. Sumber bising tersebut berasal dari mesin pengering. Untuk mesin cuci sendiri justru tidak terlalu besar intensitas bisingnya.

7. Hasil pengkuran pencahayaan juga memenuhi standar yaitu 270,8 lux dimana NAB nya minimal 100 lux. Hal itu dikarenakan jumlah jendela ruang cuci sangat luas, sehingga cahaya bisa masuk secara maksimal.

8. Penanggulangan kebakaran

Di laundry telah ada tombol alarm kebakaran di lantai satu dan dua.

Namun belum ada sarana atau alat pemadam kebakaran seperti APAR. Hal ini dianggap karena ruang cuci sudah terdapat banyak air untuk alat pemadamnya. Namun, tidak semua kebakaran dipadamkan dengan air.

Apabila sumber kebakaran dari intalasi listrik jika dipadamkan dengan air justru akan berbahaya karena bisa menyebabkan sengatan listrik. Jika dari ledakan gas pemadaman dengan air juga berbahaya karena letak gas dekat dengan instalasi listrik pada mesin cuci. APAR jenis tepung kering pemadam yang paling aman karena bisa memadamkan jenis kebakaran dari sumber listrik maupun gas tanpa menimbulkan sengatan listrik.

Sebaiknya disediakan APAR jenis tersebut.

Pengamanan pada tabung gas telah berjalan dengan baik. Begitu pula larangan untuk tidak merokok di laundry telah berjalan disiplin.

9. Instalansi Listrik

Pasokan listrik PLN yang dibutuhkan di instalasi laundry cukup besar yaitu 53 KVA. Pengamanan untuk tegangan listrik sebesar itu dibagian panel induk maupun panel cabang telah terpasang MCB (Mini Circuit Breaker) yang berfungsi memutus arus listrik secara otomatis jika terjadi beban berlebih ataupun konsleting sehingga mencegah terjadinya percikan bunga api listrik yang berpotensi menjadi kebakaran.

Pengamanan kabel juga dilakukan dengan memberi selungkup pada seluruh kabel, sehingga hewan pengganggu seperti tikus tidak akan bisa menggigit atau merusaknya. Selain itu kabel juga lebih rapi dan terlindungi. Peralatan instalasi listrik seperti kabel sudah berlabel SNI.

Untuk penangkal petir tidak dipasang pada bangunan laundry karena tinggi bangunan tidak melebihi 10 meter.

10. Pengendalian hewan penganggu

Pengendalian hewan pengganggu telah dilaksanakan sesuai standar, dengan bekerja sama dengan pihak ke tiga.

Di unit laundry hewan pengganggu yang menjadi sorotan adalah tikus, karena hewan pengerat tersebut bisa saja merusak mesin yang ada.

Maka dari itu mesin cuci maupun mesin pengering diberi landasan pada bagian bawah sehingga tikus tidak bisa naik dan masuk ke mesin. Kabel pada instalasi listrik juga telah dibingkai sehingga terhindar dari gigitan tikus.

commit to user

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil pengamatan dan observasi yang dilakukan di laundry Rumah Sakit Islam Surakarta adalah pengelolaan linen yang dilakukan ada beberapa hal yang belum sesuai dengan standar Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Adapun hal-hal yang belum sesuai antara lain :

1. Suhu air yang digunakan untuk mencuci.

2. Belum tersedia mesin cuci yang terpisah untuk linen infeksius dan non infeksius

3. Saluran air pembuangan air sisa cucian sistemnya masih terbuka dan belum ada pengelolaan awal.

4. Masih kurang disiplin dalam pemisahan ruang untuk mencuci linen infeksius dan non infeksius.

5. Penyetrikaan belum dilakukan untuk linen yang tebal seperti bad cover dan selimut karena linen akan segera dipakai sehingga tidak ada waktu menytrika secara manual.

6. Pemeriksaan berkala yang belum teratur jangka waktunya.

7. Penyediaan APD yang belum lengkap yaitu belum tersedia apron plastik atau celemek plastik. Masih ada pekerja yang tidak memakai APD secara

lengakp seperti sarung tangan, sepatu boot, dan tutup kepala. Bagi pekerja yang alergi terhadap lateks tidak bisa memakai sarung tangan.

8. Tidak ada alat pemadam di unit laundry

B. Saran

1. Memanfaatkan fasilitas yang sebaik mungkin seperti penggunaan watter hitter untuk memasok air panas pada mesin cuci.

2. Penambahan satu mesin cuci agar pencucian linen infeksius dan non infeksius dapat dipisah.

3. Saluran air yang dibuat tertutup dengan menyalurkannya lewat pipa dan langsung membuangnya ke main hole air limbah.

4. Kedisiplinan dalam penggunaan ruang cuci infeksius dan non ditingkatkan lagi, jika perlu diadakan kembali penyuluhan tentang cara pengelolaan linen yang benar kepada petugas laundry.

5. Penambahan stok linen menjadi 1:4 sehingga pekerja bisa bekerja lebih nyaman atau tidak terburu-buru dan juga hasil cucian menjadi maksimal serta penyetrikaan secara manual bisa dilakukan untuk semua linen.

6. Penyediaan apron plastik ataupun celemek plastik serta sarung tangan berbahan nitril bagi pekerja yang alergi lateks sehingga semua pekerja memakai APD. Diadakan penyuluhan dan pengawasan dalam kedisiplinan dan pentingnya pemakaian APD.

7. Kedisiplinan pemeriksaan berkala ditingkatkan lagi.

8. Menyediakan alat pemadam api seperti APAR di ruang laundry.

Dokumen terkait