• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan yang berupa siklus-siklus pembelajaran yang dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam penelitian ini pembelajaran dilakukan dalam dua siklus sebagaimana pemaparan berikut ini.

1. Paparan Data Siklus Pertama (Empat Pertemuan)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan dan observasi, evaluasi, dan refleksi, seperti berikut ini.

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini, langkah-langkah yang dilakukan adalah :

1) Menelaah materi pembelajaran matematika VII SMP semester genap untuk mengalokasikan waktu dan materi yang dapat menggunakan pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning

2) Membuat rencana pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning 3) Menyiapkan media atau modeling yang digunakan dalam pembelajaran.

4) Menyiapkan pembentukan kelompok-kelompok kecil (4-5 orang) jika diperlukan kerja kelompok untuk keperluan pelaksanaan model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning

5) Membuat pedoman observasi untuk merekam proses pembelajaran di kelas.

41 38

6) Membuat alat evaluasi untuk mengetahui apakah secara konseptual dan prosedural siswa sudah terbangun melalui pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning

7) Membuat angket tanggapan dan saran siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan.

b. Tahap Pelaksanaan dan Obsevasi 1) Tahap Pelaksanaan

a) Mengidentifikasi keadaan siswa berupa minat dan kesiapannya.

b) Membagi menjadi kelompok-kelompok kecil.

c) Masing-masing kelompok mengamati, mencatat, dan menyimpulka d) Benda model siswa dengan materi yang dipelajari.

e) Diwakili oleh seorang anggota tiap kelompok menyajikan hasilnya.

f) Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting, baik mengenai kegiatan siswa dalam mengikuti pelajaran maupun tanggapan yang diberikan siswa.

g) Melakukan refleksi untuk keperluan pertemuan berikutnya.

h) Memberikan tes akhir untuk Siklus . 2) Tindakan Obsevasi

Pada Siklus I, keaktifan siswa dapat dilihat pada lembar observasi yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4,1. Keaktifan Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar pada

Banyaknya siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung.

23 22 23 22,67 94,44

2

Siswa yang mebangun

pengetahuannya dalam situasi dunia nyata melalui keterlibatanya dalam proses pembelajaran (kontructivisme)

7 10 13 10 41,67

3

Siswa yang dapat menemukan suatu ide dan gagasannya dalam menyelesaikan suatu masalah atau soal yang diberikan (inqury)

6 8 15 9,67 40,28

4

Siswa yang mengangkat tangan ingin mengajukan pertanyaan kepada siswa lain atau guru tentang materi (questioning)

10 15 22 12,33 51,39

5 Siswa yang dapat meniru model yang

telah diberikan (modeling) 4 10 12 8,33 36,11

6

Siswa yang belajar saling tukar pikiran satu sama lainatau bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang diberikanlearning (communiti)

5 10 15 10 41,67

7

Siswa yang mengangkat tangan ingin menerik kesimpulan terhadap materi yang telah diaajarkan (reflection)

3 6 15 8 33,33

8

Siswa yang memeriksa LKS temanya yang telah dikerjakan (authentic assessment)

- 20 23 21,5 89,58

Berdasarkan Tabel 3.1 di atas, dapat dilihat bahwa sekitar 94,44% siswa hadir pada Siklus I yang dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan, dan dari siswa yang hadir ada sekitar 41,67% yang mebangun pengetahuannya dalam situasi dunia nyata melalui keterlibatanya dalam proses pembelajaran (kontructivisme). Ada 40,28% yang dapat menemukan suatu ide dan gagasannya

dalam menyelesaikan suatu masalah atau soal yang diberikan (inqury), setelah tugas diberikan, ada sekitar 51,39% siswa mengangkat tangan ingin mengajukan pertanyaan kepada siswa lain atau guru tentang materi (questioning), sedangkan ada 36,11% siswa yang dapat meniru model yang telah diberikan (modeling), serta ada 41,67% Siswa yang belajar saling tukar pikiran satu sama lainatau bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang diberikanlearning (communiti), setelah diberikan masalah 33,33% Siswa yang mengangkat tangan ingin menerik kesimpulan terhadap materi yang telah diaajarkan (reflection), dan ada 89,58%

siswa yang memeriksa LKS temanya yang telah dikerjakan (authentic assessment) c. Tahap Evaluasi

Pada Siklus I ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian setelah selesai panyajian materi untuk Siklus I. Adapun analisis deskriptif skor perolehan hasil belajar siswa setelah penerapan Contextual Teaching and Learning adalah sebagai berikut berikut:

Tabel 4.2 Statistik Skor Hasil Tes Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar pada Siklus I

Statistik Nilai Statistik

Subjek 24

Skor Ideal 100

Skor Rata-rata 71,46

Skor Tertinggi 100

Skor Terendah 45

Rentang Skor 65

Dari Tabel 3.2 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika setelah diterapkan di Terapkan Contextual Teaching and Learningpada Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassaradalah 71,46dari skor ideal yang mungkin dicapai adalah 100. Sedangkan secara individual skor yang dicapai siswa pada penerapan ini tersebar dengan skor tertinggi 100 dan skor terendah 45 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0, dengan rentang skor 35,00

Setelah skor hasil tes siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai beriku:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Tes Siswa Kelas VIIB SMP Khadijah Makassar pada Siklus I

Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 54 Sangat Rendah 2 8,33

56 – 64 Rendah 8 33,33

65 – 79 Sedang 3 12,5

80 – 89 Tinggi 8 33,33

90 – 100 Sangat Tinggi 3 12,5

Jumlah 24 100%

Dari Tabel 3.3 menunjukkan bahwa terdapat 8,33 % siswa yang berada pada kategori sangat rendah, 33,33% siswa berada pada kategori rendah, 12,5%

berada pada kategori sedang, sedangkan yang berada pada kategori tinggi 33,33 dan 12,5% hasil belajar siswa berada dalam kategori sangat tinggi. Ini

menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa dikategorikan tinggi. Disamping itu, sesuai skor rata-rata dari hasil tes pada Siklus I yaitu sebesar 71,46, jika dikonversikan kedalam skala lima berada dalam kategori tinggi. Hal ini berarti skor rata-rata prestasi hasil belajar Siswa Kelas VIIB SMP Khadijah Makassarsetelah penerapan strategi Contextual Teaching and Learningberada dalam kategori tinggi

Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar Siklus I

Persentase skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0% - 64%

65% - 100%

Tidak tuntas Tuntas

10 14

41,67 58,33

Jumlah 24 100

Dari tabel 3.4 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan kelas sebesar 58,33% yaitu 14 siswa dari 24 termasuk dalam kategori tuntas dan 41,67% atau 10 siswa dari 24 termasuk dalam kategori tidak tuntas. Ini berarti terdapat 10 siswa yang perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan individual.

Dimana hasil persentase diperoleh

Persentase (%) = x 100%

d. Tahap Revleksi

Pada Siklus I proses belajar mengajar diawali dengan memperkenalkan model pem`belajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran yaitu menggunakan Contextual Teaching and Learning. Hal ini membuat siswa merasa baru dengan hal tersebut karena selama ini pembelajaran yang digunakan adalah

model pembelajaran langsung. Jadi sebelum memulai pelajaran guru harus memberikan gambaran tentang realitas masyarakat, agar siswa dapat menghuubungkan materi-materi pelajaran dengan realitas sosialnya.

Kemudian guru menyajikan ide baru dalam perluasan konsep pembelajaran.Siswa diberi tahu tujuan pelajaran yang memiliki antisipasi tentang sasaran pelajaran. Lalu penjelasan dan diskusi interaktif disajikan antara guru dengan siswa termasuk demonstrasi konkret yang sifatnya simbolik.Setelah itu, dilakukan pembagian kelompok kecil yang anggota kelompok harus benar-benar heterogen berdasarkan kemampuan awal siswa, jenis kelamin, dan bantuan dari guru sehingga dalam satu kelompok terdapat perbedaan prestasi belajar dan jenis kelamin yang beragam.Setiap kelompok terdiri dari 4 orang sehingga terdapat 6 kelompok. Pada pembagian kelompok ini guru yang menentukan ketua masing-masing tiap kelompok pemilihanya berdasarkan kemampuan yang tergolong tinggi. Kemudian guru membagikan lembar yang akan didiskusikan kepada setiap kelompok untuk didiskusikan dan mencari penyelesaian terhadap materi yang diajarkan tersebut. Setelah dilakukan diskusi kelompok guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempertanggungjawabkan hasil diskusinya.Menjelang akhir pertemuan siklus I sudah menampakkan adanya kemajuan. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya siswa yang mengumpulkan pekerjaan rumahnya (PR) dan siswa semakin memperhatikan pelajaran yang dibawakan.

2. Paparan Data Siklus II (Empat Pertemuan)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan dan observasi, evaluasi, dan refleksi

a. Tahap Perencanaan

Pada pertemuan siklus II tahap perencanaan relatif sama dengan pertemuan siklus I, yaitu membuat skenario pembahasan dengan menerapkan Contextual Teaching and Learning merancang dan membuat soal-soal yang akan diberikan pada siswa, baik dalam kelompok maupun individu, dan membuat lembar observasi. Mengembangkan teknik pembelajaran guna guna memperbaiki pelajaran pada pertemuan sebelumnya.

b. Tahap Pelaksanaan dan Observasi 1) Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada pertemuan pertama pada dasarnya sama dengan pertemuan siklus sebelumnya, yaitu diawali dengan mengecek kehadiran siswa dan menyampaikan materi yang akan diajarkan.Pada dasarnya langkah-langkah yang dilakukan pada pertemuan pertamayakni membahas materi selanjutnya dengan menggunakan penerapan Contextual Teaching and Learningdan melaksanakan dialog bersama kelompok-kelompok lain.

2) Tahap Observasi

Pada pertemuan pertama tercatat aktifitas siswa yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung. Aktifitas tersebut diperoleh dari lembar observasi.Pada Siklus II, keaktifan siswa dapat dilihat pada lembar observasi yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.5.Keaktifan Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar pada

Banyaknya siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung.

24 22 24 23,33 97,22

2

Siswa yang mebangun

pengetahuannya dalam situasi dunia nyata melalui keterlibatanya dalam proses pembelajaran (kontructivisme)

12 15 18 15 62,5

3

Siswa yang dapat menemukan suatu ide dan gagasannya dalam menyelesaikan suatu masalah atau soal yang diberikan (inqury)

13 18 20 13,67 70,83

4

Siswa yang mengangkat tangan ingin mengajukan pertanyaan kepada siswa lain atau guru tentang materi (questioning)

18 20 22 20 83,33

5 Siswa yang dapat meniru model yang

telah diberikan (modeling) 10 15 18 14 59,72

6

Siswa yang belajar saling tukar pikiran satu sama lainatau bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang diberikanlearning (communiti)

13 15 21 16,33 64,06

7

Siswa yang mengangkat tangan ingin menerik kesimpulan terhadap materi yang telah diaajarkan (reflection)

8 15 16 13 54,17

8

Siswa yang memeriksa LKS temanya yang telah dikerjakan (authentic assessment)

- 22 23 22,.5 93.75

Berdasarkan Tabel 4.1 di atas, dapat dilihat bahwa siswa yang hadir pada Siklus II sekitar 97,22%. dan dari siswa yang hadir ada sekitar 62,5% yang mebangun pengetahuannya dalam situasi dunia nyata melalui keterlibatanya dalam proses pembelajaran (kontructivisme). Ada 70,83% yang dapat menemukan suatu ide dan gagasannya dalam menyelesaikan suatu masalah atau soal yang diberikan (inqury), setelah tugas diberikan, ada sekitar 83,33% siswa mengangkat

tangan ingin mengajukan pertanyaan kepada siswa lain atau guru tentang materi (questioning), sedangkan ada 59,72% siswa yang dapat meniru model yang telah diberikan (modeling), serta ada 64,06% Siswa yang belajar saling tukar pikiran satu sama lainatau bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang diberikanlearning (communiti), setelah diberikan masalah 54,17% Siswa yang mengangkat tangan ingin menerik kesimpulan terhadap materi yang telah diaajarkan (reflection), dan ada 93.75% siswa yang memeriksa LKS temanya yang telah dikerjakan (authentic assessment)\

c. Tahap Evaluasi

Analisis terhadap skor hasil belajar siswa setelah diterapkan strategi Contextual Teaching and Learning setelah berlangsungnya Siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.6. Statistik Skor Hasil Tes Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar pada Siklus II

Statistik Nilai Statistik

Subjek 24

Skor Ideal 100

Skor Rata-rata 80

Skor Tertinggi 100

Skor Terendah 55

Rentan Skor 45

Dari Tabel 4.3. menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar matemetika setelah diterapkan Contextual Teaching and Learningpada Siswa Kelas VIIB SMP Khadijah Makassaradalah 80 dari skor ideal yang mungkin dicapai adalah 100. Sedangkan secara individual skor yang dicapai siswa pada penerapan ini tersebut dengan skor tertinggi 100 dan skor terendah 55 dari skor

tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0, dengan rentang skor 35.

Setelah skor hasil tes siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Tes Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar pada Siklus II

Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 54 Sangat Rendah 0 0

56 – 64 Rendah 4 16,67

65 – 79 Sedang 7 29,17

80 – 89 Tinggi 5 20,83

90 – 100 Sangat Tinggi 8 33,33

Jumlah 24 100%

Dari Tabel 4.4 menunjukkan bahwa terdapat 0,00% siswa yang berada pada kategori sangat rendah, 16,67% siswa berada pada kategori rendah, 20,83%

berada pada kategori sedang, dan 20,83% hasil belajar siswa berada dalam kategori tinggi, dan hasil belajar siswa yang berada pada kategori sangat tinggi, 33,33. Ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa sudah sukses.

Disamping itu, sesuai skor rata-rata dari hasil tes pada Siklus II yaitu sebesar 80 Dari hasil analisis deskriptif di atas menunjukkan bahwa hasil belajar matemetika Siswa Kelas VIIB SMP Khadijah Makassar setelah Penerapan Contextual Teaching and Learningmengalami peningkatan.Hal ini dikatakan

dengan melihat peningkatan skor rata-rata yang diperoleh siswa dari 71,46 pada Siklus I menjadi 80 pada Siklus II.

Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar Siklus II

Persentase skor Kategori Frekuensi Persentase 0% - 64%

65% - 100%

Tidak tuntas Tuntas

4 20

16,67 83,33

Jumlah 24 100

Dari tabel 3.5 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan kelas sebesar 83,33% yaitu 20 siswa dari 24 termasuk dalam kategori tuntas dan 16,67% atau 4 siswa dari 24 termasuk dalam kategori tidak tuntas. Ini berarti terdapat 10 siswa yang perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan individual..

Dimana hasil persentase diperoleh

Persentase (%) = x 100%

d.

Refleksi Siklus

Pada Siklus II perhatian dan keaktifan siswa semakin memperlihatkan kemajuan.Rasa percaya diri siswa menunjukkan adanya peningkatan terlihat pada setiap pertemuan siswa selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik, dalam kerja kelompok. Dengan pemberian tugas itu kemampuan siswa juga lebih terasah sehingga pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan semakim meningkat pula.

Secara umum hasil yang telah dicapai Siswa VIIB SMP Khadijah Makassar setelah pelaksanaan tindakan kelas dengan penerapan Contextual

Teaching and Learning ini mengalami peningkatan, baik dari segi perubahan sikap siswa, keaktifan dan perhatian siswa maupun dari segi kemampuan siswa menghubungkan materi pelajaran dengan realitas sosialnya. Sehingga tentunya telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar matematikapada Siswa Kelas VIIBSMP Khadijah Makassar

3. Refleksi Umum (Tanggapan Siswa)

Dari hasil analisis terhadap refleksi atau tanggapan siswa, dapat dikategorikan sebagai berikut :

a. Pendapat siswa terhadap mata pelajaran matematika.

1) Sebagian siswa menyatakan senang belajar matematika, mereka berpendapat bahwa dengan belajar matematika dapat mengasah otak dalam berhitung, matematika juga sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

2) Sebagian siswa ada yang tidak senang belajar matematika karena mereka beranggapan bahwa matematika itu sangat sulit, apalagi jika harus menyelesaikan soal-soal dengan rumus-rumus yang dianggap rumit.

3) Ada pula siswa yang berpendapat relatif, mereka kadang-kadang senang belajar matematika dan kadang-kadang tidak senang, tergantung guru yang mengajar dan metode yang digunakan dalam mengajar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendapat siswa mengenai pelajaran matematika ialah pada umumnya mereka menyukai matematika bila mereka mengerti dengan materi yang diberikan, untuk itu diperlukan beberapa cara agar materi yang diberikan kepada siswa mudah dimengerti sehingga mereka tidak menganggap pelajaran matematika sesuatu yang menakutkan.

b. Cara yang dilakukan guru supaya siswa senang belajar matematika.

Sebagian besar siswa berpendapat bahwa guru harus memberikan penjelasan yang panjang lebar tapi tidak berbelit-belit (simpel), guru harus bersikap ramah, disiplin, pengertian, tidak suka memukul, tidak mudah marah, dan dalam mengajar sebaiknya diselingi dengan canda.

c. Pendapat siswa mengenai pembelajaran Contextual Teaching and Learning Secara umum, tanggapan siswa terhadap penerapan Contextual Teaching and Learning sangat positif atau cukup bagus. Siswa berpendapat bahwa pembelajaran matematika dengan Contextual Teaching and Learning lebih mudah, santai dan menyenangkan karena contoh-contoh soal diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, diberi kesempatan belajar bekerja sama dengan anggota kelompok. Dengan pendekatan tersebut, pelajaran matematika menjadi lebih menarik, menyenangkan dan lebih bermakna serta pengetahuan siswa lebih berkembang.

d. Deskripsi Model Tindakan

Siklus I dilaksanakan selama empat kali pertemuan, pada pembelajaran ini dilakukan review pekerjaan rumah (PR) dan pelajaran yang sebelumya diberikan, kemudian pemberian perkerjaan rumah (PR). Pada Siklus II dilaksanakan selama empat kali pertemuan. Pada dasarnya langkah-langkah yang dilakukan dalam Siklus II ini telah memperoleh refleksi, selanjutnya dikembangkan dan dimodifikasi tahapan-tahapan yang ada pada Siklus I dengan beberapa perbaikan dan penambahan sesuai dengan masalah yang ditemukan. Rincian tindakannya adalah sebagai berikut:

1) Mereview kembali pelajaran lalu seperti pekerjaan rumah (PR) yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya.

2) Memberikan penguatan konsep matematika, memberitahukan tujuan pembelajaran yang akan diberikan.

3) Siswa diminta merespon satu rangkaian soal sambil guru mengamati kalau-kalau terjadi miskonsepsi.

4) Diskusi tiap kelompok, pada setiap pertemuan anggota kelompok menggunakan hasil diskusi kelompoknya atau perangkat pembelajaran lainnya untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran. Guru harus benar-benar memantau untuk melihat hasil kerja kelompok.

5) Evaluasi tentang hasil kerja kelompok, beberapa kelompok ditunjuk wakilnya untuk mempersentasikan hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain memberikan tanggapan.

6) Siswa merangkum materi pelajaran yang telah diberikan kemudian siswa diberikan pekerjaan rumah (PR).

Dokumen terkait