• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian pengembangan ini peneliti lakukan dengan menerapkan prosedur pengembangan menurut Sugiyono namun hanya sampai pada tahap uji coba produk terbatas.

4.1.1 Penjelasan Proses Pengembangan Prototipe Perangkat Pembelajaran Geometri Bangun Datar Sederhana Berdasarkan Teori van Hiele untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar

4.1.1.1Potensi dan masalah

Potensi yang peneliti temukan adalah tentang materi geometri penting

untuk siswa kelas II. Pembelajaran geometri dapat membantu pemahaman konsep anak tentang macam & unsur bangun datar sederhana yang merupakan bagian dari materi geometri. Selain itu, pembelajaran geometri dapat melatih siswa untuk mengembangkan kecerdasan matematis logis dan ruang visual.

Masalah yang peneliti lihat pada saat peneliti melakukan Probaling II di

hari Selasa tanggal 5 Mei 2015 dan Kamis tanggal 7 Mei 2015. Peneliti melihat jika siswa mengalami kesulitan memahami macam dan unsur bangun datar sederhana. Adapun hasil observasinya dapat dilihat pada lampiran 1.2 dan 1.3. Berikut ini adalah hasil rekapan observasi pembelajaran I dan II:

Tabel 4.1 Rekapan Hasil Observasi Pembelajaran Sekolah / Kelas : SD Negeri Sendangadi 2

Hari/ Tanggal : Selasa, 5 Mei 2015 dan Kamis, 7 Mei 2015 Materi : - Mengenal bangun datar segitiga

-Mengenal bangun datar segi empat dan lingkaran No Aspek yang diamati Deskripsi Hasil Pengamatan

1. Penggunaan media dalam pembelajaran

Pembelajaran I: tidak menggunakan media Pembelajaran II: benda-benda di dalam

kelas. 2. Penerapan metode pembelajaran

tertentu untuk membantu siswa dalam memahami materi.

Pembelajaran I: ceramah, tanya jawab, dan

pemberian tugas.

Pembelajaran II: ceramah, tanya jawab,

dan pemberian tugas. 3. Penerapan model pembelajaran

tertentu untuk membantu siswa dalam memahami materi.

Pembelajaran I: konvensional

Pembelajaran II: kontekstual namun belum

begitu maksimal.

4. Kesulitan yang muncul pada siswa. Pembelajaran I: siswa masih kesulitan

membedakan macam-macam bentuk segitiga dan namanya.

Pembelajaran II: siswa masih kesulitan

membedakan dan memahami sudut dan sisi persegi dan persegi panjang.

Berdasarkan tabel 4.1 tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa guru kurang memaksimalkan penggunaan media dalam menjelaskan materi dan siswa kurang diberi kesempatan untuk mengeksplorasi media tersebut. Pengajaran yang dilakukan guru kelas II tersebut hanya dominan menjelaskan materi melalui metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Guru kurang menggali pengetahuan siswa dan guru hanya dominan menjelaskan materi sedangkan siswa

hanya banyak mendengarkan. Tugas yang diberikan kepada siswa hanya berupa soal-soal latihan dan kemudian membahasnya bersama-sama. Guru juga tidak menerapkan model pembelajaran tertentu dalam mengajarkan materi, guru hanya menerapkan pembelajaran yang konvensional dan saat pembelajaran yang tampak seperti menerapkan model pembelajaran kontekstual, penerapannya tersebut pun kurang maksimal. Masalah tampak pada beberapa siswa yang mengalami kesulitan memahami macam-macam bentuk bangun datar dan unsur-unsur bangun datar. Siswa masih bingung dalam membedakan macam-macam bentuk segitiga dan namanya saat mempelajari materi segitiga. Siswa juga masih kesulitan membedakan dan memahami sudut dan sisi persegi dan persegi panjang saat mempelajari materi segi empat.

4.1.1.2Pengumpulan data

Instrumen pra-penelitian untuk guru dan siswa divalidasi oleh 1 validator dengan latar belakang seorang dosen matematika. Hasil skor rata-rata validasi angket pra-penelitian untuk guru adalah 2,90 dengan kategori baik. Hasil skor rata-rata validasi angket pra-penelitian untuk siswa adalah 3,00 dengan kategori baik.

Berdasakan hasil hasil skor rata-rata validasi angket pra-penelitian yang menunjukkan kategori baik tersebut maka instrumen tersebut layak untuk dibagikan kepada guru dan siswa. Angket pra-penelitian tersebut peneliti susun untuk memperkuat pengamatan peneliti pada saat kegiatan Probaling yakni pengamatan pembelajaran matematika tentang materi mengenal macam dan unsur bangun datar sederhana. Kisi-kisi untuk pertanyaan angket untuk guru berkaitan dengan cara guru mengajarkan materi bangun datar sederhana di kelas II berupa

10 pertanyaan, sedangkan kisi-kisi untuk pernyataan angket untuk siswa berkaitan dengan materi macam dan unsur bangun datar sederhana di kelas II berupa 13 pernyataan.

4.1.1.2.1 Hasil angket pra-penelitian untuk guru

Angket pra-penelitian untuk guru diberikan kepada 2 orang guru kelas II di SD Negeri Sendangadi 2 dan di SD Negeri Gunungpring 3 pada tanggal 28 Juli 2015. Hasil angket pra-penelitian untuk guru dapat dilihat pada lampiran 2.2. Berikut ini adalah rekapan hasil angket pra-penelitian:

Tabel 4.2 Rekapan Hasil Angket oleh Guru

No. Pertanyaan Jawaban

1.

Bagaimana Bapak/ Ibu menerapkan metode pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami macam- macam bentuk bangun datar?

Guru 1: metode ceramah, tanya jawab, diskusi,

dan demonstrasi.

Guru 2: ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.

2.

Bagaimana Bapak/Ibu menerapkan model pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami macam-macam bentuk bangun datar?

Guru 1: kontekstual Guru 2: kontekstual

3.

Bagaimana cara Bapak/Ibu menggunakan media pembelajaran pada saat mengajarkan macam-macam bentuk bangun datar?

Guru 1: benda-benda berbentuk bangun datar

di sekitar siswa.

Guru 2: gambar dan alat peraga berbentuk

bangun datar.

4.

Bagaimana ketercapaian nilai KKM siswa pada materi macam-macam bentuk bangun datar?

Guru 1: 70% Guru 2: 75%.

5.

Kesulitan apa yang sering muncul pada siswa saat pembelajaran macam-macam bentuk bangun datar?

Guru 1: Jika disuruh menggambarkannya,

masih ada yang belum bisa menggambarkannya dengan rapi.

Guru 2: Cara membentuk bangun datar belum

simetris.

6.

Bagaimana Bapak/Ibu menerapkan metode pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami unsur-unsur bangun datar?

Guru 1: ceramah, tanya jawab, diskusi, dan

demonstrasi.

Guru 2: demonstrasi dan tanya jawab.

7.

Bagaimana Bapak/Ibu menerapkan model pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami unsur-unsur bangun datar?

Guru 1: kontekstual Guru 2: kontekstual

8.

Bagaimana cara Bapak/Ibu menggunakan media pembelajaran pada saat mengajarkan unsur-unsur bangun datar?

Guru 1: gambar atau benda konkret

Guru 2: benda-benda konkret berbentuk

9.

Bagaimana ketercapaian nilai KKM siswa pada materi unsur-unsur bangun datar?

Guru 1: 70% Guru 2: 75%.

10.

Kesulitan apa yang sering muncul pada siswa saat pembelajaran unsur-unsur bangun datar?

Guru 1: Belum bisa membedakan atau

menentukan sudut dan sisinya.

Guru 2: Masih ada sebagian kecil siswa yang

masih bingung membedakan sisi dan sudut.

Berdasarkan tabel 4.2 tersebut, data yang diperoleh peneliti dari 2 guru kelas II khususnya menyatakan bahwa metode pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan materi geometri adalah metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi. Model pembelajaran yang diterapkan yaitu model pembelajaran kontekstual. Kesulitan yang sering muncul pada siswa saat mempelajari macam- macam dan unsur bangun datar adalah siswa masih kesulitan membedakan macam-macam bentuk segitiga maupun segiempat, siswa juga belum bisa membentuk/menggambarkan bangun datar secara simetris, dan masih ada beberapa siswa yang kesulitan membedakan sisi dan sudut bangun datar.

4.1.1.2.2 Hasil angket pra-penelitian untuk siswa

Angket pra-penelitian untuk siswa diberikan kepada siswa kelas III di SD Negeri Sendangadi 2 dengan jumlah 23 siswa pada tanggal 28 Juli 2015. Angket pra-penelitian diberikan kepada siswa kelas III karena siswa tersebut sebelumnya sudah mengikuti pembelajaran materi bangun datar sederhana di kelas II pada semester genap. Contoh pengisian angket pra- penelitian dapat dilihat pada pada lampiran 2.4. Berikut ini adalah rekapan hasil angket pra-penelitian yang diberikan kepada siswa:

Tabel 4.3 Persentase Ketidaktercapaian Angket Pra-Penelitian Siswa

No Pernyataan

Persentase Ketidaktercapaian

siku-siku, dan sembarang.

2.

Gambar-gambar berikut adalah macam-macam bentuk segitiga: 13%

3. Persegi dan persegi panjang adalah segi empat. 30% 4.

Gambar berikut ini adalah persegi: 9%

5.

Gambar berikut ini adalah persegi panjang: 9%

6.

Gambar berikut ini adalah lingkaran: 9%

7. Segitiga memiliki 3 buah sisi. 13% 8. Segitiga memiliki 3 sudut. 13% 9.

Segiempat berikut ini memiliki 4 sisi: 4%

10. Persegi memiliki 4 sudut. 13% 11. Persegi panjang memiliki 4 sudut. 4% 12. Lingkaran hanya memiliki 1 sisi. 43% 13. Lingkaran memiliki sudut. 39%

Tabel 4.4 Presentase Ketidaktercapaian Kisi-Kisi Angket Pra-Penelitian Siswa No Indikator pernyataan Nomor

Item

Persentase Ketidaktercapaian

1. Mengetahui macam-macam bentuk segitiga.

1-2 23 % 2. Mengetahui macam-macam bentuk

segiempat. 3-5

16 % 3.

Mengetahui bentuk lingkaran. 6 8 % 4.

Mengetahui unsur-unsur yang ada

pada bangun datar segitiga. 7-8

13 % 5. Mengetahui unsur-unsur yang ada

pada bangun datar segiempat. 9-11

6. Mengetahui unsur-unsur yang ada

pada bangun datar lingkaran. 12-13

41 %

Berdasarkan tabel 4.3 dan 4.4 dapat diketahui bahwa 4 item yang memiliki persentase ketidaktercapaian terbesar adalah item nomor 1, 3, 12, dan 13. Item nomor 1 memiliki persentase 48% dengan indikator mengetahui macam-macam segitiga karena dari jumlah keseluruhan 23 siswa, terdapat 11 siswa yang menjawab salah. Item nomor 3 memiliki persentase 30% dengan indikator mengetahui macam-macam bentuk segiempat karena terdapat 7 siswa yang menjawab salah. Item nomor 12 memiliki persentase 43% dengan indikator mengetahui unsur-unsur (sisi) bangun datar lingkaran karena terdapat 10 siswa yang menjawab salah. Item nomor 13 memiliki persentase 39% dengan indikator mengetahui unsur-unsur (sudut) bangun datar lingkaran. Berdasarkan 4 item yang memiliki persentase kasalahan terbesar tersebut, peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran yang memuat materi pada indikator 4 item tersebut. Materi tersebut adalah: 1) mengenal macam-macam segitiga, 2) mengenal macam-macam segiempat, dan 3) mengenal unsur-unsur lingkaran.

4.1.1.3Desain produk

Berdasarkan hasil observasi dan angket, peneliti merancang prototipe

perangkat pembelajaran yang berjudul “Prototipe Perangkat Pembelajaran

Geometri Bangun Datar Sederhana berdasarkan Teori van Hiele untuk Siswa

Kelas 2 Sekolah Dasar”. Prototipe terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama terdiri dari: a) kekhasan tingkat berpikir dalam belajar geometri berdasarkan van Hiele, b) lima fase model pembelajaran van Hiele, dan c) penerapan model pembelajaran

van Hiele. Bagian kedua berisi silabus dan 3 RPP tentang materi bangun datar

segitiga, persegi, persegi panjang, dan lingkaran. Bagian ketiga berisi LKS untuk pembelajaran 1 tentang materi segitiga, pembelajaran 2 tentang materi persegi dan persegi panjang, dan pembelajaran 3 tentang materi lingkaran.

4.1.1.3.1 Bagian pertama

Bagian pertama ini merupakan pendahuluan untuk mengantarkan para pembaca prototipe untuk mengetahui dam memahami teori pembelajaran

van Hiele. Bagian pertama terdiri dari 3 sub judul, yaitu:

1) Kekhasan tingkat berpikir dalam belajar geometri berdasarkan teori van

Hiele, yaitu: yaitu: level 0 (visualisasi), level 1 (analisis), level 2 (deduksi

informal), level 3 (deduksi), dan level 4 (ketepatan).

2) Lima fase dalam model pembelajaran van Hiele, yaitu: 1) fase informasi, 2) orientasi langsung, 3) penjelasan, 4) orientasi bebas, dan 5) integrasi. 3) Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran van Hiele,

menjelaskan tentang uraian langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dilakukan yang dilengkapi dengan materi dan foto atau gambar media yang digunakan dalam pembelajaran.

4.1.1.3.2 Bagian kedua

Bagian kedua terdiri dari silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang digunakan dalam pembelajaran geometri materi bangun datar sederhana (segitiga, segi empat (persegi dan persegi panjang), dan lingkaran) untuk kelas II.

1) Silabus

Silabus disusun berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk kelas bawah yang menggunakan pendekatan tematik. Silabus yang dibuat memuat rincian kegiatan inti pembelajaran selama 3 pembelajaran. Kegiatan inti pada setiap pembelajaran dalam silabus ini menunjukkan fase-fase dalam model pembelajaran van Hiele pada mata pelajaran Matematika yang dikaitkan dengan mata pelajaran SBK dan IPA.

2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP disusun dengan menerapkan 5 fase model pembelajaran van Hiele yang terdiri dari: 1) fase informasi, 2) orientasi langsung, 3) penjelasan, 4) orientasi bebas, dan 5) integrasi dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran. RPP terdiri dari 3 pembelajaran. RPP pembelajaran 1 tentang materi macam-macam segitiga yang dikaitkan dengan materi seni rupa dalam mata pelajaran SBK. RPP pembelajaran 2 tentang materi segi empat (persegi dan persegi panjang) yang dikaitkan dengan materi seni rupa dalam mata pelajaran SBK. RPP pembelajaran 3 tentang materi unsur lingkaran yang dikaitkan dengan materi kegunaan panas dan cahaya matahari dalam mata pelajaran IPA. RPP yang dikembangkan memiliki komponen identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi, model/ pendekatan/ metode pembelajaran, media/ alat/ sumber belajar, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, dan penilaian.

4.1.1.3.3 Bagian ketiga

Bagian ketiga ini berisikan tentang Lembar Kerja Siswa (LKS) dan lampiran soal evaluasi pada setiap pembelajaran. Setiap kegiatan siswa di LKS disesuaikan dengan kegiatan yang mengacu pada 5 fase van Hiele. LKS terdiri dari 3 pembelajaran, yaitu: pembelajaran 1 tentang materi macam-macam segitiga, pembelajaran 2 tentang materi segi empat (persegi dan persegi panjang), pembelajaran 3 tentang materi unsur lingkaran.

4.1.1.4 Validasi desain

Prototipe sudah divalidasi oleh 1 dosen ahli matematika dan 1 guru kelas II. Hasil validasi produk oleh dosen ahli dapat dilihat pada lampiran 4.2. Berikut ini adalah rekapan hasil validasi produk oleh dosen ahli:

Tabel 4.5 Rekapan Hasil Validasi Produk oleh Dosen Ahli

No. Item yang dinilai Skor Saran

1.

Bahasa

a. Bahasa sesuai dengan kaidah

penulisan yang baik dan benar. 4 b. Susunan kalimat dapat dipahami oleh

guru dan siswa. 4

2.

Format Penulisan Prototipe

e. Format penulisan prototipe sesuai

dengan kaidah penulisan buku. 4 f. Menggunakan kepustakaan yang

sesuai dengan teori van Hiele. 4

3. Isi

f. Memuat 5 fase model pembelajaran

van Hiele. 4

g. Memuat penerapan 5 fase van Hiele dalam 3 RPP materi pembelajaran bangun datar sederhana untuk kelas II.

h. Memuat kekhasan tahapan berpikir tentang segitiga (sama sisi, sama kaki, siku-siku, sembarang), segi empat (persegi, persegi panjang), dan lingkaran sesuai dengan tahap operasional konkret siswa.

4

i. Memuat media yang berkaitan dengan bangun datar segitiga (sama sisi, sama kaki, siku-siku, sembarang), segi empat (persegi, persegi panjang), dan lingkaran sehinga membantu siswa memahami konsep geometri.

4

j. Memuat rubrik penilaian untuk mengetahui pemahaman siswa

tentang konsep bangun datar. 4

Total Skor 36

Penghitungan rata-rata skor validasi:

Rata-rata skor validasi = =

= 4,00

Jumlah rata-rata skor validasi produk oleh dosen ahli adalah 4,00. Hasil penghitungan rata-rata skor tersebut berdasarkan kriteria penilaian produk menurut Widoyoko menunjukkan interval tingkat pencapaian dengan kualifikasi sangat baik. Hal tersebut membuktikan bahwa produk berupa prototipe perangkat pembelajaran geometri yang telah dikembangkan termasuk ke dalam kategori sangat baik sehingga produk tersebut layak untuk diujicobakan.

4.1.1.4.1 Hasil validasi produk oleh guru kelas II

Berikut ini adalah rekapan hasil validasi produk oleh guru: Tabel 4.6 Rekapan Hasil Validasi Produk oleh Guru

No. Item yang dinilai Skor Komentar

1. Kesesuaian indikator dengan KD.

4 2. Materi sesuai dengan pokok bahasan 4

bangun datar segi empat (persegi dan persegi panjang).

3. Apersepsi sesuai dengan pokok bahasan bangun datar segi empat (persegi dan

persegi panjang). 4

4.

Kegiatan inti memuat :

Fase Informasi

d. Berisi tentang materi bangun datar segi empat (persegi dan persegi

panjang). 4

e. Memuat bahasa yang sederhana.

3 f. Memuat pengantar tentang bangun

datar segi empat (persegi dan

persegi panjang) secara kontekstual. 3

Fase Orientasi Langsung

c. Memuat kegiatan mengeksplorasi media pembelajaran untuk memperoleh konsep awal tentang segi empat (persegi dan persegi panjang).

3

d. Memuat tugas/aktivitas sederhana.

4

Fase Penjelasan

c. Memuat kegiatan siswa untuk menjelaskan topik yang diamati

dengan bahasa mereka sendiri. 3 d. Memuat kegiatan siswa untuk saling

bertukar pendapat. 3

Fase Orientasi Bebas

c. Memuat tugas yang lebih kompleks sesuai dengan materi segi empat

(persegi dan persegi panjang). 4 d. Memuat aktivitas/kegiatan yang

memungkinkan siswa untuk menemukan keterkaitan antara konsep segi empat dengan kehidupan sehari-hari.

3

Fase Integrasi

d. Memuat aktivitas siswa untuk menyimpulkan materi segi empat (persegi dan persegi panjang) dari keseluruhan kegiatan.

4 e. Memuat soal evaluasi tentang

materi segi empat (persegi dan persegi panjang).

f. Memuat aktivitas siswa untuk menginegrasikan materi segi empat (persegi dan persegi panjang) dalam bentuk refleksi yang imajinatif.

3 5. Model pembelajaran van Hiele memberi

inspirasi dalam mengajarkan materi segi empat (persegi dan persegi panjang) secara :

e. Konteksual

4 f. Bahasa yang disampaikan kepada

siswa sesuai dengan pemahaman

siswa. 3

g. Bahasa yang disampaikan kepada siswa berkaitan dengan materi segi empat (persegi dan persegi panjang) memudahkan siswa untuk megimajinasikan/membayangkan benda tersebut.

3

h. Kelima fase van Hiele memudahkan guru untuk mengajarkan konsep segi empat (persegi dan persegi panjang) kepada siswa.

3

Meski fase van Hiele memudahkan guru perlu diperhatikan SDM dari siswa. 6. RPP dengan model van Hiele tersebut

layak untuk dilatihkan kepada guru-

guru. 4

Total Skor

70

Penghitungan rata-rata skor validasi:

Rata-rata skor validasi = =

= 3,50

Jumlah rata-rata skor validasi produk oleh guru kelas II adalah 3,50. Hasil penghitungan rata-rata skor tersebut berdasarkan kriteria penilaian produk menurut Widoyoko menunjukkan interval tingkat pencapaian dengan kualifikasi sangat baik. Hal tersebut membuktikan bahwa produk berupa prototipe perangkat pembelajaran geometri yang telah dikembangkan termasuk ke dalam kategori

sangat baik sehingga produk tersebut layak untuk digunakan dalam pembelajaran geometri di sekolah.

Tabel 4.7 Rata-rata Skor Validasi

Validator I 4,00 Validator 2 3,50 Total Skor 7,50

Rata-rata 3,75

Berdasarkan tabel 4.7 jumlah rata-rata skor validasi produk oleh dosen ahli dan guru adalah 3,75. Hasil rata-rata skor tersebut termasuk ke dalam kategori sangat baik.

4.1.1.5Revisi desain

Berdasarkan penilaian dan komentar dari validator, tidak ada bagian produk yang memerlukan revisi. Bagian produk yang sedikit direvisi oleh peneliti hanya melengkapi penulisan kata-kata yang kurang lengkap atau biasa disebut

typo.

4.1.1.6Uji coba produk

Produk yang peneliti hasilkan berupa prototipe perangkat pembelajaran geometri materi bangun datar sederhana berdasarkan teori van Hiele untuk kelas II sekolah dasar. Prototipe terdiri dari 3 RPP. RPP pembelajaran I tentang macam- macam segitiga. RPP pembelajaran II tentang macam-macam segi empat. RPP pembelajaran III tentang unsur-unsur lingkaran. Uji coba terbatas peneliti lakukan hanya untuk RPP pembelajaran II tentang macam-macam segi empat (persegi dan persegi panjang) (lihat lampiran 6). Uji coba tersebut dilakukan di kelas II SD Negeri Sendangadi 2 pada hari Rabu tanggal 16 Desember 2015 pukul 07.30 –

09.45 WIB. Uji coba produk dilaksanakan pada jam pelajaran sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 14 anak. Perangkat pembelajaran yang diujicobakan hanya 1 pembelajaran, yakni pembelajaran ke-2 dengan materi bangun datar persegi dan persegi panjang dikarenakan waktu yang diberikan oleh pihak sekolah hanya 4 x 35 menit (4 JP). Alasan pemilihan materi pembelajaran yang diujicobakan tersebut karena kegiatan pembelajaran pada materi tersebut bisa disesuaikan dengan alokasi waktu yang diberikan pihak sekolah.

4.1.2 Deskripsi kualitas prototipe perangkat pembelajaran geometri dalam membantu siswa kelas II memahami konsep bangun datar sederhana

Peneliti saat melakukan uji coba prototipe mengajarkan materi macam- macam segi empat dengan menerapkan lima fase van Hiele dengan tujuan supaya siswa memahami konsep segi empat. Adapun proses pembelajaran pada tiap fasenya adalah sebagai berikut:

4.1.2.1 Fase Informasi

Pembelajaran dimulai dengan guru mempersiapkan keadaan siswa untuk siap menerima pelajaran. Guru mengajak siswa untuk berdoa terlebih dahulu dan kemudian melakukan absensi. Fase informasi mulai ditunjukkan dengan guru mengajak siswa untuk menyanyikan lagu tentang materi persegi dan persegi panjang sebagai kegiatan apersepsi, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan tanya jawab mengenai isi lagu. Kegiatan tersebut mengarahkan siswa untuk memahami tentang materi yang akan dipelajari.

Gambar 4.1 Siswa melakukan tanya jawab mengenai isi lagu.

Guru kemudian menunjukkan benda yang berbentuk persegi yaitu ubin lantai kelas dan benda yang berbentuk persegi panjang yaitu kertas HVS dan meja. Siswa diminta mengamati bentuk kedua benda tersebut dan menemukan perbedaannya. Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai perbedaan bentuk kedua benda tersebut. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu siswa untuk mulai memahami materi yang akan disampaikan.

Gambar 4.2 Siswa menemukan perbedaan bentuk benda dengan

Berdasarkan pengamatan guru, dari keseluruhan kegiatan fase informasi yang telah dilakukan, seluruh siswa telah melakukan kegiatan fase informasi dengan baik sesuai dengan perintah. Hal tersebut berarti seluruh tujuan dari fase

informasi telah “tercapai” oleh seluruh siswa.

4.1.2.2 Fase Orientasi Langsung

Kegiatan pada fase informasi telah membantu siswa untuk memperoleh informasi awal dan mendorong siswa untuk memunculkan ide atau pertanyaan mengenai materi yang akan dipelajari. Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan yang menunjukkan fase orientasi langsung. Fase orientasi langsung ditunjukkan dengan siswa diberi tugas sederhana yaitu mencari dan mencatat benda-benda di dalam kelas yang berbentuk persegi dan persegi panjang. Kegiatan tersebut bertujuan mendorong siswa untuk bereksplorasi. Kegiatan tersebut dilakukan siswa secara berkelompok agar siswa dapat saling bekerjasama dan berdiskusi dalam menyelesaikan tugas tersebut.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa siswa sudah melakukan kegiatan yang menunjukkan fase orientasi langsung. Siswa dapat bereksplorasi langsung melalui kegiatan mencari benda-benda di dalam kelas yang berbentuk persegi dan persegi panjang. Siswa mengamati bentuk benda dan menentukan bentuk benda tersebut termasuk benda berbentuk persegi atau persegi panjang. Melalui kegiatan tersebut, siswa didorong untuk menemukan karakteristik bentuk masing-masing benda dengan menunjukkan ukuran sisi benda. Berdasarkan hasil observasi siswa di lembar kerja, masing-masing kelompok telah mampu menyebutkan lebih dari 10 benda yang berbentuk persegi dan persegi panjang dan mengelompokkannya dengan benar walau ada beberapa kelompok yang masih salah dalam mengelompokkan bentuk beberapa benda. Maka, hal tersebut berarti keseluruhan tujuan dari fase orientasi langsung telah “tercapai” oleh seluruh siswa.

4.1.2.3 Fase Penjelasan

Kegiatan pada fase penjelasan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan siswa pada orientasi langsung, yaitu menyampaikan hasil diskusi kelompoknya

Dokumen terkait