BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Sutinah (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Pada Operasi Penjumlahan Pecahan Melalui Pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) Siswa Kelas IV B Kebonagung Imogiri
Bantul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan model pembelajaran melalui pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
penelitian ini adalah siswa kelas IV B Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta berjumlah 17 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Matematika melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan ketuntasan belajar dengan persentase pra-tindakan sebesar 41,18%, siklus I sebesar 70,59% dan pada siklus II sebesar 94,12%. Nilai rata-rata hasil tes pada pra-tindakan sebesar 74,00; siklus I sebesar 75,91; sedangkan pada siklus II sebesar 81,44 terjadi peningkatan sebesar 5,53. Dengan demikian setiap siklus mengalami peningkatan pada hasil belajarnya.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Prafitriani (2014) dengan judul
“Penerapan model pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematika pada siswa kelas IVA SD Negeri Margoyasan”.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kontekstual dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematika pada siswa kelas IVA SD Negeri Margoyasan Tahun Ajaran 2014/2015. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Taggart. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas IVA SD Negeri Margoyasan yang berjumlah 17 siswa. Objek penelitian ini adalah kemampuan berpikir kritis matematika. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, pedomanwawancara, soal tes, dan catatan lapangan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematika. Peningkatan kemampuan
berpikir kritis matematika siswa ditunjukkan dengan penilaian kognitif yang diperoleh siswa pada setiap akhir siklus. Berdasarkan hasil analisis prates sampai akhir siklus II.
Rata-rata skor kemampuan berpikir kritis yang dicapai siswa yaitu dari prates ke siklus I naik sebesar 17% dari 60% menjadi 77% dan pada siklus I ke siklus II naik 3% dari 77% menjadi 80%. Persentase ketuntasan siswa dalam kemampuan berpikir kritis telah memenuhi 88% siswa memenuhi KKM dan rata-rata persentase kemampuan berpikir kritis matematika pada kategori baik dengan persentase 80% sehingga proses pembelajaran menggunakan model tersebut berhasil.
Ketiga, penelitian ini dari Rusmiati (2012) dengan judul penelitian
“Penerapan Model Contextual Teaching and Learning Untuk Meningkatkan
Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas III SDN 07 Sungai
Soga Bengkayang”. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah
meningkatnya aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika. Aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika pada siklus pertama dan siklus kedua secara keseluruhan menunjukan adanya peningkatan. Jumlah siswa yang aktif pada siklus pertama 31%, pada siklus kedua sebesar 83,41%, meningkat menjadi 52,41% dan terjadi penurunan jumlah siswa dengan kriteri tidak aktif dari 69% pada siklus pertama menjadi 16,59%.
Dari ketiga hasil penelitian di atas, belum ada peneliti yang membahas mengenai penerapan model pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis
siswa kelas V SD Negeri Tidar 1 pada Materi Operasi Hitung Campuran Bilangan bulat. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD Negeri Tidar 1 pada materi Operasi Hitung Campuran Bilangan bulat. Berikut literatur map dari penelitian-penelitian sebelumnya.
Berikut literatur map yang peneliti ambil :
Gambar 2.1 Literature Map Penelitian Upaya Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika Pada Operasi Penjumlahan Pecahan
Melalui Pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) Siswa Kelas IV B Kebonagung Imogiri Bantul (2011) Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematika pada
Siswa kelas IVA SD Negeri Margoyasan
(2008)
Penerapan Model Contextual Teaching
and Learning Untuk Meningkatkan Aktivitas
Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas III SDN 07 Sungai Soga
Bengkayang (2010)
PENINGKATAN HASIL BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V SD NEGERI TIDAR 1 DALAM MATA
PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (2016)
C. Kerangka Berpikir
Faktor utama yang paling mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tindakan kelas ini adalah hasil tes semester 1 tahun 2013/2014 peserta didik kelas V SD Negeri Tidar 1 yang masih rendah pada materi Operasi Hitung Campuran Bilangan bulat. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang dicapai adalah 65 dari skala 100. Rata-rata hasil belajar Operasi Hitung Campuran Bilangan bulat berada di atas KKM yaitu 70,55, namun persentasi ketuntasan siswa hanya 54,3% dari 34 siswa. Selain dilatar belakangi oleh hasil belajar, rendahnya berpikir kritis para siswa juga menjadi faktor penelitian.
Snelbeker (dalam Rusmono, 2012: 8) menyatakan bahwa perubahan atau kemampuan baru yang diperoleh siswa setelah melakukan perbuatan belajar. Pengertian tersebut senada dengan (Kunandar 2013:62) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar tidak terlepas dengan metode atau model pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar, karena metode atau model pembelajaran berperan penting untuk menentukan hasil belajar siswa. Metode atau model pembelajaran yang baik adalah yang dapat dikaitkan dengan permasalahan sehari-hari siswa.
Berdasarkan pernyataan tersebut peneliti tertarik dengan model pembelajaran model pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual dapat mudah diserap dan dipahami oleh siswa karena materi dan masalah matematika
dapat dikaitkan dengan benda disekitar mereka dan kehidupan sehari-hari. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Tanirejo 2014:49). Dengan adanya model pembelajaran kontekstual siswa diharapkan dapat lebih aktif dan memahami materi yang diberikan.
Pembelajaran dengan menggunakan model model pembelajaran kontekstual menuntut siswa untuk aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran karena siswa akan dilatih untuk berpikir kritis dalam memahami materi yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. (Johnson 2007:183) menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah. Tujuan berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam.
Berdasarkan perdapat para ahli, sudah jelas bahwa peneliti berharap dengan adanya model pembelajaran kontekstual sebagai model pembelajaran yang ideal diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam mata pelajaran matematika. Penelitian ini berfokus pada materi Operasi Hitung Campuran Bilangan bulat.
D. Hipotesis Tindakan
Dalam penelitian ini berdasarkan pada latar belakang, batasan masalah, dan kerangka berpikir maka hipotesis tindakan yang dapat dirumuskan adalah :
1. Pelaksanaan model pembelajaran kontekstual dengan menggunakan 5 langkah dalam penelitian yaitu relating, eksperiencing, applying, cooperting, dan
transfering dalam mata pelajaran matematika untuk meningkatkan hasil belajar
dan kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas V SD Negeri Tidar 1.
2. Penerapan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Tidar 1 pada materi Operasi Hitung Campuran Bilangan bulat.
3. Penerapan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematika siswa kelas V SD Negeri Tidar 1 pada materi Operasi Hitung Campuran Bilangan bulat.
27
BAB III
METODE PENELITIAN
Peneliti akan membahas mengenai jenis penelitian, setting penelitian, persiapan, rencama setiap siklus, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik pengujian instrumen, dan teknik analisis data
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul Peningkatan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V dalam mata pelajaran matematika SD Negeri Tidar 1 melalui pembelajaran kontekstual.
Secara lebih jelas, (Kusumah & Dwitagama 2009) mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Dari ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru kelas dengan melakukan tindakan melalui beberapa tahapan sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
Menurut Hermawan (2015:13), penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas melalui refleksi diri yang bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. PTK terdiri dari empat rangkaian kegiatan utama pada setiap siklus, yakni (a) perencanaan (planning), (b) tindakan
(acting), (c) pengamatan (observing), dan (d) refleksi (reflecting). Kemmis & Mc Taggart (dalam Kunandar, 2008:70) menggambarkan 4 rangkaian kegiatan uatama pada setiap siklus adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Siklus PTK menurut Kemmis dan Mc. Taggart Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, yang terdiri dari empat tahapan sebagai berikut (Arikunto, 2008:16) :
1. Perencanaan (Planning)
Penentuan perencanaan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum yaitu penyusunan rancangan yang meliputi keseluruhan aspek PTK antara lain identifikasi masalah, analisis penyebab adanya masalah, dan bentuk tindakan yang akan dilakukan. Sedangkan perencanaan khusus merupakan penyusunan rangkaian per siklus. Siklus II Observasi Refleksi Pelaksanaan Perencanaan Siklus I Perencanaan Pelaksanaan Observasi Refleksi
2. Pelaksanaan (Act)
Setelah ditentukannya rangkaian tindakan yang akan dilakukan, maka langkah berikutnya yaitu menerapkan rangkaian tindakan tersebut dalam peoses pembelajaran yang sesuai dengan rancangan tindakan yang telah dibuat. Pelaksanaan pada penelitian tindakan kelas dilakukan untuk memecahkan masalah yang terjadi.
3. Observasi (Observing)
Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui serta memperoleh gambaran yang lengkap mengenai proses pembelajaran. Peneliti harus mencatat semua peristiwa (kejadian) yang terjadi di dalam kelas selama proses pembelajaran. 4. Refleksi (Reflecting)
Refleksi pada penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan untuk memikirkan dan merenungkan mengenai proses pembelajaran yang dilakukan sebagai evaluasi oleh guru dan peneliti.
B. Setting Penelitian
1. Tempat penelitian
Tempat penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah SD Negeri Tidar 1, yang terletak di Kampung Tidar Krajan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti pada bulan Januari 2016.
2. Subjek penelitian
3. Obyek penelitian
Objek penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis matematika kalas V SD Negeri Tidar 1 melalui pembelajaran
Contextual Teaching and Learning.
C. Persiapan
Persiapan dalam penelitian ini meliputi:
1. Meminta ijin penelitian kepada Kepala SD Negeri Tidar 1.
2. Melakukan wawancara dengan guru kelas V untuk mengetahui permasalahan yang sering dialami siswa mengenai hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis.
3. Melakukan observasi pembelajaran siswa di kelas V guna memperoleh gambaran mengenai kegiatan pembelajaran serta karakteristik siswa.
4. Peneliti menyebarkan kuisioner untuk mengetahui kondisi awal kemampuan berpikir kritis siswa kelas V.
5. Meminta dokumentasi nilai siswa dari guru kelas V tahun sebelumnya.
6. Mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang ada di kelas V yaitu rendahnya kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika mengenai materi operasi hitung campuran bilangan bulat. 7. Merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengkaji standar kompetensi,
kompetensi dasar dan materi pokoknya. 8. Menyusun rencana penelitian.
9. Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, RPP, LKS, Soal Evaluasi Siklus 1 dan siklus 2, kunci jawaban, dan instrumen penelitian. 10. Validasi perangkat pembelajaran pada dua dosen ahli dan guru kelas.
11. Mendata nama-nama siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah pada mata pelajaran matematika melalui wawancara dengan guru kelas.
D. Rencana Setiap Siklus
1. Siklus I
a. Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan oleh peneliti sebelum memberikan tindakan pada siswa yaitu mempersiapkan perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, materi yang diajarkan, LKS dan soal evaluasi siklus I. selanjutnya peneliti juga mempersiapkan media yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I.
b. Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan tindakan dalam siklus I akan dilakukan dalam 2 pertemuan. Setiap pertemuan dilakukan selama 2 jam pelajaran, setiap jam pelajaran terdiri dari 35 menit. Adapun tahapan proses pembelajaran pada siklus I adalah sebagai berikut:
Pertemuan ke 1 1) Kegiatan awal
Diawal kegiatan, guru mengucapakan salam dan doa pembuka, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran serta pokok-pokok materi yang akan dipelajari yaitu materi penjumlahan dan pengurangan. Selanjutnya guru juga melakukukan presensi terhadap siswa.
2) Kegiatan Inti
Siswa dibagi dalam kelompok secara acak sesuai jumlah siswa yang hadir. (community learning). Siswa diajak menghitung jumlah seluruh siswa di dalam kelas, kemudian menghitung jumlah siswa (laki-laki/perempuan) saja. (menggunakan model). Siswa mengaitkan persoalan sehari-hari dengan pembelajaran.
(memanfaatkan keterkaitan). Siswa menggunakan media kerikil
sebagai media penjumlahan dan penguranagan bilangan bulat
(menggunakan benda sekitar). Siswa berdiskusi untuk memecahkan soal cerita mengenai operasi hitung campuran bilangan bulat yang ada di LKS bersama kelompoknya. (inquiry) 3) Kegiatan penutup
Guru meluruskan pemahaman siswa yang kurang tepat dengan cara memberikan penguatan kepada siswa. Menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran pada hari ini. Siswa diberi kesempatan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum
jelas (Menggunakan kontribusi siswa). Siswa dibantu guru melakukan refleksi dari kegiatan pada hari ini. (reflection). Siswa diberi hadiah berupa perkerjaan rumah (individu). Pembelajaran
diakhiri dengan do’a
Pertemuan ke 2 1) Kegiatan awal
Diawal pembelajaran, guru memberikan apersepsi kepada siswa dengan cara bertanya kepada siswa tentang penjumlahan dan pengurangan. Guru akan memasuki pembelajaran kedua yaitu tentang Guru juga melakukan presensi dan kontrak belajar bersama siswa.
2) Kegiatan Inti
Siswa dibagi dalam kelompok secara acak sesuai jumlah siswa yang hadir. (community learning). Salah satu siswa maju kedepan kelas dan guru memberikan uang mainan kepada siswa(menggunakan model). Mengidentifikasi jumlah uang seluruhnya yang sebelumnya di bawa guru dan jumlah uang yang didapatkan, kemudian siswa bersama-sama menghitung sisa uang yang dibawa guru. Siswa mengaitkan persoalan sehari-hari dengan pembelajaran. (memanfaatkan keterkaitan.) Siswa diberikan soal kelompok. Siswa berdiskusi untuk memecahkan soal cerita mengenai pengurangan yang ada di LKS bersama kelompoknya. (inquiry). Kelompok tercepat maju mempresentasikan hasilnya
3) Kegiatan penutup
Guru dan siswa melakukan tanya jawab seputar perkalian dan pembagian (questioning). Siswa mengerjakan soal evaluasi siklus I (authentic assessment). Sebelum pembelajaran usai, guru dan siswa melakukan refleksi mengenai pembelajaran hari ini (reflection).
c. Observasi
Obsevasi dilakukan ketika kegiatan pembelajaran berlangsung pada siklus I. Peneliti mengobservasi tentang kemampuan berpikir kritis siswa dengan mengisi lembar observasi kemamampuan berpikir kritis pada kuisenor yang telah diberikan.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan setelah tindakan pada siklus I. Refleksi bertujuan untuk memberikan penilaian dan mengetahui kekurangan maupun kelebihan yang terjadi ketika kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan refleksi pada siklus I ini akan digunakan peneliti sebagai pertimbangan merencanakan kegiatan pembelajaran pada siklus II agar hasil yang di dapat peneliti dapat meningkat.
2. Siklus II
a. Perencanaan
Pada siklus II peneliti membuat perencanaan pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Pada siklus II ini peneliti memperbaiki kekurangan pada siklus I. Peneliti juga mengkaji ulang RPP
yang akan digunakan pada siklus II. Peneliti juga mempersiapkan LKS, materi ajar dan media yang digunakan pada siklus II.
b. Pelaksanaan Tindakan
Siklus kedua ini dilakukan dalam 2 pertemuan, karena setiap siklus terdapat dua RPP. Masing-masing pertemuan dilakukan selama 2 jp. Setiap jam pelajaran terdiri dari 35 menit. Adapun tahapan proses pembelajaran pada siklus I adalah sebagai berikut:
Pertemuan ke-1 1) Kegiatan Awal
Diawal pembelajaran, guru memberikan apersepsi kepada siswa dengan cara bertanya kepada siswa mengenai Operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pokok-pokok materi yang akan dipelajari. Guru juga melakukan presensi dan kontrak belajar bersama siswa.
2) Kegiatan Inti
Sebelum masuk kedalam materi, guru terlebih dahulu mengulang materi penjumlahan dan pengurangan, serta perkalian dan pembagian untuk mengulang ingatan siswa, kemudian guru memberikan materi Operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat Bilangan Bulat (contructivism). Siswa dibagi dalam kelompok secara acak sesuai jumlah siswa yang hadir. (community learning). Masing-masing kelompok diberi tugas berupa soal cerita tentang operasi hitung campuran bilangan bulat. Masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara acak di depan kelas.
3) Kegiatan Penutup
Guru memberikan kuis mengenai materi yang dipelajari (authentic assessment). Sebelum pulang, guru memberikan refleksi pada siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan (reflection).
Pertemuan ke-2 1) Kegiatan Awal
Diawal pembelajaran, guru memberikan apersepsi kepada siswa dengan cara bertanya kepada siswa mengenai Operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pokok-pokok materi yang akan dipelajari. Guru juga melakukan presensi dan kontrak belajar bersama siswa.
2) Kegiatan Inti
Siswa dibagi dalam kelompok secara acak sesuai jumlah siswa yang hadir. Masing-masing kelompok diberi media (uang dan barang berupa gambar) yang digunakan untuk kegiatan jual beli/pasar (menggunakan model). Satu siswa menjadi penjual, dan siswa lain menjadi pembeli dalam kelompok (menggunakan
interaktivitas). Masing-masing pembeli melakukkan transaksi
sesuai soal yang diberikan dan menjawab pertanyaannya. Kelompok yang sudah selesai menjawab semua pertanyaan
mempresentasikan di depan kelas hasil kerja kelompoknya.
(menggunakan kontruksi siswa)
3) Kegiatan Penutup
Siswa mengerjakan soal evaluasi siklus II yang telah dibagikan guru (authentic assessment). Setelah selesai mengerjakan evaluasi siklus II, siswa menerjakan soal evaluasi akhir. Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan (reflection).
c. Observasi
Kegiatan observasi ini dilakukan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Peneliti mengamati kemampuan berpikir kritis ketika mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Dari kegiatan observasi ini peneliti mampu mengamati secara langsung perkembangan siswa dalam pembelajaran.
d. Refleksi
Ketika tindakan pada siklus II terlaksana, peneliti kemudian mengevaluasi kegiatan pada siklus II yang telah dilakukan. Kemudian peneliti menganalisis pembelajaran, hasil evaluasi dan kuisioner berpikir kritis yang telah dibagikan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini akan menggunakan dua cara, yaitu dengan teknik tes dan non tes. Teknik tes dilakukan dengan pemberian memberikan soal evaluasi kepada siswa, sedangkan teknik non tes dilakukan dengan menggunakan wawancara, kuesioner, dan observasi. Untuk membuktikannya, peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. Penjelasannya sebagai berikut :
1. Tes Tertulis
Tes merupakan alat pengukur data yang berharga dalam penelitian. Tes adalah seperangkat rangsangan yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatakan jawaban-jawaban yang dijadikan penetapan skor angka (dalam Kusumah, 2009:78). Tes instrumen pengumpulan data bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam aspek kognitif, atau tingkat penguasaan materi pembelajaran (dalam Wina Sanjaya, 2009:99). Tes ini akan diberikan pada siswa kelas V SD N Tidar 1 untuk mengetahui peningkatan hasil belajar mengenai Operasi Hitung Bilangan Bulat pada siklus 1 dan siklus 2. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal uraian yang berjumlah 5 soal disetiap siklus dan 5 soal gabungan siklus 1 dan siklus 2. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data kuantitatif.
2. Non Tes
a. Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada subyek yang diteliti (Kusumah dan Dwitagama, 2009: 77). Wawancara adalah suatu proses tanya jawab sepihak antara pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interviewee), yang dilaksanakan sambil bertatap muka, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan maksud memperoleh jawaban dari interviewee (Masidjo, 1995:72).
Jenis wawancara ini ditujukan kepada guru wali kelas V SD Negeri Tidar 1 untuk mendapat informasi mengenai permasalahan pada materi matematika yang mempunyai hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa. Jenis wawancara ini ditujukan kepada para siswa kelas V SD Negeri Tidar 1 untuk mengetahui pendapat mereka mengenai mata pelajaran yang mereka anggap paling sulit serta materi yang menurut mereka sulit untuk dipahami.
b. Pengumpulan Data Non Tes Menggunakan Kuesioner
Pada penelitian ini kuisioner diberikan sebanyak dua kali yaitu di awal sebelum tindakan siklus I yang bertujuan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan berpikir kritis siswa, dan diberikan pada akhir setelah tindakan siklus II dengan tujuan untuk melihat kondisi akhir kemampuan berpikir kritis setelah dilakukan pembelajaran kontekstual. Masidjo (1995:70) mengatakan bahwa kuisioner merupakan suatu daftar
pertanyaan tertulis yang terperinci yang dijawab oleh responden mengenai pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya.
c. Dokumentasi
Pengambilan data melalui dokumentasi foto ini dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Peneliti meminta bantuan rekan untuk mengambil gambar, sehingga siswa tetap fokus dan tidak terjadi perubahan perilaku siswa pada saat pengambilan gambar. Peneliti menggunakan teknik dokumentasi dalam penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. Hal ini dilakukan peneliti dengan cara mengamati hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran Matematika melalui data nilai ujian akhir semester. Hasil dokumentasi lainnya berupa hasil evaluasi belajar siswa setelah tindakan siklus.
F. Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Instrumen Pengumpulan Data
No Variabel Indikator Jenis
Penilaian Instrumen
Teknik Pengumpulan
Data
1. Hasil belajar
Rata-rata nilai kelas
Tes Tes tertulis tipe esai
Tes soal evaluasi Persentase jumlah
siswa yang lulus KKM 2. Kemampuan berpikir kritis Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa
Non tes Lembar kuisioner kemampuan berpikir kritis Kuisioner, wawancara, dan dokumentasi Persentase jumlah
siswa yang minimal cukup kritis
Berdasarkan tabel 3.1 peneliti melakukan penelitian terhadap hasil belajar