BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Pemahaman Pendidikan Karakter Menurut Pendapat Kepala Sekolah dan Guru di SMP Negeri 4 Wates
Pendidikan karakter adalah upaya untuk membantu siswa-siswa dalam membentuk sebuah karakter yang ada di dalam dirinya masing-masing. Sehingga dengan adanya program Pendidikan Karakter akan membantu anak untuk mengetahui potensi atau karakter yang ada dalam diri siswa. Berikut ulasan kepala sekolah SMP Negeri 4 Wates mengenai pendidikan karakter.
“Pendidikan karakter adalah upaya pemberian bantuan kepada siswa
siswi dalam membentuk karakter atau kepribadian sesuai dengan potensi yang dimiliki semua siswa. Sehingga dengan adanya program pendidikan karakter di dalam sebuah pembelajaran akan sangat membantu anak dalam mengenali dan mengetahui potensi atau karakter apa yang ada di dalam diri siswa. Karakter yang ingin saya bentuk terhadap siswa adalah membiasakan siswa yang beragama muslim Islam mengikuti kegiatan tadarus yang dilakukan oleh sekolah setiap pagi sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar selanjutnya, sedangkan bagi siswa yang yang non muslim juga diberikan bimbingan khusus oleh salah satu guru di sini. Sehingga karakter ketakwaan yang dimiliki siswa harus semakin baik sesuia dengan
kepercayaan masing-masing anak”. (A1.PK.Kep.Sek)
Sejalan dengan konsep pendidikan karakter menurut Kepala Sekolah, Guru Bahasa inggris memhami pendidikan karakter sebagai berikut:
“membiasakan anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berani berbicara, memiliki toleransi dalam semua hal dengan teman dan lingkungan, dapat membantu teman, dan memiliki kerjasama yang baik dengan orang lain” (A1.PK.G.Bing)
Dari pemahaman tersebut tampak bahwa pendidikan karakter adalah upaya membantu siswa untuk dapat memiliki rasa kepercayaan diri dan
menjadi pribadi yang bertanggung jawab, serta selalu percaya dan menjalankan perintah ajaran agama sesuai dengan kepercayaannya.
2. Metode yang digunakan Guru dalam menyampaikan Pendidikan Karakter Dalam penyampaian Pendidikan Karakter, Guru memiliki berbagai metode dalam memberikan Pendidikan Karakter kepada Peserta Didik. Guru memberikan pendidikan karakter pada saat bimbingan klasikal di dalam kelas. Sehingga peran Guru pada saat bimbingan klasikal harus memiliki unsur karakter yang harus diberikan kepada peserta didik. Hal ini seperti di utarakan oleh salah seorang Guru:
“Metode pembelajaran yang saya berikan adalah ceramah dan diskusi. Pada saat diskusi saya menyuruh siswa menyampaikan pendapat, dari hal tersebut akan membantu membentuk karakter anak berani di depan umum dan yang lain dapat menghargai teman yang sedang menyampaikan pendapatnya.”(A2.Met.G.PKN)
Hal tersebut tidak hanya di utarakan oleh salah seorang Guru, Guru di SMP N 4 Wates selalu memberikan/menyampaikan Pendidikan Karakter pada saat bimbingan klasikal:
“Metode yang saya berkikan agar dapat terbentuknya karakter percaya diri terhadap anak yaitu dengan menggunakan metode praktek pada saat pelajaran. Misalnya membacakan sebuah puisi di depan kelas. Sehingga dari situ anak akan berlatih membangun percaya diri terhadap dirinya sendiri”. (A2.Met.G.BI)
Dari pemahaman tersebut Metode penyampaian pendidikan karakater yang diberikan adalah membentuk karakter anak di dalam proses pembelajaran anak pada saat pemberian bimbingan klasikal. Karakter yang sering dibentuk adalah karakter kepercayaan diri terhadap siswa.
3. Faktor penghambat pelaksanaan pendidikan karakter di SMP Negeri 4 Wates Sebuah kegiatan yang dilakukan maupun yang masih direncanakan pasti memiliki beberapa hambatan yang terjadi. Dalam pendidikan karakter juga terdapat berbagai macam hambatan. Ada beberapa hambatan yang diperoleh
pihak SMP Negeri 4 Wates dalam melaksanakan program pendidikan karakter. Berikut hasil wawancara mengenai hambatan dari kepala sekolah dan guru SMP Negeri 4 Wates.
a. Sarana dan prasarana sekolah
Dalam melaksanakan program pendidikan karakter dalam segi sarana dan prasarana. Sarana sekolah seperti kitab suci untuk diberikan kepada anak masih belum terpenuhi dengan baik. Selain sarana mengenai kitab suci, sarana dalam kebutuhan siswa seperti peralatan yang diberikan Sekolah juga masih kurang lengkap di dalam sebuah Koperasi Sekolah. Hal ini seperti diutarakan oleh kepala sekolah SMP Negeri 4 Wates :
“hambatan dalam hal sarana dan prasarana yaitu untuk al quran masih sedikit, mushola juga terlalu sempit, sehingga murid yang akan melaksanakan sembahyang harus bergantian dan itu juga akan menguras banyak waktu, karena waktu jeda jam istirahat tidak terlalu lama. Selain itu juga sarana dan prasarana untuk kebutuhan murid, seperti koperasi. Koperasi di sekolah sudah ada, tetapi belum begitu lengkap. Sehingga kebutuhan murid belum sepenuhnya terpenuhi”. (A4.Hmbtn.PK.Kepsek)
b. Kegiatan belajar mengajar
Pada saat memberikan materi bimbingan dan belajar di dalam kelas. Peran guru juga sangat penting untuk menyampaikan materi sesuai dengan bidang mata pelajaran guru tersebut. Pendidikan karakter yang diberikan kepada murid ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung menekankan tentang karakter percaya diri dalam dirinya. Sehingga tugas seorang guru harus dapat membuat murid memiliki karakter tersebut, tetapi pada saat kegiatan belajar mengaja berlangsung tidak semua murid memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini seperti diutaraka oleh seorang guru :
“kesulitan yang umum terjadi pada saat pelajaran saya adalah anak masih sering malu apabila disuruh tampil di depan kelas
dengan berbagai alasan, dan masih saling tunjuk menunjuk kepada teman yang lainnya”. (A4.Hmbtn.PK.G.Smsik)
c. Peran orang tua
Pembentukan karakter anak tidak selalu diberikan ketika anak berada di sekolah saja, tetapi karakter anak juga harus dibentuk di luar lingkungan sekolah. Peran besar dalam terbentuknya karakter anak adalah peran orang tua. Orang tua juga harus ikut membantu terbentuknya karakter anak dalam kedisiplinan, tanggung jawab, taat pada aturan, dll. Hal tersebut juga diutaran kepala sekolah :
“kadang ada beberapa orang tua murid yang kurang peka terhadap pembentukan karakter anak, seperti dalam hal kedisiplinan anak berangkat sekolah yang terlambat. Seharusnya orang tua membimbing anaknya untuk berangkat lebih awal lagi supaya tidak terlambat masuk ke sekolah”.
(A4.Hmbtn.PK.Kepsek) d. Menaati tata tertib sekolah
Hambatan dalam perencanaan pendidikan karakter di sekolah selalu terjadi walaupun dari pihak sekolah SMP Negeri 4 Wates telah memberikan sebuah peraturan tata tertib yang harus ditaati oleh siswanya. Dalam hal ini tidak semua siswa mematuhi tata tertib yang telah diberikan oleh sekolah untuk siswanya. Kebiasaan anak adalah sering melanggar tata tertib dalam hal kedisiplinan. Seperti yang diutarakan oleh kepala sekolah :
“masih ada beberapa anak melanggar tata tertib yang diberikan oleh pihak sekolah, seperti masih ada anak bajunya tidak di masukkan, dan masih ada beberapa anak yang telat masuk ke sekolah” (A4.Hmbtn.PK.Kepsek)
Hambatan dalam pembentukan karakter juga terjadi dalam kedisiplinan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal ini seperti diutarakan oleh salah satu guru :
“kesulitan yang saya alami adalah ketika masih ada anak yang beralasan tidak mengerjakan tugas/PR dengan tepat waktu.
Sehingga kedisiplinan yang ingin saya terapkan kepada anak terganggu oleh kepribadian siswa itu sendiri yang masih sulit untuk dikembangkan karakter disiplin oleh anak tersebut”.
(A4.Hmbtn.PK.G.Bind)
4. Usaha-usaha yang dilakukan sekolah untuk mengatasi hambatan pelaksanaan pendidikan karakter di SMP Negeri 4 wates
SMP Negeri 4 Wates melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pendidikan karakter. Tindakan sekolah untuk mengatasi hambatan tersebut sebagai berikut. a. Dalam hal sarana dan prasarana
Untuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam bidang hal sarana prasarana terbentuknya pendidikan karakter yang telah direncanakan oleh pihak SMP Negeri 4 Wates adalah sebisa mungkin memenuhi fasilitas yang diperlukan oleh muridnya. Berikut pendapat kepala sekolah:
“sebisa mungkin fasilitas harus dipenuhi oleh pihak sekolah, selain itu saya dan pihak sekolah meminta infaq kepada orang tua murid untuk meringankan beban dan dapat memfasilitasi sarana dan prasarana yang kurang lengkap”
(A5.Sol.PK.Kepsek)
b. Dalam hal kegiatan belajar mengajar
SMP Negeri 4 wates untuk mengatasi hambatan terbentuknya pendidikan karakter dalam hal kegiatan belajar mengajar adalah guru membantu siswa untuk dapat memiliki karakter percaya diri. Hal ini seperti diutarakan guru sebagai berikut :
“solusi yang saya lakukan apabila ada anak yang masih malu disuruh maju kedepan, saya akan memanggil anak tersebut dan memberikan bimbingan sendiri dan latihan khusus supaya dia memiliki keberanian tampil di depan umum. Sehingga diharapkan anak tidak ketinggalan materi selanjutnya, dan mampu memiliki kepercayaan diri yang tinggi seperti teman-teman lainnya” (A5.Sol.PK.G.Smsik)
c. Dalam hal peran orang tua
Hambatan yang terjadi dalam perencanaan pendidikan karakter di SMP Negeri 4 Wates dalam peran orang tua sebagai pendamping anak untuk terbentuknya karkater di luar sekolah adalah adanya kesadaran dari orang tua untuk mau diajak bekerjasama dalam terbentuknya karakter anak. Hal tersebut seperti diutarakan oleh kepala sekolah :
“orang tua terlibat pada saat pertemuan rapat, orang tua diajak bekerjasama untuk mengawasi perilaku anaknya yang semakin berubah sesuai dengan tugas perkembangannya. Selain itu orang tua juga harus ikut andil dalam mengawasi kedisiplinan anak, sehingga diharapkan anak tidak terlambat lagi masuk ke sekolah”. (A5.Sol.PK.Kepsek)
d. Dalam hal menaati tata tertib sekolah
Terlaksananya pendidikan karakter di dalam sekolah adalah murid harus menaati peraturan tata tertib yang ada di sekolah, tetapi dalam kasus di lapangan, masih ada murid yang melanggar peraturan tersebut. Pihak SMP Negeri 4 Wates dalam mengatasi masalah tersebut, memberikan peringatan kepada muridnya agar selalu tertib sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan tidak mengulangi pelanggaran lagi. Hal itu seperti yang diutarakan oleh kepala sekolah :
“untuk siswa yang masih melanggar atau kurang taat akan peraturan sekolah maka akan diberikan sebuah bimbingan lagi dan akan mendapatkan skor yang akan menjadikan anak menjadi takut apabila dia melanggar peraturan yang ada di sekolah”.
(A5.Sol.PK.Kepsek)
Selain kedisiplinan dalam menaati peraturan tata tertib yang berlaku, kedisiplinan akan tanggung jawab murid dalam hal mengerjakan tugas/PR harus tepat pada waktunya. Hal ini seperti diutarakan oleh salah seorang guru :
“sejauh ini solusi untuk mengatasi anak yang tidak mengerjakan tugas / PR adalah saya memberikan tambahan tugas baru kepada anak tersebut. Sehingga dengan cara memberikan tambahan
tugas agar anak tersebut menjadi jera untuk tidak mengerjakan tugas / PR lagi. Dengan diberikan tambahan tugas akan mengembangkan karakter siswa menjadi akan sadar tentang tanggung jawab untuk menyelesaikan sebuah tugas yang telah diberikan. Disisi lain saya juga akan mengubah metode pembelajaran saya agar anak dapat mengikuti pelajaran saya dengan baik, sehingga anak akan merasa senang belajar dengan pelajaran saya dan diharapkan tidak terjadi lagi siswa yang tidak mengerjakan tugas / PR lagi”. (A5.Sol.PK.G.Bind)