• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi keterlaksanaan pendidikan karakter terintegrasi pada SMP Negeri 4 Wates Kulonprogo : studi pendapat kepala sekolah dan guru di SMP Negeri 4 Wates Kulonprogo tahun ajaran 2013/2014.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Evaluasi keterlaksanaan pendidikan karakter terintegrasi pada SMP Negeri 4 Wates Kulonprogo : studi pendapat kepala sekolah dan guru di SMP Negeri 4 Wates Kulonprogo tahun ajaran 2013/2014."

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

EVALUASI KETERLAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI DI KELAS VII DAN VIII PADA SMP NEGERI 4 WATES KULONPROGO

(Studi Pendapat Kepala Sekolah dan Guru di SMP NEGERI 4 Wates Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014)

Sugeng Purnomo Universitas Sanata Dharma

2016

Penelitian ini bertujuan untuk 1) Memperoleh gambaran pemahaman kepala sekolah dan guru SMP N 4 Yogyakarta tentang pendidikan karakter 2) mengetahui perencanaan pendidikan karakter di SMP N 4 Wates Yogyakarta 3) mengetahui nilai-nilai karakter yang telah tertanam pada diri siswa di SMP N 4 Wates Yogyakarta 4) mengetahui faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan pendidikan karakter di SMP N 4 Wates Yogyakarta 5) mengetahui usaha-usaha yang dilakukan sekolah untuk mengatasi hambatan-hambatan pelaksanaan pendidikan karakter di SMP N 4 Wates Yogyakarta.

Jenis penelitian yang dipakai adalah kualitatif. Subyek penelitian ini adalah Kepala Sekolah SMP N 4 Wates Yogyakarta, 4 guru mata pelajaran, 1 guru BK. Metode pengumpulan datanya menggunakan wawancara dan observasi dengan menggunakan alat pedoman wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik triangualasi sumber untuk menguji keabsahan dan keterpercayaan data. Peneliti melakukan analisis data melalui analisis domain.

Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan kepala sekolah dan guru SMP N 4 Wates Yogyakarta tentang pendidikan karakter sejalan dengan peraturan pemerintah yaitu upaya pemberian bantuan kepada siswa siswi dalam membentuk karakter atau kepribadian sesuai dengan potensi yang dimiliki semua siswa. Metode penyampaian pendidikan karakter yang dilakukan Guru adalah memberikan karakter pada saat bimbingan klasikal, karakter yang diberikan adalah mengenai kepercayaan diri. Hambatan dalam pemberian pendidikan karakter adalah mengenai sarana dan prasarana, kegiatan belajar mengajar, peram orang tua, dam menaati tata tertib sekolah. Pihak sekolah sudah berusaha mengatasi hambatan yang terjadi dalam proses terlaksananya pendidikan karkater di SMP N 4 Wates.

Kata Kunci : Karakter, Pendidikan Karakter, Evaluasi Pendidikan Karakter

(2)

ABSTRACT

THE EVALUATION OF INTEGRATED CHARACTED BUILDING OF SMP N 4 WATES KULONPROGO

(belief study of head master and teacher at SMP N 4 Wates Yogyakarta school year 2013/2014)

Sugeng Purnomo Sanata Dharma University

2016

This research aims to 1) get illustration on head master and teacher’s understanding

about character building, 2) know the implementation of character building at SMP N 4 Wates Yogyakarta, 3) know the character value which is implanted on students of SMP N 4 Wates Yogyakarta, 4) know the obstacle factors on the implementation of character building at SMP N 4 Wates Yogyakarta, 5) know the school efforts for solving the obstacle on implementing character building at SMP N 4 Wates Yogyakarta.

Qualitative research is used in this research. The subjects are a head master of SMP N 4 Wates Yogyakarta, 4 subject teachers, 1 counseling teacher. The methods to collect the data are interview and observation using interview blueprint. This research uses triangulation technique to validate the data. The researcher analyzes the data using domain analysis.

The result shows that head master and teacher’s knowledge at SMP N 4 Wates

Yogyakarta is in line with the government’s rule which is the effort to give assistance to

students in order to build character depends on each student. The method used by teacher to give character building is by giving classical guidance which is about self confidence. The obstacles are facilities, learning activity, parent role, and to do school rules. The school has tried to handle the obstacles of the process of character building implementation.

(3)

i

EVALUASI KETERLAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI PADA SMP NEGERI 4 WATES

KULONPROGO

(Studi Pendapat Kepala Sekolah Dan Guru di SMP NEGERI 4 Wates Kulonprogo Tahun Ajaran 2013/2014)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh: Sugeng Purnomo

NIM 111114032 HALAMAN JUDUL

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)
(5)
(6)

iv MOTTO

“Selalu tidak pernah bosan menjadi orang yang berguna buat orang lain”

(Sugeng Purnomo)

“Biarkan masa lalu tetap di sana bersama penyesalan, karena hidup adalah perjalanan panjang yang harus diteruskan”

(Daud Antonius)

““jika ragu dalam melakukan sesuatu, sebaiknya tanya kepada diri sendiri, apa yang kita inginkan esok hari dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya”

(7)

v

PERSEMBAHAN

Skripsi ini aku persembahkan bagi: Allah SWT,

Almamaterku, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Kedua orangtuaku tercinta, Suyatno dan Amini

Kakakku tercinta, Budi Utomo

Sahabat-sahabatku, Nawastiti Dhuarani, Theodora Adeline, Yohanes Paulus Pius, Silviana danty, Anastasia Marina, Rosa Delima, Clara Reny, Sumsumi

(8)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 1 Februari 2016

(9)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:

Nama : Sugeng Purnomo

NIM : 111114032

Demi perkembangan ilmu pengetahuan saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, karya ilmiah saya yang berjudul:

EVALUASI KETERLAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER

TERINTEGRASI PADA SMP NEGERI 4 WATES KULONPROGO (Studi Pendapat Kepala Sekolah dan Guru di SMP NEGERI 4 Wates Kulonprogo Tahun Ajaran 2013/2014) beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan

demikian, saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma Yogyakarta hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan publikasi di internet atau media lain untuk keperluan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalty kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di Yogyakarta,

Pada tanggal: 1 Februari 2016

Yang menyatakan

(10)

viii ABSTRAK

EVALUASI KETERLAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI DI KELAS VII DAN VIII PADA SMP NEGERI 4

WATES KULONPROGO

(Studi Pendapat Kepala Sekolah dan Guru di SMP NEGERI 4 Wates Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014)

Sugeng Purnomo Universitas Sanata Dharma

2016

Penelitian ini bertujuan untuk 1) Memperoleh gambaran pemahaman kepala sekolah dan guru SMP N 4 Yogyakarta tentang pendidikan karakter 2) mengetahui perencanaan pendidikan karakter di SMP N 4 Wates Yogyakarta 3) mengetahui nilai-nilai karakter yang telah tertanam pada diri siswa di SMP N 4 Wates Yogyakarta 4) mengetahui faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan pendidikan karakter di SMP N 4 Wates Yogyakarta 5) mengetahui usaha-usaha yang dilakukan sekolah untuk mengatasi hambatan-hambatan pelaksanaan pendidikan karakter di SMP N 4 Wates Yogyakarta.

Jenis penelitian yang dipakai adalah kualitatif. Subyek penelitian ini adalah Kepala Sekolah SMP N 4 Wates Yogyakarta, 4 guru mata pelajaran, 1 guru BK. Metode pengumpulan datanya menggunakan wawancara dan observasi dengan menggunakan alat pedoman wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik triangualasi sumber untuk menguji keabsahan dan keterpercayaan data. Peneliti melakukan analisis data melalui analisis domain.

Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan kepala sekolah dan guru SMP N 4 Wates Yogyakarta tentang pendidikan karakter sejalan dengan peraturan pemerintah yaitu upaya pemberian bantuan kepada siswa siswi dalam membentuk karakter atau kepribadian sesuai dengan potensi yang dimiliki semua siswa. Metode penyampaian pendidikan karakter yang dilakukan Guru adalah memberikan karakter pada saat bimbingan klasikal, karakter yang diberikan adalah mengenai kepercayaan diri. Hambatan dalam pemberian pendidikan karakter adalah mengenai sarana dan prasarana, kegiatan belajar mengajar, peram orang tua, dam menaati tata tertib sekolah. Pihak sekolah sudah berusaha mengatasi hambatan yang terjadi dalam proses terlaksananya pendidikan karkater di SMP N 4 Wates.

Kata Kunci : Karakter, Pendidikan Karakter, Evaluasi Pendidikan Karakter

(11)

ix ABSTRACT

THE EVALUATION OF INTEGRATED CHARACTED BUILDING OF SMP N 4 WATES KULONPROGO

(belief study of head master and teacher at SMP N 4 Wates Yogyakarta school year 2013/2014)

Sugeng Purnomo Sanata Dharma University

2016

This research aims to 1) get illustration on head master and teacher’s

understanding about character building, 2) know the implementation of character building at SMP N 4 Wates Yogyakarta, 3) know the character value which is implanted on students of SMP N 4 Wates Yogyakarta, 4) know the obstacle factors on the implementation of character building at SMP N 4 Wates Yogyakarta, 5) know the school efforts for solving the obstacle on implementing character building at SMP N 4 Wates Yogyakarta.

Qualitative research is used in this research. The subjects are a head master of SMP N 4 Wates Yogyakarta, 4 subject teachers, 1 counseling teacher. The methods to collect the data are interview and observation using interview blueprint. This research uses triangulation technique to validate the data. The researcher analyzes the data using domain analysis.

The result shows that head master and teacher’s knowledge at SMP N 4

Wates Yogyakarta is in line with the government’s rule which is the effort to give

assistance to students in order to build character depends on each student. The method used by teacher to give character building is by giving classical guidance which is about self confidence. The obstacles are facilities, learning activity, parent role, and to do school rules. The school has tried to handle the obstacles of the process of character building implementation.

Keywords: character, character building, integrated character building

(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat yang

dilimpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi penulis untuk belajar

dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah penulis dapatkan selama proses penyelesaian skripsi berlangsung.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan dan berjalan dengan lancar tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah mendukung dan mendampingi penulis. Oleh karena itu secara khusus penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Gendon Barus, M,Si selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan izin penelitian dan dukungan selama penyelesaian skripsi.

2. Juster Donal Sinaga, M.Pd selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling dan juga selaku dosen pembimbing yang telah sabar mendampingi, memotivasi, dan mengarahkan dengan penuh kesabaran dan kerja keras dalam memberikan masukan-masukan yang bermanfaat kepada penulis selama mengerjakan skripsi.

3. Para dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membekali penulis dengan

pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dalam penulisan skripsi ini.

4. Kepala Sekolah dan guru SMP N 4 Wates Yogyakarta yang telah meluangkan waktu untuk menjadi subjek dalam penelitian ini.

5. Kedua orangtuaku tercinta yaitu bapak Suyatno dan Ibu Amini yang selalu memberikan dukungan baik lewat doa, semangat, dan materi demi terselesainya skripsi ini.

(13)

xi

7. Sahabat-sahabat terbaikku, Nawas, Theo, Pius, Danty, Tasia, Ocha, Chandra, reny, Dewi, tata, Sandy, Adven, Arif, Akim, Boy, Aryo, Fariz, Maria, Rino dan semuanya yang telah memberikan semangat dalam proses mengerjakan skripsi ini.

8. Teman-teman BK angkatan 2011 yang telah memberikan motivasi, doa, dan masukan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

9. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu baik dalam doa, motivasi, materi, dan lain-lain.

Terimakasih Tuhan Memberkati

Yogyakarta, 01 Februari 2016

(14)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO... iv

PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 4

D. Rumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Penelitian ... 4

F. Manfaat Hasil Penelitian ... 4

G. Definisi Istilah ... 6

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

A. Pengertian Karakter ... 7

B. Pengertian Pendidikan Karakter ... 7

C. Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP ... 8

D. Penyelenggaraan Pendidikan Karakter di SMP ... 10

E. Tujuan Pendidikan Karakter ... 15

F. Nilai-nilai Pendidikan Karakter ... 15

(15)

xiii

H. Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter ... 18

I. Hakikat Evaluasi Hasil Program Pendidikan ... 19

BAB III METODE PENELITIAN... 21

A. Jenis Penelitian ... 21

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 21

C. Subyek Penelitian ... 23

D. Teknik Instrumen Pengumpulan Data ... 23

E. Keabsahan dan Keterpercayaan Data ... 27

F. Teknik Analisis Data ... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 28

A. Deskripsi Data secara Umum ... 28

B. Hasil Penelitian ... 29

C. Pembahasan ... 35

BAB V PENUTUP ... 38

A. Kesimpulan ... 38

B. Saran-Saran ... 39

C. Keterbatasan Penelitian ... 39

D. Penutup ... 40

(16)

xiv

DAFTAR TABEL

Table 1. Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran ... 12

Table 2. Jadwal Penelitian ... 22

Table 3. daftar jumlah subyek penelitian... 23

(17)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Hasil Wawancara ... 43

Lampiran 2 : Pengodingan Hasil Wawancara ... 74

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian, dan definisi operasional variabel.

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu sehat dan berakhlak mulia seperti yang telah dituliskan dalam Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri

dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Suyadi, 2013).

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi. Dari tujuan pendidikan dari pemerintah tersebut menandakan bahwa pemerintah sangat peduli akan potensi yang harus dibentuk dan dikembangkan oleh semua orang. Sehingga untuk membentuk potensi yang dimiliki oleh setiap orang,pemerintah menanamkan pendidikan karakter sejak anak masih berada dalam lingkup dunia pendidikan formal, sehingga anak dapat dipantau setiap karakternya oleh seorang pengajar di dalam pendidikan formal.

(19)

dengan baik, Direktorat Pembinaan SMP secara khusus mengembangkan pendidikan karakter yang diharapkan dapat diimplementasikan di seluruh SMP di Indonesia. Melalui pendidikan karakter peserta didik SMP diharapkan mampu meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi

serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari- hari.

Sekarang ini banyak anak yang tidak memiliki sebuah karakter yang ada pada dirinya. Anak sekarang ini cenderung berperilaku negatif di lingkungan sekitar, dengan cara tawuran, memiliki sebuah komunitas yang negatif, atau pun hal-hal yang membuat anak tidak dapat mengembangkan nilai karaker yang ada di dalam anak tersebut. Sehingga karakter yang seharusnya dimiliki oleh anak tersebut tidak berjalan secara optimal dan sesuai dengan karakter yang dimiliki oleh anak tersebut. Melihat dari kasus tersebut, tugas seorang konselor adalah harus dapat membuat anak dapat mengembangkan karakter yang dimiliki oleh peserta didik di dalam sebuah instusi pendidikan. Selain itu, tugas seorang konselor harus di bantu oleh pihak lain seperti kepala sekolah, guru, serta karyawan, yang membantu terbentuknya karakter yang dimiliki oleh peserta didik. Dengan adanya hal tersebut peran konselor dan semua elemen sekolah akan membantu melaksanakannya terlaksananya pendidikan karakter peserta didik.

Menurut Mochtar Buchori (2010:6), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan

nilai secara afektif, dan akhirnya kepengalaman nilai secara nyata. Kementrian Pendidikan Nasional (2010) mengungkapkan bahwa pendidikan

(20)

(Komnas PA) Seto Mulyadi mengatakan, salah satu penyebab terjadinya kriminalitas yang menyeret pelaku anak usia dini dan remaja adalah kekacauan sistem pendidikan di Indonesia.

"Sistem pendidikan kita sudah salah. Dari TK (taman kanak-kanak)

sampai SD (sekolah dasar) anak-anak disuruh menghafal dan banyak PR (pekerjaan rumah). Memang cerdas mereka. Namun, jika cerdas, sedangkan

ajaran moral dan etikanya minim, ya terjadi seperti kekerasan anak SD. Contoh kasus Renggo, tawuran, dan kekerasan seksual”. (Kompas.com)

Berdasarkan berbagai hal di atas, keberadaan evaluasi komperhensif terhadap hasil pendidikan karakter yang telah berlangsung dengan sistem terintegrasi di SMP sangatlah penting dilakukan. Namun hingga kini, belum terlihat adanya penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi keterlaksanaan hal itu semua. Hal ini membuat pendidikan karkater hanya terus menerus berpusat pada ranah kognitif siswa semata, tanpa diketahui secara jelas proses secara menyeluruh, termasuk capaian hasil dari proses tersebut.

Setelah melihat kasus di atas maka peneliti tertarik mengangkat judul “Evaluasi Keterlaksanaan Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Kelas VII dan VIII di SMP N 4 Wates, Kulonprogo, Yogyakarta”

dalam penelitian ini.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait d engan

Keterlaksanaan Pendidikan Karakter diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Adanya tanda bukti bahwa pendidikan karakter belum terlaksana. 2. Pendidikan karakter belum di terapkan secara optimal di dalam

sekolah.

3. Programpendidikan karakter belum dievaluasi dengan baik oleh pihak sekolah

(21)

C. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab masalah-masalah yang termuat pada butir nomer 1, 2, 4, dan 5 yang teridentifikasi di atas khususnya masalah mengenai seberapa jauh

keterlaksanaan pendidikan karakter yang di berikan di SMP N 4 Wates.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti menyimpulkan perumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pemahaman Kepala Sekolah dan Guru mengenai

Pendidikan Karakter?

2. Metode apa saja yang digunakan para Guru dalam menyampaikan Pendidikan Karakter di SMP N 4 Wates?

3. Hambatan apa saja yang ditemukan dalam pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP N 4 Wates?

4. Apa saja bentuk-bentuk usaha yang dilakukan SMP N 4 wates untuk mengatasi hambatan-hambatan pelaksanaan pendidikan karakter?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui seberapa jauh pendidikan karakter dilaksanakan

oleh pihak sekolah.

2. Mengetahui metode-metode yang digunakan para Guru dalam

menyampaikan Pendidikan Karakter di SMP N 4 Wates.

3. Mengetahui hambatan apa saja yang di temukan sekolah untuk terlaksananya pendidikan karakter oleh SMP N 4 Wates

4. Mengetahui usaha-usaha yang dilakukan sekolah untuk mengatasi hambatan-hambatan pelaksanaan pendidikan karakter.

F. Manfaat Hasil Penelitian

(22)

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan tentang evaluasi keterlaksanaan pendidikan karakter terintegrasi yang ada saat ini, sehingga dapat digunakan sebagai bahan

inspiratif untuk menemukan cara-cara yang tepat dalam peningkatan pendidikan karakter di sekolah. Selain itu, penelitian ini diharapkan

mampu menambah wawsan dan pengembangan penelitian dalam bidang kajian yang sama, khususnya mengenai pendidikan karakter terintegrasi di Indonesia.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Kepala sekolah dan para guru SMPN 4 Wates

Hasil penelitian ini dapat menjadi tolak ukur yang dapat digunakan oleh Sekolah untuk melihat seberapa efektif pencapaian hasil pendidikan karakater pada siswa khususnya kelas VII dan VIII pada SMP N 4 Wates. Selain itu, sekolah juga dapat memiliki rencana kedepan untuk dapat lebih baik lagi melaksanakan pendidikan karakter di Sekolah.

b. Bagi siswa kelas VII dan VIII SMP N 4 Wates

Para siswa kelas VII dan VIII SMP N 4 Wates ini dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk mengetahui pendidikan

karater apa saja yang telah di lakukan dan diberikan selama proses belajar mengajar tahun ini.

c. Bagi Guru BK

Bagi Guru BK penelitian ini sangat bermanfaat karena membantu Guru BK dapat mengetahui dan mengembangkan kebutuhan karakter apa saja yang perlu bagi peserta didiknya.

d. Bagi Peneliti

(23)

G. Definisi Istilah

Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini yaitu:

1. Karakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat,dan

berwatak”. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta

dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

2. Pendidikan Karakter yaitu upaya terencana untuk menjadikan seseorang (peserta didik) mengenal, peduli, dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter dalam diri, sehingga dapat berperilaku sebagai manusia seutuhnya.

3. Keterlaksanaan Pendidikan Karakter adalah keberhasilan dalam melakukan usaha pendidikan karakter yang di berikan oleh semua staf pengajaran di sekolah terhadap peserta didiknya

4. Evaluasi keterlaksanaan pendidikan karakter adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat terealisasikan. 5. Pendidikan karakter terintegrasi adalah pengenalan nilai -nilai,

fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai -nilai, dan

penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di

(24)

7 BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini dipaparkan mengenai pengertian karakter, pengertian pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter, nilai-nilai pendidikan karakter, prinsip pendidikan karakter, dan indikator keberhasilan pendidikan karakter.

A. Pengertian Karakter

Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.

Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya. (Suyanto, 2010)

Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari.

Oleh sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, curang, kejam, dan rakus dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter jelek, sedangkan yang

berperilaku baik, jujur, dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter baik/mulia.

Beberapa definisi yang telah diuraikan memiliki sudut pandang yang berbeda. Meski demikian, dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia Internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahua) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

B. Pengertian Pendidikan Karakter

(25)

memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana, Lickona mendefinisikan penddikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa.

Menurut Elkin dan Sweet (Pupuh, Suryana, & Fenny, 2013: 15), pendidikan karakter dimaknai sebagai, “Character education is the deliberate

effort to help people understand, care abaout, and act upon core ethical values”.

Penddikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti.

Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter dalam diri, yang dapat diterapkan dalam kehidupan sebagai anggota masyarakat dan warga Negara yang relegius, nasionalis, produktif, dan kreatif (Zubaedi, 2012: 17-18).

Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya terencana untuk menjadikan seseorang (peserta didik) mengenal, peduli, dan menginternalisasi-kan nilai-nilai karakter dalam diri, sehingga dapat berperilaku sebagai manusia seutuhnya.

C. Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP

Berdasarkan pedoman Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional (2010), pendidikan karakter terintegrasi di SMP dilaksanakan melalui

proses pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan pembinaan kesiswaan. 1. Pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran

(26)

pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai, serta menjadikannya sebagai perilaku.

Pada struktur kurikulum SMP, dasar setiap mata pelajaran memuat

materi-materi yang berkaitan dengan karakter. Secara subtantif, setidaknya terdapat dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan pengembangan

budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan meng-internalisasi nilai-nilai. Integrasi pendidikan karakter pada mata-mata pelajaran di SMP mengarah pada internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.

2. Pendidikan karakter terintegrasi melalui manajemen sekolah

Pada konteks dunia pendidikan, yang dimaksud dengan manajemen pendidikan sekolah adalah suatu proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan dalam upaya untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan itu sendiri. Penyelenggaraan pendidikan karakter memerlukan pengelolaan yang memadai. Pengelolaan yang dimaksudkan adalah

bagaimana pembentukan karakter dalam pendidikan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara memadai. Unsur-unsur pendidikan karakter yang akan

direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan tersebut antara lain meliputi: (1) nilai-nilai karakter kompetensi lulusan, (2) muatan kurikulum nilai-nilai karakter, (3) nilai-nilai karakter dalam pembelajaran, (4) nilai-nilai karakter pendidik dan tenaga kependidikan, dan (5) nilai-nilai karakter pembinaan kepesertadidikan.

(27)

misalnya: shalat dhuhur berjamaah, (6) salim-taklim (jabat tangan) setiap pagi saat siswa memasuki gerbang sekolah, (7) pengelolaan dan kebersihan ruang kelas oleh siswa, dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya.

3. Pendidikan karakter terintegrasi melalui kegiatan pembinaan kesiswaan Kegiatan pembinaan kesiswaan adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan

peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau

tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah.

Visi kegiatan pembinaan kesiswaan adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Misi kegiatan pembinaan kesiswaan adalah (1) menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka; (2) menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengeskpresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.

D. Penyelenggaraan Pendidikan Karakter di SMP

Berdasarkan pedoman pendidikan karakter Kementerian Pendidikan Nasional (2010), penyelenggaraan pendidikan karakter terintegrasi di SMP dilakukan secara terpadu melalui 3 (tiga) jalur, yaitu: pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan pembinaan kesiswaan. Langkah pendidikan karakter

meliputi: perancangan, implementasi, evaluasi, dan tindak lanjut. 1. Perancangan

Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam tahap penyusunan rancangan antara lain:

(28)

b. Mengembangkan materi pendidikan karakter untuk setiap jenis kegiatan di sekolah

c. Mengembangkan rancangan pelaksanaan setiap kegiatan di sekolah (tujuan, materi, fasilitas, jadwal, pengajar/fasilitator, pendekatan pelaksanaan, evaluasi) d. Menyiapkan fasilitas pendukung pelaksanaan program pendidikan karakter di

sekolah

Perencanaan kegiatan program pendidikan karakter di sekolah mengacu pada jenis-jenis kegiatan, yang setidaknya memuat unsur-unsur: tujuan,

sasaran kegiatan, substansi kegiatan, pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, mekanisme pelaksanaan, keorganisasian, waktu dan tempat, serta fasilitas pendukung.

2. Implementasi

a. Pembentukan karakter yang terpadu dengan pembelajaran pada semua mata pelajaran

Berbagai hal yang terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma, iman dan ketaqwaan) diimplementasikan dalam pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang terkait, seperti Agama, PKn, IPS, IPA, Penjas Orkes, dan lain-lainnya. Hal ini dimulai dengan pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Kementerian Pendidikan Nasional (2010) telah memilih dan mengelompokkan sejumlah nilai utama sebagai pangkal tolak bagi

penanaman nilai-nilai yang kemudian diintegrasikan pada mata pelajaran yang paling cocok. Hal tersebut berarti tidak setiap mata pelajaran diberi

(29)

Table 1. Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran

Mata Pelajaran Nilai Utama

1. Pendidikan Agama Religius, jujur, santun, disiplin,

bertanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan sosial, bergaya hidup sehat, sadar akan hak dan kewajiban, kerja keras, peduli

2. Pendidikan Kewarga-negaraan Nasionalis, patuh pada aturan sosial, demokratis, jujur, menghargai keberagaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

3. Bahasa Indonesia Berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu, santun, nasionalis

4. Matematika Berpikir logis, kritis, jujur, kerja keras,

ingin tahu, mandiri, percaya diri

5. IPS Nasionalis, menghargai keberagaman,

berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, peduli sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, jujur, kerja keras

6. IPA Ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif,

dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, peduli lingkungan, cinta ilmu

7. Bahasa Inggris Menghargai keberagaman, santun,

percaya diri, mandiri, bekerjasama, patuh pada aturan sosial

(30)

menghargai karya orang lain, ingin tahu, jujur, disiplin, demokratis

9. Penjasorkes Bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin,

jujur, percaya diri, mandiri, menghargai karya dan prestasi orang lain

10.TIK/ Keterampilan Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan

menghargai karya orang lain

11.Muatan Lokal Menghargai keberagaman, menghargai

karya orang lain, nasionalis, peduli

b. Pembentukan karakter yang terpadu dengan manajemen sekolah

Berbagai hal yang terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma, iman dan lain-lain) diimplementasikan dalam aktivitas manajemen sekolah, seperti pengelolaan: siswa, regulasi/peraturan sekolah, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, keuangan, perpustakaan, pembelajaran, penilaian, dan informasi, serta pengelolaan lainnya.

c. Pembentukan karakter yang terpadu dengan kegiatan pembinaan kesiswaan

Beberapa kegiatan pembinaan kesiswaan yang memuat pembentukan karakter antara lain:

1. Olah raga (sepak bola, bola voli, bulu tangkis, tenis meja, dan lain-lain),

2. Keagamaan (baca alkitab, ibadah, dan lain-lain), 3. Seni budaya (menari, menyanyi, melukis, teater), 4. KIR,

5. Kepramukaan,

6. Latihan Dasar Kepemimpinan Peserta didik (LDKS), 7. Palang Merah Remaja (PMR),

8. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA), 9. Pameran, lokakarya,

(31)

3. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring merupakan serangkaian kegiatan untuk memantau proses pelaksanaan program pembinaan pendidikan karakter. Fokus kegiatan monitoring adalah pada kesesuaian proses pelaksanaan program pendidikan karakter berdasarkan tahapan atau prosedur yang telah ditetapkan. Evaluasi cenderung untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program pendidikan

karakter berdasarkan pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Hasil monitoring digunakan sebagai umpan balik untuk menyempurnakan proses

pelaksanaan program pendidikan karakter.

Monitoring dan evaluasi secara umum bertujuan untuk

mengembangkan dan meningkatkan kualitas program pembinaan pendidikan karakter sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Secara rinci tujuan monitoring dan evaluasi pembentukan karakter adalah sebagai berikut:

a. Melakukan pengamatan dan pembimbingan secara langsung

keterlaksanaan program pendidikan karakter di sekolah.

b. Memperoleh gambaran mutu pendidikan karakter di sekolah secara umum.

c. Melihat kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan program dan mengidentifikasi masalah yang ada, dan selanjutnya mencari solusi yang komprehensif agar program pendidikan karakter dapat tercapai.

d. Mengumpulkan dan menganalisis data yang ditemukan di lapangan untuk menyusun rekomendasi terkait perbaikan pelaksanaan program

pendidikan karakter ke depan.

e. Memberikan masukan kepada pihak yang memerlukan untuk bahan

pembinaan dan peningkatan kualitas program pembentukan karakter. f. Mengetahui tingkat keberhasilan implementasi program pembinaan

pendidikan karakter di sekolah. 4. Tindak lanjut

(32)

E. Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan, menggunakan pengetahuannya, mengkaji

menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari (Suyanto, 2010).

F. Nilai-nilai Pendidikan Karakter

Menurut Suyanto (2010) ada 20 nilai karakter utama yang disarikan dari butir-butir SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006) yaitu:

1. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius)

Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.

2. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri a. Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.

b. Bertanggung jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya

sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.

c. Bergaya hidup sehat

Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.

d. Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

(33)

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.

f. Percaya diri

Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.

g. Berjiwa wirausaha

Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.

h. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki.

i. Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

j. Ingin tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

k. Cinta ilmu

Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan

penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. 3. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama

a. Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. b. Patuh pada aturan-aturan sosial

Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum.

(34)

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.

d. Santun

Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.

e. Demokratis

Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

4. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

5. Nilai kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

a. Nasionalis

Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan

fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. b. Menghargai keberagaman

Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.

G. Prinsip Pendidikan Karakter

Menurut Suyanto (2010), Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter

(35)

3. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter

4. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian

5. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik.

6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang

menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses

7. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para peserta didik

8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama

9. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter

10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter

11. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter posisitf dalam kehidupan peserta didik.

H. Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter

Kementrian Pendidikan Nasional (2010) menuliskan, Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui terutama melalui pencapaian butir-butir Standar Kompetensi Lulusan oleh peserta didik yang meliputi sebagai

berikut:

1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan

remaja.

2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri. 3. Menunjukkan sikap percaya diri.

4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.

5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.

(36)

7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif. 8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi

yang dimilikinya.

9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial.

11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab.

12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

13. Menghargai karya seni dan budaya nasional.

14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. 15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu

luang dengan baik.

16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. 17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam

pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat.

18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana.

19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris

sederhana.

20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti

pendidikan menengah.

21. Memiliki jiwa kewirausahaan.

I. Hakikat Evaluasi Hasil Program Pendidikan 1. Definisi Evaluasi Program

(37)

2. Evaluasi Proses Pendidikan Karakter

Evaluasi Pendidikan Karakter adalah pelajaran yang berorientasi kepada proses dan bermaksud membentuk karakter baik siswa. Hendaknya pelajaran ini jangan hanya sebatas teori saja, melainkan merupakan pelajaran yang berdampak nyata bagi pembangunan karakter siswa. Instrumen yang digunakan tidak selayaknya jika tes kognitif atau

hanya tes uraian yang berorientasi pada hasil. Perangkat non-tes dapat digunakan sebagai bagian untuk merekam kinerja siswa secara

berkesinambungan. Berikut ini adalah rekomendasi atas beberapa permasalahan yang dikemukakan di atas.

1. Guru hendaknya menentukan definisi operasional dan indikator-indikator yang diketahui baik oleh guru maupun siswa.

2. Rasio antara guru dan siswa hendaknya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin diraih. Jika jumlah siswa terlalu banyak dan guru terlalu sedikit, maka pelajaran ini hanya menjadi pelajaran tanpa makna. Sebagai contoh, satu guru mengobservasi satu angkatan dan

“ikut naik kelas” agar guru mengenal pribadi siswa dengan baik,

sehingga mempermudah observasinya.

3. Jumlah jam pelajaran perlu lebih panjang. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka di luar jam pelajaran guru melakukan observasi dan menggali informasi (misalnya saat istirahat atau rapat guru) dan hal tersebut dihitung sebagai beban mengajar guru.

4. Laporan hasil belajar harus merupakan cerminan dari proses belajar. Di dalam laporan hasil belajar, guru perlu memberikan deskripsi atau

Sehingga angka atau huruf yang diberikan memiliki makna dan dapat dipahami baik oleh siswa, orangtua, maupun sekolah . Misalnya nilai 90 –100 dideskripsikan sebagai “Siswa sangat berdisiplin, menjadi inspirator dan motivator dalam proyek kelas, mampu bekerja sama dengan baik dengan siapapun di dalam kelas, dan dalam kehidupan sekolah menjadi pribadi yang dinilai bertanggung jawab dan berperan

aktif dalam kehidupan sosial di sekolah,” maka nilai 90% misalnya,

(38)

21 BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini memaparkan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek dan obyek penelitian, teknik dan instrument pengumpulan data, keabsahan data, dan teknik analisis data. Keenam sub judul tersebut merupakan bagian-bagian dari metode penelitian yang harus ada dalam sebuah penelitian. Masing-masing sub bagian akan dijabarkan secara singkat, padat, dan jelas. Berikut merupakan penjabaran dari masing-masing sub bagian.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci.

Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu

data yang mengandung makna. Makna adalah data sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nialai di balik data yang tampak (Sugiyono, 2012:15).

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Pada penilitian ini, peneliti melakukan penelitian bersama satu dosen yang juga

melakukan Penelitian Strategi Nasional dengan judul “Pengembangan Model

Pendidikan Karakter di SMP Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experential Learning”. Sebelum melakukan penelitian, peneliti sudah memberikan surat kerja sama tertulis. Sebagai bukti kesepakatan dan ketersediaan sekolah menjadi tempat dilakukannya penelitian.

(39)

sudah menerapkan kurikulum 2013 bebrbasis pendidikan karakter, sehingga tepat digunakan sebagai penelitian ini.

Waktu penelitian dilakukan selama dua bulan. Selama peneliti melakukan penelitian, peneliti tidak selalu datang ke sekolah tempat penelitian, melainkan melalui wawancara. Peneliti banyak melakukan analisis data di Kampus Paingan Universitas Sanata Dharma. Berikut jadwal yang di tentukan peneliti selama

melakukan penelitian.

Table 2. Jadwal Penelitian

NO

TANGGAL

PERTEMUAN

KETERANGAN TEMPAT

1.

Senin, 19 Mei 2014 Konfirmasi ke SMP Negeri 4 wates melalui

via telepon, bahwa pada selasa, 3 Juni 2014 peneliti akan dating ke sekolah melakukan

penelitan.

Kampus

Paingan USD

2.

Senin, 26 Mei 2014 Persiapan lembar observasi, wawancara, dan kuesioner yang akan dibawa ke sekolah

Kampus Paingan

USD

3.

Selasa, 3 Juni 2014 Observasi sekolah, wawancara kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru BK, dan siswa, serta menitipkan lembar kuesioner

yang akan diberikan kepada orang tua.

SMP N 4 Wates

3.

Senin, 9 Juni – 23

Juni2014

Menganalisis hasil wawancara dan

observasi, serta membuat verbatim hasil wawancara. Hasil wawancara kemudian

dibuat dalam bentuk kode-kode.

Kampus

Paingan USD

4.

Senin, 30 Juni 2014 Menganalisis hasil kuesioner dari orang

orang tua. Kuesioner akan direduksi menjadi bagian-bagian terpenting.

Triangulasi teknik dan sumber sebagai uji validitas.

(40)

C. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian adalah staf sekolah di antaranya kepala sekolah, guru mata pelajaran, guru BK, dan siswa SMP N 4 Wates. Beberapa subyek tersebut dipilih sebagai perwakilan anggota sekolah yang menerapkan dan menerima pendidikan karakter, sehingga informasi yang didapatkan bersifat menyeluruh. Berikut adalah daftar jumlah subyek peneliti yang akan menjadi sumber informasi.

Tabel 3. Daftar Subyek Penelitian

No. Subyek Jumlah Keterangan

1. Kepala Sekolah 1

2. Guru Mata

Pelajaran

4 Guru IPS, guru Agama, guru TIK, guru

Bahasa Indonesia.

3. Guru BK 1

D. Teknik Instrumen Pengumpulan Data Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informaasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat di konstruksikan makna dalam suatu topic tertentu, Estberg (dalam Sugiyono, 2012 : 317). Jenis pertanyaan yang di gunakan oleh peneliti dalam proses wawancara adalah pertanyaan struktur. Wawancara ditujukan kepada kepala sekolah,

guru BK, dan Guru mata pelajaran. Berikut adalah panduan wawancara terstruktur yang di aplikasikan pada subyek.

Table 4. Panduan Wawancara

NO ASPEK PERTANYAAN

1. Kepala Sekolah

Keterlaksanaan

a. Bagaimana sekolah merancang pendidikan karakter? b. Apakah sekolah mengikuti peraturan pemerintah dalam

merancang pendidikan karakter ataukah sekolah berinisiatif merancang pendidikan karakter berdasarkan visi misi sekolah?

(41)

karakter dalam merancang pendidikan karakter di sekolah ini?

d. Bagaimana bentuk-bentuk pembelajaran direncanakan yang memuat pendidikan karakter saat di kelas/sekolah? e. Bagamana model pendidikan karakter direncanakan

dalam pembelajaran di kelas?

f. Apa yang dipahami sekolah mengenai pendidikan karakter?

g. Karakter-karakter siswa apa saja yang dibentuk oleh sekolah dan atas dasar pertimbangan apa dipilihnya karakter-karakter tersebut?

h. Sejauh mana pendidikan karakter dilakukan di sekolah ini sejak sekolah ini berdiri?

i. Langkah apa yang diambil oleh sekolah untuk melaksanakan pendidikan karakter di sekolah dan langkah-langkah tersebut menjadi suatu kebijakan sekolah?

j. Dari manakah sumber informasi yang diperoleh sekolah mengenai pendidikan karakter yang saat ini diterapkan? k. Kiat-kiat apa yang telah dilakukan sekolah dalam

melaksanakan program pendidikan karakter?

l. Apakah sarana dan prasarana di sekolah ini sudah cocok dan mendukung model pendidikan karakter di sekolah ini?

m. Cara-cara apa saja yang ditempuh sekolah untuk mengidentifikasi kebtuhan karakter yang harus dimiliki oleh para siswa? Apakah melibatkan orang tua? Para guru? Para siswa?

Evaluasi

a. Apa tanggapan kepala sekolah tentang pendidikan karakter yang harus masuk ke dalam kurikulum sekolah? b. Seberapa pentingkah pendidikan karakter untuk sekolah

ini?

c. Apakah tuntutan kepala sekolah terhadap keterlaksanaan pendidikan karakter?

d. Kasus-kasus apa saja yang sering muncul yang mengindikasikan bahwa pendidikan karkater disekolah ini tidak berhasil?

e. Bagaimana kepala sekolah memikirkan solusi untuk mengatasi ketidak berhasilan pendidikan karakter di sekolah ini?

f. Ide-ide apa lagi yang dipikirkan kepala sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter di sekolah itu?

g. Menurut bapak/ibu kepala sekolah/guru BK apa saja peran stake holder/orangtua siswa dalam mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter?

(42)

(penyediaan sarana-prasarana, anggaran, pelatihan para guru, dll)

i. Apakah pelaksanaan pendidikan karakter dimonitoring oleh kepala sekolah? Bagaimana bentuk monitoringnya?

Hambatan dan Solusi

a. Hambatan apa saja yang ditemukan sekolah dalam menerapkan pendidikan karakter?

b. Solusi seperti apa yang diambil oleh sekolah setelah sekolah mengetahui hambatan-hambatan keterlaksanaan pendidikan karakter?

2. Guru BK Keterlaksanaan

a. Apa yang Bapak/Ibu pahami mengenai pendidikan karakter?

b. Apakah guru BK memberikan bimbingan klasikal secara rutin (minimal satu minggu satu kali) di setiap tingkat kelas?

c. Bagaimanakah guru BK memadukan materi pendidikan karakter dengan bimbingan klasikal?

d. Bagaimana cara atau metode yang digunakan oleh guru BK dalam menyampaikan pendidikan karakter kepada siswa?

e. Bagaimana mekanisme kolaborasi guru BK dan guru Mapel untuk melaksanakan pendidikan karakter?

f. Apakah pendidikan karakter di sekolah sesuai dengan kebutuhan anak?

Evaluasi

a. Bagaimanakah Bapak/Ibu mengukur atau mengetahui perubahan-perubahan karakter baik yang terjadi dalam diri siswa melalui bimbingan klasikal yang Bapak/Ibu lakukan selama ini?

b. Hal apa yang mengindikasikan bahwa pendidikan karakter di sekolah ini berhasil setelah diberikan melalui bimbingan klasikal secara rutin?

c. Bagaimana sekolah mengetahui atau mengukur tingkat perubahan karakter siswa setelah diberikan experensial learning (EL)?

d. Hal apa yang mengindikasikan bahwa pendidikan karakter di sekolah ini berhasil? Apakah karakter siswa dinilai untuk dimasukkan dalam raport siswa?

e. Bagaimana isu-isu terkait permasalahan pendidikan yang terjadi di sekolah yang berpijak dari pendidikan karakter di sekolah, misalnya Sexual Abuse dan Bullying?

Hambatan

(43)

menerapkan atau mengimplementasikan pendidikan karakter dalam bimbingan klasikal?

b. Solusi seperti apa yang diambil oleh guru BK setelah guru BK mengetahui hambatan-hambatan penerapan pendidikan karakter dalam bimbingan klasikal?

3. Guru Mata Pelajaran

Keterlaksanaan

a. Apa yang Bapak/Ibu pahami mengenai pendidikan karakter?

b. Sejauh mana pendidikan karakter dilakukan di sekolah? Apakah pendidikan karakter yang direncanakan sungguh-sungguh direncanakan? (Kesesuaian antara rencana dalam RPP dengan pelaksanaan di dalam kelas)

c. Bagaimanakah guru Mapel memadukan materi

pendidikan karakter dengan pelaksanaan di dalam kelas? d. Bagaimana cara atau metode yang digunakan oleh guru

Mapel dalam menyampaikan pendidikan karakter kepada siswa?

e. Bagaimana mekanisme kolaborasi guru BK dan guru Mapel untuk melaksanakan pendidikan karakter?

f. Apakah RPP yang disusun oleh Bapak/Ibu telah memuat materi-materi karakter sebagai isi dari pendidikan karakter?

g. Bagaimana metode pembelajaran yang digunakan Bapak/Ibu sehingga materi pendidikan karakter tersampaikan juga bersamaan dengan materi pelajaran?

Evaluasi

a. Bagaimanakah Bapak/Ibu mengukur atau mengetahui perubahan-perubahan karakter baik yang terjadi dalam diri siswa melalui pembelajaran yang Bapak/Ibu lakukan selama ini?

b. Hal apa yang mengindikasikan bahwa pendidikan karakter di sekolah ini berhasil?

c. Apakah terjadi perubahan pada pribadi siswa setelah mendpat pendidikan karakter? Apa saja bentuk-bentuk perubahannya? Apakah bisa terlihat dari perilaku sehari-hari?

Hambatan dan Solusi

a. Kesulitan apa yang dihadapi oleh Bapak/ibu guru dalam menerapkan pendidikan karakter melalui pembelajaran di kelas?

(44)

E. Keabsahan dan Keterpercayaan Data

Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi untuk melihat validitas data. Sugiyono (2012: 330) mengatakan bahwa ada dua jenis triangulasi yaitu triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Penelitian ini menggunakan satu jenis triangulasi, yaitu triangulasi sumber. Dalam triangulasi sumber peneliti menggunakan perbandingan tiga sumber yang berbeda, yaitu kepala sekolah, guru BK dan guru mata pelajaran

F. Teknik Analisis Data

Penelitian melakukan analisis data melalui analisis domain. Analisis domain

dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh ari obyek/ penelitian atau situasi sosial. Ditemukan berbagai domain atau kategori. Diperoleh dengan pertanyaan grand dan minitour. Peneliti menetapkan domain tertentu sebgai pijakkan untuk penelitian selanjutnya. Makin banyak domain yang dipilih, maka akan semakin banyak waktu yang diperlukan untuk penelitian (Sugiyono, 2012: 348).

Berikut merupakan langkah-langkah yang diambil peneliti dalam menganalis data.

a) Verbatim

Peneliti membuat verbatim setelah melakukan wawancara. Didalam verbatim tersebut dipilih data yang dibutuhkan dalam penelitian.

b) Coding

Setelah membuat verbatim yang dibutuhkan dalam penelitian, selanjutnya peneliti membuat coding yaitu mengkode inti sari/ mencari kata-kata utama dalam verbatim tersebut.

c) Reduksi data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2012).

d) Interpretasi

(45)

28 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini memaparkan mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Penyajian hasil penelitian didasarkan pada rumusan masalah yang telah disusun oleh peneliti.

A. Deskripsi Data secara Umum

Pada penelitian ini peneliti mengambil subyek penelitian yang menjadi salah satu sekolah yang menjadi contoh penelitian nasional pendidikan karakter di Indonesia yaitu, SMP Negeri 4 Wates.

a. Profil Sekolah

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Wates beralamat di Jln. Terbah nomor 03. Wates, Kulonprogo, Yogyakarta. Sekolah yang terletak di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta ini memiliki visi sebagai berikut: Unggul dalam prestasi yang berlandaskan IMTAQ dan budi pekerti luhur. SMP Negeri 4 Wates juga mempunyai misi sebagai berikut: (1) Meningkatkan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi. (2) Meningkatkan pelaksanaan kurikulum mulok berbasis potensi daerah. (3) Melaksananakan pengembangan silabus dan sistem penilaian. (4) Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). (5) Mengefektifkan proses pembelajaran di kelas dan di luar kelas. (6) Mengintensifkan pelaksanaan monitoring dan evaluasi. (7) Mengembangkan perangkat penilaian. (8) Melaksanakan evaluasi pembelajaran secara berkelanjutan. (9) Melaksanakan lomba-lomba mata pelajaran. (10) Meningkatkan pencapaian kriteria ketuntasan minimum (KKM). (11) Meningkatkan standar kelulusan secara bertahap. (12) Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik. (13) Meningkatkan kualitas tenaga kependidikan. (14) Meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan. (15) Menambah dan melengkapi media pembelajaran. (16) Melengkapi dan melakukan penataan administrasi sekolah. (17) Memantapkan pelaksanaan program manajemen berbasis sekolah (MBS). (18) Melaksanakan supervisi sekolah secara terprogram.

b. Aktivitas Ekstrakurikuler

(46)

Karya Ilmiah Remaja, Menjahit, Sepak Bola, Basket, Tenis Meja, dan Drum Band.

B. Hasil Penelitian

1. Pemahaman Pendidikan Karakter Menurut Pendapat Kepala Sekolah dan Guru di SMP Negeri 4 Wates

Pendidikan karakter adalah upaya untuk membantu siswa-siswa dalam membentuk sebuah karakter yang ada di dalam dirinya masing-masing. Sehingga dengan adanya program Pendidikan Karakter akan membantu anak untuk mengetahui potensi atau karakter yang ada dalam diri siswa. Berikut ulasan kepala sekolah SMP Negeri 4 Wates mengenai pendidikan karakter.

“Pendidikan karakter adalah upaya pemberian bantuan kepada siswa

siswi dalam membentuk karakter atau kepribadian sesuai dengan

potensi yang dimiliki semua siswa. Sehingga dengan adanya program

pendidikan karakter di dalam sebuah pembelajaran akan sangat

membantu anak dalam mengenali dan mengetahui potensi atau

karakter apa yang ada di dalam diri siswa. Karakter yang ingin saya

bentuk terhadap siswa adalah membiasakan siswa yang beragama

muslim Islam mengikuti kegiatan tadarus yang dilakukan oleh sekolah

setiap pagi sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar selanjutnya,

sedangkan bagi siswa yang yang non muslim juga diberikan

bimbingan khusus oleh salah satu guru di sini. Sehingga karakter

ketakwaan yang dimiliki siswa harus semakin baik sesuia dengan

kepercayaan masing-masing anak”. (A1.PK.Kep.Sek)

Sejalan dengan konsep pendidikan karakter menurut Kepala Sekolah, Guru Bahasa inggris memhami pendidikan karakter sebagai berikut:

“membiasakan anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berani berbicara, memiliki toleransi dalam semua hal dengan teman

dan lingkungan, dapat membantu teman, dan memiliki kerjasama yang baik dengan orang lain” (A1.PK.G.Bing)

(47)

menjadi pribadi yang bertanggung jawab, serta selalu percaya dan menjalankan perintah ajaran agama sesuai dengan kepercayaannya.

2. Metode yang digunakan Guru dalam menyampaikan Pendidikan Karakter Dalam penyampaian Pendidikan Karakter, Guru memiliki berbagai metode dalam memberikan Pendidikan Karakter kepada Peserta Didik. Guru memberikan pendidikan karakter pada saat bimbingan klasikal di dalam kelas. Sehingga peran Guru pada saat bimbingan klasikal harus memiliki unsur karakter yang harus diberikan kepada peserta didik. Hal ini seperti di utarakan oleh salah seorang Guru:

“Metode pembelajaran yang saya berikan adalah ceramah dan diskusi. Pada saat diskusi saya menyuruh siswa menyampaikan pendapat, dari hal tersebut akan membantu membentuk karakter anak berani di depan umum dan yang lain dapat menghargai teman yang sedang menyampaikan pendapatnya.”(A2.Met.G.PKN)

Hal tersebut tidak hanya di utarakan oleh salah seorang Guru, Guru di SMP N 4 Wates selalu memberikan/menyampaikan Pendidikan Karakter pada saat bimbingan klasikal:

“Metode yang saya berkikan agar dapat terbentuknya karakter percaya diri terhadap anak yaitu dengan menggunakan metode praktek pada saat pelajaran. Misalnya membacakan sebuah puisi di depan kelas. Sehingga dari situ anak akan berlatih membangun percaya diri terhadap dirinya sendiri”. (A2.Met.G.BI)

Dari pemahaman tersebut Metode penyampaian pendidikan karakater yang diberikan adalah membentuk karakter anak di dalam proses pembelajaran anak pada saat pemberian bimbingan klasikal. Karakter yang sering dibentuk adalah karakter kepercayaan diri terhadap siswa.

(48)

pihak SMP Negeri 4 Wates dalam melaksanakan program pendidikan karakter. Berikut hasil wawancara mengenai hambatan dari kepala sekolah dan guru SMP Negeri 4 Wates.

a. Sarana dan prasarana sekolah

Dalam melaksanakan program pendidikan karakter dalam segi sarana dan prasarana. Sarana sekolah seperti kitab suci untuk diberikan kepada anak masih belum terpenuhi dengan baik. Selain sarana mengenai kitab suci, sarana dalam kebutuhan siswa seperti peralatan yang diberikan Sekolah juga masih kurang lengkap di dalam sebuah Koperasi Sekolah. Hal ini seperti diutarakan oleh kepala sekolah SMP Negeri 4 Wates :

“hambatan dalam hal sarana dan prasarana yaitu untuk al quran masih sedikit, mushola juga terlalu sempit, sehingga murid yang

akan melaksanakan sembahyang harus bergantian dan itu juga

akan menguras banyak waktu, karena waktu jeda jam istirahat

tidak terlalu lama. Selain itu juga sarana dan prasarana untuk

kebutuhan murid, seperti koperasi. Koperasi di sekolah sudah ada,

tetapi belum begitu lengkap. Sehingga kebutuhan murid belum sepenuhnya terpenuhi”. (A4.Hmbtn.PK.Kepsek)

b. Kegiatan belajar mengajar

Pada saat memberikan materi bimbingan dan belajar di dalam kelas. Peran guru juga sangat penting untuk menyampaikan materi sesuai dengan bidang mata pelajaran guru tersebut. Pendidikan karakter yang diberikan kepada murid ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung menekankan tentang karakter percaya diri dalam dirinya. Sehingga tugas seorang guru harus dapat membuat murid memiliki karakter tersebut, tetapi pada saat kegiatan belajar mengaja berlangsung tidak semua murid memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini seperti diutaraka oleh seorang guru :

Gambar

Table 4. Panduan Wawancara .........................................................................................
Table 1. Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran
Table 2. Jadwal Penelitian
Tabel 3. Daftar Subyek Penelitian
+5

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mutu kepemimpinan kepala sekolah serta faktor pendukung dan penghambat kepemimpinan sekolah di SMP Negeri 2

Dalam hal fasilitas, SMP Negeri 2 Sawit Boyolali merupakan lembaga yang memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai diantaranya, gedung sekolah yang nyaman, letak yang

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1)Menganalisis hasil pendidikan karakter terintergrasi pada siswa SMP N 13 Yogyakarta, (2) Mengidentifikasi nilai karakter apa saja yang belum

pembelajaran, yakni media power point dan video serta metode permainan.. LAPORAN PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014. SMP N

Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat serta solusi dalam mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis budaya religius di SMP Negeri 4 Kota Batu.

Dalam pengelolaan sarana dan prasarana di SMK Negeri 4 Pinrang masih terbilang belum memadai atau belum cukup karena kepala sekolah terkendala oleh dana sehingga

motivasi belajar siswa sekolah dasar yaitu (1) kualitas gaya mengajar guru yang masih rendah, (2) sarana dan prasarana pembelajaran yang kurang memadai, (3)

Keempat, pembentukan nilai karakter cinta damai siswa di SMP PIRI 1 Yogyakarta, dilakukan dengan tipologi kepemimpinan kepala sekolah dan keteladanan guru saat