BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Peneliti melakukan riset langsung di lokasi penelitian yaitu di Spins International School yang berlokasi di Jalan Karangan PDAM no. 24 Wiyung, Surabaya. Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan informan menggunakan bahasa Inggris yang merupakan bahasa wajib di sekolah tersebut. Peneliti mewawancarai informan sesuai dengan pertanyaan wawancara yang telah dibuat oleh peneliti dan merekamnya dengan menggunakan alat perekam (phone recorder). Melalui wawancara, peneliti menggali informasi sedalam-dalamnya dari informan sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kompetensi komunikasi antarbudaya diantara siswa dan faktor-faktor yang menunjang terciptanya kompetensi komunikasi antarbudaya diantara siswa di SMA Spins International School Surabaya. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi terhadap perilaku informan. Dalam hal ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana ketrampilan atau kemampuan informan saat berkomunikasi antarbudaya dengan siswa lainnya.
4.3.1 Komponen Kompetensi Komunikasi Antarbudaya
Menurut Spitzberg agar komunikasi antarbudaya menjadi kompeten (tepat dan efektif) diperlukan individu yang termotivasi untuk melakukan komunikasi antarbudaya, mempunyai pengetahuan yang memadai tentang lawan bicara, dan mempunyai ketrampilan atau kemampuan (skill) untuk mengelola motivasi dan pengetahuan yang dimiliki untuk berkomunikasi dengan efektif. (Samovar dan Porter, 2000: 376)
Brian Spitzberg dan William Cupach (1984) (dalam Liliweri, 2009: 265), menampilkan tiga komponen kompetensi komunikasi, yaitu (1) motivasi, (2) pengetahuan, dan (3) ketrampilan.
4.3.1.1 Motivasi
Motivasi adalah daya tarik dari komunikator yang mendorong seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Jonathan H. Turner (1987) menegaskan bahwa hanya basic needs tertentu yang mendorong motivasi seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Di sini, kebutuhan diartikan sebagai pernyataan yang fundamental dari seorang manusia bagi manusia dan kemanusiaan. (Liliweri, 2009: 265)
Dalam melakukan komunikasi antarbudaya, masing-masing informan memiliki motivasi yang berbeda-beda. Mereka mempunyai kebutuhan dasar tertentu. Kebutuhan dasar tersebut dapat digolongkan seperti, kebutuhan akan perasaan aman dan nyaman, kebutuhan akan rasa percaya terhadap orang lain, kebutuhan akan keterlibatan dalam kelompok, kebutuhan untuk menjauhi kecemasan, kebutuhan untuk berbagi pengalaman, kebutuhan terhadap kepuasan, atau kebutuhan akan konsep diri. Di bawah ini akan diketahui motivasi informan yang mendorong informan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa yang berbeda budaya.
Infor man J awaban Infor man
1. “Saya berkomunikasi dengan teman yang berbeda budaya karena
saya butuh untuk berteman dan belajar bersama mereka.”
2. “Saya berkomunikasi dengan teman berbeda budaya untuk
menjalin pertemanan dan bergaul dengan mereka. Yang paling utama adalah untuk berteman karena kami teman sekelas.”
3. “Kami berkomunikasi karena kami adalah teman. Saya rasa tidak ada alasan khusus untuk berkomunikasi dan mengobrol dengan mereka. Kami berdiskusi tentang permainan, masalah pribadi, pengalaman dan masih banyak lagi dan saya merasa nyaman.” “Jika saya tidak berkomunikasi dengan mereka, saya akan merasa sangat kesepian, sedih dan putus asa. Jadi saya ingin berteman dengan mereka.”
4. “Saya berkomunikasi dengan mereka alasannya sederhana saja karena kami berteman satu sama lain. Dan karena di Spins tidak banyak siswa dari Amerika.”
“Kami merasa sangat nyaman satu sama lain dan itu menyenangkan. Saya berteman dengan mereka karena itu menyenangkan, khususnya belajar tentang budaya mereka dan berbagi pengalaman tentang pandangan mereka terhadap suatu hal.”
5. “Saya berkomunikasi dengan mereka karena saya butuh
berteman, ingin belajar bersama, dan bermain bersama mereka.” “Ya, berkomunikasi dengan teman berbeda budaya itu penting. Saya berkomunikasi dengan mereka untuk berbagi pengalaman saya, masalah pribadi, bercanda, dll. Sangat menyenangkan berteman dengan mereka.”
6. “Saya berkomunikasi dengan teman berbeda budaya karena saya
ingin berteman dengan mereka dan berbagi pengalaman dan semuanya dengan mereka.”
“Saya berkomunikasi dengan mereka setiap saat. Itu adalah suatu kebutuhan bagi saya. Saya merasa nyaman bersama teman-teman yang berbeda budaya dan jika saya tidak berkomunikasi dengan mereka, mungkin saya akan merasa kesepian dan sedih.”
7. “Saya butuh berteman dengan mereka. Dan saya merasa nyaman
dengan mereka.”
“Berkomunikasi dengan teman dari negara yang berbeda merupakan suatu kebutuhan bagi saya. saya ingin mendapat pengalaman lebih banyak dengan berbicara dan mengenal mereka. Dan saya juga berbagi pengalaman pribadi, mengobrol tentang pakaian dan meminta pendapat mereka.”
8. “Saya berkomunikasi dengan mereka karena mereka teman saya.
Saya butuh berteman, belajar bersama dan bermain bersama mereka.”
“Ya, itu sangat penting. Jika saya tidak berkomunikasi dan berteman dengan mereka, mungkin saya akan stress.”
9. “Saya berkomunikasi dengan mereka karena mereka adalah
teman-teman saya dan saya percaya dengan mereka. Kami selalu membantu satu sama lain.”
10. “Saya berkomunikasi dengan siapa saja, tidak peduli budayanya.
Meksiko.”
“Jika saya tidak berkomunikasi dengan mereka, saya akan merasa sendirian. Karena semua teman disini berbeda budaya, jadi kita memerlukan komunikasi untuk mengenal satu sama lain.”
Tabel 4.1 Motivasi Melakukan Komunikasi Antarbudaya
Dari jawaban informan pada penyajian hasil data di atas, menunjukkan bahwa informan memiliki motivasi dalam melakukan komunikasi antarbudaya. Secara umum, dari jawaban informan diketahui bahwa motivasi mereka melakukan komunikasi antarbudaya yaitu kebutuhan akan keterlibatan informan dalam kelompok yaitu berteman atau bergaul.
Selain kebutuhan akan keterlibatan informan dalam kelompok, mereka juga memiliki dorongan atau motivasi melakukan komunikasi antarbudaya lainnya. Seperti kebutuhan perasaan aman dan nyaman, seperti motivasi informan 3,4,6,7. Motivasi yang lain yaitu kebutuhan rasa percaya terhadap orang lain seperti informan 9. Sedangkan motivasi informan 3,4,5,6,7 melakukan komunikasi antarbudaya yaitu kebutuhan untuk berbagi pengalaman. Dan informan 3,6,8,10 melakukan komunikasi antarbudaya karena kebutuhan untuk menjauhi kecemasan seperti rasa sedih, stress, dan merasa kesepian atau sendirian.
4.3.1.2 Pengetahuan
Pengetahuan menentukan tingkat kesadaran atau pemahaman seseorang tentang kebutuhan apa yang harus dilakukan dalam rangka komunikasi secara tepat dan efektif. Komponen pengetahuan turut menentukan kompetensi komunikasi karena hal ini berkaitan erat dengan tingkat kesadaran terhadap apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, yang dibutuhkan
adalah mengurangi tingkat kecemasan dengan mencari informasi untuk mengisi pengetahuan tentang orang asing. (Liliweri, 2009: 266-267)
Pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan atau pemahaman informan tentang informasi personal, budaya dan informasi yang spesifik tentang budaya orang tersebut. Berikut ini adalah berbagai jawaban informan sebagai pernyataan yang menunjukkan pengetahuan tentang informasi orang asing atau siswa berbeda budaya yang diajak berkomunikasi.
Infor man J awaban Infor man
1. “Ya,saya tahu nama, agama, asal negara dan usia teman saya. Saya juga tahu rumah beberapa teman saya.”
“Saya tahu tentang budaya Indonesia. Makanan pokoknya adalah nasi. Indonesia mempunyai pakaian batik. Selain itu, Hari Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus dan tanggal 21 April adalah Hari Kartini.”
2. “Saya tahu informasi pribadi teman-teman saya seperti nama, kewarganegaraan, agama, dan usia.”
“Saya hanya tahu sedikit budaya teman saya, seperti bahasa, saya bisa sedikit berbicara Bahasa Mandarin dan India. Itu diajarkan di sekolah.”
3. “Tentu saja saya tahu nama, asal negara, agama, dan usia teman saya.”
“Saya tahu sedikit budaya teman-teman saya. Saya bisa berbahasa Indonesia, Mandarin, Jepang, dan India, tapi hanya sedikit. Saya tahu beberapa makanan khas seperti, nasi goreng dari Indonesia, sushi dan takoyaki dari Jepang.”
4. “Saya tahu nama, asal negara, agama, dan usia mereka.”
“Saya tahu tentang budaya Indonesia, saya belajar bahasa Indonesia dan bisa sedikit berbahasa Indonesia. Saya suka Indonesia terutama makanannya seperti nasi campur, kupang, dan soto. Saya juga tahu kebiasaan orang Indonesia yaitu mereka suka makan langsung menggunakan tangannya. Dan juga Indonesia mempunyai pakaian batik.”
5. “Saya hanya tahu informasi pribadi mereka seperti nama, asal negara, agama dan usia mereka.”
“Saya hanya tahu tentang Indonesia karena saya sudah lama tinggal di sini. Saya bisa berbahasa Indonesia dan tahu makanan Indonesia seperti sate, nasi goreng, es campur.”
6. “Saya tahu nama, asal negara, agama dan usia teman saya.” “Saya sedikit belajar bahasa teman-teman saya seperti, bahasa Indonesia dan Mandarin. Selain itu, saya tahu makanan beberapa negara seperti kimchi makanan Korea, bebek peking makanan Cina, junkfood makanan Amerika. Lalu, pakaian tradisional korea itu hanbok dan batik merupakan pakaian khas Indonesia.”
7. “Ya, saya tahu informasi pribadi mereka seperti nama, asal negara, agama, dan usia.”
“Saya tahu tentang budaya Indonesia karena saya lahir dan tinggal disini. Saya bisa sedikit Bahasa Jawa. Dan saya tahu pakaian tradisional wanita Jawa adalah kebaya.”
8. “Saya tahu nama mereka, kewarganegaraan, usia, dan agama.”
“Saya sedikit tahu tentang budaya Indonesia. Salah satu makanannya yaitu sate, dan saya suka sate kelinci. Pakaian khasnya yaitu Batik. Dan saya sedikit bisa berbahasa Indonesia.”
9. “Ya, tentu saja saya tahu tentang informasi pribadi teman saya. “Saya tahu nama, asal negara, agama dan usia mereka.”
Saya tahu budaya Jepang dan segala hal tentang negara Jepang. Saya sangat tertarik dengan negara Jepang. Kimono adalah pakaian tradisional Jepang. Orang Jepang menggunakan sumpit untuk makan. Dan saya ingin melihat bunga sakura di Jepang. Saya juga tahu tentang budaya Indonesia karena saya lahir disini. Pakaian khas Indonesia yaitu batik. Saya suka beberapa makanan Indonesia seperti nasi goreng, nasi pecel, dan es puter.”
10. “Ya, saya tahu nama, asal negara, agama dan usia mereka.”
Saya hanya tahu tentang budaya Indonesia. Karena saya adalah siswa baru disini, jadi saya berusaha mencari tahu dan beradaptasi dengan segala hal tentang Indonesia seperti budaya, bahasa, dll. Saya berusaha beradaptasi dengan budaya Indonesia seperti makanannya, nasi goreng, bakso. Dan saya belajar Bahasa Indonesia di sekolah.”
“Saya tidak tahu tentang budaya teman-teman yang lain.” Tabel 4.2 Pengetahuan Antarbudaya
Dari jawaban informan pada penyajian hasil data di atas, menunjukkan bahwa informan memiliki pengetahuan antarbudaya. Semua informan memiliki pengetahuan tentang informasi personal siswa berbeda budaya yang diajak berkomunikasi seperti nama, asal negara, usia dan agama. Sedangkan untuk
berkomunikasi, semua informan memiliki pengetahuan tersebut. Umumnya pengetahuan budaya yang dimiliki oleh informan merupakan pengetahuan tentang budaya Indonesia. Sedangkan untuk pengetahuan budaya negara lain selain Indonesia, beberapa informan yaitu informan 2,3,6, dan 9 memiliki pengetahuan budaya tentang negara lain selain Indonesia.
4.3.1.3 Ketrampilan (Kemampuan)
Kemampuan dapat membimbing seseorang untuk menghadirkan sebuah perilaku tertentu yang cukup dan mampu mendukung proses komunikasi secara tepat dan efektif. Tujuan utama dari ketrampilan/kemampuan semata-mata untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dan kecemasan. Menurut Gudykunst, mengurangi atau mengendalikan kecemasan juga merupakan sebuah ketrampilan yang ditentukan oleh kesadaran dan bersikap toleran terhadap keadaan yang ambigu atau tak tentu.
Yang dimaksud ketrampilan dalam penelitian ini adalah bagaimana ketrampilan atau kemampuan informan dalam berkomunikasi antarbudaya, seperti kemampuan informan untuk beradaptasi budaya atau menyesuaikan diri, kemampuan informan meminimalkan kesalahpahaman komunikasi antarbudaya, kemampuan informan dalam berkomunikasi secara verbal dan nonverbal, kemampuan informan untuk bertoleransi dalam perbedaan budaya dan kemampuan informan untuk mengelola interaksi dalam berkomunikasi. Kemampuan juga termasuk perilaku yang ditunjukkan informan saat berkomunikasi antarbudaya.
Berikut ini adalah tabel penyajian hasil data yang menunjukkan ketrampilan/kemampuan informan dalam melakukan komunikasi antarbudaya dengan siswa yang berbeda budaya.
Infor man J awaban Infor man Penjelasan
1. “Saya tidak merasa kesulitan beradaptasi dan berkomunikasi dengan siswa yang berbeda budaya. Semua orang sangat ramah. Jadi saya tidak merasa kesulitan.”
Peneliti juga melihat kemampuan
informan dalam berkomunikasi secara verbal dan nonverbal terutama saat berkomunikasi dengan siswa berbeda budaya. Dalam hal ini, dia berusaha berbicara lambat dan memastikan bahwa
temannya memahami aksen bahasa
Inggrisnya.
“Saya bicara sangat lambat dan
memastikan bahwa teman-teman saya memahami aksen bahasa Inggris saya.”
Hal tersebut terlihat saat peneliti mengamati perilaku Shivanki saat berkomunikasi
dengan temannya. Dia
tampak santai saat
berkomunikasi dengan siswa
yang berbeda budaya.
Peneliti melihat Shivanki
tidak mendominasi
percakapan, tapi dia bicara saat temannya bertanya dan
dia memang harus
menjawabnya. Dia juga bisa menyampaikan pendapatnya
dengan baik saat
berkomunikasi dengan
temannya.
2. “Saya merasa nyaman beradaptasi dan
berkomunikasi dengan teman-teman
berbeda budaya. Saya juga tidak
kesulitan berkomunikasi dengan
mereka.”
Cellia juga menyatakan bahwa dalam
perbedaan budaya harus saling
bertoleransi.
“Kami saling bertoleransi satu sama lain dan mengerti bahwa tidak semua yang kami lakukan di negara kami juga bisa dilakukan begitu pula sebaliknya.”
Peneliti melihat hal serupa dengan pernyataan Cellia
saat mengamati dia
berkomunikasi dengan
temannya. Dia tidak terlihat canggung dan kesulitan saat berkomunikasi dengan siswa berbeda budaya. Dia tampak
santai berkomunikasi
dengan temannya. Untuk kesalahpahaman
berkomunikasi, dia
mengaku tidak pernah
mengalaminya. Jika ada
teman yang berbicara dalam
bahasa yang tidak dia
mengerti, dia memintanya
untuk berbicara
menggunakan bahasa
3. “Saya tidak merasa kesulitan beradaptasi dan berkomunikasi dengan teman-teman yang berbeda budaya. Pada awalnya belajar menggunakan bahasa Inggris merupakan hal yang sulit bagi saya. Akhirnya, semuanya baik-baik saja. Teman-teman sangat baik pada saya.”
Peneliti mengamati Yo Han terlihat santai dan tidak
canggung saat
berkomunikasi antarbudaya dengan siswa lain. Yo Han
bisa menyampaikan
pendapatnya saat
berkomunikasi dengan
temannya. Dan saat
temannya dari Indonesia
mengajaknya berbicara
menggunakan bahasa
Indonesia, dia mengerti
maksudnya dan
menjawabnya. Dalam hal
ini, Yo Han memiliki
kemampuan berkomunikasi
menggunakan bahasa
verbal.
4. “Saya tidak mengalami kesulitan
beradaptasi dengan teman-teman yang berbeda budaya. saya bisa beradaptasi
dengan baik. saya bisa berbahasa
Indonesia dan saya selalu makan nasi.”
Informan ini mengaku pernah berada dalam situasi dimana ada siswa lain yang berkomunikasi dengan bahasa yang tidak dia pahami. Saat itu ada siswa yang berbicara menggunakan bahasa Jawa. “Ya, saya pernah berada dalam situasi dimana ada siswa yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dengan saya. Saat itu siswa dari kelas XI berbicara dengan bahasa Jawa. Saya mengatasinya dengan tersenyum dan tentu saja berkata tidak apa-apa. Ya, saya pernah berada dalam situasi dimana ada siswa yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dengan saya. Saat itu siswa dari kelas XI berbicara dengan bahasa Jawa. Saya mengatasinya dengan tersenyum dan tentu saja berkata tidak apa-apa.”
Menurut pengamatan
peneliti, Aylmer mudah
beradaptasi dengan siswa
berbeda budaya karena
sebelumnya dia tinggal di Amerika Serikat, dimana negara tersebut termasuk negara multikultur. Selain itu, Aylmer sejak awal
menggunakan bahasa
Inggris sebagai bahasa
sehari-hari, jadi dia dengan
mudah berkomunikasi
dengan siswa lain berbeda
budaya dengan
menggunakan bahasa
Inggris. Selain berbahasa Inggris, dia juga berbicara
dengan temannya
menggunakan bahasa
Indonesia. Aylmer memiliki kemampuan bahasa verbal
yaitu berbicara dengan
bahasa indonesia saat diajak temannya berbicara bahasa tersebut.
5. “Saya merasa nyaman beradaptasi dan berkomunikasi dengan teman-teman yang berbeda budaya di sekolah ini. Saya tidak mengalami kesulitan beradaptasi dengan mereka.”
Peneliti mengamati Julia saat berkomunikasi dengan
temannya. Seperti yang
dikatakan oleh Julia, dia merasa nyaman dan santai saat berkomunikasi dengan teman yang berbeda budaya.
Dia bisa menyampaikan
pendapatnya dan bisa
mengelola interaksi
komunikasi dengan baik.
6. “Menurut saya, pada awalnya memang
sulit untuk belajar bahasa Inggris di sekolah ini. Sebelumnya, saya sekolah di
sekolah yang menggunakan bahasa
Jepang. Tetapi, bahasa Inggris adalah bahasa umum di sekolah ini, jadi saya berusaha untuk beradaptasi. Tapi saya merasa nyaman dengan teman-teman saya disini. Mereka sangat baik pada saya.”
Kentaro pernah mengalami
kesalahpahaman saat berkomunikasi
dengan siswa berbeda budaya.
“Ya, saya pernah mengalami
kesalahpahaman saat berkomunikasi
dengan siswa berbeda budaya. Saya salah mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Saya menanganinya dengan tersenyum dan meminta maaf pada teman saya.”
Peneliti melihat bahwa
Kentaro bisa akrab dengan siswa lain yang berbeda budaya. Dia bisa mengelola interaksi komunikasi dengan baik. Menurut peneliti, hal tersebut karena siswa di Spins saling menghargai perbedaan budaya yang ada, jadi mereka bisa berteman dengan akrab.
7. “Saya tidak mengalami kesulitan
beradaptasi dan berkomunikasi dengan teman-teman berbeda budaya.”
Seperti yang dia ungkapkan, bahwa dia tidak mengalami
kesulitan saat
berkomunikasi dengan siswa
berbeda budaya. Dia
berkomunikasi dengan
temannya dengan santai dan akrab dan dengan tegas menyampaikan
pendapatnya. Selain
menggunakan bahasa
menggunakan bahasa Indonesia.
8. “Tidak. Mereka sangat baik dan
mengagumkan. Saya nyaman
berkomunikasi dengan mereka.”
Peneliti mengamati Surya saat berkomunikasi dengan
siswa lainnya. Sesuai
dengan jawabannya, Surya tampak santai dan nyaman berbicara dengan siswa dari India. Dia dengan tegas dan tidak ragu mengungkapkan
pendapatnya. Dia aktif
dalam berkomunikasi
dengan temannya. Dia juga
memberikan respon
komunikasi yang baik
dengan memberi
kesempatan pada temannya
untuk mengungkapkan
pendapatnya. Mereka
berkomunikasi dengan
saling memberikan feedback
atau timbal balik
komunikasi. Saat temannya
berbicara, Surya
mendengarkan dan
kemudian merespon yang dibicarakan oleh temannya.
9. “Saya tidak mengalami kesulitan saat
berkomunikasi dengan teman-teman dari budaya lain.”
Meski demikian, Jasmin mengaku pernah
mengalami kesalahpahaman saat
berkomunikasi dengan temannya.
“Ya, pernah terjadi kesalahpahaman saat saya berkomunikasi dengan siswa lain yang berbeda budaya. Dia berasal dari Cina. Dia mengatakan pada saya bahwa ada seorang siswa baru di kelas X. Tetapi maksud dia ternyata siswa baru untuk tahun depan.”
“Saya mengatasi kesalahpahaman dengan
cara meminta teman saya untuk
menjelaskan secara jelas.”
Seperti yang disampaikan Jasmin, bahwa dia tidak mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan siswa
berbeda budaya. Saat
berkomunikasi dengan
temannya, Jasmin terlihat nyaman, santai dan akrab berbicara dengan mereka.
Dia juga mengutarakan
pendapatnya dengan tegas dan baik. Dia juga terlihat senang bisa memberikan
pendapatnya dan bisa
berbagi pengalaman pribadi
dengan temannya yang
10. “Saya tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dan berkomunikasi dengan teman-teman dari budaya lain. Mereka sangat ramah.”
Peneliti mengamati Lynda saat berkomunikasi dengan temannya. Lynda tampak
akrab dengan mereka.
Namun, sebelum dia
mengutarakan pendapatnya, dia terlihat mengamati dan memperhatikan apa yang dilakukan temannya terlebih dahulu. Menurut peneliti, Lynda masih tampak ragu
untuk mengungkapkan
pendapatnya. Dia takut jika ada kesalahpahaman saat dia
berkomunikasi dengan
temannya karena masalah
bahasa dan karena dia
termasuk siswa baru di kelas
tersebut. Meskipun
demikian, Lynda terlihat
berusaha untuk berbaur
dengan selalu memberikan pendapatnya saat temannya bertanya. Dia tidak pasif
dalam berkomunikasi
dengan teman berbeda
budaya. Lynda terlihat ingin mencari tahu dan ingin mengenal teman-temannya lebih jauh.
Tabel 4.3 Ketrampilan (Kemampuan) Dalam Berkomunikasi Antarbudaya Berdasarkan jawaban informan diatas dan berdasarkan hasil pengamatan peneliti, semua informan menyatakan bahwa mereka merasa nyaman dan tidak merasa kesulitan saat berkomunikasi antarbudaya. Informan 1,2,3,4,5,7,8, dan 9 bisa dikatakan memiliki ketrampilan (kemampuan) yang memadai untuk melakukan komunikasi antarbudaya. Hal tersebut terlihat saat peneliti mengamati perilaku informan ketika berkomunikasi dengan siswa lain yang berbeda budaya.
Informan 4, 6 dan 9 pernah mengalami kesalahpahaman saat berkomunikasi antarbudaya atau berada dalam situasi dimana mereka berada diantara siswa yang berbicara menggunakan bahasa yang tidak dimengerti. Namun ketiga informan tersebut mampu mengatasi masalah tersebut dengan caranya masing-masing.
Informan 6 dan 10 yang terlihat masih sedikit belum mampu dalam mengutarakan pendapatnya dengan baik dan saat berkomunikasi antarbudaya. Hal tersebut dikarenakan faktor bahasa yang digunakan. Mereka berdua masih berusaha untuk terbiasa menggunakan bahasa Inggris dengan baik dan benar dalam berkomunikasi antarbudaya.
4.4 Pembahasan