HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.5 Hasil Penelitian
Pada penelitian ini, selama periode Januari sampai Mei 2018 didapatkan 40 data pasien yang menjadi sampel penelitian, dan 5 data pasien termasuk ke dalam kriteria ekslusi yaitu data pasien kanker payudara yang telah mengalami metastasis. Dari data tersebut diketahui bahwa karakteristik usia pasien kanker payudara yang melakukan kemoterapi di RSUD Cibabat selama periode Januari sampai Mei 2018 kebanyakan adalah wanita dengan usia di atas 40 tahun.
Gambar 4.5 Frekuensi pasien kanker payudara berdasarkan usia
Dari jumlah sampel sebanyak 40 data pasienhanya 3 pasien (8%) yang berusia di bawah 40 tahun, sedangkan sisanya yaitu 37 pasien (92%) berusia di atas 40 tahun.
Hasil penelitian ini menunjukkan efek samping yang paling sering dikeluhkan pasien setelah kemoterapi adalah alopesia dan mual, sedangkan yang
8%
92%
n= 40 Usia < 40 tahun Usia > 40 tahun
18
paling sedikit yaitu alergi. Semua pasien mengalami alopesia dan mual setelah melakukan kemoterapi.
Gambar 4.1 Frekuensi efek samping kemoterapi pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Dari gambar tersebut diketahui efek samping yang paling banyak yaitu alopesia sebanyak 100%, mual sebanyak 100%, diikuti oleh gangguan pada kuku dan kulit sebanyak 60%, myalgia sebanyak 60%, neuropati sebanyak 50%, anemia sebanyak 45%, lelah sebanyak 35% muntah sebanyak 33%, diare sebanyak 18%, stomatitis sebayak 30%, dan yang paling kecil yaitu alergi sebanyak 3%.
Terdapat enam jenis regimen yang digunakan sebagai kemoterapi pada pasien kanker payudara yang memenuhi syarat kriteria inklusi di RSUD Cibabat selama periode Januari hingga Mei 2018, yaitu
100% 100%
60% 60%
50%
45%
35% 33%
30%
18%
3%
n= 40
18
1. Taksan, carboplatin dan trastuzumab (TCH) 2. Antrasiklin dan siklofosfamid (AC)
3. Taksan dan siklofosfamid (TC1) 4. Taksan dan carboplatin (TC2) 5. Siklofosfamid dan fluoruracil (CF)
6. Siklofosfamid, antrasiklin dan fluoruracil (CAF)
Penggunaan regimen paling banyak pada pasien kanker payudara selama periode Januari sampai Mei 2018 yaitu TCH dan yang paling sedikit regimen TC1.
Gambar 4.2 Frekuensi regimen yang digunakan sebagai kemoterapi pada pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Dari gambar di atas diketahui bahwa selama periode Januari sampai Mei 2018 regimen kemoterapi yang paling banyak digunakan yaitu TCH 25%, CAF 23%, TC2 18%, AC 15%, CF 13% dan yang paling sedikit yaitu TC1 sebanyak 8%.
Setiap regimen menunjukan frekuensi munculnya efek samping yang berbeda-beda.Regimen TCH yang terdiri dari obat golongan taksan, carboplatindan herceptin yang berisi trastuzumab tingkat efek samping tertinggi yaitu alopesia, mual, myalgia dan anemia.
0%
18
Gambar 4.3 Frekuensi Efek samping kemoterapi pada regimen TCH pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Pada regimen TCH ini, efek samping tertinggi tetap alopesia dan mual dengan nilai presentase 100%, kemudian myalgia sebanya 70%, anemia 60%, gangguan pada kuku dan kulit 50%, merasa lelah 40%, stomatitis 30%, muntah, diare dan neuropati sebanyak 20%.
Regimen AC yang merupakan kombinasi obat golongan antrasiklin dan siklofosfamid efek samping yang paling sering muncul hampir sama dengan regimen TCH yaitu alopesia, mual, anemia serta gangguan kuku dan kulit.
Berbeda dengan regimen TCH, pada regimen AC tidak ada satupun pasien yang mengeluh mengalami alergi.
100% 100%
70%
60%
50%
40%
30%
20% 20% 20%
10%
n= 40
18
Gambar 4.4 Frekuensi Efek samping kemoterapi pada regimen AC pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Pasein yang mendapatkan regimen AC, keluhan efek sampingnya yaitu alopesia dan mual 100%, myalgia 83%, anemia, gangguan kuku dan kulit serta neuropati sebanyak 50%, kemudian diikuti oleh diare, stomatitis dan merasa lelah sebanyak 33% dan yang paling sedikit yaitu muntah 17%.
Kombinasi golongan obat taksan dan siklofosfamid adalah regimen TC1.
Pada regimen ini keluhan efek samping terbanyak adalah alopesia, mual, neuropati muntah dan myalgia, dan tidak ada satupun pasien yang mengeluh stomatitis dan alergi.
100% 100%
83%
50% 50% 50%
33% 33% 33%
17%
0%
n= 40
18
Gambar 4.5 Frekuensi Efek samping kemoterapi pada regimen TC1 pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Efek samping yang dikeluhkan pasien yang mendapat regimen TC1 pada kemoterapinya yaitu alopesia, mual dan neuropati 100%, muntah dan myalgia 67%, diare, anemia, gangguan kuku dan kulit serta rasa lelah sebanyak 33%.
Regimen TC2 yang terdiri dari obat golongan taksan dan carboplatin, pasien yang dikemoterapi menggunakan regimen ini mengalami efek samping terbanyak yaitu alopesia, mual, neuropati, serta gangguan kuku dan kulit.
100% 100% 100%
67% 67%
33% 33% 33% 33%
0% 0%
n= 40
18
Gambar 4.6 Frekuensi Efek samping kemoterapi pada regimen TC2 pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Pada regimen TC2 keluhan efek samping dari pasien yaitu alopesia dan mual 100%, neuropati 71%, gangguan kuku dan kulit sebanyak 57%, muntah, anemia dan lelah sebanyak 43%, diare dan myalgia sebanyak 29% dan tidak ada satupun pasien yang mengeluh mengalami stomatitis dan alergi.
Pasien yang mendapat kemoterapi dengan regimen kombinasi siklofosfamid dan fluoruracil, mengalami efek samping terbanyak yaitu alopesia, mual, anemia, gangguan kuku dan kulit serta stomatitis.
100% 100%
71%
57%
43% 43% 43%
29% 29%
0% 0%
n= 40
18
Gambar 4.7 Frekuensi efek samping kemoterapi pada regimen CF pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Efek samping yang dialami pasien dengan regimen CF yaitu alopesia dan mual sebanyak 100%, anemia, gangguan kuku dan kulit serta stomatitis sebanyak 60%, muntah dan myalgia sebanyak 40%, neuropati sebanyak 20%, dan tidak ada satu pasienpun yang mengalami diare, rasa lelah dan alergi.
Regimen yang terakhir yaitu CAF, merupakan regimen yang terdiri dari siklofosfamid, obat golongan antrasiklin dan fluoruracil. Efek samping yang dirasakan pasien dengan regimen ini yaitu alopesia, mual, gangguan kuku dan kulit serta myalgia dan neuroparti.
100% 100%
60% 60% 60%
40% 40%
20%
0% 0% 0%
n= 40
18
Gambar 4.8 Frekuensi efek samping kemoterapi pada regimen CAF pasien kanker payudara RSUD Cibabat periode Januari sampai Mei 2018
Pada regimen ini, efek samping yang dikeluhkan pasien yaitu alopesia dan mual sebanyak 100%, ganguan kuku dan kulit sebanyak 89%, myalgia 67%, neuropati 56%, stomatitis dan lelah sebanyak 44%, muntah serta anemia 33%, dan tidak ada satupun pasien yang mengeluh diare dan alergi.
1.6 Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi kejadian efek samping kemoterapi pada pasien kanker payudara. Selain itu, juga untuk
100% 100%
89%
67%
56%
44% 44%
33%
22%
0% 0%
n= 40
18
megetahui jenis dan presentase efek samping yang terjadi berdasarkan penggunaan regimen, serta untuk melihat karakteristik usia pasien kanker payudara yang mendapatkan kemoterapi di RSUD Cibabat selama periode Januari sampai Mei 2018.
Data yang didapatkan selama 5 bulan tersebut, sebanyak 45 pasien dan 5 diantaranya termasuk ke dalam kriteia ekslusi, dimana pasien kanker payudara tersebut telah mengalami penyebaran sel kanker ke organ lain selain payudara, oleh karena itu tidak dijadikan sampel sebab keluhan yang mereka alami akan semakin banyak sehingga dapat mengganggu akurasi hasil penelitian.
Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi selama periode Januari sampai Mei 2018 kebanyakan berusia di atas 40 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Mishermaliyani tahun 2009 yang menyebutkan bahwa karakteristik usia pasien kanker payudara yaitu di atas 40 tahun. Usia sebagai factor risiko kanker payudara diduga berhubungan dengan paparan estrogen dan progesteron yang berpengaruht erhadap payudara (Tjindarbumi, 2004). Walaupun demikian, tidak ada keterkaitan antara usia pasien dengan munculnya efek samping yang dialami pasien.
Frekuensi efek samping terbanyak pada semua regimen yaitu alopesia dan mual mencapai angka 100%, hal ini menunjukan bahwa keseluruhan sampel data pasien mengalami kerontokan rambut dan rasa mual setelah melakukan kemoterapi. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan penelitian lainnya yang dilakukan oleh Citra Tri tahun 2012 pada terhadap 51 pasien yang menjalani kemoterapi yaitu alopesia dialami oleh 48 pasien (94,1%), dan mual pada 43 pasien (84,3%). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Griffin et al., tahun 1996 terhadap 155 pasien yang menjalani kemoterapi juga mendapatkan efek samping tersering yang sama yaitu alopesia pada 74% pasien dan mual pada 73%
pasien.
Kerontokan rambut terjadi karena kemoterapi menargetkan semua sel yang dapat membelah dengan cepat. Folikel rambut merupakan salah satu sel dengan laju pertumbuhan yang cepat dalam tubuh sehingga ikut terganggu oleh agen
18
kemoterapi. Alopesia bersifat reversible, setalah kemoterapi dihentikan rambut dapat kembali tumbuh dengan normal.
Mual sebagai efek samping kemoterapi terjadi karena agen kemoterapi dapat menstimulasi chemoreceptor trigger zone (CTZ) yang merupakan vomiting centre yang terdapat di medulla oblongata pada bagian otak. Setiap obat kemoterapi memiliki nilai emetogenicity yang menunjukkan tingkat kemampuannya dalam merangsang rasa mual (Dipiro et al., 2008).
Regimen yang paling sering digunakan pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi selama periode Januari sampai Mei 2018, di RSUD Cibabat yaitu regimen TCH yang terdiri dari obat golongan taksan yaitu paclitaxel ataupun docetaxel, obat golongan platin berupa cisplatin ataupun carboplatin serta herceptin yaitu trastuzumab yang merupakan terapi monoklonal yang dikombinasikan sebagai kemoterapi pada kanker payudara. Trastuzumab ini digunakan khusus pada pasien dengan hasil HER2 positif tiga pada pemeriksaan imunohistokimia. HER2 atau Human Epidermal growth factor Receptor 2 merupakan reseptor yang berkaitan dengan peningkatan aktifitas sel kanker (Hamdani 2004). Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa regimen TCH yang merupakan kombinasi taksan, siklofosfamid, trastuzumab (25%) merupakan regimen yang paling sering digunakan dibandingkan dengan regimen lainnya. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahman dkk., terhadap 32 kasus kanker payudara yang menyimpulkan bahwa penderita yang mengalami ekspresi HER2 adalah sebesar 18 kasus (56,2%), sedang yang tidak mengalami ekspresi HER2 sebesar 14 kasus (43,8%).
Selain alopesia dan mual kombinasi taksan dan platin memiliki efek samping myalgia, flebitis, depresi sumsum tulang, reaksi hipersensitivitas, dan hipotensi (Ehrenpreis, 2001). Begitu pula trastuzumab memiliki efek samping depresi sumsum tulang (Kurnia, 2014). Pada penelitian ini efek samping yang dialami pasien dengan regimen TCH (taksan, siklofosfamid, trastuzumab) yakni alopesia dan mual dengan angka 100%, serta myalgia mencapai 70% dan anemia 60%. Depresi sumsum tulang dapat menimbulkan menurunnya produksi sel darah merah, sehingga terjadi anemia. Anemia yang terjadi sebagai efek samping
18
kemoterapi dievaluasi dengan melihat hasil pemeriksaan laboratorium hematologi rutin dari pasien pada kunjungan kemoterapi sebelumnya, untuk memastikan bahwa anemia yang dialami pasien bukanlah penyakit yang diderita pasien sebalum melakukan kemoterapi.
Regimen AC terdiri dari antrasiklin dan siklofosfamid. Penggunaan siklofosfamid sebagai agen kemoterapi menyebabkan beberapa efek samping berupa mual, muntah, leukopenia, anemia, dan sistitis hemoragik (Marina, 2013).
Sedangkan antrasiklin memiliki efek samping terbanyak berupa alopesia, mual, myalgia dan neuropati (Citra, 2012). Dari penelitian yang telah dilakukan pasein yang mendapatkan regimen AC, mengalami efek samping alopesia dan mual 100%, myalgia 83%, anemia, gangguan kuku dan kulit serta neuropati sebanyak 50%, dan tidak satupun pasien yang megalami alergi.
Taksan memiliki efek samping myalgia, flebitis, depresi sumsum tulang, reaksi hipersensitivitas, dan hipotensi (Ehrenpreis, 2001). Penggunaan siklofosfamid sebagai agen kemoterapi menyebabkan beberapa efek samping berupa mual, muntah, leukopenia, anemia, dan sistitis hemoragik (Marina, 2013).
Dari hasil penelitian terhadap sampel efek samping yang dikeluhkan pasien yang mendapat regimen TC1 (taksan, siklofosfamid) pada kemoterapinya yaitu alopesia, mual dan neuropati 100%, muntah dan myalgia 67%.
Pada regimen TC2, kombinasi obat yang digunakan adalah taksan dan platin yang memiliki efek samping myalgia, flebitis, depresi sumsum tulang, reaksi hipersensitivitas, dan hipotensi (Ehrenpreis, 2001). Pada penelitian ini, pasien yang dikemoterapi dengan regimen TC2 (taksan, carboplatin) mengalami efek samping terbanyak yaitu alopesia dan mual 100%, neuropati 71%, serta gangguan kulit dan kuku.
Efek samping regimen CF yang terdiri siklofosfamid dan fluouracil yaitu depresi sumsum, alopesia, angina, karsinogen dan hepatotoksik (Baretta, 1991).
Pada penelitian ini diperoleh hasil efek samping terbanyak yaitu alopesia dan mual sebanyak 100%, anemia, gangguan kuku dan kulit serta stomatitis sebanyak 60%. Efek samping karsinogenik dari regimen CF (siklofosfamid, fluoruracil) dapat menimbulkan gangguan pada kuku dan kulit serta stomatitis.
18
Regimen CAF yang terdiri dari siklofosfamid, antrasiklin dan fluoruracil memiliki efek samping mual, muntah, alopesia, depresi sumsum, chemical cytitis, kardiotoksik, karsinogenik, hepatotoksik dan angina (Baretta, 1991). Semua sampel penelitain mengalami mual dan alopesia. Namun, sedikit berbeda dengan literatur, pada penelitian ini,efek samping lain yang dialami pasien dengan regimen CAF (siklofosfamid, antrasiklin, fluoruracil) ganguan kuku dan kulit sebanyak 89%, myalgia 67%, neuropati 56%. Menurut peneliti, hal ini terjadi karena semua agen kemoterapi bekerja terhadap siklus sel, sehingga kemungkinan terjadinya gangguan pada kuku dan kulit dapat terjadi karena kuku dan kulit merupakan salah satu jaringan yang regenerasi selnya berlangsung cepat. Efek samping agen kemoterapi terhadap sel saraf dan otot juga dapat mengakibatkan terjadinya myalgia dan neuropati.
18