• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Subbab ini memapaparkan hasil penelitian kemampuan siswa kelas VB semester 2 SD Negeri Jetis 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 dalam pembelajaran menulis puisi. Hasil penelitian yang diuraikan meliputi data yang diperoleh dari instrumen tes dan nontes pada siklus 1 dan siklus 2. Data dari instrumen tes berupa puisi hasil karya siswa, sedangkan data dari instrumen nontes berupa hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi aktivitas siswa. Data tes disajikan dalam bentuk data kuantitatif, sedangkan data nontes disajikan dalam bentuk deskriptif data kualitatif. Data disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan analisis yang berupa tafsiran terhadap isi tabel dan grafik tersebut. Selanjutnya, data nontes dipaparkan dalam bentuk verbal.

1. Penerapan Teknik Peta Pikiran Imajinatif pada Prasiklus, Siklus 1, dan Siklus 2

a. Prasiklus

1) Hasil Tes Tertulis Siswa pada Prasiklus

Sebelum tindakan pada siklus 1 dilaksanakan, peneliti terlebih dahulu mengadakan tes kemampuan awal yang dilaksanakan pada hari Senin, 4 Maret 2013. Tes kemampuan awal dilakukan sebanyak satu kali pertemuan. Jumlah siswa yang terlibat adalah siswa kelas VB SD Negeri Jetis 1 Yogyakarta yang berjumlah 25 orang. Tes tersebut dilakukan peneliti untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum tindakan pada siklus 1 dan siklus 2 dilaksanakan. Hasil tes kemampuan awal yang dilakukan peneliti dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik 1: Nilai Kemampuan Menulis Puisi Siswa pada Prasiklus

0 2 4 6 8 10 12 14 Kesesuaian tema puisi (1) Kreativitas penciptaan puisi (2) Ketepatan pilihan kata (3) J um la h sis w a Aspek Penilaian Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Kurang Baik

Dalam pedoman penilaian yang telah ditetapkan peneliti, terdapat tiga aspek yang dinilai pada hasil tes tertulis siswa, yaitu aspek kesesuaian tema puisi, kreativitas penciptaan puisi, dan penggunaan pilihan kata dalam puisi. Setiap aspek dinilai dengan menggunakan skala 1 – 5. Skala 1 mewakili skor terendah dan skala 5 mewakili skor tertinggi. Setiap aspek memiliki bobot yang berbeda. Aspek kesesuaian tema puisi memiliki bobot 3, aspek kreativitas penciptaan puisi memiliki bobot 5, dan aspek penggunaan pilihan kata memiliki bobot 2. Skor yang diperoleh siswa untuk masing-masing kategori akan dikalikan dengan bobot setiap aspek yang dinilai, dijumlah, kemudian dikalikan dua.

Berdasarkan data tersebut, pada aspek kesesuaian tema puisi, tidak ada siswa yang mendapat skor dalam kategori sangat baik (0 siswa). Siswa yang mendapat skor dalam kategori baik sebanyak 2 orang. Siswa yang mendapat skor dalam kategori cukup sebanyak 10 orang. Siswa yang mendapat skor dalam kategori kurang baik sebanyak 12 orang. Siswa yang mendapat skor dalam kategori sangat kurang baik sebanyak 1 orang. Tema yang dipilih sebagian besar sama dengan siswa lain dan kurang variatif dalam pemilihan tema. Siswa cenderung memilih tema yang sama dengan tema yang dibuat oleh teman yang duduk di sebelahnya.

Pada aspek kreativitas penciptaan puisi, tidak ada siswa yang mendapatkan skor dalam kategori sangat baik (0 siswa). Siswa yang mendapat skor dalam kategori baik sebanyak 1 orang. Siswa yang mendapatkan skor dalam kategori cukup baik sebanyak 12 orang. Siswa yang mendapatkan skor dalam kategori kurang baik

sebanyak 11 orang. Siswa yang mendapat skor dalam kategori sangat kurang baik sebanyak 1 orang.

Pada aspek ketepatan pilihan kata, tidak ada siswa yang mendapatkan skor dalam kategori sangat baik (0 siswa). Siswa yang mendapatkan skor dalam kategori baik sebanyak 1 orang. Siswa yang mendapatkan skor dalam kategori cukup baik sebanyak 12 orang. Siswa yang mendapatkan skor dalam kategori kurang baik sebanyak 9 orang. Siswa yang mendapatkan skor dalam kategori sangat kurang baik sebanyak 3 orang.

2) Hasil Wawancara Guru sebelum Penelitian Dilaksanakan

Wawancara ini dilakukan peneliti sebelum peneliti melaksanakan penelitian. Wawancara dilakukan terhadap guru kelas VB SD Negeri Jetis 1 Yogyakarta. Tujuan pelaksanaan wawancara adalah untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan masalah yang muncul dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Pertanyaan yang diajukan pada guru adalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah sistematika penyusunan perangkat pembelajaran bahasa Indonesia (silabus, prota, prosem) per semester, (2) bagaimanakah aktivitas pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V, (3) bagaimanakah pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan selama pembelajaran, (4) bagaimanakah sistematika penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia, (5) apakah siswa dapat mencapai nilai KKM dalam pelajaran bahasa Indonesia, (6) apa sajakah hambatan yang ditemui dalam pembelajaran bahasa Indonesia, (7)

bagaimanakah gambaran kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajaran menulis puisi di kelas, dan (8) bagaimanakah strategi guru dalam mengatasi kesulitan pembelajaran menulis puisi di kelas.

Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa sistematika penyusunan perangkat pembelajaran bahasa Indonesia di SD Negeri Jetis 1 cukup baik. Para guru berpatokan pada Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan untuk menyusun silabus. Selanjutnya silabus dikembangkan ke program semester (prosem) dan program tahunan (prota). Pengembangan silabus menjadi program semester dan tahunan tersebut dibuat berdasarkan pada alokasi waktu sesuai dengan kalender pendidikan tingkat sekolah dasar.

Aktivitas pembelajaran bahasa Indonesia di kelas cukup baik. Menurut Ibu Dianing, para siswa menganggap pelajaran bahasa Indonesia mudah, dalam kenyataannya seringkali dianggap sulit bagi guru yang mengajarkannya. Kesulitan yang dialami oleh guru kelas berkaitan dengan esensi materi pembelajaran bahasa Indonesia. Guru kelas mengajarkan berdasarkan buku pegangan siswa saja. Hal ini memengaruhi aktivitas pembelajaran di kelas. pendekatan dan metode yang digunakan oleh guru yaitu ceramah dan dikombinasikan dengan uraian dan latihan. Dalam beberapa kesempatan, guru menerapkan pembelajaran dengan langkah penerapan teori, pendekatan tentang kondisi lingkungan sekitar, dan permainan.

Teknik permainan diterapkan ketika materi sudah diselesaikan dengan cara bermain sambil belajar.

Sistematika penilaian pada pembelajaran bahasa Indonesia bergantung pada materi. Penilaian disesuaikan dengan empat keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, penilaian empat keterampilan berbahasa tersebut dapat terintegrasi. Penilaian dilakukan pada kegiatan membaca dalam konteks klasikal, atau ketika siswa membaca puisi, bermain drama, pembacaan berita, dan kegiatan bercerita di depan kelas.

Pencapaian KKM siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia didukung penuh oleh peran guru. Guru memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan materi pelajaran dengan baik agar siswa dapat mencapai KKM. Apabila ada beberapa siswa yang belum mencapai KKM, materi pelajaran diulang kembali sampai beberapa siswa tersebut dapat mencapai KKM. Hal ini dilakukan dengan variasi latihan pengayaan dan perbaikan pada hasil tes pelajaran bahasa Indonesia.

Hambatan yang sering dialami para siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia terkait dengan kosakata dan imajinasi. Dalam pembelajaran mengarang, para siswa kesulitan dalam pemunculan ide awal penulisan. Pilihan kata yang paling

sering digunakan siswa adalah “pada suatu hari”. Siswa tidak berani untuk berinisiatif

dalam pembelajaran berbicara. Siswa tidak percaya diri dalam membaca dan mengungkapkan suara dengan jelas. Siswa harus dibimbing dan dimotivasi oleh guru, barulah rasa percaya diri mereka dapat dibangun dengan baik.

Terkait dengan pembelajaran menulis puisi, selain imajinasi, siswa mengalami kesulitan pada pilihan kata dan ide awal pembuatan puisi. Apabila diminta untuk menulis puisi, siswa mengalami kesulitan dan bingung harus menulis apa. Hal ini disiasati dengan cara penentuan tema. Guru bertindak sebagai pencetus ide awal penulisan puisi. Guru memberikan tema, misalnya tentang Ibu. Selanjutnya, siswa membuat puisi dengan tema tentang orangtua. Oleh karena itu peneliti berusaha untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran menulis puisi melalui teknik peta pikiran imajinatif. Teknik ini diharapkan dapat membantu siswa dalam pemunculan ide awal penulisan puisi.

b.Siklus 1

1) Hasil Tes Tertulis Siswa pada Siklus 1

Siklus 1 dilaksanakan dalam satu pertemuan, yaitu pada hari Senin, tanggal 18 Maret 2013. Jumlah siswa yang terlibat adalah siswa kelas VB SD Negeri Jetis 1 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 25 orang. Hasil tes tertulis menulis puisi bebas siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik 2: Nilai Kemampuan Menulis Puisi Siswa pada Siklus 1

Data tersebut menunjukkan bahwa pada aspek kesesuaian tema puisi tidak ada siswa yang mendapatkan skor dalam kategori sangat baik (0 siswa). Siswa yang mendapat skor dalam kategori baik sebanyak 17 orang. Siswa yang mendapat skor dalam kategori cukup baik sebanyak 8 orang, dan tidak ada siswa yang mendapat skor dalam kategori kurang baik dan sangat kurang baik.

2) Hasil Nontes Pembelajaran Siklus 1

Tujuan penelitian ini, selain meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis puisi, peneliti juga mengamati bagaimana keterlibatan dan respons siswa terhadap teknik pembelajaran yang diterapkan di kelas. Data tentang keterlibatan dan respons siswa tersebut diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi aktivitas siswa.

0 5 10 15 20 Kesesuaian tema puisi (1) Kreativitas penciptaan puisi (2) Ketepatan pilihan kata (3) Ju m lah S isw a Aspek Penilaian Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik

a) Hasil Observasi Pembelajaran Siklus 1

Observasi dilaksanakan selama penelitian berlangsung dan difokuskan pada proses pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif. Dari hasil pengamatan peneliti, sebagian besar siswa mengikuti proses pembelajaran dengan antusias dan penuh perhatian. Siswa memerhatikan penjelasan dari guru. Siswa juga aktif menanggapi pertanyaan dari guru dengan melontarkan gagasan sebagai tanggapan. Data yang diperoleh dari hasil observasi selama proses pembelajaran siklus 1 adalah sebagai berikut.

Observasi dilakukan dengan cara mengisi lembar pengamatan oleh peneliti dan mencatat semua temuan yang berlangsung selama pembelajaran siklus 1. Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti diperoleh data sebagai berikut.

Guru membuka pelajaran dengan memberikan apersepsi tentang imajinasi siswa dan pengalaman siswa menulis puisi. Respons siswa terhadap apersepsi yang diberikan guru cukup positif. Hal ini terlihat dari tanggapan positif yang diberikan siswa saat guru mengajukan beberapa pertanyaan. Selanjutnya, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa pada pembelajaran menulis puisi.

Guru menjelaskan materi dengan strategi UCL (Contoh Uraian Latihan). Guru bertanyajawab pada siswa tentang unsur-unsur penulisan puisi. Dalam proses ini, siswa tampak masih mengalami kesulitan dalam memahami materi, karena materi tentang unsur-unsur puisi (bunyi, kata, sarana retorika, dan tema) masih asing bagi

para siswa. Guru mulai memotivasi siswa dengan memberikan contoh kalimat puisi,

Ibu membangunkanku tiap pagi‖ yang dekat dengan keseharian siswa. Selanjutnya, guru memberikan penjelasan tentang cara pembuatan peta pikiran imajinatif. Guru memberikan contoh pembuatan peta pikiran imajinatif dengan membuat pokok peta

dengan judul “Ibu”. Siswa mulai terlihat antusias dengan memberikan tanggapan terhadap penjelasan guru. Beberapa siswa memberikan ide untuk melengkapi peta pikiran dengan kata kunci.

Siswa menanggapi penjelasan guru tentang peta pikiran imajinatif dengan penuh antusias. Mereka melengkapi peta dengan kata kunci menurut pemahaman siswa. Peta pikiran yang dibuat oleh siswa melalui bimbingan guru kemudian diberi peneguhan secara tegas oleh guru. Guru mengarahkan kata-kata kunci yang dibuat

siswa dalam peta pikiran “Ibu” dengan pilihan kata yang positif. Selanjutnya, guru

membimbing siswa untuk menyusun kata kunci dalam bentuk puisi. Siswa sangat aktif dalam memberikan ide-ide penyusunan kata kunci menjadi bentuk kalimat. Sebelum masuk pada kegiatan latihan, guru memberikan peneguhan materi tentang unsur-unsur penulisan puisi (bunyi, kata, sarana retorika, tema) dan jenis-jenis tema dalam puisi anak (orang tua, guru, sahabat, religius, lingkungan, dan binatang) pada siswa.

Guru memberikan instruksi pada siswa untuk berkelompok dan membuat peta pikiran imajinatif. Dari penjelasan yang diberikan guru, siswa memahami prosedur pelaksanaan teknik peta pikiran imajinatif dalam proses pembelajaran menulis puisi

yang akan dilaksanakan. Situasi kelas secara keseluruhan sangat kondusif. Siswa bersemangat untuk berdiskusi dalam kelompok. Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk proses pembelajaran cukup, tentu dengan kendali penuh oleh guru kelas. Setiap langkah pembelajaran dengan teknik peta pikiran imajinatif terlaksana dengan baik dan efektif. Model pengelompokan siswa yang seharusnya berpasangan diubah menjadi tiga orang siswa dalam kelompok. Hal ini menjadi satu perubahan yang tidak sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa siswa yang mendapat nilai tinggi, sedang, dan rendah mengungkapkan rasa senangnya terhadap proses pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif. Siswa mengungkapkan rasa senangnya karena siswa dapat mengalami proses pembelajaran menulis puisi dengan cara yang baru. Siswa tertarik dengan cara belajar yang baru, yaitu dengan membuat sebuah konsep dalam sebuah peta pikiran imajinatif. Siswa juga merasa senang dan terkesan karena mendapat pengetahuan baru tentang unsur-unsur penulisan puisi dan bagaimana cara membuat sebuah puisi dengan diawali dengan membuat konsep. Para siswa juga menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif semakin memotivasi siswa untuk belajar dengan lebih mudah dan terkonsep dengan baik. Para siswa semakin bersemangat karena imajinasi mereka dapat disalurkan dengan baik melalui teknik peta pikiran imajinatif. Materi yang diajarkan oleh guru juga dapat

dipahami dengan baik oleh siswa. kesulitan yang mereka hadapi adalah pada proses pembuatan cabang yang berisi kata kunci untuk melengkapi peta pikiran imajinatif.

Namun, ada beberapa siswa yang tidak memahami materi pembuatan peta pikiran imajinatif dengan baik. Para siswa mengalami kesulitan mengaitkan antara kata kunci dengan judul pokok pada peta pikiran imajinatif. Kesulitan inilah yang menyebabkan siswa pada akhirnya kesulitan dalam mengembangkan kata kunci menjadi rangkaian kata yang ditulis pada larik puisi. Oleh karena itu, guru dan peneliti berusaha untuk melakukan perbaikan terhadap rencana pembelajaran, agar pada proses penerapan siklus berikutnya jumlah siswa yang mengalami kesulitan dan siswa yang masih mendapatkan nilai rendah dapat dikurangi.

b) Hasil Wawancara Guru setelah Pembelajaran Siklus 1

Wawancara ini dilakukan setelah peneliti selesai mengobservasi pembelajaran siklus 1. Tujuan pelaksanaan wawancara adalah untuk mengetahui gambaran kesulitan dalam pembelajaran siklus 1. Pertanyaan yang diajukan pada guru yaitu: (1) bagaimana persiapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia, (2) bagaimanakah gambaran motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, (3) apakah materi penulisan puisi bebas dapat dipahami siswa, (4) apakah teknik peta pikiran imajinatif dirasa dapat mengatasi permasalahan pengajaran puisi di kelas, dan (5) bagaimanakah kondisi kelas saat pembelajaran siklus 1 berlangsung.

Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa persiapan siswa dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia saat berlangsungnya siklus 1 cukup baik. Siswa siap dan nampak antusias dalam pembelajaran siklus 1. Siswa menanggapi pertanyaan dari guru dengan baik dan antusias. Siswa terlibat dalam proses pembuatan peta pikiran imajinatif secara aktif dengan menyampaikan pendapatnya tentang kata kunci untuk melengkapi cabang peta pikiran imajinatif.

Hambatan yang muncul dalam pembelajaran siklus 1 ini adalah pemahaman siswa tentang materi penulisan puisi bebas. Siswa kurang memahami materi tentang bentuk puisi. Selain itu, siswa terjebak dalam miskonsepsi materi tentang kesamaan bunyi pada akhir kalimat puisi. Sesungguhnya siswa dapat lebih bebas menentukan bunyi pada akhir kalimat pada puisi yang dibuat. Secara keseluruhan kondisi kelas sangat kondusif. Siswa memerhatikan penjelasan guru dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Namun ada beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam pengembangan kata kunci dalam bentuk kalimat dalam puisi. Siswa merasa sulit ketika harus menghubungkan antarkalimat puisi yang mereka buat agar menjadi padu. Oleh karena itu, peneliti berusaha untuk melakukan perbaikan berdasarkan hambatan yang muncul pada pembelajaran siklus 1.

c) Hasil Wawancara Siswa setelah Pembelajaran Siklus 1

Wawancara ini dilakukan setelah peneliti selesai menganalisis hasil tes tertulis siswa pada siklus 1. Wawancara dilakukan terhadap siswa yang mendapat nilai tinggi,

sedang, dan rendah. Tujuan pelaksanaan wawancara adalah untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif. Pertanyaan yang diajukan pada para siswa adalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah kesan siswa terhadap pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif, (2) apakah siswa merasa tertarik dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi bebas dengan teknik peta pikiran imajinatif, (3) apakah siswa dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru, (4) apa sajakah kesulitan yang dialami oleh siswa dalam pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif, dan (5) bagaimanakah harapan siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia.

Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa siswa yang mendapat nilai tinggi, sedang, dan rendah mengungkapkan rasa senangnya terhadap proses pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif. Siswa mengungkapkan rasa senangnya karena siswa dapat mengalami proses pembelajaran menulis puisi dengan cara yang baru. Siswa tertarik dengan cara belajar yang baru, yaitu dengan membuat sebuah konsep dalam sebuah peta pikiran imajinatif. Siswa merasa senang dan terkesan karena mendapat pengetahuan baru tentang unsur-unsur penulisan puisi dan bagaimana cara membuat sebuah puisi dengan diawali dengan membuat konsep. Para siswa juga menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif semakin memotivasi siswa untuk belajar dengan lebih mudah dan terkonsep dengan baik. Para siswa semakin

bersemangat karena imajinasi mereka dapat disalurkan dengan baik melalui teknik peta pikiran imajinatif.

Materi yang diajarkan oleh guru juga dapat dipahami dengan baik oleh siswa. kesulitan yang mereka hadapi adalah pada proses pembuatan cabang yang berisi kata kunci untuk melengkapi peta pikiran imajinatif. Namun, ada beberapa siswa yang tidak memahami materi pembuatan peta pikiran imajinatif dengan baik. Para siswa mengalami kesulitan mengaitkan antara kata kunci dengan judul pokok pada peta pikiran imajinatif. Hal inilah yang menyebabkan siswa pada akhirnya mengalami kesulitan dalam mengembangkan kata kunci menjadi rangkaian kata yang ditulis pada larik puisi. Oleh karena itu, guru dan peneliti berusaha untuk melakukan perbaikan terhadap rencana pembelajaran, agar pada proses penerapan siklus berikutnya jumlah siswa yang mengalami kesulitan dan siswa yang masih mendapatkan nilai rendah dapat dikurangi.

d) Dokumentasi Aktivitas Siswa selama Pembelajaran Siklus 1

Dokumentasi merupakan salah satu data pendukung yang penting sebagai bukti terjadinya suatu kegiatan, dalam hal ini proses pembelajaran menulis puisi dengan teknik peta pikiran imajinatif. Dokumentasi bertujuan untuk memperkuat hasil penelitian selain wawancara dan observasi. Pendokumentasian dalam penelitian ini dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran pada siklus 1 dan siklus 2 berlangsung. Berikut adalah hasil dokumentasi kegiatan siswa pada siklus 1.

Gambar 1: Guru Menjelaskan Materi Pembelajaran tentang Unsur Penulisan Puisi

Gambar 1 tersebut diambil pada saat pelaksanaan siklus 1 pada jam pelajaran pertama. Pada kegiatan pembelajaran ini guru menekankan pada penjelasan materi tentang unsur-unsur penulisan puisi dan cara pembuatan peta pikiran imajinatif. Guru memberikan uraian penjelasan melalui aktivitas brainstorming dan bertanyajawab pada siswa. Siswa memerhatikan penjelasan guru dengan seksama dan cermat. Guru memulai aktivitas dengan memberikan pertanyaan pada siswa tentang pengalaman siswa dalam menulis puisi. Seorang siswa memberikan tanggapan guru secara positif dengan memberikan jawaban tentang pengalamannya membuat puisi ketika ada tugas dari guru waktu kelas IV. Guru menanggapi jawaban dari siswa dengan pertanyaan selanjutnya yang memunculkan reaksi siswa lain untuk mengemukakan pengalaman mereka dalam membuat puisi. Selanjutnya guru menjelaskan materi tentang unsur-unsur penulisan puisi.

Unsur penulisan puisi yang dijelaskan adalah unsur bunyi pada puisi. Guru memberikan contoh satu larik puisi Ibu membangunkanku tiap pagi. Selanjutnya beberapa siswa memberikan tanggapan dengan melengkapi bait puisi yang dicontohkan oleh guru. Ketika siswa sudah terlibat dalam pembahasan materi, guru mulai menjelaskan konsep pembuatan peta pikiran imajinatif. Siswa dilibatkan dalam proses ini dengan memberikan tanggapan tentang sosok seorang ibu.

Siswa antusias memberikan pendapat tentang sosok ibu untuk melengkapi cabang peta pikiran imajinatif yang digambarkan guru. Ada seorang siswa yang menggambarkan sosok Ibu dalam kata kunci yang bernuansa negatif seperti Ibu suka marah ketika pagi hari. Larik negatif ini membuat persepsi siswa menjadi sedikit melenceng, tetapi guru kemudian mengarahkannya menjadi kata kunci yang bernuansa lebih positif. Selanjutnya, guru membimbing siswa untuk menyusun kata kunci dalam peta menjadi bentuk bait puisi. Pada proses inilah siswa nampak mengalami kesulitan dalam mengembangkan kata kunci menjadi bentuk kalimat.

Gambar 2: Siswa Tergabung dalam Kelompok untuk Membuat Peta Pikiran Imajinatif dan Puisi

Gambar 2 tersebut gambaran implementasi teknik peta pikiran imajinatif. Siswa masuk dalam kelompoknya masing-masing untuk membuat peta pikiran imajinatif dan selanjutnya diubah menjadi bentuk puisi bebas. Siswa mengawali kegiatan ini dengan mendiskusikan tema yang akan dipilih sebagai gagasan utama peta pikiran imajinatif. Selanjutnya masing-masing siswa memberikan ide dan membuat peta pikiran imajinatif dalam kelompok. Awalnya siswa merasa kesulitan dalam menentukan tema sebagai landasan awal pembuatan peta pikiran imajinatif. Beberapa siswa dalam kelompok saling mempertahankan tema masing-masing. Tetapi ada kelompok siswa yang justru tidak memerlukan banyak waktu untuk berdiskusi dan sepakat dalam pemilihan tema. Namun ketika masing-masing kelompok siswa telah menyepakati satu tema, mereka mulai sibuk menyusun peta

pikiran imajinatif dalam kelompok. Masing-masing siswa dalam kelompok memberikan kata kunci untuk melengkapi cabang-cabang peta pikiran imajinatif.

Dokumen terkait