• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

c. Dapat digunakan sebagai sumbangan pengetahuan dan pengalaman

terhadap disiplin ilmu social (PLS) sehingga dapat memperdalam cakrawala dan menetapkan suatu bidang program dan bersama-sama menangani permasalahan anak jalanan.

2. Manfaat praktis

a. Hasil penelitian diharapkan sebagai bahan evaluasi untuk

meningkatkan program selanjutnya mejadi lebih baik

b. Hasil penelitian dapat digunakan untuk mengadakan restrukturisasi

dan pengembangan rumah singgah sehingga menjadi tempat yang sesuai untuk mengembangkan ketrampilan anak jalanan.

G. Batasan Istilah

Untuk memperjelas istilah yang digunakan pada penelitian ini, dan menghindari kemungkinan kesalahan, maka perlu adanya pembatasan atau definisi operasional sebagai berikut:

1. Anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya

untuk mencari nafkah dna berkeliaran di jalanan dan di tempat-tempat umum lainnya

2. Pemberdayaan

Pemberdayaan adalah suatu proses menuju berdaya atau proses pemberian daya/kemampuan/kekuatan

3. Rumah singgah didefinisikan sebagai wahana yang dipersiapkan sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Kajian tentang Pemberdayaan

a. Pengertian Pemberdayaan

Secara Umum, pemberdayaan merupakan konsep yang berasal

dari kata empowerment sebagai bentukan kata dari kata power yang

bermakna “daya”. Daya dalam arti kekuatan yang berasal dari dalam, tetapi dapat diperkuat dengan unsur-unsur penguatan yang diserap dari luar. Kindervatter dalam Sunaryo Kartadinata (2009: 24) mengemukakan bahwa pemberdayaan adalah tercapainya kemampuan seseorang untuk memahami dan mengontrol kekuatan- kekuatan sosial, ekonomi, dan atau politik yang mungkin diperankannya sehingga dapat memperbaiki kedudukannya (status) dan perannya

(role) dalam masyarakat. Pemberdayaan bertujuan memberikan

kekuasaan atau kekuatan kepada orang-orang yang tidak beruntung. Ife dalam Purnama (2009 : 25) mengemukakan pendapat berbeda. Menurutnya, pemberdayaan dapat diartikan menyiapkan warga masyarakat sumber daya kesempatan, pengetahuan, dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menentukan masa depan seta berpartisipasi dan mempunyai dampak dalam kehidupan komunitas tersebut.

Dari beberapa definisi diatas, didapat suatu pengertian mengenai pemberdayaan, yaitu bahwa pemberdayaan adalah suatu usaha oleh pihak tertentu dalam mengembangkan, mengentasan masyarakat dari kondisi yang awalnya tidak mampu menjadi mampu, atau bisa dikatakan bahwa pemberdayaan adalah kegiatan memampukan dan memandirikan masyarakat.

b. Pemberdayaan anak jalanan

Pemberdayaan terhadap masyarakat yang terpinggirkan dan dianggap lemah merupakan hal yang harus selalu diperhatikan terutama pihak terkait. Jika yang menjadi fokus permasalahan adalah anak jalanan, maka perhatian diarahkan pada banyak pihak yang terkait secara langsung maupun tidak langsung ada hubungannya dengan anak jalanan, misalnya keluarga anak jalanan tersebut dan masyarakat dimana anak jalanan menjadi bagian didalamnya.

Dinas Sosial Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai tugas pokok dalam melaksanakan pembangunan kesejahteraan sosial untuk mengembangkan dan melaksanakan Program Pembinaan Anak Jalanan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan anak jalanan. Salah satu upaya perwujudan kesejahteraan anak jalanan dalah melalui kegiatan pemberdayaan.

Menurut Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan

Kesejahteraan Sosial (2011 : 381) alternative model pemberdayaan

1) Street-centered intervention. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di jalan tempat anak-anak biasa beroperasi. Tujuannya agar dapat menjangkau dan melayani anak-anak di lingkungan terdekatnya, yaitu di jalan.

2) Family-centered intervention. Penanganan anak jalanan difokuskan pada pemberian bantuan sosial atau pemberdayaan keluarga sehingga dapat mencegah anak-anak agar tidak menjadi anak jalanan atau menarik anak jalanan kembali ke keluarganya.

3) Institutional-centered intervention. Penanganan anak jalanan

dipusatkan di lembaga atau panti, baik secara sementara (menyiapkan reunifikasi dengan keluarganya) maupun permanen (terutama jika anak jalanan sudah tidak memiliki orangtua atau kerabat). Pendekatan ini juga mencakup tempat berlindung sementara yang menyediakan fasilitas panti dan asrama adaptasi bagi anak jalanan.

4) Community-centered based. Penanganan anak jalanan yang

dipusatkan di sebuah komunitas. Melibatkan program community

development untuk memberdayakan masyarakat atau penguatan

kapasitas lembaga-lembaga social dimasyarakat dengan menjalin networking melalui berbagai institusi baik lembaga pemerintahan maupun lembaga social masyarakat. Pendekatan ini juga mencakup

Corporate Social Responsibility atau tanggungjawab sosial

perusahaan.

Sedangkan menurut Kalida (2005 : 83), pendekatan yang digunakan dalam menangani masalah anak jalanan ada tiga, yaitu : 1) Street Based, merupakan pendekatan di jalanan untuk menjangkau

anak di jalanan. Tujuannya mengenal, mendampingi anak,

mempertahankan relasi dan komunikasi. Street based berorientasi

pada penangkalan pengaruh negatif dan memberi mereka wawasan yang positif.

2) Center Based, yaitu pendekatan penanganan anak jalanan oleh

lembaga yang memusatkan usaha dan pelayanan, tempat

berlindung (drop in) yang menyediakan fasilitas asrama bagi anak

terlantar

3) Community Based, yaitu pendekatan yang melibatkan keluarga dan masyarakat tempat tinggal anak jalanan, pemberdayaan keluarga dan sosialisasi masyarakat

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam menangani masalah anak

1) Street Based atau street-centered intervention, yaitu penanganan anak jalanan yang dipusatkan di jalan tempat anak-anak biasa beroperasi dengan tujuan menjangkau dan melayani anak-anak di lingkungan terdekatnya, yaitu di jalan. Penanganan ini berorientasi pada penangkalan pengaruh negatif dan memberi mereka wawasan yang positif.

2) Center Based atau Institutional-centered intervention, yaitu pendekatan penanganan anak jalanan oleh lembaga yang

memusatkan usaha dan pelayanan, tempat berlindung (drop in)

yang menyediakan fasilitas asrama bagi anak terlantar. Penanganan anak jalanan yang dipusatkan di lembaga atau panti dilakukan secara sementara (menyiapkan reunifikasi dengan keluarganya) maupun permanen (terutama jika anak jalanan sudah tidak memiliki orangtua atau kerabat).

3) Community Based atau community-centered based, yaitu

penanganan anak jalanan yang dipusatkan di sebuah komunitas. Pendekatan ini melibatkan keluarga dan masyarakat tempat tinggal anak jalanan, pemberdayaan keluarga dan sosialisasi

masyarakat. Pendekatan ini juga mencakup Corporate Social

2. Kajian Tentang Anak Jalanan

a. Pengertian Anak Jalanan

Departemen Sosial menjelaskan bahwa anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan berkeliaran di jalanan dan di tempat-tempat umum lainnya (Kalida, 2005:18)

Sedangkan Badan Kesejahteraan Sosial Nasional (BKSN), menjelaskan bahwa anak jalanan adalah anak yang rentan bekerja di jalanan dan/atau anak yang bekerja dan hidup dijalanan yang menghasilkan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Suyanto mendefinisikan anak jalanan, yang biasa disebut sebagai tekyan atau kere, atau bisa juga disebut gelandangan, sesungguhnya adalah anak-anak yang tersisih, marginal, dan teralineasi dari perlakuan kasih sayang karena kebanyakan dalam usia yang relatif dini sudah harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras dan bahlan sangat tidak bersahabat.

Anak jalanan berbeda dengan anak pada umumnya. Hidup menjadi anak jalanan bukanlah pilihan hidup yang menyenangkan, melainkan keterpaksaan yang harus mereka terima. Cara berinteraksi, berkomunikasi, membuat anak jalanan sering dianggap sebagai perusuh dan pembuat onar.

Simpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat diatas adalah anak jalanan dapat digolongkan sebagai kaum lemah yang hidup dijalanan, yang tidak terpenuhi haknya. Mereka mempunyai pekerjaan tidak tetap. Anak jalanan sangat tersisihkan dan rentan terhadap kondisi lingkungan kota yang semakin canggih dan maju. b. Ciri khas anak jalanan

Berdasarkan hasil kajian di lapangan, anak jalanan dapat dikenali melalui ciri-ciri fisik dan psikis. Widagdo (2010 :10) mengklasifikasikan ciri-ciri fisik dan psikis anak jalanan yang mudah dikenali, yaitu sebagai berikut:

1) Ciri-ciri fisik : warna kulit kusam, pakaian tidak terurus, badan

tidak terurus, kondisi badan tiak terurus, bertatato, pakai aksesoris, seperti: tindik, anting-anting, kalung, gelang, dan sebagainya.

2) Ciri-ciri psikis : acuh tak acuh, sangat sensitif, penuh curiga,

berwatak keras, kreatif, berani menanggun resiko, serius dalam melakukan sesuatu, dan memiliki rasa solidaritas yang tinggi terhadap teman, dan mandiri.

Selain itu, ada indikator lain yang dapat digunakan untuk mengenali anak jalanan. Andari, dkk (2007 : 9) menjelaskan ciri umum anak jalanan memiliki kesamaan antara lain:

1) Berada di tempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, dan tempat

hiburan) selama 3 sampai 24 jam sehari.

2) Berpendidikan rendah (kebanyakan putus sekolah, sedikit sekali

yang tamat sekolah dasar)

3) Berasal dari keluarga yang tidak mampu (kebanyakan kaum

urban, beberapa diantaranya tidak jelas keluarganya)

4) Melakukan aktivitas ekonomi (melakukan pekerjaan pada sektor

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa anak jalanan memiliki ciri-ciri kondisi tidak terurus, berada di jalanan selama 3 sampai 24 jam, dan melakukan aktivitas ekonomi di jalanan untuk menopang kebutuhan hidupnya.

c. Klasifikasi anak jalanan

Surbakti dalam Widagdo (2010 : 9) mengklasifikasikan anak jalanan ke dalam tiga bentuk :

1) Children On The Street, yakni anak-anak yang yang menpunyai

kegiatan ekonomi di jalanan. Namun mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tua mereka.

2) Children Of The Street, yakni anak-anak yang berpartisipasi

penuh di jalan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa dari mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tua mereka akan tetapi frekuensi pertemuan mereka yang tidak menentu.

3) Children Fron Families Of The Street, yakni anak-anak yang

berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Biasanya anak-anak dari kelompok ini mempunyai hubungan yang erat dengan keluarga mereka, namun karena mereka tergolong orang yang tidak mempunyai tempat tinggal, maka dengan terpaksa mereka harus terombang-ambing dengan segala resiko yang ada.

Menurut Badan Kesejahteraan Sosial Nasional (2000 : 61), kelompok anak jalanan dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok, yaitu :

1) Kelompok anak yang hidup dan bekerja di jalanan

a) Menghabiskan seluruh waktunya di jalanan

b) Hidup dalam kelompok kecil atau perorangan

c) Tidur di ruang-ruang/cekungan perkotaan, misalnya seperti

terminal, emper toko, kolong jembatan dan pertokoan

d) Hubungan dengan orangtua biasanya sudah putus

e) Putus sekolah

f) Beberapa sebagai pemulung, ngamen, mengemis, semir

sepatu, kuli angkut barang

g) Berpindah-pindah

a) Hubungan dengan orangtua tetapi sudah tidak harmonis.

b) Sebagian besar dari mereka berasal dari daerah kumuh dan

daerah miskin perkotaan

c) Sebagian besar dari mereka telah putus sekolah dan sisanya

rawan untuk meninggalkan bangku sekolah

d) Rata-rata pulang setiap hari atau seminggu sekali kerumah

e) Bekerja sebagai pengemis, pengamen di perempatan, kernet,

asongan koran, dan ojek payung

3) Kelompok anak jalanan yang bekerja dijalanan dan pulang ke

desanya antara 1 hingga 3 bulan sekali

a) Bekerja dijalanan sebagai pedagang asongan, menjual

makanan keliling, kuli angkut barang

b) Hidup berkelompok bersama dengan orang-orang yang

berasal dari satu daerah dengan cara mengontrak rumah atau tinggal di sarana-sarana umum seperti masjd atau tempat ibadah

c) Pulang antara kurun waktu 1 bulan hingga 3 bulan sekali

d) Ikut membiayai keluarga didesanya

e) Putus sekolah

4) Anak remaja jalanan yang bermasalah

a) Menghabiskan sebagian besar waktnya dijalanan

b) Sebagian besar sudah putus sekolah

c) Terlibat masalah narkotika dan obat-obatan lainnya

d) Sebagain besar dari mereka melakukan pergaulan seks bebas

pada beberapa anak perempuan mengalami kehamilan dan mereka rawan untuk terlibat prostitusi

e) Berawal dari keluarga yang tidak harmonis

Klasifikasi anak jalanan tersebut tentunya tidak dapat dijadikan pengertian tunggal, karena sekarang muncul anak-anak punk, yang identik dengan pakaian serba hitam namun perilaku anak punk yang mengamen, mengemis dan mencari makan di jalan tidak dapat dibedakan dengan anak jalannan pada umumnya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa anak jalanan dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga), yaitu anak jalanan yang sepenuhnya bekerja di jalan dan tidak berkomunikasi dengan keluarga, anak jalanan yang bekerja di jalan namun masih

berkomunikasi dengan keluarganya, dan anak jalanan yang bermasalah.

d. Faktor penyebab munculnya anak jalanan

Pada dasarnya, anak jalanan mempunyai alasan atau penyebab yang berbeda satu dengan yang lainnya. Muhsin Kalida (2005:21) menjelaskan bahwa secara umum ada tiga faktor utama yang mempengaruhi anak-anak turun ke jalanan.

1) Tingkat makro (Immediate Cause), yaitu faktor yang

berhubungan dengan keluarga. Pada tingkatan ini, anak turun ke jalan karena orang tua yang kurang memberi kasih sayang, dipaksa bekerja pada usia yang masih sangat belia, hingga alasan yang sangat mendasar, yaitu diajak teman.

2) Tingkat meso (Underlaying Cause), yaitu faktor lingkunga:n

masyarakat sekitar. Masyarakat cenderung memberikan efek langsung pada perkembangan anak karena anak hidup pada lingkungan massyarakat dimana dalam satu kesatuan masyarakat tersebut terdapat beragam kondisi yang memungkinkan anak terlibat langsung didalamnya.

3) Tingkat mikro (Basic Cause), yaitu berhubungan dengan faktor

informal misalnya ekonomi. Sektor ini menjadi pertimbangan mereka nyang tidak selalu membutuhkan modal atua ketrampilan yang besar. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda sebelum terjun dan bekerja di jalanan, sehinggga sering mendapat julukan anak seribu masalah.

Hasil penelitian Hening Budyawati, dkk menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan anak pergi ke jalan adalah :

1) Kekerasan dalam keluarga

Kurang harmonisnya keluarga sering berakhir dengan kekerasan. Adanya tindak kekerasan dan penganiayaan pada anak serta perlakuan yang salah dari orangtua terhadap anak menyebabkan anak tidak betah sehinggga memilih lari dari rumah.

2) Dorongan keluarga

Orangtua seharusnya mendidik dan melindungi anaknya. Namun dengan kondisi yang miskin banyak diantara orangtua yang memandang anaknya sebagai asset ekonomi keluarga sehingga

anak yang dijadikan unit produksi dengan alih menutupi kebutuhan dan meringankan beban ekonomi keluarga

3) Ingin bebas

Adanya aturan yang dibuat oleh keluarga terkadang sering membuat anak tidak nyaman sehingga anak merasa terkekang. Adanya keinginan ingin bebas dan hidup tanpa diatur oleh orangtua mendorong anak untuk berontak. Awalnya sehari dua hari mereka tidak pulang tetapi lama-kelamaan mereka betah hidup dijalan.

4) Ingin memiliki uang sendiri

Kebiasaan anak yang sering jajan membuat orangtua merasa kewalahan. Ketika oangtua sering tidak memberi anak mereka uang untuk jajan, maka anak akan berpikir bagaimana caranya anak tersebut bias jajan. Keinginan memiliki uang sendiri membuat anak memilih mencari uang dengan cara instan.

5) Pengaruh teman

Teman disini bias berarti teman sekitar lingkunga tempat tinggal atau teman sekolah yang pernah melakukan kegiatan di jalan. Awalnya mereka mungkin hanya menonton saja ketika diajak atau mengikuti temannya, namun secara perlahan anak mulai tertarik untuk ikut terlibat dalam kegiatan di jalan karena melihat temannya dapat menghasilkan uang. Pengaruh tman akan berdampak besar ketika pihak keluarga atau komunitas sekitar tiak memiliki kepedulian terhadap anak di jalanan. (Odi Salahudin, 2000 : 11)

Selain faktor diatas, terdapat faktor lain yang mendasari anak-anak turun ke jalanan.

1) faktor perekonomian keluarga. Kondisi keluarga yang miskin

serta semakin besarnya kebutuhan yang ditanggung oleh kepala keluarga memaksa anak untuk membantu mengatasi kondisi ekonomi keluarga. Akibatnya anak terpaksa putus sekolah dan turun ke jalan sebagai pengamen, pengemis, dan lain-lain.

2) kurang harmonisnya keluarga (dis-fungsi keluarga) sehingga

sering berakhir dengan berbagai kekerasan dan penganiayaan pada anak. Adanya kekerasan atau perlakuan yang salah dari

orangtua terhadap anak menyebabkan anak tidak betah sehingga memilih lari dari rumah.

3) Ikut-ikutan teman, teman disini bisa berarti teman sekitar

lingkungan tempat tinggal atau teman-teman sekolah yang pernah melakukan kegiatan di jalan. Awalnya mereka mungkin hanya menonton saja ketika diajak atau mengikuti temannya,namun secara perlahan anak mulai tertarik untuk ikut terlibat dalam kegiatan di jalanan ketika mengetahui temannya bisa menghasilkan uang. Pengaruh .teman akan berdampak semakin besar ketika pihak keluarga atau komunitas sekitar tidak memiliki kepedulian terhadap anak di jalanan.

Uraian diatas menjadi dasar bahwa keberadaan anak jalanan dapat dilatarbelakangi oleh keadaan keluarga yang tidak harmonis, pemenuhan kebutuhan hidup yang sulit, serta kemiskinan yang mengakibatkan anak harus turun dan bekerja menjadi anak jalanan.

3. Kajian tentang Rumah Singgah

a. Definisi rumah singgah

Kalida (2005:89) mendefinisikan rumah singgah sebagai wahana yang dipersiapkan sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak yang akan membantu mereka. Sedangkan menurut Departemen Sosial (2000 : 96), rumah singgah merupakan proses sosial informal yang memberikan suasana resosialisasi kepada anak

jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di mayarakat setempat.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa rumah singgah adalah tempat resosialisasi yang disediakan oleh pihak-pihak tertentu yang nantinya dapat digunakan oleh anak jalanan untuk berlindung dan utamanya belajar tentang nilai dan norma yang ada di masyarakat. Rumah singgah sianggap sebagai dasar dari berbagai tahap yang diadakan untuk anak agar memperoleh pelayanan selanjutnya. Oleh karena itu penting kiranya pendirian rumah singgah sebagai tempat yang aman, nyaman, dan menarik bagi anak jalanan.

b. Tujuan Rumah Singgah

Rumah singgah memiliki dua tujuan, secara umum dan khusus. Secara umum rumah singgah dibentuk dengan tujuan membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya serta menemukan alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan menurut Widagdo (2010:31) secara khusus rumah singgah mempunyai tujuan yaitu :

1) Membentuk kembali sikap dan perilaku anak yang sesuai dengan

nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

2) Mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan

atau ke panti dan lembaga pengganti lainnya jika diperlukan.

3) Memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan

kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi masyarakat yang produktif.

Menurut Departemen Sosial (2000 : 96-97), peran dan fungsi rumah singgah sama-sama memiliki peran yang sangat penting, yaitu:

1) Tempat pertemuan pekerja sosial dengan anak jalanan untuk menciptakan persahabatan dan mengkaji kebutuhan dan melaksanakan kegiatan.

2) Tempat untuk mengkaji kebutuhan dan masalah anak serta

menyediakan rujukan untuk pelayanan lanjutan.

3) Perantara anak jalanan dengan keluarga, panti, keluarga

pengganti, dan lembaga lainnya

4) Perlindungan bagi anak dari kekerasan dan penyalahgunaan

narkoba dan seks bebas

5) Pusat informasi berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan

anak jalanan

6) Mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak dimana para

pekerja sosial diharapkan mampu mengatasi permasalahan anak jalanan dan membetulkan sikap dan perilaku sehari-hari yang akhirnya akan mampu menumbuhkan keberfungsisosialan anak.

7) Jalur masuk berbagai pelayanan sosial dimana pekerja sosial

membantu anak mencapai pelayanan tersebut

8) Pengenalan norma dan nilai pada anak

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan rumah singgah adalah untuk membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya serta menemukan alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu rumah singgah juga bertujuan untuk :

1) Mempertemukan anak jalanan dengan pekerja sosial untuk

mengkaji permasalahan dan kebutuhan anak jalanan serta memberikan solusi pelayanan bagi anak jalanan

2) Mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan

atau ke panti dan lembaga pengganti lainnya jika diperlukan

3) Perlindungan bagi anak dari kekerasan dan penyalahgunaan

narkoba dan seks bebas

4) Memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan

kebutuhan anak.

c. Tahap-tahap Pelayanan Rumah Singgah

Tahapan pelayanan yang diberikan oleh rumah singgah pada anak jalanan dijelaskan secara rinci oleh Departemen Sosial (2000 : 99) sebagai berikut:

1) Tahap I, outreach atau penjangkauan. Pelayanan yang diberikan meliputi kunjungan lapangan, pemeliharaan hubungan, pembentukan kelompok, konseling, advokasi, dan mendampingi anak.

2) Tahap II, problem atau assessment. Kemudian pihak rumah

singgah memberikan pelayanan berupa induksi peranan, pengisian file anak, dan monitoring kemajuan anak.

3) Tahap III, persiapan pemberdayaan. Pelayanan yang diberikan

berupa resosialisasi, bimbingan social, penyuluhan, game dan rekreasi, reunifikasi.

4) Tahap IV, pemberdayaan. Pelayanan yang diberikan meliputi

pemberdayaan anak, beasiswa, modal usaha, vocational training,

orangtua, modal usaha.

5) Tahap V, terminasi. Dari pelayanan yang diberikan pihak rumah

singgah, diharapkan anak dapat mandiri, produktif, alih kerja,

menyatu dengan keluarga, boarding house/panti, income

generating (ortu)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa rumah singgah memang berperan aktif terhadap kehidupan anak jalanan. Rumah singgah berfungsi ganda dalam menangani anak jalanan, baik fungsi resosialisasi maupun fungsi kuratif. Rumah singgah diharapkan mampu mengembalikan fungsi sosial anak, melalui tahap-tahap yang dibuat oleh manajemen rumah singgah. Lokasi rumah singgah yang sengaja dibuat di tengah-tengah lingkungan massyarakat sebagai upaya mengenalkan kembali norma dan nilai yang ada di masyarakat bagi anak jalanan.

4. Kajian tentang Pendidikan Nonformal dalam Pemberdayaan Anak

Jalanan

a. Definisi Pendidikan Nonformal

Pendidikan dipandang sebagai proses belajar sepanjang hayat manusia. Artinya, pendidikan merupan upaya manusia untuk

mengubah dirinya ataupun orang lain selama ia hidup. Secara mendasar pendidikan formal, informal dan nonformal merupakan sebuah konsep pendidikan dalam rangka pendidikan sepanjang hayat dan belajar sepanjang hayat. Pendidikan nonformal merupakan sebuah layanan pendidikan alternatif bagi masyarakat yang tidak dibatasi dengan waktu, usia, jenis kelamin, ras (suku dan keturunan), kondisi sosial budaya, ekonomi, agama dan lain-lain.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 26 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Menurut H.M. Saleh Marzuki (2012: 137), yang dimaksud dengan pendidikan nonformal adalah :

Dokumen terkait