• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pada dinamika proses regulasi emosi ketiga responden mampu untuk tidak mengkonsumsi narkoba sebagai pilihan alternatif atau sebagai alat bantu dalam proses regulasi emosi, sehingga berhasil bertahan bersih dan tidak relapse.

2. Ketiga responden memiliki tujuan yang berbeda setelah memutuskan berhenti menggunakan narkoba. Heri dan Arki memiliki tujuan utama yang sama, yaitu bertahan bersih dari narkoba, sedangkan Dito memiliki tujuan utama yaitu menjadi seorang konselor adiksi yang kompeten. Tujuan lainnya yang dimiliki masing-masing responden adalah Heri bertujuan untuk membanggakan orang tua dan tidak mengecewakan support system-nya, Arki bertujuan untuk memperbaiki hidupnya yang sebelumnya hancur karena narkoba, dan Dito bertujuan untuk membahagiakan orang tuanya.

Tujuan yang dimiliki masing-masing responden mempengaruhi ketiga responden dalam membentuk pola regulasi emosi yang dianggap efektif.

3. Dari ketiga responden diketahui bahwa masalah yang pasti ditemui oleh mantan pengguna narkoba dalam proses recovery yang dijalani yaitu

prasangka dan stigma. Masalah stigma terbukti menjadi pemicu utama emosi negatif yang dirasakan oleh ketiga responden, yaitu marah, kecewa, stres, sedih, kesal, merasa sendirian, dan minder.

4. Ketiga responden mengembangkan pola regulasi emosi yang berbeda. Heri mengembangkan bentuk regulasi cognitive reappraisal dengan pola regulasi emosi situation selection, situation modification, attentional deployment, dan cognitive change hingga membentuk respon emosi merepet dan merokok. Arki dan Dito mengembangkan bentuk regulasi emosi yang sama, yaitu suppression, dengan pola regulasi emosi situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, dan response modulation.

5. Diantara kelima bagian yang terdapat dalam proses regulasi emosi, diketahui ketiga responden memiliki perbedaan dalam melalui setiap fase proses regulasi emosi. Ketika meregulasi emosi Heri jarang melakukan situation modification dan cognitive change, dan tidak melakukan response modulation. Arki hampir disetiap situasi melakukan semua fase dalam proses regulasi emosi, dan Dito jarang melakukan situation modification saat menghadapi situasi tidak menyenangkan.

6. Pada fase situation selection hanya dua orang responden yang melakukan strategi confrontation dan avoidance saat diperhadapkan dengan masalah, yaitu Heri dan Dito. Strategi avoidance tidak ditemukan pada Arki. Arki hanya menggunakan strategi confrontation saat mengalami masalah.

7. Pada fase situation modification strategi direct situation modification hanya

strategi help/support-seeking untuk memodifikasi situasi yang dialami dan hanya ada satu responden yang melakukan conflict resolution yaitu Arki.

8. Pada fase attentional deployment ketiga responden menggunakan strategi yang berbeda satu dengan yang lain. Heri menggunakan distraction dan rumination, Arki menggunakan rumination dan mindfulness, dan Dito hanya menggunakan mindfulness. Pada fase ini Heri memiliki peluang untuk relapse dibandingkan Arki dan Dito karena mengalihkan atensinya untuk mencari dan menggunakan narkoba kembali, meskipun pada akhirnya responden I tidak melakukannya.

9. Pada fase cognitive change ketiga responden menggunakan strategi yang berbeda. Heri menggunakan strategi challenge and threat appraisals, Arki menggunakan challenge and threat appraisals, positive reappraisal, dan acceptance, dan Dito menggunakan strategi acceptance.

10. Hanya ada dua responden yang masuk hingga tahap response modulation, yaitu Arki dan Dito. Arki pernah menggunakan verbal.physical aggression saat menerima prasangka. Namun, pada akhirnya Arki mengembangkan bentuk respon emotional sharing. Berbeda dengan Arki, Dito menggunakan bentuk respon emotional sharing saat diperhadapkan dengan stigma.

Persamaan dari kedua responden adalah sama-sama menggunakan expressive suppression pada situasi tertentu yang dinilai akan semakin memburuk jika masing-masing responden menampilkan emosi yang dirasakan pada perilakunya.

11. Bentuk respon emotional sharing dan expressive suppression dominan digunakan oleh responden Arki dan Dito. Arki dan Dito melatih keduanya

untuk mengarahkan dan mengekspresikan emosinya pada orang, waktu, dan situasi yang tepat.

12. Waktu yang dibutuhkan masing-masing responden hingga akhirnya memiliki pola regulasi emosi yang dianggap efektif untuk mengelola emosi mereka berbeda-beda. Heri membutuhkan kurang lebih 1 tahun untuk menemukan pola regulasi emosi yang sesuai untuknya. Arki membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun dari pasca relapse hingga akhirnya pola regulasi emosinya terbentuk. Heri membutuhkan waktu kurang lebih hampir 2 tahun hingga akhirnya memiliki pola regulasi emosi yang efektif untuk mengelola emosi yang dimiliki. Pola regulasi emosi yang dimiliki setiap responden memiliki dampak pada masing-masing responden, yaitu mampu untuk bertahan tetap bersih dan tidak relapse.

13. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola regulasi emosi ketiga responden berbeda satu dengan yang lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola regulasi emosi Heri adalah pola asuh orang tua, dukungan sosial dari orang tua dan teman-temannya, keinginannya membahagiakan orang tuanya, dan frekuensi melakukan pola regulasi emosi tersebut. Arki dan Dito memiliki faktor-faktor yang serupa, yaitu memahami dan mengetahui emosi tertentu yang dapat menjadi pemicu, hubungan dengan orang tua yang membaik, dan frekuensi dalam melakukan pola regulasi emosi. Faktor yang mempengaruhi regulasi dan terdapat diketiga responden adalah tujuan yang mereka miliki.

A. Saran 1. Saran Praktis

a. Mantan Pengguna Narkoba

Mantan pengguna narkoba perlu untuk memiliki tujuan yang mendorong dirinya untuk tetap berhenti menggunakan narkoba, mengenali kondisi emosi yang meningkatkan peluang relapse bagi diri mereka dan menemukan pola regulasi emosi yang efektif dan adaptif.

b. Rumah Rehabilitasi dan Konselor Adiksi

Rumah rehabilitasi dan konselor adiksi perlu untuk memberi edukasi dan pelatihan mengenai pentingnya kemampuan regulasi emosi dan cara meregulasi emosi yang efektif bagi para siswa di rumah rehabilitasi, untuk menurunkan peluang relapse saat menjalani proses recovery setelah keluar dari tempat rehabilitasi.

c. Masyarakat Umum

Badan Narkotika Nasional (BNN) perlu untuk mengedukasi masyarakat umum mengenai bahaya stigma bagi mantan pengguna narkoba dalam proses recovery serta dampaknya pada dinamika kondisi emosi mantan pengguna narkoba yang mudah terpengaruh stimuli dari lingkungan, dan pentingnya dukungan sosial dalam proses recovery seorang mantan pengguna narkoba termasuk pengaruh dukungan sosial terhadap kemampuan seorang mantan pengguna narkoba dalam meregulasi emosinya.

2. Saran Bagi Penelitian Selanjutnya

a. Penelitian ini masih dapat dikembangkan dengan menggunakan metode triangulasi, yaitu mengumpulkan data dari significant others para mantan pengguna narkoba. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai dinamika regulasi emosi dan faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba.

b. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti aspek-aspek lain yang dapat melengkapi kekurangan dari penelitian mengenai dinamika regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba sebagai upaya tidak relapse, seperti hubungan antara kepribadian dan dinamika regulasi emosi, pengaruh dukungan sosial (social support) terhadap dinamika regulasi emosi, dan aspek lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Aztri, S. (2013). Rasa Berharga Dan Pelajaran Hidup Mencegah Kekambuhan Kembali Pada Pecandu Narkoba Studi Kualitatif Fenomenologis. Jurnal Psikologi, Vol. 9(1), Hal. 48-63.

BNN RI. (2017). Laporan Kinerja Badan Narkotika Nasional Tahun 2017.

Jakarta Timur: Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.

BNN RI, Company Profile BNN, Jakarta: Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, 2013.

Choopan, et. al. (2016). Effectiveness of Emotion Regulation Training on the Reduction of Craving in Drug Abusers. Addict Health, Vol. 8(2), Hal. 68-75.

Febrinabilah, R., & Listiyandini, R., A. (2016). Hubungan antara Self

Compassion dengan Resiliensi pada Mantan Pengguna Narkoba Dewasa Awal. Prosiding Konferensi Nasional Peneliti Muda Psikologi Indonesia.

Vol. 1(1), Hal. 19-28.

Feist, J., & Feist, G. (2010). Teori Kepribadian, Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Fitrianti, Nurul. (2011). Pengaruh antara Kematangan Emosi dan Self-eficacy terhadap Craving pada Mantan Pengguna Narkoba. INSAN, Vol. 13, Hal.

106-117.

Ghufron, M., & Rini, R., S. (2010). Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-Ruaa Media.

Gross, J. J. (2014). Handbook of Emotion Regulation (2nd Edition). New York:

The Guilford Press, A Division of Guilford Publications, Inc.

Ikanovitasari, C., & Sudarji, S. (2017). Gambaran Resiliensi pada Mantan Pengguna Narkoba. Jurnal Unissula.

Informasi Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (Info DATIN). (2017).

Anti Narkoba Sedunia. Jakarta Selatan: Kementerian Kesehatan RI.

Johanna, P. (2017). Regulasi Emosi pada Istri Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga Keluarga Kristen dalam Menjalani Fase-fase Forgiveness. Tesis Publikasi. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Marlatt, G., A., & Donovan, D., M. (2005). Relapse Prevention, 2nd Edition:

Maintenance Strategies in the Treatment of Addictive Behaviors.

New York: Guilford Press.

Nejad, et al. (2017). Effectiveness of Emotion Regulation training on increasing self-efficacy and well-being in drug-dependent individuals. JOHE, Vol.

6(1), 9-16.

Nurfatimah, U. (2015). Profil Resiliensi Mantan Pengguna Narkoba (Studi Kasus di Balai Besar Rehabilitasi Narkoba, BNN, Lido). Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 4(2), 110-116.

Poerwandari. E. K. (2009). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia Edisi Ketiga. Depok: LPSP3 UI.

Rosyidah, R., Nurdibyanandaru, D. (2010). Dinamika Emosi Pecandu Narkotika dalam Masa Pemulihan. Jurnal INSAN, Vol. 12, 113-118.

Safitri, L., D. (2015). Resiliensi pada Mantan Penyalahguna Napza.

Jurnal Bimbingan dan Konseling. Vol. 4(4).

Sarafino, E. P., Smith, T. W. (2011). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions 7th Edition. United States of America: John Wiley & Sons, Inc.

Sarrionandia, A., Mikolajczak, M. (2015). Integrating Emotion Regulation and Emotional Intelligence Traditions: A Meta-analysis. Spain: Pablo Fernandez-Berrocal, Univesity of Malaga.

Sattler, et. al., (2017). Public Stigma Toward People with Drug Addiction: A Factorial Survey. Journal of studies on alcohol and drugs/May 2017, 415-425).

Shaffer, et. al., (2012). APA Handbooks in Psychology: Addiction Syndrome Handbook. Washington, DC: American Psychological Association.

Sinaga, Y. (2017). Efektivitas “Group Cognitive Behavioral Therapy” dalam Meningkatkan “Abstinence Self Efficacy” Pengguna pada Masa Pemulihan di Pusat Rehabilitasi Kota Medan. Jurnal Psychomutiara, Vol. 1(1), 59-71.

Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan - Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Utami, P. (2015). Resiliensi pada Mantan Pengguna Narkoba. (Skripsi

dipublikasikan). Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau: Riau.

Widianingsih, R., & Widyarini, N. 2009. Dukungan Orang Tua dan Penyesuaian Diri Remaja Mantan Pengguna Narkoba. Jurnal Psikologi. Vol. 3(1). Hal.

Upaya Pencegahan Relapse pada Penyalahguna Napza Pasca Rehabilitasi di Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Psikoborneo. Vol. 6(2), Hal. 420-434.

Yusuf. A. M. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri.

Zatalini, V. 2018. Resiliensi Mantan Pengguna Narkoba yang Menjadi Konselor.

Jurnal Psikologi Pendidikan. Vol.05(01).

Lampiran I

INFORMED CONSENT

Lembar Pernyataan Persetujuan Responden

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama/Inisial :

Alamat :

Usia :

Dengan secara sukarela dan tanpa ada unsur paksaan dari siapapun bersedia untuk diwawancarai sebagai responden yang akan berpartisipasi dari awal hingga selesai dalam penelitian saudara:

Nama : Yulius Christian Tulus Pangaribuan NIM : 141301093

Umur : 23 tahun

Alamat : Gang Beo No. 9A, Tanjung Sari, Medan Pekerjaan : Mahasiswa

Judul : Dinamika Regulasi Emosi pada Mantan Pengguna Narkoba sebagai Upaya Tidak Relapse

Dengan ketentuan:

1. Peneliti harus menjelaskan secara lengkap penelitian yang sedang dikerjakan, termasuk tujuan dan manfaat dari penelitian.

2. Peneliti akan menjaga kerahasiaan informasi terkait identitas diri responden dan hanya menggunakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan tujuan penelitian saja.

Demikianlah surat pernyataan ini saya setujui dalam keadaan sadar dan tanpa ada tekanan dan paksaan dari pihak manapun.

Medan, ……….. 2018 Responden,

Dokumen terkait