DINAMIKA REGULASI EMOSI PADA MANTAN PENGGUNA NARKOBA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Universitas Sumatera Utara
Oleh:
YULIUS CHRISTIAN TULUS PANGARIBUAN NIM:141301093
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
Dinamika Regulasi Emosi pada Mantan Pengguna Narkoba
Yulius Christian Tulus Pangaribuan dan Josetta Tuapattinaja Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba sebagai upaya untuk tidak relapse. Proses regulasi emosi berfokus pada proses yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan, atau mengurangi respon emosi dengan strategi regulasi emosi yang sesuai dengan masing-masing mantan pengguna narkoba agar tidak kembali relapse. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Metode pengambilan data yang digunakan adalah dengan wawancara dengan jumlah responden sebanyak 3 orang. Hasil penelitian menunjukkan dalam dinamika meregulasi emosi responden I, II, dan III berhasil meregulasi emosi tanpa menggunakan bantuan narkoba. Ketiga responden mengembangkan pola bentuk regulasi yang sesuai dengan masing-masing responden, yaitu responden I mengembangkan bentuk cognitive reappraisal, responden II dan III mengembangkan bentuk suppression. Faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika regulasi emosi ketiga responden adalah tujuan yang dimiliki, pola asuh, dukungan sosial, pemahaman mengenai emosi yang dapat menjadi pemicu, keinginan membahagiakan orang tua, hubungan dengan orang tua yang membaik, dan frekuensi melakukan pola regulasi emosi.
Kata kunci: Dinamika regulasi emosi, mantan pengguna narkoba, relapse
The Dynamics of Emotion Regulation in Former Drug Users
Yulius Christian Tulus Pangaribuan dan Josetta Tuapattinaja Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
ABSTRACT
This study aims to determine the dynamics of emotional regulation in former drug users in an effort not to relapse. The process of emotion regulation focuses on processes that aim to increase, maintain, or reduce emotional responses with emotional regulation strategies that are appropriate for each former drug user so as not to relapse again. This study uses qualitative research methods with a phenomenological approach. Data collection methods used were interviews with the number of respondents as many as 3 people. The results showed in the dynamics of regulating the emotions of respondents I, II, and III managed to regulate emotions without using drugs. The three respondents developed a form of regulation that was in accordance with each respondent, namely respondent I developed a form of cognitive reappraisal, respondents II and III developed a form of suppression. Factors that influence the dynamics of emotional regulation of the three respondents are the goals they have, parenting parents, social support, understanding of emotions that can be triggers, desires to make parents happy, relationships with parents are improved, and the frequency of emotional regulation patterns.
Keywords: Emotion regulation dynamics, former drug users, relapse
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis persembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas hikmat yang dianugerahkan kepada peneliti selama proses penyusunan skripsi hingga dapat diselesaikan dan dipertanggungjawabkan dengan baik. Penyusunan skripsi merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Selama perjalanan penyusunan skripsi peneliti banyak memperoleh bantuan, baik secara moril maupun materi, dari orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam semesta peneliti.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Jajaran dekanat Universitas Sumatera Utara, yaitu Bapak Prof. Zulkarnaen Ph.D., Psikolog, Bapak Eka Danta Jaya Ginting, MA, Psikolog, Bapak Ferry Novliadi, M.Si, dan Ibu Rika Eliana, M.Psi, Psikolog, yang sudah menyediakan fasilitas dan pelayanan kepada peneliti selama menjalankan studi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara,
2. Ibu Josetta M. R. Tuapattinaja, M.Psi., Psikolog, selaku dosen pembimbing skripsi yang sudah meluangkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing, mengarahkan, dan membantu peneliti dari tahap penulisan dan pelaksanaan penelitian, hingga akhirnya dapat dipertanggungjawabkan pada sidang skripsi pada tanggal 5 November 2019. Peneliti juga memohon maaf sebesar-besarnya kepada ibu untuk setiap sikap dan tutur kata peneliti yang menyinggung dan tidak berkenan dihati ibu,
3. Ibu Raras Sutatminingsih, Ph.D, Psikolog dan ibu Rahma Fauzia, M.Psi, Psikolog, selaku dosen penguji II dan III yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan peneliti
4. Bapak Eka Danta Jaya Ginting, MA, Psikolog, selaku dosen pembimbing akademik yang selalu siap memberikan pertimbangan dan arahan kepada peneliti selama proses perkuliahan,
5. Seluruh dosen, staf dan pegawai Fakultas Psikologi Sumatera Utara yang telah banyak memberikan dukungan dan bantuan selama proses perkuliahan,
6. Para responden penelitian yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membagikan kisah perjuangannya untuk bebas dari narkoba yang sangat menginspirasi saya. Semoga Tuhan pemilik semesta selalu memberkati dan menyertai abang-abang semua,
7. Orang tua peneliti, alm. Bapak Benny Pangaribuan (ayah) dan Ibu Lisbet Hutagaol, S.Pd (ibu), yang telah berjerih payah dalam merawat, mendidik, dan mendukung, serta memenuhi kebutuhan peneliti, baik kebutuhan moril dan materil, hingga peneliti dapat menyelesaikan studi. Begitu juga kepada kedua adik peneliti, yaitu Yosua Hisar Hotma Rasi Pangaribuan dan Moses Anugrah Pangaribuan yang selalu memberi dukungan kepada peneliti.
8. Felysa Santika Saragih, wanita yang punya makna besar bagi peneliti, yang meyakinkan bahwa setiap masalah yang ditemui tidak harus digumulkan sendiri. Terima kasih untuk setahun penuh menjadi penolong yang setia, pendamping yang sabar, dan pendengar yang baik, hingga peneliti dapat menyelesaikan dan mempertanggungjawabkan skripsi peneliti dihadapan dosen penguji. Tetaplah turut serta dalam proses yang selanjutnya akan menghampiri setelah ini. Aku mengasihimu.
9. Ailsie (Florencia, Intan, dan Kak Esther), kelompok kecil yang dianugerahkan Tuhan kepada peneliti sebagai keluarga kedua yang hadir dalam fase kehidupan studi peneliti. Terima kasih sudah menjadi tempat berbagi dan tempat saling menguatkan. Terkhususnya untuk Kak Esther. Terima kasih karena sudah memberikan peneliti kesempatan untuk merasakan menjadi seorang adik yang mempunyai kakak yang peduli dengan kondisi adiknya, terlebih dimasa-masa penyusunan skripsi yang cukup sulit dan menguras pikiran dan emosi.
10. Apeles (Exaudi dan Andre), kelompok kecil yang dipercayakan Tuhan untuk peneliti pimpin. Untuk adik-adik kelompok peneliti, terima kasih untuk dukungan doa yang diberikan kepada peneliti.
11. Amadeus Ignatia (Bang Sam, Bang Doko, dan Suci) untuk tawa dan ghibah soal perbarangan, mantan penghuni kost hutapea (Rico, Iwan, dan Ishak) untuk ketidakwarasan, perilaku bar-bar, dan kesediaan untuk saling support, sehingga membuat peneliti lupa terhadap eksistensi masalah, dan pihak-pihak lainnya yang tak dapat disebutkan satu per satu, karena sudah memberi ragam warna dalam salah satu fase hidup peneliti.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu peneliti menerima dan menghargai setiap kritik dan saran dari berbagai pihak agar dapat menghasilkan penulisan ilmiah yang lebih baik dimasa mendatang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pelaksanaan penelitian selanjutnya dan menambah wawasan bagi semua pihak.
Medan, 15 Januari 2020
Yulius Christian Tulus Pangaribuan
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ABSTRAK
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian... 8
D. Manfaat Penelitian... 8
E. Sistematika Penulisan ... 9
F. Kerangka Berpikir ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
A. Regulasi Emosi ... 12
1. Definisi Regulasi Emosi ... 12
2. Ciri-ciri Regulasi Emosi ... 13
3. Strategi Regulasi Emosi ... 14
4. Bentuk Regulasi Emosi ... 19
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi ... 19
6. Regulasi Emosi pada Usia Dewasa ... 21
B. Mantan Pengguna Narkoba dan Relapse ... 21
1. Definisi Mantan Pengguna Narkoba ... 21
2. Definisi Relapse ... 22
C. Prasangka (Prejudice), Stigma dan Dukungan Sosial (Social Support)... 23
1. Prasangka ... 23
2. Stigma ... 23
3. Dukungan Sosial (Social Support) ... 23
D. Dinamika Regulasi Emosi pada Mantan Pengguna Narkoba sebagai Upaya Tidak Relapse ... 25
E. Paradigma Teori ... 28
BAB III METODE PENELITIAN ... 29
A. Jenis Penelitian ... 29
B. Responden Penelitian ... 29
C. Prosedur Penelitian ... 30
D. Metode Pengumpulan Data ... 32
E. Metode Analisis Data ... 33
F. Kredibilitas Data ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37
A. Hasil Penelitian ... 37
1. Responden I ... 37
2. Responden II ... 54
3. Responden III ... 75
B. Pembahasan ... 93
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 101
A. Kesimpulan... 101
B. Saran ... 105
DAFTAR PUSTAKA ... 107
LAMPIRAN ... 110
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Dinamika Regulasi Emosi Responden I... 51
Tabel 2. Dinamika Regulasi Emosi Responden II ... 72
Tabel 3. Dinamika Regulasi Emosi Responden III ... 86
Tabel 4. Rekapitulasi Data Responden ... 89
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Bepikir Dinamika Regulasi Emosi pada Mantan
Pengguna Narkoba ... 11
Gambar 2. Proses Regulasi Emosi Gross ... 18
Gambar 3. Paradigma Teori Penelitian ... 28
Gamabr 4. Dinamika Regulasi Emosi Responden I ... 53
Gambar 5. Dinamika Regulasi Emosi Responden II ... 74
Gambar 6. Dinamika Regulasi Emosi Responden III ... 88
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mencermati perkembangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba akhir-akhir ini telah merambah ke seluruh wilayah yang ada di Indonesia. Data prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia sejak tahun 2012 hingga 2016 berdasarkan pendataan jumlah kasus yang berhasil diungkap mengalami kenaikan rata-rata pertahun sebesar 76.53% (InfoDatin, 2017). Penyakit endemik dalam masyarakat ini umumnya menjangkit remaja dan dewasa muda (Ariesta, dalam Sinaga, 2017). Dampak dari penyalahgunaan narkoba adalah menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan pada korbannya (InfoDatin, 2017). Untuk menanggulangi dampak tersebut pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan peningkatan upaya pencegahan dan kemampuan fasilitas rumah rehabilitasi, baik milik pemerintah maupun komponen masyarakat.
Rehabilitasi adalah seperangkat tindakan guna membantu individu yang mengalami atau seperti mengalami disabilitas untuk mencapai dan mempertahankan fungsi optimal dalam interaksi dengan lingkungan (Laporan BNN, 2017: 35). Untuk menyokong keberhasilan kegiatan rehabilatasi, BNN melakukan peningkatan fasilitas rehabilitasi kemampuan berjumlah 849 fasilitas yang terdiri dari 513 fasilitas rehabilitasi milik instansi pemerintah dan 336 fasilitas rehabilitasi milik komponen masyarakat (Laporan BNN, 2017).
Peningkatan ini dilakukan sebagai bentuk usaha penanggulangan dan pemulihan masalah narkoba agar dapat kembali ke lingkungan masyarakat dan dapat bekerja serta belajar dengan layak.
Seorang mantan pengguna narkoba memiliki tujuan baru setelah keluar dari rehabilitasi, yaitu menjaga dirinya agar tidak kembali menggunakan narkoba.
“…..temen-temen yang sudah pulih punya visi berhenti menggunakan drugs, tidak mempunyai rasa lagi untuk menggunakan drugs. Ini ternyata makna sebenarnya,”(Komunikasi Personal, 4 September 2018).
Namun pada kenyataannya menjalani proses pemulihan dan mempertahankan status clean pada seorang mantan pengguna bukanlah perkara yang mudah.
Serangkaian program rehabilitasi yang pernah dijalani seorang mantan pengguna narkoba tidak menjamin dirinya dapat pulih seutuhnya. Kasus yang umum terjadi dilapangan ketika seorang mantan pengguna menjalani proses pemulihan dan mempertahankan status bersihnya adalah mengalami relapse, terutama di masa 6 bulan awal setelah memutuskan untuk berhenti menggunakan narkoba; periode yang memiliki resiko relapse sangat besar; sehingga harus kembali menjalani program rehabilitasi (Shaffer, et. al, 2012; Laporan BNN, 2017). Pernyataan ini didukung data yang diperoleh dari pusat data dan informasi Kemenkes RI tahun 2016, dari 22.485 pengguna narkotika yang mendapatkan layanan rehabilitasi, yang mampu bertahan dan tidak mengalami relapse pasca menjalani rehabilitasi hanya sebanyak 7.292 mantan pengguna (InfoDatin, 2017).
Marlatt dan Witkiewitz (Marlatt & Donovan, 2005) mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penentu seorang mantan pengguna narkoba relapse, yaitu rendahnya efikasi diri, kondisi emosi, buruknya coping, high-craving,
berdasarkan studi kualitatif mengenai relapse episodes menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara emosi negatif dan relapse sehingga faktor emosi negatif menjadi prediktor relapse paling kuat. Baker dan rekan-rekannya (dalam Marlatt, et. al, 2005) juga mengatakan bahwa emosi negatif menjadi motif utama individu menggunakan narkoba. Sarafino (Sarafino & Smith, 2011) mengatakan emosi negatif dapat menjadi faktor penyebab relapse karena seorang mantan pengguna dulunya terbiasa meregulasi emosi dengan menggunakan narkoba.
Ketidakmampuan dalam meregulasi emosi menjadi motivasi untuk memilih kembali menggunakan narkoba sebagai upaya untuk mengubah alur dan bentuk emosi pada seorang mantan pengguna narkoba (Kober, dalam Gross 2014).
Data yang diperoleh peneliti baik melalui komunikasi personal, beberapa jurnal, dan artikel menunjukkan hal yang serupa. Emosi negatif yang muncul, seperti marah, sedih, dan kecewa, rentan membuat seorang mantan pengguna narkoba berpikiran untuk kembali menggunakan narkoba. Emosi negatif yang dialami kerap kali dipicu oleh situasi negatif yang disebabkan lingkungan sekitarnya (Nurfatimah, 2015; Safitri, 2015; Ikanovitasari & Sudarji, 2017;
Zatalini, 2018). Dikutip dari laman resmi BNN (bnn.go.id, 4 Maret 2013) Dr.
Jody yang merupakan salah seorang staf di Pasca Rehabilitasi BNN, mengatakan bahwa dari hasil FGD (Foucs Group Discussion) yang telah dilakukan, situasi negatif berupa penerimaan stigma dari lingkungan sekitar mantan pengguna narkoba menjadi permasalahan besar yang masih sering ditemui. Tidak jauh berbeda hasil temuan Sattler, et. al, (2017) menemukan bahwa stigma menjadi isu utama dan menjadi hambatan dalam proses pencegahan dan recovery pada kasus adiksi narkoba. Hal ini semakin diperkuat temuan peneliti pada saat melakukan
wawancara bersama subjek N yang merupakan seorang mantan pengguna narkoba. Pada wawancara yang dilakukan pada tanggal 4 September 2018 di salah satu café yang ada di Kota Medan, N menceritakan kejadian saat dirinya menerima stigma dari abang kandungnya.
“Kebetulan terjadi di bulan 4 kemarin. Aset saya terjual. Tapi, ya itu dia tadi (stigma). Saya kira dengan mereka (keluarga) mengatakan percaya sama saya, mereka sepenuhnya percaya sama saya. Jadi kebetulan aset almarhum ibu saya ini sudah terjual, dan ternyata uangnya sama abang saya yang semua. Saya merasa ga terima dong pada saat itu. Padahal saya butuh banget itu uang. Bukannya untuk apa-apa saya mau beli rumah untuk saya tinggal. Mereka berfikiran mungkin sih untuk membeli hal-hal yang ga penting. Padahal saya bilang pada saat itu „saya jual ini karena saya mau beli rumah. Saya menikah hampir dua tahun rumah masih nyewa. Tempat usaha saya aja masih nyewa‟, saya bilang.
Terjadilah konflik. Saya bingung. Saya merasa kacau. Disaat saya mencoba untuk tetap bersih, disaat saya mencoba menjalani kehidupan dengan baik, kenapa dari keluarga saya sendiri yang merusak itu? Saya merasa kecewa. Saya merasa tidak mempunyai kepercayaan. Saya merasa semua hal yang sudah saya lakuin ini sia- sia. Kenapa bisa seperti itu? Monster yang ada di kepala saya hampir mau ambil alih pada saat itu. „Ngapain mikirin mereka. Kayaknya kalau make (lagi) enak nih‟.” (Komunikasi Personal, 4 September 2018).
Adanya stigma yang diperoleh N dari keluarganya memicu timbulnya emosi negatif pada N, yaitu kecewa, bingung, kacau, dan merasa usaha yang dilakukannya untuk menjalani hidup dengan baik adalah sia-sia. Emosi negatif yang dirasakan membuat N berfikiran untuk kembali menggunakan narkoba.
Safitri (2015) dalam penelitiannya menemukan bahwa masalah stigma yang terbentuk di lingkungan sekitar mantan pengguna; baik dari keluarga, teman, dan lingkungan tempat tinggal; menjadi faktor yang mempengaruhi kondisi emosi mantan pengguna narkoba.dalam proses adaptasi. Ketika seorang mantan pengguna narkoba memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik maka dirinya mampu untuk bertahan tidak menggunakan narkoba kembali dan beradaptasi dalam lingkungan yang menekan baginya. Namun, seorang mantan pengguna
menetralkan emosi negatif yang muncul ketika dirinya tidak memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik (Kober, dalam Gross, 2014).
Regulasi emosi menjadi sorotan ketika berbicara mengenai kemampuan seorang mantan pengguna narkoba dalam mengatasi dan beradaptasi terhadap masalah yang dialami. Rosyidah dan Nurdibyanandaru (2010) dalam penelitianya menemukan bahwa selama proses pemulihan yang dijalani seorang mantan pengguna narkoba mengalami perubahan-perubahan emosi (dinamika emosi).
Dinamika emosi yang tidak diregulasi dengan baik oleh responden-responden pada penelitian Rosyidah dan Nurdibyanandaru yang telah berhenti menggunakan narkoba selama kurang lebih 2 bulan dan 5 tahun, berakibat responden-reponden pada penelitian tersebut mengalami relapse. Nurfatimah (2015) dalam penelitiannya mengenai profil resiliensi mantan pengguna narkoba menunjukkan bahwa kemampuan regulasi emosi yang baik penting untuk dimiliki seorang mantan pengguna narkoba agar dapat beradaptasi dan mengatasi peristiwa berat atau masalah-masalah yang dialami. Hal ini dapat dilihat dari respon subjek penelitian Nurfatimah yang menunjukkan perlunya untuk mengekspresikan emosi-emosi negatif (marah, kecewa, dan sebagainya) dengan mempertimbangkan kepada siapa emosi-emosi tersebut diekspresikan atau mengalihkannya dengan melakukan kegiatan yang digemari. Kemampuan regulasi emosi yang baik juga memampukan seorang mantan pengguna narkoba untuk memahami kebaikan yang dimiliki dirinya ketika mengalami kegagalan, dan tidak menghakimi diri sendiri dengan berlebihan ketika melakukan sebuah kesalahan (Febrinabilah &
Listiyandini, 2016).
Seorang mantan pengguna narkoba penting untuk memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik karena mampu memberi dampak terhadap well-being dan self-efficacy yang dimiliki. Hal ini ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Nejad (Nejad, et. al, 2017). Hasil penelitian yang diperoleh Nejad menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan well-being yang dimiliki seorang mantan pengguna narkoba. Selain memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan well-being, hasil yang diperoleh Nejad dalam penelitiannya menunjukkan bahwa pelatihan regulasi emosi juga memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan self-efficacy, sehingga menaikkan peluang seorang mantan pengguna mampu bertahan untuk tidak relapse. Selain memiliki pengaruh signifikan terhadap well-being dan self-efficacy (efikasi diri), regulasi emosi juga dapat mengurangi craving. Choopan, Kalantarkousheh, Aazami, Doostian, dan Farhoudian (2016) mengatakan bahwa hasil dari implementasi pelatihan regulasi emosi yang dilakukan mampu menurunkan craving pada mantan pengguna narkoba. Dari hasil penelitiannya, Choopan (Choopan, et. al, 2016) juga mengatakan bahwa emosi negatif dan kegagalan dalam meregulasi emosi menjadi stimulus bagi individu dengan riwayat pengguna narkoba untuk terus menggunakan narkoba. Ketidakmampuan tersebut memaksa individu mencari cara cepat untuk menyingkirkan emosi tersebut.
Pada penelitian berbeda hasil yang diperoleh menunjukkan ada faktor lain yang memiliki signifikansi terhadap kecenderungan relapse pada seorang mantan pengguna narkoba. Hasil penelitian yang diperoleh oleh Fitrianti (2011)
terhadap craving pada seorang mantan pengguna narkoba, yaitu kematangan emosi, efikasi diri (self-efficacy), manajemen stres, dan kemampuan koping (coping skills). Aztri (2013) dalam penelitiannya juga menemukan faktor-faktor berbeda yang dapat menjadi penyebab seorang mantan pengguna narkoba dapat mengalami relapse. Hasil penelitian Aztri (2013) menunjukkan bahwa faktor kelompok teman sebaya yang negatif, dukungan sosial, dan harapan akan masa depan dapat menjadi faktor-faktor penentu seorang mantan pengguna narkoba dapat kembali relapse.
Berdasarkan hasil penelitian dari peneliti-peneliti yang sebelumnya telah meneliti kemungkinan dan kecenderungan relapse pada mantan pengguna narkoba, diperoleh hasil yang menunjukkan ada faktor-faktor lainnya seperti efikasi diri, kematangan emosi, dukungan sosial, pengaruh teman sebaya yang negatif, dan harapan akan masa depan yang mempengaruhi kemungkinan seorang mantan pengguna narkoba mengalami relapse atau tidak. Namun, peneliti belum ada menemukan penelitian yang meniliti tentang gambaran dinamika regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba dalam mengupayakan dirinya untuk tetap clean dan tidak mengalami relapse. Peneliti tertarik untuk meneliti dinamika regulasi emosi pada mantan pengguna dikarenakan kemampuan regulasi emosi yang dimiliki seorang mantan pengguna narkoba tentu tidak sama satu dengan yang lainnya. Proses yang dialami ketika meregulasi emosi yang ada pun tidak sama satu dengan yang lain. Proses regulasi emosi yang dialami seorang mantan pengguna narkoba dapat memberikan gambaran apakah dirinya mampu untuk mempertahankan status clean-nya atau malah akan mengalami relapse. Oleh karena itu, peneliti ingin mengeksplorasi dinamika regulasi emosi pada mantan
pengguna narkoba sebagai upaya tidak relapse dan ingin mengetahui bagaimana faktor-faktor lainnya mempengaruhi proses regulasi emosi pada mantan pengguna sebagai upaya tidak relapse.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan yaitu bagaimana dinamika proses regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba sebagai upaya tidak relapse.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui dinamika proses regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba sebagai upaya tidak relapse.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih berupa informasi dan pengembangan teori dalam bidang psikologi klinis mengenai dinamika regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba sebagai salah satu upaya dalam mencegah terjadinya relapse. Penelitian ini juga diharapkan mampu sebagai bahan acuan dan penunjang untuk penelitian-penelitian selanjutnya terkait dengan dinamika regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba.
2. Manfaat Praktis
a. Pada Mantan Pengguna Narkoba
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pentingnya regulasi emosi kepada para mantan pengguna narkoba, agar dapat
melatih diri dalam meregulasi emosi yang efektif untuk mencegah terjadinya relapse.
b. Pada Masyarakat Luas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengedukasi dan menambah wawasan masyarakat tentang pentingnya regulasi emosi bagi para mantan pengguna narkoba sebagai upaya mencegah relapse.
c. Pada Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi para peneliti lainnya yang berminat untuk meneliti lebih jauh dan mendalam mengenai regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba sebagai upaya mencegah relapse, sehingga menambah informasi baru yang belum terkaji dalam penelitian ini.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan proposal penelitian ini adalah:
1. Bab I (Pendahuluan)
Berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan penelitian, dan kerangka berpikir penelitian.
2. Bab II (Landasan Teori)
Berisikan teori yang digunakan sebagai landasan penelitian dan dinamika teori yang digunakan.
3. Bab III (Metode Penelitian)
Berisikan penjelasan mengenai metode peneletian yang digunakan, metode pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data penelitian, responden penelitian, prosedur penelitian, dan prosedur analisis data.
4. Bab IV (Analisis Data dan Interpretasi)
Berisi deskripsi data responden, analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data yang dilakukan dan pembahasan data-data penelitian dengan teori yang relevan.
5. Bab V (Kesimpulan dan Saran)
Menjabarkan kesimpulan dari penelitian ini serta saran-saran yang dianjurkan untuk penelitian selanjutnya dengan tema yang sama dengan penelitian ini.
F. Kerangka Berpikir
Gambar 1. Kerangka Berpikir Dinamika Regulasi Emosi pada Mantan Pengguna Narkoba
Pengguna Narkoba
Mantan Pengguna Rehabilitasi
Stigma
Emosi Positif Emosi Negatif
Regulasi Emosi Buruk
Regulasi Emosi Baik
Relapse Tidak Relapse Emosi Negatif
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Regulasi Emosi
1. Definisi Regulasi Emosi
Emosi adalah respon afektif yang dengan bebas digambarkan dan dikaitkan dengan perubahan pada perilaku (bagaimana seseorang bereaksi), pengalaman subjektif (bagaimana seseorang merasakan sesuatu), dan fisiologis (bagaimana tubuh memberikan respon) (Gleitman, et. al, 2011). Emosi positif (bahagia, senang, haru) dan emosi negatif (jijik, kesal, kecewa, dan duka) merupakan bentuk emosi yang biasanya dimunculkan oleh individu. Emosi muncul ketika individu diperhadapkan pada sebuah situasi yang dinilai relevan dengan tujuan yang individu miliki (menetap atau sementara). Emosi bisa menjadi sangat membantu dan juga menjadi sangat membahayakan ketika jenis emosi, intensitas, atau durasi kemunculan tidak sesuai dengan situasi tertentu.
Regulasi emosi adalah proses yang terjadi secara otomatis atau dikendalikan, disadari atau tidak disadari untuk meningkatkan, mempertahankan, atau mengurangi respon emosional yang relevan dengan tujuan dari individu (Koole, 2009; Gross & Thompson, 2007). Gross (2014) mengatakan regulasi emosi adalah strategi yang digunakan individu untuk mengekspresikan emosi yang dimiliki pada waktu yang dikehendaki oleh individu tersebut (bagaimana emosi diregulasi bukan bagaimana emosi meregulasi). Thompson (1991) menjelaskan bahwa regulasi emosi merupakan proses ekstrinsik dan intrinsik yang
memodifikasi (modifying) reaksi emosi khususnya intensitas dan bentuk respon emosi untuk mencapai tujuan yang individu miliki. Proses regulasi emosi yang efektif adalah ketika individu mampu untuk fleksibel dalam mengelola respon emosi dan menyesuaikannya dengan tuntutan lingkungan.
Berdasarkan beberapa definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa regulasi emosi adalah proses yang disadari atau tidak disadari untuk meningkatkan, mempertahankan, atau mengurangi respon emosional dengan menggunakan strategi yang relevan dengan tujuan individu.
2. Ciri-ciri Regulasi Emosi
Gross (2014) mengatakan bahwa berbagai bentuk aktivitas dapat dikategorikan sebagai bentuk dari regulasi emosi. Oleh karena begitu banyaknya dan tidak memiliki batas yang jelas untuk mengkualifikasikan sebuah aktivitas merupakan bentuk dari regulasi emosi, Gross menjabarkan ciri-ciri utama dari regulasi emosi sebagai berikut:
a. Activation of a goal to modify the emotion-generative process
Ciri pertama dari regulasi emosi adalah tujuan menggerakkan proses regulasi emosi (activation of a goal) untuk merubah proses emosi. Tujuan yang muncul dapat berasal dari diri individu (intrinsic emotion regulation/regulasi emosi intrinsik) atau orang lain dan lingkungan (extrinsic emotion regulation/
regulasi emosi ekstrinsik).
b. Engagement of the processes that are responsible for altering the emotion trajectory
Ciri kedua dari regulasi emosi adalah melibatkan proses untuk mengubah lintasan emosi. Proses-proses yang terjadi bervariasi, bisa secara eksplisit (disadari) dan implisit (tanpa disadari).
c. Impact on emotion dynamics
Ciri ketiga dari regulasi emosi adalah memiliki dampak pada dinamika emosi individu. Dampaknya terkait dengan menetap tidaknya suatu respon emosi, waktu munculnya, besarnya, durasinya, dan kemampuan menyeimbangkan respon pada domain pengalaman, perilaku, dan fisiologis.
Gross mengatakan ketiga ciri-ciri ini merupakan ciri-ciri umum yang ditemukan pada beragam bentuk regulasi emosi yang ada. Lebih lanjut Gross menyimpulkan ketiga ciri-ciri utama ini sebagai bagian yang terdapat dalam regulasi emosi, yaitu tujuan regulasi emosi, strategi regulasi emosi, dan hasil (bentuk) regulasi emosi.
3. Strategi Regulasi Emosi
Koole (2009) mengatakan strategi regulasi emosi mengarah pada pendekatan konkrit yang individu ambil dalam mengelola emosinya. Tidak jauh berbeda dengan Koole, Gross (2014) mendefinisikan stragegi regulasi emosi sebagai proses-proses tertentu yang digunakan oleh individu dengan maksud mencapai tujuan dimiliki. Lebih lanjut Gross mengatakan bahwa apapun tujuan individu meregulasi emosinya, individu dapat menggunakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai tujuan tersebut. Berikut 5 (lima) bentuk strategi regulasi
a. Situation Selection (Pemilihan Situasi)
Strategi dalam meregulasi emosi berupa memilih situasi dengan tujuan mengubah bentuk atau mengurangi intensitas emosi yang dirasakan. Sarrionandia (2015) mengatakan ada dua strategi dalam tahap ini, yaitu:
Confrontation
Strategi pada situation selection, yaitu individu memilih untuk menghadapi situasi yang terjadi meskipun ada kemungkinan atau potensi individu merasakan emosi negatif.
Avoidance
Strategi lainnya pada situation selection, yaitu memilih untuk menghindari situasi yang terjadi.
b. Situation Modification (Modifikasi Situasi)
Strategi dalam regulasi emosi berupa merubah atau memodifikasi situasi dan kondisi di lingkungan individu dengan tujuan mengubah bentuk atau mengurangi intensitas emosi yang dirasakan. Sarrionandia (2015) mengatakan ada tiga strategi yang menjadi perhatian pada situation modification, yaitu:
Direct Situation Modification
Strategi pada situation modification, yaitu individu mengambil tindakan praktis yang memberikan dampak langsung pada situasi yang dialami.
Support-seeking
Strategi pada situation modification, yaitu individu mencari bantuan orang lain untuk memodifikasi atau merubah situasi yang dialami.
Conflict Resolution
Strategi pada situation modification, yaitu individu mengambil langkah untuk memodifikasi atau meredakan situasi konflik yang dialami.
c. Attentional Deployment
Strategi dalam regulasi emosi berupa mengarahkan atensi/perhatian pada situasi tertentu dengan tujuan mengubah, mengurangi intentsitas, atau mempertahankan emosi yang dimiliki agar relevan dengan tujuan yang dimiliki individu. Sarrionandia (2015) mengatakan ada tiga bentuk strategi pada attentional deployment, yaitu:
Distraction
Adalah bentuk strategi yang dilakukan individu dengan mengubah atau mengalihkan perhatiannya dari situasi maupun aspek emosi pada situasi yang dialami.
Rumination
Adalah strategi yang mengarah pada memfokuskan perhatian secara terus menerus pada pikiran dan perasaan yang berasosiasi dengan kejadian yang memunculkan atau membuat individu merasakan emosi negatif.
Mindfulness
Adalah strategi yang dilakukan individu dengan mengarahkan perhatiannya pada kejadian saat ini tanpa memberikan penilaian terhadap kejadian tersebut. Inidividu yang melakukan strategi ini akan mengobservasi setiap aspek yang berkaitan dengan kejadian yang dialami, baik aspek internal (berasal dari diri individu), maupun aspek eksternal (lingkungan individu).
d. Cognitive Change
Strategi dalam regulasi emosi berupa mengubah penilaian terhadap suatu situasi untuk mengubah atau mengurangi intensitas emosi secara signifikan.
Saarionandia (2015) mengatakan ada empat bentuk yang menjadi perhatian pada cognitive change, yaitu:
Self-efficacy Appraisal
Bentuk penilaian yang dilakukan individu bahwa dirinya dapat mengatasi situasi yang dialami.
Challenge and Threat Appraisals
Bentuk penilaian yang dilakukan individu, yaitu menilai situasi buruk yang dialami memberikan keuntungan atau kerugian pada dirinya.
Positive Reappraisal
Bentuk penilaian kembali yang dilakukan individu terhadap situasi yang dialami dengan cara yang lebih positif.
Acceptance
Bentuk cognitive change yang mengarah pada penerimaan individu terhadap situasi atau ketidakmampuan individu untuk menghadapi situasi yang terjadi.
e. Response Modulation
Gross (2014) mengatakan response modulation strategi yang paling terakhir dilakukan dalam emotion-generative process, yaitu setelah individu memiliki kecenderungan respon terhadap situasi atau emosi negatif yang dirasakan. Strategi ini mengarah pada upaya yang mempengaruhi pengalaman secara langusng, perilaku, atau komponen fisiologis yang berkaitan dengan respon emosional.
Sarrionandia (2015) mengatakan ada empat bentuk strategi pada response modulation, yaitu:
Emotion Sharing
Mengarah pada upaya individu mengekspresikan emosinya dengan membagikannya secara sosial.
Verbal/Physical Aggression
Strategi yang digunakan untuk mengurangi tensi pada tubuh yang meningkat karena dipicu situasi emosional.
Substance Use
Mengarah pada upaya yang dilakukan individu, yaitu mengkonsumsi alkohol, obat-obatan, atau zat lainnya secara berlebihan untuk menghilangkan pikiran, perasaan, atau hasrat psikologis.
Expression Suppresion
Bentuk response modulation yang tujuannya adalah menghambat ekspresi perilaku dari emosi yang tidak diinginkan.
Gambar 2. Proses Regulasi Emosi Gross
4. Bentuk Regulasi Emosi
Gross (2014) mengatakan bahwa inti dari proses regulasi emosi adalah munculnya intuisi pada individu yang menyadari bahwa proses regulasi emosi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu mengakibatkan setiap individu membentuk pola regulasi emosi tertentu. Ada dua bentuk regulasi emosi yang diutarakan oleh Gross (2014), yaitu:
a. Cognitive Reappraisal
Gross (2014) mengatakan bahwa cognitive reappraisal berorientasi pada kognitif individu. Individu yang menggunakan bentuk regulasi ini mencoba untuk memikirkan kembali situasi yang terjadi dengan cara yang berbeda untuk merubah respon emosi pada individu.
b. Suppresion
Gross (2014) mengatakan bahwa suppression adalah bentuk regulasi emosi yang berorientasi pada bentuk perilaku individu. Individu yang menggunakan bentuk regulasi ini akan mengurangi perilaku ekspresif saat merasakan emosi tersebut.
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi
Gross (2014) menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan regulasi pada individu dari beberapa ahli, yaitu:
a. Usia
Penelitian Alea, Block, dan Semegon (dalam Johanna, 2017) menunjukkan bahwa semakin bertambahnya usia seseorang berelasi dengan adanya peningkatan pada kemampuan regulasi emosi, yaitu semakin tinggi usia seseorang semakin baik kemampuan regulasi emosi yang dimiliki. Dapat dikatakan bertambahnya
usia menyebabkan kemampuan untuk mengekspresikan emosi semakin terkontrol (usia dewasa).
b. Kepribadian & Individual Differences
Menurut Gross (2014) cara individu dalam meregulasi emosi yang dimiliki dipengaruhi oleh individual differences. Kepribadian yang berciri temperamental cenderung mengalami kesulitan mengelola emosinya. Tetapi kepribadian yang tidak temperamental lebih mudah mengelola emosinya.
c. Pola Asuh
Menurut Cassano dan Zeman (dalam Johanna, 2017), Rothbart, Ziaie, dan O‟Boyle (dalam Johanna, 2017) hubungan antara orang tua dan anak dalam pengasuhan mempengaruhi pembentukan kemampuan regulasi emosi yang dimiliki anak.
d. Budaya
Norma sosial (belief) yang dimiliki suatu kelompok masyarakat dapat mempengaruhi cara individu dalam menerima, menilai suatu pengalaman emosi, dan menampilkan suatu respon emosi. Regulasi emosi yang dianggap sesuai atau culturally permissible dapat mempengaruhi cara individu dalam merespon sesuatu ketika berinteraksi dengan orang lain, termasuk cara meregulasi emosi.
e. Tujuan (Goals) yang Ingin Dicapai
Tujuan dilakukannya regulasi emosi (goals) yaitu tujuan yang ingin dicapai individu akan mempengaruhi cara individu meregulasi emosinya.
f. Frekuensi Strategi Regulasi Emosi yang Dilakukan Individu
Intensitas individu meregulasi emosi dengan berbagai cara atau strategi yang berbeda dalam mencapai suatu tujuan yang diinginkan dapat mempengaruhi cara individu meregulasi emosinya.
6. Regulasi Emosi pada Usia Dewasa
Labouvie-Vief (dalam Thompson, 1991) mengatakan bahwa dengan meningkatnya kematangan diri, tuntutan-tuntutan emosi berdasarkan budaya yang lazim sebagai bentuk batasan-batasan akan semakin berkurang diterima individu dan lebih mengarah pada peningkatan kemampuan regulasi emosi berdasarkan tujuan yang dimiliki serta kesadaran akan perlunya mempertahankan pengalaman emosinal yang subyektif. Thompson (1991) menambahkan bahwa dalam perkembangan, pengalaman regulasi emosi pada individu memuncak pada usia dewasa, karena individu secara berulang mengembangkan strategi yang efektif dengan tujuan menciptakan emosi yang lebih personal bagi individu. Thompson juga mengatakan bahwa pada usia dewasa, kemampuan regulasi emosi individu akan lebih terorganisir pada emosi-emosi tertentu dengan cara-cara yang lebih spesifik.
B. Mantan Pengguna Narkoba dan Relapse 1. Definisi Mantan Pengguna Narkoba
Dalam pasal 1 angka 13 UU Narkotika, pengguna (pengguna) narkoba didefinisikan sebagai orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis. Dalam hal ini, ketergantungan narkoba adalah gejala dorongan untuk menggunakan secara terus-menerus,
toleransi, dan mengalami gejala putus narkoba ketika penggunaannya diberhentikan (Soedjonio, dalam Nurfatimah, 2015).
Mantan pengguna narkoba adalah orang yang telah sembuh dari ketergantungan terhadap narkotika secara fisik maupun psikis. Goldfried (Shaffer, et. al, 2012) mengatakan bahwa mantan pengguna narkoba atau mantan penyintas adiksi adalah individu yang berhasil melewati masa krisis dalam proses recovery- nya, yaitu 6 bulan diawal masa pemulihan, dan sudah berada pada fase maintenance pada proses recovery. Dalam UU Narkotika pasal 58 seseorang dikatakan sebagai seorang mantan pengguna narkoba adalah yang telah sembuh dan lepas dari ketergantungan terhadap narkotika.
Berdasarkan beberapa definisi yang dijabarkan diatas dapat disimpulkan bahwa individu yang disebut sebagai mantan pengguna narkoba adalah yang telah sembuh dari ketergantungan terhadap narkotika dan lepas dari ketergantungan terhadap narkotika.
2. Definisi Relapse
Relapse didefinisikan sebagai kemunduran pada usaha individu untuk mempertahankan beberapa target perilaku (Marlatt dan Gordon, dalam Uhlig 2009). Marlatt dan Witkiewitz (2005) mengatakan relapse dideskripsikan dalam dua hal. Pertama sebagai sebuah hasil; pandangan dikomotis bahwa individu itu sakit atau baik; dan kedua sebagai sebuah proses; mencakup setiap pelanggaran dalam proses perubahan perilaku. Pada adiksi relapse adalah kembalinya pola lama penyalahguna (adiksi) dimana pemakaian narkoba berlangsung kembali secara rutin (BNN, 2013).
C. Prasangka (Prejudice), Stigma dan Dukungan Sosial (Social Support) 1. Prasangka
Hogg dan Vaughan (2011) mengatakan bahwa prasangka adalah sikap kurang menyenangkan yang diarahkan atau ditujukan ke suatu kelompok sosial dan individu yang termasuk dalam kelompok sosial yang dimaksud. Allport (dalam Hogg & Vaughan, 2011) mengungkapkan bahwa terdapat 3 hal yang menjadi komponen dalam perilaku prasangka, yaitu :
a. Kognitif
Anggapan perilaku yang melekat pada objek yang menjadi sasaran prasangka
b. Afektif
Bentuk kualitas perasaan (sering berbentuk negatif) yang dianggap berkaitan dengan perilaku objek prasangka.
c. Konatif
Intensi untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu ke arah sikap tidak menyenangkan terhadap objek prasangka.
2. Stigma
Stigma adalah penilaian negatif yang diberikan oleh lingkungan sosial pada individu yang memiliki kesamaan karakteristik dengan kelompok yang dianggap memiliki nilai buruk pada konteks sosial (Hogg & Vaughan, 2011).
3. Dukungan Sosial (Social Support)
Uchino (dalam Sarafino & Smith, 2011) mengatakan bahwa dukungan sosial mengarah kepada adanya kepedulian, rasa nyaman, kepercayaan, atau pertolongan yang diberikan oleh seseorang atau kelompok kepada seseorang atau
kelompok lainnya. Sarafino (2011) mengatakan bahwa ada beberapa sumber dukungan sosial, yaitu:
a. Keluarga b. Teman c. Pasangan d. Komunitas e. Tenaga Medis
Ada berbagai bentuk dukungan sosial yang dapat diberikan dan diterima oleh individu dan kelompok sosial dari individu dan kelompok sosial lainnya.
Sarafino (2011) mengelompokkan bentuk-bentuk dukungan sosial tersebut menjadi 4 jenis berdasarkan fungsinya, yaitu:
1. Dukungan Emosional atau Penghargaan (Emotional or Esteem Support) Bentuk dukungan sosial yang masuk dalam jenis dukungan emosional atau penghargaan adalah menyampaikan rasa empati, bersikap peduli, mengkhawatirkan atau sikap prihatin, memberikan hal-hal positif, dan memberikan semangat.
2. Dukungan Konkrit atau Bentuk Materil (Tangible or Instrumental Support) Bentuk dukungan sosial yang termasuk dalam jenis dukungan sosial ini adalah memberikan bantuan secara langsung, memberikan pinjaman uang atau membantu meringankan tugas pada individu.
3. Dukungan Informasi (Informational Support)
Bentuk dukungan sosial yang masuk dalam jenis ini adalah memberikan nasihat, arahan, sugesti, atau feedback mengenai yang dikerjakan individu.
4. Dukungan Pertemanan atau Persahabatan (Companionship Support)
Bentuk dukungan sosial yang masuk dalam jenis ini adalah kesediaan untuk menghabiskan waktu bersama, dengan demikian membuat individu merasa menjadi bagian dalam sebuah kelompok yang saling berbagi ketertarikan dan aktivitas sosial satu dengan yang lainnya.
D. Dinamika Regulasi Emosi pada Mantan Pengguna Narkoba sebagai Upaya Tidak Relapse.
Berhenti menggunakan dan bertahan untuk tidak kembali menggunakan adalah dua hal yang berbeda pada kasus adiksi. Sarafino (2011) mengatakan bahwa bertahan untuk tidak kembali menggunakan narkoba bagi seorang mantan pengguna narkoba merupakan permasalahan yang umum dijumpai. Penelitian menunjukkan sebesar 60% atau lebih mantan pengguna narkoba mengalami relapse. Emosi negatif menjadi salah satu faktor penyebab yang dapat mengakibatkan seorang mantan pengguna narkoba mengalami kekambuhan (relapse) (Marlatt, et. al, 2005; Sarafino, et. al, 2011; Gross, 2014). Emosi negatif yang dirasakan seeorang mantan pengguna kerap muncul dikarenakan adanya prasangka dan stigma yang diperoleh dari orang-orang terdekatnya.
Emosi adalah respon afektif yang dengan bebas digambarkan dan biasanya dikaitkan dengan adanya perubahan pada perilaku (bagaimana seseorang bereaksi), pengalaman subjektif individu (bagaimana seseorang merasakan sesuatu), dan respon fisiologis (bagaimana tubuh memberikan respon) (Gleitman, et. al, 2011). Emosi muncul ketika individu diperhadapkan pada sebuah situasi yang dinilai relevan dengan tujuan yang individu miliki. Emosi bisa menjadi
sangat membantu dan juga menjadi sangat membahayakan ketika jenis emosi, intensitas, atau durasi kemunculan tidak sesuai dengan situasi yang dialami.
Regulasi emosi adalah proses yang terjadi secara otomatis atau dikendalikan, disadari atau tidak disadari untuk meningkatkan, mempertahankan, atau mengurangi respon emosional yang relevan dengan tujuan dari individu (Gross & Thompson, 2007; Koole, 2009; Gross, 2014). Suatu perilaku dapat dikatakan sebagai perilaku regulasi emosi jika memiliki tiga ciri utama, yaitu ada tujuan yang menjadi penggerak proses regulasi emosi, ada terjadi proses, dan ada dampak pada emosi yang dirasakan (Gross, 2014). Koole (2009) mengatakan strategi regulasi emosi mengarah pada pendekatan konkrit yang individu ambil dalam mengelola emosinya. Tidak jauh berbeda dengan Koole, Gross (2014) mendefinisikan stragegi regulasi emosi sebagai proses-proses tertentu yang digunakan oleh individu dengan maksud mencapai tujuan yang dimiliki. Gross (2014) mengatakan bahwa ada 5 (lima) bentuk strategi regulasi emosi (regulatory process) dalam proses regulasi emosi, yaitu situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, dan response modulation.
Pola proses regulasi emosi yang dialami oleh setiap individu akan menghasilkan bentuk regulasi emosi yang berbeda satu dengan yang lain. Gross (2014) mengatakan bahwa ada dua bentuk regulasi emosi yang menjadi keluaran atau hasil dari proses regulasi emosi, yaitu cognitive reappraisal dan suppression.
Sarafino (2011) mengatakan bahwa ketidakmampuan seorang mantan pengguna dalam meregulasi emosinya yang disebabkan kebiasaan menggunakan narkoba sebagai media pembantu dalam meregulasi dapat meningkatkan
berbeda dengan Sarafino, Kober (dalam Gross, 2014) berpendapat bahwa kecenderungan seseorang untuk menggunakan narkoba dikarenakan ketidakmampuannya dalam meregulasi emosi negatif yang dialami. Dinamika regulasi emosi adalah proses seorang mantan pengguna narkoba dalam meregulasi emosi yang dirasakan hingga individu menemukan pola regulasi emosi yang menghasilkan respon emosi yang bersifat adaptif. Proses regulasi emosi yang dimiliki setiap mantan pengguna narkoba tidak sama satu dengan yang lain.
Proses yang dialami masing-masing mantan pengguna narkoba tidak selalu bersifat linier. Kemungkinan seorang mantan pengguna narkoba mengalami relapse cenderung akan menurun jika dalam proses meregulasi emosinya seorang mantan pengguna narkoba mampu untuk tidak kembali menggunakan narkoba sebagai alat bantu untuk merubah atau mengurangi intensitas emosi yang dirasakan.
E. Paradigma Teori
Gambar 3. Paradigma Teori Penelitian
Regulasi Emosi
Mantan Pengguna Narkoba
Prasangka (Prejudice)
Stigma
Faktor-faktor yang
mempengaruhi regulasi emosi
Usia, Pola Asuh, Budaya, Individual Differences dan kepribadian, Frekuensi strategi regulasi emosi, Tujuan (Gross, 2014)
Dukungan Sosial (Social Support)
Tidak Relapse Situation
Modification Situation Selection
Attentional Deployment
Cogntive Change
Response Modulation Emosi Negatif
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan metode kualitatif memfokuskan pada bagaimana makna-makna yang ada dikonstruksikan dan dibentuk secara diskusif. Metode penelitian kualitatif pada prinsipnya ingin mendeskripsikan secara kritis, atau menggambarkan suatu fenomena, suatu kejadian, atau suatu peristiwa interaksi sosial dalam masyarakat untuk mencari makna (meaning) dalam konteks yang sebenarnya/sesungguhnya (natural setting). (Yusuf, 2015; Smith, 2014). Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Polkinghorne (dalam Herdiansyah, 2015) mendefinisikan fenomenologi sebagai studi untuk memberikan gambaran tentang suatu arti dari pengalaman-pengalaman beberapa individu mengenai suatu konsep tertentu. Fenomenologi menjadikan fenomena yang tampak sebagai subjek penelitian, namun bebas dari unsur syak wasangka atau subjektivitas peneliti (Yusuf, 2015).
B. Responden Penelitian 1. Teknik Pemilihan Responden
Pada penelitian ini peneliti menggunakan non-random sampling/non- probability sampling. Metode ini tidak memberikan kemungkinan yang sama bagi setiap individu dari populasi untuk terpilih menjadi responden pada penelitian.
Pemilihan responden yang dilakukan peneliti didasari oleh pertimbangan kesesuaian antara latar belakang fenomena yang diangkat dan tujuan penelitian.
Secara spesifik peneliti menggunakan purposeful/purposive sampling, yaitu pemilihan responden disesuaikan dengan kriteria atau ciri-ciri responden dan kesesuaian kriteria berdasarkan tujuan penelitian yang akan peneliti lakukan (Herdiansyah, 2015).
2. Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini peneliti melibatkan sebanyak 3 orang mantan pengguna narkoba sebagai subjek dari penelitian. Peneliti menentukan kriteria sebagai batasan untuk menentukan responden penelitian. Berikut kriteria responden yang digunakan oleh peneliti:
a. Berstatus mantan pengguna narkoba, b. Berada pada usia dewasa
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di kota Medan. Pemilihan kota Medan sebagai lokasi penelitian dikarenakan tempat terdekat sehingga mudah dijangkau oleh peneliti. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara di tempat yang disepakati dengan responden penelitian.
C. Prosedur Penelitian
Peneliti melakukan beberapa hal yang diperlukan pada tahap persiapan penelitian, yaitu:
1. Mengumpulkan Data Pra-Penelitian
Pada tahap ini peneliti mengumpulkan informasi dan teori-teori yang berkaitan dengan dinamika regulasi emosi mantan pengguna narkoba sebagai upaya tidak relapse dari buku, artikel ilmiah, dan jurnal-jurnal penelitian terkait.
fenomena yang diperoleh di lapangan dan membuat rumusan masalah yang menjadi fokus penelitian.
2. Melakukan Tinjauan Pustaka
Peneliti melakukan tinjauan pustaka untuk memperoleh teori yang akan digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian.
3. Proses Penulisan
Pada tahap ini peneliti melakukan proses penulisan latar belakang masalah, tujuan penelitian, rumusan masalah, manfaat penelitian, sistematika penulisan, hasil tinjauan pustaka, dan metode penelitian.
4. Menyusun Pedoman Wawancara Penelitian
Peneliti menyusun pedoman wawancara dengan mengacu pada hasil tinjauan pustaka atau teori acuan yang peneliti gunakan sebagai landasan penelitian. Pedoman wawancara digunakan peneliti untuk menjaga fokus peneliti saat mengumpulkan data, yaitu mengenai dinamika regulasi emosi.
5. Mempersiapkan Alat-Alat Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mempersiapkan alat-alat pendukung penelitian seperti hardcopy pedoman wawancara, alat rekam suara (smartphone), buku catatan, dan alat tulis.
6. Persiapan Mengumpulkan Data
Sebelum melakukan pengumpulan data peneliti menghubungi calon responden penelitian dengan tujuan untuk menjelaskan maksud dan tujuan peneliti dan penelitian yang akan dilakukan. Kemudian peneliti akan menanyakan kesediaan calon responden untuk berpartisipasi dalam penelitian yang peneliti lakukan. Dalam penelitian ini peneliti mencari informasi calon responden
penelitian dengan menghubungi salah seorang alumni yang bekerja dalam bidang adiksi. Setelah memperoleh informasi dan kontak calon responden yang sesuai dengan kriteria penelitian, peneliti menghubungi calon responden secara langsung untuk menjelaskan tentang maksud dan tujuan dari penelitian yang dilakukan, serta menanyakan kesediaan calon responden untuk terlibat dalam penelitian yang sedang dilakukan peneliti.
7. Membangun Rapport dan Menentukan Jadwal Wawancara
Setelah memperoleh kesediaan dari calon responden, peneliti menyusun jadwal untukpertemuan pertama sebelum melakukan pengambilan data. Peneliti bermaksud untuk membangun rapport dengan calon responden penelitian, agar calon responden mau untuk terbuka dengan peneliti. Setelah membangun rapport peneliti dan responden kemudian mendiskusikan dan menyusun jadwal pertemuan selanjutnya untuk melakukan wawancara penelitian.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara. Wawancara pada penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subektif yang berkenaan dengan topik penelitian, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu yang diteliti (Banister, dkk, dalam Poerwandari, 2009). Jenis wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara semi-terstruktur. Tujuan dari wawancara semi-terstruktur adalah memahami fenomena atau permasalahan tertentu. Ciri yang dimiliki wawancara semi-terstruktur yaitu adanya pertanyaan terbuka yang memiliki batasan tema untuk mengarahkan alur pembicaraan.
konteks pembicaraan. Pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang diterima bersifat fleksibel, tetapi masih dibawah kontrol yang dipegang peneliti yaitu tema wawancara. Pedoman wawancara berfungsi sebagai patokan untuk menentukan alur pertanyaan (Herdiansyah, 2015).
Sebelum melakukan kegiatan wawancara peneliti memberikan informed consent pada subjek dalam bentuk pernyataan lisan. Informed consent berisikan tentang informasi penelitian yang sedang dilakukan peneliti dan kesediaan subjek untuk terlibat dalam penelitian. Informed consent juga berisikan tujuan penelitian, proses pengambilan data, dan wewenang yang dimiliki subjek dalam penelitian yang dilaksanakan peneliti.
Tujuan penelitian yang disampaikan peneliti dalam informed consent adalah untuk mengeksplorasi pengalaman seorang mantan pengguna narkoba dalam meregulasi emosi yang dimiliki dan melihat peran dari regulasi emosi yang dilakukan dalam upaya tidak mengalami kekambuhan (relapse) pada seorang mantan pengguna narkoba. Data yang diperoleh dari wawancara personal direkam menggunakan alat rekam suara (voice recorder). Peneliti menjamin kerahasiaan data subjek dan subjek diberikan wewenang untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang subjek rasa tidak perlu untuk disampaikan.
E. Metode Analisis Data
Analisa data merupakan proses akhir dalam penelitian untuk melakukan olah data dan mendapakatkan hasil dan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. Sugiyono (2007) mengatakan bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara berlangsung,
peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diperoleh. Bila jawaban yang diperoleh setelah analisis dilakukan dianggap masih belum memuaskan oleh peneliti, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan/menanyakan kembali sampai tahap tertentu diperoleh data yang kredibel. Dapat dikatakan bahwa analisis data kualitatif yang dilakukan dalam penelitian, dilakukan secara terus menerus sehingga diperoleh data yang kredibel.
Metode pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah metode wawancara, sehingga ketika hendak melakukan analisis data, maka peneliti sebelumnya akan melakukan menuliskan verbatim berdasarkan kegiatan wawancara yang dilakukan. Setelah melakukan penulisan verbatim, maka peneliti akan melakukan analisis dengan memberikan kode (melakukan coding) pada setiap jawaban subjek yang merupakan data yang dibutuhkan. Setelah melakukan coding, maka peneliti akan melakukan analisa tematik, sehingga data-data tersebut dapat dikelompokkan kedalam tema-tema utama yang nantinya akan dipaparkan pada pohon masalah. Pelaksanaan proses analisis data akan dijabarkan pada tiga aktivitas, yakni:
a. Data reduction (reduksi data), berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang dianggap penting, kemudian dicari tema dan polanya, dan membuang setiap data yang dianggap tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan suatu gambaran yang lebih jelas dari data sebelumnya, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencari data yang dianggap masih diperlukan.
b. Data display (penyajian data) yang digunakan untuk menyajikan data pada penelitian ini adalah dengan teks yang bersifat naratif (Miles dan Huberman, dalam Sugiyono, 2007).
c. Conclusion drawing/verification menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2007) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi oleh peneliti.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan dapat berubah bila ditemukan bukti-bukti/data-data kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan berikutnya. Namun jika kesimpulan awal tersebut didukung kembali oleh data-data/bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan awal yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
F. Kredibilitas Data
Konsep kredibilitas dalam studi kualitatif adalah mampu mendemonstrasikan teknik merangkum kompleksitas hubungan antar aspek yang ada dan menjamin pengidentifikasian subjek penelitian serta mampu mendeskripsikannya secara akurat. Penelitian kualitatif dikatakan kredibel ketika berhasil mencapai tujuan mengeksplorasi masalah yang diteliti (Poerwandari, 1998). Kredibilitasi penelitian ini terletak pada keberhasilan penelitian yang dilakukan dalam mengungkapkan dinamika strategi regulasi emosi pada mantan pengguna narkoba sebagai upaya tidak relapse. Untuk menunjang keberhasilan penelitian peneliti membuat pedoman pertanyaan wawancara yang nantinya membantu peneliti dalam menggali dan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan terkait topik penelitian, serta mendokumentasikan secara lengkap dan rapi guna menjaga kualitas data penelitian. Peneliti juga menggunakan
professional judgement yang dilakukan oleh ahli untuk memastikan data yang diperoleh sesuai dan tepat dengan tujuan dan rumusan masalah penelitian, serta mengkonfirmasi kembali kepada responden mengenai data dan analisa data penelitian.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan menjabarkan hasil analisa wawancara data penelitian dalam bentuk narasi untuk memberikan gambaran pada pembaca mengenai “Dinamika Regulasi Emosi pada Mantan Pengguna Narkoba sebagai Upaya Tidak Relapse”.
Hasil data yang diperoleh akan diapaparkan, dianalisa, dan diinterpretasikan per- responden oleh peneliti, kemudian disesuaikan dengan teori yang telah dijabarkan dalam Bab II Landasan Teoritis.
A. Hasil Penelitian 1. Responden 1
Nama Samaran : Heri Usia : 21 tahun Jenis kelamin : Laki-laki
Anak ke- : 4 dari 4 bersaudara
Pekerjaan : Mahasiswa dan pengajar bahasa inggris di sebuah lembaga bimbingan belajar
Status : Belum menikah a. Latar Belakang Responden 1
Heri adalah seorang mahasiswa yang juga merupakan mantan pengguna narkoba dengan usia pemulihan 2 tahun 6 bulan (per Februari 2019). Saat ini selain berkuliah kegiatan Heri adalah mengajar sebagai guru Bahasa Inggris disebuah lembaga bimbingan belajar di kota Medan. Heri adalah seorang mantan
pengguna narkoba jenis sabu.Heri menjadi seorang pengguna narkoba selama kurang lebih 2 tahun.
b. Pengalaman Menggunakan Narkoba Responden 1
Awal mula Heri menggunakan narkoba adalah di tahun 2014 ketika awal memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).Heri mengatakan awal mula dirinya menggunakan narkoba adalah karena rasa sakit hati yang dirinya rasakan akibat menerima makian dengan kata-kata kasar dari orang tuanya.Pada saat menerima perlakuan tersebut Heri mengatakan dirinya tidak hanya merasa sakit hati, tapi juga merasa kesal dan marah.Ketika diperhadapkan dengan masalah tersebut, Heri memilih menghindar dengan pergi ke tempat teman-temannya. Alasan Heri memutuskan untuk pergi ke tempat teman- temannya saat mendapat masalah itu karena Heri ingin menggunakan narkoba agar dirinya merasa tenang.
“…Dan suatu hari aku ga pulang ke rumah 2 hari 2 malam, begitu sampai rumah merepetlah orangtua kan, dimaki-makilah, terus disitu sakit hati kan, terus ke rumah kawan, terus disitulah karna emosional ga teratur, ga bisa dikontrol, kuputuskan kubilang sama kawanku, „udahlah aku pengen makelah, pengen coba sabu-sabu itu biar ga terlalu, biar hilanglah stresnya.‟….”(R1.W2/b.33-41/hal.1)
“Yang aku pikirin? Yang kupikirin, ya masa ngga pulang 2 hari aja bisa direpetin gitu sampai dimaki-maki anjing, semualah kata-kata binatang kasar kali kan.
Terus disuruh keluar aja dari rumah, terus disuruh susun baju pulang aja keluar, ke tempat kawanku aja aku tinggal, jadi kayak sakit hati karna merasa ga dianggap bang. Merasa kayak terlalu, aku bukan anak-anak lagi. Biasalah anak remaja, aku bukan anak-anak lagi.Aku bisa jaga diriku. Jadi ngga pulang 2 hari gapapa gitu. Aku baik-baik aja kok.”(R1.W2/b.85-96/hal.3)
“Iya.Pagi-pagi mamak lagi nyapu, aku masuk langsung tidur ke kamar. Direpetin,
„kau ngga pulang 2 hari langsung tidur kau, ngga ada otakmu a****g, b**i‟, binatang semua kan. „Pigi kau dari rumah ini, jangan kau tidur disini lagi, kesana aja kau ke rumah kawanmu‟.Udah aku diam aja langsung pigi. Pas jalan itulah bang, pikiranku berkecamuk. Ini kayak mana, kayak mana, semua berkecamuk di kepalaku. Terpikirlah si kawanku ini, kesitulah aku biar tenang.Pake, kupake, kupake sabu itu biar tenang pikiranku.”(R1.W2/b.115-126/hal.3)