• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Pengelolaan keuangan desa yang baik menunjukkan bahwa desa tersebut memiliki komitmen dan integritas untuk menjadi lebih baik.

Dalam hal ini, yang paling pokok dari pertanggungjawaban keuangan adalah sebagai upaya konkrit dan niat baik pemerintah dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan desa yang dilaksanakan dengan prinsip – prinsip keadilan dan kepatuhan dalam mengalokasikan APBDesa agar efektif.

Pengelolaan keuangan desa diatur dalam dua rencana kerja yakni RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Desa dan RKP (Rencana Kerja Pembangunan) Desa yang didalamnya direncanakan dalam APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) yang berisi informasi program pemerintah Desa Bontokoraang yang akan dilaksanakan dalam satu tahun berjalan. Program Kerja Desa Bontokoraang adalah sebagai berikut :

A. Pendapatan Desa.

Berdasarkan permendagri nomor 37 tahun 2007, keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang, termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban desa tersebut, sedangkan pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan, penganggaran, penatauasahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan desa.

Sistem perencanaan pembangunan memiliki salah satu tujuan untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan. Agar visi, misi dapat tercapai atau terealisasi maka memerlukan adanya dukungan penganggaran yang relevan, konsisten dan signifikan. Kemampuan angggaran desa diperkirakan dalam bentuk pagu atau plafon indikatif anggaran desa, yang akan berlaku selama enam tahun kedepan.

Mekanisme dan substansi penetapan perencanaan dikaitkan dengan anggaran ini diharapakan akan lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembangunan desa dalam rangka mencapai visi, misi dan program pembangunan desa. Dalam penyusunan bagian gambaran pengelolaan keuangan desa dan kerangka pendanaan diperlukan pendekataan yang kemprehensif dan strategis, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran, sebab akan sangat berdampak pada penciptaan kondisi perekonomian yang stabil dan berkelanjutan.

Sejalan dengan fungsi alokasi dan kondisi keterbatasan kemampuan keuangan desa yang ada, maka perlu diciptakan suatu system yang memungkinkan pemerintah desa menjadi lebih efisien, efektif, dan akuntabel dalam merumuskan kebijakan keuangannya.

Dalam rangka meningkatkan kemandirian desa, sudah saatnya digali semua potensi sumber daya dan modal dasar desa yang dimiliki. Untuk itu perlu dilakukan edintivikasi yang maksimal atas potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya

buatan dan sumber daya keuangan untuk selanjutnya sumber daya tersebut dikembangkan menjadi pendukug utamadari berbagai kegiatan yang akan menghasilkan daya tambah yang berdaya asing tinggi sehingga mampu mendukung kemandirian desa. Pendapatan desa Bontokoraang dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh Desa.

Pengelolaan pendapatan asli desa bertujuan untuk mengoptimalkan keleluasan desa dalam menggali pendanaan otonomi desa sebagai wujud tanggungjawab daerah dalam melaksanakan desentralisasi. Belanja desa meliputi, semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desayang meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kambali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun anggaran berikutnya, terdiri atas penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan pembiayaan Desa Bontokoraang mencakup Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya, pencairan dana cadangan, penyertaan modal, dan pembayaran utang. Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa adalah kepala desa, karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhanpengelolaan keuangan desa yang dalam pelaksanaanya dibantu oleh pelaksana tenis pengelolaan keuangan desa yang diangkat dai perangkat desa yang di tunjuk.

Adapun asumsi pendapatan Desa Bontokoraang Tahun Anggaran 2019 bersumber dari Pendapatan Transfer sebesar Rp 1.358.743.523,- yang berasal dari :

Tabel 4.5

Anggaran Pendapatan BelanjaPemerintah Desa Bontokoraang Tahun Anggaran 2019

No Uraian Anggaran Realisasi

1 Dana Desa Rp 826.267.240,00 Rp 826.267.240,00 2

Bagi Hasil Pajak

dan Retribusi Rp 17.117.996,00 Rp 17.117.996,00 3 Alokasi Dana Desa Rp 668.682.244,00 Rp 668.682.244,00

Jumlah

Pendapatan Rp 1.512.067.240,00 Rp 1.512.067.240,00 Sumber Data: Laporan Perubahan APBDesa Tahun 2019

B. Belanja Desa Bontokoraang Anggaran Tahun 2019

Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum desa yang mengurangi ekuitas dana, merupakan kewajiban desa dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa dirinci menurut urusan pemerintahan desa, organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja. Belanja desa dipergunakan dalam rangka menandai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa sesuai dengan ketentuan perundang undangan. Belanja desa harus mencerminkan strategi pengeluaran yang rasional baik kuantitatif maupun kualitatif, sehingga akan terlihat adanya pertanggungjawaban atas pungutan sumber-sumber pendapatan desa oleh pemerintah desa serta hubungan timbal balik antara pungutan pendapatan dan pelayanan kepada masyarakat. Hal

ini dikandung maksud untuk meningkatkan akuntabilitas pencernaan anggaran serta memperjelas efektivitas dan efisiensi alokasi anggaran desa. Belanja desa diarahkan kepada upaya untuk meningkatkan proporsi belanja yang berpihak kepada kepentingan masyarakat. Disamping itu, belanja desa harus memperhatikan antara urgensi kebutuhan dan kemampuan keuangan desa.

Berikut hasil wawancara dengan Sekretaris Desa, Kaur Keuangan dan Kepala Desa terkait pengelolaan dana desa.

Wawancara dengan Sekretaris Desa bapak Muhammad Ridwan mengenai bagaimana tahap perencanaan pengelolaan keuangan desa Bontokoraang, beliau mengungkapakan bahwa :

“Sesuai dengan Permendagri No 20 Tahun 2018 dalam penyusunan pelaporan keuangan itu mengacu pada APBDes tahun berjalan dengan prosesnya yang pertama sekretaris desa telah menyusun peraturan desa tentang APBDes berdasarkan tahun berkenaan kemudian sekretaris desa menyampaikan rancangan peraturan desa kepada kepala desa untuk disetujui, setelah rancangan peraturan APBDes disampaikan ke kepala desa kemudian ditindaklanjuti dengan pembahasan dengan BPD atau Badan Permusyawaratan Desa untuk disepakati, kemudian setelah disepakati pemerintah desa melalui sekretaris desa mengundangkan peraturan desa tentang APBDes tahun 2019 kemudian ditindaklanjuti ke bagian hukum untuk mendapatkan klarifikasi, setelah klarifikasi itu selesai pemerintah desa menyampaikan peraturan desa tersebut kepada bupati melalui camat”

(Sekretaris Desa Senin, 31 Agustus 2020 pukul 16.00 WIB di Kantor Desa Bontokoraang).

Wawancara dengan Kaur Perencanaan Desa Ibu Selpi Susilawati mengena bagaimana tahap perecanaan pengelolaan keuangan desa Bontokoraang, beliau mengungkapkan bahwa :

”Tahap pertama musyawarah desa untuk melaksanakan kegiatan, kedua merencanakan kegiatan pembangunan dan rencana

anggaran belanja, ketiga membuat tim pengelola kegiatan, kemudian tahap ke empat melaksanakan kegiatan sesuai tahapan atau termin yang ditentukan”.

(Selpi Susilawati/Kaur Perencanaan Senin, 31 Agustus 2020 pukul 10.00 WIB di Kantor Desa Bontokoraang).

Wawancara dengan Kepala Desa Bapak Nur Alim S.sos mengenai bagaimana Laporan Realisasi desa Bontokoraang, beliau mengungkapkan bahwa :

“Iya, untuk semester pertama biasanya dilakukan di bulan juli dan semester kedua dibulan oktober sampai desember. Itupun tergantung kesiapan desa masing-masing. Cuma kita semaksimal mungkin sesuai jadwal bisa kita selesaikan di bulan juli dan tahap kedua di bulan desember tersebut.

Semuanya laporan pertanggungjawaban kita Perdeskan, yang jelas Perdes ini tidak menyimpang dari undang-undang atau peraturan yang diatasnya. Dalam lampiran format laporan ada yang biasa disebut dengan PAD, jadi ada program pemerintah pusat ada program pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten.”

(Kepala Desa/ Nur Alim S.sos Senin, 31 Agustus 2020 pukul 14.20 WIB di Kantor Desa Bontokoraang).

Wawancara dengan Kepala Desa mengenai transparansi yang didapatkan dari hasil wawancara dengan Kepala Desa Bontokoraang Bapak Nur Alim S.sos tentang bagaimana keuangan desa Bontokoraang dikelola, beliau mengungkapkan bahwa :

“iya kami kelola secara akuntabel dan transparan, jadi di setiap kegiatan itu terpampang papan proyek atau papan kegiatan dan disitu tertera nominal untuk kegiatannya apa. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBDES ini diinformasikan juga kepada masyarakat melalui media tertulis. Laporan pertanggungjawaban dilaporkan kepada Bupati melalui Camat.”

(Kepala Desa/Nur Alim S.sos Senin, 31 Agustus 2020 pukul 14.15 WITA di Kantor Desa Bontokoraang).

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa desa Bontokoraang sudah memperlihatkan pengelolaan dana desa yang akuntabel dan transparan.

Belanja desa sebagaimana dimaksud meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembarannya kembali oleh desa. Sesuai dengan permendagri nomor 37 tahun 2007. Belanja terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung. Adapun belanja langsung terdiri dari : belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal, sedangkan belanja tidak langsung terdiri dari : belanja pegawai / penghasilan tetap, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan social, belanja kauangan dan belanja tak terduga. Kebijakan pengembangan belanja desa yang akan dilaksanakan selam 6 (enam) tahun kedepan (2018 – 2024).

Anggaran bidang penyelenggaraan pemerintah desa tahun 2019 sebesar Rp 538.732.270,- dengan realisasi sebesar Rp 536.232.270,- terdapat selisih sebesar (Rp 2.500.000,-) yang terdiri dari :

Tabel 4.6

Bidang Penyelenggaraan Pemerintah

No Uraian

Anggaran (Rp) Bertambah/

Berkurang

394.224.430,70 390.434.430,70 (3.790.000,00)

2

Penyediaan Sarana Dan Prasarana

Pemerintah Desa 88.363.903,30

b) Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa

Anggaran bidang pelaksana pembangunan desa untuk tahun 2019 sebesar Rp 572.419.941,49 dengan realisasi Rp 572.419.941,49 yang terdiri dari :

Tabel 4.7

Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa

No Uraian

Anggaran (Rp) Bertambah/

Berkurang

Ruang

a) Bidang Pembinaan Kemasyarakatan

Anggaran bidang pembinaan kemasyarakatan tahun 2019 yang total keseluruhan anggaran sebesar Rp 89.071.000,- dengan realisasi sebesar Rp 91.571.000,- terdapat selisih sebesar Rp 2.500.000,- yang tediri dari :

Tabel 4.8

Bidang Pembinaan Kemasyarakatan

No Uraian

Anggaran (Rp) Bertambah/

Berkurang

19.861.000,00 19.861.000,00 0

2

Sub Bidang Kepemudaan dan

Olahraga 0 2.500.000,00 2.500.000,00

3

b) Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Anggaran bidang pemberdayaan masyarakat tahun 2019 sebesar Rp 310.791.940,42 dengan realisasi 298.792.848,51 terdapat selisih sebesar (Rp 11.999.091,51) terdiri :

Tabel 4.9

Bidang Pemberdayaan Masyarakat

No Uraian

Anggaran (Rp) Bertambah/

Berkurang

c) Bidang Penanggulangan Bencana Darurat

Anggaran bidang Penanggulangan Bencana Darurat tahun 2019 sebesar

Rp 49.532.566,09 dengan realisasi 61.531.658,00 terdapat selisih sebesar Rp 11.999.091,91 terdiri dari :

Tabel 4.10

Bidang Penanggulangan Bencana Darurat

No Uraian

Anggaran (Rp) Bertambah/

Berkurang Sebelum Setelah

1 Sub Bidang

Keadaan Darurat 49.532.566,09 61.531.658,00 (11.999.091,91)

Dokumen terkait