• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan bagian yang terpenting dalam melakukan sebuah penelitian, kesimpulan yang diperoleh atas hasil penelitian sangat bergantung kepada kualitas instrumen yang digunakan.

Pada penelitian kualitatif peneliti merupakan instrumen penelitian utama.

Alwasilah (2017 : 61) menyatakan bahwa manusia merupakan instrumen dalam penelitian kualitatif sebab hanya manusialah yang dapat menyesuaikan diri dan berinteraksi secara tunas dengan fenomena yang sedang diteliti.

Selain melakukan proses wawancara, peneliti juga menggunakan beberapa alat dalam instrumen penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Buku Catatan 2. Alat tulis 3. Camera

F. Tekhnik Analisis Data

Ada tiga langkah yang dapat ditempuh oleh peneliti dalam menganalisis data penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Sekaran & Bougie (2016), yaitu sebagai berikut :

1. Data reduction

Pada tahap ini data yang telah diperoleh dipilah dan dikategorisasikan menurut Sekaran & Bougie (2016), “Data rediction is the process of selecting, coding, categorizinng tha data.” Pengodean atau koding menjadi hal yang pertama dilakukan dalam tahap ini yang akan membantu peneliti unntuk menggambarkan kesimpulan data yang telah diperoleh. Selanjutnya kategorisasi ini merupakan proses yang dilakukan oleh peneliti untuk mencari keteraturan bagu unit - unit yang muncul secara berulang untuk kemudian dapat dibandingkan.

2. Data display

Tahapan ini mencakup penginterprestasian data baik itu dalam matriks atau tabel, jejaring atau peta konsep, flowchart, diagram, dan berbagai bentuk representasi visual lainnya. Sekaran dan Bougie (2016) berpendapat bahwa “Data display in volves taking your reduced data and displaying them in an organized condensed manner.” Dengan data display akan memudahkan peneliti untuk mereduksi data dari yang kompleks mejadi sederhana, menyimpulkan interprestasi peneliti terhadap data dan menyajikan data sehingga tampil secara menyeluruh.

3. The drawing of conclusions

” The drawing of conclusions is the essence of data analysis, it is the poin werw you answer your research question...” Sekaran & Bougie (2016). Pada tahap ini data disimpulakan dengan cara menetukan tema data yang diidentifikasi serta menjelaskan pola dan hubungan data yang diamati. Kesimpulan yang dibuat oleh peneliti tersebut kemudian akan disajikan dalam bentuk narasi.

32 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Gambaran Umum Kabupaten Kepulauan Selayar

Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu di antara 24 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang letaknya di ujung selatan Pulau Sulawesi dan memanjang dari Utara ke Selatan. Daerah ini memiliki kekhususan yakni satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi dan terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga membentuk suatu wilayah kepulauan.

Gugusan pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar secara keseluruhan berjumlah 130 buah, 7 di antaranya kadang tidak terlihat (tenggelam) pada saat air pasang. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar meliputi 1.357,03 km² wilayah daratan (12,91%) dan 9.146,66 km² wilayah lautan (87,09%).

Secara geografis, Kabupaten Kepulauan Selayar berada pada koordinat (letak astronomi) 5°42' - 7°35' Lintang Selatan dan 120°15' - 122°30' bujur timur yang berbatasan dengan:

Secara geografis, Kabupaten Kepulauan Selayar berada pada koordinat (letak astronomi) 5°42' - 7°35' Lintang Selatan dan 120°15' - 122°30' bujur timur yang berbatasan dengan:

Sebelah Utara : Kabupaten Bulukumba dan Teluk Bone Sebelah Timur : Laut Flores ( Provinsi Nusa Tenggara Timur Sebelah Selatan : Provinsi Nusa Tenggara Timur

Sebelah Barat : Laut Flores Dan Selat Makassar

Dipandang dari sudut tofografinya Kabupaten Kepulauan Selayar yang mempunyai luas kurang lebih 1.357,03 Km² (wilayah daratan) dan terdiri dari kepulauan besar dan kecil serta secara administrative terdiri dari 11 kecamatan, 81 desa dan 7 kelurahan adalah variatif dari yang datar hingga agak miring.

2. Gambaran Umum Kecamatan Bontomanai

Bontomanai adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar , Sulawesi Selatan. Jumlah penduduk 12.932 Jiwa (Laki-laki : 6.132, Perempuan : 6.800) terbagi dalam 3.549 Kepala Keluarga. Kecamatan Bontomanai terletak pada koordinat 6°3′10.15″LS,120°30′26.34″BT.

3. Gambaran Umum Desa Bontokoraang a. Kondisi Geografis Desa Bontokoraang

Desa Bontokoraang hasil dari pemekaran desa bontomarannu pada tahun 2011 menjadi desa difinitif dengan 4 (empat) dusun. Pada tahun 2011 sebagai wilayah melepaskan diri dari desa Bonromarannu , dan berdiri secara administrative. Desa Bontokoraang memiliki 4 dusun yaitu dusun teko, dusun pakkopiang, dusun balangpangi dan dusun huluk.

Secara Administrasi, awal berdirinya desa Bontokoraang yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa, diantaranya adalah :

1. Nur Salam SE, pengganti jabatan sementara periode tahun 2010-2011

2. Hikmaluddin, HY periode tahun 2011-2017

3. Utami Rezki, S.H pengganti jabatan sementara periode tahun 2017- 2018

4. Pak Nur Alim S.sos periode tahun 2018-sekarang

Desa Bontokoraang merupakan wilayah administrative yang terletak di Kecamatan Bontomanai Kabupaten Kepulauan selayar dengan batas – batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Bontomarannu

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kelurahan

Putabangung/Kelurahan Bontobangun Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Bontokomarannu Sebelah Barat : Berbatasan dengan Laut Flores

Luas wilayah desa bontokoraang secara keseluruhan 15.00Km, dan secara administrative pemerintahan terbagi menjadi 4 buah dusun masing – masing:

a. Dusun Teko b. Dusun Pakkopiang c. Dusun Balangppangi d. Dusun Huluk

Jarak antara Desa Bontokoraang dengan Ibukota Kecamatan (Polebunging) adalah 20 Km dengan jarak tempukh 40 Menit perjalanan, sedangkan jarak Desa Bontokoraang dengan Ibukota Kabupaten ( Benteng ) adalah 15 Km.

b. Pertumbuhan Penduduk Desa Bontokoraang

Aspek Sosial Budaya di Desa Bontokoraang dapat diukur dari kondisi kependudukan, kesahatan, kesejahteraan social, keagamaan, pemuda dan olahraga seni dan budaya serta aspek – aspek lainnya.

Berdasarkan data yang ada, jumlah penduduk di desa Bontokoraang Tahun 2018 sebanyak 637 jiwa. Penduduk laki – laki 344 dan perempuan 293 jiwa. Jumlah KK mencapai 202 KK.

Table 4.1

Jumlah Penduduk menurut kelompok umur di Desa Bontokoraang

Sumber data : Rekapitulasi jumlah penduduk menurut kelompok umur tahun 2019

c. Potensi Desa Bontokoraang

Dari segi kelembagaan Sosial Ekonomi Masyarakat, terdapat beberapa lembaga ekonomi masyarakat Desa Bontokoraang baik itu yang dikelola kaum perempuan maupun kaum laki – laki di antaranya pembuatan emping di Dusun Teko dan pengasapan Kopra di Dusun Huluk.

No Usia Jumlah

1 0-3 Tahun 42 Orang

2 4-6 Tahun 24 Orang

3 7-12 Tahun 75 Orang

4 13-15 Tahun 44 Orang

5 16-18 Tahun 36 Orang

6 19-75 Tahun 456 Orang

7 75 Keatas Tahun 57Orang

Jumlah 734 Orang

Tabel 4.2

Kelompok Penduduk menurut Mata Pencarian

No. Mata Pencaharian Jumlah

(Orang) Persentase (%)

1 Petani 110 73,90

2 Nelayan 30 3,89

3 Pegawai 8 2,70

4 Wiraswasta 10 10,20

5 Lain – lain 268 9,31

Jumlah 100,00

Sumber data : Rekapitulasi Jumlah jiwa perkelompok pekerjaan tahun 2019 d. Kondisi Pendidikan Desa Bontokoraang

Tingkat Pendidikan masyarakat di desa Bontokoraang umumnya sama dengan kondisi yang dialami oleh desa – desa lain dimana struktur pendidikan didominasi oleh mereka yang tidak pernah atau putus sekolah.

Table 4.3

Tingkat Pendidikan masyarakat Desa Bontokoraang

No KONDISI PENDIDIKAN JUMLAH

1 TK/Tamat SD 155 Orang

2 Tamat SMP 57 Orang

3 SLTA 116 Orang

4 D3 7 Orang

5 S1 32 Orang

6 S2 - Orang

Jumlah 367 Orang

Sumber data : Rekapitulasi Jumlah Jiwa Perkelompok Pendidikan Tahun 2019

37 Gambar 4.1 ( Struktur Organisasi)

ANDI NUR ALIM S.Sos

KAUR TATA USAHA DAN UMUM SURIANTO

38

Dari bagan tersebut, strukur organisasi pemerintahan Desa Bontokoraang dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Kepala Desa

1. Kepala Desa berkedudukan sebagai Kepala Pemerintah Desa yang memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

2. Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa melaksanakan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.

3. Untuk malaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (2) Kepala Desa mamiliki fungsi – fungsi sebagai :

a) Menyelenggarakan Pemerintahan Desa, seperti tata praja Pemerintahan, penerapan peraturan di desa, pembinaan masalah pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban, melakukan upaya perlindungan masyarakat, administrasi kependudukan, dan penataan dan pengelolaan wilayah.

b) Melakukan pembangunan seperti pembangunan sarana prasarana pedesaan, dan pembangunan.

c) Pembinaan kemasyarakatan, seperti melaksanakan hak dan kewajiban masyarakat, partisipasi masyarakat, social budaya masyarakat, keagamaan dan ketenagakerjaan.

d) Pemberdayaan masyarakat, seperti tugas sosialisasi dan motivasi masyarakat di bidang budaya ekonomi, politik, lingkungan hidup, pemberdayaan keluarga, pemuda, olahraga, dan karang taruna. Menjaga hubungan kemitraan dengan lembaga masyarakat dan lembaga lainnya.

b. Sekretaris Desa

1. Sekretaris Desa berkedudukan sebagai unsur pimpinan Sekretaris Desa.

2. Sekretaris Desa bertugas membantu Kepala Desa dalam bidang administrasi pemerintahan.

3. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana yang dimaksud Sekretaris Desa mempunyai fungsi :

a) Melaksanakan urusan ketata uasahaan seperti tata masalah, administrasi surat menyurat, arsip dan ekspedisi.

b) Melaksanakan urusan umum seperti penataan administrasi perangkat desa, penyediaan prasarana perangkat desa dan kantor, penyiapan rapat, pengadministrasian asset, inventarisasi, perjalanan dinas, dan pelayanan umum.

c) Melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan administrasi keuangan, administrasi sumber – sumber pendapatan dan pengeluaran, verivikasi administrasi keuangan dan administrasi penghasilan Kepala Desa, Perangkat Desa, BPD, dan lembaga pemerintahan desa lainnya. Melaksanakan urusan perencanaan seperti menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja desa, menginventarisir data- data dalam rangka pembangunan, melakukan monitoring dan evaluasi program, serta penyusunan laporan.

c. Kepala Urusan

1. Kepala urusan berkedudukan sebagai unsur staf secretariat.

2. Kepala urusan bertugas membantu Sekretaris Desa dalam urusan pelayanan administrasi pendukung pelaksanaan tugas - tugas pemerintahan. Untuk melaksanakan ugas – tugas kepala urusan mempunyai fungsi :

a) Kepala urusan tata usaha dan umum memiliki fungsi seperti melaksanakan urusan ketatausahaan seperti tata naskah, administrasi surat menyurat, arsip, dan ekspedisi dan penataan administrasi perangkat desa, penyediaan prasarana perangkat desa dan kantor, penyiapan rapat, pengadministrasian asset, inventarisasi, perjalanan dinas, dan pelayanan umum.

b) Kepala urusan keuangan memiliki fungsi seperti melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan administrasi keuangan, administrasi sumber – sumber pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi keuangan dan administrasi penghasilan Kepala Desa, Perangkat Desa, BPD dan lembaga pemerintahan desa lainnya.

c) Kepala urusan perencanaan memiliki fungsi mengoordinasikan urusan perencanaan seperti menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja desa, menginventarisir data – data dalam rangka pembangunan, melakukan monitoring dan evaluasi program, serta penyusunan laporan.

d. Kepala Seksi

1. Kepala Seksi berkedudukan sebagai unsur pelaksana teknis.

2. Kepala Seksi bertugas membantu Kepala Desa sebagai pelaksana tugas operasional.

3. Untuk tugas – tugas Kepala Seksi mempunyai fungsi :

a) Kepala seksi pemerintahan mempunyai fungsi melaksanakan manajemen tata praja Pemerintahan, menyusun rancangan regulasi desa, pembinaan masalah pertanahan, pembinaan ketentraman dan ketertiban, pelaksanaan upaya, perlindungan masyarakat, kependudukan, penataan dan pengelolaan wilayah, serta pendataan dan pengelolaan profil desa

b) Kepala seksi kesejahteraan mempunyai fungsi melaksanakan pembangunan sarana prasarana pedesaan, pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, dan tugas sosialisasi serta motivasi masyarakat di bidang budaya, ekonomi, politik, lingkungan hidup, pemebrdayaan keluarga, pemuda, olahraga dan karang taruna.

c) Kepala seksi pelayanan memiliki fungsi melaksanakan penyuluhan dan motivasi terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat, meningkatkan upaya partisipasi masyarakat, pelestarian nilai social budaya masyarakat, keagamaan dan ketenagakerjaan.

e. Kepala Kewilayahan / Kepala Dusun

1. Kepala kewilayahan berkedudukan sebagai unsur satuan tugas kewilayahan yang bertugas membantu Kepala Desa dalam pelaksanaan tugasnya diwilayahnya.

2. Kepala kewilayahan memiliki fungsi :

a) Pembinaan ketentraman dan ketertiban, pelaksanaan upaya perlindungan masyarakat, mobilitas kependudukan, dan penataan dan pengelolaan wilayah.

b) Mengawasi pelaksanaan pembangunan di wilayahnya.

c) Melaksanaan pembinaan kemasyarakatan dakam meningkatkan kemampuan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya.

d) Melakukan upaya – upaya pemberdayaan masyarakat dalam menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Tabel 4.4

Nama Pejabat Pemerintah Desa Bontokoraang

No Nama Jabatan

1 Nur Alim S.sos Kepala Desa 2 Muhammad Ridwan Sekretaris Desa

3 Selpi Susilawati Kepala urusan Perencanaan

4 Surianto Kepala Urusan Tata Usaha Dan Umum 5 Sri Astuti Afriani Kepala Urusan Keuangan

6 Muh. Darwis Petugas Registrasi

7 Sudarsono Operator Komputer

8 Rina Widyastuti Kepala Seksi Pemerintahan 9 Yenni Muriati Kepala Seksi Pelayanan 10 Lailatul Qadri Kepala Seksi Kesejahteraan 11 Muh Arifin Aman Kepala Dusun Teko

12 Patta Gauk Kepala Dusun Pakkopiang 13 Syaifuddin Kepala Dusun Balangpangi 14 Andi Nirwan Kepala Dusun Huluk

Sumber data : RPJM Desa Bontokoraang 2019

f. Visi dan Misi Desa Bontokoraang 1. Visi Desa Bontokoraang

Adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan dengan mmelihat potensi dan kebutuhan Desa.

“Adapun Visi Desa Bontokoraang adalah terbangunnya tata kelola pemerintahan desa yang baik dan bersih guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera serta religious”.

2. Misi Desa Bontokoraang

Dalam rangka mewujudkan visi masyarakat yang ada di desa bontokoraang untuk 6 tahun kedepan, maka disusunlah misi untuk mencapai visi yang ada. Adapun misi yang telah dirumuskan yaitu :

1. Melakukan reformasi system kinerja pemerintahan desa guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

2. Menyelenggarakan pemerintah yang bersih dari korupsi dan bentuk – bentuk penyelewengan lainnya.

3. Mewujudkan pembangunan potensi pertanian, peternakan, pariwisata, perikanan dan sumber daya manusia secara terencana dan berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan.

4. Melakukan inventarisasi kekayaan desa.

5. Melakukan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan lingkungan.

6. Meningkatkan pengembangan kegiatan keagamaan.

7. Memberdayakan lembaga yang ada dan mengoptimalkan kegiatan pemuda dan olahraga.

B. Hasil Penelitian

Pengelolaan keuangan desa yang baik menunjukkan bahwa desa tersebut memiliki komitmen dan integritas untuk menjadi lebih baik.

Dalam hal ini, yang paling pokok dari pertanggungjawaban keuangan adalah sebagai upaya konkrit dan niat baik pemerintah dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan desa yang dilaksanakan dengan prinsip – prinsip keadilan dan kepatuhan dalam mengalokasikan APBDesa agar efektif.

Pengelolaan keuangan desa diatur dalam dua rencana kerja yakni RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Desa dan RKP (Rencana Kerja Pembangunan) Desa yang didalamnya direncanakan dalam APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) yang berisi informasi program pemerintah Desa Bontokoraang yang akan dilaksanakan dalam satu tahun berjalan. Program Kerja Desa Bontokoraang adalah sebagai berikut :

A. Pendapatan Desa.

Berdasarkan permendagri nomor 37 tahun 2007, keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat dinilai dengan uang, termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban desa tersebut, sedangkan pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan, penganggaran, penatauasahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan desa.

Sistem perencanaan pembangunan memiliki salah satu tujuan untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan. Agar visi, misi dapat tercapai atau terealisasi maka memerlukan adanya dukungan penganggaran yang relevan, konsisten dan signifikan. Kemampuan angggaran desa diperkirakan dalam bentuk pagu atau plafon indikatif anggaran desa, yang akan berlaku selama enam tahun kedepan.

Mekanisme dan substansi penetapan perencanaan dikaitkan dengan anggaran ini diharapakan akan lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembangunan desa dalam rangka mencapai visi, misi dan program pembangunan desa. Dalam penyusunan bagian gambaran pengelolaan keuangan desa dan kerangka pendanaan diperlukan pendekataan yang kemprehensif dan strategis, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran, sebab akan sangat berdampak pada penciptaan kondisi perekonomian yang stabil dan berkelanjutan.

Sejalan dengan fungsi alokasi dan kondisi keterbatasan kemampuan keuangan desa yang ada, maka perlu diciptakan suatu system yang memungkinkan pemerintah desa menjadi lebih efisien, efektif, dan akuntabel dalam merumuskan kebijakan keuangannya.

Dalam rangka meningkatkan kemandirian desa, sudah saatnya digali semua potensi sumber daya dan modal dasar desa yang dimiliki. Untuk itu perlu dilakukan edintivikasi yang maksimal atas potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya

buatan dan sumber daya keuangan untuk selanjutnya sumber daya tersebut dikembangkan menjadi pendukug utamadari berbagai kegiatan yang akan menghasilkan daya tambah yang berdaya asing tinggi sehingga mampu mendukung kemandirian desa. Pendapatan desa Bontokoraang dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh Desa.

Pengelolaan pendapatan asli desa bertujuan untuk mengoptimalkan keleluasan desa dalam menggali pendanaan otonomi desa sebagai wujud tanggungjawab daerah dalam melaksanakan desentralisasi. Belanja desa meliputi, semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desayang meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kambali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun anggaran berikutnya, terdiri atas penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan pembiayaan Desa Bontokoraang mencakup Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya, pencairan dana cadangan, penyertaan modal, dan pembayaran utang. Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa adalah kepala desa, karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhanpengelolaan keuangan desa yang dalam pelaksanaanya dibantu oleh pelaksana tenis pengelolaan keuangan desa yang diangkat dai perangkat desa yang di tunjuk.

Adapun asumsi pendapatan Desa Bontokoraang Tahun Anggaran 2019 bersumber dari Pendapatan Transfer sebesar Rp 1.358.743.523,- yang berasal dari :

Tabel 4.5

Anggaran Pendapatan BelanjaPemerintah Desa Bontokoraang Tahun Anggaran 2019

No Uraian Anggaran Realisasi

1 Dana Desa Rp 826.267.240,00 Rp 826.267.240,00 2

Bagi Hasil Pajak

dan Retribusi Rp 17.117.996,00 Rp 17.117.996,00 3 Alokasi Dana Desa Rp 668.682.244,00 Rp 668.682.244,00

Jumlah

Pendapatan Rp 1.512.067.240,00 Rp 1.512.067.240,00 Sumber Data: Laporan Perubahan APBDesa Tahun 2019

B. Belanja Desa Bontokoraang Anggaran Tahun 2019

Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum desa yang mengurangi ekuitas dana, merupakan kewajiban desa dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa dirinci menurut urusan pemerintahan desa, organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja. Belanja desa dipergunakan dalam rangka menandai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa sesuai dengan ketentuan perundang undangan. Belanja desa harus mencerminkan strategi pengeluaran yang rasional baik kuantitatif maupun kualitatif, sehingga akan terlihat adanya pertanggungjawaban atas pungutan sumber-sumber pendapatan desa oleh pemerintah desa serta hubungan timbal balik antara pungutan pendapatan dan pelayanan kepada masyarakat. Hal

ini dikandung maksud untuk meningkatkan akuntabilitas pencernaan anggaran serta memperjelas efektivitas dan efisiensi alokasi anggaran desa. Belanja desa diarahkan kepada upaya untuk meningkatkan proporsi belanja yang berpihak kepada kepentingan masyarakat. Disamping itu, belanja desa harus memperhatikan antara urgensi kebutuhan dan kemampuan keuangan desa.

Berikut hasil wawancara dengan Sekretaris Desa, Kaur Keuangan dan Kepala Desa terkait pengelolaan dana desa.

Wawancara dengan Sekretaris Desa bapak Muhammad Ridwan mengenai bagaimana tahap perencanaan pengelolaan keuangan desa Bontokoraang, beliau mengungkapakan bahwa :

“Sesuai dengan Permendagri No 20 Tahun 2018 dalam penyusunan pelaporan keuangan itu mengacu pada APBDes tahun berjalan dengan prosesnya yang pertama sekretaris desa telah menyusun peraturan desa tentang APBDes berdasarkan tahun berkenaan kemudian sekretaris desa menyampaikan rancangan peraturan desa kepada kepala desa untuk disetujui, setelah rancangan peraturan APBDes disampaikan ke kepala desa kemudian ditindaklanjuti dengan pembahasan dengan BPD atau Badan Permusyawaratan Desa untuk disepakati, kemudian setelah disepakati pemerintah desa melalui sekretaris desa mengundangkan peraturan desa tentang APBDes tahun 2019 kemudian ditindaklanjuti ke bagian hukum untuk mendapatkan klarifikasi, setelah klarifikasi itu selesai pemerintah desa menyampaikan peraturan desa tersebut kepada bupati melalui camat”

(Sekretaris Desa Senin, 31 Agustus 2020 pukul 16.00 WIB di Kantor Desa Bontokoraang).

Wawancara dengan Kaur Perencanaan Desa Ibu Selpi Susilawati mengena bagaimana tahap perecanaan pengelolaan keuangan desa Bontokoraang, beliau mengungkapkan bahwa :

”Tahap pertama musyawarah desa untuk melaksanakan kegiatan, kedua merencanakan kegiatan pembangunan dan rencana

anggaran belanja, ketiga membuat tim pengelola kegiatan, kemudian tahap ke empat melaksanakan kegiatan sesuai tahapan atau termin yang ditentukan”.

(Selpi Susilawati/Kaur Perencanaan Senin, 31 Agustus 2020 pukul 10.00 WIB di Kantor Desa Bontokoraang).

Wawancara dengan Kepala Desa Bapak Nur Alim S.sos mengenai bagaimana Laporan Realisasi desa Bontokoraang, beliau mengungkapkan bahwa :

“Iya, untuk semester pertama biasanya dilakukan di bulan juli dan semester kedua dibulan oktober sampai desember. Itupun tergantung kesiapan desa masing-masing. Cuma kita semaksimal mungkin sesuai jadwal bisa kita selesaikan di bulan juli dan tahap kedua di bulan desember tersebut.

Semuanya laporan pertanggungjawaban kita Perdeskan, yang jelas Perdes ini tidak menyimpang dari undang-undang atau peraturan yang diatasnya. Dalam lampiran format laporan ada yang biasa disebut dengan PAD, jadi ada program pemerintah pusat ada program pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten.”

(Kepala Desa/ Nur Alim S.sos Senin, 31 Agustus 2020 pukul 14.20 WIB di Kantor Desa Bontokoraang).

Wawancara dengan Kepala Desa mengenai transparansi yang didapatkan dari hasil wawancara dengan Kepala Desa Bontokoraang Bapak Nur Alim S.sos tentang bagaimana keuangan desa Bontokoraang dikelola, beliau mengungkapkan bahwa :

“iya kami kelola secara akuntabel dan transparan, jadi di setiap kegiatan itu terpampang papan proyek atau papan kegiatan dan disitu tertera nominal untuk kegiatannya apa. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBDES ini diinformasikan juga kepada masyarakat melalui media tertulis. Laporan pertanggungjawaban dilaporkan kepada Bupati melalui Camat.”

(Kepala Desa/Nur Alim S.sos Senin, 31 Agustus 2020 pukul 14.15 WITA di Kantor Desa Bontokoraang).

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa desa Bontokoraang sudah memperlihatkan pengelolaan dana desa yang akuntabel dan transparan.

Belanja desa sebagaimana dimaksud meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembarannya kembali oleh desa. Sesuai dengan permendagri nomor 37 tahun 2007. Belanja terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung. Adapun belanja langsung terdiri dari : belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal, sedangkan belanja tidak langsung terdiri dari : belanja pegawai / penghasilan tetap, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan social, belanja kauangan dan belanja tak terduga. Kebijakan pengembangan belanja desa yang akan dilaksanakan selam 6 (enam) tahun kedepan (2018 – 2024).

Anggaran bidang penyelenggaraan pemerintah desa tahun 2019 sebesar Rp 538.732.270,- dengan realisasi sebesar Rp 536.232.270,- terdapat selisih sebesar (Rp 2.500.000,-) yang terdiri dari :

Tabel 4.6

Bidang Penyelenggaraan Pemerintah

No Uraian

Anggaran (Rp) Bertambah/

Anggaran (Rp) Bertambah/

Dokumen terkait