HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah wanita menjelang
menopause dengan berbagai latar belakang pendidikan, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Masing-masing kelonpok subjek berjumlah 30 orang dengan rata-rata umur yang berbeda-beda berdasarkan tingkat pendidikannya, yaitu :
Tabel 3
Deskripsi Umur Subjek Pada Kategori Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Mean
Pendidikan Dasar 50 tahun
Pendidikan Menengah 46 tahun
Pendidikan Tinggi 44 tahun
2. Deskripsi Data
Skala kecemasan terdiri dari 24 aitem dengan skor jawaban dari 1 -4. Skor tertinggi adalah 24 x 4 = 96, sedangkan skor terendah ialah 24 x 1 = 24 dengan demikian skor yang diperoleh berkisar antara 24 hingga 96 sehingga rentang skornya menjadi 96 – 24 = 72. Rentang skor tersebut kemudian dibagi ke dalam enam satuan deviasi standar sehingga diperoleh 72 : 6 = 12. 12 merupakan estimasi besarnya satuan standar populasi () yang akan digunakan untuk membuat kategori normatif subjek. Mean
teoritisnya (µ) adalah 24 x 2,5 = 60. Sedangkan mean empiriknya adalah (59,63 + 50,13 + 57,73) : 3 = 55,83.
Hasil dari analisis statistik deskriptif penelitian ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4
Analisis Statistik Deskriptif
N Skor min Skor maks Mean SD Pend. Dasar 30 51 74 59,63 8,113 Pend. Menengah 30 37 69 50,13 6,506 Pend. Tinggi 30 45 76 57,73 6,308
3. Hasil Uji Asumsi a. Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan SPSS for windows versi 16,0 dengan Kolmogorov-Smirnov Test. Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran probabilitas (p). Apabila p > 0,05 maka dinyatakan normal. Sebaliknya apabila p < 0,05 maka distribusinya dinyatakan tidak normal. Hasil uji normalitas tercantum data tabel dibawah ini : Tabel 5
Ringkasan Hasil Uji Normalitas
SD SLTP SLTA D3 S1
Kolmogorov-Smirnov 0,667 0,583 1,247 0,764 0,697
Asymp. Sig (p) 0,766 0,885 0,090 0,604 0,717 Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause terhadap tingkat pendidikan SD memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,667
dengan probabilitas sebesar 0,766. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang
menopause dikatakan normal.
Uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause
terhadap tingkat pendidikan SLTP memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,583 dengan probabilitas sebesar 0,885. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang menopause dikatakan normal.
Uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause
terhadap tingkat pendidikan SLTA memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov
sebesar 1,245 dengan probabilitas sebesar 0,090. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang menopause dikatakan normal.
Uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause
terhadap tingkat pendidikan D3 memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov
sebesar 0,764 dengan probabilitas sebesar 0,604. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang menopause dikatakan normal.
Begitu juga dengan uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause terhadap tingkat pendidikan S1 memiliki nilai
Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,697 dengan probabilitas sebesar 0,717. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang menopause dikatakan normal.
b. Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan SPSS for windows versi 16,0. uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah data varians sama. Dari perhitungan yang dilakukan, diperoleh nilai Levene Statistik sebesar 1,555 dengan p (sig.) sebesar 0,120. Oleh karena p > 0,05 maka varians tersebut adalah homogen, sehingga syarat untuk melanjutkan
One way anova terpenuhi. c. Uji Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini berbunyi : ada perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan. Hipotesis minor penelitian ini yaitu :
1. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan tinggi lebih cemas dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah. 2. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan tinggi
lebih cemas dibandingkan dengan tingkat pendidikan dasar . 3. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan
menengah lebih cemas daripada yang pendidikan dasar.
Untuk mengetahui apakah hipotesis awal dalam penelitian ini diterima atau ditolak, peneliti menggunakan SPSS for Windows versi 16,0 dengan perhitungan One way anova. Hasil uji dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6
Ringkasan Hasil Uji Hipotesis
Sum of Squares Df F (Ft) Sig.
Betwen Groups 1516,200 2 15,373 0,00
Within Groups 4290,300 87
Total 5806,500 89
Bertolak dari hasil pengujian yang dilakukan, diketahui bahwa Ft (F hitung) dari data penelitian ini sebesar 15,373 dengan p (sig) sebesar 0,00. Oleh karena p < 0,05. Hal ini menandakan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat kecemasan wanita menjelang menopause
ditinjau dari berdasarkan tingkat pendidikan. Maka perlu dilihat lebih lanjut perbedaan masing-masing tingkat pendidikan. Hasil uji dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 7
Ringkasan Hasil Uji Perbedaan Kecemasan
(I) Kelompok
(J) Kelompok
(I-J)
Mean Defference Sig.
Dasar Menengah 9,500 0,00 Tinggi 1,900 0,298 Menegah Dasar -9,500 0,00 Tinggi -7,600 0,00 Tinggi Dasar -1,900 0,298 Menegah 7,600 0,00
Dari hasil uji LSD (tabel 8) yang dilakukan maka dapat diketahui bahwa saat kelompok dasar dibandingkan dengan kelompok menengah maka hasilnya p (sig) sebesar 0,00 dengan kata lain ada perbedaan tingkat kecemasan menjelang menopause, karena P < 0,05. Akan tetapi saat kelompok dasar dibandingkan dengan kelompok tinggi maka hasilnya p
(sig) sebesar 0,298 yang berarti tidak signifikan karena p > 0,05 sehingga tingkat kecemasannya juga tidak berbeda jauh antara kelompok dasar dengan kelompok tinggi.
Jika kelompok menengah dibandingkan dengan kelompok dasar dan kelompok tinggi maka diketahui hasilnya p (sig) sebesar 0,00 yang berarti ada perbedaan tingkat kecemasan karena p < 0,05.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil uji beda antara mean teoritik dan mean empiris, diketahui skor pada mean teoritik (60) lebih tinggi dari skor mean empiris (52,80). Hal ini menunjukkan bahwa wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi memiliki tingkat kecemasan yang tergolong rendah. Wanita menjelang menopause menganggap masa
menopause merupakan hal yang wajar. Hal ini didukung dengan pendapat Rahayu dkk (1991) yang mengatakan bahwa menopause merupakan keadaan biologis yang wajar pada setiap wanita dan ditandai dengan berhentinya menstruasi.
Berdasarkan hasil One way anova menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan wanita menjelang menopause yang signifikan berdasarkan tingkat pendidikan. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan tinggi dan tingkat pendidikan dasar memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan yang berpendidikan menengah. Namun, pada tingkat pendidikan menengah memiliki tingkat kecemasan yang
lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok tingkat pendidikan yang lain.
Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan dasar lebih tinggi kecemasannya secara signifikan dibandingkan dengan wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan menengah. Hal ini tidak mendukung hasil penelitian Partini dkk (1998) bahwa tingkat pemahaman terhadap menopause tergolong rendah dan tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause juga tergolong rendah.
Wanita yang berpendidikan dasar lebih cemas secara signifikan dibandingkan wanita yang berpendidikan menengah, karena menurut peneliti mereka salah dalam memproses informasi yang ada. Hal ini didukung oleh pendapat Wurman dan Kennedy (dalam Bawden dan Robinson, 2009) bahwa kecemasan karena informasi disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengakses informasi secara benar, memahami, dan menggunakan, informasi tersebut. Hasil penelitian Darwis (2008) juga menjelaskan bahwa wanita
premenopause berpendidikan rendah memiliki kecemasan tinggi karena informasi dan pengetahuan yang diterima direspon dengan keliru. Hal ini juga didukung pendapat Thea (2007) yang mengatakan, karakteristik wanita dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah yaitu mereka kurang memiliki wawasan atau pengetahuan, sehingga ada kecenderungan terpenjara dalam mitos yang ada dalam masyarakat tempat mereka tinggal. Misalnya, wanita yang mengalami menopause akan mempersepsikan dirinya sudah tidak mampu lagi memberikan kepuasan seksual kepada suaminya.
Wanita menjelang menopause pada tingkat pendidikan menengah memiliki kecemasan lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang lain. Hal ini dapat disebabkan wanita menjelang
menopause dengan tingkat pendidikan menengah tidak mudah terpengaruh mitos dibandingkan dengan wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan dasar karena didukung oleh sejumlah informasi meskipun dalam jumlah yang terbatas jika dibandingkan dengan wanita menjelang menopause
yang berpendidikan tinggi.
Wanita menjelang menopause pada tingkat pendidikan tinggi lebih cemas secara signifikan dibandingkan wanita menjelang menopause yang berpendidikan menengah. Hal tersebut menjelaskan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi juga membuat tingginya kecemasan menjelang menopause. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2007) bahwa orang yang berpendidikan tinggi akan mudah dalam mengakses informasi yang ada. Berdasarkan pendapat Notoatmodjo (2007), dapat disimpulkan orang yang berpendidikan tinggi sudah terbiasa dalam mengakses informasi yang ada dibandingkan dengan yang berpendidikan menengah terutama wanita menjelang menopause sehingga lebih tahu banyak akibat dari menopause. Oleh sebab itu, mereka akan lebih cemas dalam menghadapi menopause.
Menurut Bawden dan Robinson (2009) banyak informasi yang tidak profesional atau ilmiah terutama dalam bentuk digital. Informasi yang ada didasarkan atas opini seseorang dan bukan dari sebuah penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Situs website yang terlalu berlebihan dalam
memberikan informasi dapat mengganggu wanita menjelang menopause
karena terlalu banyak informasi tentang menopause yang tidak terpercaya. Hal ini didukung pendapat Case (dalam Smith, 2011) yang mengatakan bahwa stres dan kecemasan cenderung meningkat ketika seseorang dihadapkan dengan terlalu banyak sumber informasi. Salah satu contohnya, banyak informasi tentang menopause di internet lebih menekankan membahas tentang gejala dan akibat dari adanya menopause daripada solusi menghadapi menopause. Hal ini dapat memunculkan kecemasan karena tidak semua gejala dan akibat adanya menopause pasti dialami wanita menjelang
menopause sehingga muncul perasaan ketidakpastian akan akibat yang alami dari adanya menopause.
BAB V