i
PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN WANITA MENJELANG
MENOPAUSE DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh :
MARIA NOVIANINGSIH PRIYONO NIM : 079114095
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iii
MOTTO
J angan bertanya berapa kali kamu jatuh,
T etapi bertanyalah seberapa kuat kamu untuk bangkit
dan terus maju...
Aku percaya pada matahari, bahkan ketika dia tidak bersinar.
Aku percaya pada cinta, bahkan ketika aku tidak merasakannya.
Dan aku percaya pada Tuhan, bahkan ketika Dia diam saja.
Sungguh aku percaya itu.
iv
KARYA KECIL INI KU PERSEMBAHKAN UNTUK
TUHAN YESUS, yang membuat segalanya menjadi mungkin....
IBUKU TERSAYANG, tiada batasnya berkata aku mampu...
APRIL (Alm.), alasanku bertahan hingga kini...
PARA WANITA MENJELANG MENOPAUSE, sumber inspirasi...
vi
PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN WANITA MENJELANG
MENOPAUSE DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN
Maria Novianingsih Priyono
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan tingkat kecemasan wanita menjelang
menopause ditinjau dari tingkat pendidikan. Hipotesis yang diajukan adalah ada perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan. Wanita menjelang
menopause dengan tingkat pendidikan tinggi lebih cemas dibandingkan dengan tingkat pendidikan dasar dan menengah, sedangkan wanita menjelang menopause yang tingkat pendidikan menengah lebih cemas dibandingkan yang pendidikan dasar. Subjek penelitian ini adalah 90 wanita menjelang menopause yang terdiri dari 30 wanita dengan tingkat pendidikan dasar, 30 wanita dengan tingkat pendidikan menengah, dan 30 wanita dengan tingkat pendidikan tinggi. Mereka yang menjadi subjek adalah wanita usia dewasa madya yang belum mengalami menopause dan berusia 40 tahun ke atas. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala kecemasan dan melihat tingkat pendidikannya. Daya diskriminasi skala menggunakan batas nilai ≥ 0,2 dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,912. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan One Way Anova. Dalam menentukan diterima atau ditolaknya hipotesis, dilakukan dengan cara melihat besar F hitung (Ft) dan signifikannya (p). Dari perhitungan menunjukkan nilai Ft sebesar 15,373 dengan p (sig) 0,00 (p < 0,05). Hal ini menandakan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan wanita menjelang menopause yang signifikan berdasarkan tingkat pendidikan. Perbedaan tersebut yaitu kelompok pendidikan dasar memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok pendidikan menengah, sedangkan tingkat kecemasan kelompok pendidikan dasar tidak berbeda secara signifikan dengan kelompok pendidikan tinggi. Pada kelompok pendidikan menengah, memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok pendidikan dasar dan tinggi.
Kata kunci: kecemasan menjelang menopause, tingkat pendidikan
vii
THE DIFFERENCES IN ANXIETY LEVEL OF PRE-MENOPAUSAL WOMEN
IN TERM OF EDUCATION LEVEL
Maria Novianingsih Priyono
ABSTRACT
The aim of this study was to see the differences in anxiety levels of pre-menopausal women in terms of education level. The hypothesis was there were differences of anxiety level in pre-menopausal women in terms of education level. Pre-menopausal women with high education level were more anxious than the women on primary and secondary education level, whilepre-menopausal women on secondary education level was more anxious than women on primary education level. The subjects of this study were 90 women approaching menopause. It consisted of 30 women with primary education level, 30 women with secondary education level, and 30 women with high education level. Subjects on this research were the adult middle age women who have not experienced menopause and aged 40 years and over. The collecting data used anxiety scale and consider the level of education. Discrimination power of the anxiety scale used boundary value of ≥ 0.2 and reliability coefficient of 0.912. The research data were analyzed using One Way Anova..In determining whether the hypothesis is accepted or rejected, it is done by looking at the big F count (Ft) and significance (p). From the calculation showed a value of 15.373 with a p Ft (sig) 0.00 (p <0.05). This indicated that there were differences in anxiety level of the women approaching menopause in term of education level. The difference was that primary education groups have higher anxiety levels significantly compared with a group of secondary education, whereas the anxiety level of primary education groups did not differ significantly from the higher education group. The group of secondary education have lower anxiety compared to basic and higheeducation groups.
Keywords: anxiety pre-menopausal, levels of education
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME yang sudah memberikan kasih setianya sampai pada saat ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Tingkat Kecemasan Wanita Menjelang Menopause
Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan”.
Penulis juga menyadari banyak pihak yang telah berperan serta baik dalam memberikan waktu, tenaga dan pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada:
1. Dr. Christina Siwi Handayani selaku dekan yang sudah membantu kelancaran dalam penyusunan skripsi ini.
2. Ibu A. Tanti Arini S.Psi.,M.Si. selaku dosen pembimbing yang sudah membimbing dengan penuh kesabaran dari awal sampai akhir dalam pembuatan skripsi ini.
3. Ibuku yang paling kusayang dan tidak pernah lelah mengatakan bahwa aku mampu saat semua orang meragukan itu. Thank’s mom, you`re my everything.
4. Bapakku yang slalu ingin terlihat kuat dan sehat didepanku. Sejujurnya saat aku marah itu karena aku khawatir akan kesehatanmu.
5. Buat April (Alm.) sudah kupenuhi semua impianmu. Maaf tidak semuanya persis seperti yang kau mau. Terima kasih mau meminjamkan tujuan hidupmu.
x
6. Keluarga besar Semarang, Salatiga, dan Bantul yang tak henti-hentinya membantu selama proses pembuatan skripsi ini.
7. Buat Sahabat-sahabatku: Stella, Ina, Nyak, Bundo, Ringgo, Upil, Anggi, Nenis yang sudah membantu menyebarkan skala penelitian dan juga makasih buat persahabatannya. Special thanks for Nenek Reny dan Tante Keket yang tak pernah bosan membantu merevisi skripsiku sampai detik-detik terakhir. 8. Buat Moed H2768BR teman setiaku saat susah dan senang kita selalu
bersama. Maaf beban yang kau bawa selalu berat.
9. Buat mamasku Bened makasih sudah mau mengalah untukku apa pun itu. 10.Buat keluarga besar Perpustakaan Paingan terima kasih mengijinkanku
menjadi bagian dalam keluarga ini.
11.Para responden yang sudah ikut berpartisipasi dalam memberikan data penelitian.
12.Kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu dan telah membantu sampai pada penyusunan skripsi ini.
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...ix
KATA PENGANTAR ... x
BAB II. LANDASAN TEORI ... 7
xii
1. Pengertian Tingkat Pendidikan ... 16
2. Peran Tingkat Pendidikan ... 18
E. Dinamika Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Wanita Menjelang Menopause Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan ... 19
F. Hipotesis ... 21
BAB III. METODE PENELITIAN ... 23
A. Jenis Penelitian ... 23
B. Variabel Penelitian... 23
C. Definisi Operasional ... 23
D. Subjek Penelitian ... 24
E. Sampling ... 24
F. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 25
G. Kredibilitas Alat Ukur ... 27
1. Validitas ... 27
xiii
2. Daya Beda Aitem ... 28
3. Reliabilitas ... 29
I. Teknik Analisis Data ... 30
1. Uji Asumsi Analisis Data... 30
2. Pengujian Hipotesis Penelitian ... 31
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32
A. Pelaksanaan Penelitian ... 32
B. Hasil Penelitian ... 33
1. Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian... 33
2. Deskripsi Data ... 33
3. Hasil Uji Asumsi ... 34
a . Normalitas ... 34
b. Homogenitas ... 36
c. Uji Hipotesis ... 36
C. Pembahasan ... 38
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 42
A. Kesimpulan ... 42
B. Saran ... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 45
LAMPIRAN ... 49
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Blue Print Skala Kecemasan Menjelang Menopause Sebelum Uji Coba ... 26
Tabel 2. Spesifikasi Skala Kecemasan Menjelang Menopause Setelah Uji Coba dan Untuk Penelitian ... 29
Tabel 3. Deskripsi Umur Subjek Pada Kategori Tingkat Pendidikan ... 33
Tabel 4. Analisis Statistik Deskriptif ... 34
Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji Normalitas ... 34
Tabel 6. Ringkasan Hasil Uji Hipotesis ... 37
Tabel 7. Ringkasan Hasil Uji Perbedaan Kecemasan ... 37
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Skema Dinamika Perbedaan Tingkat Kecemasan Wanita Menjelang
Menopause Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan ... 21
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A (Uji Coba) ... 50
1. Format Skala Kecemasan ... 51
2. Uji Reliabilitas dan Seleksi Item ... 60
Lampiran B (Penelitian) ... 75
1. Format Skala Kecemasan ... 76
2. Uji Normalitas ... 83
3. Uji Homogenitas dan Uji Hipotesis ... 86
4. Uji LSD dan Uji Empiris ... 87
5. Data Penelitian ... 88
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tahap kehidupan yang pasti dialami oleh setiap wanita adalah datangnya menopause. Menopause adalah masa di usia tengah baya, biasanya pada usia akhir 40 tahun atau awal 50 tahun, ketika periode haid perempuan dan kemampuan melahirkan anak berhenti secara keseluruhan (Santrock, 2002). Kecenderungan populasi perempuan menopause di Indonesia semakin tinggi. Menurut data Departemen Kesehatan (Depkes) perempuan Indonesia yang memasuki menopause sebesar 7,4% dari populasi pada tahun 2000, dan akan naik lagi sebesar 14% atau sekitar 30 juta orang pada tahun 2015. Peningkatan populasi perempuan menopause pada umumnya akan disertai berbagai tingkat dan jenis permasalahan yang kompleks dan berdampak pada peningkatan masalah kesehatan perempuan menopause
tersebut (dalam Erniyati & Simanjutak, 2007).
Pada Simposium Nasional Perkumpulan Menopause Indonesia (PERMI) 21-22 April 2007 di Jakarta dikemukakan bahwa rata-rata umur perempuan menopause di Indonesia 48 ± 53 tahun dan mempunyai lima gejala utama seperti, nyeri otot atau sendi (77,7 %), rasa letih dan hilang energi (68,7 %), kehilangan nafsu seksual (61,3 %), kerutan di kulit (60 %), sulit konsentrasi dan hot flushes (29,5 %) (dalam Evalina, 2009). Selain itu,
gangguan jantung dan gangguan kencing seperti kebocoran urin ketika batuk atau bersin (Proverawati, 2010). Namun, tidak semua wanita menopause
berisiko mengalami hipertensi, gangguan jantung dan gangguan kencing. Pada masa menopause seorang wanita masih dalam tahap produktif untuk berkarier sehingga dengan adanya gejala menopause dapat mengganggu kualitas hidupnya. Bagi wanita karir, menopause mengganggu konsentrasi saat bekerja karena ingatan yang semakin menurun. Gejala menopause juga dapat memunculkan masalah dalam keluarga, misalnya masalah dengan suami yaitu terganggunya hubungan intim. Hal ini disebabkan oleh produksi estrogen
yang menurun sehingga terjadi ketidak-elastisan dan kekeringan pada sekitar vagina. Keadaan ini menyebabkan hubungan kelamin menjadi sakit. Namun, bukan berarti wanita yang mengalami menopause harus menghindari hubungan seksual (Hammasa, 2004). Gejala-gejala di atas merupakan salah satu bentuk dari sindroma premenopause. Sindroma premenopause adalah gejala yang merupakan kombinasi dari fisikal distress, psikologikal, dan atau perubahan tingkah laku dimana gejala tersebut sangat parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari (Chwistek, 2006).
Sindroma premenopause di alami oleh banyak wanita hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80% wanita di Eropa, 60% wanita di Amerika, 57% wanita di Malaysia, 18% wanita di Cina, 10% wanita di Jepang dan Indonesia (dalam Proverawati, 2010). Secara global banyak wanita mengalami sindroma
premenopause dapat didasarkan data yang belum akurat. Hal ini disebabkan karena Indonesia masih menganut budaya timur yang masih tabu membicarakan seksualitas di masyarakat sehingga tidak semua wanita yang mengalami sindroma premenopause terlaporkan.
Menurut Myra Diarti (dalam Setiono, 2004), dalam kultur patriarki
menopause langsung dikaitkan dengan ketidakmampuan perempuan memberikan kepuasan seksual kepada laki-laki. Susan Sontag (dalam Setiono,2004 ) juga mengatakan bahwa bagi perempuan sendiri dalam kultur patriarki, tua dianggap sebagai proses yang memalukan dari diskualifikasi seksual secara bertahap. Oleh sebab itu, bisa dipahami kalau banyak perempuan menolak menjadi tua terlebih menolak adanya menopause.
Pada wanita yang khawatir akan datangnya menopause dan memandang menopause sebagai suatu ancaman, biasanya mereka akan menutupinya dengan mengikuti tren atau mode untuk menutupi perubahan-perubahan pada dirinya. Seperti dandanan yang terlalu mencolok, melakukan bedah plastik, menyemir rambut, membeli wig, bergabung dalam program penurunan berat, meminum vitamin berdosis tinggi (Santrock, 2002). Namun hal ini justru membuat wanita tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Selain itu mereka juga membuang waktu, tenaga dan uang dengan melakukan hal-hal yang sifatnya sementara. Kekhawatiran banyaknya kasus sindroma
premenopause menandakan adanya kecemasan pada wanita menjelang
Kecemasan adalah bentuk perasaan khawatir, gelisah dan perasaan-perasaan lain yang kurang menyenangkan (Hurlock, 1992). Wanita yang sangat mencemaskan datangnya menopause besar kemungkinannya karena ia kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause
(Noor, 2001). Hal ini disebabkan informasi yang diberikan kebanyakan atas dasar opini seseorang bukan dari sebuah penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan. Situs website yang terlalu berlebihan dalam memberikan informasi juga dapat memunculkan kecemasan pada wanita menjelang menopause (dalam Bawden & Robinson, 2009). Salah satu contohnya, banyak informasi tentang menopause di internet membahas tentang gejala dan akibat dari adanya menopause. Hal ini dapat memunculkan kecemasan karena tidak semua gejala dan akibat adanya menopause pasti dialami wanita menjelang menopause sehingga muncul perasaan ketidakpastian akan akibat yang alami dari adanya menopause.
Orang yang berpendidikan tinggi lebih terbiasa dalam mengakses informasi sehingga pencarian informasi dipengaruhi dari tingkat pendidikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007) yang mengatakan orang yang berpendidikan tinggi akan mudah dalam mengakses informasi yang ada. Oleh sebab itu, wanita yang berpendidikan tinggi terutama wanita menjelang
menopause diasumsikan lebih banyak mengetahui akibat dari menopause yang bisa menimbulkan cemas.
ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Partini, Sri, Isanti, Siti, dan Ayriza (1998) dikatakan bahwa tingkat pemahaman terhadap menopause pada ibu-ibu di Kabupaten Sleman tergolong rendah dan tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause juga tergolong rendah. Penelitian dari Marga (2007) juga mengatakan bahwa penerimaan diri pada ibu-ibu di Kelurahan Lhok Keutapang Tapaktuan yang rendah sehingga tingkat kecemasan terhadap
menopause tergolong ringan. Kedua penelitian tersebut, belum mengaitkan peran dari tingkat pendidikan terhadap kecemasan bagi wanita menjelang
menopause sehingga pertanyaan dalam penelitian ini adalah apakah ada perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan.
B. Rumusan Masalah
Apakah ada perbedaan tingkat kecemasan wanita menjelang menopause
ditinjau dari tingkat pendidikan ?
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu psikologi, khususnya di Bidang Psikologi Klinis dan Perkembangan untuk melihat perbedaan tingkat kecemasan wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan.
2. Manfaat Praktis
7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Menjelang Menopause
1. Pengertian Menopause
Menopause merupakan perdarahan haid yang terakhir (Baziad, 2002). Shimp dan Smith (dalam Marga, 2007) mendefinisikan menopause
sebagai akhir periode menstruasi. Menopause adalah berhentinya siklus haid terutama karena ketidakmampuan sistem neurohumoral untuk mempertahankan stimulasi periodiknya pada sistem endokrin (dalam Marga, 2007), Baziad (2002) menyebutkan menopause sebagai pendarahan rahim terakhir yang masih diatur oleh hormone ovarium. Istilah menopause digunakan untuk menyatakan suatu perubahan hidup dan pada saat itulah seorang wanita mengalami periode terakhir masa haid (kasdu, 2004).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
2. Masa Menjelang Menopause
Masa menjelang menopause dalam dunia kedokteran dikenal dengan sebutan masa premenopause. Masa premenopause berada dalam fase klimaksterium. Klimaksterium berasal dari kata Yunani yang berarti “selangkah di atas tangga”, hal itu mewakili awal dari fase selanjutnya dalam kehidupan seorang wanita. Dengan demikian, klimaksterium dapat diartikan sebagai suatu masa peralihan antara tahun-tahun reproduksi akhir dan menopause sebenarnya yang dimulai pada akhir masa reproduksi (sekitar usia 40 tahun) dan berakhir pada awal masa senium (lanjut usia), yaitu pada usia 65 tahun. Masa klimaksterium terdiri dari masa
premenopause, menopause, dan pascamenopause (Endang, 2008).
Premenopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, sedangkan pascamenopause adalah 3-5 tahun setelah menopause (Endang, 2008). Di Indonesia, premenopause menurut Proverawati (2010) biasanya mulai dialami oleh wanita yang berusia 40 tahun ke atas. Berikut gambaran ringkas dari gejala-gejala premenopause (Proverawati, 2010) :
1. Tidak teratur siklus haid 2. Ketidakstabilan vasomotor
a. Hot flushes
b. Keringat malam c. Gangguan tidur
b. Perubahan mood
c. Kurang konsentrasi, pelupa 4. Kekeringan pada vagina 5. Gejala-gejala somatik
a. Sakit kepala b.Mudah lelah c. Pusing
Pada wanita yang menjelang menopause, munculnya simptom-simptom psikologis sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan pada aspek fisik-fisiologis, sebagai akibat dari berkurang dan berhentinya produksi hormon estrogen. Oleh sebab itu, bagi beberapa wanita, gejala fisik yang dialami pada masa premenopause ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada wanita menjelang menopause keluhan yang sering dirasakan antara lain: merasa cemas, takut, lekas marah, mudah tersinggung, sulit konsentrasi, gugup, merasa tidak berguna – tidak berharga, stres dan bahkan ada yang mengalami depresi.
anggota keluarga, dan perubahan kebiasaan. Selain itu, ketidakpastian tentang risiko yang akan wanita menjelang menopause alami saat
menopause.
B. Kecemasan Menjelang Menopause
1. Pengertian Kecemasan Menjelang Menopause
Cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimanapun juga bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah psikologis (Hurlok, 1992).
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu kondisi psikologis yang tidak menyenangkan dan ditandai dengan rasa takut, was-was, dan khawatir. Dengan demikian, kecemasan menjelang menopause dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi psikologis yang tidak menyenangkan yang dialami oleh wanita menjelang menopause dan ditandai dengan rasa takut, was-was, dan khawatir.
2. Aspek-aspek Kecemasan Menjelang Menopause
Aspek kecemasan menurut Martaniah (1984) akan digunakan sebagai acuan aspek-aspek kecemasan menjelang menopause, yaitu
1) Secara kognitif, kecemasan dimanifestasikan ke dalam pikiran. Wanita menjelang menopause menjadi cemas, sulit untuk berkonsentrasi, sulit untuk membuat keputusan, dan terlalu terpaku pada bahaya yang tidak jelas asalnya.
2) Secara somatik, kecemasan dimanifestasikan ke dalam reaksi tubuh terhadap bahaya. Pada wanita menjelang menopause dapat dilihat dari pernafasan tidak teratur, dahi berkerut, muka pucat, berdebar-debar, tangan dan kaki dingin, mulut kering, sesak nafas, gangguan pencernaan dan sebagainya.
4) Secara perilaku, kecemasan dimanifestasikan pada reaksi dalam bentuk perilaku terhadap ancaman, misalnya gelisah, gugup dan bingung.
3. Tingkat Kecemasan Menjelang Menopause
Tingkat kecemasan menjelang menopause akan disimpulkan dari tingkat kecemasan menurut Peplau (Stuart & Sundeen, 1995) yaitu:
a. Kecemasan ringan
Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami individu sehari-hari. Wanita menjelang menopause pada tingkat ini masih termotivasi untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif dan kreativitas.
b. Kecemasan sedang
Individu hanya terfokus pada satu masalah saja. Wanita menjelang
menopause pada tingkat ini mengalami penyempitan persepsi dan masih dapat melakukan pekerjaannya dengan arahan orang lain. c. Kecemasan berat
Persepsi individu sangat sempit. Wanita menjelang menopause pada tingkat ini pusat perhatiannya hanya pada permasalahannnya saja dan tidak dapat berpikir tentang hal-hal lain. Oleh sebab itu, perlu banyak atau arahan untuk terfokus pada area lain.
d. Kecemasan berat sekali atau panik
Indivudu kehilangan kendali dan tidak bisa fokus. Wanita menjelang
mendengarkan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif, disertai disorganisasi kepribadian.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan Menjelang Menopause
1. Faktor Internal
a. Respon Terhadap Stimulus
Menurut Trismiati (2004), kemampuan wanita terutama yang menjelang menopause dalam menelaah rangsangan atau besarnya rangsangan yang diterima akan mempengaruhi kecemasannya dalam menghadapi menopause. Hal ini sesuai dengan pendekatan kognitif dalam ilmu psikologi, pada dasarnya gangguan emosi (takut, cemas, stres) yang dialami manusia, sangat ditentukan oleh bagaimana individu menilai, menginterpretasi, atau mempersepsikan peristiwa yang dialaminya. Jadi, bagaimana seorang wanita menjelang
2. Faktor Eksternal
a. Dukungan Keluarga
Adanya dukungan keluarga akan menyebabkan wanita menjelang
menopause lebih siap dalam menghadapi masa menopause
(Kasdu,2002).
b. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan di sekitar dapat menyebabkan wanita menjelang menopause menjadi lebih kuat dalam menghadapi
c. Informasi
Sarana komunikasi dan informasi berperan dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Sarana komunikasi yang ada, terdiri dari media cetak, media elektronik dan dari mulut ke mulut (lisan). Informasi yang diberikan dapat berupa gejala menopause,
risiko menopause, dan saran menghadapi menopause.
Pemberian informasi tentang seluk beluk menopause dan risikonya diharapkan membantu wanita menjelang menopause untuk lebih siap dalam menghadapi menopause. Namun, bagi beberapa wanita menjelang menopause informasi tersebut justru memunculkan adanya kecemasan bahkan sampai stres. Hal didukung oleh pendapat Sarafino
(1990) yang mengatakan bahwa stres dan kecemasan justru muncul saat seseorang diberikan informasi tentang risiko yang akan terjadi pada dirinya, contohnya: pemberian kartu peringatan bahaya mengemudi di Kota Los Angeles dimaksudkan agar para pengemudi lebih berhati-hati dalam mengemudi tetapi justru membuat cemas dibandingkan sebelum mereka membacanya sehingga satu tahun kemudian kartu-kartu tersebut ditarik kembali.
muncul adanya kecemasan karena persepsi buruk tentang menopause.
Hal ini didukung oleh pendapat Case (dalam Smith, 2011) yang mengatakan bahwa stres dan kecemasan cenderung meningkat ketika seseorang dihadapkan dengan terlalu banyak sumber informasi dan ketidakpastian atas kualitas informasi tersebut.
D. Tingkat Pendidikan Wanita
1. Pengertian Tingkat Pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) adalah perubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Kartono (dalam Tarigan, 2006) pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis, dan intensional, dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.
Dalam proses pendidikan, setiap individu akan melalui beberapa tahapan yang sesuai dengan jenjang pendidikannya. Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 bab I pasal 1, definisi tingkat pendidikan yaitu tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Dalam UU tersebut, tingkat pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Berikut penjelasan dari masing-masing tingkat pendidikan :
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar terbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat (pasal 17).
b. Pendidikan Menengah
c. Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas (pasal 19 & 20). 2. Peranan Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan memberikan pengaruh dalam bidang kognitif pada diri seseorang. Tingkat pendidikan juga berperan cukup besar dalam pembentukan pribadi seseorang. Tingkat pendidikan yang berbeda akan menghasilkan pribadi seseorang yang berbeda pula (Yuliastuti, 2001).
Berdasarkan tingkatan pendidikan bahwa pendidikan yang tinggi dapat dicapai setelah pendidikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan seseorang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi seharusnya cenderung memiliki pengetahuan yang lebih luas dan selektif dalam mencari informasi sehingga dapat melihat kelemahan dan kelebihan dari permasalahannya. Hal ini sesuai tujuan dari diselenggarakannya pendidikan yaitu untuk mengembangkan kemampuan, kreatif dan mandiri dalam menyelesaikan masalahnya.
tentang tujuan pendidikan tinggi, menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan akademis professional dan tanggap terhadap kebutuhan iptek.
E. Dinamika Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Wanita Menjelang
Menopause Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan
Menurut Kartono (dalam Tarigan, 2006) pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis, dan intensional, dibantu oleh metode dan teknik ilmiah, diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu. Hal ini sesuai dengan tujuan dari diselenggarakannya pendidikan menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 yaitu untuk mengembangkan kemampuan, kreatif dan mandiri dalam menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu, latar belakang pendidikan wanita terutama yang menjelang
menopause dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan dapat menambah atau meningkatkan informasi terutama tentang menopause. Hal ini didukung oleh pendapat Notoatmodjo (2007) bahwa orang yang berpendidikan tinggi akan mudah dalam mengakses informasi yang ada.
Pemberian informasi tentang seluk beluk menopause dan risikonya diharapkan membantu wanita menjelang menopause untuk lebih siap dalam menghadapi menopause. Namun, bagi beberapa wanita menjelang menopause
informasi tersebut justru memunculkan adanya kecemasan bahkan sampai stres.
dan kecemasan justru muncul saat seseorang diberikan informasi tentang risiko yang akan terjadi pada dirinya.
Menurut Bawden dan Robinson (2009) banyak informasi yang tidak profesional atau ilmiah terutama dalam bentuk digital. Informasi yang ada didasarkan atas opini seseorang dan bukan dari sebuah penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Situs website yang terlalu berlebihan dalam memberikan informasi dapat mengganggu wanita menjelang menopause dan memunculkan adanya kecemasan. Hal ini didukung pendapat Case (dalam Smith, 2011) yang mengatakan bahwa stres dan kecemasan cenderung meningkat ketika seseorang dihadapkan dengan terlalu banyak sumber informasi dan ketidakpastian atas kualitas informasi tersebut. Salah satu contohnya, banyak informasi tentang menopause di internet membahas tentang gejala dan akibat dari adanya menopause. Hal ini dapat memunculkan kecemasan karena tidak semua gejala dan akibat adanya menopause pasti dialami wanita menjelang menopause sehingga muncul perasaan ketidakpastian akan akibat yang alami dari adanya menopause.
Skema 1. Dinamika Perbedaan Tingkat Kecemasan Wanita
Menjelang Menopause Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan
F. Hipotesis
Berdasarkan kerangka kajian teori yang ada, maka hipotesis mayor penelitian ini yaitu ada perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan. Hipotesis minor penelitian ini yaitu :
1. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan tinggi lebih cemas dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah
2. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan tinggi lebih cemas dibandingkan dengan tingkat pendidikan dasar
22
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan jenis penelitian kuantitatif, dengan desain penelitian komparatif. Desain penelitian komparatif yaitu penelitian untuk membandingkan dua atau lebih sampel penelitian dan untuk melihat perbedaan dari kedua atau lebih sampel tersebut (Azwar, 2005). Dalam penelitian ini, peneliti akan melihat adakah perbedaan tingkat kecemasan wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan.
B. Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah Variabel bebas : tingkat pendidikan Variabel tergantung : tingkat kecemasan
C. Definisi Operasional
1. Tingkat Kecemasan
Kecemasan menjelang menopause adalah suatu kondisi psikologis yang tidak menyenangkan yang dialami oleh wanita sebelum menopause
yang ditandai dengan rasa takut, was-was dan khawatir. Tingkat kecemasan menjelang menopause adalah suatu ukuran seberapa tinggi dan
rendahnya suatu kondisi psikologis yang tidak menyenangkan yang dialami oleh wanita sebelum menopause dan ditandai dengan rasa takut, was-was dan khawatir. Kecemasan di dalam penelitian ini di ukur dengan skala kecemasan yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dipaparkan oleh Martaniah (1984) yaitu secara kognitif, somatik, emosi dan perilaku. Skor yang tinggi pada skala ini menunjukkan tingkat kecemasan yang tinggi pada wanita menjelang menopause, sedangkan skor yang rendah maka semakin rendah pula tingkat kecemasan pada wanita menjelang
menopause.
2.Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan subjek dapat diketahui dari laporan subjek tentang jenjang pendidikan yang dilaluinya.
D. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah wanita dewasa madya yang berusia 40 tahun ke atas dan belum mengalami menopause.
E. Sampling
Sampling penelitian dalam penelitian ini menggunakan model
F. Metode dan Alat Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala, yaitu dengan menyebarkan skala berisi pernyataan-pernyataan yang harus diisi oleh subjek penelitian. Penelitian ini akan menggunakan uji coba terpisah dimana alat ukur akan diberikan pada subjek uji coba. Hasil yang didapatkan akan dianalisis lalu aitem yang tersisa akan diteskan lagi pada subjek penelitian dan akan dijadikan sumber data.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecemasan, yaitu pernyataan yang mengungkapkan komponen kognitif, somatik, emosi, dan perilaku dalam menghadapi menopause. Skala disusun sendiri oleh peneliti menggunakan skala likert yang telah disesuaikan dengan variabel yang akan diukur.
Skala kecemasan menjelang menopause ini terdiri dari 40 butir pertanyaan yang berisi 20 pertanyaan favorabel dan 20 pernyataan unfavorabel. Dibawah ini tabel blue print skala kecemasan menjelang
Tabel 1
Blue Print Skala Kecemasan Menjelang Menopause Sebelum Uji Coba
Skala kecemasan hadapi menopause tersebut di setiap butir aitemnya memuat empat kategori alternatif jawaban yaitu “Sangat Setuju” (SS), “Setuju” (S), “Tidak Setuju” (TS), “Sangat Tidak Setuju” (STS). Penskoran dalam penelitian ini adalah :
1. Pada pernyataan favorable, jawaban “Sangat Setuju” (SS) memperoleh skor 4, “Setuju” (S) memperoleh skor 3, “Tidak Setuju” (TS) memperoleh skor 2, “Sangat Tidak Setuju” (STS) memperoleh skor 1. 2. Pada pernyataan unfavorable, jawaban “Sangat Setuju” (SS)
memperoleh skor 1, “Setuju” (S) memperoleh skor 2, “Tidak Setuju” (TS) memperoleh skor 3, “Sangat Tidak Setuju” (STS) memperoleh skor 4.
Uji coba dilaksanakan mulai tanggal 14 Juli 2011. Subjek uji coba adalah wanita menjelang menopause di atas 40 tahun yang tinggal di daerah Bantul dan Kota Yogyakarta. Di daerah Bantul peneliti mendapatkan 40 ibu-ibu menjelang menopause dengan tingkat pendidikan SLTP, SLTA, S,1 dan S2. Sedangkan di kota Yogyakarta, peneliti mendapatkan 20 ibu-ibu menjelang menopause di daerah Godean dan Maguwoharja dengan tingkat pendidikan SD, SLTP, SLTA, dan D3. Dari seluruh skala yang dibagikan kembali dengan jumlah yang sama, dalam arti tidak ada skala yang gugur atau tidak diisi atau tidak lengkap. Jadi total subjek uji coba adalah 60 subjek.
G. Kredibilitas Alat Ukur
1. Validitas
Validitas adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Valid tidaknya suatu alat ukur tergantung pada mampu tidaknya alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat (Azwar,2001). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity). Validitas ini merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi test dengan analis rasional atau lewat professional judgment
(Azwar,2001). Professional judgment di dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing.
yang hendak diukur (aspek representasi) dan sejauhmana aitem-aitem tes mencerminkan ciri-ciri perilaku yang hendak diukur (aspek relevansi) (Azwar, 2001).
2. Daya Beda Aitem
Prosedur seleksi aitem didasarkan pada data empiris, yaitu data hasil uji coba aitem. Kualitas aitem-aitem diukur dengan analisis butir, yang menggunakan parameter daya beda aitem. Daya beda aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antar individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar,2001).
Indeks daya beda aitem merupakan konsistensi antar fungsi aitem dengan fungsi skala secara keseluruhan yang dikenal dengan istilah konsistensi aitem total. Pengujian daya beda aitem dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antar distribusi skor skala yang akan menghasilkan koefisien korelasi total, yang disebut parameter daya beda aitem (Azwar,2001). Streiner & Norman (1994) menganjurkan untuk menggunakan aitem dengan indeks daya beda antara 0,2 sampai 0,8 sehingga aitem yang berada diluar kisaran 0,2 - 0,8 sebaiknya digugurkan.
Tabel 2
Spesifikasi Aitem Skala Kecemasan Menjelang Menopause Setelah Uji Coba dan Untuk Penelitian
No Aspek No Aitem Jumlah
Berdasarkan hasil uji coba, ternyata jumlah aitem dalam tiap aspek tidak lagi sama, maka peneliti dengan persetujuan dosen pembimbing tetap mempertahankan aitem yang ada dengan asumsi bahwa 24 aitem yang terbaik masih mewakili setiap aspek yang hendak diukur dan dapat digunakan untuk mengukur kecemasan menjelang menopause yang dimiliki subjek penelitian.
Skala kecemasan yang dibuat lebih diwakili oleh tiga aspek, yaitu aspek kognitif, somatik dan emosi. Aspek perilaku kurang terlihat dalam skala kecemasan ini karena sebagian besar aitemnya gugur ketika dilakukan seleksi aitem (r ≤ 0,20). Hal ini didukung oleh pendapat Mahler (dalam Romolo, 2008) yang menyatakan aspek kecemasan terdiri emosional, kognitif, dan fisik.
3. Reliabilitas
formulasi koefisien Alpha dari Cronbach. Pedoman yang digunakan
adalah apabila angka rα (koefisien alpha) semakin mendekati angka 1,00
berarti skala tersebut semakin reliabel untuk digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian, sebaliknya koefisien yang semakin mendekati angka 0,00 menunjukkan semakin rendahnya reliabilitas skala tersebut (Azwar, 2001).
Hasil uji coba yang dilakukan, reliabilitas skala kecemasan menjelang menopause pada aitem yang terseleksi sebesar 0,912. Hal ini berarti skala kecemasan menjelang menopause memiliki keajegan yang tinggi, sehingga dapat dipercaya untuk mengungkapkan perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan.
H. Teknik Analisis Data
1. Uji Asumsi Analisis Data
Untuk memperoleh kesimpulan yang tidak menyimpang dari tujuan penelitian, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi data penelitian yang meliputi :
a. Uji Normalitas
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang dipakai pada penelitian diperoleh dari populasi yang bervarian homogen atau tidak (dalam Nurgiyantoro, 2009).
2. Pengujian Hipotesis Penelitian
32
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 22 Agustus 2011 hingga 18 September 2011 yang tersebar di daerah Yogyakarta, Klaten, Semarang, Salatiga, Kebumen, dan Lampung. Subjek penelitian sebanyak 120 ibu-ibu menjelang menopause.
Pada kota Yogyakarta, peneliti mendapatkan 20 ibu-ibu menjelang
menopause di daerah Perum UPN, Godean, dan Karyawan Kampus Sanata Dharma Yogyakarta. Di Klaten peneliti melakukan penelitian di daerah Perum Glodokan I dan II sebanyak 18 orang. Di Semarang sebanyak 50 orang di daerah Kelurahan Karang Anyar Gunung. Di Salatiga peneliti mendapatkan ibu-ibu menjelang menopause sebanyak 12 orang. Di Lampung peneliti mendapatkan 5 subjek dan di Kebumen sebanyak 15 subjek.
Penelitian dilakukan kurang lebih selama satu bulan, setelah penelitian dilakukan tenyata ada beberapa bendel yang gugur karena skala tidak kembali dan ada yang tidak terisi lengkap. Jadi total data untuk ibu-ibu menjelang menopause sebanyak 100 orang, terdiri dari 12 orang berpendidikan SD, 18 orang SLTP, 40 orang SLTA, 12 orang D3, dan 18 orang SI. Data-data tersebut kemudian diseimbangkan sehingga yang dipakai total sebanyak 90 orang, terdiri dari 12 orang berpendidikan SD, 18 orang SLTP, 30 orang SLTA, 12 orang D3, dan 18 orang SI. Kemudian dibagi
menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok di bawah SLTA 30 orang, SLTA 30 orang, dan Perguruan Tinggi 30 orang.
B. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah wanita menjelang
menopause dengan berbagai latar belakang pendidikan, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Masing-masing kelonpok subjek berjumlah 30 orang dengan rata-rata umur yang berbeda-beda berdasarkan tingkat pendidikannya, yaitu :
Tabel 3
Deskripsi Umur Subjek Pada Kategori Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Mean
Pendidikan Dasar 50 tahun
Pendidikan Menengah 46 tahun
Pendidikan Tinggi 44 tahun
2. Deskripsi Data
teoritisnya (µ) adalah 24 x 2,5 = 60. Sedangkan mean empiriknya adalah (59,63 + 50,13 + 57,73) : 3 = 55,83.
Hasil dari analisis statistik deskriptif penelitian ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini : dengan Kolmogorov-Smirnov Test. Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran probabilitas (p). Apabila p > 0,05 maka dinyatakan normal. Sebaliknya apabila p < 0,05 maka distribusinya dinyatakan tidak normal. Hasil uji normalitas tercantum data tabel dibawah ini : Tabel 5
Ringkasan Hasil Uji Normalitas
SD SLTP SLTA D3 S1
Kolmogorov-Smirnov 0,667 0,583 1,247 0,764 0,697
Asymp. Sig (p) 0,766 0,885 0,090 0,604 0,717
dengan probabilitas sebesar 0,766. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang
menopause dikatakan normal.
Uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause
terhadap tingkat pendidikan SLTP memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,583 dengan probabilitas sebesar 0,885. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang menopause dikatakan normal.
Uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause
terhadap tingkat pendidikan SLTA memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov
sebesar 1,245 dengan probabilitas sebesar 0,090. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang menopause dikatakan normal.
Uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause
terhadap tingkat pendidikan D3 memiliki nilai Kolmogorov-Smirnov
sebesar 0,764 dengan probabilitas sebesar 0,604. Karena p > 0,05 maka distribusi skor kecemasan terhadap tingkat pendidikan pada wanita menjelang menopause dikatakan normal.
Begitu juga dengan uji normalitas skor kecemasan pada wanita menjelang menopause terhadap tingkat pendidikan S1 memiliki nilai
b. Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan SPSS for windows versi 16,0. uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah data varians sama. Dari perhitungan yang dilakukan, diperoleh nilai Levene Statistik sebesar 1,555 dengan p (sig.) sebesar 0,120. Oleh karena p > 0,05 maka varians tersebut adalah homogen, sehingga syarat untuk melanjutkan
One way anova terpenuhi. c. Uji Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini berbunyi : ada perbedaan tingkat kecemasan pada wanita menjelang menopause ditinjau dari tingkat pendidikan. Hipotesis minor penelitian ini yaitu :
1. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan tinggi lebih cemas dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah. 2. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan tinggi
lebih cemas dibandingkan dengan tingkat pendidikan dasar . 3. Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan
menengah lebih cemas daripada yang pendidikan dasar.
Tabel 6
Ringkasan Hasil Uji Hipotesis
Sum of Squares Df F (Ft) Sig.
Betwen Groups 1516,200 2 15,373 0,00
Within Groups 4290,300 87
Total 5806,500 89
Bertolak dari hasil pengujian yang dilakukan, diketahui bahwa Ft (F hitung) dari data penelitian ini sebesar 15,373 dengan p (sig) sebesar 0,00. Oleh karena p < 0,05. Hal ini menandakan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat kecemasan wanita menjelang menopause
ditinjau dari berdasarkan tingkat pendidikan. Maka perlu dilihat lebih lanjut perbedaan masing-masing tingkat pendidikan. Hasil uji dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 7
Ringkasan Hasil Uji Perbedaan Kecemasan
(I)
(sig) sebesar 0,298 yang berarti tidak signifikan karena p > 0,05 sehingga tingkat kecemasannya juga tidak berbeda jauh antara kelompok dasar dengan kelompok tinggi.
Jika kelompok menengah dibandingkan dengan kelompok dasar dan kelompok tinggi maka diketahui hasilnya p (sig) sebesar 0,00 yang berarti ada perbedaan tingkat kecemasan karena p < 0,05.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil uji beda antara mean teoritik dan mean empiris, diketahui skor pada mean teoritik (60) lebih tinggi dari skor mean empiris (52,80). Hal ini menunjukkan bahwa wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi memiliki tingkat kecemasan yang tergolong rendah. Wanita menjelang menopause menganggap masa
menopause merupakan hal yang wajar. Hal ini didukung dengan pendapat Rahayu dkk (1991) yang mengatakan bahwa menopause merupakan keadaan biologis yang wajar pada setiap wanita dan ditandai dengan berhentinya menstruasi.
lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok tingkat pendidikan yang lain.
Wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan dasar lebih tinggi kecemasannya secara signifikan dibandingkan dengan wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan menengah. Hal ini tidak mendukung hasil penelitian Partini dkk (1998) bahwa tingkat pemahaman terhadap menopause tergolong rendah dan tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause juga tergolong rendah.
Wanita yang berpendidikan dasar lebih cemas secara signifikan dibandingkan wanita yang berpendidikan menengah, karena menurut peneliti mereka salah dalam memproses informasi yang ada. Hal ini didukung oleh pendapat Wurman dan Kennedy (dalam Bawden dan Robinson, 2009) bahwa kecemasan karena informasi disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengakses informasi secara benar, memahami, dan menggunakan, informasi tersebut. Hasil penelitian Darwis (2008) juga menjelaskan bahwa wanita
Wanita menjelang menopause pada tingkat pendidikan menengah memiliki kecemasan lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang lain. Hal ini dapat disebabkan wanita menjelang
menopause dengan tingkat pendidikan menengah tidak mudah terpengaruh mitos dibandingkan dengan wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan dasar karena didukung oleh sejumlah informasi meskipun dalam jumlah yang terbatas jika dibandingkan dengan wanita menjelang menopause
yang berpendidikan tinggi.
Wanita menjelang menopause pada tingkat pendidikan tinggi lebih cemas secara signifikan dibandingkan wanita menjelang menopause yang berpendidikan menengah. Hal tersebut menjelaskan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi juga membuat tingginya kecemasan menjelang menopause. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2007) bahwa orang yang berpendidikan tinggi akan mudah dalam mengakses informasi yang ada. Berdasarkan pendapat Notoatmodjo (2007), dapat disimpulkan orang yang berpendidikan tinggi sudah terbiasa dalam mengakses informasi yang ada dibandingkan dengan yang berpendidikan menengah terutama wanita menjelang menopause sehingga lebih tahu banyak akibat dari menopause. Oleh sebab itu, mereka akan lebih cemas dalam menghadapi menopause.
memberikan informasi dapat mengganggu wanita menjelang menopause
karena terlalu banyak informasi tentang menopause yang tidak terpercaya. Hal ini didukung pendapat Case (dalam Smith, 2011) yang mengatakan bahwa stres dan kecemasan cenderung meningkat ketika seseorang dihadapkan dengan terlalu banyak sumber informasi. Salah satu contohnya, banyak informasi tentang menopause di internet lebih menekankan membahas tentang gejala dan akibat dari adanya menopause daripada solusi menghadapi menopause. Hal ini dapat memunculkan kecemasan karena tidak semua gejala dan akibat adanya menopause pasti dialami wanita menjelang
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan wanita menjelang menopause yang signifikan berdasarkan tingkat pendidikan. Perbedaan tersebut yaitu kelompok pendidikan dasar memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok pendidikan menengah, sedangkan tingkat kecemasan kelompok pendidikan dasar tidak berbeda secara signifikan dengan kelompok pendidikan tinggi. Pada kelompok pendidikan menengah, memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok pendidikan dasar dan tinggi.
B. Saran
1. Bagi Wanita Menjelang Menopause
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan pada wanita menjelang menopause dengan tingkat pendidikan dasar memiliki kecemasan lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelompok pendidikan yang lainnya. Berdasarkan asumsi peneliti, hal tersebut dapat terjadi karena terpengaruh mitos di masyarakat. Oleh sebab itu, praktisi kesehatan diharapkan mampu memberikan informasi yang benar dengan mengadakan penyuluhan yang lebih difokuskan bagi wanita dengan
jenjang pendidikan dasar. Di sisi lain, wanita dengan tingkat pendidikan tinggi terbukti secara signifikan memiliki kecemasan tinggi menjelang
menopause dibandingkan yang berpendidikan menengah. Oleh karena itu, bagi wanita menjelang menopause khususnya yang berpendidikan tinggi diharapkan untuk lebih cermat dalam mencari informasi yang tepat agar tidak cemas dan merasa malu karena perubahan-perubahan akibat
menopause. Misalnya berkonsultasi langsung kepada dokter dan bidan.
2. Bagi Penelitian Selanjutnya
Berdasarkan asumsi peneliti, faktor mitos yang berkembang di masyarakat dapat mempengaruhi tingkat kecemasan menjelang
menopause. Hal ini harus dibuktikan secara empirik sebelum melakukan penelitian. Oleh karena itu, bagi peneliti selanjutnya perlu melihat apakah ada kemungkinan pengaruh faktor tersebut.
Daftar Pustaka
Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., &Hilgard, E.R. (1991). Pengantar Psikologi, Edisi 8 Jilid 2. Alih Bahasa: Nurjannah Taufiq. Jakarta: Erlangga. Azwar, S. (2001). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Offest.
Azwar, S. (2003). Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offest.
Azwar, S. (2005). Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offest.
Bawden, S., & Robinson, L. (2009). The dark side of information: overload, anxiety and other paradoxes and pathologies. Journal of Information Science, 35 (2) 2009, pp. 180–191.
Baziad, A. (2002). Seputar masalah menopause. Diunduh dari
http://www.klinik_perempuan.com/2002/seputar-masalah-menopause.html
Borkowski, Nancy. (2011). Organizational Behavior in Health Care. 2nd Ed.USA : Jones and Barlett Publishers. Diunduh dari http://books.google.co.id/books?id=HzKuA6Pzc8MC&pg=PA132& dq=health+psychology+impact+of+stress+eustress+distress&hl=id& source=gbs_selected_pages&cad=3#v=onepage&q=health%20psych ology%20impact%20of%20stress%20eustress%20distress&f=false. Christine, B. (2001). Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC.
Chwistek, Marcin. (2006). Premenopausal Syndrome: What's It All About?.
Diunduh dari http://www.thirdage.com/menopause/premenopausal-syndrome-whats-it-all-about-0
Daniel, J.S. (2009). Efek Positif Kecemasan. Diunduh dari http://www.associatedcontent.com/article/2270703/positive_anxiety _effects.html
Darwis, A.P. (2008). Gambaran tingkat Pengetahuan Wanita Menopause Tentang Osteoporosis Di Desa Sidodadi Mejayan Madiun (skripsi tidak diterbitkan), Universitas Ponorogo Muhammadiyah, Indonesia.
Diunduh dari
http://library-ump.org/index.php?option=com_content&task=view&id=5&Itemid =6
Erniyati, & Simanjutak, R. (2007). Adaptasi Psikososial Wanita Menopause Pekerja dan Bukan Pekerja di Perumnas Mandala Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Vol. 2 No. 2 Desember 2007, 70-76.
Evalina, Dame, S. (2009). Hubungan Karakteristik Wanita Perimenopause Dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Di Kota Pematang Siantar Tahun 2009 (Tesis tidak diterbitkan), Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia.
Ghazali, M. (2003). Perilaku Memilih Produk Pembalut Wanita antara Ibu dengan Remaja Putri Ditinjau dari Status Pernikahan dan Tingkat Pendidikan. Media Psikologi, Insan, Vol. 5, No. 2, hal 110-126. Hadi, Sutrisno. (2004). Statistik Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset.
Hammasa, S.N. (2004). Menopause. Kiat wanita lansia sehat menuju khusnul khatimah. Solo : Ma’sum Press.
Hawari. (2001). Managemen Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hurlock, Elizabeth B. (1992). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga. Kartono, K. (1992). Psikologi Wanita, jilid 2, Mengenal Wanita Sebagai Ibu
dan Nenek. Bandung : Mandar Maju.
Kasdu. (2004). Kiat sehat & bahagia di usia menopause. Puspaswara. Jakarta: Gramedia.
Kerlinger, Fred. (2006). Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Marga, P.S. (2007). Hubungan Gambaran Diri dengan Tingkat Kecemasan Ibu Masa Menopause di Kelurahan Lhok Keutapang Tapaktuan (Skripsi (tidak diterbitkan), Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia. Martaniah, R.M. (1984). Penelitian Tentang Kecemasan Siswa-siswi yang
Bersekolah di SMU Daerah Istimewa Yogyakarta (Skripsi tidak diterbitkan), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. Nisfiannoor, M. (2009). Pendekatan statististika Modern untuk Ilmu Sosial.
http://books.google.co.id/books?id=1j_O7aHTZD8C&pg=PA9&dq= alasan+signifikansi+ilmu+sosial+0,05&hl=id&sa=X&ei=4dgxT_n5 N8HtrAegtIWKBA&sqi=2&ved=0CC0Q6AEwAA#v=onepage&q& f=false
Noor, S.R. (2001). Tetap Bergairah Memasuki Usia Menopause : Sebuah Tinjauan Psikologis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Nurgiyanto, B., Marzuki, &. Gunawan. (2009). Statistik Terapan untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Partini, S., Sri, Isanti, Siti, & Ayriza. (1998). Pemahaman Terhadap Menopause Hubungannya Dengan Tingkat Kecemasan Pada Ibu-Ibu Di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (Penelitian tidak diterbitkan), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. Rahayu, S. H., Indati, A., & Hadi, S. (1991). Sikap Wanita Terhadap
Menopause, Ditinjau Dari Kondisi Menopause Dan Status Kerja. Jurnal BPPS-UGM, 4 (2A) 1991, 323-339.
Retnoningsih, A., & Suharso. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang : CV. Widya Karya.
Romolo. (2008). Studi Deskriptif Kecemasan Wanita Dewasa Madya Terhadap Proses Penuaan Eksternal (Skripsi tidak diterbitkan), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia.
Rostiana, R., & Made, N. T. K. (2009). Kecemasan Pada Wanita Yang Menghadapi Menopause. Jurnal Psikologi, Vol. 3 No.1 Desember 2009, 76-86.
Santrock, John. (2002). Life-Span Development Edisi 5. Jakarta : Erlangga. Sarafini, Edward. (1990). Health Psychology : Biopsychosocial Interactions
2nd. New York : Trenton State College.
Setiono, A.M. (2004). Siapa Takut Menopause. Yogyakarta : Thinkfresh. Smet, Bart. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta : Grasindo.
Smith Kim. (2011). Anxiety, Knowledge and Help: A Model for How Black and White College Students Search for HIV/AIDS Information on the Internet. The Qualitative Report, Vol. 16 No. 1 January 2011, 103-125.
Streiner, David L., & Norman, Geoffrey R. (1994). Health Measurement Scales. New York : Oxford University Press Inc.
Stuart,G.W, & Sundeen,S.J. (1995). Principles and Practice of Psychiatric Nursing (fifth Edition). Missouri : Mosby.
Tarigan, R. (2006). Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Tingkat Pendapatan Perbandingan Antara Empat Hasil Penelitian. Jurnal Wawasan, Vol. 11 No. 3 Februari 2006, 21-27.
Trismiati. (2004). Perbedaan Tingkat Kecemasan Antara Pria dan Wanita Akseptor Kontrasepsi Mantap Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Jurnal PSECHE, Vol.1 No. 1 Juli 2004.
Wahyuningsih, Merry. (2010). Menopause Dini Tingkatkan Risiko Jantung dan
Stroke. Diunduh dari
Yuliastuti, R. (2001). Perbedaan Sikap Pria Terhadap Pelecehan Seksual Ditinjau dari Tingkat Pendidikan. Jurnal Psikologi Fenomena, Vol. VI No. 1, 4-11.
Mippout. (2011). Anxiety. Diunduh dari
http://www.mippout.com/mip/plus/singlestory.jsp?&id=232403&sid =233385460&sv=1&check=1&z=1@1303101676799159
Tim Eka Jaya. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : CV. Eko Jaya.
Tim Salemba Infotek. (2009). Pengolahan Data Statistik dengan SPSS 16.00.
Jakarta : Salemba Infotek.
Utexas. (2010). Perubahan Positif di Way Menopause Wanita Pengalaman, University of Texas di Studi Multi-etnis Austin Finds. Diunduh dari http://.utexas.edu/news/2010/07/27/menopause_research/
48
LAMPIRAN
49
LAMPIRAN A
(UJI COBA)
FORMAT SKALA KECEMASAN
SKALA PENELITIAN
Disusun oleh :
Maria Novianingsih Priyono
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
Identitas Diri
Nama Identitas :
Umur :
Pendidikan terakhir :
Kepada : Yth. Ibu Di tempat
Dengan Hormat,
Di tengah kesibukan Ibu saat ini, perkenankanlah saya memohon bantuan Ibu untuk meluangkan waktu sejenak untuk mengisi kuesioner berikut ini. Kuesioner ini disusun dalam rangka mencari data untuk menyelesaikan skripsi sarjana. Oleh karena itu, sangat diharapkan Ibu mengisi kuesioner ini sesuai dengan keadaan, perasaan, dan pikiran Ibu.
Dalam mengisi kuesioner ini tidak ada jawaban yang salah dan semua jawaban akan dijamin kerahasiaannya. Saya mohon Ibu mengisi data pribadi
yang telah disediakan dengan lengkap. Sebelum dan sesudahnya, saya mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya.
Peneliti,
PETUNJUK
1.
Dalam mengisi skala ini tidak ada jawaban benar atau salah dan semua jawaban yang Anda berikan akan dijamin kerahasiaannya.2.
Skala ini terdiri dari 40 pernyataan mengenai kondisi Anda menjelangmenopause. Nyatakanlah pendapat Anda dengan memberi tanda (√ ) pada kolom yang tersedia
Kolom 1 (SS) adalah jika Anda ”Sangat Setuju” dengan penyataan tersebut
Kolom 2 (S) adalah jika Anda ”Setuju” dengan pernyataan tersebut
Kolom 3 (TS) adalah jika Anda ”Tidak Setuju” dengan pernyataan
4.
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.No. Pernyataan SS S TS STS
1. Saya mulai sulit berkonsentrasi saat bekerja di masa menjelang menopause ini.
2. Saya menjadi cepat lelah dan tidak
bersemangat saat bekerja di masa menjelang
menopause.
3. Saya rasanya ingin menangis jika membayangkan mengalami menopause. 4. Saya menjadi lebih sering memarahi anak
atau suami tanpa sebab yang jelas di masa menjelang menopause ini.
5. Saya tetap dapat berpikir jernih meskipun memasuki masa menjelang menopause. 6. Saya tetap bersemangat dan bertenaga dalam
bekerja meskipun menjelang menopause. 7. Saya merasa bangga menjadi wanita yang
sempurna saat nanti mengalami menopause. 8. Di masa menjelang menopause, hubungan
saya dengan anak dan suami masih sama jauh sebelum ini.
No. Pernyataan SS S TS STS
10. Badan saya mudah berkeringat tanpa sebab yang jelas di masa menjelang menopause. 11. Saya menjadi takut bila masa menopause tiba
dapat menimbulkan konflik dalam rumah tangga.
12. Saya mengubah gaya berpakaian agar terlihat lebih muda di masa menjelang menopause. 13. Menjelang menopause, pikiran saya tetap
dapat fokus saat menyelesaikan suatu masalah.
14. Keringat saya jarang berkeringat dingin di masa menjelang menopause.
15. Saya merasa yakin bahwa menopause akan menjadikan kehidupan rumah tangga tetap harmonis.
16. Penampilan saya tetap apa adanya selama menjelang menopause.
17. Pikiran saya terus dihantui oleh kondisi fisik yang terus menurun saat menjelang
menopause.
No. Pernyataan SS S TS STS
19 Saya rasanya ingin menghindari berhubungan seksual dengan suami di masa menjelang
menopause ini.
20. Menjelang menopause, saya semakin jarang berinteraksi dengan orang lain.
21. Menurut saya kondisi fisik yang berubah di masa menjelang menopause merupakan hal yang wajar .
22. Meskipun mengalami masa menjelang
menopause, saya jarang sakit kepala.
23. Saya tetap merasa nyaman saat berhubungan seksual di masa menjelang menopause. 24. Saya tetap beraktivitas seperti biasa meskipun
sedang mengalami masa menjelang
menopause.
25. Saya menjadi sulit mengambil suatu keputusan menjelang menopause.
No. Pernyataan SS S TS STS
27. Semakin mendekati menopause, saya semakin kurang percaya diri.
28. Saya menghindari melakukan hubungan seksual dengan suami selama masa menjelang menopause.
29. Meskipun menjelang menopause, saya tetap dapat mengambil keputusan dengan baik. 30. Jantung saya berdetak normal ketika saya
menyadari bahwa saya sedang mengalami masa menjelang menopause.
31. Saya tetap percaya diri walaupun menjelang
menopause.
32. Saya tetap berhubungan seksual dengan suami secara wajar walaupun mengalami masa menjelang menopause.
33. Pikiran saya dihantui oleh bayangan suami menolak saya setelah saya menopause.