• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang berlangsung dengan tatap muka antar dua orang atau lebih secara verbal atau non verbal. Bisa secara direncakan bisa juga dengan secara ototidak atau biasa kita kenal secara dadakan. Gunanya teori komunikasi antar pribadi diantaranya yaitu komunikasi untuk saling berbagi informasi atau komunikasi yang didasari atas perasaan dari tiap-tiap individu keindividu lain atau dari tiap kelompok ke kelompok lain.

Adapun teori-teori yang termasuk dalam teori komunikasi antar pribadi yaitu:

a. Aprehensi komunikasi

Aprehensi komunikasi adalah salah satu kondisi kognitif, kondisi dimana seseorang mengetahui dengan sadar bahwa dirinya memiliki rasa khawatir dan ketakutan selama terjadinya komunikasi sehingga menjadikan ia orang yang mati rasa karena tidak memiliki pikiran dan perasaan apapun bahkan hingga tidak memahami sebab akibat social. Komunikasi Aprehensi merupakan kondisi fakta seseorang yang mengetahui bahwa dirinya saat berkomunikasi dengan orang lain. Melalui proses komunikasi antara pribadi, seseorang dapat mengetahui sikap dan juga sifat dirinya sendiri yang tidak diketahui ketika tidak berinteraksi dengan orang lain.

Berikut hasil wawancara penulis dengan Kepala Desa Tanah Towa mengenai Aprehensi komunikasi:

“ Saya berharap masyarakat memahami adat istiadat atau pappasang nenek moyang sampai saat ini, masyarakat Tanah Toa harus mengetahui sanksi-sanksi yang dikeluarkan oleh Ammatoa dengan melakukan komunikasi dengan pemerintah setempat”. (hasil wawancara informan AS 25 oktober 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas dalam hal Aprehensi komunikasi dapat dipahami bahwa saling mengingatkan satu sama lain agar pasang nenek moyang tetap terjaga dengan baik. Selanjutnya wawancara penulis dengan warga masyarakat Desa Tanah Towa, mengenai Aprehensi komunikasi:

“iya sering dikunjungi oleh beberapa artis dan mereka juga

menggunakan pakaian yang berwarna hitam dan tidak

menggunakan sandal, dengan itu komunikasi masyarakat dan orang yang datang ke kajang terjaga dengan baik karna kami paham adat istiadat disini” (hasil wawancara UD 29 Oktober 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan UD dalam hal Aprehensi komunikasi ini dapat dipahami bahwa dalam menghargai pappasang, setiap orang yang masuk kawasan tanah toa wajib mengikuti aturan adat yang berlaku maka sebagai masyarakat kajang dalam (Ammatoa) diwajibkan bersama-sama membangun adat istiadat karena pemahaman adat istiadat yang dimiliki masyarakat. Lanjut hasil wawancara penulis dengan Kepala Desa Kajang luar mengenai Aprehensi komunikasi:

“ kehidupan masyarakat Desa Tanah Towa khususunya di dalam kawasan Ammatoa bisa dibilang tak tersentuh oleh modernisasi, tak akan ditemui benda elektronik, telepon selular dan listrik. Bahkan mobil dan motor pun tak dapat masuk dikawasan Ammatoa masyarakat desa yang akses jalannya masih didominasi bebatuan. Pendopo di gerbang masuk Ammatoa seakan menjadi pembatas kehidupan modern dan kehidupan adat khas suku kajang” (Wawancara AH 5 November 2020).

Berdasarkan hasil wawancara dari informan diatas mengenai Aprehensi komunikasi dapat dipahami bahwa masyarakat Ammatoa belum tersentuh oleh modernisasi, hidup dengan kesederhanaannya yang berbeda dengan desa-desa lainnya tetapi mereka tidak pernah ada niat untuk pindah dari desa tersebut dkarenakan ada hal yang dipegang teguh oleh masyarakat Ammatoa. Selanjutnya wawancara penulis dengan warga masyarakat desa Tanah Towa

“ Kalau Hp ada beberapa masyarakat yang punya, tapi tidak dipake kalau di Kawasan Adat. Orang yang punya Hp masih tetap mematuhi aturan adat di kawasan, kalau mau masuk ke kwasan Hp nya di titip sama keluarga yang tinggal diluar. Dan kalau dibawah masuk Hpnya dimatikan dan baru dinyalakan lagi kalau lagi ada aktivitas diluar kawasan adat Ammatoa”(wawancara 10 November 2020).

Berdasarkan wawancara informan diatas dapat dipahami bahwa masyarakat di kawasan adat Ammatoa berusaha untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur mereka dengan adat istiadatnya serta tetap berpegang teguh pada pasang yang merupakan pedoman hidup mereka, salah satunya adalah dengan tidak menggunakan alat komunikasi dalam bentuk apapun, baik yang sederhana maupun yang modern.

Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan indikator Aprehensi komunikasi bahwa saling mengingatkan satu sama lain agar pasang nenek moyang tetap terjaga dengan baik. Dalam menghargai pappasang, setiap orang yang masuk kawasan tanah toa wajib mengikuti aturan adat yang berlaku maka sebagai masyarakat kajang dalam (Ammatoa) diwajibkan bersama-sama membangun adat istiadat karena pemahaman adat istiadat yang dimiliki masyarakat.

Masyarakat Ammatoa belum tersentuh oleh modernisasi, hidup dengan kesederhanaannya yang berbeda dengan desa-desa lainnya tetapi mereka tidak pernah ada niat untuk pindah dari desa tersebut dkarenakan ada hal yang dipegang teguh oleh masyarakat Ammatoa. Masyarakat di kawasan adat Ammatoa berusaha untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur mereka dengan adat istiadatnya serta tetap berpegang teguh pada pasang yang merupakan pedoman hidup mereka, salah satunya adalah dengan tidak menggunakan alat komunikasi dalam bentuk apapun, baik yang sederhana maupun yang modern.

b. Self- Disclosure

Self disclosure adalah bagian dari kajian komunikasi perspektif internasional. Fokus utama dalam tindak komunikasi adalah aspek interaksi yang melibatkan indicator sebagai individu sosial, ini digunakan juga untuk mengembangkan potensi kemanusiaan melalui interaksi sosial, kemudian pada self disclosure komunikasi yang terjadi ketika individu berani membuka diri dan menyatakan informasi tentang dirinya. Informasi yang diungkapkan adalah informasi mendalam. Self-Disclosure (model pengungkapan diri) merupakan proses mengungkapkan informasi pribadi kita pada orang lain ataupun sebaliknya, dalam hal ini menjelaskan diri kita kepada orang lain yang bersifat pribadi.

Berikut hasil wawancara penulis dengan Kepala Desa Tanah Towa mengenai Self disclosure:

“Saya selama menjadi kepala desa disini dek setiap mau berkomunikasi dengan masyarakat kajang dalam harus didampingi

oleh tokoh adat karena tidak sembarang yang bisa berkomunikasi dengan masyarakat kajang dalam, biasa saya ketemu untuk berinteraksi langsung mengenai kondisi masyarakat kajang dalam makanya itu diskusi kami jarang terjadi karena tidak bisa setiap hari kesana apa lagi setiap ada pelanggaran harus diskusi lagi pemberian sanksi”. (hasil wawancara informan AS 25 oktober 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas dalam hal Self disclosure dapat dipahami bahwa komunikasi tatap muka antara pemerintah desa dengan Ammatoa jarang terjadi, diskusi sanksi pelanggaran ketika ada masyarakat yang melanggar jarang terjadi sehingga keputusan sepihak di lakukan oleh Ammatoa. Selanjutnya wawancara penulis dengan warga masyarakat Desa Tanah Towa, mengenai Self disclosure:

“kita disini samaji sama dengan masyarakat umumnya, kalau ketemu dijalan saling menyapa, kalau menghadiri acara adat dikawasan juga begitu, kalau ada Ammatoa kita juga cerita cerita, tapi kalau cerita yang penting kadang juga ada tempat dan waktunya jadi tidak sembarang.” (hasil wawancara UD 29 Oktober 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas dalam hal Self disclosure dapat dipahami bahwa komunikasi yang dilakukan masyarakat dengan Ammatoa seperti umumnya akan tetapi terkait sanksi pelanggaran ada tempat dan waktu tertentu untuk di diskusikan. Lanjut hasil wawancara mengenai Self disclosure penulis dengan AH selaku Kepala Desa Kajang luar:

“Kita dikawasan ada ini semuanya sama terlepas dari jabatan yang kita peroleh. Jadi tidak ada batasan, asal tetapki bisa jaga sikap kalau bicara sama orang yang tinggi posisinya, saling menghormati dan menghargai sesama” (Wawancara 5 November 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas mengenai Self disclosure dapat dipahami bahwa masyarakat setiap orang semuanya

sama jadi sanksi yang diberlakukan juga sama akan tetapi tetap menghargai dan menghormati orang yang mempunyai jabatan. Selanjutnya wawancara penulis dengan warga masyarakat desa Tanah Towa mengenai Self disclosure :

“ kalau ada tamu dari luar mau masuk mengetahui adat istiadat di kawasan ini, harus kesini dulu (rumah Galla Lombo) baru bisa masuk ”(wawancara UP 10 November 2020).

Berdasarkan wawancara informan diatas dapat dipahami bahwa bahwa ketika masyarakat luar ataupun tamu yang datang harus melapor terlebih dahulu di Rumah Galla Lombo agar mengetahui adat istiadat dan diharap tidak melanggar adat istiadat didaerah Kajang.

Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan

indicator Self disclosure bahwa komunikasi tatap muka antara pemerintah desa dengan Ammatoa jarang terjadi, diskusi sanksi pelanggaran ketika ada masyarakat yang melanggar jarang terjadi sehingga keputusan sepihak di lakukan oleh Ammatoa. Komunikasi yang dilakukan masyarakat dengan Ammatoa seperti umumnya akan tetapi terkait sanksi pelanggaran ada tempat dan waktu tertentu untuk di diskusikan. Masyarakat setiap orang semuanya sama jadi sanksi yang diberlakukan juga sama akan tetapi tetap menghargai dan menghormati orang yang mempunyai jabatan. Ketika masyarakat luar ataupun tamu yang datang harus melapor terlebih dahulu di Rumah Galla Lombo agar mengetahui adat istiadat dan diharap tidak melanggar adat istiadat didaerah Kajang.

c. Penilaian sosial

Orang biasa melakukan dua hal dalam menerima pesan, yakni

mengontraskan dan mengasimilasikan. Kontras adalah distorsi

perspektual yang mengantarkan pada palarisasi ide. Sebagai contoh mengontraskan pandangan kopi itu bermanfaat bagi kesehatan juga kopi itu merugikan kesehatan, Sedangkan similasi menunjukkan kekeliruan dalam melakukan penilaian yang bertentangan. Penilaian sosial menyatakan makin besar perbedaan antara pendapat pembicara dan pandangan pendengarnya maka maka akan makin besar juga perubahan sikapnya, sejauh pesan tersebut berada dalam wilayah penerimanya.

Berikut hasil wawancara penulis dengan AS selaku Kepala Desa Tanah Towa mengenai Penilaian sosial :

“ Tidak ada alat komunkasi yang digunakan, disini komunikasi dari mulut ke mulut, musyawarah dan gotong royong, jangankan alat komunikasi, listrik saja disini tidak dipasang di kawasan ada, kita mau perbaiki jalan juga tidak bisa oleh Ammatoa (pemimpin adat) dikarenakan masih teguhnya adat lelulur”. (hasil wawancara informan SL 25 oktober 2020).

Berdasarkan hasil wawancara dari informan diatas dalam indikator Penilaian sosial dapat dipahami bahwa komunikasi yang dilakukan yakni dari mulut ke mulut sehingga tidak ada alat komunikasi yang digunakan. Keputusan pembangunan desa seperti perbaikan jalan masih saja dilarang oleh Ammatoa dikarenakan menghilangkan adat leluhur sehingga peran pemerintah desa belum sepenuhnya didapatkan. Selanjutnya hasil wawancara penulis dengan warga masyarakat Desa Tanah Towa, mengenai Penilaian sosial :

“Menurut saya ini hal yang positif untuk masyarakat dikawasan adat, kalau komukasi lewat mulut ke mulut, musyawarah dan gotong royong masyarakat saling ketemu jadi bisa memperkuat persaudaraan tanpa ada masuknya budaya luar sesuai dengan passang bahwa kita harus menjaga adat istiadat disini.” (hasil wawancara UD 29 Oktober 2020).

Bedasarkan hasil wawancara dari informan diatas dalam hal Penilaian sosial dapat dipahami bahwa komunikasi dengan cara mulut ke mulut adalah hal positif dikawasan adat, nasyarakat akan selalu berdiskusi untuk memperkuat persaudaraan tanpa masuknya budaya luar sehingga tetap menjaga adat istiadat yang ada. Lanjut hasil wawancara penulis dengan AH selaku Kepala Desa Kajang luar mengenai Penilaian sosial :

“ disini kalau mau masuk kawasan adat tidak boleh bawa alat komunikasi karna itu dilarang ,jadi kalau mau masuk disini simpan alat komunikasi dulu baru bisa masuk supaya menghargai adat disini” (Wawancara 5 November 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas mengenai Penilaian social dapat dipahami bahwa dalam kawasan adat tidak diperbolehkan menggunakan alat komunikasi yang ada, jadi ketika didalam kawasan alat komunikasi harus disimpan untuk menghargai adat dikawasan tersebut. Selanjutnya wawancara penulis dengan informan warga masyarakat desa Tanah Towa Penilaian sosial :

“kita ini kan berada di wilayah dengan warisan leluhur yang akan selalu dijaga dan dilestarikan dengan adat istiadat yang telah turun temuru, kalau masyarakat disini mengunakan alat komunikasi seperti masyarakat diluar sana, itu berarti telah menyimpang dari ajaran leluhur dan melanggar isi pasang yang mengajarkan kita untuk selalu hidup sederhana”(wawancara UP10 November 2020). Berdasarkan wawancara informan diatas mengenai Penilaian sosial dapat dipahami bahwa kajang merupakan wilayah dengan warisan leluhur yang selalu dijaga oleh masyarakat ataupun pemerintah setempat,

sehingga larangan penggunaan alat komunikasi masih berl;aku dan disetujui oleh pemerintah desa setempat.

Kemudian kesimpulan keseluruhan dari informan diatas terkait Penilaian sosial bahwa kajang merupakan wilayah dengan warisan leluhur yang selalu dijaga oleh masyarakat ataupun pemerintah setempat, sehingga larangan penggunaan alat komunikasi masih berl;aku dan disetujui oleh pemerintah desa setempat. Komunikasi yang dilakukan yakni dari mulut ke mulut sehingga tidak ada alat komunikasi yang digunakan. Keputusan pembangunan desa seperti perbaikan jalan masih saja dilarang oleh Ammatoa dikarenakan menghilangkan adat leluhur sehingga peran pemerintah desa belum sepenuhnya didapatkan, dalam kawasan adat tidak diperbolehkan menggunakan alat komunikasi yang ada, jadi ketika didalam kawasan alat komunikasi harus disimpan untuk menghargai adat dikawasan tersebut. Komunikasi dengan cara mulut ke mulut adalah hal positif dikawasan adat, nasyarakat akan selalu berdiskusi untuk memperkuat persaudaraan tanpa masuknya budaya luar sehingga tetap menjaga adat istiadat yang ada.

d. Penetrasi sosial

yang menyatakan kedekatan antar pribadi itu berlangsung secara bertahap kemudian dilakukan berurutan dimulai dari tahap biasa hingga tahap intim. Penetrasi sosial menjelaskan bagaimana kedekatan hubungan itu berkembang, gagal untuk berkembang ataupun berhenti.

Seperti halnya bawang merah kita menguliti dari ljuar hingga kedalamnya.

Berikut hasil wawancara penulis dengan AS selaku Kepala Desa Tanah Towa mengenai Penetrasi sosial :

“ kalau komunikasi tuhan itu, selain melaksanakan shalat dan ibadah yang juga dilakukan oleh masyarakat lain diluar sana, kita disini mengadakan ritual adat yang dipimpin oleh Ammatoa diwaktu-waktu tertentu”. (hasil wawancara informan AS 25 oktober 2020).

Berdasarkan hasil wawancara dari informan diatas dalam hal Penetrasi social dapat dipahami bahwa masyarakat masih kental akan ritual adat yang dipimpin oleh Ammatoa diwaktu tertentu yang dianggap sebagai jalur komunikasi dengan Tuhan. Selanjutnya hasil wawancara penulis dengan warga masyarakat Desa Tanah Towa, mengenai Penetrasi sosial :

“ kita disini mengadakan ritual adat sebagai bentuk komunikasi kita dengan tuhan, ritual adatnya macam-macam, ritual yang dilakukan sebagai acara tuntutan dan selamatan hajat terhadap keberadaan dunia akhirat..” (hasil wawancara UD 29 Oktober 2020).

Berdasarkan hasil wawancara informan diatas dalam hal Penilaian sosial dapat dipahami bahwa dalam pengadaan ritual adat sebagai bentuk komunikasi dengan tuhan dilakukan dengan macam-macam ritual sebagai acara tuntutan dan selamatan hajat terhadap keberadaan dunia akhirat. Lanjut hasil wawancara penulis dengan AH Selaku Kepala desa Kajang luar mengenai Penetrasi sosial :

“ kalau ada masyarakat yang mengadakan acara seperti perkawinan atau sunatan, orang itu datang ke rumah Amma dan pemangku adat untuk dipanggil sebagai tamu kehormatan” (Wawancara AH 5 November 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas mengenai Penetrasi sosial dapat dipahami bahwa ketika ada masyarakat yang melaksanakan perkawinan maka masyarakat tersebut wajib datang kerumah Ammatoa dan pemangku adat untuk dipoanggil sebagai tamu kehormatan. Selanjutnya hasil wawancara penulis dengan informan warga masyarakat desa Tanah Towa Penetrasi sosial :

“ kalau mau mengadakan ritual, kita kumpul dulu kemudian dibagi tugasnya masing masing, apa –apa yang mau disiapkan setelah semuanya tersedia kita berangkat sama-sama ke tempat ritual”(wawancara UP 10 November 2020).

Berdasarkan hasil wawancara informan diatas mengenai penetrasi sosial dapat dipahami bahwa ketika mengadakan ritual masyarakat diharapkan untuk kumpul kemudian diberikan tugas masing-masing sebelum berangkat ketempat ritual.

Kemudian kesimpulan secara keseluruhan dari informan diatas terkait indikator Penetrasi Sosial bahwa masyarakat masih kental akan ritual adat yang dipimpin oleh Ammatoa diwaktu tertentu yang dianggap sebagai jalur komunikasi dengan Tuhan. Dalam pengadaan ritual adat sebagai bentuk komunikasi dengan tuhan dilakukan dengan macam-macam ritual sebagai acara tuntutan dan selamatan hajat terhadap keberadaan dunia akhirat, ketika ada masyarakat yang melaksanakan perkawinan maka masyarakat tersebut wajib datang kerumah Ammatoa dan pemangku adat untuk dipoanggil sebagai tamu kehormatan. Ketika mengadakan ritual masyarakat diharapkan untuk kumpul kemudian diberikan tugas masing-masing sebelum berangkat ketempat ritual.

2. Faktor Penghambat

Komunikasi adalah proses dimana pembicara memberikan informasi secara sistematis dan memindahkan pengertian kepada orang-orang didalam organisasi dan juga kepada orang-orang-orang-orang dan lembaga-lembaga diluar organisasi namun masih terkait dengan organisasi tersebut. Komunikasi organisasi yaitu bentuk pertukaran pesan antara unit-unit komunikasi yang berada dalam organisasi tertentu. Dalam pelaksanaan komunikasi antarpribadi, juga mempunyai hambatan-hambatan yaitu:

a. Labeling

Labeling yaitu terjadi apabila seseorang memberikan atribut mengenai sifat tertentu pada orang lain dengan asumsi bahwa orang tersebut bertanggung jawab atas atribut itu. Berikut hasil wawancara penulis dengan AS selaku Kepala Desa Tanah Towa mengenai Labeling :

“kami memberikan suatu kepercayaan kepada Ammatoa untuk memerintah di daerah kajang tetapi segala kepercayaan itu biasanya terlupakan bahwa ada pemetrintahan desa yang lebih berhak memberi keputusan atas masyarakat”. (hasil wawancara informan SL 25 oktober 2020).

Berdasarkan hasil wawancara dari informan diatas dalam indikator Labeling dapat dipahami bahwa pemerintah desa setempat telah memberikan kepercayaan kepada Ammatoa terhadap keputusan adat akan tetapi Ammatoa sering kali melupakan pemerintah desa dalam pengambilan keputusan. Lanjut hasil wawancara penulis dengan AH selaku Kepala Desa Kajang luar mengenai Labeling :

“disini kami telah percaya kepada Ammatoa dalam upacara adat ataupun keputusan adat akan tetapi keputusan sepihak yang telah

terjadi beberapa kali sering saja melupakan pemerintahan desa” (Wawancara 5 November 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas mengenai Labeling dapat dipahami bahwa dalam pengambilan keputusan adat pemerintah desa telah mempercayai Ammatoa akan tetapi sering saja keputusan diluar adat diambil sepihak oleh Ammatoa sehingga melupakan pemerintah desa.

Kemudian kesimpulan keseluruhan dari informan diatas terkait Labeling bahwa pemerintah desa setempat telah memberikan kepercayaan kepada Ammatoa terhadap keputusan adat akan tetapi Ammatoa sering kali melupakan pemerintah desa dalam pengambilan keputusan. Dalam pengambilan kepitusan adat pemerintah desa telah mempercayai Ammatoa akan tetapi sering saja keputusan diluar adat diambil sepihak oleh Ammatoa sehingga melupakan pemerintah desa. b. Dichotomiying

Dichotomiying yaitu menduakan alternatif melakukan persepsi atau menilai diri sendiri atau menilai orang lain. Misalnya: ada seorang guru yang mencintai muridnya, maka akan terjadi dua alternatif. Jika muridnya kurang pintar, maka ia akan serba salah, diberi nilai sesuai dengan pekerjaannya ataukah diberi nilai yang besar. Jika dinilai dengan kecil, maka bagaimana hubungannya selanjutnya. Tapi bila diberi nilai bagus, maka tidak sesuai dengan hasil yang dikerjakannya.

Berikut hasil wawancara penulis dengan AS selaku Kepala Desa Tanah Towa mengenai Dichotomiying :

“setiap jalur komunikasi dilakukan bukan setiap kali karena selain Ammatoa yang tidak dapat setiap hari ditemui kami juga punya

banyak pekerjaan dikantor jadi komunikasi hanya dilakukan biasanya sekali-kali saja”. (hasil wawancara informan SL 25 oktober 2020).

Berdasarkan hasil wawancara dari informan diatas dalam indikator Dichotomiying dapat dipahami bahwa jalur komunikasi tidak setiap saat dilakukan kana faktor kesibukan dikantor desa begitupun dengan Ammatoa yang tidak dapat ditemui setiap saat sehingga keterbatasan komunikasi tatap muka masih jarang terjadi. Lanjut hasil wawancara penulis dengan AH selaku Kepala Desa Kajang luar mengenai Penilaian sosial :

“ketika Ammatoa mengambil keputusan sepihak tanpa ada komunikasi dengan kami pemerintah desa kami hanya menegur secara baik-baik karena bagaimanapun Ammatoa adalah orang yang di tuakan.” (Wawancara 5 November 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas mengenai Labeling dapat dipahami bahwa ketika Ammatoa mengambil keputusan sepihak pihak pemerintah desa menegur secara baik karena mengingat Ammatoa adalah orang yang di tuakan.

Kemudian kesimpulan keseluruhan dari informan diatas terkait Dichotomiying bahwa jalur komunikasi tidak setiap saat dilakukan kana faktor kesibukan dikantor desa begitupun dengan Ammatoa yang tidak dapat ditemui setiap saat sehingga keterbatasan komunikasi tatap muka masih jarang terjadi, ketika Ammatoa mengambil keputusan sepihak pihak pemerintah desa menegur secara baik karena mengingat Ammatoa adalah orang yang di tuakan.

c. Assuming Inflexibelity

kaku. Misalnya: orang lain selalu dianggap tidak fleksibel, kaku, dan lain-lain. Hal ini akan menghambat dalam menjalin komunikasi.

Berikut hasil wawancara penulis dengan AS selaku Kepala Desa Tanah Towa mengenai Assuming Inflexibelity :

“ketika pengambilan keputusan terhadap sanksi yang dilakukan sepihak oleh Ammatoa katanya kami pemerintah desa belum paham sepenuhnya atas apa itu sanksi yang telah dilanggar”. (hasil wawancara informan SL 25 oktober 2020).

Berdasarkan hasil wawancara dari informan diatas dalam indikator Assuming Inflexibelity dapat dipahami bahwa ketika Ammatoa melakukan keputusan sepihak terkait keputusan pemberian sanksi karena Pemerintah Desa kurang paham atas sanksi ataupun pelanggaran adat. Lanjut hasil wawancara penulis dengan AH selaku Kepala Desa Kajang luar mengenai Assuming Inflexibelity :

“kami pihak pemerintah desa masih selalu percaya atas Ammatoa karena seperti kita ketahui dia pihak yang dituakan dan apa saja dia ketahui.” (Wawancara 5 November 2020).

Berdasarkan wawancara dari informan diatas mengenai Assuming Inflexibelity dapat dipahami bahwa Ammatoa selalu dipercaya pihak yang dituakan oleh karena itu pihak Pemerintah Desa selalu masih percaya.

Dokumen terkait