• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Berdasarkan rumusan masalah pertama tentang putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang pemilihan kepala daerah ulang di Jawa Timur mengesampingkan UUD 1945 dan UU No.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Dapat dikemukakan hasil penelitian normatif hukum terhadap peraturan perundang-undangan sebagai berikut.

a. Dalam UUD 1945 pasal 18 (3) dan (4) dinyatakan,

(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

(4) Gubernur, Bupati, Walikota masing-masing sebagai kepala daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.

Pasal 22E (2) dinyatakan,

pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan

Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Pasal 24C (1) dinyatakan,

Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan

terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

b. Dalam UU No.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pasal 1 angka 3 (d) dinyatakan,

permohonan adalah permintaan yang diajukan secara tertulis kepada Mahkamah Konstitusi mengenai: perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

Pasal 10 (1) dinyatakan,

Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk:

e) Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945

f) Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang

kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

g) Memutus pembubaran partai politik

h) Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

Pasal 74 dinyatakan,

(1) Pemohon adalah:

a) Perorangan warga Negara Indonesia calon anggota Dewan

Perwakilan Daerah peserta pemilihan umum

b) Pasangan calon Presiden dan wakil Presiden peserta pemilihan umum Presiden dan wakil Presiden

c) Partai politik peserta pemilihan umum

(2) Permohonan hanya dapat diajukan terhadap penetapan hasil pemilihan umum yang dilakukan secara nasional oleh Komisi Pemilihan Umum yang mempengaruhi:

a) Terpilihnya calon anggota Dewan Perwakilan Daerah

b) Penentuan pasangan calon yang masuk pada putaran kedua

pemilihan Presiden dan wakil Presiden serta terpilihnya pasangan calon Presiden dan wakil Presiden

c) Perolehan kursi partai politik peserta pemilihan umum disuatu daerah pemilihan

(3) Permohonan hanya dapat diajukan dalam jangka waktu paling lambat 3 x 24 jam (tiga kali duapuluh empat jam) sejak Komisi Pemilihan Umum mengumumkan penetapan hasil pemilihan umum secara nasional.

Pasal 75 dinyatakan,

Dalam permohonan yang diajukan, pemohon wajib menguraikan dengan jelas tentang:

a) Kesalahan hasil penghitungan suara yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum dan hasil penghitungan yang benar menurut pemohon

b) Permintaan untuk membatalkan hasil penghitungan suara yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum dan menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut pemohon.

Pasal 77 (3) dinyatakan,

Dalam hal permohonan dikabulkan sebagaimana dimaksud Mahkamah Konstitusi menyatakan membatalkan hasil penghitungan suara yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum dan menetapkan hasil penghitungan suara yang benar.

2. Berdasarkan rumusan masalah kedua tentang putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang pemilihan kepala daerah ulang di Jawa Timur ditinjau dari undang-undang Pemerintahan Daerah (UU No.32 Tahun 2004 dan yang diperbaruhi dengan UU No.12 Tahun 2008) dapat dikemukakan hasil penelitian normatif hukum terhadap peraturan perundang-undangan sebagai berikut.

a. Dalam UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal 57, dinyatakan,

(3) Dalam mengawasi penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah, dibentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian, kejaksaan, perguruan tinggi, pers, dan tokoh masyarakat,

(4) Anggota panitia pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah 5 (lima) orang untuk provinsi, 5 (lima) orang untuk kabupaten/kota dan 3 (tiga) orang untuk kecamatan.

(5) Panitia pengawas kecamatan diusulkan oleh panitia pengawas kabupaten/kota untuk ditetapkan oleh DPRD.

(6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3), panitia pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat diisi oleh unsur yang lainnya.

(7) Panitia pengawas pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada DPRD dan berkewajiban menyampaikan laporannya.

Pasal 78 dinyatakan,

Dalam kampanye dilarang:

a.Mempersoalkan dasar negara Pancasila dan Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b.Menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon kepala daerah/wakil kepala daerah dan/atau partai politik;

c.Menghasut atau mengadu domba partai politik, perseorangan, dan/atau kelompok masyarakat;

d.Menggunakan kekerasan, ancaman kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada perseorangan, kelompok masyarakat dan/atau partai politik;

e.Mengganggu keamanan, ketenteraman, dan ketertiban umum;

f.Mengancam dan menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang sah;

g.Merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye pasangan calon lain;

h.Menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah dan pemerintah daerah;

i. Menggunakan tempat ibadah dan tempat pendidikan; dan

j.Melakukan pawai atau arak-arakan yang dilakukan dengan berjalan kaki dan/atau dengan kendaraan di jalan raya.

Pasal 81 dinyatakan,

(1)Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f, merupakan tindak pidana dan dikenal sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2)Pelanggaran atas ketentuan larangan pelaksanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g, huruf h, huruf i dan huruf j, yang merupakan pelanggaran tata cara kampanye

Pasal 103 dinyatakan,

(2) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPS apabila

(3) Penghitungan ulang surat suara dilakukan pada tingkat PPK apabila terjadi perbedaan data jumlah suara dari PPS.

(4) Apabila terjadi perbedaan data jumlah suara pada tingkat KPU Kabupaten/Kota, dan KPU Provinsi, dilakukan pengecekan ulang terhadap sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 1 (satu) tingkat di bawahnya.

Pasal 104 dinyatakan,

(2)Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila terjadi kerusuhan yang mengakibatkan hasil pemungutan suara tidak dapat digunakan atau penghitungan Maka tidak dapat dilakukan.

(2) Pemungutan suara di TPS dapat diulang apabila dari hasil penelitian dan pemeriksaan Panitia Pengawas Kecamatan terbukti terdapat satu atau lebih dari keadaan sebagai berikut:

a. pembukaan kotak suara dan/atau berkas pemungutan dan

penghitungan suara tidak dilakukan menurut tata cara yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;

b. petugas KPPS meminta pemilih memberi tanda khusus

,menandatangani, atau menulis nama atau alamatnya pada surat suara yang sudah digunakan;

c. lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau TPS yang berbeda;

d. petugas KPPS merusak lebih dari satu surat suara yang sudah digunakan oleh pemilih sehingga surat suara tersebut menjadi tidak sah; dan/atau

e. lebih dari seorang pemilih yang tidak terdaftar sebagai pemilih mendapat kesempatan memberikan suara pada TPS.

Pasal 106 dinyatakan,

(2)Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

(2) Keberatan sebagaimana dimaksud hanya berkenaan dengan hasil

b. Dalam UU No.12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal 233 dinyatakan,

(2) Pemungutan suara dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada bulan November 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 diselenggarakan berdasarkan Undang- Undang ini paling lama pada bulan Oktober 2008.

(3) Dalam hal terjadi pemilihan kepala daerah putaran kedua,

pemungutan suara diselenggarakan paling lama pada bulan Desember 2008.

Pasal 236C dinyatakan,

Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Dokumen terkait