• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah pada BAB 1, maka hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut ini:

1. Perlakuan Akuntansi Aset Bersejarah Benteng Somba Opu

Penting sekali untuk memahami aset bersejarah, karena ketika menganalisis pemrosesan akuntansi, kita harus memiliki pemahaman yang luas tentang aset bersejarah tersebut. Pelaporan dalam kaitannya dengan aset bersejarah, baik dari sisi pengakuan, pengungkapan, maupun penilaiannya. Berikut ini hasil dari penelitian yang telah dilakukan dan penjelasan bagaimana perlakuan akuntansi yang diterapkan di Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan terkait mengenai pengakuan, metode penilaian yang digunakan, serta pengungkapan aset bersejarah Benteng Somba Opu Gowa dalam CaLK.

a. Pendapat informan mengenai Aset Bersejarah

Banyak definisi yang menggambarkan apa itu aset bersejarah, hal ini dikarenakan banyaknya perdebatan mengenai standar yang harus dipenuhi untuk menentukan aset bersejarah. Definisi aset bersejarah masih banyak diperdebatkan oleh para ahli, oleh karena itu, saat ini tidak ada definisi yang tepat dan universal dari aset bersejarah. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai pendapat yang berbeda-beda mengenai definisi aset bersejarah oleh para ahli dalam mengklarifikasi kan aset bersejarah termasuk aset atau kewajiban yang harus dipenuhi oleh suatu entitas pengelola aset bersejarah.

Banyak definisi yang menggambarkan aset bersejarah karena berbagai kriteria yang digunakan untuk menentukan definisi tersebut. Dan standar yang digunakan Carnegie dan Wolnizer (1995) yang mengatakan aset bersejarah bukanlah aset dan akan lebih tepat diklarifikasikan sebagai

liabilitas, atau secara alternatif disebut sebagai fasilitas dan menyajikan secara terpisah. Adapun pendapat lain dari Micallef dan Peirson (1997) Aset bersejarah tergolong dalam aset dan dapat dimasukkan dalam neraca. Berbeda dengan pendapat Nasi et al. (2001) aset bersejarah tidak harus ditampilkan di neraca. Namun Christiaens (2004), Christiaens dan Rommel (2008), Rowles et al.(1998) mengatakan bahwa aset bersejarah harus dimasukkan dalam neraca meskipun tidak memenuhi definisi resmi (Ridha dan Basri, 2018). Sementara itu, Aversano dan Christiaens (2012) mengemukakan bahwa di Indonesia, aset bersejarah diatur dalam Panduan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP). PSAP menyatakan:

“Aset bersejarah adalah aset tetap yang dimiliki atau dikendalikan oleh pemerintah. Karena durasi dan kondisinya, aset tetap ini harus dilindungi undang-undang dan peraturan yang berlaku untuk menghindari dampak dari berbagai tindakan yang dapat merusak aset tetap”

Aset bersejarah biasanya dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama di mana aset bersejarah dibuktikan dalam undang-undang. Pemerintah mungkin memiliki aset bersejarah yang diperoleh dengan berbagai macam cara termasuk pembelian, warisan, donasi, maupun sitaan. Adapun beberapa kategori yang perlu diperhatikan dalam menganalisis perlakuan akuntansi pada aset bersejarah Benteng Somba Opu, klarifikasikan aset bersejarah sebagai aset atau liabilitas dan berapa kriteria umur yang seharusnya dimiliki oleh aset sehingga dapat diakui sebagai aset bersejarah.

1) Kategori aset atau liabilitas

Aset bisa diartikan sebagai semua sumber ekonomi atau kekayaan yang dimiliki oleh suatu individu maupun entitas yang diharapkan dapat memberikan manfaat usaha pada masa depan. Seperti dijelaskan dalam IPSAS (International Public Sector Accounting Standards) 17 standar ini mengawasi real estat, pabrik dan peralatan bahwa “suatu aset dinyatakan sebagai aset bersejarah karena bernilai budaya, lingkungan atau arti sejarah” (IPSAS 17, 2008). Dalam hal ini menunjukkan bahwa aset bersejarah tidak hanya terkait dengan nilai ekonomisnya, tetapi juga dengan nilai lingkungan atau sejarahnya, dalam hal ini adalah aset tersebut harus berumur lebih dari 50 tahun. Pemahaman tentang pengertian aset bersejarah dapat dilihat dari bagaimana penyedia informasi dalam penelitian ini memahami Benteng Somba Opu sebagai aset bersejarah, seperti halnya yang diungkapkan oleh Pak Sawir selaku penyusun bagian inventaris/barang Disbudpar Prov. Sulsel sebagai berikut:

“Aset bersejarah itu, aset-aset yang sudah bernilai tua, memiliki nilai pengetahuan, sosial dan kebudayaan diantaranya peninggalan apakah itu dari kerajaan Gowa. Bisa saja aset bersejarah itu peninggalan Belanda seperti Gedung Mulo”. (Wawancara dengan Pak Sawir pada tanggal 2 September 2020)

Menurut hasil wawancara dengan pak Sawir, dapat diketahui bahwa aset bersejarah memiliki nilai pengetahuan, sosial dan budaya yang melekat pada aset tersebut. Diketahui bahwa Pak Sawir bukan merupakan lulusan akuntansi tetapi dalam hal ini, peneliti mengetahui bahwa latar belakang tidaklah menjamin apakah suatu aset bersejarah adalah hal baru bagi entitas. Dengan kata lain, entitas yang mengelola aset harus mengetahui

jenis-jenis aset yang dimilikinya, termasuk arti aset bersejarah yang sebenarnya.

Hal tersebut juga diungkapkan pihak pengelola Benteng Somba Opu Gowa. Terlihat dari pernyataannya bahwa informan juga familiar dengan istilah aset bersejarah. Di mana saat peneliti melakukan wawancara dengan pengelola Benteng Somba Opu mengenai aset bersejarah itu termasuk kategori aset atau kewajiban. Informan pun menjawab bahwa aset bersejarah termasuk aset seperti yang diungkapkan dalam wawancara dengan Pak Marzuki berikut ini:

“Aset bersejarah itu termasuk aset karena seperti yang diketahui kriteria dari aset tetap yaitu yang memiliki masa manfaat lebih dari 1 tahun dan benteng ini sudah berumur lebih dari 50 tahun.” (Wawancara dengan Pak Marzuki pada tanggal 22 Agustus 2020)

Hasil wawancara menegaskan bahwa aset bersejarah diklasifikasikan sebagai aset. Karena tidak menimbulkan suatu masalah yang ditimbulkan oleh pihak luar dari suatu entitas, yang berarti bahwa jika suatu aset bersejarah dikategorikan sebagai kewajiban maka secara otomatis akan tercipta kewajiban yang harus dipenuhi oleh entitas saat menyerahkan barang / jasa kepada entitas lain sekarang dan di masa yang akan datang. Tetapi aset bersejarah tidak dapat melakukan ini. Meskipun setiap pendapat yang diberikan oleh masing-masing informan berbeda, mereka semua memahami bahwa aset bersejarah termasuk dalam kelas aset. Oleh karena itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aset bersejarah merupakan kategori aset, seperti yang diungkapkan oleh Micallef dan Peirson (1997). Berikut ini termasuk aset bersejarah yang terdapat dalam kawasan Benteng Somba Opu.

No

Aset bersejarah Benteng Somba

Opu

Jenis Aset Harga Perolehan

(1993) PSAP 1 Museum Karaeng Pattingalloang Seni dan/atau Budaya Rp 180.000.000 Dicatat dengan harga perolehan 2 Dinding Benteng Somba Opu Sejarah dan Seni Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai 3 Rumah Adat 1. Rumah Adat Kajang 2. Rumah Adat Bugis 3. Rumah Adat Tator 4. Rumah Adat Mandar Seni, Lingkungan dan Sosial Rp 1.211.100.000 Dicatat dengan harga perolehan 4 Baruga Benteng Somba Opu Seni, Lingkungan dan Sosial Rp 989.800.000 Dicatat dengan harga perolehan 5 Baruga Teater Somba Opu Rp 864.000.000 Dicatat dengan harga perolehan 6 Material (batu bata) Sejarah

Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai 7 Peluru Meriam Sejarah

Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai 8 Peluru Pistol Sejarah

Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai 9 Fragmen Porselin Sejarah

Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai 10 Fragmen Gerabah Sejarah

Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai 11 Alat Upacara Sejarah dan

Lingkungan Rp 0-,

Dicatat dengan tanpa nilai 12 Pakai Adat 4 Etnis di

Sul-SelBar

Sejarah

Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai 13 Mata Uang Kuno

1. Koin Wilhelmina 1 Gulden

2. Koin Dirham 1 perak dan 10 perak

3. Koin VOC tahun 1790 1 perak

Sejarah

Rp 0-, Dicatat dengan tanpa nilai

Jumlah Rp 3.064.900.000

2. Pengakuan Aset Bersejarah Benteng Somba Opu Gowa

Pengakuan aset bersejarah adalah metode perlakuan akuntansi untuk menentukan apakah akuntansi untuk menentukan apakah suatu aset dapat diakui secara formal sebagai kategori aset bersejarah. Aset diakui dalam neraca apabila besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan memperoleh perusahaan dan aktiva tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal (Retna et al, 2017:23). Menurut Pak Sawir dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 2 september mengenai pengakuan aset bersejarah, yaitu:

“Jika aset tersebut mau diakui sebagai aset bersejarah, maka harus memenuhi kondisi aset bersejarah itu sendiri. Kalau tidak salah barang itu harus berumur 50 tahun ke atas dan memiliki ciri khas. Download UU Cagar Budaya di situ sudah dijelaskan kriteria dari Cagar Budaya”. (Wawancara dengan Pak Sawir pada tanggal 2 September 2020)

Menurut informasi yang diberikan oleh pak Sawir, terlihat bahwa jika aset tersebut memenuhi standar umur pelayanan 50 tahun dan memiliki surat evaluasi yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang (seperti Kementerian Pendidikan), maka aset dapat dipastikan sebagai aset bersejarah. Terbitnya surat penilaian tersebut menunjukkan bahwa aset tersebut merupakan warisan budaya, artinya aset tersebut telah diakui oleh pemerintah sebagai aset bersejarah.

Beberapa aset diakui sebagai aset sejarah karena kepentingan budaya, lingkungan, dan sejarahnya. PSAP 07 paragraf 70 menjelaskan bahwa selain nilai sejarah, aset bersejarah tertentu juga memberikan potensi manfaat lain bagi pemerintah, seperti penggunaan gedung bersejarah sebagai ruang perkantoran. Dalam hal ini, aset tersebut akan diperlakukan dengan prinsip yang sama seperti

aset tetap lainnya. Berdasarkan PSAP No 7 tentang Akuntansi Aset Tetap dalam Peraturan Pemerintah No 71 tahun 2010, terdapat 2 standar pengakuan aset secara tatap muka, yaitu:

a. Aset tetap diakui pada saat perolehan manfaat ekonomi masa depan dan dapat mengukur nilainya dengan andal.

b. Jika kepemilikan aset tetap telah diterima atau dialihkan dan / atau kepemilikan dialihkan, konfirmasi aset tetap dapat di andal.

Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa Benteng Somba Opu merupakan salah satu tempat yang digunakan sebagai tempat kegiatan pemerintahan. Di mana di tempat tersebut berada pada wilayah Museum Karaeng Pattingalloang. Bukan hanya itu, kawasan Benteng Somba Opu juga terdapat rumah adat yang ada di Sulawesi Selatan yang biasanya disewa. Melihat kondisi tersebut, maka aset bersejarah Benteng Somba Opu dapat dikatakan sebagai aset tetap yang digunakan untuk kegiatan operasional dan non operasional. Oleh karena itu, praktik akuntansi aset sejarah Benteng Somba Opu mengacu pada praktik pengakuan aset bersejarah sesuai dengan PSAP No. 07 paragraf 15, jika kondisi berikut terpenuhi maka aset tetap sebagai berikut:

1) Masa manfaat melebihi 12 (dua belas) bulan

Umur manfaat aset dapat dilihat dari umur proyek / aset. Dalam menentukan suatu aset mempunyai manfaat lebih dari 1 tahun (12 bulan), suatu entitas harus menilai apakah aset tersebut memiliki manfaat ekonomis di masa depan. Manfaat ekonomi tersebut berupa aliran pendapatan bagi pemerintah untuk penghematan belanja pemerintah. Manfaat ekonomi masa

depan akan mengalir ke suatu entitas dapat dipastikan bila entitas tersebut akan menerima manfaat dan menerima resiko terkait. Kepastian ini biasanya hanya tersedia jika manfaat dan resiko jika diterima entitas tersebut (Fauziah, 2018).

Berdasarkan sejarah Benteng Somba Opu Gowa di bangun pada tahun 1525 yaitu pada zaman Belanda. Sehingga umur Benteng ini sudah mencapai kurang lebih sudah 5 abad, jadi Benteng ini sudah termasuk ke dalam kelompok aset. Berbicara tentang aset bersejarah sama halnya dengan berbicara tentang sejarah yang terdapat pada aset tersebut. Aset bersejarah ini seakan memiliki daya tarik tersendiri, mengundang wisatawan untuk datang berkunjung dan mengetahui sejarah di balik benda bersejarah tersebut. Namun seperti yang diketahui bahwa di kawasan Benteng Somba Opu bisa dikatakan bahwa keamanannya kurang baik, sehingga barang-barang bersejarah yang bernilai tinggi di pindahkan ke Museum La Galigo yang terletak di Benteng Rotterdam.

Masyarakat sekitar Benteng Somba Opu sudah merasakan manfaat dari aset bersejarah ini, yang tidak hanya menambah pendapatan para pedagang di sekitarnya, tetapi juga memberikan manfaat dari pengelolaan aset bersejarah tersebut. Salah satunya adalah aset bersejarah Benteng Somba Opu. Benteng Somba Opu memiliki potensi ekonomi, sosial, pendidikan dan budaya yang cukup luas dan dapat digali lebih jauh oleh masyarakat luas. Hal ini diungkapkan oleh Pak Marzuki selaku pengelola Benteng Somba Opu Gowa berikut ini:

“Kalau itu dek, itu terkait dengan penggunaannya. Jika Benteng Somba Opu tetap dipertahankan maka salah satu harapannya adalah

dapat bermanfaat. Termasuk keuntungan ekonomi. Ini mungkin bermanfaat bagi sains dan parawisata. Sejauh menyangkut parawisata, itu adalah nilai ekonominya dek. Misalnya siswa yang beraktivitas di sini bisa dikatakan travelling, karena sebenarnya nama trip itu dari satu tempat ke tempat lain. Tempat yang memberikan manfaat pendidikan dan manfaat ekonomi.” (Wawancara dengan Pak Marzuki pada tanggal 2 Oktober 2020)

Seperti yang dijelaskan oleh Pak Marzuki diatas memberikan kita sedikit gambaran betapa pentingnya pelestarian atas barang aset bersejarah. Pelestarian yang dilakukan merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan atas peran dari suatu aset bersejarah. Aset bersejarah kini selain digunakan sebagai sarana pembelajaran juga dapat mendatangkan pendapatan bagi negara maupun daerah. Optimalisasi atas fungsi aset bersejarah akan sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan kinerjanya, karena dengan demikian aset bersejarah tidak lagi dipandang sebagai sumber daya pasif, namun secara produktif dapat dikelola dan dikembangkan demi sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Dengan kata lain, aset bersejarah bukan hanya untuk dijaga dan dilestarikan, tapi bagaimana mengemas aset tersebut menjadi lebih optimal fungsi dan penggunaannya misalnya dijadikan perkantoran atau mengkomersialkannya ke masyarakat umum dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan, seperti talkshow, pameran dan event-event lainnya.

2) Biaya perolehan dapat diukur secara andal

Biaya perolehan adalah salah satu kriteria terpenting untuk mengenali aset bersejarah sebagai aset. Jika suatu aset tidak dapat diukur pada biayanya, maka item tersebut tidak dapat dikatakan sebagai aset. Suatu aset yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya harus

diukur sebesar biaya perolehan nya. Ketika aset tersebut diperoleh karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan pendapatan maka biaya perolehan aset dari suatu pertukaran diukur sebesar nilai wajar. Namun jika nilai wajar yang diperoleh tidak dapat diukur secara andal, maka biaya perolehan nya diukur dengan jumlah tercatat dari aset yang diserahkan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan, dapat diketahui bahwa perolehan Benteng Somba Opu ini berasal dari adanya hibah. Hibah adalah pemberian aset tanpa nilai. Walaupun sedemikian, nilai atas objek atas objek tersebut harus ditentukan sebagai pencatatan awal. Pengukuran aset bersejarah dapat dilakukan dengan menggunakan metode historical cost atau nilai wajar. Dalam SAP paragraf 24 menyatakan barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Biaya perolehan tersebut meliputi harga pembelian dan setiap pengeluaran yang dapat diatribusikan secara langsung. Bila aset tersebut diperoleh dengan tanpa nilai, maka biaya aset tersebut dinilai dengan jumlah tercatat saat transaksi dilakukan.

3) Tidak termasuk dalam operasi normal entitas

Benteng Somba Opu merupakan aset pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan ini jika dijual akan menimbulkan konflik antar masyarakat.

4) Diperoleh atau dibangun untuk digunakan

Di dalam Benteng Somba Opu Gowa dibangun sebuah rumah adat sebagai tempat kedudukan pusat pemerintahan dan dirancang untuk melestarikan, memelihara dan mempertahankan nilainya. Oleh karena

benteng ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana pendidikan dan pengetahuan, karena peristiwa penting terjadi pada saat pembangunan benteng tersebut.

Benteng Somba Opu ini dibangun pada Era kerajaan bangsa Indonesia yang didirikan pada abad ke-16 oleh raja Gowa IX yang awalnya menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan di mana rempah-rempah yang diperjualbelikan untuk beberapa pedagang baik dari Asia, sekitar Indonesia dan wilayah Eropa. Negara telah menjadi organisasi besar yang mutlak harus melindungi semua sumber dayanya, termasuk perlindungan terhadap semua peninggalan sejarah masa lalu. Ini berarti mengidentifikasi dan memastikan kepemilikan benda-benda bersejarah ini semaksimal mungkin. Agar dapat diakui sebagai aset, benda tersebut tidak harus dimiliki oleh entitas, tetapi sepenuhnya dikuasai oleh negara. Jika terdapat bukti bahwa hak kepemilikan dan / atau penguasaan sah telah dialihkan, seperti sertifikat tanah dan sertifikat kepemilikan barang, maka konfirmasi aset dapat diandalkan. Apabila tidak ada bukti hukum yang mendukung pembelian aset tetap karena masih diperlukan prosedur administrasi, seperti pembelian tanah dan sertifikat kepemilikan rumah yang masih perlu melengkapi prosedur jual beli (akta). Pejabat yang berwenang, jika ada bukti penguasaan aset tetap berpindah tangan, misalnya nama sertifikat tanah sudah dibayar dan dikuasai atas nama pemilik sebelumnya, maka aset tetap tersebut harus dipastikan. Penguasaan aset suatu aset biasanya dapat diperoleh melalui adanya pembelian, penemuan, pemberian, maupun penjualan.

Benteng Somba Opu merupakan salah satu properti nasional yang diperoleh melalui hibah. Hibah adalah pemberian yang diberikan oleh satu orang kepada pihak lain yang masih hidup, dan penyaluran dilakukan selama penghibah masih hidup. Namun terkait dengan bukti atas transaksi yang telah dilakukan, sangat sulit untuk diketahui dalam bentuk apa bukti penyerahannya, mengingat bahwa benteng ini sudah sangat lama yang menjadikannya sulit untuk ditelusuri untuk ditemukannya bukti penyerahannya. Hal ini diungkapkan oleh Pak Sawir dari hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 2 September 2020:

“Untuk buktinya dek tidak ada, karena kan benteng ini sudah begitu lama sekali dan kita juga belum lahir. Jadi kita tidak tahu dulu itu dilakukan oleh Belanda dengan siapa, karena dulunya kan ini benteng awalnya dibuat oleh Belanda” (wawancara dengan Pak Sawir pada tanggal 2 September 2020)

Dari wawancara di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa kepemilikan Benteng Somba Opu merupakan salah satu aset bersejarah tidak lepas dari entitas yang mengelolanya. Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulsel merupakan kuasa pengguna barang. Oleh karena itu, seluruh barang milik negara akan dilaporkan sebagai barang milik negara sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No 6 Tahun 2016 tentang pengelolaan Barang Milik Negara. Benteng Sompa Opu memperoleh satuan yang terdiri dari tanah dan bangunan. Namun pada dasarnya, dalam akuntansi sendiri aset bersejarah ini harus diakui secara terpisah mengingat sifat dan fungsinya memiliki perbedaan satu sama lain.

3. Penilaian terhadap Aset Bersejarah

Penilaian aset adalah proses yang digunakan untuk menampilkan rupiah atau jumlah nominal yang harus ditempatkan pada setiap elemen atau item

keuangan pada saat penyampaian laporan keuangan secara konseptual, ada banyak metode valuasi yang dapat dipilih untuk menentukan nilai suatu aset, seperti menggunakan metode nilai wajar atau metode biaya. Nilai wajar ialah jumlah yang dipakai untuk menukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar. Untuk aset bersejarah, nilai wajar digunakan karena nilai wajar sering digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai koleksi dan estimasi biaya pembelian barang serupa. Namun hal ini berbeda dengan yang ditemukan peneliti saat melakukan wawancara, dalam prakteknya Benteng Somba opu justru menemui kesulitan dalam mengevaluasi Benteng Somba Opu. Data tersebut berasal dari wawancara peneliti dengan penyedia informasi sebagai berikut:

“kalau mengenai penilaiannya dek, kita tidak tau mau nilai berapa aset ini. Karena kalau aset bersejarah itu tidak bisa kita beri nilainya berapa jadi kita hanya menuliskan 0 rupiah, kecuali bangunan dan tanah” (wawancara dengan Pak Sawir pada tanggal 28 Agustus 2020)

Berdasarkan wawancara di atas, dalam hal ini dijelaskan bahwa pemberian nilai terhadap aset bersejarah di Benteng Somba Opu hanya sebesar 0 rupiah. Namun untuk bangunan dan tanah dicatat sesuai dengan harga perolehan nya. Seperti bangunan yang sering kali di sewakan untuk dijadikan tempat untuk menginap jika melakukan kegiatan di Benteng Somba Opu. Karena pada hakikatnya semua jenis aset tetap yang dimiliki pemerintah (seperti gedung dan bangunan) dapat dipahami melalui nilai belinya, sedangkan untuk aset bersejarah, aset tersebut sudah berdiri sejak beberapa tahun sehingga sulit untuk dinilai. Selain itu, tidak adanya dokumen dan bukti autientik terkait dengan pembangunan yang dilakukan menjadikannya susah untuk menafsir jumlah biaya

yang terpakai dalam membangun atau mengadakan aset atau barang bersejarah tersebut.

Aset tetap awalnya diukur dengan biaya perolehan menurut PSAP 07 Paragraf 22. Jika tidak memungkinkan untuk menggunakan biaya perolehan untuk menilai aset tetap, nilai properti, pabrik, dan peralatan riil didasarkan pada nilai wajar pada saat pembelian. Peneliti sebelumnya menjelaskan bahwa Benteng Somba Opu diperoleh melalui dana hibah. Dalam pengukuran aset, biasanya ketika aset diperoleh melalui transaksi (seperti pembelian dan pertukaran yang dapat diukur dengan biaya). Namun, jika komoditas tersebut diperoleh dari hibah, biasanya akan menghasilkan manfaat ekonomi yang cukup besar tanpa perlu mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Dengan kata lain, bangunan dan tanah yang dibebaskan adalah contoh pembebasan gratis. Begitu pula dengan Benteng Somba Opu, karena ketika suatu entitas memperoleh aset, maka atribut dalam aset tersebut tidak memiliki biaya atau nilai sama sekali.

4. Pengungkapan Benteng Somba Opu di dalam Laporan Keuangan

Pengungkapan merupakan kegiatan menyampaikan informasi keuangan kepada pengguna laporan keuangan. dalam standar akuntansi pemerintah berbasis akrual, paragraf 65 No 7 tahun 2010 dijelaskan bahwa pernyataan tersebut tidak mengharuskan pemerintah untuk mencatatkan aset bersejarah di

Dokumen terkait