BAB V PENUTUP
4.1 Lembar Validasi Produk untuk Dosen
Lembar validasi produk untuk dosen ahli diberikan kepada 1 dosen ahli matematika. Lembar validasi produk untuk dosen ahli yang digunakan oleh peneliti dapat dilihat pada lampiran 4.1. Adapun kisi-kisi lembar validasi produk untuk dosen ahli dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.6 Kisi-kisi Lembar Validasi Produk untuk Dosen Ahli
No Aspek Nomor
item Pernyataan 1. Bahasa
1
a. Bahasa sesuai dengan kaidah penulisan yang baik dan benar.
b. Susunan kalimat dapat dipahami oleh guru dan siswa.
2. Format Penulisan
Prototipe 2
a. Format penulisan prototipe sesuai dengan kaidah penulisan buku.
b. Menggunakan kepustakaan yang sesuai dengan teori
van Hiele.
3 Isi
3
a. Memuat 5 fase model pembelajaran van Hiele. b. Memuat penerapan 5 fase van Hiele dalam 3 RPP
materi pembelajaran bangun datar sederhana untuk kelas II.
c. Memuat kekhasan tahapan berpikir tentang segitiga (sama sisi, sama kaki, siku-siku, sembarang), segi empat (persegi, persegi panjang), dan lingkaran sesuai dengan tahap operasional konkret siswa. d. Memuat media yang berkaitan dengan bangun datar
segitiga (sama sisi, sama kaki, siku-siku, sembarang), segi empat (persegi, persegi panjang), dan lingkaran sehinga membantu siswa memahami konsep geometri.
e. Memuat rubrik penilaian untuk mengetahui pemahaman siswa tentang konsep bangun datar.
3.5.4.2 Lembar validasi produk untuk guru
Lembar validasi produk untuk guru diberikan kepada 1 guru kelas II. Lembar validasi produk untuk guru yang digunakan oleh peneliti dapat dilihat pada lampiran 4.3. Adapun kisi-kisi lembar validasi produk untuk guru dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.7 Kisi-kisi Lembar Validasi Produk untuk Guru
No Aspek Nomor
item Pernyataan 1. Indikator 1 Kesesuaian indikator dengan KD.
2. Materi
2 Materi sesuai dengan pokok bahasan bangun datar segi empat (persegi dan persegi panjang). 3. Apersepsi
3 Apersepsi sesuai dengan pokok bahasan bangun datar
segi empat (persegi dan persegi panjang).
4. Fase Informasi a. Berisi tentang materi bangun datar segi empat (persegi dan persegi panjang).
4
c. Memuat pengantar tentang bangun datar segi empat (persegi dan persegi panjang) secara kontekstual.
Fase Orientasi Langsung
4
a. Memuat kegiatan mengeksplorasi media pembelajaran untuk memperoleh konsep awal tentang segi empat (persegi dan persegi panjang). b. Memuat tugas/aktivitas sederhana.
Fase Penjelasan 4
a. Memuat kegiatan siswa untuk menjelaskan topik yang diamati dengan bahasa mereka sendiri. b. Memuat kegiatan siswa untuk saling bertukar
pendapat.
Fase Orientasi
Bebas 4
a. Memuat tugas yang lebih kompleks sesuai dengan materi segi empat (persegi dan persegi panjang). b. Memuat aktivitas/kegiatan yang memungkinkan
siswa untuk menemukan keterkaitan antara konsep segi empat dengan kehidupan sehari-hari.
Fase Integrasi 4
a. Memuat aktivitas siswa untuk menyimpulkan materi segi empat (persegi dan persegi panjang) dari keseluruhan kegiatan.
b. Memuat soal evaluasi tentang materi segi empat (persegi dan persegi panjang).
c. Memuat aktivitas siswa untuk mengintegrasikan materi segi empat (persegi dan persegi panjang) dalam bentuk refleksi yang imajinatif.
5. Model pembelajaran van Hiele memberi inspirasi dalam mengajarkan materi segi empat (persegi dan persegi panjang) secara: 5 a. Konteksual
b. Bahasa yang disampaikan kepada siswa sesuai dengan pemahaman siswa.
c. Bahasa yang disampaikan kepada siswa berkaitan dengan materi segi empat (persegi dan persegi
panjang) memudahkan siswa untuk
megimajinasikan/membayangkan benda tersebut. d. Kelima fase van Hiele memudahkan guru untuk
mengajarkan konsep segi empat (persegi dan persegi panjang) kepada siswa.
6. RPP
6
RPP dengan model van Hiele tersebut layak untuk dilatihkan kepada guru-guru.
3.5.5 Instrumen tes untuk fase van Hiele
Instrumen ini berupa tes ini digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap model pembelajaran van Hiele.
3.5.5.1 Fase informasi
Tabel 3.8 Instrumen Tes Fase Informasi
Kegiatan Soal atau perintah
Memahami isi lagu “Segi Empat” Jawablah pertanyaan tentang lagu “Segi Empat” di bawah ini!
Mengamati benda berbentuk segi empat (ubin, meja, kertas HVS) yang ditunjukkan guru.
Amatilah berbagai macam benda berbentuk segiempat yang ditunjukkan gurumu!
Instrumen pada fase informasi ini menggunakan kategori penilaian sebagai berikut: “Tercapai” dan “Tidak Tercapai”. Siswa dikatakan tercapai jika melaksanakan perintah sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh guru. Siswa dikatakan tidak tercapai jika tidak melaksanakan perintah sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh guru.
3.5.5.2 Fase orientasi langsung
Tabel 3.9 Instrumen Tes Fase Orientasi Langsung
Kegiatan Soal atau perintah
Observasi
Bergabunglah bersama anggota kelompokmu dan coba carilah benda-benda berbentuk persegi maupun persegi panjang yang ada di dalam dan di luar kelas! Kemudian, catatlah nama benda tersebut pada tabel di bawah ini! (waktu 15 menit)
Instrumen pada fase orientasi langsung ini menggunakan kategori penilaian sebagai berikut: “Tercapai” dan “Tidak Tercapai”. Siswa dikatakan tercapai jika mampu menyebutkan minimal 10 benda dengan benar. Siswa
dikatakan tidak tercapai jika belum mampu menyebutkan minimal 10 benda dengan benar.
3.5.5.3 Fase penjelasan
Tabel 3.10 Instrumen Tes Fase Penjelasan
Kegiatan Soal atau perintah
Presentasi Sampaikan hasil pengamatan benda-benda berbentuk persegi dan persegi panjang yang telah kelompokmu temukan!
Instrumen pada fase penjelasan ini menggunakan kategori penilaian sebagai berikut: “Tercapai” dan “Tidak Tercapai”. Siswa dapat dikatakan tercapai jika siswa mampu menyampaikan hasil pengamatannya dengan baik dan benar. Siswa dikatakan tidak tercapai jika belum mampu menyampaikan hasil pengamatannya dengan baik dan benar.
3.5.5.4 Instrumen fase orientasi bebas
Tabel 3.11 Instrumen Tes Fase Orientasi Bebas
Kegiatan Soal atau perintah
Menyusun puzzle persegi dan persegi panjang.
Susunlah puzzle dari korek api, sedotan, dan lidi yang dibagikan gurumu menjadi 3 buah bentuk persegi dan 3 buah bentuk persegi panjang!
Menggambar dan mewarnai Gambarlah sebuah rumah impianmu masing-masing di lembar kerja yang telah dibagikan gurumu! Kemudian warnailah!
Instrumen pada fase orientasi bebas ini menggunakan kategori penilaian sebagai berikut: “Tercapai” dan “Tidak Tercapai” Siswa dikatakan tercapai jika siswa dalam kelompok mampu menyusun 6 buah puzzle persegi dan persegi panjang dengan rapi pada kegiatan menyusun puzzle persegi dan persegi panjang dan siswa secara individu mampu menggambar sesuai dengan perintah yang diberikan. Siswa dikatakan tidak tercapai jika siswa siswa dalam kelompok belum
mampu menyusun 6 buah puzzle persegi dan persegi panjang dengan rapi pada kegiatan menyusun puzzle persegi dan persegi panjang dan siswa secara individu belum mampu menggambar sesuai dengan perintah yang diberikan.
3.5.5.5 Fase integrasi
Tabel 3.12 Instrumen Tes Fase Integrasi
Kegiatan Soal atau perintah
Mengerjakan soal evaluasi Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat! Merangkum Tuliskan dalam buku tulis kalian masing-masing
rangkuman materi yang telah kita pelajari hari ini! Refleksi Jawablah pertanyaan refleksi tentang pembelajaran
hari ini di lembar refleksi yang tersedia!
Instrumen pada fase integrasi ini menggunakan kategori penilaian sebagai berikut: “Tercapai” dan “Tidak Tercapai”. Siswa dikatakan tercapai jika seluruh siswa mampu mendapatkan nilai rata-rata kelas mencapai KKM nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran matematika di kelas II SD Negeri Sendangadi yaitu ≥60 pada kegiatan mengerjakan soal evaluasi, siswa mampu merangkum materi dengan benar pada kegiatan merangkum materi, dan siswa mampu menuliskan refleksi sesuai dengan pertanyaan refleksi. Siswa dikatakan tidak tercapai jika seluruh siswa belum mampu mencapai nilai rata-rata kelas ≥ 60 pada kegiatan mengerjakan soal evaluasi, belum mampu merangkum materi dengan benar pada kegiatan merangkum materi, dan belum mampu menuliskan refleksi sesuai dengan pertanyaan refleksi.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dan penyebaran angket. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing teknik pengumpulan data tersebut:
3.6.1 Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (Sukmadinata, 2011: 220). Peneliti menggunakan jenis observasi secara terstruktur. Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya (Sugiyono, 2012: 146).
3.6.2 Angket
Kuesioner/ angket merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden) (Sukmadinata, 2011: 219). Peneliti memberikan angket pra-penelitian kepada dua responden yaitu guru dan siswa. Angket ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap macam-macam bentuk maupun unsur-unsur yang ada pada bangun datar sederhana.
3.6.3 Tes
Anastari (dalam Sugiyono, 2015: 208) menyatakan bahwa tes merupakan pengukuran yang objektif dan standar. Cronbach (dalam Sugiyono, 2015: 208) menambahkan bahwa tes adalah prosedur yang sistematis guna mengobservasi dan memberi deskripsi sejumlah atau lebih ciri seseorang dengan bantuan skala numerik atau suatu sistem kategoris.
3.7 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang berupa data kualitatif dan kuantitatif. Teknik tersebut dilakukan dengan mengolah data yang diperoleh
dari responden. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif oleh peneliti.
3.7.1 Data kualitatif
Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi, angket pra-penelitian guru yang disebarkan dan hasil uji coba perangkat pembelajaran ke-2 dengan materi persegi dan persegi panjang. Data hasil observasi dianalisis dengan merekap masalah yang tampak dalam pembelajaran. data hasil uji coba dianalisis dengan membahas dokumentasi foto tiap fase selama proses pembelajaran berlangsung.
3.7.2 Data kuantitatif
Data kuantitatif yang diperoleh peneliti berupa penghitungan data hasil angket pra-penelitian siswa dan hasil validasi produk dari 1 dosen ahli dan 1 guru kelas. Angket pra-penelitian dan validasi produk dianalisis dengan cara menghitung rata-rata skor kemudian disesuaikan dengan interval pada tabel kriteria penilaian produk. Adapun kriteria penilaian produk yang digunakan menurut Widoyoko (2012: 144) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.13 Kriteria Penilaian Produk
Interval Tingkat Pencapaian Kualifikasi
3,25 < M < 4,00 Sangat Baik
2,50 < M < 3,25 Baik
1,75 < M < 2,50 Kurang Baik
0,00 < M < 1,75 Tidak Baik
Penghitungan hasil validasi produk dilakukan dengan cara skor tiap item pada lembar validasi produk dijumlahkan lalu dirata-rata. Skor rata-rata selanjutnya disesuaikan dengan interval pada tabel kriteria penilaian produk untuk menentukan revisi atau tidak terhadap produk yang dikembangkan.
3.8 Jadwal Penelitian
No Kegiatan Bulan
Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Jan Feb
1. Observasi pembelajaran 2. Pembuatan angket pra-penelitian 3. Penyebaran angket pra-penelitian 4. Penyusunan proposal penelitian 5. Penyusunan produk 6. Uji coba produk dan 7. Pengolahan data 8. Penyusunan laporan penelitian 9. Ujian skripsi 10 . Revisi skripsi
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV ini berisi uraian tentang hasil penelitian yang terdiri dari: 1) penjelasan proses pengembangan prototipe perangkat pembelajaran geometri bangun datar sederhana berdasarkan teori van Hiele untuk siswa kelas II Sekolah Dasar dan 2) deskripsi kualitas prototipe perangkat pembelajaran model van Hiele dapat membantu siswa kelas II memahami konsep bangun datar sederhana dan pembahasan.
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian pengembangan ini peneliti lakukan dengan menerapkan prosedur pengembangan menurut Sugiyono namun hanya sampai pada tahap uji coba produk terbatas.
4.1.1 Penjelasan Proses Pengembangan Prototipe Perangkat Pembelajaran Geometri Bangun Datar Sederhana Berdasarkan Teori van Hiele untuk Siswa Kelas II Sekolah Dasar
4.1.1.1 Potensi dan masalah
Potensi yang peneliti temukan adalah tentang materi geometri penting untuk siswa kelas II. Pembelajaran geometri dapat membantu pemahaman konsep anak tentang macam & unsur bangun datar sederhana yang merupakan bagian dari materi geometri. Selain itu, pembelajaran geometri dapat melatih siswa untuk mengembangkan kecerdasan matematis logis dan ruang visual.
Masalah yang peneliti lihat pada saat peneliti melakukan Probaling II di SD Negeri Sendangadi 2 yaitu saat peneliti melakukan observasi di kelas II pada
hari Selasa tanggal 5 Mei 2015 dan Kamis tanggal 7 Mei 2015. Peneliti melihat jika siswa mengalami kesulitan memahami macam dan unsur bangun datar sederhana. Adapun hasil observasinya dapat dilihat pada lampiran 1.2 dan 1.3. Berikut ini adalah hasil rekapan observasi pembelajaran I dan II:
Tabel 4.1 Rekapan Hasil Observasi Pembelajaran Sekolah / Kelas : SD Negeri Sendangadi 2
Hari/ Tanggal : Selasa, 5 Mei 2015 dan Kamis, 7 Mei 2015 Materi : - Mengenal bangun datar segitiga
- Mengenal bangun datar segi empat dan lingkaran
No Aspek yang diamati Deskripsi Hasil Pengamatan
1. Penggunaan media dalam
pembelajaran
Pembelajaran I: tidak menggunakan media Pembelajaran II: benda-benda di dalam
kelas. 2. Penerapan metode pembelajaran
tertentu untuk membantu siswa dalam memahami materi.
Pembelajaran I: ceramah, tanya jawab, dan
pemberian tugas.
Pembelajaran II: ceramah, tanya jawab,
dan pemberian tugas. 3. Penerapan model pembelajaran
tertentu untuk membantu siswa dalam memahami materi.
Pembelajaran I: konvensional
Pembelajaran II: kontekstual namun belum
begitu maksimal.
4. Kesulitan yang muncul pada siswa. Pembelajaran I: siswa masih kesulitan
membedakan macam-macam bentuk segitiga dan namanya.
Pembelajaran II: siswa masih kesulitan
membedakan dan memahami sudut dan sisi persegi dan persegi panjang.
Berdasarkan tabel 4.1 tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa guru kurang memaksimalkan penggunaan media dalam menjelaskan materi dan siswa kurang diberi kesempatan untuk mengeksplorasi media tersebut. Pengajaran yang dilakukan guru kelas II tersebut hanya dominan menjelaskan materi melalui metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Guru kurang menggali pengetahuan siswa dan guru hanya dominan menjelaskan materi sedangkan siswa
hanya banyak mendengarkan. Tugas yang diberikan kepada siswa hanya berupa soal-soal latihan dan kemudian membahasnya bersama-sama. Guru juga tidak menerapkan model pembelajaran tertentu dalam mengajarkan materi, guru hanya menerapkan pembelajaran yang konvensional dan saat pembelajaran yang tampak seperti menerapkan model pembelajaran kontekstual, penerapannya tersebut pun kurang maksimal. Masalah tampak pada beberapa siswa yang mengalami kesulitan memahami macam-macam bentuk bangun datar dan unsur-unsur bangun datar. Siswa masih bingung dalam membedakan macam-macam bentuk segitiga dan namanya saat mempelajari materi segitiga. Siswa juga masih kesulitan membedakan dan memahami sudut dan sisi persegi dan persegi panjang saat mempelajari materi segi empat.
4.1.1.2 Pengumpulan data
Instrumen pra-penelitian untuk guru dan siswa divalidasi oleh 1 validator dengan latar belakang seorang dosen matematika. Hasil skor rata-rata validasi angket pra-penelitian untuk guru adalah 2,90 dengan kategori baik. Hasil skor rata-rata validasi angket pra-penelitian untuk siswa adalah 3,00 dengan kategori baik.
Berdasakan hasil hasil skor rata-rata validasi angket pra-penelitian yang menunjukkan kategori baik tersebut maka instrumen tersebut layak untuk dibagikan kepada guru dan siswa. Angket pra-penelitian tersebut peneliti susun untuk memperkuat pengamatan peneliti pada saat kegiatan Probaling yakni pengamatan pembelajaran matematika tentang materi mengenal macam dan unsur bangun datar sederhana. Kisi-kisi untuk pertanyaan angket untuk guru berkaitan dengan cara guru mengajarkan materi bangun datar sederhana di kelas II berupa
10 pertanyaan, sedangkan kisi-kisi untuk pernyataan angket untuk siswa berkaitan dengan materi macam dan unsur bangun datar sederhana di kelas II berupa 13 pernyataan.
4.1.1.2.1 Hasil angket pra-penelitian untuk guru
Angket pra-penelitian untuk guru diberikan kepada 2 orang guru kelas II di SD Negeri Sendangadi 2 dan di SD Negeri Gunungpring 3 pada tanggal 28 Juli 2015. Hasil angket pra-penelitian untuk guru dapat dilihat pada lampiran 2.2. Berikut ini adalah rekapan hasil angket pra-penelitian:
Tabel 4.2 Rekapan Hasil Angket oleh Guru
No. Pertanyaan Jawaban
1.
Bagaimana Bapak/ Ibu menerapkan metode pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami macam-macam bentuk bangun datar?
Guru 1: metode ceramah, tanya jawab, diskusi,
dan demonstrasi.
Guru 2: ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi.
2.
Bagaimana Bapak/Ibu menerapkan model pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami macam-macam bentuk bangun datar?
Guru 1: kontekstual Guru 2: kontekstual
3.
Bagaimana cara Bapak/Ibu menggunakan media pembelajaran pada saat mengajarkan macam-macam bentuk bangun datar?
Guru 1: benda-benda berbentuk bangun datar
di sekitar siswa.
Guru 2: gambar dan alat peraga berbentuk
bangun datar.
4.
Bagaimana ketercapaian nilai KKM siswa pada materi macam-macam bentuk bangun datar?
Guru 1: 70% Guru 2: 75%.
5.
Kesulitan apa yang sering muncul pada siswa saat pembelajaran macam-macam bentuk bangun datar?
Guru 1: Jika disuruh menggambarkannya,
masih ada yang belum bisa
menggambarkannya dengan rapi.
Guru 2: Cara membentuk bangun datar belum
simetris.
6.
Bagaimana Bapak/Ibu menerapkan metode pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami unsur-unsur bangun datar?
Guru 1: ceramah, tanya jawab, diskusi, dan
demonstrasi.
Guru 2: demonstrasi dan tanya jawab.
7.
Bagaimana Bapak/Ibu menerapkan model pembelajaran tertentu untuk membantu anak dalam memahami unsur-unsur bangun datar?
Guru 1: kontekstual Guru 2: kontekstual
8.
Bagaimana cara Bapak/Ibu menggunakan media pembelajaran pada saat mengajarkan unsur-unsur bangun datar?
Guru 1: gambar atau benda konkret
Guru 2: benda-benda konkret berbentuk
9.
Bagaimana ketercapaian nilai KKM siswa pada materi unsur-unsur bangun datar?
Guru 1: 70% Guru 2: 75%.
10.
Kesulitan apa yang sering muncul pada siswa saat pembelajaran unsur-unsur bangun datar?
Guru 1: Belum bisa membedakan atau
menentukan sudut dan sisinya.
Guru 2: Masih ada sebagian kecil siswa yang
masih bingung membedakan sisi dan sudut.
Berdasarkan tabel 4.2 tersebut, data yang diperoleh peneliti dari 2 guru kelas II khususnya menyatakan bahwa metode pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan materi geometri adalah metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi. Model pembelajaran yang diterapkan yaitu model pembelajaran kontekstual. Kesulitan yang sering muncul pada siswa saat mempelajari macam-macam dan unsur bangun datar adalah siswa masih kesulitan membedakan macam-macam bentuk segitiga maupun segiempat, siswa juga belum bisa membentuk/menggambarkan bangun datar secara simetris, dan masih ada beberapa siswa yang kesulitan membedakan sisi dan sudut bangun datar.
4.1.1.2.2 Hasil angket pra-penelitian untuk siswa
Angket pra-penelitian untuk siswa diberikan kepada siswa kelas III di SD Negeri Sendangadi 2 dengan jumlah 23 siswa pada tanggal 28 Juli 2015. Angket pra-penelitian diberikan kepada siswa kelas III karena siswa tersebut sebelumnya sudah mengikuti pembelajaran materi bangun datar sederhana di kelas II pada semester genap. Contoh pengisian angket pra-penelitian dapat dilihat pada pada lampiran 2.4. Berikut ini adalah rekapan hasil angket pra-penelitian yang diberikan kepada siswa:
Tabel 4.3 Persentase Ketidaktercapaian Angket Pra-Penelitian Siswa
No Pernyataan
Persentase Ketidaktercapaian 1. Macam-macam segitiga ada 4 yaitu segitiga sama kaki, sama sisi, 48%
siku-siku, dan sembarang.
2.
Gambar-gambar berikut adalah macam-macam bentuk segitiga: 13%
3. Persegi dan persegi panjang adalah segi empat. 30%
4.
Gambar berikut ini adalah persegi: 9%
5.
Gambar berikut ini adalah persegi panjang: 9%
6.
Gambar berikut ini adalah lingkaran: 9%
7. Segitiga memiliki 3 buah sisi. 13%
8. Segitiga memiliki 3 sudut. 13%
9.
Segiempat berikut ini memiliki 4 sisi: 4%
10. Persegi memiliki 4 sudut. 13%
11. Persegi panjang memiliki 4 sudut. 4%
12. Lingkaran hanya memiliki 1 sisi. 43%
13. Lingkaran memiliki sudut. 39%
Tabel 4.4 Presentase Ketidaktercapaian Kisi-Kisi Angket Pra-Penelitian Siswa
No Indikator pernyataan Nomor Item
Persentase Ketidaktercapaian
1. Mengetahui macam-macam bentuk segitiga.
1-2 23 %
2. Mengetahui macam-macam bentuk
segiempat. 3-5
16 %
3.
Mengetahui bentuk lingkaran. 6 8 %
4.
Mengetahui unsur-unsur yang ada
pada bangun datar segitiga. 7-8
13 %
5. Mengetahui unsur-unsur yang ada
pada bangun datar segiempat. 9-11
6. Mengetahui unsur-unsur yang ada
pada bangun datar lingkaran. 12-13
41 %
Berdasarkan tabel 4.3 dan 4.4 dapat diketahui bahwa 4 item yang memiliki persentase ketidaktercapaian terbesar adalah item nomor 1, 3, 12, dan 13. Item nomor 1 memiliki persentase 48% dengan indikator mengetahui macam-macam segitiga karena dari jumlah keseluruhan 23 siswa, terdapat 11 siswa yang menjawab salah. Item nomor 3 memiliki persentase 30% dengan indikator mengetahui macam-macam bentuk segiempat karena terdapat 7 siswa yang menjawab salah. Item nomor 12 memiliki persentase 43% dengan indikator mengetahui unsur-unsur (sisi) bangun datar lingkaran karena terdapat 10 siswa yang menjawab salah. Item nomor 13 memiliki persentase 39% dengan indikator mengetahui unsur-unsur (sudut) bangun datar lingkaran. Berdasarkan 4 item yang memiliki persentase kasalahan terbesar tersebut, peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran yang memuat materi pada indikator 4 item tersebut. Materi tersebut adalah: 1) mengenal macam-macam segitiga, 2) mengenal macam-macam segiempat, dan 3) mengenal unsur-unsur lingkaran.
4.1.1.3 Desain produk
Berdasarkan hasil observasi dan angket, peneliti merancang prototipe perangkat pembelajaran yang berjudul “Prototipe Perangkat Pembelajaran Geometri Bangun Datar Sederhana berdasarkan Teori van Hiele untuk Siswa Kelas 2 Sekolah Dasar”. Prototipe terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama terdiri dari: a) kekhasan tingkat berpikir dalam belajar geometri berdasarkan van Hiele, b) lima fase model pembelajaran van Hiele, dan c) penerapan model pembelajaran
van Hiele. Bagian kedua berisi silabus dan 3 RPP tentang materi bangun datar segitiga, persegi, persegi panjang, dan lingkaran. Bagian ketiga berisi LKS untuk pembelajaran 1 tentang materi segitiga, pembelajaran 2 tentang materi persegi dan persegi panjang, dan pembelajaran 3 tentang materi lingkaran.
4.1.1.3.1 Bagian pertama
Bagian pertama ini merupakan pendahuluan untuk mengantarkan para pembaca prototipe untuk mengetahui dam memahami teori pembelajaran van Hiele. Bagian pertama terdiri dari 3 sub judul, yaitu:
1) Kekhasan tingkat berpikir dalam belajar geometri berdasarkan teori van Hiele, yaitu: yaitu: level 0 (visualisasi), level 1 (analisis), level 2 (deduksi informal), level 3 (deduksi), dan level 4 (ketepatan).
2) Lima fase dalam model pembelajaran van Hiele, yaitu: 1) fase informasi, 2) orientasi langsung, 3) penjelasan, 4) orientasi bebas, dan 5) integrasi. 3) Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran van Hiele,
menjelaskan tentang uraian langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dilakukan yang dilengkapi dengan materi dan foto atau gambar media yang digunakan dalam pembelajaran.
4.1.1.3.2 Bagian kedua
Bagian kedua terdiri dari silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang digunakan dalam pembelajaran geometri materi bangun datar sederhana (segitiga, segi empat (persegi dan persegi panjang), dan lingkaran) untuk kelas II.
1) Silabus
Silabus disusun berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan