HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Wilayah Penelitian di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur
Penelitian ini dilaksanakan di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur adalah salah satu panti sosial yang dimiliki oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam hal ini Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki dua panti sosial yaitu PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur dan PSTW Yogyakarta Unit Abiyoso yang berada di Pakem Sleman. PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur berdada di wilayah desa Kasongan, kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul DIY.
PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur adalah tempat bagi para lansia yang menginginkan kehidupan yang lebih layak sebagai lansia dari segi fasilitas umum maupun kesehatan, walaupun minim dengan dukungan dari keluarga lansia tersebut. Lansia yang berada di panti sosial berasal dari
berbagai daerah dan berbagai alasan berada dipanti tersebut. Panti sosial menjadi solusi terakhir yang menjadi tempat para lansia yang mengalami penelantaran baik oleh keluarga dan masyarakat maupun dikarenakan kesepakatan bersama dari keluarga dan masyarakat untuk mengirim lansia ke panti sosial. Tidak hanya kedua alasan tersebut, panti juga menerima apabila lansia yang berkeinginan sendiri untuk tinggal di panti sosial dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh panti sosial.
PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur memiliki dua tipe layanan dan ruangan. Tipe pertama bagi lansia yang kurang mampu yang tinggal di panti dengan dibiayai oleh pemerintah, sehingga lansia tidak mengeluarkan biaya untuk tinggal di panti tersebut. Terdapat lima buah wisma yang disediakan bagi lansia tipe pertama ini. Dalam wisma tersebut terdapat beberapa kamar dengan kapasitas dua sampai tiga orang dalam satu kamar serta terdapat ketua dalam satu wisma. Tipe kedua adalah lansia yang tinggal di panti dengan biaya pribadi. Terdapat empat buah wisma yang bisa ditempati oleh lansia tipe kedua ini. Dalam satu wisma terdapat beberapa kamar, satu kamar dihuni oleh satu orang lansia. Selain itu ada satu wisma bagi lansia yang memiliki ketergantungan terhadap orang lain dikarenakan keterbatasan fisik yang dimiliki menyebabkan lansia tidak bisa berjalan dan hanya tidur di tempat tidur saja. Lansia dengan tipe-tipe tersebut akan ditempatkan di wisma isolasi.
Berhubungan dengan upaya PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur untuk mengatasi masalah risiko cedera : jatuh pada lansia sudah cukup baik dan memadai dari segi modifikasi lingkungan panti. Disetiap wiswa terdapat besi berbentuk tabung panjang menempel di sepanjang tembok di dalam ruangan maupun di halaman atau teras. Besi tabung panjang tersebut setinggi
pinggang orang dewasa atau kira-kira satu meter sehingga bisa dijangkau lansia sebagai pegangan saat berjalan. Besi tersebut sangat membantu lansia yang kesulitan berjalan. Saat berjalan dengan memegangi besi tersebut menghindarkan lansia dari jatuh.
Selain diruangan wiswa, besi tabung panjang tersebut juga menempel di kamar mandi. Hal ini sangat bermanfaat bagi lansia yang ingin mandi, buang air kecil, maupun besar namun kesulitan berjalan atau berdiri dari posisi jongkok atau duduk. Selain itu kloset yang digunakan di kamar mandi berupa kloset duduk. Kloset duduk dapat meminimalisir lansia mengalami jatuh. Saat buang air kecil maupun besar posisi duduk pada lansia lebih aman dan nyaman. Selain itu kondisi tulang akan lebih terjaga karena tekanan yang dihasilkan pada tulang dan persendian lebih ringan saat menggunakan kloset duduk daripada kloset jongkok.
Panti sosial menyediakan kursi roda dan alat bantu jalan yang terbuat dari besi. Kursi roda diletakkan di halaman wisma A. Kursi roda tersebut digunakan oleh lansia secara bergantian. Sebagian lansia juga menggunakan alat bantu jalan yang terbuat dari besi. Dengan alat bantu jalan, lansia tetap bisa berjalan namun tumpuan berjalan dibantu dengan tumpuan pada besi pada alat bantu jalan tersebut.
Dalam mengatasi risiko cedera : jatuh pada lansia panti sosial menyediakan klinik bagi lansia yang memiliki masalah kesehatan. Di klinik tersebut lansia mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan obat. Untuk masalah risiko cedera : jatuh pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan tulang dan perawatan luka akibat jatuh. Sedangankan obat yang diberikan berupa obat anti-vertigo untuk mengurangi rasa pusing dan perasaan berputar-putar yang menyebabkan lansia terjatuh.
Sedangakan terapi fisik pada lansia berupa senam lansia yang dilakukan setiap hari pukul tujuh pagi selain hari Jumat dan Minggu.
2. Karakteristik Responden
Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan pada tanggal 6 januari - 11 januari 2014 dengan jumlah populasi yang memiliki risiko cedera : jatuh adalah 88 lansia, sumber data dari petugas kesehatan panti sosial. Namun setelah dilakukan observasi dan seleksi dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan didapatkan bahwa lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh sebanyak 26 orang.
Karakteristik yang berhasil dikumpulkan dari responden adalah jensi kelamin, usia, tingkat pendidikan, status perkawinan, dan jumlah lansia dengan risiko cedera : jatuh. Responden yang berada di PSTW Yogyakarta adalah sekelompok lansia yang memiliki karakteristik yang berbeda beda. Responden yang memiliki risiko cedera : jatuh biasanya juga memiliki penyakit lain seperti hipertensi, DM, anemia, penyakit kulit, dan penyakit organ pencernaan seperti rasa nyeri pada perut atau magh. Namun, penyakit yang menyertai itu tidak menjadi penghalang atau hambatan bagi lansia untuk berusaha menanggalkan status risiko cedera : jatuh dengan berlatih terapi Do- in Shiatsu Massage dan Gym. Responden memiliki sifat yang terbuka dan menerima bila ada orang atau mahasiswa yang akan melakukan penelitian. Sehingga peneliti tidak menemui hambatan dalam mengajak lansia untuk menerima intervensi berupa Do-in Shiatsu Massage dan Gym. Berikut ini adalah data presentase dari responden lansia dengan risiko cedera : jatuh di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. Pada table 4.1 berikut adalah tabel mengenai karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, dan status pernikahan
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Pendidikan dan Status Perkawinan Lansia dengan Resiko Cedera : Jatuh di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur Tahun 2013
Karakteristik Responden
Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen
F % F % Jenis Kelamin Laki-Laki 4 30,77 0 0 Perempuan Usia 60-65 tahun 65-70 tahun 71-75 tahun 76-80 tahun >80 tahun Tingkat Pendidikan Tidak sekolah SD / sederajat SMP / sederajat SMA / sederajat Diploma S1 Status Pernikahan Janda Duda Jumlah 9 1 3 3 2 4 3 4 2 3 0 1 9 4 13 69,32 7,69 23,07 23,07 15,38 30,76 23,07 30,76 15,38 23,07 0 7,69 69,32 30,77 100 13 0 2 4 5 2 3 5 3 2 0 0 13 0 13 100 0 15,38 30,76 38,46 15,38 23,07 38,46 23,07 15,38 0 0 100 0 100
Sumber : Data Primer (diolah)
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jenis kelamin pada kelompok kontrol mayoritas responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 9 orang (69,32%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 4 orang (30,77%). Sedangakan pada kelompok eksperimen seluruh responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 13 orang lansia (100%).
Tingkat usia dari responden pada kelompok kontrol usia 60-65 tahun hanya dimiliki oleh 1 orang (7,69%), 76-80 tahun dimiliki oleh 2 orang (15,38%), usia 65-70 tahun dan 71-75 tahun memiliki proporsi yang sama yaitu 3 orang (23,07), sedangkan usia diatas 80 tahun memiliki jumlah terbanyak yaitu 4 orang (30,765). Pada kelompok eksperimen menunjukkan
bahwa usia 76-80 tahun mendominasi responden sebanyak 5 orang (38,46%), sedangkan tidak terdapat responden dengan usia 60-65 tahun.
Tingkat pendidikan pada kelompok kontrol memiliki tingkat pendidikan yang bervariasi. Diantaranya lansia yang tidak sekolah sebanyak 3 orang (23,07%), SD / sederajat sebanyak 4 orang (30,76%), SMP / sederajat sebanyak 2 orang (15,38%), SMA / sederajat sebanyak 3 orang (23,07%), serta 1 orang berpendidikan sarjana (7,69%). Sedangkan pada kelompok eksperimen paling rendah tidak sekolah sebanyak 3 orang (23,07%), dan paling tinggi berpendidikan SMA / sederajat yaitu sebanyak 2 orang (15,38%). Sedangkan yang berpendidikan SD / sederajat sebanyak 5 orang (38,46%) dan berpendidikan SMP / sederajat sebanyak 3 orang (23,07%).
Status pernikahan responden menunjukkan bahwa seluruh responden berstatus duda dan janda. Pada kelompok kontrol jumlah duda adalah 4 orang (30,77%) dan jumlah janda 9 orang (69,32%). Pada kelompok eksperimen seluruh responden berstatus janda sebanyak 13 orang (100%)
3. Risiko Cedera : Jatuh Pada Lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur
a. Risiko Cedera : Jatuh Sebelum Perlakuan Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym
Data mengenai hasil pemeriksaan risiko cedera : jatuh pada lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur selengkapnya dapat dilihat pada lampiran, sedangkan Tabel 4.2 berikut ini merupakan pengelompokkan pemeriksaan risiko cedera : jatuh.
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Risiko Cedera : Jatuh Sebelum Perlakuan (Pretest) Pada Lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur Tahun 2013
Kategori Kelompok Kontrol
Kelompok Eksperimen
F % F %
Tidak Risiko Cedera
: Jatuh 0 0 0 0
Risiko Cedera : Jatuh
13 100 13 100
Jumlah 13 100 13 100
Sumber : Data Primer (diolah)
Pada data pada table 4.2 menunjukkan jumlah responden lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dapat dilihat bahwa pada kelompok kontrol sebanyak 13 orang (100%) memiliki resiko cedera jatuh. Begitu juga pada kelompok eksperimen terdapat 13 orang lansia (100%) yang memiliki resiko cedera : jatuh.
b. Risiko Cedera : Jatuh Setelah Diberi Perlakuan Do-in Shiatsu Massage dan Gym
Sebelum dilakukan analisis data tentang hasil pemeriksaan risiko cedera : jatuh pada lansia setelah diberikan perlakuan, dilakukan uji normalitas data terlebih dahulu. Hasil uji normalitas data menunjukkan taraf signifikansi sebesar 0,00 (< 0,05) maka data tidak terdistribusi normal. Sehingga untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan terapi Do- in Shiatsu Massage dan Gym terhadap risiko cedera : jatuh pada lansia digunakan uji statistik Wilcoxon pada kelompok intervensi dan kontrol. Tabel 4.3 berikut merupakan data mengenai hasil pemeriksaan risiko cedera : jatuh setelah diberikan perlakuan (posttest).
Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan Risiko Cedera : Jatuh Setelah Perlakuan (Postest) Pada Lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur Tahun 2013
Kontrol Eksperimen F % F % Tidak Risiko Cedera : Jatuh 0 0 12 92,31 Risiko Cedera : Jatuh 13 100 1 7,69 Jumlah 13 100 13 100
Sumber data : Primer (diolah)
Data pada Tabel 4.3 memperlihatkan pada kelompok kontrol tidak ada perubahan setelah empat minggu dilakukan perlakuan Do-in Shiastu Massage dan Gym. Artinya bahwa sebanyak 13 orang (100%) masih memiliki risiko cedera : jatuh. Sedangkan pada kelompok eksperimen terdapat 12 orang (92,31%) orang tidak memiliki risiko cedera : jatuh lagi dan sebanyak 1 orang (7,69%) masih memiliki risiko cedera : jatuh. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perubahan yaitu penurunan jumlah orang yang memiliki risiko cedera : jatuh setelah perlakuan pada kelompok eksperimen. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan jumlah lansia dengan risiko cedera : jatuh.
Pada table 4.4 berikut ini merupakan hasil uji statistik Wilcoxon untuk mengetahu pengaruh intervensi Do-in Shiatsu Massage dan Gym terhadap risiko cedera : jatuh kelompok eksperimen dan kelompok kontrol atau yang tidak diberikan perlakuan.
Tabel 4.4 Hasil Uji Statistik Wilcoxon Match Pairs Test Post Intervensi
– Pre Intervensi
Post Kontrol – Pre Kontrol Z Asymp.Sig.(2- tailed) -3.464a .001 .000b 1.000
Hasil uji statistik Wilcoxon Match Pairs Test pada kelompok intervensi dengan menggunakan taraf signifikansi = 0,05. Hasil pengujian dibawah 0,05 yaitu 0,001 (< 0,05) maka ada perbedaan risiko cedera : jatuh
sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol taraf signifikansi menunjukkan angka 1,000, yaitu lebih dari 0,05 sehingga tidak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol. Dari uji analisis tersebut dapat diketahui adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan dan kelompok eksperimen yang diberi perlakuan Do-in Shiatsu Massage dan Gym.
B. Pembahasan
1. Risiko Cedera : Jatuh Sebelum Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym Risiko cedera : jatuh pada lansia sebelum diberi perlakuan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen menunjukkan jumlah yang sama. Pada kelompok kontrol sebanyak 13 lansia (100%) memiliki risiko cedera : jatuh. Sedangkan pada kelompok eksperimen juga terdapat 13 (100%) orang lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh.
Risiko cedera: jatuh atau sering disebut jatuh adalah suatu kejadian yang menyebabkan subyek yang sadar menjadi berada di permukaan tanah tanpa disengaja. Tidak termasuk jatuh apabila kejadian jatuh diakibatkan pukulan keras, kehilangan kesadaran, atau kejang. Kejadian jatuh tersebut adalah penyebab yang spesifik yang jenis dan konsekuensinya berbeda dari mereka yang dalam keadaan sadar mengalami jatuh (Stanley, 2006).
Lansia dikatakan memiliki risiko cedera : jatuh dapat diketahui dengan berbagai cara. Antara lain melihat atau observasi secara langsung lansia yang mengalami jatuh secara tiba-tiba, melihat postur tubuhnya seperti bungkuk, dan melihat gaya berjalanya. Postur tubuh dan gaya berjalan pada lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh sangat khas dan mudah untuk
dilihat atau diobservasi. Namun hal itu bukan cara utama untuk menentukan apakah lansia tersebut memiliki risiko cedera : jatuh atau tidak.
Selain melakukan observasi mengenai postur tubuh dan gaya berjalan pada lansia, pada penelitian ini digunakan kuesioner dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui secara pasti apakah lansia tersebut mengalami risiko cedera : jatuh. Kuesioner yang digunakan meliputi pertanyaan mengenai kejadian jatuh pada lansia, perasaan takut jatuh kembali pada lansia, dan pola aktivitas lansia yang menyebabkan lansia takut beraktivitas dikarenakan ketakutan akan kejadian jatuh. Sedangankan pemeriksaan fisik menggunakan tiga cara yaitu postural hipotensi, TUG Test, dan Functional Reach Test. Ketiga pemeriksaan fisik tersebut digunakan untuk memastikan lansia tersebut memiliki risiko cedera : jatuh atau tidak (Miller, 2007).
Berdasarkan hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebelum adanya terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym, kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki risiko cedera : jatuh. Hal ini dikarenakan kedua kelompok tersebut sama-sama tidak diberikan perlakuan atau pengobatan secara intensif untuk menurunkan angka kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. Dengan kata lain pengukuran risiko cedera : jatuh pada lansia tersebut dilakukan sebelum adanya perlakuan (terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym).
Dari hasil observasi jumlah lansia wanita memiliki risiko cedera : jatuh lebih banyak daripada lansia laki-laki. Hal ini mendukung teori yang menyatakan bahwa wanita lebih rentan terkena osteoporosis akibat penurunan hormon estrogen dan progesteron. Osteoporosis pada lansia merupakan faktor risiko yang menyebabkan lansia mengalami jatuh. Selain itu kondisis lingkungan juga mempengaruhi kondisi lansia yang memiliki risiko cedera :
jatuh. Kondisi lingkungan di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur sudah cukup aman dan nyaman bagi lansia. Seringkali lansia berjalan tanpa pengawasan dan pendampingan petugas kesehatan panti sehingga lansia mengalami jatuh akibat ketidakhatia-hatian lansia tersebut. Selain itu terdapat ruangan yang gelap yang menyebabkan lansia tidak bisa melihat saat berjalan dan menyebabkan lansia menabarak suatu benda dan lansia terjatuh. Hal ini sesuai teori Reuben (1999) yang menyatakan bahwa lingkungan atau ruangan dengan cahaya yang kurang terang menimbulkan jatuh pada lansia. Selain itu adaptasi gelap yang kurang oleh lansia menyebabkan lansia rentan mengalami jatuh atau risiko cedera : jatuh.
Risiko cedera : jatuh pada lansia di PSTW Yogyakarta sudah dirasakan bertahun-tahun. Responden mengatakan bahwa semenjak memiliki usia yang matang dan dikategorikan lansia, mereka mengalami berbagai perubahan. Diantaranya adalah perubahan dengan postur tubuh, gaya berjalan, keseimbangan, dan perubahan dalam pola aktivitas. Beberapa lansia juga pernah mengalami jatuh dan takut bila jatuh kembali saat beraktivitas seperti berjalan kaki. Diantaranya juga belum pernah jatuh namun menyadari bahwa postur tubuhnya sudah tidak seimbang lagi sehingga kesulitan untuk berjalan dan rasa takut jatuh yang menghantui.
Dari hasil observasi, selama ini penatalaksanaan untuk lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh dilakukan secara farmakologis, anjuran untuk senam setiap hari, anjuran istirahat, hingga bed rest total. Namun belum ada terapi lain secara non-farmakologis untuk mengurangi risiko cedera : jatuh pada lansia. Terapi Do-in Shiatu Massage dan Gym dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan terapi fisik secara mandiri untuk mengurangi risiko cedera : jatuh pada lansia. Pada terapi tersebut diajarkan gerakan-gerakan
untuk mencapai keseimbangan tubuh, mengurangi rasa sakit atau nyeri pada bagian tubuh, membantu relaksasi, dan mengajarkan lansia untuk mempertahankan ketahanan fisik selama beraktivitas sehingga kejadian jatuh ataupun perasaan takut jatuh pada lansia itu hilang.
Hasil observasi menunjukkan bahwa lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh tidak mengetahui penyebab dan akibatnya. Bagi lansia segala penyakit dan kelainan seperti risiko cedera : jatuh itu karena faktor usia saja atau mereka sering menyebutnya karena sudah tua, nenek-nenek, atau simbah-simbah. Faktor usia memang tidak bisa kita rubah dengan cara apapun. Namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, khususnya bidang kesehatan dan keperawatan terapi-terapi sering ditemukan, minimal untuk mengurangi dan tidak memperparah suatu penyakit atau kelainan yang dimiliki oleh lansia. Hal ini yang perlu dijelaskan kepada lansia untuk menambah pengetahuan bagi lansia tentang cara-cara untuk mengurangi dan menanggulangi faktor-faktor risiko terjadinya suatu penyakit atau kelaninan. Namun, dijelaskan juga kepada lansia apabila terapi-terapi tersebut tidak bisa menyembuhkan secara sempurna dan hanya bersifat mengurangi dan mencegah keparahan serta komplikasi.
Lansia dengan risiko cedera : jatuh dikatakan tidak memiliki risiko jatuh kembali apabila hasil kuesioner dan salah satu pemeriksaan fisik, seperti postural hipotensi, TUG Test, dan Functional Reach Test menunjukkan hasil yang negatif. Untuk gaya berjalan dan postur tubuh lansia yang terlihat memiliki risiko cedera : jatuh mungkin tidak bisa berubah karena berhubungan dengan fungsi organ tulang atau kerangka lansia. Namun diharapkan pada lansia bahwa walaupun postur tubuh dan gaya berjalan lansia tidaklah sempurna lagi, lansia tetap bisa beraktivitas seperti biasa tanpa
adanya ancaman untuk jatuh dan rasa takut jatuh, serta adanya ketergantungan pada alat dan orang lain untuk mencegah terjadinya jatuh. Hal ini bisa terwujud dengan berbagai upaya farmakologis maupun non- farmakologis. Salah satu upaya non-farmakologis yang akan diberikan pada lansia pada penelitian ini adalah terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym. 2. Risiko Cedera : Jatuh Setelah Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym
Berdasarkan hasil penelitian setelah dilakukan kembali pemeriksaan risiko cedera : jatuh pada kelompok kontrol dan eksperimen dengan kuesioner dan pemeriksaan fisik risiko cedera : jatuh menunjukkan adanya perubahan pada lansia dengan risiko cedera : jatuh di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. Terlihat pada kelompok kontrol bahwa seluruh responden tetap memiliki risiko cedera : jatuh atau jumlah penderita tetap yaitu 13 orang lansia (100%) tetap memiliki risiko cedera : jatuh. Sedangkan pada kelompok eksperimen sebanyak 12 orang (92,31%) mengalami perubahan dari yang sebelum dilakukan intervensi Do-in Shiatsu Massage dan Gym memiliki risiko cedera : jatuh, setelah dilakukan intervensi selama empat minggu tidak memiliki risiko cedera : jatuh lagi, namun menyisakan satu 1 orang (7,69%) lansia yang masih memiliki risiko cedera : jatuh.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa terdapat penurunan jumlah lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh pada kelompok eksperimen. Sehingga dapat dijelaskan bahwa terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym memiliki pengaruh terhadap kondisi lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh. Tidak hanya itu jumlah lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh juga menurun dibandingkan dengan jumlah lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh sebelum intervensi. Perubahan pada lansia yang memiliki risiko cedera : jatuh bisa dilihat dengan membandingkan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Terdapat perbedaan jumlah yang signifikan antara
kelompok kontrol dan eksperimen, dimana pada kelompok kontrol memiliki jumlah lansia dengan risiko cedera : jatuh yang tetap setelah intervensi pada kelompok eksperimen selama empat minggu. Dengan kata lain ada perbedaan jumlah lansia yang masih memiliki risiko cedera : jatuh antara kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi dan kelompok eksperimen yang diberikan intervensi atau perlakuan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym.
Dari hasil penelitian didapatkan pula tanggapan dari lansia yang diberikan intervensi. Responden mengatakan bahwa setelah berlatih dengan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym selama empat minggu berturut-turut mereka menjadi lebih senang beraktivitas dan tidak bermalas-malasan. Perasaan nyaman dengan otot-otot yang sudah tidak kaku lagi membuat mereka lebih rileks, nyaman, dan tidak takut melakukan aktivitas lagi seperti berjalan, menyapu lantai, menjemur pakaian dan lain-lain. Selain itu keseimbangan tubuh lansia dirasakan lebih baik sehingga jika berjalan risiko cedera : jatuh bisa diminimalisir. Kejadian jatuh pada lansia setelah diberikan intervensi Do-in Shiatsu Massage dan Gym selama 24 kali pertemuan dalam empat minggu tidak dilaporkan lagi. Lansia selalu bersemangat menanti waktu tiap adanya jadwal latihan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym. Bahkan lansia sudah bisa melakukan gerakan secara mandiri dengan bantuan buku panduan Do-in Shiatsu Massage dan Gym yang diberikan oleh peneliti.
Menurut Nugroho (2003), semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, yang pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial sedikit demi sedikit sampai tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi sehingga bagi kebanyakan orang, masa tua merupakan masa yang kurang menyenangkan. Dengan kata lain, kemunduran fisik bisa dikatan sebagai
masalah utama. Hal ini ditunjukkan dengan hukum 1% yang mengatakan bahwa seseorang yang sudah menginjak usia 40 tahun akan mengalami kemunduran fisik sebanyak 1% setiap tahunya. Kemunduran fisik sudah menjadi kodrat seseorang yang bertambah usia. Organ dan jaringan pada