PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional telah mewujudkan hasil yang positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang kesehatan sehinggga kualitas kesehatan penduduk serta usia harapan hidup juga meningkat. Akibatnya jumlah penduduk usia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat. Pada tahun 2005-2010 jumlah usia lanjut akan sama dengan anak balita, yaitu sekitar 19,3 juta jiwa atau 9% dari jumlah penduduk. Bahkan pada tahun 2020-2025 diperkirakan Indonesia akan menduduki peringkat negara dengan struktur dan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak setelah RRC, India dan Amerika Serikat, dengan usia harapan hidup di atas 70 tahun (Nugroho, 2008)
Menurut Mboi (2013) Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat Indonesi saat ini adalah 72 tahun sedangkan tahun 2011 rata-rata usia harapan hidup adalah 71 tahun. Hal ini menunjukkan peningkatan dan perbaikan kualitas kesehatan manusia di Indonesia. Usia harapan hidup yang tinggi menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang baik. Umur Harapan Hidup (UHH) manusia Indonesia semakin meningkat. Pada 2014 umur harapan hidup diharapkan naik menjadi 72 tahun dari 70,6 tahun pada 2010.
Indonesia salah satu negara berkembang yang mengalami peningkatan penduduk lanjut usia atau lansia. Jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas makin meningkat. Pada tahun 2020 diprediksi menjadi 28,7 juta atau 11,34 persen. Lansia dituntut mandiri dan sehat. Hal ini menandakan bahwa usia harapan hidup waktu lahir makin panjang, yaitu saat ini 67 tahun untuk laki-laki dan 71 tahun untuk
perempuan (Majalah Tempo, 25 Juni 2013).
Kebijakan Depkes (2013) mencantumkan kegiatan-kegiatan dalam pembinaan lansia meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Upaya promotif berupa kegiatan penyuluhan masyarakat usia lanjut sebagai penunjang program pembinaan kesehatan usia lanjut yaitu kesehatan dan pemeliharaan kebersihan diri serta deteksi dini penurunan kondisi kesehatanya, teratur dan berkesinambungan memeriksakan kesehatanya ke puskesmas atau instansi kesehatan lainya. Salah satu upaya preventif yaitu pemeriksaan kesehatan berkala dan teratur untuk menemukan secara dini penyakit-penyakit usia lanjut. Upaya kuratif yaitu upaya pengobatan pada usia lanjut, berupa kegiatan pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan spesifikasi melalui sistem rujukan. Sedangkan rehabilitatif dilakukan dengan memberikan informasi, pengetahuan dan pelayanan tentang penggunaan berbagai alat bantu misalnya alat pendengaran, alat bantu gerak dan lain-lain agar usia lanjut dapat memberikan karya dan tetap merasa berguna sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Fryer (2011) menyatakan bahwa perubahan normal yang berkaitan dengan proses penuaan tidak berubah dan selalu konstan pada semua individu yang mendekati “usia lanjut”. Persepsi bahwa lansia berisiko lebih tinggi terkait kemampuan mereka dalam mempertahankan derajat kesehatan, ada benar dan salahnya. Tingkat risiko lansia ditentukan oleh tingkat keberhasilan lansia menyesuaikan diri dengan kondisi hidup dan penuaan normal. Penuaan dan penyakit tidak identik dan dampak proses penuaan saja bukan penyebab utama ketunadayaan dan penyakit. Perubahan patologis yang terjadi bersamaan dengan perubahan normal penuaan sangat berdampak pada ketunadayaan klien lansia (Hart & Moore, 1992).
diabagi menjadi lima, yaitu perubahan fisik, perubahan kognitif, perubahan spiritual, perubahan psikososial dan perubahan fungsi dan potensi seksual. Perubahan fisik yang terjadi meliputi perubahan dalam sistem indra, sistem muskuloskeletal, sistem kardiovaskuler, respirasi, pencernaan dan metabolisme, sistem perkemihan, sistem saraf dan sistem reproduksi. Perubahan kognitif yang dialami lansia berupa menurunya memory atau daya ingat, IQ (Intellegent Quocient), kemampuan belajar (learning), kemampuan pemahaman (comprehension), pemecahan masalah (problem solving), pengambilan keputusan (Decission Makking), kebijaksanaan (wisdom), kinerja (performance) dan motivasi. Perubahan spiritual pada lansia ditandai dengan kepercayaan atau agama lansia makin berintegrasi dalam kehidupanya (Maslow, 1976; Stuart dan Sundeen, 1998). Lansia makin teratur dalam kehidupan keagaamaannya. Hal ini dapat dilihat dalam berfikir dan bertindak sehari-hari (Murray & Zentner, Dikutip Nugroho, 2000). Perubahan psikososial pada lansia meliputi penyesuaian lansia dengan masa pensiun, perubahan aspek kepribadian, perubahan dalam peran sosial di masyarakat dan perubahan minat. Sedangkan penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik, seperti gangguan jantung, gangguan metabolisme (missal diabetes mellitus), vaginistis dan setelah operasi prostatektomi. Faktor psikologis yang menyertai lansia berkaitan dengan seksualitas, antara lain seperti rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia (Kuntjoro, 2003)
(Ginting, 2011). Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipertensi sebanyak 10% dari seluruh jumlah lansia di dunia (WHO, 2010). Akibat kemunduran fisik dalam sistem pencernaan yaitu kejadian konstipasi atau sembelit yang menyerang 30-40 % lansia di Inggris (Siswono, 2003). Dalam hal ini risiko cedera : jatuh menempati urutan pertama masalah kemunduran fisik yang dialami oleh lansia. Risiko cedera : jatuh yang dialami oleh lansia diakibatkan oleh banyak faktor. Faktor tersebut adalah akibat dari kemunduran fisik beberapa sistem tubuh lansia seperti sistem muskuloskeletal, sistem saraf, sistem kardiovaskuler, maupun sistem pencernaan, dapat menjadi faktor risiko dan penyebab terjadinya risiko cedera : jatuh pada lansia. Dengan kata lain risiko cedera : jatuh pada lansia dapat dialami oleh semua lansia dengan satu atau lebih masalah pada sistem tubuh (Ginting, 2011).
Jatuh merupakan masalah kesehatan utama yang menandai kemunduran fisik dan psikologis pada lansia, yang menyebabkan cedera, hambatan mobilitas dan kematian. Walaupun sekitar 75% insiden jatuh tidak mengakibatkan cedera serius, risiko cedera akibat jatuh meningkat seiring usia, terutama pada individu yang berusia lebih dari 75 tahun (Sattin, 1992). Jatuh merupakan penyebab utama kematian akibat cedera, serta menduduki urutan keenam penyebab kematian pada lansia (Runge, 1993; Sattin, 1992).
medicine error (Komariah, 2012).
Data yang diperoleh dari WHO (2003) menunjukkan total biaya untuk kejadian jatuh di Amerika sebesar 0,2 Miliar US Dollar untuk kejadian jatuh yang fatal dan untuk kejadian jatuh non-fatal sebesar 19 miliar US Dollar. Rumah sakit mempunyai tingkat insidensi jatuh sekitar 1,4% per tahun. Departemen Neurologi, Rehabilitasi Medik dan Psikiatri mempunyai data tingkat kejadian jatuh yang paling tinggi yaitu berkisar antara 8,9%-17,1% kejadian jatuh tiap 1000 pasien. Fasilitas perawatan jangka panjang mempunyai tingkat insiden pertahun sekitar 1,6% kejadian jatuh perorang pertahun (Panduan Resiko Jatuh Rumah Sakit Advent Bandung, 2013).
Lansia memiliki ketakutan yang sangat realistis untuk mengalami jatuh. Hanya sekitar 5 sampai 6% jatuh terjadi dalam suatu cedera serius, tetapi konsekuensi dari jatuh mungkin lebih daripada sekedar cedera serius. Lansia yang telah mengalami jatuh dan perlu untuk ditangani di rumah sakit memiliki kemungkinan meninggal sebanyak 17 sampai 50%. Mengungkap fenomena yang terjadi mengapa lansia mudah terjatuh sehingga dapat menyebabkan berbagai komplikasi dari patah tulang sampai terjadinya kematian (Stanley, 2007).
pengobatan sebanyak 24 orang (57,1%).
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti bertempat di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur menunjukkan bahwa terdapat 88 lansia dipanti sosial tersebut. Menurut kepala bagian sosial panti semua lansia di panti tersebut pernah mengalami jatuh. Ditambahkan bahwa penanganan jatuh pada lansia dilaksanakan dengan upaya kuratif. Panti sosial bekerjasama dengan Puskesmas Sewon II Bantul untuk menyelenggarakan upaya kuratif. Petugas puskesmas datang setiap hari rabu untuk memeriksa kesehatan klien dan memberikan obat. Obat yang telah diberikan dititipkan kepada petugas kesehatan yang berada di panti sosial. Upaya kuratif yang diberikan kurang memberikan dampak yang positif. Terbukti dengan kejadian jatuh pada lansia masih tinggi terutama kejadian jatuh di kamar mandi atau saat berjalan menuju taman dan tempat lain di panti.
Keluarga dan masyarakat berperan penting dan bertanggung jawab terhadap keberadaan lansia disekitarnya. Lansia yang mengalami kemunduran fisik dan psikis terutama yang mengalami risiko cedera : jatuh dianggap sebagai manusia yang tidak berguna dan merepotkan. Hal ini ditandai dengan banyaknya penelantaran lansia oleh keluarga dan masyarakat. Padahal lansia adalah makhluk yang lemah dan memiliki keterbatasan. Hal ini disebutkan dalam surat Ar Rum ayat 54 yang berbunyi :
ننمم للعلجل مملثث ةةوملقث ففعنضل دمعنبل ننمم للعلجل مملثث ففعنضل ننمم منكثقلللخل يذململا هثلمللا
دمعنبل
افةعنضل ةفوملقث
قلنامثيلمعللناولهثولءثءاشليلاملقثلثخنيلةةةبلينشلول
Artinya :apa yang dikehendaki-Nya dan hanya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Permasalahan risiko cedera : jatuh pada lansia tidak lepas dari tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Seringkali masyarakat dengan usia dewasa disalahkan karena tidak menciptakan lingkungan yang aman bagi lansia. Sebagai contoh tidak adanya perawatan rumah dan alat-alat rumah tangga oleh anggota keluarga lansia yang menyebabkan rumah maupun alat-alat rumah tangga yang tidak terawat. Rumah dengan lantai yang kotor dan penuh debu, kursi kayu yang sudah rapuh, pintu yang sudah using dan keadaan kamar mandi yang kotor dengan banyaknya lumut di lantai kamar mandi. Hal-hal tersebut menjadi faktor risiko yang menyebabkan risiko cedera jatuh pada lansia. Keluarga dan masyarakat merasa bertanggung jawab dengan kesejahteraan lansia, salah satunya dengan mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Apabila jatuh terjadi pada lansia maka keluarga dan masyarakat bertanggung jawab untuk mengatasi masalah tersebut. Masyarakat merasa perlu untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi lansia. Jika tidak, maka kejadian jatuh pada lansia tidak teratasi, menimbulkan masalah-masalah kesehatan yang lebih berat dan perasaan sebagai manusia yang tidak bermoral dan apatis akan menghantui karena membiarkan seseorang yang telah tua dan renta merasakan penderitaan seorang diri tanpa adanya bantuan dari keluarga dan masyarakat yang lebih sehat dan mampu (Mass, 2011)
(SSI) untuk mempertahankan fleksibilitas lansia dapat mengurangi risiko cedera : jatuh pada lansia. Namun, hasil penelitian tersebut memberikan hasil yang kurang bermakna bagi fleksibilitas lansia dan mengurangi risiko cedera : jatuh pada lansia. Oleh sebab itu, diperlukan pelatihan fisik yang lebih baik untuk lansia yang mengalami risiko cedera : jatuh. Salah satu latihan fisik berupa terapi untuk mengurangi angka kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia adalah terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym.
Do-in Shiatsu Massage dan Gym membantu memperbaiki sistem gerak terutama pada lansia (Basith, 2010). Menurut Endang (2011) Do-in adalah kombinasi dari teknik-teknik berdasarkan shiatsu, yang disebut “fisioterapi kontak”. Teknik ini dapat merevitalisasi dan menghilangkan ketegangan fisik dan mental. Shiatsu dalam bahasa Jepang berarti “tekanan jari”. Menggunakan tekanan pada titik-titik akupresur secara ritmis dalam periode pendek. Teknik shiatsu ini adalah suatu perawatan yang bekerja pada meridian tubuh agar chi atau energy kehidupan kita dalam keadaan seimbang. Perawatan ini mengatur ketidakseimbangan pada chi yang dapat menimbulkan sakit. Shiatsu, melalui pijatan do-in dapat membenahi ketidakseimbangan internal, terutama yang dihasilkan oleh ketegangan dan stres yang sering kali menyebabkan risiko cedera : jatuh pada lansia. Mempraktekkan latihan-latihan berikut setiap pagi sebelum beraktifitas dapat membantu relaksasi sehingga memudahkan lansia untuk beraktifitas (Priantono, 2007).
sendiri oleh seseorang (Shinmon, 2012). Melaksanakan latihan peregangan titik meridian tubuh akan memberikan ide atau afermasi positif di dalam energi yang dimiliki seseorang, sehingga fungsi kesehatan akan lebih baik. Manfaat do-in adalah mengetahui energi yang dimiliki seseorang, sebagai cara pengobatan atau perawatan yang bisa dilakukan sendiri, dan untuk memberikan terapi lanjutan berupa shiatsu dengan baik (Kreitzer, Kliger, & Meeker 2009)
Menurut Visser (2013) Shiatsu adalah metode penyembuhan dimana tekanan jari berfungsi untuk mengendurkan otot-otot dan menurunkan stres. Dalam pijat shiatsu, jari menerapkan tekanan pada titik-titik akupunktur. Tekanan diterapkan pada 12 meridian tubuh untuk merangsang aliran energi. Pijat shiatsu berlangsung selama sekitar satu jam di mana praktisi dan lansia berfokus pada sistem saraf pusat dan otonom.
McDermott (2011) menyatakan bahwa manfaat dari shiatsu adalah sebagai terapi relaksasi dan penyembuhan. Beberapa penyakit pada lansia yang bisa diberikan terapi shiatsu adalah masalah dengan otot atau persendian, masalah dengan struktur tubuh seperti sakit punggung atau postur, relaksasi dan bantuan ketegangan atau stress, rendah energi atau kelelahan, masalah dengan tekanan pencernaan dan masalah pernapasan.
Penelitian yang membahas masalah risiko cedera : jatuh pada lansia sudah banyak diteliti. Diantaranya adalah penelitian tentang deskriptif proporsi dan faktor risiko kejadian jatuh pada lansia, hubungan usia dan risiko jatuh pada lansia, dan persepsi pasien stroke iskemik dengan pencegahan risiko jatuh pada lansia. Namun penelitian tentang pengaruh terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym terhadap risiko cedera : jatuh lansia belum pernah dilakukan. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti ingin mengetahui pengaruh terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym terhadap risiko cedera : jatuh pada lansia.
B. Rumusan Masalah
Manfaat dari terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym diantaranya adalah mengembalikan keseimbangan energy atau chi tubuh, meningkatkan keseimbangan antara penglihatan dan pendengaran, memperbaiki sistem tubuh yang terganggu dan memperbaiki fungsi sendi dan tulang pada lansia. Dari manfaat yang ada dapat dihubungkan dengan kondisi klien lansia dengan risiko cedera : jatuh karena ketidakseimbangan tubuh, penurunan fungsi visual dan audio, serta adanya fungsi tubuh yang menurun terutama fungsi musculoskeletal. Berdasarkan manfaat dari Do-in Shiatsu Massage dan Gym serta keadaan lansia dengan risiko cedera : jatuh maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut “Adakah Pengaruh Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym Terhadap Lansia dengan Risiko Cedera : Jatuh di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur ? ”
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
Mengetahui pengaruh terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym terhadap risiko cedera: jatuh pada lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui risiko cedera : jatuh pada lansia sebelum diberikan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur.
b. Mengetahui risiko cedera : jatuh pada lansia setelah diberikan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur.
c. Menganalisis perbedaan risiko cedera: jatuh pada lansia yang diberikan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym dengan yang tidak diberikan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan kesehatan terutama ilmu keperawatan dalam mengembangkan ilmu keperawatan mengenai terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym untuk mengatasi masalah risiko cedera : jatuh pada lansia.
2. Bagi Konsumen a. Bagi Lansia
lansia. Lansia dengan masalah risiko cedera : jatuh dapat melaksanakan terapi Do-In Shiatsu Massage dan Gym secara mandiri di rumah atau di panti saat waktu senggang.
b. Bagi Profesi Kesehatan di Panti Sosial
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bagian dari pemberian tindakan atau intervensi yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan panti sosial. Petugas kesehatan panti sosial dapat mengajarkan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym kepada lansia yang mengalami risiko cedera : jatuh.
c. Bagi Institusi Panti Sosial
Penelitian ini diharapkan memberikan pengaruh kepada kepala PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur untuk membentuk kebijakan diberikannya terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym untuk mengatasi masalah risiko cedera : jatuh bagi penghuni panti.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam memberikan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym pada lansia dengan risiko cedera : jatuh. Manfaat lain yaitu, menambah acuan baru bagi peneliti selanjutnya yang akan mengangkat masalah risiko cedera : jatuh pada lansia.
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Lingkup Materi
gerontik atau lanjut usia khususnya mengenai pengaruh terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym terhadap risiko cedera : jatuh pada lansia. Risiko cedera : jatuh banyak terjadi pada lanjut usia karena regresi dari berbagai sistem tubuh maupun patologi. Dalam teori keperawatan gerontik menunjukkan bahwa risiko cedera : jatuh terjadi pada lansia dan merupakan masalah yang perlu penanganan khusus dalam keperawatan gerontik. Maka dari itu lingkup materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah lingkup materi keperawatan gerontik.
2. Lingkup Responden
Lingkup responden adalah lansia dengan masalah risiko cedera : jatuh di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di panti sosial tersebut terdapat 88 lansia dan hampir semuanya pernah mengalami jatuh. Oleh karena itu lingkup responden penelitian ini diambil lansia yang tinggal di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur
3. Lingkup Waktu
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September 2013 sampai Maret 2014 yaitu dimulai dari penyusunan proposal sampai laporan hasil penelitian.
4. Lingkup Tempat
Penelitian dilaksanakan di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur karena terdapat 88 lansia yang hampir semuanya pernah mengalami jatuh. Oleh karena itu untuk memperlancar proses penelitian dengan responden yang tidak sulit dicari maka lingkup tempat pada penelitian ini adalah di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur.
F. Keaslian Penelitian
: jatuh pada lansia yang pernah dilakukan yaitu :
kejadian jatuh pada lansia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan terletak pada variabel bebas, jenis dan desain penelitian yang dilakukan, metode penelitian, responden, serta waktu dan tempat penelitian.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Harsoyo (2012) yang berjudul Hubungan Antara Usia dan Risiko Jatuh Pada Lansia Di Posyandu Lansia RW 09 Kalirejo Wilayah Kerja Puskesmas Lawang. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko jatuh pada lansia yang terdaftar di posyandu lansia RW 09 Kalirejo-Lawang. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif survei dengan 30 orang responden dari kelompok umur lanjut usia (elderly) sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini yaitu simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan cara memberikan tes perintah keseimbangan dan gaya berjalan pada responden sesuai dengan instrumen tinetti ballance dan tinetti gait serta usia lansia. Hasil penelitian menunjukkan 22 orang responden (73%) lansia yang terdaftar di posyandu lansia RW 09 Kalirejo-Lawang dapat dikategorikan sebagai risiko jatuh rendah ditunjukkan dengan tes keseimbangan dan gaya berjalan dengan menggunakan alat ukur tinetti ballance dan tinetti gait memperoleh skor 24. Analisa pearson dengan signifikansi 95% diperoleh p-value 0,00, yang berarti ada hubungan yang signifikan antara tingkat usia dengan resiko jatuh pada lansia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang peneliti lakukan terletak pada jenis dan desain penelitian, variabel bebas yang digunakan, dan instrumen penelitian, serta waktu dan tempat penelitian.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Lanjut Usia
a. Pengertian dan Pengelompokan Lanjut Usia
Lansia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir. Dimasa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap (Azizah, 2011).
Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada bab I pasal 1 ayat 2, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. Stanley dan Beare (2007), mendefinisikan lansia berdasarkan karakteristik sosial masyarakat yang menganggap bahwa orang telah tua jika menunjukkan ciri fisik seperti rambut beruban, kerutan kulit dan hilangnya gigi. Dalam peran masyarakat tidak bisa lagi melaksanakan fungsi peran orang dewasa, seperti pria yang tidak lagi
terikat dalam kegiatan ekonomi produktif dan untuk wanita tidak dapat memenuhi tugas rumah tangga. Kriteria simbolik seseorang dianggap tua ketika cucu pertamanya lahir. Dalam masyarakat kepulauan Pasifik, seseorang dianggap tua ketika ia berfungsi sebagai kepala dari garis keturunan keluarganya.
WHO (1999) menggolongkan lanjut usia berdasarkan usia kronologis atau biologis menjadi 4 kelompok yaitu usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) berusia antara 60 dan 74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Sedangkan Nugroho (2003) menyimpulkan pembagian umur berdasarkan pendapat beberapa ahli, bahwa yang disebut lanjut usia adalah orang yang telah berumur 65 tahun keatas.
Maryam (2008) mendefinisikan lansia menjadi lima klasifikasi, yaitu :
1) Pralansia (prasenelis), adalah seseorang yang berusia 45-59 tahun. 2) Lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
3) Lansia resiko tinggi, adalah seorang lansia yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003).
4) Lansia potensial, yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa (Depkes RI, 2003).
b. Karakteristik Lansia
Beberapa karakteristik lansia yang perlu diketahui untuk mengetahui keberadaan masalah kesehatan lansia adalah:
1) Jenis kelamin
Jumlah lansia lebih didominasi oleh kaum perempuan. Selain itu, terdapat perbedaan kebutuhan dan masalah kesehatan yang dihadapi antara lansia laki-laki dan perempuan. Misalnya, lansia laki-laki banyak menderita hipertropi prostat, sementara lansia perempuan menderita osteoporosis.
2) Status Perkawinan
Status masih berpasangan lengkap atau sudah hidup sendiri (duda atau janda) sangat mempengaruhi kondisi kesehatan fisik kebanyakan lansia masih hidup sebagai bagian dari keluarganya, baik lansia sebagai kepala keluarga atau bagian dari keluarga anaknya. Namun, akan cenderung bahwa lansia akan ditinggalkan oleh keturunanya dalam rumah yang berbeda.
4) Kondisi Kesehatan
a) Kondisi umum, yaitu kemampuan umum untuk tidak tergantung kepada orang lain dalam kegiatan sehari-hari, seperti mandi, buang air kecil dan besar.
b) Frekuensi sakit, yaitu frekuensi sakit yang tinggi menyebabkan menjadi tidak produktif lagi mulai tergantung kepada orang lain, bahkan ada yang karena penyakit kroniknya sudah memerlukan perawatan khusus.
5) Keadaan Ekonomi
b) Sumber pendapatan keluarga c) Kemampuan pendapatan c. Masalah Kesehatan Lansia
Banyak perubahan yang dikaitkan dengan proses menua merupakan akibat dari kehilangan yang bersifat bertahap (gradual loss). Berdasarkan perbandingan yang diamati secara potong lintang antar kelompok usia yang berbeda, sebagian besar organ tampaknya mengalami kehilangan fungsi sekitar 1% per tahun, dimulai pada usia sekitar 40 tahun. Namun demikian, data lain menyatakan perubahan pada orang lanjut usia yang diikuti cecara longitudinal kurang dramatis dan baru mulai pada usia 70 tahun (Setiadi, 2006)
Menurut Arisman (2004) kekuatan, ketahanan dan kelenturan otot rangka berkurang. Akibatnya, kepala dan leher terfleksi ke depan, sementara ruas tulang belakang mengalami pembengkakan (kifosis), panggul dan lutut juga terfleksi sedikit. Keadaan tersebut menyebabkan postur tubuh terganggu sehingga menimbulkan beberapa masalah kemunduran dan kelemahan pada lansia, seperti :
a) Pergerakan dan kestabilan terganggu dan terjadinya risiko cedera : jatuh
h) Kemunduran penglihatan, pendengaran, pengecapan, pembauan, komunikasi dan integrasi kulit
i) Kemunduran proses penyembuhan penyakit yang diderita 2. Risiko Cedera : Jatuh
Risiko cedera : jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring atau terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Darmojo, 1999). Kane (1994) menyatakan bahwa di Amerika Serikat, lanjut usia yang mengalami patah tulang paha (fractura columna femoris) dan 5% mengalami perlukaan jaringan lunak. Perlukaan jaringan lunak yang sering, yaitu subdural haematoma, memar dan keseleo otot. Dinyatakan pula 5% lanjut usia yang jatuh akan mengalami patah tulang iga (sterm), humerus (tulang lengan) dan pelvis.
Risiko cedera: jatuh atau sering disebut jatuh adalah suatu kejadian yang menyebabkan subjek yang sadar menjadi berada di permukaan tanah tanpa disengaja. Tidak termasuk jatuh apabila kejadian jatuh diakibatkan pukulan keras, kehilangan kesadaran atau kejang. Kejadian jatuh tersebut adalah dari penyebab yang spesifik yang jenis dan konsekuensinya berbeda dari mereka yang dalam keadaan sadar mengalami jatuh (Stanley, 2006).
sekitar 50% lansia yang tinggal di institusi mengalami jatuh dan banyak dari orang-orang ini mengalami jatuh beberapa kali (Miller, 2007). b. Manifestasi Klinis Risiko Cedera : Jatuh
Risiko cedera : jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera dan kerusakan fisik dan psikologis. Konsekuensi yang paling ditakuti dari kejadian jatuh adalah patah tulang panggul. Jenis fraktur lain yang terjadi akibat jatuh adalah fraktur pergelangan tangan, lengan atas, dan pelvis. Osteoporosis, yang lebih umum terjadi pada wanita, merupakan faktor penting yang turut berperan terhadap insidensi jatuh yang lebih tinggi diantara kaum wanita yang berusia di bawah 75 tahun (Miller, 2007).
Manifestasi psikososial dari jatuh dapat memiliki banyak dampak pada lansia sama halnya seperti dampak akibat cedera fisik, jika tidak lebih berat. Walaupun cedera fisik tidak terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat memiliki banyak konsekuensi, termasuk ansietas, hilangnya percaya diri, menarik diri dari kegiatan sosial, pembatasan dalam aktivitas sehari-hari, sindroma setelah jatuh (“menggenggam dan mencekram”), “falafobia” (fobia jatuh), hilangnya kemandirian dan pengendalian, depresi, perasaan rentan dan rapuh dan perhatian tentang kematian dan keadaan menjelang ajal, menjadi beban keluarga dan teman-teman, atau memerlukan institusionalisasi.
dengan penuaan. Jatuh dan rasa takut jatuh dapat memperberat isu ini dan memaksa lansia dan keluarganya untuk dapat mengatasinya. Institusionalisasi sering dipertimbangkan setelah kejadian jatuh. Satu kejadian jatuh dapat memicu seluruh susunan kekuatan yang akan mempengaruhi kualitas kehidupan lansia. Intervensi ini harus berada dalam proporsi bagi kebutuhan nyata dan kemampuan lansia dan bukan merupakan suatu respon terhadap ketakutan lansia atau ketakutan keluarga dan pemberi perawatanya.
c. Faktor Risiko Risiko Cedera : Jatuh
1) Faktor Instrinsik (faktor dari dalam tubuh lansia sendiri)
Faktor instrinsik adalah variabel-variabel yang menentukan mengapa seseorang dapat jatuh pada waktu tertentu dan orang lain dalam kondisi yang sama mungkin tidak jatuh (Stanley, 2006). Faktor instrinsik tersebut antara lain adalah gangguan musculoskeletal misalnya menyebabkan gangguan gaya berjalan, kelemahan ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope yaitu kehilangan kesadaran secara tiba-tiba yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke otak dengan gejala lemah, penglihatan gelap, keringat dingin, pucat dan pusing (Lumbatobing, 2004). Adapun faktor instrinsik lain adalah sebagai berikut :
a) Gangguan jantung dan sirkulasi darah
b) Gangguan sistem anggota gerak, misalnya kelemahan otot ekstremitas bawah dan kekakuan sendi
d) Gangguan penglihatan
e) Gangguan psikologis
f) Infeksi telinga
g) Gangguan adaptasi gelap
h) Pengaruh obat-obatan yang dipakai, misal : diazepam, antidepresi, dan antihipertensi
i) Vertigo
j) Infeksi telinga
k) Artritis lutut
l) Sinkope dan pusing
m) Penyakit-penyakit sistemik
2) Faktor Ekstrinsik (Faktor dari luar atau lingkungan)
Faktor ekstrinsik merupakan faktor dari luar (lingkungan sekitarnya). Faktor-faktor ekstrinsik tersebut antara lain lingkungan yang tidak mendukung meliputi cahaya ruangan yang kurang terang, lantai yang licin, tempat berpegangan yang tidak kuat, tidak stabil, atau tergeletak di bawah, tempat tidur atau WC yang rendah atau jongkok, obat-obatan yang diminum dan alat bantu berjalan (Darmojo, 2004). Adapun faktor ekstrinsik lain yaitu :
a) Cahaya ruangan yang kurang terang
c) Tersandung benda-benda
d) Alas kaki kurang pas
e) Tali sepatu
f) Kursi roda yang tak terkunci
g) Turun tangga
d. Akibat Risiko Cedera : Jatuh
Risiko cedera : jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik dan psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari kejadian jatuh adalah patah tulang panggul. Jenis fraktur lain yang sering terjadi akibat jatuh adalah fraktur pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis serta kerusakan jaringan lunak. Dampak psikologis adalah walaupun cedera fisik tidak terjadi, syok setelah jatuh dan rasa takut akan jatuh lagi dapat memiliki banyak konsekuensi termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri, pembatasan dalam aktivitas sehari-hari, falafobia atau fobia jatuh (Stanley, 2006).
e. Komplikasi Risiko Cedera : Jatuh
Darmojo (2004) menyatakan bahwa komplikasi dari risiko cedera : jatuh adalah sebagai berikut :
1) Perlukaan (injury)
robeknya arteri atau vena, patah tulang atau fraktur misalnya fraktur pelvis, femur, humerus, lengan bawah, dan tungkai atas.
2) Disabilitas
Disabilitas mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik dan penurunan mobilitas akibat jatuh yaitu kehilangan kepercayaan diri dan pembatasan gerak. 3) Kematian
f. Pencegahan Risiko Cedera : Jatuh
Hal ini merupakan usaha yang bisa dilaksanakan oleh perawat atau petugas kesehatan lain. Pencegahan risiko cedera : jatuh menjadi tanggung jawab perawat yang memiliki keilmuan bidang risiko cedera : jatuh dan pencegahanya. Untuk itu pencegahan risiko cedera : jatuh wajib dilakukan seperti perintah Allah SWT yang tertera pada surat Al Hajj (23) ayat 78 tentang kewajiban mengaplikasikan ilmu pengetahuan untuk kebajukan, keslahatan umat, dan mengatasi masalah. Ayat tersebut berbunyi :
Artinya :
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaan untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah kepada Allah.Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Menurut Darmojo (2004) tiga usaha pokok untuk mencegah risiko cedera : jatuh pada lansia adalah :
1) Identifikasi faktor risiko
Pada setiap lanjut usia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor instrinsik risiko cedera : jatuh. Perlu dilakukan assessment keadaan sensorik, musculoskeletal dan penyakit sistemik yang sering menyebabkan jatuh.
aktivitas lanjut usia. Kamar mandi tidak dibuat licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka, dan WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding. 2) Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan (gait)
Setiap lanjut usia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat dan pindah posisi. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medis. Penilaian gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat, apakah kakinya menapak dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Seluruh hal tersebut harus dikoreksi bila terdapat kelainan atau penurunan.
3) Mengatur dan mengatasi faktor situasional.
g. Penatalaksanaan Risiko Cedera : Jatuh
Penatalaksanaan resiko cedera : jatuh bersifat individual, artinya berbeda untuk tiap kasus karena perbedaan faktor-faktor yang bekerjasama mengakibatkan jatuh. Apabila penyebab merupakan penyakit akut yang penanganya menjadi lebih mudah, lebih sederhana dan langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh secara efektif. Tetapi lebih banyak pasien jatuh karena kondisi kronik, multifaktori sehingga diperlukan terapi gabungan antara obat, rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan perbaikan kebiasaan lanjut usia tersebut. Pada kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan, misalnya pembatasan bepergian atau aktivitas fisik, dan penggunaan alat bantu gerak.
Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstremitas bawah dan penurunan fungsional terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot sehingga memperbaiki fungsionalnya. Sering terjadi kesalahan, tetapi rehabilitasi hanya diberikan sesaat sewaktu penderita mengalami jatuh. Padahal terapi ini diperlukan terus-menerus sampai terjadi peningkatan kekuatan otot dan status fungsional.
Penderita dengan dicciness syndrome, terapi ditunjukkan pada penyakit kardiovaskuler yang mendasari, menghentikan obat-obatan yang menyebabkan hipotensi postural seperti beta bloker, diuretic, dan antidepresan. Terapi yang tidak boleh dilupakan adalah memperbaiki lingkungan rumah atau tempat tinggal atau kegiatan lanjut usia seperti tersebut di pencegahan jatuh (Darmojo, 2004).
Kegiatan lain yang bisa dilaksanakan oleh lansia untuk mengatasi resiko cedera jatuh adalah latihan fisik. Latihan fisik diharapkan mengurangi resiko cedera jatuh dengan meningkatkan kekuatan tungkai dan tangan, memperbaiki keseimbangan, koordinasi, dan meningkatkan reaksi terhadap bahaya lingkungan. Latihan fisik dapat mengurangi kebutuhan obat-obatan sedative. Latihan yang dianjurkan adalah latihan fisik yang melatih kekuatan tungkai, tidak terlalu berat, dan sesuai dengan kemampuan lansia. Latihan fisik yang bisa dilakukan oleh lansia antara lain berjalan kaki, senam lansia, senam aerobic low impact, senam sehat Indonesia (SSI), dan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym.
3. Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym
a. Pengertian Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym
periode pendek. Teknik shiatsu ini adalah suatu perawatan yang bekerja pada meridian tubuh agar chi atau energy kehidupan kita dalam keadaan seimbang. Perawatan ini mengatur ketidakseimbangan pada chi yang dapat menimbulkan sakit. Shiatsu, melalui pijatan do-in dapat membenahi ketidakseimbangan internal, terutama yang dihasilkan oleh ketegangan dan stres yang sering kali menyebabkan risiko cedera : jatuh pada lansia. Mempraktekkan latihan-latihan berikut setiap pagi sebelum beraktifitas dapat membantu relaksasi sehingga memudahkan lansia untuk beraktifitas (Priantono, 2007).
Scanlon (2000) menyatakan bahwa Do-in dan shiatsu memiliki pengertian dan gerakan yang berbeda. Namun do-in dan shiatsu dapat digabungkan dan dilaksanakan secara bersamaan dalam satu waktu untuk menghasilkan manfaat bagi lansia terutama yang mengalami risiko cedera : jatuh. Do-in adalah kombinasi dari latihan peregangan meridian tubuh, latihan pernafasan, dan pijatan yang dilakukan sendiri oleh seseorang (Shinmon, 2012). Melaksanakan latihan peregangan titik meridian tubuh akan memberikan ide atau afermasi positif di dalam energi yang dimiliki seseorang, sehingga fungsi kesehatan akan lebih baik. Manfaat do-in adalah mengetahui energi yang dimiliki seseorang, sebagai cara pengobatan atau perawatan yang bisa dilakukan sendiri, dan untuk memberikan terapi lanjutan berupa shiatsu dengan baik (Kreitzer, Kliger, & Meeker 2009).
b. Manfaat Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym
2) Merangsang aliran chi atau energi dengan menghilangkan penyumbatan chi atau energi dalam tubuh lansia.
3) Memperbaiki sistem musculoskeletal yang mengalami kemunduran.
4) Memperbaiki sistem saraf pusat dan otonom.
5) Melatih keseimbangan dan fleksibilitas lansia.
6) Memperbaiki struktur dan postur tubuh yang tidak normal.
7) Relaksasi untuk mengurangi stress.
8) Mengatasi masalah kurang energi atau kelelahan, memperbaiki sistem pencernaan.
9) Mengurangi kejadian resiko cedera : jatuh pada lansia.
c. Langkah-Langkah Melaksanakan
1) Tahap persiapan dan memulai
a) Dengan lembut tepuklah tubuh, tepuk lengan, tangan, kaki, dan telapak kaki.
b) Buka kaki dan biarkan lutut rileks.
c) Luruskan punggung dan biarkan lutut rileks.
2) Kepala dan Wajah
a) Dengan kedua tangan membentuk genggaman longgar, rilekskan pergelangan tangan dan pukul dengan lembut puncak kepala Anda.
b) Selanjutnya, teruskan memukul kepala Anda pukul secara lembut dengan tangan terbuka, menggunakan ujung jemari atau telapak tangan. Lakukan di seluruh kepala, termasuk pelipis, dahi, dan leher.
c) Untuk menstimulasi meridian yang melewati kepala, sisirkan jari jari Anda pada rambut beberapa kali.
d) Lanjutkan pada dahi, dengan menekan ujung jemari pada dahi, bergerak dari tengah-tengah dahi hingga pelipis. Ulangi tiga kali.
e) Dengan pelan-pelan dan berulang pijatlah pelipis Anda. Pastikan alis mata dan bahu Anda dalam keadaan rileks.
f) Kini pijatlah pipi Anda dengan bergerak dari pelipis ke rahang.
g) Tekan rahang, dari tengah ke samping, agar glandula liur menjadi rileks dan terstimulasi.
h) Dengan menggunakan telunjuk dan ibu jari kedua tangan, tekan kedua alis dari tengah bergerak ke arah luar. Ulangi beberapa kali.
Gambar 2.1 Tata Cara Do-In Shiatsu Massage dan Gym Bagian Kepala dan Wajah
3) Leher
a) Letakkan telapak tangan pada leher dan lakukan pemijatan dengan mantap dan menggunakan gerakan memutar.
b) Dengan kedua ibu jari, tekan dasar kepala. Gerakkan tekanan ini ke arah atas.
Gambar 2.2 Tata Cara Do-In Shiatsu Massage dan Gym Bagian Kepala dan Leher
4) Bahu, Lengan, dan Tangan
a) Pertama-tama, gerak-gerakkan lengan ke arah luar agar rileks. Selanjutnya, angkat bahu, sambil menarik napas. Saat membuang napas, turunkan kedua bahu untuk mengistirahatkanya. Ulangi tiga kali.
b) Topang siku kiri dengan tangan kanan. Dengan tangan kiri, pukullah bahu kanan dengan lembut menggunakan tangan yang terkepal longgar.
c) Dengan jari tengah tekan titik tertinggi pada bahu. Peringatan, pijatan mandiri ini tidak disarankan untuk dilakukan saat sedang mengandung.
masing-masing lengan, bergerak dari bahu hingga ke telapak tangan. Ulangi secara bergantian pada kedua tangan.
e) Balikkan tangan kemudian pukullah lengan bagian luar, bergerak dari tangan ke bahu.
f) Dengan menggunakan ibu jari, pijatlah telapak tangan kanan (biasanya ketegangan terkumpul pada titik ini).
g) Pada masing-masing tangan tekanlah titik diantara telunjuk dan ibu jari. Hal ini dapat menimbulkan rasa sehat secara umum dan melawan stres dan diare. Peringatan : pijatan ini tidak disarankan bagi wanita yang sedang, mengandung.
h) Dengan jari telunjuk dan ibu jari, tekan dan pijat dengan lembut persendian pada tiap-tiap jari.
Gambar 2.3 Tata Cara Do-In Shiatsu Massage dan Gym Bagian Bahu, Lengan, dan Tangan
5) Dada, Perut, dan Punggung
a) Luruskan punggung dan busungkan dada. Pukul dada dengan lembut, dada dan seputar payudara atau otot dada serta di sepanjang iga.
b) Setelah menarik napas panjang, ulangi latihan berikut sembari mengeluarkan suara “a” saat membuang napas.
d) Letakkan satu tangan pada tangan yang lain dan pijatlah perut dengan lembut.
e) Letakkan kedua tangan pada punggung, di bawah rongga dada, di mana ginjal berada. Gososk beberapa kali hingga Anda merasakan panas mengalir dari tangan ke tubuh. Berikutnya, pukul-pukul dengan ringan menggunakan tangan yang terkepal longgar.
Gambar 2.4 Tata Cara Do-In Shiatsu Massage dan Gym Bgaian Dada, Perut, dan Punggung
6) Kaki
a) Dengan kepala longgar, lakukan pukulan-pukulan ringan di sepanjang bagian belakang kaki dari pinggul sampai betis.
b) Buka kaki, tekuk lutut dan tepuk dengan ringan bagian depan kaki, dari paha sampai pergelangan kaki.
Gambar 2.5 Tata Cara Do-In Shiatsu Massage dan Gym Bagian Kaki
7) Telapak Kaki
a) Dalam posisi duduk di lantai, pegang telapak kaki kiri dengan kedua tangan dan gerakkan telapak kaki dengan gerakan memutar untuk melenturkan persendian.
b) Selanjtnya dengan menggunakan ibu jari, pijatlah bagian telapak kaki. Tekanlah titik yang terletak sepertiga dari jarak pangkal jari telunjuk kaki dan ujung tungkai kaki.
c) Tekan pada titik diantara ibu jari kaki dan jari telunjuk pada punggung kaki.
8) Tahap Senam Di Lantai
a) Posisikan tubuh anda dalam posis duduk bersila. Posisikan telapak kaki kanan dan kiri bersentuhan. Tarik punggung hingga lurus kemudian tarik nafas dalam lewat hidung hembuskan lewat mulut. Lakukan sebanyak delapan kali.
b) Masih dalam posisi duduk bersila, letakkan tangan kanan dan kiri bersilangan. Bungkukkan punggung hingga kepala menyentuh persilangan tangan kanan dan kiri.
c) Berdiri tegak dengan kaki dibuka. Lalu posisikan tubuh bagian atas dalam posisi horizontal seperti posisi rukuk atau posisi tegak lurus, dengan kedua tangan diangkat lurus keatas.
d) Tetap dalam posisi tegak lurus, letakkan tangan kebawah sampai menyentuh jari-jari kaki.
Gambar 2.7 Tata Cara Do-In Shiatsu Massage dan Gym Bagian Senam di Lantai
9) Tahap menggunakan alat (kursi)
a) Persiapkan satu kursi bagi satu orang lansia.
b) Posisikan lansia duduk, lakukan gerakan mengangkat kaki atau seperti mengayuh sepeda dalam posisi duduk.
c) Tetap dalam posis duduk, lakukan gerak meluruskan kaki atau ekstensi kaki secara bergantian kanan lalu kiri.
d) Gerakan berdiri, lansia berada di belakang kursi, berdiri menyamping di belakang kusri dengan salah satu tangan memegang kursi. Gerakkan kaki ke samping secara bergantian.
f) Kedua tangan masih dalam posisi memegang kursi. Lakukan gerakan menekuk kedua lutut sampai posisi tubuh hampir sejajar dengan kursi.
B. Kerangka Pikir
Per
Pengkajian Keperawatan
1. Kebiasaan pola pergerakan atau mobilitas.
Gambar 2.8 Alur Pikir Mobility and Safety dari Miller (2009).
Untuk mengetahui kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia diperlukan pengakajian dari berbagai hal. Hal-hal yang perlu diketahui adalah kebiasaan cara berjalan, kejadian jatuh yang pernah dialami, risiko kelainan sistem musculoskeletal, perilaku kesehatan lansia, dan lingkungan. Mengetahui faktor-faktor risiko lansia yang mengalami risiko cedera : jatuh dapat menelusuri hal-hal yang mendukung faktor tersebut, antara lain perubahan karena faktor usia dan konsekuensi negatif perubahan fungsional pada lansia. Oleh karena itu perawat dapat memberikan intervensi keperawatan untuk mengendalikan angka kejadian jatuh pada lansia. Alhasil, lansia dapat memperoleh kesehatanya kembali, menjadi pribadi yang mandiri, bermanfaat, dan sejahtera.
Intervensi Keperawatan
1. Mengajarkan latihan fisik. 2. Mengajarkan pencegahan jatuh.
3. Melakukan hal yang mencegah cedera karena jatuh. 4. Mengurangi rasa takut jatuh.
Tujuan
1. Pergerakan aman.
Keterangan :
: Variabel yang diteliti.
: Variabel yang tidak diteliti.
Gambar 2.9. Kerangka Konsep
Risiko cedera : jatuh disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor instrinsik dan ekstrinsik. Faktor instrinsik berasal dari dalam diri lansia itu sendiri seperti gangguan pada sistem tubuh seperti sistem muskuloskeletal dan saraf, serta masalah psikososial seperti cemas dan depresi. Sedangkan faktor ekstrinsik berasal lingkungan yang tidak aman. Penatalaksanaan menangani masalah risiko cedera : jatuh bisa dilakukan dengan latihan fisik. Latihan fisik yang bisa dilaksanakan seperti senam lansia, senam aerobic low impact, senam sehat Indonesia (SSI), dan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym. Hasil yang diharapkan setelah melakukan latihan fisik terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym adalah menurunkan angka kejadian resiko cedera : jatuh pada lansia, karena meningkatkan keseimbangan dan fleksibilitas pada lansia.
D. Hipotesis
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Desain penelitian adalah penelitian eksperimen semu atau Quasi Eksperiment. Sedangkan rancangan penelitian eksperimen semu yang digunakan adalah Rancangan Eksperimen Ulang Non-random atau Non Randomized Pretest-Postest With Control Group Design. Rancangan ini berupaya untuk menghubungkan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimen. Pada rancangan ini pembagian subyek dalam kelompok tidak dilakukan secara acak, sehingga pengendalian terhadap variabel pengganggu sangat lemah (Saryono, 2008)
Desain Penelitian Eksperimen Semu dalam penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Do-in Shiatsu Massage dan Gym Terhadap Risiko Cedera : Jatuh Pada Lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur dengan rancangan Eksperimen Ulang Non-random atau Non Randomized Pretest-Postest With Control Group Design. Terdapat dua kelompok yang dilakukan pre-test dan post-test. Kelompok pertama disebut dengan kelompok kontrol, karena tidak diberi perlakuan atau eksperimen. Kelompok kedua disebut dengan kelompok eksperimen karena kelompok tersebut diberi perlakuan atau eksperimen (Nasir, 2011).
Desainya secara skematis dapat dilukiskan sebagai berikut :
Subjek Pre Eks Post
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
49
O1 X O2
Keterangan :
1. Kelompok Eksperimen : Subjek kelompok eksperimen.
2. Kelompok Kontrol : Subjek kelompok kontrol.
3. O1 : Kejadian risiko cedera : jatuh sebelum dilakukan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym.
4. O1’ : Kejadian risiko cedera : jatuh tidak dilakukan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym.
5. O2 :Kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia sesudah diberikan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym (kelompok eksperimen) minggu ke-4.
6. O2’ : Kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia tanpa diberikan terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym (kelompok kontrol) minggu ke-4.
7. X : Eksperimen (Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym).
B. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas (Independent Variable) yaitu terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym.
2. Variabel Terikat (Dependent Variable) yaitu kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur.
3. Variabel Pengganggu :
a. Usia dari lanjut usia dikendalikan dengan mengambil lansia yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih.
b. Penyakit fisik dan psikis
Dikendalikan dengan tidak mengambil lansia sebagai responden yang mengalami gangguan atau penyakit fisik dan psikis. Penyakit fisik yang diderita oleh lansia antara lain gangguan muskuloskeletal seperti fraktur, infeksi saluran pernafasan, pasca operasi, gangguan penglihatan, dan gangguan pendengaran. Gangguan psikis antara lain depresi, skizofrenia, dan lain-lain.
c. Gaya hidup
Dikendalikan karena memilih responden lansia yang berada di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur yang memiliki aktivitas yang sama dengan mengikuti jadwal kegiatan yang sedang berlaku.
d. Lingkungan
Dikendalikan dengan mengambil lansia yang berada dan tinggal di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur
e. Asupan makanan dan minuman
f. Farmakoterapi
Dikendalikan dengan memilih responden lansia yang tidak mengonsumsi obat tertentu untuk mengatasi masalah risiko cedera : jatuh. Serta mengendalikan lansia yang mengkonsumsi obat tertentu dengan efek samping berputar sampai terjatuh.
C. Hubungan Antar Variabel
Variabel Bebas Variabel Terikat
Variabel Pengganggu
Gambar 3.1 Hubungan Antar Variabel Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel pengganggu
Variabel bebas yaitu terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym sebagai perlakuan atau intervensi kepada variabel terikat yaitu kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia.
Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym
Kejadian Resiko Cedera : Jatuh Pada Lansia
1. Usia
2. Penyakit fisik dan psikis.
3. Gaya hidup.
4. Lingkungan.
Dalam melaksanakan eksperimen variabel pengganggu dikendalikan, supaya hasil penelitian menjadi valid dan reliabel.
D. Definisi Operasional
akan digunakan yaitu pemeriksaan postural hipotensi, pemeriksaan Functional Reach Test, dan pemeriksaan The Timed Up Go (TUG) Test. Dari keempat cara pemeriksaan risiko cedera : jatuh pada lansia tersebut, apabila salah satu dari keempat pemeriksaan risiko cedera : jatuh hasilnya positif maka lansia tersebut sudah diketagorikan risiko cedera : jatuh. Dari hasil ukur yang akan dicapai dari kuesioner dan pemeriksaan fisik maka skala yang digunakan adalah skala interval.
Do-in Shiatsu Massage dan Gym dapat diberikan pada lansia dengan risiko cedera : jatuh.
E. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2009), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya. Populasi pada penelitian ini adalah lansia yang mengalami risiko cedera : jatuh atau pernah mengalami jatuh di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur sebanyak 30 lansia.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang diteliti jumlahnya dan mempunyai kriteria inklusi dan kriteria eksklusi (Hidayat, 2007). Teknik pengambilan yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan tidak berdasarkan strata, kelompok, atau acak, tetapi berdasarkan pertimbangan atau tujuan tertentu. Cara ini lebih baik dibanding dengan teknik non random yang lain karena dilakukan berdasarkan pertimbangan dari pengalaman berbagai pihak (Saryono, 2011).
Do-in Shiatsu Massage dan Gym. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan adanya suatu pertimbangan tertentu dengan memperhatikan kriteria responden yang sudah ditentukan dan dikendalikan (Sugiyono, 2009).
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus minimal sampel size (Lemeshow, 1997) dan diperoleh sampel sebanyak :
n= Z
Z : Standar deviasi normal untuk 1,96 denagn CI 95% d : Derajat ketepatan yang digunakan oleh 90% atau 0,1 p : Proporsi target populasi adalah 0,5
q : Proporsi tanpa atribut 1-p = 0,5
bahwa jumlah responden pada kelompok kontrol adalah 13 lansia dan pada kelompok eksperimen adalah 13 lansia.
F. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi
Penelitian dilaksanakan di PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. 2. Waktu
Waktu pelaksanaan penelitian berlangsung selama dua bulan, yaitu bulan Desember 2013 sampai dengan Maret 2014.
G. Instrumen dan Metode Pengumpulan Data
1. Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data yaitu :
Terapi Do-in Shiatsu Massage dan Gym dapat dilakukan setiap hari. Dalam sehari bisa dilakukan dua kali setiap pagi sebelum beraktivitas dan sore hari sebelum beristirahat, dilakukan selama empat minggu. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan terapi yaitu 30 menit.
Functional Reach Test menggunakan dinding yang lurus, penggaris, dan stopwatch. Sedangkan Pemeriksaan The Timed Up Go (TUG) Test menggunakan kursi dengan sandaran dan penyangga lengan, stopwatch, dan dinding. Pemeriksaan postural hipotensi menggunakan skala interval dengan kategori perbedaan tekanan darah lebih dari atau sama dengan 20 mmHg dikategorikan resiko cedera : jatuh, bila kurang dari 20 mmHg dikategorikan bukan resiko cedera : jatuh. Pemeriksaan Functional Reach Test menggunakan skala interval dengan kategori kurang dari 6 inchi dikategorikan risiko cedera : jatuh, bila lebih bukan resiko cedera : jatuh. Sedangkan TUG Test menggunakan skala interval dengan kategori lebih dari 30 detik dikategorikan risiko cedera : jatuh, bila kurang dari 30 detik dikategorikan bukan risiko cedera : jatuh.
c. Lansia yang telah memenuhi kriteria dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok eksperimen dan kelompok kedua adalah kelompok kontrol atau non-eksperimen. Diberikan intervensi pada kelompok eksperimen dan kuesioner serta pemeriksaan atau tes fisik untuk pre dan post test pada kedua kelompok.
2. Pengumpulan Data
menjadi responden bila memenuhi kriteria-kriteria yang sudah dikendalikan dan menyetujui serta menandatangani inform consent. Pemilihan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilaksanakan dengan purpossive sample yaitu dengan memilih lansia yang memenuhi kriteria-kriteria dari faktor-faktor yang telah dikendalikan. Kedua kelompok tersebut diberikan kuesioner risiko cedera : jatuh dari Darmojo (2004), DepKes RI (2006), Godfrey (2003), dan Miller (2004) yang terdiri dari empat pertanyaan tertutup yang bernilai satu pada setiap jawabab ya. Setelah mengisi kuesioner dilakukan pemeriksaan fisik atau tes fisik diantaranya adalah pemeriksaan postural hipotensi, Functional Reach Test, dan TUG Test. Dilakukan pencatatan nilai dan kategorinya. Setelah itu pemberian intervensi Do-in Shiatsu Massage dan Gym terhadap kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan intervensi. Setelah diberikan intervensi atau perlakuan pada kelompok eksperimen selama empat minggu kuesioner risiko cedera : jatuh pada lansia diberikan kembali kepada kedua kelompok. Selain itu kedua kelompoik juga melaksanakan serangkaian pemeriksaan atau tes fisik yang terdiri dari tiga jenis pemeriksaan atau tes fisik. Data tentang angka kejadian risiko cedera : jatuh pada lansia akan diketahui setelah diberikan kuesioner dan tes atau pemeriksaan fisik yang kedua. Perbedaan hasil kuesioner antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen juga akan diketahui.
H. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas
berdasarkan kawasan ukur yang teridentifikasi dengan baik dan dibatasi dengan jelas, secara teoritik akan valid (Azwar, 2003). Uji validitas dalam penelitian ini adalah menggunakan validitas yang menunjukkan bahwa substansi pengukuran betul-betul mewakili konsep yang sudah dirumuskan dalam definisi operasional, yang didasarkan pada landasan teori (Machfudz, 2008). Validitas isi melalui konsultasi dengan para ahli dalam bidangnya (Brink,1998).
2. Reliabilitas
Reliabilitas merupakan suatu instrumen menggambarkan stabilitas dan konsistensi suatu instrumen dalam suatu konteks yang diberikan (Brockop, 1999). Untuk menentukan reliabilitas pengamatan dalam penelitian ini menggunakan rumus Crude Index Agreement (Arikunto, 2003) sebagai berikut :
IKK = Nn Keterangan :
IKK = crude index agreement
n = jumlah kode yang sama
N = banyaknya obyek yang diamati.
I. Metode Pengolahan dan Analisis Data
1. Metode Pengolahan Data
Danim (2003), menjelaskan pengolahan data merupakan proses yang penting dalam penelitian, agar mudah dianalisis dan ditarik kesimpulan maka data disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Pengolahan data meliputi:
a. Editing / Memeriksa
Yaitu meneliti kembali apakah isian dalam lembar kuesioner dan tes atau pemeriksaan fisik sudah lengkap dan diisi. Editing dilakukan di tempat pengumpulan data, sehingga jika ada kekurangan data dapat segera dikonfirmasikan pada responden yang bersangkutan. Dalam proses penelitian, semua responden memberikan jawaban yang lengkap dan semua instrumen telah diisi.
b. Coding / Memberi Tanda Kode
c. Sorting
Mensortir dengan memilih atau mengelompokkan data menurut jenis yang dikehendaki (klasifikasi data).
d. Entry Data
Yaitu proses memasukkan data ke dalam kategori karakterisktik responden yaitu umur, jenis kelamin, pendidikan, dan kejadian jatuh untuk dilakukan analisis data dengan menggunakan bantuan komputer. Jawaban-jawaban yang sudah diberi kode kategori kemudian dimasukkan dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi data. Memasukkan data, boleh dengan cara manual atau melalui pengolahan computer.
e. Tabullating
Yaitu langkah memasukkan data-data hasil penelitian kedalam tabel-tabel sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, dan kejadian jatuh menggunakan tabel distribusi frekuensi.
f. Cleaning
Yaitu kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dimasukkan apakah ada kesalahan atau tidak saat memasukkan data ke komputer. Cleaning dilakukan dengan cara melihat tabel distribusi frekuensi dan tidak ditemukan data missing sehingga dapat dilanjutkan dengan analisis data.
Disesuaikan dengan tujuan penelitian yang dilakukan (Setiadi, 2007)
2. Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan mengumpulkan data kemudian dikelompokkan menurut jenis data masing-masing dan dimasukkan ke dalam tabel, selanjutnya dijumlah dan masing-masing skor yang diharapkan (Arikunto, 2006). Sebelum data dianalisis, dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan program komputer. Uji normalitas data berguna untuk mengetahui data tersebut terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data yang digunakan yakni rumus Kolmogorov Smirnov. Untuk menentukan data tersebut normal atau tidak, maka nilai Asymp Sig dibandingkan dengan 0,05. Jika Asymp Sig > 0,05 maka data terdistribusi normal, bila Asym Sig < 0,05 maka data terdistribusi tidak normal. Uji normalitas data dari pengkatogorian resiko cedera : jatuh dengan rumus Kolmogorov Smirnov menunjukkan Asymp Sig > 0,05 sehingga data terdistribusi normal dengan skala interval.
Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh Do-in Shiatsu Massage dan Gym terhadap risiko cedera : jatuh maka dilakukan uji statistic parametric dengan teknik Paired T-Test untuk untuk menguji hipotesis dengan pre dan post apabila datanya berbentuk interval (Ridwidikdo, 2009). Untuk data yang berpasangan menggunakan parametrik dependent t-test. Rumus yang digunakan adalah :
t= d´ Sd/
√
nKeterangan : ´
d = rata-rata selisih pre dan post
n = jumlah sampel
Analisis antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi yang merupakan dua kelompok yang tidak berpasangan digunakan analisis data dengan menggunakan parametrik independent t-test (Dahlan, 2009). Rumus yang digunakan adalah :
X1 = rata-rata selisih kelompok 1
´
X2 = rata-rata selisih kelompok 2
n = jumlah sampel
Apabila dengan menggunakan uji Shapiro-wilk tidak terdistribusi normal, maka bisa menggunakan uji non parametric dengan menggunakan Wilcoxon Match Pairs Test untuk data berpasangan. Yaitu pengukuran yang dilakukan dua kali pada saat sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (Santjaka, 2011). Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Z:
Z = Standart skor untuk α yang dipilih T = jumlah jenjang yang terkecil n = banyaknya sampel
berskala ordinal atau interval/rasio tetapi tidak terdistribusi normal (Fajar, 2009). Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
U=n1. n2+1
2
(
n1+1)
−R1U=n1. n2+
1
2
(
n2+1)
−R2Keterangan :
n1 = jumlah sampel pertama
n2 = jumlah sampel kedua
R1 = jumlah rangking pada sampel n1
R2 = jumlah rangking pada sampel n2
Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi sebesar 0,05. Apabila nilai P hitung lebih kecil dari nilai taraf signifikansi (P < 0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak artinya ada pengaruh terapi Do-in Shiatsu Massage terhadap risiko cedera : jatuh pada lansia. Sebaliknya, apabila (P > 0,05) maka Ha ditolak dan Ho diterima artinya tidak ada pengaruh Do-in Shiatsu Massage terhadap risiko cedera : jatuh pada lansia.
J. Etika Penelitian
manusia yang kebetulan adalah klien (Nursalam, 2011). Etika keperawatan yang harus diperhatikan menurut Hidayat (2007), sebagai berikut ini :
1. Informed Consent (Lembar Pengesahan)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed consent diberikan sebelum penelitian, dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian dan mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien (Hidayat, 2007).
Peneliti memberikan informed consent dengan meminta izin kepada kepala PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. Lembar persetujuan untuk responden akan diberikan peneliti, peneliti menjelaskan maksud, tujuan, manfaat, dan dampak yang mungkin terjadi selama penelitian ini. Responden yang menyetujui akan menandatangani lembar tersebut namun jika responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghargai hak-hak responden
2. Anonimity (Tanpa Nama)
Peneliti memberikan jaminan kepada responden dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden dan hanya menulis inisial nama dan memberikan kode absen pada kuesioner lansia yang mengalami risiko cedera : jatuh. Guna menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data, data cukup dengan memberi nomer kode pada masing-masing lembar tersebut.
3. Confidantiallity (Kerahasiaan)
Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian (Hidayat, 2007). Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian kepada responden dengan cara semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan pada hasil penelitian misalnya kepala PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur, dosen pembimbing, dan dosen penguji.
K. Jalanya Penelitian
1. Tahap Persiapan
membuat hasil laporan penelitian, mempresentasikan hasil penelitian, merevisi hasil penelitian, dan mengumpulkan hasil riset atau skripsi.
2. Tahap Pelaksanaan
Peneliti datang ke PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur menemui kepala panti dan kepala bagian klinik panti untuk memperoleh karakteristik usia lanjut. Usia lanjut yang sesuai dengan kriteria peneliti didatangi oleh peneliti ke ruangan atau kamarnya untuk diberikan penjelasan maksud dan tujuan dari penelitian, serta melakukan informed consent dan dilakukan pembagian kelompok tanpa sistem random antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tahap selanjutnya adalah, dilakukan pre-test kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan membagikan kuesioner dan menjalankan tes atau pemeriksaan fisik sebanyak tiga jenis tes fisik. Kuesioner dibacakan dan diisikan oleh peneliti dan asisten peneliti dan menanyakan kepada petugas klinik di panti untuk memperkuat data. Setelah hasil kuesioner dan tes fisik didapat dan semua data terkumpul lalu dilaksanakan tahap persiapan pemberian terapi atau intervensi.
dari petugas kesehatan klinik di panti. Hal tersebut dikarenakan observer lebih dapat memantau perkembangan klien. Akan tetapi sebelumnya peneliti juga meminta pernyataan kesangguapan dari observer.
3. Tahap penyusunan laporan
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Penyusunan laporan hasil penelitian
b. Konsultasi laporan hasil penelitian
c. Seminar hasil penelitian
d. Revisi hasil penelitian
e. Penjilidan hasil penelitian