• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen PERBEDAAN IDENTITAS SOSIAL ORANG JAWA AN (Halaman 64-86)

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Sebelum dilakukan analisa data, perlu diketahui dahulu tentang uji asumsi yang dilakukan sebagai syarat untuk dapat menggunakan teknik statistik. Uji asumsi yang digunakan adalah uji normalitas, dan uji homogenitas. Uji normalitas diperlukan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari populasi yang sama. Dan uji homogenitas untuk mengetahui apakah varian dari kelompok ini sama. Kedua uji tersebut menggunakan alat bantu SPSS for Windows version

13.0.

1. Uji Normalitas

Data diuji dengan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Dengan hasil variabel identitas sosial orang Jawa menunjukkan nilai K-S Z = 0,887 dengan p = 0,411 (p > 0,05) menunjukkan distribusinya normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat di lampiran 5.

2. Uji Homogenitas

Data uji dengan teknik Levene’s Test For Equality Of Variances

menunjukkan hasil bahwa F = 2,055 dengan p = 0,154 ( p > 0,05). Hal ini berarti kedua kelompok homogen. Perhitungan uji homogenitas selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5.

3. Analisis Data

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas maka dilakukan analisis data. Analisis data di sini menggunakan alat bantu SPSS for Windows version 13.0. Hipotesis diuji dengan menggunakan analisa t-test yang menunjukkan hasil t = 3,734; p < 0,05, sedangkan hasil dari rata-rata identitas sosial orang Jawa remaja desa 103,67 dan rata-rata identitas sosial orang Jawa remaja kota adalah 96,37. Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan identitas sosial orang Jawa yang signifikan antara remaja Jawa di desa dengan remaja Jawa di kota. Dari uji rerata antar kelompok didapat bahwa remaja Jawa di desa lebih menampakkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota. Hasil analisa uji-t selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil uji hipotesis yang diperoleh, diketahui bahwa terdapat perbedaan antara identitas sosial orang Jawa pada remaja Jawa di desa dengan identitas sosial orang Jawa pada remaja Jawa di kota. Dengan hasil penelitian ini berarti hipotesis penelitian terbukti dan dapat diterima. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji hipotesis yang menunjukkan t-test sebesar 3,734, p = 0,00 (p < 0,05).

Identitas sosial adalah kesadaran individu akan keanggotaannya dalam kelompok sosial tertentu dan kesadaran akan nilai-nilai dan emosi-emosi yang

dimiliki kelompok sosial tersebut serta menggunakannya untuk mengevaluasi diri dalam setiap interaksi sosial. Identitas sosial sebagai orang Jawa merupakan kesadaran seseorang sebagai orang Jawa. Kesadaran sebagai orang Jawa ini akan mempengaruhi perilaku orang Jawa dalam setiap interaksi sosialnya. Nilai rukun dan hormat merupakan dasar dari setiap perilaku orang Jawa yang sadar akan identitasnya sebagai orang Jawa.

Diterimanya hipotesis ini berarti pada remaja Jawa di desa lebih menampakkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota.Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat Panggabean (1996, h. 42- 48) bahwa keterikatan dengan budaya pada masyarakat yang dibesarkan dan menetap di lingkungan budaya yang relatif homogen lebih tinggi, sehingga masyarakat tersebut menerima informasi yang relatif homogen dan mendukung keterikatannya dengan nilai-nilai budaya. Hal ini karena remaja Jawa di desa tinggal dalam suatu lingkungan yang homogen. Lingkungan homogen merupakan salah satu ciri masyarakat desa.

Menurut Landis (dalam Setianingrum, 1997, h. 40) salah satu kecenderungan psikologis atau karakteristik orang desa adalah punya sifat homogen dalam nilai kebudayaan, sikap dan tingkah laku. Dengan lingkungan yang memiliki latar belakang kebudayaan yang sama maka remaja Jawa di desa lebih banyak belajar tentang kebudayaannya sendiri. Menurut Susetyo (2006, h. 1-16) bahwa identitas sosial terbentuk melalui pewarisan budaya. Proses pewarisan budaya yang terjadi pada remaja di desa lebih pada proses enkulturasi.

Menurut Berry, dkk (1999, h.34) enkulturasi, yaitu pelingkupan dan pengelilingan (encompassing or surrounding) budaya terhadap individu yang melibatkan orangtua, orang dewasa lain, dan teman sebaya dalam suatu jalinan pengaruh terhadap individu. Remaja Jawa di desa diajarkan oleh orangtua, orang dewasa lain, dan teman sebaya tentang budayanya sendiri, dalam hal ini kebudayaan Jawa. Hal inilah yang menyebabkan remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa.

Hal sebaliknya terjadi pada remaja Jawa di kota. Remaja di kota tinggal dalam lingkungan heterogen yang merupakan salah satu ciri dari masyarakat kota. Menurut Soedarno (1993, h. 85) masyarakat kota lebih bersifat heterogen dari segi keturunan dan latar belakang sosial budaya. Karena tinggal di lingkungan yang terdiri dari bermacam-macam kebudayaan, maka proses akulturasi terjadi di sini. Akulturasi menurut Berry, dkk (1999, h.34), menunjuk pada perubahan budaya dan psikologis karena perjumpaan dengan orang berbudaya lain yang juga memperlihatkan perilaku yang berbeda. Remaja Jawa di kota tidak hanya belajar dan memperoleh pewarisan budaya Jawa saja, tetapi juga banyak belajar kebudayaan lain karena di kota terdiri dari bermacam-macam latar belakang kebudayaan. Hal ini menyebabkan remaja Jawa di kota kurang menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa.

Hasil penelitian disajikan dalam data deskriptif menggambarkan tentang kesesuaian perilaku subyek dengan nilai-nilai budaya Jawa, dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 4

Persentase Kesesuaian Perilaku Subyek dengan Nilai-Nilai Budaya Jawa

No. Pernyataan Remaja

desa

Remaja kota

1 Saya orang yang senang bergotong royong 60.53 54.88

2 Saya orang yang nrimo 52.63 47.56

3 Saya orang yang senang menjaga harmoni 88.16 69.51

5 Saya orang yang ramah 75.00 57.32

7 Saya menerima keadaan apa adanya 64.47 60.98 10 Saya perduli terhadap lingkungan 80.26 57.32 11 Saya orang yang kalem 43.42 35.37 12 Saya orang yang lemah lembut 43.42 26.83 13 Saya menjunjung tinggi sopan santun 89.47 80.49 15 Saya orang yang setia kawan 98.68 86.59 16 Saya bersikap hormat pada orang yang lebih tua 93.42 95.12 17 Saya memiliki toleransi yang tinggi 82.89 64.63 18 Saya senang berada dalam suasana yang tenang dan

tentram 89.47 79.27

19 Saya suka bekerjasama 85.53 82.93 20 Saya menyukai suasana kekeluargaan 96.05 84.15 21 Saya mudah sungkan ketika menghadapi orang yang

baru saya kenal 56.58 59.76

22 Saya malu ketika bertindak tidak sopan 92.11 80.49 23 Saya takut membuat orang lain tersinggung 89.47 73.17 24 Saya menyampaikan keinginan dengan cara kurang

terbuka 52.63 43.90

Karakteristik bahasa yang digunakan oleh kedua kelompok subyek adalah sebagai berikut :

1. Subyek remaja Jawa di desa

a. Bahasa di rumah : Jawa = 61 (80,26 %)

Jawa-Indonesia = 13 (17,11 %)

b. Bahasa di pergaulan : Jawa = 34 (44,74 %)

Jawa-Indonesia = 37 (48,68 %)

Indonesia = 5 (6,58 %)

2. Subyek remaja Jawa di kota

a. Bahasa di rumah : Jawa = 31 (37,80 %)

Jawa-Indonesia = 22 (26,83 %)

Indonesia = 29 (35,37 %)

b. Bahasa di pergaulan : Jawa = 21 (25,61 %)

Jawa-Indonesia = 42 (51,22 %)

Indonesia = 19 (23,17 %)

Dari tabel tersebut dapat dilihat, pada item-item yang mencerminkan perilaku yang didasari prinsip kerukunan yaitu nomor 1,2,3,7,10,13,17,18,20 persentase jumlah subyek yang merespon sesuai dengan item-item tersebut berbeda antara remaja Jawa di desa dengan di kota. Persentase remaja Jawa di desa yang merespon sesuai dengan item-item tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan remaja Jawa di kota. Hal ini menunjukkan bahwa remaja Jawa di desa lebih mempertimbangkan perilakunya sehingga tetap bisa menjaga kerukunan dengan sesama.

Pada item-item yang mencerminkan perilaku yang didasari prinsip hormat yaitu nomor 5,11,12,15,16,19,21,22,23,24 persentase jumlah subyek remaja Jawa di desa yang merespon sesuai dengan perilaku mereka juga lebih tinggi daripada remaja Jawa di kota. Hal ini juga menunjukkan bahwa remaja

Jawa di desa lebih mempertimbangkan perilakunya agar tetap menunjukkan sikap hormat di masyarakat.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa persentase yang cukup jauh berbeda antara subyek remaja desa dan kota terjadi pada item-item nomor 3,5,10,17,18,23. Berdasarkan item-item tersebut dapat digambarkan bahwa remaja Jawa di desa lebih menjaga harmoni di dalam hidup bermasyarakat, lebih ramah, lebih peduli terhadap lingkungan, memiliki toleransi yang lebih tinggi, suka pada suasana yang tenang dan tentram, dan lebih takut membuat orang lain tersinggung.

Hasil yang menunjukkan kedua kelompok subyek tersebut sama-sama memiliki persentase yang rendah yaitu di bawah 50% adalah pada item-item nomor 11,12. Dari hasil persentase yang di peroleh pada kedua kelompok tersebut menggambarkan baik di remaja desa maupun remaja kota sekarang ini lebih tegas dalam bersikap. Hal ini juga didukung skor pada item nomor 2,7,21,24, yang menunjukkan bahwa sifat menerima keadaan apa adanya,

nrimo, dan sungkan tidak lagi dijadikan pegangan. Kedua kelompok subyek menunjukkan sifat yang lebih asertif. Hasil ini sama dengan penelititan sebelumnya (dalam Susetyo, 2006, h. 1-16) yang menunjukkan melunturnya beberapa sifat nrima, menerima keadaan apa adanya, sifat pasrah, dan menahan perasaan. Pada penelitian ini, hal ini juga dipengaruhi oleh lokasi penyebaran skala. Tempat tinggal kedua kelompok subyek yang berada di wilayah pesisir, dimana masyarakat pesisir memiliki sifat-sifat umum

masyarakat pesisir yang terbuka, dan lugas, juga mempengaruhi hasil subyek dalam megisi skala (Thohir, 2006, h. 40).

Di sisi lain ternyata pada remaja desa dan kota masih menunjukkan persentase yang sama-sama tinggi di item-item nomor 13,15,16,19,20,22. Hal ini menggambarkan bahwa pada kedua kelompok subyek masih menjunjung tinggi sopan santun, rasa setia kawan, dan sikap hormat pada orang yang lebih tua. Selain itu, kedua kelompok subyek juga menyukai suasana kerjasama dan kekeluargaan. Hal ini juga didukung oleh item nomor 1 dimana kedua kelompok subyek menunjukkan persentase di atas 50% untuk pernyataan senang bergotong royong.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada kedua kelompok subyek masih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa, namun dengan tingkat yang berbeda. Remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitasnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota. Namun perbedaan tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh bila melihat kembali nilai rata-rata identitas sosial orang Jawa pada remaja desa sebesar 103,67 dan nilai rata-rata identitias sosial orang Jawa pada remaja kota sebesar 96,37, dengan mean difference sebesar 7,30.

Kebiasaan menggunakan bahasa merupakan salah satu penunjang perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dan remaja Jawa di kota. Sebagai produk masyarakat, bahasa mengandung pikiran- pikiran, nilai-nilai dan norma-norma masyarakat. Bahasa lalu digunakan

untuk berpikir, dan menampilkan identitas diri (Takwin, 2002, h. 1-13). Bahasa daerah merupakan salah satu pilar kebudayaan yang juga mencerminkan identitas masyarakat yang menggunakannya (Widi, 2007). Persentase penggunaan bahasa Jawa di rumah pada remaja desa lebih tinggi daripada remaja kota. Hal ini membuat remaja desa lebih menampakkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa. Remaja Jawa di desa tampil menjadi remaja yang lebih Njawani dibanding remaja Jawa di kota karena dengan bahasa Jawa dan lingkungan yang cenderung homogen dalam nilai kebudayaan, orangtua mereka lebih mudah mengajarkan tentang budaya Jawa. Penggunaan bahasa Jawa-Indonesia pada pergaulan memungkinkan remaja baik di desa maupun di kota belajar kebudayaan lain selain budaya Jawa. Karena melalui bahasa, pengaruh sosial masuk dalam diri individu. Hal ini yang membuat proses akulturasi dapat terjadi, dimana selain belajar budaya sendiri, remaja ini juga bisa belajar banyak tentang budaya lain dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa menjadi instrumen dominan bagi manusia. Berbagai hasil peradaban dan kebudayaan disosialisasikan melalui bahasa (Takwin, 2002, h. 1-13).

Penelitian ini masih mempunyai kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut diantaranya :

1. Adanya pengaruh social desirability pada saat pengisian skala, yaitu kecenderungan mengisi jawaban sesuai dengan harapan sosial.

2. Tidak adanya instruksi dalam skala yang dapat membantu subyek menyadari identitas sosialnya sebagai orang Jawa, memungkinkan subyek menjawab skala tersebut tanpa dilandasi adanya kesadaran identitas sosialnya sebagai orang Jawa.

3. Pemakaian nama dalam kolom identitas skala, yang kemungkinan dapat mempengaruhi jawaban subyek. Subyek akan menjawab sesuai dengan harapan sosial karena skala disebarkan di lingkungan sekolah, yang kemungkinan membuat subyek menghubungkan pengisian skala ini dengan tugas sekolah.

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini berguna untuk menguji secara empiris perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dengan remaja Jawa di kota. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dengan remaja Jawa di kota. Dimana remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota.

Hasil dalam data deskriptif juga dapat disimpulkan bahwa remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota. Namun adanya pengaruh akulturasi, baik pada remaja desa maupun kota, sama-sama lebih tegas dalam bersikap, dan tidak lagi menjadi orang yang terlalu pasrah. Sifat menerima keadaan apa adanya, nrimo, dan sungkan tidak lagi dijadikan pegangan. Kedua kelompok subyek menunjukkan sifat yang lebih asertif.

B.Saran

Beberapa saran yang dapat diajukan setelah menelaah teori yang dikemukakan para ahli, pengamat, dan hasil penelitian diantaranya :

1. Bagi masyarakat

Berdasarkan hasil penelitian dan menelaah teori, disarankan bagi masyarakat, untuk tetap dapat melestarikan kebudayaan Jawa, sebaiknya tetap mengajarkan kebudayaan Jawa tersebut pada remaja. Hal ini khususnya untuk para orang tua. Salah satu caranya adalah tetap mengajarkan bahasa Jawa pada anak-anak di jaman sekarang ini. Hal ini karena bahasa daerah merupakan salah satu pilar kebudayaan yang juga mencerminkan identitas masyarakat yang menggunakannya.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi pengaruh budaya lain yang menyebabkan remaja tidak lagi mengenal kebudayaan Jawa. Cara yang dapat dilakukan adalah mengenalkan seni budaya Jawa seperti tari, gamelan, dan lainnya kepada remaja karena tampaknya remaja saat ini sudah kurang mengenal seni budayanya sendiri. Hal yang dapat dilakukan adalah mengenalkan seni budaya Jawa tersebut dengan cara yang lebih menarik sehingga dapat lebih disukai remaja.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan variabel-variabel lain dengan mempertimbangkan heterogenitas orang Jawa seperti adanya masyarakat Jawa pesisiran dan masyarakat Jawa pedalaman.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 1986. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset . 1998. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke-3. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar

. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Baron, R. A., Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial : Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Berry, J.W., Poortinga, Y.H., Segall, M.H., Dassen, P.R. 1999. Psikologi Lintas Budaya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Bratawijaya, T.W. 1997. Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa. Jakarta: Pradnya Paramita

Cohen, B.J. 1983. Sosiologi suatu pengantar. Alih bahasa. Sahat Simamora. Jakarta: Bina Aksara

Darwis, R. S. 2008. Solidaritas Sosial Masyarakat di Daerah Sekitar Industri,

darwis.wordpress.com (25 April 2008)

Endraswara, S. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Tangerang : Penerbit Cakrawala

Hadi, S. 1986 . Metodologi Research : Jilid 1. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

, S. 2000 . Statistik : Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset

Handayani, C.S., Novianto, A. 2004. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LkiS

Helsin, J. M. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi: Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Hogg, M. A., Abram, D. 1988. Social Identification : A Social Psychology of Intergroup Relation and Group Processes. London : Routledge

Horton, P.B., Hunt, C. L. 1990. Sosiologi. Jakarta: Erlangga Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia

. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru

Kyurrni. 2008. Dampak modernisasi dan globalisasi, kyurrni.blogspot.com (Oktober 2008)

Mappiare, A. 1982. Psikiologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional

Martaniah, S.M. 1988. Motif Sosial Remaja Suku Jawa dan Keturunan Cina di Beberapa SMA. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Mayasari, C. 2007. Perbedaan Tingkat Harga Diri Suami yang Tidak Bekerja Antara Etnis Jawa dan Etnis Cina. Skripsi. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata (tidak diterbitkan)

Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, Siti Rahayu. 1998. Psikologi Perkembangan

Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Panggabean, H.R.G. 1996. Hubungan Keterikatan dengan Nilai Budaya Etnik dan Sikap Kebangsaan pada Dua Generasi Suku Bangsa Batak Toba di Taruntung dan Jakarta. Jurnal Psikologi Indonesia. Jakarta : Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia. No. 1 (42-48)

Samadi. 2007. Melestarikan Bahasa dan Budaya Jawa. Dalam Suara Merdeka. Surat Kabar Harian, 20 Maret 2007. Semarang : Suara Merdeka Group

Sanomae, M. 2009. 14 Kecamatan di Jepara Terlayani Hotspot. Dalam Suara Merdeka. Surat Kabar Harian, 11 Oktober 2009. Semarang : Suara Merdeka Group

Santrock, J.W. 1995. Life Span Development Perkembangan Masa Hidup: Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Sarwono, S.W. 2001. Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan.

Jakarta: Balai Pustaka

Setianingrum, E. 1997. Perbedaan Sikap Penerimaan Masyarakat Terhadap Penyandang Epilepsi Antara Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota.

Skripsi. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata (tidak diterbitkan)

Soedarno, P. 1993. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta

Sulistyawan. 2007. Remaja dan Perilaku Menyimpang, sulistyawan.blogspot.com (Juni 2007)

Suryabrata, S. 1990. Metode Penelitian II. Jakarta : CV. Rajawali

Susanto, A. S. 1983. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung : Bina Cipta

Suseno, F.M. 1996. Etika Jawa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Suseno. 2008. bahasa gaul dapat memperkaya bahasa indonesia, www.bernas.co.id (30 Agustus 2008)

Susetyo, D.P.B. 2006. Identitas Sosial Orang Jawa: Studi Deskriptif pada Mahasiswa Jawa. Psikodimensia. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. Vol. 5. No. 1 (1-16)

Susetyo, D.P.B. 2002. Krisis Identitas Etnis Cina di Indonesia. Psikodimensia.

Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata. Vol. 2. No. 2 (58-65)

Takwin, B. 2002. Bahasa, Ideologi, dan Pembuatan Keputusan : Kajian Ideologi Dalam Psikologi Sosial. Jurnal Psikologi Sosial.Vol. 8. No. 1 (1-13)

Thohir, M. 2006. Orang Islam Jawa Pesisiran. Semarang: Fasindo Press

Wahyudi, E. 2007. Kurikulum Jawa Kurang Njawani. Dalam Suara Merdeka. Surat Kabar Harian, 26 Maret 2007. Semarang : Suara Merdeka Group

Widi, N. 2007. Menanti Punahnya Bahasa Ibu Terdesak Bahasa Indonesia dan Inggris. Dalam Suara Merdeka. Surat Kabar Harian, 20 Juli 2007. Semarang : Suara Merdeka Group

Nama :

Usia :

Jenis kelamin : Alamat tempat tinggal : Kecamatan : Suku Ayah : Suku Ibu : Petunjuk pengisian angket:

1. Bacalah setiap pernyataan dengan cermat

2. Jawablah menurut kondisi Saudara masing-masing, tidak ada jawaban salah atau benar, setiap jawaban merupakan informasi yang sangat penting bagi penelitian kami.

3. Jawablah setiap pernyataan dengan cara memberi tanda silang (X) pada pilihan yang tersedia. Pilihan jawaban dari rentang 1 – 7.

Nilai 1 menunjukkan respon yang sangat tidak sesuai dengan perilaku Saudara, dan nilai yang tertinggi 7,menunjukkan respon yang sangat sesuai dengan perlaku Saudara.

Contoh pengisian:

Saya orang yang pemalu 1 2 3 4 5 6 7 4. Apabila Saudara ingin merubah pilihan jawaban yang terlanjur Saudara beri

tanda silang, berilah tanda sama dengan (=) pada pilihan jawaban tersebut. Contoh pengisian:

Saya orang yang pemalu 1 2 3 4 5 6 7 5. Setelah Saudara selesai mengisi angket, periksalah kembali dan jangan sampai

ada pernyataan yang terlewatkan atau tidak dijawab.

Atas perhatian dan partisipasi saudara dalam pengisian skala ini, kami mengucapkan banyak terima kasih.

NO PERNYATAAN 1 2 3 4 5 6 7 1 Saya orang yang senang bergotong

royong 1 2 3 4 5 6 7

2 Saya orang yang nrimo 1 2 3 4 5 6 7

3 Saya orang yang senang menjaga

harmoni 1 2 3 4 5 6 7

4 Saya menahan diri ketika sedang

menghadapi konflik dengan orang lain 1 2 3 4 5 6 7

5 Saya orang yang ramah 1 2 3 4 5 6 7

6 Saya kurang dapat bersikap tegas 1 2 3 4 5 6 7 7 Saya menerima keadaan apa adanya 1 2 3 4 5 6 7

8 Saya orang yang pasrah 1 2 3 4 5 6 7

9 Saya mudah bergaul 1 2 3 4 5 6 7

10 Saya perduli terhadap lingkungan 1 2 3 4 5 6 7

11 Saya orang yang kalem 1 2 3 4 5 6 7

12 Saya orang yang lemah lembut 1 2 3 4 5 6 7 13 Saya menjunjung tinggi sopan santun 1 2 3 4 5 6 7

14

Saya sungkan ketika menghadapi orang lain yang lebih tinggi kedudukan sosialnya

1 2 3 4 5 6 7

15 Saya orang yang setia kawan 1 2 3 4 5 6 7 16 Saya bersikap hormat pada orang yang

lebih tua 1 2 3 4 5 6 7

17 Saya memiliki toleransi yang tinggi 1 2 3 4 5 6 7 18 Saya senang berada dalam suasana yang

tenang dan tentram 1 2 3 4 5 6 7

19 Saya suka bekerjasama 1 2 3 4 5 6 7

21 Saya mudah sungkan ketika menghadapi

orang yang baru saya kenal 1 2 3 4 5 6 7

22 Saya malu ketika bertindak tidak sopan 1 2 3 4 5 6 7 23 Saya takut membuat orang lain

tersinggung 1 2 3 4 5 6 7

24 Saya menyampaikan keinginan dengan

cara kurang terbuka 1 2 3 4 5 6 7

25 Saya kurang tegas ketika harus

Reliability

Case Processing Summary

158 100.0 0 .0 158 100.0 Valid Excludeda Total Cases N %

Listwise deletion based on all variables in the procedure. a. Reliability Statistics .827 .841 25 Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items

Item-Total Statistics 121.87 215.920 .372 .409 .821 122.11 216.535 .305 .486 .824 121.15 209.144 .559 .541 .814 121.99 216.567 .276 .292 .825 121.42 213.456 .428 .417 .819 122.45 219.841 .208 .357 .828 121.66 215.054 .342 .416 .822 122.88 218.896 .213 .256 .828 121.25 220.977 .197 .392 .828 121.46 211.740 .500 .514 .816 122.47 212.200 .384 .702 .821 122.74 206.996 .475 .693 .816 120.92 213.019 .534 .494 .816 122.25 217.576 .210 .201 .829 120.53 214.735 .509 .525 .817 120.25 219.439 .419 .454 .821 121.43 212.845 .517 .398 .816 120.74 212.970 .401 .368 .820 121.03 216.693 .368 .481 .821 120.49 215.271 .415 .434 .820 121.78 211.091 .395 .346 .820 120.75 212.980 .402 .497 .820 120.86 210.248 .497 .487 .816 122.37 211.164 .346 .514 .823 122.20 219.917 .190 .493 .829 x1 x2 x3 x4 x5 x6 x7 x8 x9 x10 x11 x12 x13 x14 x15 x16 x17 x18 x19 x20 x21 x22 x23 x24 x25 Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Squared Multiple Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted Scale Statistics 126.63 231.204 15.205 25

NPar Tests

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

158 99.88 12.855 .071 .035 -.071 .887 .411 N Mean Std. Deviation Normal Parametersa,b

Absolute Positive Negative Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Identitas Sosial

Test distribution is Normal. a.

Calculated from data. b.

Graph

130 120 110 100 90 80 70 60 Identitas Sosial 30 25 20 15 10 5 0 F req uency 1 8 7 23 20 29 17 22 15 5 5 2 1 3 Mean = 99.88Std. Dev. = 12.855 N = 158

T-Test

Group Statistics 76 103.67 11.329 1.300 82 96.37 13.246 1.463 Tempat Tinggal desa kota Identitas Sosial N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

Independent Samples Test

2.055 .154 3.711 156 .000 7.305 1.968 3.417 11.193 3.734 155.025 .000 7.305 1.957 3.440 11.170 Equal variances assumed Equal variances not assumed Identitas Sosial F Sig.

Levene's Test for Equality of Variances

t df Sig. (2-tailed) Mean Difference

Std. Error

Difference Lower Upper 95% Confidence Interval of the

Difference t-test for Equality of Means

Dalam dokumen PERBEDAAN IDENTITAS SOSIAL ORANG JAWA AN (Halaman 64-86)

Dokumen terkait