• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN IDENTITAS SOSIAL ORANG JAWA AN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBEDAAN IDENTITAS SOSIAL ORANG JAWA AN"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN IDENTITAS SOSIAL ORANG JAWA ANTARA

REMAJA JAWA DI DESA DENGAN REMAJA JAWA DI KOTA

SKRIPSI

FEBRIANA DYAH KOESOEMASTOETI

05.40.0142

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(2)

i

PERBEDAAN IDENTITAS SOSIAL ORANG JAWA ANTARA

REMAJA JAWA DI DESA DENGAN REMAJA JAWA DI KOTA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Guna

Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

FEBRIANA DYAH KOESOEMASTOETI

05.40.0142

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(3)

ii

Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi

Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Dan Diterima Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Guna Memperoleh

Derajat Sarjana Psikologi

Pada Tanggal

12 Oktober 2009

Mengesahkan

Fakultas Psikologi

Universitas Katolik Soegijapranata

Dekan,

( Th. Dewi Setyorini, S.Psi, MSi. )

Dewan Penguji Tanda Tangan

1. Drs. D.P. Budi Susetyo, M.Si

2. Lita Widyohastuti, S.Psi., M.Si

(4)

iii

MOTTO

”...sesungguh Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka

mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...”

(QS: Ar Ra’d ayat 11)

Setiap orang dapat bermimpi, tapi yang membedakannya adalah tindakannya.

Apapun yang anda pikirkan, apapun yang anda rasakan,

atau apapun yang anda lakukan, utuhkanlah dengan do’a,

lalu perhatikan apa yang terjadi.

(5)

iv

PERSEMBAHAN

karya skripsi ini saya persembahkan untuk Allah SWT, keluarga tercinta, civitas

akademika,bangsa Indonesia, dan semua pihak yang membantu dan memberi

(6)

v

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat rahmat, taufik, dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik, tidak lepas dari bantuan, dorongan, dan perhatian yang telah diberikan banyak pihak kepada penulis. Untuk itu, dengan segala keredahan hati, penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada:

1. Ibu Th. Dewi Setyorini, S.Psi, MSi, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

2. Bapak Drs. D. P. Budi Susetyo, MSi, selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan penuh ketulusan, kesabaran, dan perhatian meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan, nasehat, dan dukungan untuk penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ibu Dra. V. Sri Sumiyati, MSi, selaku dosen penguji proposal, yang juga telah memberikan arahan untuk penulis dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Dr. M. Sih Setija Utami, M.Kes dan Ibu Lita Widyohastuti, S.Psi., M.Si selaku dosen penguji skripsi, yang telah memberikan arahan kepada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini.

(7)

vi

6. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.

7. Staf karyawan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang banyak membantu kelancaran studi penulis.

8. Keluargaku tercinta Papaku Suharyono Darsoutomo, Mamaku Choiriyah, dan Kakakku Yhanuar Ardhi Wiedanto, atas doa, perhatian, dan dukungan yang selalu diberikan untuk penulis. Terima kasih atas kasih sayang ini.

9. Staf dan pengajar SMA 1 Kaliwungu Kendal dan SMA 6 Semarang, yang dengan tulus telah membantu penulis dalam penelitian skripsi ini. Esp. Bapak Ngadiman (TU) dan Ibu Tik (BK) SMA 1 Kaliwungu, serta Ibu Eni (Wakasek) dan Ibu Lina (BK) SMA 6 Semarang.

10.Sahabatku Retno Kusumastuti, atas persahabatan dan persaudaraan yang indah, dukungan dan semangatmu. Kamu sahabat terbaik dalam hidupku, my sister. 11.Teman-teman Fakultas Psikologi Dyah Ayu dan Indra Prasetyo, Citra, Icha,

Rakhel, Andry, Ayu ndut, Anggita, Dian Galih dan masih banyak lagi, atas kerjasama dan kebersamaan selama ini, pengalaman dan semangat yang telah kalian bagikan padaku.

12.Mas Yoko Skandinavia dan keluarga, atas doa, perhatian, dan semangatnya. 13.Kosultan, dan staf LPT Soegijapranata, serta teman-teman Asisten LPT

(8)

vii

14.Teman-teman Co-trainer PPKM (Awaken The Giant Within) Unika Soegijapranata, Esp. Co-trainer 2008, senang bisa bergabung dengan kalian yang bersemangat dan Luar Biasa.

15.Laboratorium analisis data fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Mas Dimas, terima kasih Mas, sudah bantu hitung statistiknya.

16.Pak Tikno, staf WR III, terima kasih pinjaman komputer dan printernya yang sangat membantu. Maaf merepotkan.

17.Semua pihak yang telah membantu dan menjadi motivator demi terselesaikannya skripsi ini.

Semarang, Oktober 2009

(9)

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN MOTTO ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN UCAPAN TERIMAKASIH ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 9

C. Manfaat Penelitian ... 9

1.Manfaat Teoritis ... 9

2.Manfaat Praktis ... 9

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. Identitas Sosial Orang Jawa ... 10

1. Pengertian Identitas Sosial ... 10

2. Pengertian Identitas Sosial Orang Jawa ... 11

a. Prinsip Kerukunan ... 12

(10)

ix

3. Pengertian Orang Jawa ... 16

4. Kebudayaan Jawa di Jawa Tengah ... 16

a. Jawa Pesisiran ... 17

b. Jawa Pedalaman ... 18

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Identitas Sosial Orang Jawa . 18 6. Aspek-Aspek Identitas Sosial Orang Jawa ... 20

B. Pengertian Remaja ... 23

1. Rentang Usia Remaja ... 23

2. Masa Pencarian Identitas Pada Remaja ... 24

C. Remaja Jawa di Desa dan Dikota ... 25

1. Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota ... 25

a. Ciri Masyarakat Desa ... 25

b. Ciri Masyarakat Kota ... 27

2. Pengertian Remaja Jawa di Desa dan Remaja Jawa di Kota ... 29

a. Pengertian Remaja Jawa di Desa ... 29

b. Pengertian Remaja Jawa di Kota ... 29

D. Perbedaan Identitas Sosial Orang Jawa Antara Remaja Jawa di Desa dengan Remaja Jawa di Kota ... 30

E. Hipotesis ... 32

BAB III : METODE PENELITIAN ... 33

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 33

(11)

x

1. Identitas Sosial Orang Jawa ... 33

2. Tempat Tinggal (Desa dan Kota) ... 34

C. Populasi dan Pengambilan Sampel ... 35

1. Populasi ... 35

2. Sampel ... 35

D. Metode Pengumpulan Data ... 36

1. Alat Ukur ... 36

2. Blue Print dan Cara Penilaian ... 37

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 38

1. Validitas Alat Ukur ... 38

2. Reliabilitas Alat Ukur ... 39

F. Metode Analisis Data ... 40

BAB IV : PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN ... 41

A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian ... 41

1. Orientasi Kancah ... 41

2. Persiapan Penelitian ... 42

a. Penyusunan Skala ... 42

b. Perijinan Penelitian ... 45

B. Pelaksanaan Penelitian ... 46

C. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 48

1. Hasil Uji Validitas ... 48

(12)

xi

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

A. Hasil Penelitian ... 50

1. Uji Normalitas ... 50

2. Uji Homogenitas ... 50

3. Analisis Data ... 51

B. Pembahasan ... 51

BAB VI : PENUTUP ... 60

A. Kesimpulan ... 60

B. Saran ... 60

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Blue Print Skala Identitas Sosial Orang Jawa ... 38 Tabel 2 Sebaran Item Skala Identitas Sosial Orang Jawa ... 44 Tabel 3 Sebaran Item Valid dan Gugur Skala Identitas Sosial Orang Jawa . 49 Tabel 4 Persentase Kesesuaian Perilaku Subyek Dengan Nilai-Nilai

(14)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Identitas Sosial Orang Jawa ... 66 Lampiran 2 Butir Hasil Skala Penelitian Identitas Sosial Orang Jawa ... 69 Lampiran 3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Identitas Sosial

Orang Jawa ... 81 Lampiran 4 Item Valid Skala Identitas Sosial Orang Jawa ... 83 Lampiran 5 Hasil Uji Normalitas, Uji Homogenitas, T Test, Skala Identitas

Sosial Orang Jawa ... 91 Lampiran 6 Surat Ijin Melakukan Penelitian dan Surat Bukti Telah

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Seringkali orang Jawa golongan tua merasa lebih njawani dibanding generasi muda. Golongan tua masih taat pada tata cara Jawa, mulai dari etika bertamu, berpakaian, berhajat, dan lainnya. Mereka selalu berpusat pada nilai-nilai kejawaan yang asli. Keengganan meninggalkan nilai-nilai-nilai-nilai kejawaan secara tulus, didorong oleh rasa ingin melestarikan budaya miliknya. Itulah sebabnya kedekatan dan kelekatan budaya Jawa pada golongan tua semakin mendarah daging. Berbeda dengan orang Jawa sekarang (modern), jelas telah terpengaruh nilai-nilai budaya barat yang dapat (telah) mengubah nilai-nilai budaya tradisi yang ada. Kontak antarbudaya satu dengan yang lain, akan memoles dan melunturkan tradisi njawani kearah lain (Endraswara, 2003, h. 4). Arus globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi semakin pesat, dan cepat atau lambat telah mempengaruhi sikap, cara hidup serta pola pikir manusia, tak terkecuali dalam masyarakat Jawa. Hal ini disebabkan adanya persinggungan budaya (Endraswara, 2003, h. 5).

(16)

kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Salah satu wujud dari kebudayaan ini adalah adat istiadat yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya. Menurut Koentjaraningrat (1984, h. 25) nilai budaya adalah suatu sistem nilai yang terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus dianggap bernilai dalam hidup.

Kebudayaan Jawa memiliki nilai-nilai budaya yang menjadi dasar masyarakat Jawa dalam berprilaku. Nilai-nilai budaya tersebut menjadi prinsip yang paling menentukan pola pergaulan dalam masyarakat Jawa (Handayani, 2004, h.65). Prinsip pertama atau yang disebut dengan prinsip kerukunan mengatakan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa hingga tidak sampai menimbulkan konflik. Prinsip kedua atau yang disebut dengan prinsip hormat menuntut agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain.

(17)

sejarahnya memiliki hubungan yang intensif dengan orang-orang dari Asia Timur Tengah dalam kaitannya dengan hubungan dagang dan penyiaran Islam (Thohir, 2006, h. 40). Sebaliknya, Jawa pedalaman mempunyai pusat budaya dalam kota-kota kerajaan Surakarta dan Yogyakarta (Suseno, 1996, h. 12). Menurut Mulder (dalam Setyorini, 2001, h. 41-51) masyarakat Jawa pedalaman adalah masyarakat yang sangat kental dilandasi oleh nilai budaya Jawa yang dianggap halus, menekankan sopan santun, dan cenderung menghindari konflik.

Dalam masyarakat Jawa saat ini, memudarnya nilai-nilai budaya Jawa dikalangan generasi muda muncul menjadi suatu kekhawatiran. Tumbuh penilaian pada masyarakat Jawa bahwa remaja sekarang banyak yang tidak tahu unggah-ungguh, wong Jawa ora ngerti jawane (orang Jawa tidak tahu Jawa) karena melihat perilaku dari pemuda Jawa yang tidak lagi mencerminkan perilaku yang mencerminkan dirinya sebagai orang Jawa (Wahyudi, 2007).

(18)

mereka lebih suka menggunakan bahasa gaul. Mereka malu menunjukkan

kejawaan mereka, takut dianggap tidak gaul serta ketinggalan zaman. Di Semarang misalnya, menurut Suseno (2008), bahasa gaul banyak digunakan untuk berkomunikasi, terutama di sekolah-sekolah favorit. Fenomena ini disebabkan karena remaja ini tidak diajarkan oleh orangtuanya untuk menggunakan bahasa Jawa. Selain itu, remaja di perkotaan memiliki akses lebih luas pada televisi dan mal, hal inilah yang mengakibatkan remaja Jawa saat ini tampak tidak memiliki unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua.

Arus globalisasi dan akses yang lebih luas dengan dunia luar yang awalnya sangat idientik dengan kehidupan kota, saat ini juga telah mempengaruhi kehidupan desa. Arus globalisasi inilah yang kemudian mengubah perilaku masyarakat desa. Globalisasi berpengaruh nyata terhadap memudarnya budaya Jawa, karena tidak ada pembatas untuk tiap-tiap wilayah, sehingga budaya lain dengan mudah masuk. Adanya internet masuk desa, membuat masyarakat desa juga bisa mengetahui informasi dari seluruh dunia sehingga ada nilai-nilai, norma-norma yang tidak sama dengan norma kita, masuk ke diri seseorang (Kyurrni, 2008).

(19)

pewarisan budaya sendiri terjadi melalui proses enkulturasi. Dalam hal ini pewarisan nilai, keyakinan, motif budaya sendiri dapat diperoleh dari orangtua, teman sebaya, orang dewasa lain, dan lembaga. Namun pengaruh budaya lain pada kenyataannya juga sering mempengaruhi individu melalui proses akulturasi. Proses pewarisan budaya ini yang kemudian akan mempengaruhi seseorang sadar akan nilai budayanya.

Kesadaran akan nilai budaya dan kesadaran akan keanggotaannya pada suatu identitas budaya tertentu akan mempengaruhi perilakunya dalam interaksi sosial sehari-hari. Melalui pewarisan budaya membentuk identitas sosial individu (Susetyo,2006, 1-16). Menurut Baron dan Byrne (2004, h.163) identitas sosial adalah definisi seseorang tentang siapa dirinya, termasuk di dalamnya atribut pribadi dan atribut yang dibaginya bersama dengan orang lain, seperti gender dan ras. Menurut Billig (dalam Sarwono,2001,h. 22) identitas sosial adalah proses mengikatkan individu pada kelompoknya dan yang menyebabkan individu menyadari diri sosialnya (social self).

(20)

nampak pada melunturnya beberapa sifat nrima, menerima keadaan apa adanya, sifat pasrah, dan menahan perasaan. Hal tersebut menunjukkan gambaran terjadinya proses akulturasi karena pengaruh budaya akademik (Susetyo, 2006, h.1-16).

(21)

pengaruh keluarga. Remaja ingin lebih seperti kelompoknya dalam hal pakaian, berbicara, dan berperilaku (Hurlock, h. 208-213).

Dalam suatu penelitian tentang keterikatan dengan nilai budaya yang dilakukan pada masyarakat batak menyebutkan bahwa keterikatan dengan nilai budaya salah satunya dipengaruhi oleh unsur lingkungan. Keterikatan dengan budaya pada kelompok subyek di daerah asal lebih tinggi karena subyek dibesarkan dan menetap di lingkungan budaya yang relatif homogen, sehingga mereka menerima informasi yang relatif homogen dan mendukung keterikatannya dengan nilai-nilai budaya (Panggabean, 1996, h. 42-48).

(22)

gesellschaft atau asosiasi tidak intim terlihat pada kehidupan kota, dimana tidak ada lagi hubungan yang intim dengan keluarga dan teman (Helsin, 2007, 103). Hubungan masyarakat kota adalah impersonal, kurang saling kenal, dan temporer. Masyarakat kota lebih menggantungkan diri pada dirinya sendiri, dan kurang mengharapkan bantuan sanak saudara (Cohen, 1983, h. 318). Adanya spesialisasi pekerjaan mengakibatkan kehidupan di kota cukup komplek. Kompetisi dan konflik yang terjadi di masyarakat kota juga tinggi karena penentuan status seseorang dilihat dari prestasinya (Susanto, 1983, h. 131).

Namun dewasa ini, khususnya di Jawa, keadaan desa sudah banyak berubah. Pengaruh kota di desa sudah terasa karena komunikasi antar desa dengan kota sudah lancar (Martaniah, 1988, h. 63). Di Jawa Tengah sendiri, mulai masuknya fasilitas yang ada di kota, seperti internet, di wilayah desa membuat masyarakat desa kini dapat banyak informasi dari dunia luar (Sanomae, 2009). Namun hal tersebut membuat masyarakat desa, teruatama remaja, kini meniru budaya asing, dan mulai meninggalkan nilai budayanya sendiri, yaitu budaya Jawa(Kyurrni, 2008).

(23)

Dari uraian tersebut muncul pertanyaan apakah ada perbedaan identitas sosial sebagai orang Jawa, antara remaja Jawa di desa dan remaja di kota? Bedasarkan pertanyaan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Identitas Sosial Orang Jawa Antara Remaja Jawa di Desa dengan Remaja Jawa di Kota”.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini untuk menguji secara empiris perbedaan identitas sosial sebagai orang Jawa antara remaja Jawa di desa dengan di kota.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Memberikan sumbangan bagi pengembangan disiplin psikologi, khususnya psikologi sosial mengenai perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dengan di kota.

2. Manfaat Praktis

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Identitas Sosial Orang Jawa

1. Pengertian Identitas Sosial

Identitas sosial didefinisikan oleh Tajfel (dalam Hogg dan Abrams, 1988, h. 7) sebagai pengetahuan individu bahwa dia masuk dalam kelompok sosial tertentu termasuk beberapa emosi dan nilai yang berarti dalam keanggotaannya. Definisi yang sama diungkapkan oleh Taylor dan Moghaddam (dalam Susetyo, 2002, h. 58-65) identitas individu yang tampil dalam setiap interaksi sosial disebut dengan identitas sosial, yaitu bagian dari konsep diri individu sebagai anggota suatu kelompok sosial, dimana di dalamnya mencakup nilai dan emosi-emosi penting yang melekat dalam diri individu sebagai anggotanya.

(25)

Baron dan Byrne, 2004, 163) identitas sosial adalah sebuah definisi diri yang memandu bagaimana kita mengonseptualisasi dan mengevaluasi diri.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa identitas sosial adalah kesadaran individu akan keanggotaannya dalam kelompok sosial tertentu dan kesadaran akan nilai-nilai dan emosi-emosi yang dimiliki kelompok sosial tersebut serta menggunakannya untuk mengevaluasi diri dalam setiap interaksi sosial.

2. Pengertian Identitas Sosial Orang Jawa

Salah satu wujud dari kebudayaan adalah adat istiadat yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya (Koentjaraningrat 1986, h. 180). Menurut Koentjaraningrat (1984, h. 25) nilai budaya adalah suatu sistem nilai yang terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus dianggap bernilai dalam hidup.

Orang Jawa menurut Koentjaraningrat harus sadar bahwa hidupnya selalu bergantung dengan orang lain. Seseorang tidak hidup sendiri sehingga harus menjalin hubungan baik dengan siapapun. Bagi masyarakat Jawa etika kesusilaan merupakan dasar sikap dan perilaku agar di dalam tata hubungan antar manusia tidak menimbulkan konflik (dalam Bratawijaya, 1997, h. 82).

(26)

hendaknya bersikap sedemikian rupa hingga tidak sampai menimbulkan konflik. Prinsip kedua atau yang disebut dengan prinsip hormat menuntut agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain. Kedua prinsip itu merupakan kerangka normatif yang menentukan bentuk-bentuk konkret semua interaksi dan tuntutan dua prinsip itu selalu disadari oleh orang Jawa (Suseno, 1996, h.38).

a. Prinsip Kerukunan

Prinsip kerukunan bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Keadaan rukun terdapat dimana semua pihak berada dalam keadaan damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima, dalam suasana tenang dan sepakat (Suseno, 1996, h.39-40).

Menurut Bratawijaya (1997, h. 81) rukun berarti berada dalam keadaan selaras, penuh kedamaian, tanpa adanya pertentangan dan perselisihan. Keadaan rukun adalah dimana semua pihak berada dalam kedamaian, suka bekerja sama. Gotong royong merupakan budaya Jawa yang dilandasi adanya kerukunan hidup.

(27)

Menurut Suseno (1996, h. 58) prinsip kerukunan senantiasa menuntut kerelaan-kerelaan tertentu misalnya untuk mencegah konflik orang harus bersedia untuk menerima kompromi dan harus sering kali untuk tidak memperoleh haknya dengan sepenuhnya.

Bagi orang Jawa mengusahakan keuntungan pribadi tanpa memperhatikan persetujuan masyarakat, berusaha sendiri tanpa mengikusertakan kelompok dinilai kurang baik. Selain itu, mengambil inisiatif sendiri cenderung untuk tidak disenangi. Membuka perasaan hati begitu saja dinilai negatif, reaksi-reaksi yang memperlihatkan kekacauan batin atau kekurangan kontrol diri bagi orang Jawa terasa tidak enak. Di samping itu, suatu permintaan atautawaran tidak boleh langsung ditolakdan demikian juga sebaliknya, diharapkan bahwa tawaran-tawaran dan permintaan-permintaan jangan diajukan secara langsung melainkan perlu dijajagi dulu bagaimana keinginan itu akan diterima (Suseno, 1985, h. 40-42).

(28)

menentang kehendak orang lain secara langsung atau menunjukkan permusuhan sangat bertentangan dengan perasaannya. Setiap kelakuan yang menyimpang dari prinsip kerukunan akan berhadapan dengan perlawanan psikis yang kuat.

b.Prinsip Hormat

Prinsip hormat mengatakan bahwa setiap orang dalam bicara dan membawa diri harus selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai derajat dan kedudukannya. Prinsip ini berpendapat bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hierarkis. Pandangan itu sendiri berdasarkan cita-cita tentang suatu masyarakat yang teratur baik, dimana setiap orang mengenal tempat dan tugasnya dan dengan demikian ikut menjaga agar seluruh masyarakat merupakan suatu kesatuan yang selaras (Suseno, 1996, h.60).

Saling menghormati adalah dasar dari sikap kerukunan. Sikap hormat masyarakat Jawa dilandasi dengan cara berbicara dan membawa dirinya selalu hormat terhadap orang lain sesuai dengan tingkat dan kedudukannya masing-masing (Bratawijaya, 1997, h. 83).

(29)

1) Wedi

Wedi berarti takut, baik sebagai reaksi terhadap ancaman fisik maupun sebagai rasa takut akibat kurang enak suatu tindakan.

2) Isin

Isin berarti malu, juga berarti malu-malu, merasa bersalah dan sebagainya. Perasaan isin dapat muncul dalam semua situasi sosial kecuali di dalam lingkaran keluarga inti. Sebaliknya, semua hubungan ke luar selalu terancam oleh perasaan isin.

3) Sungkan

Sungkan adalah malu dalam arti yang lebih positif. Sungkan

digambarkan sebagai rasa hormat yang sopan terhadap atasan atau sesama yang belum dikenal dan juga digambarkan sebagai pengekangan halus terhadap kepribadian sendiri demi hormat terhadap pribadi lain.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam setiap berperilaku orang Jawa selalu berpedoman pada dua prinsip dasar, yaitu rukun dan hormat. Prinsip kerukunan mengatakan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap hingga tidak sampai menimbulkan konflik. Prinsip hormat menuntut agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain.

(30)

akan nilai-nilai budaya Jawa yang mendasarkan perilaku pada dua prinsip yaitu rukun dan hormat serta menggunakannya untuk mengevaluasi diri dalam setiap interaksi sosial.

3. Pengertian Orang Jawa

Menurut Koentjaraningrat (1984, h.4-5) orang Jawa hanya mendiami bagian tengah dan timur dari seluruh pulau Jawa. Daerah asal orang Jawa, yaitu propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan menurut Suseno (1996, h.11) yang disebut orang Jawa adalah penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa.

Namun kebudayaan Jawa yang hidup di Jawa Timur, Surabaya dan sekitarnya, oleh orang Jawa sendiri biasanya dianggap sebagai suatu sub daerah kebudayaan yang khusus. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang disebut orang Jawa adalah penduduk asli pulau Jawa yang berasal dari propinsi Jawa Tengah.

4. Kebudayaan Jawa di Jawa Tengah

(31)

pusat budaya dalam kota-kota kerajaan Surakarta dan Yogyakarta (Suseno, 1996, h. 11-12).

a. Jawa Pesisiran

Jawa pesisiran adalah suatu daerah atau wilayah kebudayaan yang pendukungnya adalah masyarakat yang proses sosialisasinya berada dan tinggal di sepanjang daerah pantai utara pulau Jawa, yang dikenal dengan

tiyang pesisiran (Thohir, 2009). Masyarakat yang tinggal di sepanjang daerah pantai utara Jawa, dikenal dengan sebutan masyarakat pesisir. Mereka yang disebut orang pesisir adalah masyarakat Jawa yang tinggal di sepanjang daerah Brebes, Tegal, Wiradesa, Pemalang, Pekalongan, Batang, Sedayu, Gresik (Thohir, 2006, h. 39). Pada sumber lain disebutkan bahwa Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara (wikipedia, 2008). Maka dapat disimpulkan, masyarakat Jawa di Semarang juga merupakan masyarakat pesisir.

sifat umum masyarakat pesisir adalah terbuka, dan lugas. Sifat-sifat ini berhubungan dengan kondisi kawasan tempat tinggal, posisi daerah pesisir yang berjauhan dengan pusat kerajaan Jawa, dan dalam sejarahnya memiliki hubungan yang intensif dengan orang-orang dari Asia Timur Tengah dalam kaitannya dengan hubungan dagang dan penyiaran Islam (Thohir, 2006, h. 40).

(32)

Jawa Pedalaman), yaitu dengan penggunaan bahasa Jawa Ngoko atau

Madya. Hal ini karena yang dipentingkan adalah pada substansi atau pesan yang ingin disampaikan sehingga terasa spontan dan langsung bukan kepada bagaimana menyampaikan (Thohir, 2009).

b. Jawa Pedalaman

Jawa pedalaman mempunyai pusat budaya dalam kota-kota kerajaan Surakarta dan Yogyakarta (Suseno, 1996, h. 12). Menurut Mulder (dalam Setyorini, 2001, h. 41-51) masyarakat Jawa pedalaman adalah masyarakat yang sangat kental dilandasi oleh nilai budaya Jawa yang dianggap halus, menekankan sopan santun, feodal, dan cenderung menghindari konflik. Budaya Jawa ini sangat ditandai oleh dorongan untuk selalu tenang, dan sabar.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Identitas Sosial Orang Jawa

Faktor-faktor yang mempengaruhi identitas sosial Menurut Berry, dkk (1999, h. 591) antara lain:

a. Generasi

Generasi tua lebih menyadari identitas asli mereka sebagai anggota kelompok tertentu.

b.Akulturasi

(33)

Menurut Susetyo (2006, h. 1-16) identitas sosial terbentuk melalui pewarisan budaya. Menurut Berry, dkk (1999, h.34) proses pewarisan budaya diantaranya adalah:

a. Enkulturasi, yaitu pelingkupan dan pengelilingan (encompassing or surrounding) budaya terhadap individu. Proses ini melibatkan orangtua, orang dewasa lain, dan teman sebaya dalam suatu jalinan pengaruh terhadap individu. Dalam proses ini tidak selalu diberikan dengan cara pengajaran khusus. Hasil akhir jika enkulturasi berhasil, individu menjadi seorang yang piawai dalam budaya, mencakup bahasa, ritual, nilai-nilai, dan lain-lain.

b.Sosialisasi, yaitu proses pembentukan individu dengan sengaja melalui cara-cara pengajaran dan terjadi dalam kelompok budaya individu sendiri. c. Resosialisasi, yaitu proses pembentukan individu dengan sengaja melalui

cara-cara pengajaran dan datang dari budaya di luar budaya individu.

d.Akulturasi, yaitu menunjuk pada perubahan budaya dan psikologis karena perjumpaan dengan orang berbudaya lain yang juga memperlihatkan perilaku yang berbeda.

(34)

Oleh sebab itu hal ini menjadi alasan mengapa penelitian dilakukan di desa dan kota.

6. Aspek-aspek Identitas Sosial Orang Jawa

Menurut Hogg dan Abrams (1988, h.19-25) aspek-aspek identitas sosial adalah:

a. Social categorization.

Pengklasifikasian orang lain berdasarkan persamaan dan perbedaan sebagai anggota dari kategori yang sama (ingroup) atau anggota dari kategori yang berbeda (outgroup)

b.Social comparison.

Serangkaian pembandingan dengan orang atau kelompok lain yang secara subyektif membantu individu membuat penilaian khusus tentang identitas sosialnya dibanding identitas sosial yang lain.

c. Social identification.

Deskripsi diri mengenai kesatuan identitas yang berasal dari keanggotaan dalam kategori sosial.

Menurut Taylor dan Moghaddam (dalam Susetyo, 2006, h.1-16) teori identitas sosial mengandung empat konsep pokok yang terdiri dari:

a. Social categorization.

(35)

b.Social identity.

Bagian dari konsep diri individu yang terbentuk karena kesadaran individu sebagai anggota dari suatu kelompok sosial, yang di dalamnya juga tercakup nilai-nilai dan emosi-emosi penting yang melekat pada diri individu sebagai anggota.

c. Social comparison.

Proses membandingkan karakteristik ingroup dengan outgroup

d.Psychological group distinctiveness.

Suatu upaya dari individu sebagai anggota suatu kelompok untuk menunjukkan bahwa kelompoknya (ingroup) memiliki identitas yang berbeda dari kelompok lain (outgroup).

Menurut Turner dan Tajfel (dalam Myers, 2005, h. 351) komponen dalam identitas sosial adalah :

a. Kategorisasi (categorize)

Proses penempatan diri seseorang sebagai anggota suatu kelompok dan bukan anggota kelompok yang lainnya.

b.Identifikasi (identify)

Proses dalam diri seseorang untuk menghubungkan diri dengan kelompok (ingroup).

c. Pembandingan (compare)

(36)

Dari uraian di atas maka penulis menyimpulkan aspek-aspek identitas sosial adalah kategorisasi sosial, identifikasi sosial, dan perbandingan sosial. Kategorisasi sosial adalah proses penempatan diri seseorang sebagai anggota suatu kelompok dan bukan anggota kelompok yang lainnya. Identifikasi sosial adalah deskripsi diri sebagai anggota dari suatu kelompok sosial, yang di dalamnya tercakup nilai-nilai dan emosi-emosi penting yang melekat pada diri individu sebagai anggota. Perbandingan sosial yaitu pembandingan karakteristik ingroup dengan outgroup yang secara subyektif membantu individu membuat penilaian khusus tentang identitas sosialnya dibanding identitas sosial yang lain.

Maka dapat disimpulkan pula bahwa aspek-aspek identitas sosial orang Jawa adalah kategorisasi sosial yaitu proses penempatan diri seseorang sebagai orang Jawa dan bukan anggota kelompok yang lainnya. Identifikasi sosial adalah deskripsi diri seseorang sebagai orang Jawa, yang di dalamnya tercakup nilai-nilai budaya Jawa yang mendasarkan perilaku pada dua prinsip yaitu rukun, dan hormat. Perbandingan sosial yaitu pembandingan karakteristik seseorang sebagai orang Jawa dengan

(37)

B. Pengertian Remaja

1. Rentang Usia Remaja

Menurut Hurlock (1980, h. 206) awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia matang secara hukum.

Masa remaja menurut Mappiare (1982, h.27) berlangsung antara usia 12 tahun sampai usia 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai 22 tahun bagi pria. Masa remaja dibagi menjadi 2 yaitu masa remaja awal yaitu dalam usia 12 atau 13 tahun sampai 17 atau 18 tahun dan remaja akhir yaitu dalam rentang usia 17 atau 18 tahun sampai 21 atau 22 tahun.

Pembagian masa remaja menurut Monks, dkk (1998, h. 262-264) ada 3, masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja pertengahan 15-18 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rentang usia remaja dimulai dari usia 12 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja dibagi menjadi dua, yaitu masa remaja awal antara usia 12 hingga 18 tahun, dan remaja akhir antara usia 18 hingga 22 tahun.

(38)

2. Masa Pencarian Identitas Pada Remaja

Identitas vs kebingungan identitas (identity vs identity confusion) adalah tahap kelima dari delapan tahap perkembangan psikososial Erikson, yang terjadi kira-kira bersamaan dengan masa remaja. Inilah saat remaja tertarik untuk mengetahui siapa dirinya, bagaimana dirinya dan kemana tujuan hidupnya (Santrock, 1995, h. 57).

Kaum muda yang berhasil mengatasi identitas-identitas yang saling bertentangan selama masa remaja ini muncul dengan suatu kepribadian baru yang menarik dan dapat diterima. Remaja yang tidak berhasil mengatasi krisis identitas ini mengalami apa yang oleh Erikson disebut ”kebingungan identitas” (identity confusion). Kebingungan ini muncul dalam satu dari dua pilihan. Individu menarik diri dari teman-teman sebaya dan keluarga, atau mereka dapat kehilangan identitas mereka dalam kelompok (Santrock, 1995, h. 57).

(39)

C. Remaja Jawa di Desa dan di Kota

1. Masyarakat desa dan masyarakat kota

a.Ciri Masyarakat Desa

Cohen (1983, h. 315) menjelaskan tentang kehidupan masyarakat desa yang dapat dilihat dari beberapa ciri kehidupan mereka, antara lain:

1) Adanya ikatan kekeluargaan yang erat.

2) Hubungan antara pribadi para anggotanya kuat dan ditandai dengan pola perilaku tradisional.

3) Memegang teguh adat.

4) Gaya hidup konservatisme dan tradisi.

5) Memegang nilai-nilai yang sama dan disosialisasikan menurut tradisi yang dianggap luhur.

Ciri-ciri masyarakat desa menurut Soekanto (dalam Soedarno, 1993, h. 83) diantaranya :

1) Rasa persatuan yang erat dan hubungan yang akrab diantara warga satu komunitas.

2) Sistem kehidupan berkelompok, atas dasar sistem kekeluargaan, maka ada keseragaman (homogenitas) penduduk berdasarkan darah keturunan.

(40)

4) Adanya semangat gotong royong.

5) Keterikatan pada adat kebiasaan relatif ketat.

Menurut Landis (dalam Setianingrum, 1997, h. 40) kecenderungan psikologis atau karakteristik orang desa adalah:

1) Punya sifat homogen dalam mata pencaharian, nilai dalam kebudayaan, sikap dan tingkah laku.

2) Hubungan sesama anggota masyarakat lebih intim.

3) Sikap otoriter dari orang tua terhadap yang lebih muda, sehingga tidak bebas mengemukakan pendapat.

4) Toleran dengan nilai-nilai yang dimiliki dan intoleran dengan nilai yang dimiliki orang lain.

5) Sikap pasrah (terhadap Yang Maha Kuasa) yang mana sangat berbeda dengan sifat manipulasi.

6) Sifat udik atau pedalaman, dimana ini sebagai akibat kurang kontak dengan dunia luar.

(41)

b.Ciri Masyarakat Kota

Cohen (1983, h. 318) menjelaskan tentang kehidupan masyarakat kota dengan ciri-ciri diantaranya:

1) Hubungan orang-orang kota adalah impersonal, kurang saling kenal, dan temporer.

2) Masyarakat kota menggantungkan diri pada diri sendiri, dan kurang mengharap bantuan sanak saudara.

3) Penduduk yang besar dan bersifat heterogen. 4) Tingginya kompetisi dan konflik.

Ciri-ciri masyarakat kota menurut Soedarno (1993, h. 85) diantaranya :

1) Hubungan relatif bersifat impersonal, karena jaringan sosial yang komplek.

2) Penduduk lebih bersifat heterogen dari segi keturunan dan latar belakang sosial budaya.

3) Adanya tuntutan kemandirian tanpa bergantung pada orang lain. 4) Kontrol dan pengendalian sosial atas perilaku masyarakat lebih bersifat

longgar.

5) Cara berpikir rasional menyebabkan interaksi yang terjadi lebih berdasarkan faktor kepentingan, bukan faktor pribadi.

6) Kehidupan di kota lebih bersifat egoisme.

(42)

Sedangkan menurut Soekanto (dalam setianingrum, 1997, h. 45) ciri atau karakteristik masyarakat kota adalah:

1) Cara hidupnya memiliki kecenderungan ke arah duniawi (secular trend), dibanding kehidupan warga desa yang cenderung ke arah agama (religious trend).

2) Masyarakat kota, umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa tergantung pada orang lain, sedangkan masyarakat desa lebih mementingkan kelompok atau keluarga.

3) Jalan pikiran yang rasional, menyebabkan interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada pribadi.

4) Perubahan sosial tampak nyata di kota, karena masyarakat kota terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

(43)

2. Pengertian Remaja Jawa di Desa dan Remaja Jawa di Kota

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa : a. Pengertian Remaja Jawa di Desa

Remaja Jawa di desa adalah penduduk asli pulau Jawa yang berasal dari propinsi Jawa Tengah atau Jawa Timur dan memiliki rentang usia antara 12 tahun hingga 22 tahun yang tinggal di wilayah pedesaan dengan lingkungan masyarakat yang memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat, kesamaan (homogenitas) dalam mata pencaharian, nilai dalam kebudayaan, sikap dan tingkah laku, serta memiliki semangat kegotong-royongan yang tinggi dan keterikatan pada adat kebiasaan.

b.Pengertian Remaja Jawa di Kota

(44)

D. Perbedaan Identitas Sosial Orang Jawa Dengan Remaja Jawa di Desa dan

Remaja Jawa di Kota

Masa remaja adalah masa pencarian identitas. Identitas pada remaja penting untuk menjawab siapakah dirinya, dan arah tujuan hidup remaja (Santrock, 1995, h. 57). Hal ini tidak terkecuali terjadi pada remaja Jawa untuk menjelaskan identitasnya sebagai orang Jawa.

Adanya akulturasi budaya menyebabkan lunturnya nilai budaya Jawa di kalangan remaja Jawa saat ini. Nilai-nilai budaya Jawa tidak lagi dipegang sepenuhnya oleh remaja Jawa. Satu penelitian oleh Susetyo (2006, h.1-6) mengungkapkan karakteristik identitas sosial orang Jawa pada subyek mahasiswa sebagian besar masih mempertimbangkan nilai rukun dan hormat sebagai pertimbangan perilaku. Hal tersebut merupakan hasil dari proses pewarisan budaya Jawa melalui enkulturasi. Pengaruh status sebagai mahasiswa nampak pada melunturnya beberapa sifat nrima, menerima keadaan apa adanya, sifat pasrah, dan menahan perasaan. Hal tersebut menunjukkan gambaran terjadinya proses akulturasi karena pengaruh budaya akademik.

(45)

(Suseno, 1996, h. 11-12). Hal ini membuat masyarakat Jawa pesisir memiliki sifat-sifat yang terbuka, dan lugas (Thohir, 2006, h.40).

Menurut Panggabean (1996, h.42-48) keterikatan dengan nilai budaya salah satunya dipengaruhi oleh unsur lingkungan. Keterikatan dengan nilai budaya pada kelompok subyek di daerah asal yang dibesarkan dan menetap di lingkungan budaya yang relatif homogen lebih tinggi karena subyek menerima informasi yang relatif homogen dan mendukung keterikatannya dengan nilai-nilai budaya.

Lingkungan homogen dan heterogen masing-masing dapat ditemui di wilayah pedesaan dan perkotaan. Desa memiliki ciri sebagai lingkungan yang homogen, dimana masyarakatnya memiliki perilaku dan cara berpikir yang sama karena adanya kontrol atau pengendalian sosial atas tingkah laku warga sangat ketat sehingga sulit terjadi perubahan. Sebaliknya, kota memiliki ciri sebagai lingkungan yang heterogen, karena masyarakatnya berasal dari latar belakang sosial budaya yang berbeda. Kontrol dan pengendalian sosial atas perilaku masyarakat kota lebih bersifat longgar sehingga memungkinkan perkembangan dan perubahan sosial lebih sering terjadi (Soedarno, 1993, h. 83).

(46)

latar belakang budaya. Melalui penjelasan yang dijabarkan di atas penulis menarik kesimpulan bahwa identitas sosial Jawa berbeda antara remaja Jawa yang tinggal di desa dan di kota.

E. Hipotesis

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel tergantung dan variabel bebas. Adapun variabel-variabel itu adalah:

1. Variabel tergantung : identitas sosial orang Jawa 2. Variabel bebas : tempat tinggal

a. Desa b. Kota

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang variabel-variabel dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan batasan operasional tiap-tiap variabel sebagai berikut :

1. Identitas Sosial Orang Jawa

(48)

Identitas sosial orang Jawa diungkap dengan angket Identitas sosial. Item-item dalam penelitian ini telah digunakan dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Susetyo (2006). Angket ini mempunyai 25 item

pernyataan, yang dimensinya menekankan pada prinsip rukun dan hormat. Makin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan makin kuatnya identitas sosial sebagai orang Jawa.

2. Tempat Tinggal (desa dan kota)

Tempat tinggal adalah wilayah domisili subyek yang diketahui melalui pengisian alamat yang ada pada identitas skala. Pemilahan wilayah tempat tinggal pada penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan skala pada dua wilayah yang berbeda.

a. Desa

Tempat tinggal di desa dalam penelitian ini berada di wilayah Kaliwungu, kabupaten Kendal. Subyek yang bertempat tinggal di desa adalah subyek yang domisilinya di wilayah Kaliwungu, kabupaten Kendal.

b. Kota

(49)

C. Populasi dan Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu ciri atau sifat yang sama (Hadi, 2000, h. 220) dari populasi ini lalu diambil contoh atau sampel yang mewakili populasi. Populasi yang dipakai dalam penelitian ini untuk wilayah desa adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah Kaliwungu, kabupaten Kendal dan untuk wilayah kota adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kota Semarang, dengan ciri-ciri sebagai berikut :

a. Berusia 12- 22 tahun.

b.Kedua orangtuanya adalah orang Jawa

2. Sampel

(50)

D. Metode Pengumpulan Data

1. Alat Ukur

Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang akan diselidiki. Pada penelitian ini metode yang dipakai adalah metode skala. Metode skala menggunakan self-report berisi daftar pernyataan yang harus dijawab responden (Azwar, 1998, h.95). Skala memiliki karakteristik khusus, menurut Azwar (1999, h. 3) karakteristik itu adalah :

a. Stimulus berupa pernyataan, jawaban yang diberikan subyek tergantung pada interpretasi subyek pada pernyataan tersebut, dan jawabannya bersifat proyektif yaitu gambaran dari perasaan atau kepribadiannya.

b.Atribut psikologis diungkap secara tidak langsung lewat indikator perilaku dan indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk item-item, jawaban responden terhadap satu item merupakan sebagian dari banyak indikasi mengenai atribut yang diukur. Kesimpulan akhir sebagai suatu diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah direspon.

(51)

Sebagaimana telah diungkapkan di atas maka skala yang digunakan dalam penelitian ini bersifat langsung yaitu daftar pernyataan langsung diberikan kepada responden.

Data mengenai masyarakat desa, kota, suku didapatkan melalui identitas yang dituliskan oleh responden pada lembar pertama skala. Melalui pengisian identitas diri ini bisa diketahui bahwa responden adalah orang Jawa, di wilayah desa atau kota.

2. Blue Print dan Cara Penilaian

Pada penelitian ini, untuk mengungkap identitas sosial digunakan skala identitas sosial orang Jawa yang terdiri dari dimensi rukun dan hormat.

1) Prinsip kerukunan mengatakan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap hingga tidak sampai menimbulkan konflik.

2) Prinsip hormat menuntut agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain.

(52)

Tabel 1

Blue Print Skala Identitas Sosial Orang Jawa

Dimensi Jumlah Item

Rukun 14

Hormat 11

Total 25

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

1. Validitas Alat Ukur

Suatu alat ukur dikatakan valid jika dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (Hadi, 2000, h. 102). Ditambahkan Azwar (1986, h. 7) validitas alat ukur adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur mengukur apa yang seharusnya diukur.

Untuk mengetahui validitas suatu item dapat digunakan suatu cara, yaitu dengan mengkorelasikan skor yang diperoleh pada setiap item dengan skor totalnya. Dalam hal ini koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan kesesuaian antara fungsi item dengan fungsi alat ukur tes secara keseluruhan. Oleh Azwar (1997, h.71) hal ini disebut validitas item.

Pada penelitian ini digunakan adalah teknik korelasi Product Moment

(53)

(

)( )

r : koefisien korelasi antara skor item dengan skor total

X

∑ : jumlah skor item

Y

∑ : jumlah skor total

XY

∑ : jumlah total perkalian antara skor item dengan skor total N : jumlah subyek

2. Reliabilitas Alat Ukur

Alat ukur dapat dikatakan reliabel bila mampu menunjukkan sejauh mana alat ukur itu memberi hasil yang relatif sama apabila dilakukan pengukuran kembali pada subyek yang sama (Azwar, 1998, h. 4). Menurut Sugiyono (dalam Mayasari, 2007, h.32) menyatakan bahwa instrumen yang berbentuk esai atau skala Likert digunakan teknik Alpha dari Cronbach. Adapun untuk mengetahui reliabilitas skala identitas sosial, digunakan koefisien Alpha Cronbach dengan rumus :

(54)

F. Metode Analisis Data

Santoso dan Tjiptono (dalam Mayasari, 2007, h. 33) menyatakan bahwa setelah data terkumpul tahap selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap data tersebut, yang tentunya disesuaikan dengan tujuan dari riset yang dilakukan. Pada tahap inilah data diolah sedemikian rupa sehingga berhasil disimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian.

Metode analisis data pada penelitian ini adalah untuk melihat tingkat perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dan di kota, digunakan teknik analisis uji-t dengan rumus sebagai berikut :

(

)

(

)

x rata-rata identitas sosial remaja desa :

2

x rata-rata identitas sosial remaja kota :

1

S standar deviasi identitas sosial remaja desa :

2

S standar deviasi identitas sosial remaja kota :

1

n jumlah subyek remaja desa :

2

n jumlah subyek remaja kota 1 : angka konstan

Pada proses analisis data menggunakan alat bantu komputer dengan program

(55)

BAB IV

PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian

1. Orientasi Kancah

Langkah pertama yang dilakukan sebelum mengadakan penelitian adalah menentukan kancah atau tempat penelitian untuk memberikan gambaran singkat secara menyeluruh mengenai kondisi khas dari tempat penelitian dan segala persiapan penelitian yang dilakukan. Karena penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dengan remaja Jawa di kota, maka penelitian ini dilakukan di dua tempat, yaitu di kabupaten Kendal dan kota Semarang. Penelitian dilakukan di kedua wilayah tersebut atas dasar persamaan letak kedua wilayah tersebut yang ada di Jawa Tengah, dan letaknya di daerah pesisir Jawa tengah. Penelitian dilakukan di dua SMA Negeri, yaitu SMA 1 Kaliwungu untuk pengambilan subyek remaja desa dan SMA 6 Semarang untuk pengambilan subyek remaja kota.

(56)

Kaliwungu adalah remaja-remaja yang tinggal di sekitar wilayah tersebut. Selain itu, mayoritas siswa dari sekolah tersebut merupakan suku Jawa. Penentuan kancah penelitian di SMA 6 Semarang adalah karena sekolah tersebut berada di wilayah perkotaan. SMA 6 Semarang berada di Jl. Ronggolawe Barat No. 4, Semarang Barat, kota Semarang. Status SMA 6 yang merupakan salah satu SMA favorit saat ini membuat banyak remaja yang bertempat tinggal di wilayah tengah kota juga bersekolah di SMA tersebut. Jumlah mayoritas siswa yang bersuku Jawa di sekolah ini juga menjadi dasar pertimbangan.

Pertimbangan lain yang mendasari peneliti melakukan penelitian di kedua SMA Negeri tersebut adalah peneliti mendapat ijin untuk melakukan penelitian di dua sekolah tersebut. Selain itu juga di dua sekolah tersebut belum pernah dilakukan penelitian dengan topik sejenis.

2. Persiapan Penelitian

Persiapan penelitian dimulai dengan penyusunan alat ukur dan mempersiapkan masalah administrasi yang berkaitan dengan perijinan penelitian.

a. Penyusunan Skala

(57)

item pernyataan, yang dimensinya menekankan pada prinsip rukun dan hormat. Item-item dari skala identitas sosial orang Jawa ini adalah:

1. Saya orang yang senang bergotong royong 2. Saya orang yang nrimo

3. Saya orang yang senang menjaga harmoni

4. Saya menahan diri ketika sedang menghadapi konflik dengan orang lain

5. Saya orang yang ramah

6. Saya kurang dapat bersikap tegas 7. Saya menerima keadaan apa adanya 8. Saya orang yang pasrah

9. Saya mudah bergaul

10.Saya perduli terhadap lingkungan 11.Saya orang yang kalem

12.Saya orang yang lemah lembut 13.Saya menjunjung tinggi sopan santun

14.Saya sungkan ketika menghadapi orang lain yang lebih tinggi kedudukan sosialnya

15.Saya orang yang setia kawan

16.Saya bersikap hormat pada orang yang lebih tua 17.Saya memiliki toleransi yang tinggi

18.Saya senang berada dalam suasana yang tenang dan tentram 19.Saya suka bekerjasama

20.Saya menyukai suasana kekeluargaan

21.Saya mudah sungkan ketika menghadapi orang yang baru saya kenal 22.Saya malu ketika bertindak tidak sopan

23.Saya takut membuat orang lain tersinggung

(58)

25.Saya kurang tegas ketika harus memutuskan

Tabel 2

Sebaran Item Skala Identitas Sosial Orang Jawa

Dimensi Item Jumlah

Rukun 1,2,3,4,6,7,8,9,10,13,17,18,20,25 14 Hormat 5,11,12,14,15,16,19,21,22,23,24 11

Total item 25

Alat ukur berdasarkan dimensi identitas sosial orang Jawa tersebut didalamnya juga mencakup aspek-aspek identitas sosial sebagai orang Jawa. Aspek-aspek tersebut adalah kategorisasi sosial yaitu proses penempatan diri seseorang sebagai orang Jawa dan bukan anggota kelompok yang lainnya, identifikasi sosial adalah deskripsi diri seseorang sebagai orang Jawa, yang di dalamnya tercakup nilai-nilai budaya Jawa yang mendasarkan perilaku pada dua prinsip yaitu rukun, dan hormat, serta perbandingan sosial yaitu pembandingan karakteristik seseorang sebagai orang Jawa dengan

(59)

b. Perijinan Penelitian

Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan suatu penelitian adalah mendapatkan ijin dari pihak-pihak terkait. Sehubungan dengan syarat tersebut dan sesuai dengan prosedur yang ada, maka sebelum melakukan penelitian ini peneliti mendapatkan surat pengantar dari Dekan fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata. Surat ijin penelitian tersebut adalah:

1. Surat permohonan ijin penelitian dari Dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang bernomor 857/B.7.3/FP/VII/2009 pada tanggal 10 Juli 2009 yang ditujukan kepada Dinas Pendidikan Kota Semarang. Kemudian, dari Dinas Pendidikan Kota Semarang memberikan surat ijin untuk melakukan penelitian di SMA 6 Semarang dengan nomor 070/3746 pada tanggal 13 Juli 2009.

(60)

Agustus 2009, serta surat ijin dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kendal nomor 070/335/Bppd tanggal 24 Agustus 2009. Setelah itu, peneliti mendapat surat ijin dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kendal nomor 070/1034/DIKPORA pada tanggal 24 Agustus 2009 untuk melakukan penelitian di SMA 1 Kaliwungu Kendal.

B. Pelaksanaan Penelitian

Peneliti melakukan pemilahan masyarakat desa dan kota dengan cara menyebarkan skala identitas sosial orang Jawa di dua tempat yang berbeda, yaitu di SMA 1 Kaliwungu yang terletak di wilayah kabupaten Kendal dan di SMA 6 Semarang yang terletak di wilayah kota Semarang. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode try out terpakai. Pada metode try out terpakai, penyebaran skala atau pengambilan data hanya dilakukan satu kali saja, dalam arti data subyek yang telah digunakan untuk uji coba juga akan digunakan sebagai data penelitian. Peneliti memakai try out terpakai mengingat alat ukur sudah pernah digunakan pada penelitian sebelumnya dan terbatasnya waktu.

1. SMA 1 Kaliwungu

(61)

Politik dan Linmas Kabupaten Kendal dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kendal. Penelitian dilakukan tanggal 27 Agustus 2009.

Dalam penelitian ini, pemberian skala dilakukan oleh peneliti sendiri, mulai dari pemberian instruksi hingga pengumpulan kembali skala yang sudah diisi. Pada saat pemberian instruksi, peneliti menekankan kembali pada cara memilih pernyataan, dimana nilai 1 menunjukkan respon yang sangat tidak sesuai dengan kondisi subyek, dan nilai yang tertinggi 7,menunjukkan respon yang sangat sesuai dengan kondisi subyek. Peneliti mengambil sampel di dua kelas, yaitu kelas X.F dan kelas XI IPA 2. Masing-masing kelas memiliki jumlah siswa yang sama yaitu 38 siswa. Skala identitas sosial orang Jawa ini dibagikan kepada siswa di dua kelas tersebut. Setiap subyek diharapkan mengisi skala tersebut dan dikembalikan kepada peneliti. Skala tersebut rata-rata diisi oleh subyek selama 10 menit. Skala identitas sosial orang Jawa yang dibagikan sejumlah 76 eksemplar dan semua skala terkumpul kembali. Skala yang memenuhi syarat penelitian ini sejumlah 76 eksemplar.

2. SMA 6 Semarang

(62)

Dalam penelitian ini, pemberian skala juga dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam instruksi yang diberikan sendiri, peneliti menekankan kembali pada cara memilih pernyataan, dimana nilai 1 menunjukkan respon yang sangat tidak sesuai dengan kondisi subyek, dan nilai yang tertinggi 7,menunjukkan respon yang sangat sesuai dengan kondisi subyek. Peneliti mengambil sampel di tiga kelas, yaitu kelas X.6, X.8 dan kelas X.9. Masing-masing kelas memiliki jumlah siswa yang sama yaitu 36 siswa. Skala dikerjakan oleh subyek selama kurang lebih 10 menit. Skala yang dibagikan sejumlah 100 eksemplar dan semua terkumpul kembali. Namun yang digunakan oleh penulis sebagai data penelitian hanya 82 eksemplar, karena yang lain tidak memenuhi syarat penelitian ini.

C. Uji Validitas dan Reliabilitas

Supaya mendapatkan data penelitian yang dapat diandalkan, maka setelah semua data terkumpul dilakukan perhitungan validitas dan reliabilitas menggunakan alat bantu SPSS forWindosversion 13.0.

1. Hasil Uji Validitas

(63)

Tabel 3

Sebaran Item Valid dan Gugur Skala Indentitas Sosial Orang Jawa

Dimensi Item Item Valid

Item Gugur

Rukun 1,2,3,4*,6*,7,8*,9*,10,13,17,18,20,25* 9 5 Hormat 5,11,12,14*,15,16,19,21,22,23,24 10 1

Total item 19 6

Keterangan : )* item yang dinyatakan tidak valid

2. Hasil Uji Reliabilitas

(64)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Sebelum dilakukan analisa data, perlu diketahui dahulu tentang uji asumsi yang dilakukan sebagai syarat untuk dapat menggunakan teknik statistik. Uji asumsi yang digunakan adalah uji normalitas, dan uji homogenitas. Uji normalitas diperlukan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari populasi yang sama. Dan uji homogenitas untuk mengetahui apakah varian dari kelompok ini sama. Kedua uji tersebut menggunakan alat bantu SPSS for Windows version

13.0.

1. Uji Normalitas

Data diuji dengan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Dengan hasil variabel identitas sosial orang Jawa menunjukkan nilai K-S Z = 0,887 dengan p = 0,411 (p > 0,05) menunjukkan distribusinya normal. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat di lampiran 5.

2. Uji Homogenitas

Data uji dengan teknik Levene’s Test For Equality Of Variances

(65)

3. Analisis Data

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas maka dilakukan analisis data. Analisis data di sini menggunakan alat bantu SPSS for Windows version 13.0. Hipotesis diuji dengan menggunakan analisa t-test yang menunjukkan hasil t = 3,734; p < 0,05, sedangkan hasil dari rata-rata identitas sosial orang Jawa remaja desa 103,67 dan rata-rata identitas sosial orang Jawa remaja kota adalah 96,37. Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan identitas sosial orang Jawa yang signifikan antara remaja Jawa di desa dengan remaja Jawa di kota. Dari uji rerata antar kelompok didapat bahwa remaja Jawa di desa lebih menampakkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota. Hasil analisa uji-t selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil uji hipotesis yang diperoleh, diketahui bahwa terdapat perbedaan antara identitas sosial orang Jawa pada remaja Jawa di desa dengan identitas sosial orang Jawa pada remaja Jawa di kota. Dengan hasil penelitian ini berarti hipotesis penelitian terbukti dan dapat diterima. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji hipotesis yang menunjukkan t-test sebesar 3,734, p = 0,00 (p < 0,05).

(66)

dimiliki kelompok sosial tersebut serta menggunakannya untuk mengevaluasi diri dalam setiap interaksi sosial. Identitas sosial sebagai orang Jawa merupakan kesadaran seseorang sebagai orang Jawa. Kesadaran sebagai orang Jawa ini akan mempengaruhi perilaku orang Jawa dalam setiap interaksi sosialnya. Nilai rukun dan hormat merupakan dasar dari setiap perilaku orang Jawa yang sadar akan identitasnya sebagai orang Jawa.

Diterimanya hipotesis ini berarti pada remaja Jawa di desa lebih menampakkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota.Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat Panggabean (1996, h. 42-48) bahwa keterikatan dengan budaya pada masyarakat yang dibesarkan dan menetap di lingkungan budaya yang relatif homogen lebih tinggi, sehingga masyarakat tersebut menerima informasi yang relatif homogen dan mendukung keterikatannya dengan nilai-nilai budaya. Hal ini karena remaja Jawa di desa tinggal dalam suatu lingkungan yang homogen. Lingkungan homogen merupakan salah satu ciri masyarakat desa.

(67)

Menurut Berry, dkk (1999, h.34) enkulturasi, yaitu pelingkupan dan pengelilingan (encompassing or surrounding) budaya terhadap individu yang melibatkan orangtua, orang dewasa lain, dan teman sebaya dalam suatu jalinan pengaruh terhadap individu. Remaja Jawa di desa diajarkan oleh orangtua, orang dewasa lain, dan teman sebaya tentang budayanya sendiri, dalam hal ini kebudayaan Jawa. Hal inilah yang menyebabkan remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa.

Hal sebaliknya terjadi pada remaja Jawa di kota. Remaja di kota tinggal dalam lingkungan heterogen yang merupakan salah satu ciri dari masyarakat kota. Menurut Soedarno (1993, h. 85) masyarakat kota lebih bersifat heterogen dari segi keturunan dan latar belakang sosial budaya. Karena tinggal di lingkungan yang terdiri dari bermacam-macam kebudayaan, maka proses akulturasi terjadi di sini. Akulturasi menurut Berry, dkk (1999, h.34), menunjuk pada perubahan budaya dan psikologis karena perjumpaan dengan orang berbudaya lain yang juga memperlihatkan perilaku yang berbeda. Remaja Jawa di kota tidak hanya belajar dan memperoleh pewarisan budaya Jawa saja, tetapi juga banyak belajar kebudayaan lain karena di kota terdiri dari bermacam-macam latar belakang kebudayaan. Hal ini menyebabkan remaja Jawa di kota kurang menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa.

(68)

Tabel 4

Persentase Kesesuaian Perilaku Subyek dengan Nilai-Nilai Budaya Jawa

No. Pernyataan Remaja

desa

Remaja kota

1 Saya orang yang senang bergotong royong 60.53 54.88

2 Saya orang yang nrimo 52.63 47.56

3 Saya orang yang senang menjaga harmoni 88.16 69.51

5 Saya orang yang ramah 75.00 57.32

7 Saya menerima keadaan apa adanya 64.47 60.98 10 Saya perduli terhadap lingkungan 80.26 57.32 11 Saya orang yang kalem 43.42 35.37 12 Saya orang yang lemah lembut 43.42 26.83 13 Saya menjunjung tinggi sopan santun 89.47 80.49 15 Saya orang yang setia kawan 98.68 86.59 16 Saya bersikap hormat pada orang yang lebih tua 93.42 95.12 17 Saya memiliki toleransi yang tinggi 82.89 64.63 18 Saya senang berada dalam suasana yang tenang dan

tentram 89.47 79.27

19 Saya suka bekerjasama 85.53 82.93 20 Saya menyukai suasana kekeluargaan 96.05 84.15 21 Saya mudah sungkan ketika menghadapi orang yang

baru saya kenal 56.58 59.76

22 Saya malu ketika bertindak tidak sopan 92.11 80.49 23 Saya takut membuat orang lain tersinggung 89.47 73.17 24 Saya menyampaikan keinginan dengan cara kurang

terbuka 52.63 43.90

Karakteristik bahasa yang digunakan oleh kedua kelompok subyek adalah sebagai berikut :

1. Subyek remaja Jawa di desa

a. Bahasa di rumah : Jawa = 61 (80,26 %)

Jawa-Indonesia = 13 (17,11 %)

(69)

b. Bahasa di pergaulan : Jawa = 34 (44,74 %)

Jawa-Indonesia = 37 (48,68 %)

Indonesia = 5 (6,58 %)

2. Subyek remaja Jawa di kota

a. Bahasa di rumah : Jawa = 31 (37,80 %)

Jawa-Indonesia = 22 (26,83 %)

Indonesia = 29 (35,37 %)

b. Bahasa di pergaulan : Jawa = 21 (25,61 %)

Jawa-Indonesia = 42 (51,22 %)

Indonesia = 19 (23,17 %)

Dari tabel tersebut dapat dilihat, pada item-item yang mencerminkan perilaku yang didasari prinsip kerukunan yaitu nomor 1,2,3,7,10,13,17,18,20 persentase jumlah subyek yang merespon sesuai dengan item-item tersebut berbeda antara remaja Jawa di desa dengan di kota. Persentase remaja Jawa di desa yang merespon sesuai dengan item-item tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan remaja Jawa di kota. Hal ini menunjukkan bahwa remaja Jawa di desa lebih mempertimbangkan perilakunya sehingga tetap bisa menjaga kerukunan dengan sesama.

(70)

Jawa di desa lebih mempertimbangkan perilakunya agar tetap menunjukkan sikap hormat di masyarakat.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa persentase yang cukup jauh berbeda antara subyek remaja desa dan kota terjadi pada item-item nomor 3,5,10,17,18,23. Berdasarkan item-item tersebut dapat digambarkan bahwa remaja Jawa di desa lebih menjaga harmoni di dalam hidup bermasyarakat, lebih ramah, lebih peduli terhadap lingkungan, memiliki toleransi yang lebih tinggi, suka pada suasana yang tenang dan tentram, dan lebih takut membuat orang lain tersinggung.

Hasil yang menunjukkan kedua kelompok subyek tersebut sama-sama memiliki persentase yang rendah yaitu di bawah 50% adalah pada item-item nomor 11,12. Dari hasil persentase yang di peroleh pada kedua kelompok tersebut menggambarkan baik di remaja desa maupun remaja kota sekarang ini lebih tegas dalam bersikap. Hal ini juga didukung skor pada item nomor 2,7,21,24, yang menunjukkan bahwa sifat menerima keadaan apa adanya,

(71)

masyarakat pesisir yang terbuka, dan lugas, juga mempengaruhi hasil subyek dalam megisi skala (Thohir, 2006, h. 40).

Di sisi lain ternyata pada remaja desa dan kota masih menunjukkan persentase yang sama-sama tinggi di item-item nomor 13,15,16,19,20,22. Hal ini menggambarkan bahwa pada kedua kelompok subyek masih menjunjung tinggi sopan santun, rasa setia kawan, dan sikap hormat pada orang yang lebih tua. Selain itu, kedua kelompok subyek juga menyukai suasana kerjasama dan kekeluargaan. Hal ini juga didukung oleh item nomor 1 dimana kedua kelompok subyek menunjukkan persentase di atas 50% untuk pernyataan senang bergotong royong.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada kedua kelompok subyek masih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa, namun dengan tingkat yang berbeda. Remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitasnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota. Namun perbedaan tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh bila melihat kembali nilai rata-rata identitas sosial orang Jawa pada remaja desa sebesar 103,67 dan nilai rata-rata identitias sosial orang Jawa pada remaja kota sebesar 96,37, dengan mean difference sebesar 7,30.

(72)

untuk berpikir, dan menampilkan identitas diri (Takwin, 2002, h. 1-13). Bahasa daerah merupakan salah satu pilar kebudayaan yang juga mencerminkan identitas masyarakat yang menggunakannya (Widi, 2007). Persentase penggunaan bahasa Jawa di rumah pada remaja desa lebih tinggi daripada remaja kota. Hal ini membuat remaja desa lebih menampakkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa. Remaja Jawa di desa tampil menjadi remaja yang lebih Njawani dibanding remaja Jawa di kota karena dengan bahasa Jawa dan lingkungan yang cenderung homogen dalam nilai kebudayaan, orangtua mereka lebih mudah mengajarkan tentang budaya Jawa. Penggunaan bahasa Jawa-Indonesia pada pergaulan memungkinkan remaja baik di desa maupun di kota belajar kebudayaan lain selain budaya Jawa. Karena melalui bahasa, pengaruh sosial masuk dalam diri individu. Hal ini yang membuat proses akulturasi dapat terjadi, dimana selain belajar budaya sendiri, remaja ini juga bisa belajar banyak tentang budaya lain dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa menjadi instrumen dominan bagi manusia. Berbagai hasil peradaban dan kebudayaan disosialisasikan melalui bahasa (Takwin, 2002, h. 1-13).

Penelitian ini masih mempunyai kelemahan. Kelemahan-kelemahan tersebut diantaranya :

(73)

2. Tidak adanya instruksi dalam skala yang dapat membantu subyek menyadari identitas sosialnya sebagai orang Jawa, memungkinkan subyek menjawab skala tersebut tanpa dilandasi adanya kesadaran identitas sosialnya sebagai orang Jawa.

(74)

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini berguna untuk menguji secara empiris perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dengan remaja Jawa di kota. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan identitas sosial orang Jawa antara remaja Jawa di desa dengan remaja Jawa di kota. Dimana remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota.

Hasil dalam data deskriptif juga dapat disimpulkan bahwa remaja Jawa di desa lebih menunjukkan identitas sosialnya sebagai orang Jawa daripada remaja Jawa di kota. Namun adanya pengaruh akulturasi, baik pada remaja desa maupun kota, sama-sama lebih tegas dalam bersikap, dan tidak lagi menjadi orang yang terlalu pasrah. Sifat menerima keadaan apa adanya, nrimo, dan sungkan tidak lagi dijadikan pegangan. Kedua kelompok subyek menunjukkan sifat yang lebih asertif.

B.Saran

(75)

1. Bagi masyarakat

Berdasarkan hasil penelitian dan menelaah teori, disarankan bagi masyarakat, untuk tetap dapat melestarikan kebudayaan Jawa, sebaiknya tetap mengajarkan kebudayaan Jawa tersebut pada remaja. Hal ini khususnya untuk para orang tua. Salah satu caranya adalah tetap mengajarkan bahasa Jawa pada anak-anak di jaman sekarang ini. Hal ini karena bahasa daerah merupakan salah satu pilar kebudayaan yang juga mencerminkan identitas masyarakat yang menggunakannya.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi pengaruh budaya lain yang menyebabkan remaja tidak lagi mengenal kebudayaan Jawa. Cara yang dapat dilakukan adalah mengenalkan seni budaya Jawa seperti tari, gamelan, dan lainnya kepada remaja karena tampaknya remaja saat ini sudah kurang mengenal seni budayanya sendiri. Hal yang dapat dilakukan adalah mengenalkan seni budaya Jawa tersebut dengan cara yang lebih menarik sehingga dapat lebih disukai remaja.

2. Bagi peneliti selanjutnya

(76)

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 1986. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset

. 1998. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi ke-3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Baron, R. A., Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial : Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Berry, J.W., Poortinga, Y.H., Segall, M.H., Dassen, P.R. 1999. Psikologi Lintas Budaya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Bratawijaya, T.W. 1997. Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa. Jakarta: Pradnya Paramita

Cohen, B.J. 1983. Sosiologi suatu pengantar. Alih bahasa. Sahat Simamora. Jakarta: Bina Aksara

Darwis, R. S. 2008. Solidaritas Sosial Masyarakat di Daerah Sekitar Industri,

darwis.wordpress.com (25 April 2008)

Endraswara, S. 2003. Falsafah Hidup Jawa. Tangerang : Penerbit Cakrawala

Hadi, S. 1986 . Metodologi Research : Jilid 1. Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

, S. 2000 . Statistik : Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset

Handayani, C.S., Novianto, A. 2004. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LkiS

Helsin, J. M. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi: Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Gambar

Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3 Sebaran Item Valid dan Gugur
Tabel 4

Referensi

Dokumen terkait