BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
dan hukum Internasional pada khususnya;
b. Hasil penelitian hukum ini diharapkan dapat memperkaya referensi dan literatur dalam dunia kepustakaan tentang aturan hukum perompakan kapal laut menurut hukum internasional;
c. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan terhadap penelitian-penelitian sejenis untuk tahap berikutnya.
2. Manfaat praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini berkaitan dengan pemecahan suatu masalah. Manfaat praktis dari penelitian ini sebagai berikut :
commit to user
a. Menjadi wahana bagi penulis untuk mengembangkan penalaran dan membentuk pola pikir sekaligus mengetahui kemampuan peniliti dalam penerapan ilmu yang diperoleh.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada semua pihak yang membutuhkan pengetahuan terkait dengan permasalahan yang diteliti dan dapat dipakai sebagai sarana efektif dan memadai dalam upaya mempelajari dan memahami ilmu hukum, khususnya hukum laut internasional.
E. Metode Penelitian
Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 35).
Sesuai urgensi penelitian hukum untuk menghasilkan suatu argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah, maka diperlukan metode penelitian sebagai rangkaian langkah untuk mencapai preskripsi penelitian hukum. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah sebagai berikut:
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang penulis pergunakan dalam penyusunan kajian penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Bahan-bahan tersebut disusun secara sistematis, dikaji kemudian ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti.
Penelitian yang dikaji penulis seiring dengan definisi dari penelitian hukum normatif, diteliti dan disusun secara sistematis dengan menggunakan bahan pustaka, baik bahan hukum primer seperti, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier untuk selanjutnya ditarik suatu kesimpulan dengan masalah yang diteliti. Telaah terhadap unsur hukum yang dimaksud dalam
commit to user
penelitian hukum ini bertujuan untuk mengetahui unsur yurisdiksi yang terdapat dalam kasus perompakan kapal di perairan laut lepas secara normatif.
2. Sifat penelitian
Sifat penelitian hukum adalah sejalan dengan sifat hukum itu sendiri. Ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan. Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. Sifat preskriptif keilmuan hukum ini merupakan sesuatu yang substansial di dalam ilmu hukum. Hal ini tidak akan mungkin dapat dipelajari oleh disiplin lain yang obyeknya juga hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 22).
Sifat preskriptif yang peneliti analisis adalah aturan hukum internasional yang seharusnya diterapkan dalam kasus perompakan Sinar Kudus MV yakni dengan menerapkan yurisdiksi yang melekat terhadap kasus tersebut.
3. Pendekatan penelitian
Menurut Peter Mahmud Marzuki, pendekatan penelitian hukum terdapat beberapa macam pendekatan. Melalui pendekatan tersebut, penulis akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabannya. Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum adalah pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan komparatif (comparative approach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach) (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 93).
Penelitian hukum ini akan menggunakan pendekatan undang-undang (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach). Pendekatan undang-undang (statue approach) digunakan dengan menelaah isu hukum yang diangkat dikaitkan dengan aturan-aturan yang terdapat pada UNCLOS 1982, Convention on the High Seas 1958 (CHS 1958), Convention for the
Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Maritime Navigation
commit to user
Selain hal tersebut, penulis menggunakan pendekatan kasus (case
approach) melalui penelaahan penerapan yurisdiksi dalam kasus perompakan
kapal Sinar Kudus MV yang terjadi pada tahun 2011. 4. Jenis bahan hukum
Penelitian hukum memerlukan sumber penelitian untuk memecahkan isu hukum sekaligus memberikan preskripsi mengenai yang seyogyanya. Menurut Peter Mahmud Marzuki, sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber penelitian yang berupa bahan hukum primer, bahan-bahan hukum sekunder dan bahan-bahan-bahan-bahan hukum tersier (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 141).
a. Bahan hukum primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 141). Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan bahan hukum primer seperti :
1) Convention on the High Seas 1958
2) United Nations Convention on the Law of the Sea 1982;
3) Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of
Maritime Navigation 1988 (SUA 1988)
4) Resolusi Dewan Keamanan PBB
5) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 141).
commit to user
Bahan hukum sekunder yang digunakan sebagai pendukung untuk menelaah segala isu hukum dalam penelitian ini diantaranya adalah dokumen publik dan catatan resmi (public documents and officials
records) yaitu dokumen peraturan perundangan yang berkaitan dengan
perompakan di laut lepas dalam ranah hukum. Selain itu penulis memperoleh bahan hukum dari buku-buku teks, jurnal-jurnal, artikel, penelitian terdahulu, media elektronik serta media massa yang mengulas mengenai perompakan di laut lepas yang dimaksud serta sumber lain yang memiliki korelasi untuk mendukung penelitian ini.
Bahan hukum sekunder yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku, jurnal, dan teks yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji. Bahan hukum sekunder yang dipakai penulis dalam hal ini antara lain :
1) Jurnal-jurnal, antara lain:
a) Lucas Bento.2011. “Toward An International Law of Piracy Sui Generis: How the Dual Nature of Maritime Piracy Law Enables Piracy to Flourish”. Berkeley Journal of International Law. Vol. 29 No. 2
b) Tri Setyawan R. 2005. “Pengaturan Hukum Penanggulangan Pembajakan dan Perompakan Laut di Wilayah Perairan Indonesia”. Media Hukum/Vol.V/No1/Januari - Maret/ 2005 No
ISSN 1411-3759.
2) Buku teks mengenai hukum Internasional:
a) D.J Harris tahun 1998 dengan judul Cases and Materials on
International Law diterbitkan oleh Sweet and Maxwell Limited,
London
b) J.G Starke. Tahun 2009 dengan judul Pengantar Hukum
Internasional diterbitkan oleh Sinar Grafika, Jakarta.
c. Bahan Hukum Tersier yakni bahan hukum yang bersifat menunjang bahan hukum primer dan sekunder. Dalam penelitian, peneiliti menggunakan bahan hukum tersier berupa Blacks Law Dictionary.
commit to user
5. Teknik pengumpulan bahan hukumTeknik pengumpulan bahan hukum dalam penelitian hukum ini adalah menggunakan teknik studi pustaka. Pengumpulan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier diinventarisasi dan diklasifikasi dengan menyesuaikan masalah yang dibahas dipaparkan, di sistemisasi, kemudian dianalisis untuk menginterpretasikan hukum yang berlaku (Johny Ibrahim, 2006: 296).
6. Teknik analisis bahan hukum
Analisis bahan hukum ini menggunakan metode deduktif dalam penalaran hukum. Metode deduksi ini berpangkal dari pengajuan premis mayor dan kemudian diajukan premis minor. Dari kedua premis ini kemudian ditarik suatu kesimpulan atau conclusion (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 47). Analisis yang digunakan penulis melalui metode deduksi ini berupa penyajian premis mayor terkait konsep menurut peraturan dalam aturan hukum internasional tentang perompakan di laut lepas kemudian premis minor ditunjukkan dengan penerapan yurisdiksi dalam kasus perompakan terhadap kapal Sinar Kudus MV di laut lepas. Kesimpulan yang diperoleh dari kedua premis yakni tidak digunakannya penerapan yurisdiksi yang diatur dalam hukum internasional terhadap kasus perompakan kapal Sinar Kudus MV.
F. Sistematika Penulisan Hukum
Penulisan hukum ini terdiri dari empat bab, yang tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian agar memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian ini. Sistematika penulisan hukum yang dimaksud adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode penelitian. Metode penelitian terdiri atas jenis penelitian, sifat penelitian, pendekatan penelitian, sumber penelitian hukum, teknik pengumpulan bahan hukum, dan teknik analisis bahan hukum.
commit to user
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Berisi kerangka teori dan kerangka pemikiran. Kerangka teori terdiri dari teori-teori yang relevan dengan penelitian hukum ini yakni: Tinjauan terhadap pembagian wilayah laut berdasarkan UNCLOS 1982, tinjauan tentang yurisdiksi, tinjauan tentang jenis-jenis kapal laut, tinjauan tentang status kapal laut di laut lepas, tinjauan tentang perompakan kapal laut.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berisi hasil penelitian dan pembahasan guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang aturan-aturan hukum dalam penyelesaian terhadap perompakan di laut lepas yang dikaitkan dengan penerapan yurisdiksi dalam kasus perompakan Kapal Sinar Kudus MV.
BAB IV : PENUTUP
Berisi simpulan yang merujuk dari hasil penelitian dan pembahasan serta saran yang diajukan penulis terkait simpulan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
commit to user
BAB IITINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
Sebuah tinjauan pustaka berguna sebagai dasar teori dalam penulisan hukum, maka penulis dalam Bab ini akan menguraikan beberapa teori yang menjadi dasar teori dalam penulisan hukum ini seperti pembagian laut menurut UNCLOS 1982, yurisdiksi, jenis-jenis kapal, status kapal dan perompakan. Selain hal tersebut, dalam Bab ini penulis mencantumkan sebuah kerangka pemikiran untuk mengetahui alur berfikir dalam penulisan hukum ini.
1. Tinjauan tentang pembagian wilayah laut berdasarkan United Nations
Convention on Law of the Sea 1982 (UNCLOS 1982)
Gambar 1
Gambar pembagian wilayah laut
(Sumber : http://tugino230171.wordpress.com/2011/05/01/perkembangan-wilayah-laut-indonesia/)
Berdasarkan UNCLOS 1982 tersebut laut dibagi dalam beberapa kategori sebagai berikut:
a. Perairan pedalaman
Perairan pedalaman adalah perairan yang berada pada sisi darat (dalam) garis pangkal. Di wilayah perairan dalam ini, negara memiliki kedaulatan penuh atasnya. Tidak ada kapal asing yang diperbolehkan masuk ke dalam wilayah ini kecuali dalam keadaan yang bersifat memaksa (Jawahir Thontowi dan Pranoto Iskandar, 2006: 186).
commit to user
b. Laut teritorialPasal 3 UNCLOS 1982 mengatur bahwa setiap negara mempunyai hak untuk menetapkan lebar laut teritorialnya sampai suatu batas yang tidak melebihi 12 mil laut, diukur dari garis pangkal yang ditentukan sesuai dengan UNCLOS 1982 ini. UNCLOS 1982 memberikan keleluasan bagi setiap negara untuk menetapkan lebar laut teritorialnya hingga suatu batas yang tidak melebihi 12 mil laut, diukur dari garis pangkal yang ditentukan sesuai dengan UNCLOS 1982 juga (Albert W Koers, 1991: 7).
Negara mempunyai kewenangan dalam laut teritorial yakni negara berwenang untuk mengeksploitasi, mengeksplorasi wilayah tersebut termasuk dasar laut dan kekayaan alam hayati maupun non-hayati dalam air tersebut. Namun, negara berkewajiban menyediakan jalur khusus bagi pelintasan kapal-kapal asing yang akan melewati laut wilayah tersebut. Jalur tersebut sering disebut sebagai innocent passage atau jalur lintas damai. Aturan mengenai jalur lintas damai ini diatur dalam pasal 19 UNCLOS 1982 yang menyatakan bahwa lintas damai adalah lintas yang dilakukan kapal sepanjang tidak merugikan bagi kedamaian, ketertiban atau keamanan negara. Lintas tersebut harus dilakukan sesuai dengan ketentuan UNCLOS 1982 dan peraturan hukum internasional lainnya.
Jalur ini dipahami sebagai jalur tradisional yang biasa dilalui oleh kapal-kapal dagang/ pariwisata asing untuk secara bebas melintasi jalur tersebut tanpa ada niatan untuk berhenti, memasuki perairan pedalaman, melakukan komunikasi dengan orang/ lembaga dari negara pantai dengan syarat dilakukan secara damai dan tunduk kepada perintah keamanan negara pantai. Kewajiban negara terhadap lintas damai diatur dalam Pasal 24 UNCLOS 1982, yakni negara tidak dipekenankan menghalangi lintas damai kapal asing yang melalui laut teritorialnya.
Negara pantai hanya memiliki yurisdiksi terbatas baik secara perdata maupun pidana terhadap kapal dan segala isinya yang melintas di jalur lintas damai. Pasal 27 UNCLOS 1982 mengatur hal tersebut, yakni
commit to user
yurisdiksi kriminal negara tidak dapat diterapkan di atas kapal asing yang sedang melintasi laut teritorial, kecuali dalam hal kejahatan yang terjadi di atas kapal asing tersebut dirasakan oleh negara teritorial dan mengganggu kedamaian negara tersebut atau ketertiban laut wilayah, telah diminta bantuan penguasa setempat oleh nakhoda kapal, wakil diplomatik atau pejabat konsuler negara bendera, tindakan demikian diperlukan untuk menumpas perdagangan gelap narkotika atau bahan psychotropica. Hak negara dapat digunakkan untuk mengambil langkah apapun berdasarkan undang-undangnya untuk tujuan penangkapan atau penyidikan di atas kapal asing yang melintasi laut teritorialnya setelah meninggalkan perairan pedalaman.
c. Zona tambahan (Contiguous Zone)
Zona tambahan merupakan suatu jalur yang lebarnya tidak melebihi 24 mil dari garis pangkal. Hal ini dirumuskan dalam Pasal 33 UNCLOS 1982, bahwa negara pantai dapat melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya pelanggaran peraturan perundang-undangan pada wilayahnya atau pada laut teritorialnya dan sekaligus juga dapat menerapkan hukumnya (Albert W Koers, 1991: 7).
Zona tambahan negara pantai mempunyai kewenangan sebagai berikut:
1) Mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai, fiskal, imigrasi atau saniter di dalam wilayah atau laut teritorialnya; 2) Menghukum pelanggaran peraturan perundang-undangan tersebut di
atas yang dilakukan di dalam wilayah atau laut teritorialnya d. Zona ekonomi ekseklusif (ZEE)
Pengertian zona ekonomi eksklusif dirumuskan dalam Pasal 55 UNCLOS 1982 yang menyatakan bahwa zona ekonomi eksklusif adalah suatu daerah di luar dan berdampingan dengan laut teritorial, yang tunduk pada rejim hukum khusus. Ditegaskan pula di dalam Pasal 57 bahwa lebar zona ekonomi eksklusif tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur.
commit to user
Di zona ekonomi eksklusif, negara pantai mempunyai beberapa hak yang dapat dinikmati :
1) Hak-hak berdaulat untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan alam, baik hayati maupun non-hayati, dari perairan di atas dasar laut dan dari dasar laut dan tanah di bawahnya dan berkenaan dengan kegiatan lain untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi ekonomi zona tersebut, seperti produksi energi dari air, arus dan angin;
2) Yurisdiksi sebagaimana ditentukan dalam ketentuan yang relevan dengan UNCLOS 1982 ini berkenaan dengan:
(a) Pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi dan bangunan; (b) Riset ilmiah kelautan;
(c) Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut.
3) Hak dan kewajiban lain sebagaimana ditentukan dalam UNCLOS 1982.
ZEE memiliki perbedaan dengan laut teritorial. ZEE tidak tunduk pada kedaulatan penuh negara pantai. Negara pantai hanya menikmati hak-hak berdaulat dan bukan kedaulatan. Hal ini dapat dilihat di Pasal 58 UNCLOS 1982 bahwa di zona ekonomi eksklusif di semua negara dengan tunduk pada ketentuan yang relevan dengan UNCLOS 1982, mengamati kebebasan pelayaran dan penerbangan, serta kebebasan meletakkan kabel dan pipa bawah laut dan penggunaan laut lain yang sah menurut hukum internasional yang bertalian dengan kebebasan-kebebasan ini, seperti penggunaan laut yang berkaitan dengan pengoperasian kapal, pesawat udara, dan kabel serta pipa di bawah laut, dan sejalan dengan ketentuan-ketentuan lain dalam UNCLOS 1982 ( Albert W. Koers, 1991: 8).
e. Laut lepas
Sudah menjadi suatu ketentuan umum yang berasal dari hukum kebiasaan bahwa permukaan laut dibagi atas beberapa zona dan yang paling jauh dari pantai dinamakan laut lepas. Laut lepas merupakan semua bagian dari laut yang tidak termasuk dalam laut teritorial atau dalam
commit to user
perairan internal suatu negara, definisi ini kemudian sudah mendapatkan modifikasi dengan lahirnya UNCLOS 1982 (Rebecca M.Wallace, 1993: 155). UNCLOS 1982 memberikan modifikasi atas pengertian laut lepas yakni semua bagian dari laut yang tidak termasuk dalam zona ekonomi eksklusif, laut teritorial atau perairan pedalaman suatu negara, atau perairan kepulauan suatu negara kepulauan, yang tidak mengakibatkan pengurangan apapun terhadap kebebasan yang dinikmati semua negara di zona ekonomi eksklusif. Sedangkan, Pasal 86 UNCLOS 1982 menyatakan bahwa laut lepas merupakan semua bagian dari laut yang tidak termasuk dalam zona ekonomi ekseklusif, dalam laut teritorial atau dalam perairan pedalaman suatu negara, atau dalam perairan kepulauan suatu negara kepulauan. Dengan menilik hal tersebut maka yang disebut laut lepas adalah perairan yang terletak jauh dari pantai yaitu bagian luar zona ekonomi ekseklusif.
Menurut Black’s Law Dictonary, Laut Lepas adalah the Seas or
oceans beyond the jurisdiction of any country. Under traditional international law, the high sea began 3 miles from the coast, today the distance is generally accepted to be 12 miles. Under the UNCLOS 1982 coastal shores now have 200 miles exclusive economic zone. Laut lepas
sebagai laut atau samudera di luar yurisdiksi setiap negara. Dahulu dalam hukum internasional laut lepas di mulai 3 mil dari tepi pantai, akan tetapi sejalan dengan perkembangan jarak yang disepakati secara umum menjadi 12 mil. Setelah adanya UNCLOS 1982 laut lepas dihitung setelah 200mil dari garis pangkal. (Bryan A Ganner, 1999: 1466):
Laut lepas terbuka untuk semua negara baik itu negara pantai maupun negara bukan pantai. Prinsip yang digunakan dalam konsep laut lepas menggunakan prinsip kebebasan. Prinsip kebebasan itu berarti tidak berlakunya kedaulatan, hak berdaulat atau yurisdiksi suatu negara (Jawahir Thontowi dan Pranoto Iskandar, 2006: 189).
Menurut Pasal 2 CHS tahun 1958 mengatakan bahwa laut lepas harus terbuka bagi semua negara. Tidak ada satu negarapun yang boleh
commit to user
mengklaim bahwa laut lepas adalah bagian dari wilayahnya. Hal ini diperjelas kembali dalam Pasal 82 UNCLOS 1982, laut lepas terbuka untuk semua negara, baik negara pantai atau tidak berpantai. Kebebasan laut lepas, dilaksanakan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan dalam UNCLOS 1982 dan ketentuan lain di hukum internasional. Kebebasan laut lepas itu meliputi laut lepas baik untuk negara pantai atau negara tidak berpantai:
1) Kebebasan berlayar; 2) Kebebasan penerbangan;
3) Kebebasan untuk memasang kabel dan pipa bawah laut;
4) Kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lainnya yang diperbolehkan berdasarkan hukum internasional;
5) Kebebasan menangkap ikan; 6) Kebebasan riset ilmiah.
Kebebasan ini akan dilaksanakan oleh semua negara, dengan memperhatikan sebagaimana mestinya kepentingan negara lain dalam melaksanakan kebebasan laut lepas dan juga dengan memperhatikan sebagaimana mestinya hak-hak dalam UNCLOS 1982 yang berhubungan dengan kegiatan di kawasan di laut lepas. Kebebasan yang dimaksud juga untuk menjelaskan bahwa tidak ada satupun negara dapat menegakkan yurisdiksinya di laut lepas dan laut lepas ini hanya digunakan untuk kegiatan yang bertujuan untuk perdamaian. Hal ini diakomodir di dalam Pasal 89 UNCLOS 1982, pasal ini menjelaskan bahwa tidak ada suatu negara pun yang dapat secara sah menundukkan kegiatan manapun dari laut lepas pada kedaulatannya
Pasal 90 UNCLOS 1982 menyebutkan bahwa setiap negara, mempunyai hak untuk melayarkan kapal di bawah benderanya di laut lepas. Dengan begitu, harus adanya suatu keterkaitan yang jelas antara kapal dengan bendera negaranya, ditegaskan pula dalam Pasal 92 bahwa status kapal di laut lepas sebagai berikut :
commit to user
1) Kapal harus berlayar di bawah bendera suatu negara saja dan kecuali dalam hal-hal luar biasa yang dengan jelas ditentukan dalam perjanjian internasional atau dalam UNCLOS 1982, harus tunduk pada yurisdiksi eksklusif negara itu di laut lepas.
2) Suatu kapal tidak boleh merobah bendera kebangsaannya sewaktu dalam pelayaran atau sewaktu berada di suatu pelabuhan yang disinggahinya, kecuali dalam hal adanya suatu perpindahan pemilikan yang nyata atau perubahan pendaftaran.
3) Sebuah kapal yang berlayar di bawah bendera dua negara atau lebih, dan menggunakannya berdasarkan kemudahan, tidak boleh menuntut salah satu dari kebangsaan itu terhadap negara lain manapun, dan dapat dianggap sebagi suatu kapal tanpa kebangsaan.
Begitu juga ketika terjadi pelanggaran atau tindak kejahatan di laut lepas di atas kapal, maka yurisdiksi negara bendera yang berkibar di kapal tersebutlah yang berkewenangan untuk mengadilinya. Pengejaran seketika suatu kapal asing dapat dilakukan apabila pihak yang berwenang dari negara pantai memiliki alasan yang cukup untuk mengira bahwa suatu kapal telah melanggar peraturan perundang-undangan negaranya. Pengejaran demikian harus dimulai pada saat kapal asing berada pada perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial atau zona tambahan negara pantai dan hanya boleh diteruskan di luar laut teritorial atau zona tambahan apabila pengejaran itu tidak terputus. Hak pengejaran seketika ini diakomodir dalam Pasal 110 UNCLOS 1982 yang mengatur mengenai aturan-aturan dalam proses pengejaran seketika tersebut.
Hak pengejaran seketika berlaku bagi pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan negara pantai yang berkaitan dengan zona ekonomi eksklusif atau landas kontinen, termasuk zona keselamatan, di sekitar instalasi-instalasi di landas kontinen. Hak pengejaran seketika berhenti segera setelah kapal yang dikejar memasuki laut teritorial negaranya sendiri atau negara ketiga. Hak pengejaran seketika ini hanya dapat dilakukan oleh kapal-kapal perang atau pesawat
commit to user
udara militer atau pesawat udara lainnya yang diberi tanda yang jelas dan