• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Penelitian

1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah langkah awal yang harus dilakukan untuk setiap analisis multiviate khususnya jika tujuannya adalah inferensi. Jika terdapat normalitas maka akan terdistribusi secara

normal, hasil uji normalitas disajikan sebagai berikut terlihat pada gambar 4.5 dibawah ini:

Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan gambar grafik P-P Plot diatas menunjukkan bahwa titik-titik pada gambar terlihat menyebar dan membentuk pola searah dengan garis diagonal. Maka hal ini menunjukkan bahwa data tersebut berdistribusi normal. Kesimpulannya bahwa model regresi ini memenuhi uji asumsi klasik normalitas.

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas ini menyebabkan penafsiran koefisien-koefisien regresi menjadi tidak efisien dan hasil dari taksiran dapat menjadi kurang dari yang semestinya. Untuk menguji ada tidaknya

heteroskedastisitas digunakan melalui uji dengan persamaan regresi

melalui SPSS, dengan melihat pada scatterplot dan tabel coefficient hasil pengujian regresi.

Gambar 4.3

Hasil Uji Heteroskedastisitas Scatterplot

Gambar tersebut terlihat titik-titik yang menyebar secara acak, tidak membentuk suatu pola tertentu yang jelas, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa data dalam penelitian terjadi heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil tersebut maka hasil regresi ini kurang bisa dijadikan acuan dalam memprediksinya.

Tabel 4.5

Hasil Uji Heteroskedasitas Coefficients

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 8,703 3,383 2,572 ,026 Current_Ratio -4.777 2,797 -1,939 -1,708 ,116 Quick_Ratio ,775 1,310 ,355 ,592 ,566 Cash_Ratio 6,731 3,792 2,165 1,775 ,104

Sumber : Data diolah SPSS (Versi 24)

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai signifikansi untuk variabel Current Ratio (X1) adalah 0,116. Sementara, nilai signifikansi untuk variabel Quick Ratio (X2) adalah 0.566, kemudian Cash Ratio (X3) adalah 0,104. Karena nilai signifikansi kedua variabel di atas lebih besar dari 0.05 maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji glejser, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi.

c. Uji Autokorelasi

Autokorelasi digunakan untuk mengetahui dimana variabel tertentu berkorelasi dengan variabel gangguan pada periode lain. Pengujian autokorelasi ini dilakukan dengan mengujikan korelasi diantara masing-masing data dalam satu variabel independen dengan menggunakan Durbin Watson.

Suato model regresi linear yang terdapat pengaruh oleh kondisi sebelumnya dengan kata lain autokorelasi sering terjadi pada data time series. Model regresi yang baik merupakan regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi autokorelasi dapat dilakukan

dengan melihat angka Durbin-Watson, terlihat pada tabel 4.6 dibawah ini:

Tabel 4.6 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 ,703a ,494 ,356 3,65749 1,056 a. Predictors: (Constant), Cash_Ratio, Quick_Ratio, Current_Ratio

b. Dependent Variable: Kinerja_Keuangan

Sumber :Hasil Data Olahan (2020)

Berdasarkan tabel 4.6 di atas terlihat bahwa angka durbin Watson sebesar 1.056. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa nilai durbin Watson sebesar 1,056 berada di 1<DW<3 maka dapat dikatakan bahwa dalam model regresi linear tersebut tidak terdapat

autokorelasi atau tidak terjadi korelasi diantara kesalahan

pengganggu

d. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (variabelindependen).Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas adalah dengan menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance tidak kurang dari 0,10 dan nilai Variance Inflation

Factor lebih kecil dari 10,00 maka dalam model tidak terdapat multikolinearitas (Ghozali, 2015:106).

Tabel 4.7

Hasil Uji Multikolinearitas

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) Current_Ratio ,036 7,997 Quick_Ratio ,128 7,818 Cash_Ratio ,031 2,305

Sumber : Hasil Data Olahan (2020)

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai tolerance sebesar 0,036, 0,128 dan 0,031 lebih kecil dari pada 0.10 dan nilaiVariance Inflation Factor(VIF) sebesar 7,997, 7,818 dan 2,305 lebih kecil dari pada 10, maka dapat disimpulkan bahwa dalam model tidak terdapat multikolinearitas.

2. Analisis Regresi linear Berganda

penelitian ini terdapat tiga variabel bebas, current rasio, quick rasio, dan cash rasio serta variabel terikat yaitu kinerja keuangan. Untuk menguji ada tidaknya pengaruh tiap variabel variabel bebas terhadap variabel terikat maka dilakukan pengujian model regresi berganda dengan pengolahan data menggunakan program SPSS. Hasil olah data analisis regresi linear berganda dapat dilihat sebgai berikut:

Tabel 4.8

Hasil Analisis Regresi dan Pengujian Hipotesis

Variabel Bebas

Variabel

Terikat B Beta T Sig Ket.

Curret Ratio Kinerja Keuangan -4,777 -1,939 -1,708 0,116 Tidak signifikan Quick Ratio Kinerja Keuangan 0,775 0,355 0,592 0,566 Tidak signifikan Cash Ratio Kinerja Keuangan 6,731 2,165 1,775 0,104 Tidak signifikan R = 0.703 R Square = 0.494 F = 3.574 Sig = 0.050

Sumber :Hasil Data Olahan (2020)

Berdasarkan data tabel diatas dimana hasil analisis regresi diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

Y= 8,703 -4.777X1 + 0,775X2+ 6,731X3 + e

Koefisien dari hasil perumusan regresi linear berganda diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. a = nilai 8,703 mengandung arti bahwa nilai konstanta variabel Y (Kinerja Keuangan) adalah 8,703.

2. b1 = nilai -4,777 menunjukkan bahwa apabila current ratio mengalami peningkatan sebesar 1%, maka kinerja keuangan akan naik sebesar -4,777 dengan asumsi bahwa variabel lainnya tetap.

3. b2 = nilai 0,775 menunjukkan bahwa apabila terjadi penurunan quick ratio sebesar 1%, maka kinerja keuangan akan mengalami penuruan sebesar 0,775, sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh variabel quick ratio terhadap variabel kinerja keuangan adalah tidak berpengaruh positif.

4. b3 = nilai 6,731 menunjukkan bahwa apabila cash ratio mengalami peningkatan sebesar 1%, maka kinerja keuangan akan meningkat sebesar 6,731 dengan asumsi bahwa variabel lainnya tetap.

3. Uji Hipotesis

a. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi (R²), digunakan untuk melihat besarnya pengaruhlikuiditas dan pertumbuhan perusahaan sebagai variabel independen terhadap kebijakan dividen sebagai variabel devenden. Nilai R² ini terletak antara 0 dan 1. jika nilai R² mendekati 0, berarti sedikit sekali variasi variabel dependen yang diterangkan oleh variabel independen. Jika nilai R² bergerak mendekati 1 berarti semakin besar variasi variabel dependen yang dapat diterangkan oleh variabel independen jika ternyata dalam perhitungan nilai R² sama dengan 0 maka ini menunjukkan bahwa variabel dependen tidak bisa dijelaskan oleh variabel independen.

Berdasarkan tabel 4.8 hasil pengujian koefisien determinasi menunjukkan bahwa nilai R Square sebesar 0.494. Hal ini berarti penelitian ini memiliki tingkat kecermatan sebesar 49,4%sisanya 50.6% merupakan keterbatasan instrument dalam mengungkap fakta serta error penelitian.

b. Uji Parsial (Uji t)

Untuk mengetahui pengaruh secara parsial maka dilakukan dengan menggunakan uji t. Uji t digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh variabel independen secara individual

terhadap variabel dependen. Apabila > maka H0 ditolak, yang berarti bahwa suatu faktor X memiliki pengaruh terhadap faktor Y dan sebaliknya, apabila < maka H0 diterima, yang berarti bahwa suatu faktor X tidak mempunyai pengaruh terhadap faktor Y. Adapun yang diperoleh dari tabel statistik sebesar 1,782 dengan tingkat signifikan (a) = 5% atau 0.05.

Berdasarkan tabel 4.8 yang diperoleh dari pengolahan data menggunakan program SPSS maka hasilnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pengaruh Current Ratio (X1) terhadap Kinerja Keuangan (Y)

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsial pengaruh current ratio terhadap kinerja keuangan diperoleh nilai thitung sebesar -1,708 dan ttabel sebesar 1,782 dengan taraf signifikansi sebesar 0,116. Oleh karena nilai thitung lebih kecil dari ttabel dengan signifikansinya lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel current ratio (X1) berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja keuangan (Y). H1 ditolak.

2. Pengaruh Quick Ratio (X2) terhadap Kinerja Keuangan (Y)

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsial pengaruh quick ratio terhadap kinerja keuangan diperoleh nilai thitung sebesar 0,592 dan ttabel sebesar 1,782 dengan taraf signifikansi sebesar 0,566. Oleh karena nilai thitung lebih kecil dari ttabel dengan signifikansinya lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel quick ratio (X2)

berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja keuangan(Y). H2 ditolak.

3. Pengaruh Cash Ratio (X3) terhadap Kinerja Keuangan (Y)

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsial pengaruh cash ratio terhadap kinerja keuangan diperoleh nilai thitung sebesar 1,775 dan ttabel sebesar 1,782 dengan taraf signifikansi sebesar 0,104. Oleh karena nilai thitung lebih kecil dari ttabel dengan signifikansinya lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel cash ratio (X3) berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja keuangan (Y). H3 ditolak

Dokumen terkait