HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Data yang disajikan berikut ini merupakan data mengenai kesalahan gramatikal (tata bahasa) yang terdapat dalam karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Jenis kesalahan tata bahasa yang dimaksud yakni kesalahan dalam bidang morfologi dan kesalahan dalam bidang sintaksis.
Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalam karangan mahasiswa. Kesalahan yang dilakukan antara lain dikategorikan kedalam kesalahan morfologi dan kesalahan sintaksis.
1. Kesalahan dalam Bidang Morfologi.
Badudu (1980:15) mengemukakan bahwa ―morfologi adalah ilmu bahasa yang mebicarakan morfem dan bagaimana morfem itu dibentuk menjadi sebuah kata‖. Berbicara tentang morfem terbagi atas tiga macam morfem bebas seperti makan, minum, dan lain-lain, morfem terikat seperti ber- ,ber -kan, dan lain-lain, morfem unik, misalnya juang, tawa, dan sebagainya. Morfem bebas /makan/
digabung morfem terikat -an/ menjadi kata berimbuhan, misalnya, makanan. Morfem bebas /minum/ mengalami péngulangan /minum-minum/ disebut kata ulang. Morfem bebas /mata/ digabung dengan morfem bebas /hari/ menjadi matahari disebut kata majemuk.
Dalam penelitian ini, kesalahan morfologi dikelompokkan menjadi tiga kelompok yakni (a) kesalahan afiksasi, (b) kesalahan reduplikasi, (c) kesalahan pemajemukan.
Data (1)
Mempengaruhi pikiranku.
Kaidah afiksasi awalan meng- manakala memasuki kata dasar yang dimulai huruf t, s, k, p harus luluh menjadi meng-, meny-, meng-, dan mem- , misalnya meng- memasuki kata dasar tarik, satu, kurang, dan pinjam akan menjadi menarik, menyatu, mengurang, dan meminjam. Oleh karna itu, kata mempengaruhi pada kalimat di atas tidak tepat, sehingga seharusnya memengaruhi.
Salah benar
Mempengaruhi Memengaruhi Data (2)
Saya tidak tau yang terjadi.
Kata tau tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tahu. Jadi, kalimat yang tepat untuk menggantikan kalimat di atas yakni Saya tidak tahu yang terjadi.
Salah. Benar
Saya tidak tau yang terjadi Saya tidak tahu yang terjadi.
Data (3)
Saya anak ke-empat dari lima bersaudara.
Kata ke-empat dari kalimat di atas tidak tepat. Seharusnya antara imbuhan ke- dengan kata empat, tidak diberi tanda penghubung (-). Sehingga penulisan yang benar adalah keempat.
Salah
Saya anak ke-empat dari lima bersaudara Benar:
Saya anak keempat dari lima bersaudara.
Data (4)
Rumahku berada di Pangkajene, tepat-nya di jalan Jendral Sudirman.
Penulisan kata tepat-nya pada kalimat di atas salah. Seharusnya antara kata tepat dan akhiran –nya tidak diantarai dengan tanda hubung (-). Sehingga penulisan yang benar adalah tepatnya.
Salah:
Rumahku berada di Pangkajene, tepat-nya di jalan Jendral Sudirman.
Benar:
Rumahku berada di Pangkajene, tepatnya di jalan Jendral Sudirman.
Data (5)
Mereka sangat menyayangi-ku.
Penulisan kata menyayangi-ku pada kalimat di atas salah. Seharusnya antara kata menyayangi dan akhiran –ku tidak diantarai dengan tanda hubung (-). Sehingga penulisan yang benar adalah menyayangiku.
Salah: Benar:
Mereka sangat menyayangi-ku. Mereka sangat menyayangiku
Fungsi tanda penghubung antara lain
1) untuk menyambung suku–suku kata dasar yang terpisah karena pergantian baris;
2) untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya;
3) menyambung unsur–unsur kata ulang;
4) menyambung huruf kata yang dieja;
5) untuk memperjelas hubungan bagian–bagian ungkapan;
6) untuk merangkaikan se- dengan angka, angka dengan –an,singkatan huruf besar dengan imbuhan atau kata;
7) untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Data (6)
Saya sering di sakiti oleh teman-temanku.
Penulisan kata di sakiti pada kalimat di atas salah. Seharusnya awalan di- dengan kata sakiti ditulis serangkai. Sehingga penulisan yang benar adalah disakiti.
Salah:
Saya sering di sakiti oleh teman-temanku.
Benar:
Saya sering disakiti oleh teman-temanku.
Data (7)
Setiap pagi saya harus berbantu tanteku.
Kata berbantu pada kalimat di atas tidak tepat. Seharusnya kata berbantu diganti dengan kata membantu.
Salah:
Setiap pagi saya harus berbantu tanteku.
Benar:
Setiap pagi saya harus membantu tanteku.
Data (8)
Saya suka bermain disekitar sekolah.
Penulisan kata disekitar pada kalimat di atas tidak tepat. Seharunya penulisan yang tepat yaitu di sekitar.
Data (9)
Tiap hari saya belajar disekolah.
Penulisan kata disekolah pada kalimat di atas tidak tepat. Seharunya penulisan yang tepat yaitu di sekolah.
Salah:
Tiap hari saya belajar disekolah.
Benar:
Tiap hari saya belajar di sekolah.
Data (10)
Saya tinggal dikadidi.
Penulisan kata dikadidi pada kalimat di atas tidak tepat. Seharunya penulisan yang tepat yaitu di Kadidi.
Salah:
Saya tinggal dikadidi.
Benar:
Saya tinggal di Kadidi.
Data (11)
Saya mengendarai sepeda kesekolah.
Penulisan kata kesekolah pada kalimat di atas tidak tepat. Seharusnya penulisan yang tepat yaitu ke sekolah.
Salah:
Saya mengendarai sepeda kesekolah.
Benar:
Saya mengendarai sepeda ke Sekolah.
Kata depan di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali yang sudah dianggap sebagai satu kesatuan seperti kepada dan daripada.
Data (12)
Saya terkadang sedih apa bila dimarahi oleh guru.
Penulisan kata apa bila pada kalimat di atas tidak tepat. Seharunya penulisan yang tepat yaitu apabila.
Salah:
Saya terkadang sedih apa bila dimarahi oleh guru.
Benar:
Saya terkadang sedih apabila dimarahi oleh guru.
Data (13)
Orang tuaku tetap menyayangiku walau pun aku nakal.
Penulisan kata walau pun pada kalimat di atas tidak tepat. Seharunya penulisan yang tepat yaitu walaupun.
Salah:
Orang tuaku tetap menyayangiku walau pun aku nakal.
Benar:
Orang tuaku tetap menyayangiku walaupun aku nakal.
Data (14)
Ayahku cuman petani biasa.
Kata cuman pada kalimat di atas salah. Karena kata cuman tidak terdapat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Sehingga sebaiknya diganti dengan kata hanya. Sehingga kalimatnya menjadi Ayahku hanya petani biasa.
Salah:
Ayahku cuman petani biasa.
Benar:
Ayahku hanya petani biasa.
Data (15)
Gue termasuk anak yang pintar di sekolah.
Kata gue pada kalimat di atas salah. Karena kata gue tidak terdapat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sehingga sebaiknya diganti dengan kata saya atau aku. Sehingga kalimatnya menjadi Saya termasuk anak yang pintar di Sekolah.
Salah:
Gue termasuk anak yang pintar di sekolah.
Benar
Saya termasuk anak yang pintar di sekolah.
Gue merupakan kata yang tidak baku. Seharusnya seorang penulis selalu berusaha menggunakan kata baku di dalam tulisannya. Kata baku adalah kata yang tidak bercirikan bahasa daerah atau bahasa asing. Baik dalam penulisan maupun dalam pengucapannya harus bercirikan bahasa Indonesia. Dengan perkataan lain, kata baku adalah kata yang sesuai dengan kaidah mengenai kata dalam bahasa Indonesia.
Data (16)
Teman teman sekolahku.
Penulisan kata ulang pada contoh di atas tidak tepat. seharusnya diatara kata yang diulang diberi tanda hubung (-). Sehingga sebaiknya menjadi teman-teman sekolahku.
Salah:
Teman teman sekolahku.
Benar:
Teman- teman sekolahku.
2. Kesalahan dalam bidang sintaksis antara lain:
Kridalaksana (2008) kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa, misalnya saya makan nasi. Sedang klausa adalah satuan bentuk linguistik yang terdiri atas subjek dan predikat. Sedangkan Frasa adalah satuan tatabahasa yang tidak melampaui batas fungsi subjek atau predikat (Ramlan, 1988).
Kaitannya dengan hal tersebut Semi (1990) mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis meliputi: kesalahan frasa, kesalahan klausa, dan kesalahan kalimat.
Data (17)
Disanalah saya belajar yang namanya membaca.
Kalimat di atas terdapat kata yang tidak diperlukan yaitu yang namanya. Walaupun kata tersebut dihilangkan dalam kalimat di atas, tidak juga mengubah makna kalimat. Terdapat istilah kehematan kalimat, yang dimaksud kehematan dalam kalimat efektif ialah hemat menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat.
Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Salah:
Disanalah saya belajar yang namanya membaca.
Benar:
Disanalah saya belajar membaca.
Data (18)
Saya menyapu lalu saya cuci piring.
Kalimat tersebut menggunakan dua subjek yang sama. Semestinya subjek kedua dihilangkan dan hal itu tidak memengaruhi rnakna kalimat.
Dengan demikian, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi Saya menyapu lalu cuci piring.
Salah:
Saya menyapu lalu saya cuci piring.
Benar:
Saya menyapu lalu cuci piring.
Data (19)
Saya dapat meraih cita-cita saya yang selama ini ku impikan.
Kalimat tersebut menggunakan dua subjek yang sama. Semestinya subjek kedua dihilangkan dan hal itu tidak mempengaruhi rnakna kalimat.
Dengan demikian, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi Saya dapat meraih cita-cita yang selama ini ku impikan.
Salah:
Saya dapat meraih cita-cita saya yang selama ini ku impikan Benar:
Saya dapat meraih cita-cita yang selama ini ku impikan Data (20)
Setiap hari minggu saya ke rumahnya nenek.
Penyusunan struktur kalimat tersebut terpengaruh pada struktur bahasa daerah. Seharusnya pada kalimat tersebut kata rumah tidak diikuti oleh kata kepunyaan (nya). Karena struktur tersebut biasanya digunakan dalam bahasa daerah Bugis. Misalnya: meloka’ lao bolana neneku. Dengan demikian kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Setiap hari minggu saya ke rumah nenek.
Salah:
Setiap hari minggu saya ke rumahnya nenek.
Benar:
Setiap hari minggu saya ke rumah nenek.
Data (21)
SMA Negeri 1 Watangpulu adalah sekolah dimana saya mendapat kesan.
Kalimat tersebut menggunakan struktur bahasa asing. Kata di mana, yang mana, dengan siapa, adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam membuat kalimat tanya. Kata-kata tersebut bila digunakan di tengah kalimat yang fungsinya bukan menanyakan sesuatu merupakan pengaruh bahasa asing. Dengan demikian, perlu dihindari penggunaan di mana, yang mana, dengan siapa diganti dengan kata bahasa Indonesia. Dengan demikian kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi SMA Negeri 1 Watangpulu adalah sekolah tempat saya mendapat kesan.
Salah:
SMA Negeri 1 Watangpulu adalah sekolah dimana saya mendapat kesan.
Benar:
SMA Negeri 1 Watangpulu adalah sekolah tempat saya mendapat kesan.
Data (22)
Dalam ospek itu memunculkan berbagai persoalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki fungsi subjek yang jelas, sehingga menyebabkan kalimat itu tidak efektif. Ketika menulis atau berbicara dengan orang lain pada situasi resmi, kadang-kadang menggunakan kalimat yang tidak bersubjek karena adanya kata penghubung seperti dalam, pada, untuk, kepada diletakkan di awal kalimat. Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi tidak bersubjek. Dengan
demikian kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Ospek itu memunculkan berbagai persoalan.
Salah:
Dalam ospek itu memunculkan berbagai persoalan.
Benar:
Ospek itu memunculkan berbagai persoalan.
Data (23)
Nama itu merupakan pemberian dari orang tuaku.
Kalimat tersebut kurang tepat. Seharusnya tidak perlu digunakan kata dari karena frasa benda yang berstruktur Kata benda + kata benda tidak diantarai kata penghubung yang atau dari, tanpa kata dari sudah menunjukkan asal. Dengan demikian, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Nama itu merupakan pemberian orang tuaku.
Salah:
Nama itu merupakan pemberian dari orang tuaku.
Benar:
Nama itu merupakan pemberian orang tuaku.
Data (24)
Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara.
Kalimat tersebut tidak tepat. Seharunya kata adalah dalam kalimat tersebut dihilangkan, Dalam klausa ekuasional atau nominal, kata kerja bantu adalah tidak perlu ada di antara subjek dan predikat. Hal ini agar keterpaduan antara subjek dan predikat terpadu secara erat. Selain itu, makna kalimat tersebut nampak dengan jelas.
Dengan demikian, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Saya anak pertama dari dua bersaudara.
Salah:
Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara.
Benar:
Saya anak pertama dari dua bersaudara.
Data (25)
Saya anak paling nakal di sekolah.
Kalimat tersebut kurang tegas makna yang dimaksud karena tidak menggunakan kata penghubung yang sesudah kata anak. Oleh karena itu, kalimat tersebut seharusnya menjadi Saya anak yang paling nakal di sekolah. Jadi, frase sifat yang dimulai dengan kata paling seharusnya diawali dengan kata yang.
Salah:
Saya anak paling nakal di sekolah.
Benar:
Saya anak yang paling nakal di sekolah.
Data (26)
Anaknya yang perempuan.
Kalimat tersebut tidak tepat. Seharusnya kata yang tidak perlu digunakan dalam kalimat tersebut. Dengan demikian, kalimatnya dapat diperbaiki menjadi Anak perempuannya. Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata sifat tidak diantarai kata penghubung yang.
Salah:
Anaknya yang perempuan.
Benar:
Anak perempuannya.
Data (27)
Saya harus membantu ayah sebelum ke sekolah.
Kalimat tersebut kurang tepat. Seharunya ada kata kerja pergi yang mengikuti kata sebelum. Dengan demikian kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Saya harus membantu ayah sebelum pergi ke sekolah. Dalam situasi pembicaraan yang resmi, kadang-kadang menggunakan klausa intransitif, yakni klausa yang predikatnya dari kata kerja intransitif. Namun kata kerja tersebut tidak masuk dalam kalimat. Klausa intranstif tersebut tidak jelas predikatnya; klausa tersebut bukan tergolong klausa yang benar.
Salah:
Saya harus membantu ayah sebelum ke sekolah.
Benar:
Saya harus membantu ayah sebelum pergi ke sekolah.
Data (28)
Saya selalu dimarahi Ibu tiriku.
Kalimat tersebut kurang tepat. Seharusnya ada kata oleh sebelum kata Ibu.
Dengan demikian, kata tersebut dapat diperbaiki menjadi: Saya selalu dimarahi oleh Ibu tiriku. Klausa pasif adalah klausa yang salah satu ciri-cirinya adalah menggunakan kata oleh. Misalnya Buku Pendidikan Agama Islam itu dibaca oleh Andi. Namun demikian, biasa dijumpai penggunaan klausa pasif tanpa ada kata oleh
di dalamnya. Klausa pasif seperti itu seharusnya menggunakan kata oleh supaya ciri-cirinya sebagai klausa pasif semakin jelas.
Salah:
Saya selalu dimarahi Ibu tiriku.
Benar:
Saya selalu dimarahi oleh Ibu tiriku.
Data (29)
Meskipun saya nakal, namun saya tetap memiliki banyak teman.
Kalimat tersebut kurang tepat. seharusnya kata namun dalam kalimat tersebut dihilangkan. Dengan demikian kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Meskipun saya nakal, saya tetap memiliki banyak teman. Dalam kalimat majemuk setara berlawanan kadang-kadang ada yang menggunakan dua kata penghubung sekaligus.
Penggunaan kata penghubung yang ganda dalam suatu kalimat perlu dihindari.
Semestinya hanya satu kata penghubung.
Salah:
Meskipun saya nakal, namun saya tetap memiliki banyak teman.
Benar:
Meskipun saya nakal, saya tetap memiliki banyak teman.
Data (30)
Saya mendaftarkan diri ke sekolah yang jenjangnya lebih tinggi yakni sekolah menengah kejuruan yang saya pilih.
Kalimat tersebut kurang tepat. sruktur kalimat tersebut tidak padu sehingga maknannya tidak jelas. Seharusnya kalimat tersebut diubah menjadi: Saya mendaftar
di sekolah menengah kejuruan. Kalimat yang digunakan kadang-kadang kurang padu karena kesalahan struktur kata yang kurang tepat sehingga maknanya agak kabur.
Salah:
Saya mendaftarkan diri ke sekolah yang jenjangnya lebih tinggi yakni sekolah menengah kejuruan yang saya pilih.
Benar:
Saya mendaftar di sekolah menengah kejuruan.
B. Pembahasan
Pembahasan yang dimaksud dalam penelitian ini tidak lepas dari deskripsi analisis data meliputi wujud analisis kesalahan gramatikal (tata bahasa) pada karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, faktor terjadinya kesalahan dan cara mengatasi kesalahan yang terjadi.
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya bahwa terdapat berbagai macam kesalahan yang ditemukan dalam karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Kesalahan tersebut terdapat baik pada tataran morfologi maupun pada tataran sintaksis.
Kesalahan dalam bidang morfologi terbagi atas tiga kelompok yaitu: (a) kesalahan afiksasi, (b) kesalahan reduplikasi, (c) kesalahan pemajemukan. Beitupun juga kesalahan pada bidang sintaksis dikelompokkan menjadi: (a) kesalahan frasa, (b) kesalahan klausa, dan (c) kesalahan kalimat.
Setelah menganalisis data yang berjumlah 81 karangan narasi mahasiswa, ditemukan 364 kesalahan gramatikal. Kesalahan tersebut terdiri dari 252 (69%) kesalahan morfologi dan 112 (31%) kesalahan sintaksis.
Setelah mencermati hasil analisis data, maka dapat diketahui bahwa kesalahan pada tataran morfologi merupakan jenis kesalahan yang terbanyak yakni mencapai 112 kesalahan dari 364 total kesalahan yang ditemukan. Persentase kesalahan morfologi mencapai 69%. Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa untuk membentuk kata tidak lebih baik dari kemampuan membentuk kalimat.
Kesalahan bahasa pada dasarnya disebabkan pada diri orang yang menggunakan bahasa yang bersangkutan bukan pada bahasa yang digunakannya.
Ada tiga kemungkinan penyebab seseorang dapat salah dalam berbahasa, antara lain:
(a) terpengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya, (b) kekurang pahaman pemakai bahasa terhadap bahasa yang dipakainya, (c) pengajaran bahasa yang kurang tepat atau sempurna (Setyawati, 2010: 15-16).
Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap mahasiswa, ditemukan beberapa hal. Rata-rata mahasiswa mengaku bahwa pengetahuan mereka mengenai kaidah bahasa masih sangat kurang. Hal ini disebabkan karena kurangnya waktu yang digunakan untuk belajar berbahasa. Selain itu, motivasi belajar bahasa masih sangat kurang. Sehingga beberapa mahasiswa kurang semangat dalam mempelajari kaidah bahasa.
Hal lain yang menjadi sebab kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap tata bahasa yaitu kurangnya referensi yang dimiliki oleh mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang diwawancarai mengaku kurangnya referensi yang mereka miliki.
Hal ini dapat disimpulkan ketika mahasiswa diberi pertanyaan mengenai jumlah
buku yang mereka miliki. Ada yang menjawab memiliki satu atau dua buku, bahkan ada yang mengaku tidak memiliki buku mengenai kaidah bahasa Indonesia.
Selain itu, hal lain yang menjadi sebab yaitu pengajaran bahasa yang kurang tepat. beberapa mahasiswa mengaku bahwa beberapa dosen ketika mengajarkan bahasa masih menggunakan cara konfensional, sehingga pembelajaran bahasa menjadi kurang menarik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurvita Anjarsari, Sarwiji Suwandi, Slamet Mulyono dengan judul Analisis Kesalahan Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Karangan Mahasiswa Penutur Bahasa Asing di Universitas Sebelas Maret bahwa kesalahan bahasa yang sering terjadi dalam karangan mahasiswa asing yang disebabkan oleh faktor internal: (a) rendahnya motivasi, (b) potensi/bakat bahasa, (c) karakteristik bahasa, dan faktor eksternal: (a) pembelajaran yang tidak sempurna, (b) waktu belajar bahasa kurang.
Kesalahan berbahasa yang tidak dilatarbelakangi oleh bahasa B1 siswa tersebut dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah LI independent errors.
Kesalahan seperti ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Strategi belajar;
2. Teknik pengajaran;
3. Forklor bahasa kedua;
4. Usia kedwibahasaan; dan
5. Situasi sosiolinguistik siswa ( Jain dalam Tarigan 2011:71)
Umumnya telah diketahui bahwa identifikasi dan analisis interferensi antara bahasa-bahasa yang saling kontak, secara tradisional merupakan aspek-aspek
kedwibahasaan. Dalam kontak antara bahasa-bahasa itu terjadilah saling pengaruh, penyimpanan yang menyebabkan kesalahan. Secara garis besarnya, kesalahan tersebut dapat dibedakan atas:
1. Kesalahan antarbahasa (interlingual errors), yaitu kesalahan yang disebabkan oleh interferensi bahasa ibu terhadap bahasa kedua yang dipelajari.
2. Kesalahan intrabahasa (intralingual errors), yaitu kesalahan yang merefleksikan cirri-ciri umum kaidah yang dipelajari seperti kesalahan generalisasi, aplikasi yang tidak sempurna terhadap kaidah-kaidah dan kegagalan mempelajari kondisi-kondisi penerapan kaidah. (Tarigan, 2011:77)
Dengan demikian dapat dirumuskan cara mengatasi kesalahan gramatikal dalam karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang yaitu dengan memperkuat penguasaan bahasa kedua dengan cara mempelajari kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia khususnya pada tataran morfologi dan sintaksis.
Selain itu mahasiswa hendaknya memperbanyak refensi mengenai kaidah bahasa, sehingga mereka memiliki pengetahuan mengenai tata bahasa. Mahasiswa idealnya selalu meluangkan waktu untuk mempelajari tata bahasa. Pengetahuan mengenai tata bahasa merupakan salah satu pengetahuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa, apalagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tenaga pengajar (dosen) hendaknya menciptakan suasana pembelajaran bahasa yang menarik. Penggunaan metode pembelajaran bahasa yang bervariasi dapat menyebabkan mahasiswa bisa lebih semangat lagi mempelajari tata bahasa..
BAB V