KESALAHAN GRAMATIKAL DALAM KARANGAN NARASI
MAHASISWA STKIP MUHAMMADIYAH SIDENRENG RAPPANG
The Grammatical Errors in Students Narrative Writing of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang
TESIS
ASWADI NIM 04.06.673.2011
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2013
ABSTRAK
ASWADI. 2013.―Kesalahan Gramatikal pada Karangan Narasi Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang‖. Tesis dibimbing oleh H. M. Ide Said D.M dan Munirah.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) kesalahan-kesalahan gramatikal (tata bahasa) baik pada tataran morfologi maupun pada tataran sintaksis; (2) faktor- faktor penyebab terjadinya kesalahan gramatikal pada karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang; (3) cara mengatasi kesalahan gramatikal pada karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang.
Penelitian ini menggunakan prosedur analisis kesalahan yakni: (1) mengumpulkan sampel; (2) mengidentifikasi kesalahan; (3) menjelaskan kesalahan;
(4) mengklasifikasi kesalahan; (5) mengevaluasi kesalahan. Data penelitian ini adalah karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Wujud kesalahan gramatikal (tata bahasa) pada karangan narasi Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, dari 81 karangan narasi Mahasiswa, ditemukan 364 kesalahan gramatikal.
Kesalahan tersebut terdiri atas 252 (69%) kesalahan morfologi dan 112 (31%) kesalahan sintaksis; (2) Ada tiga penyebab kesalahan berbahasa pada Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, yaitu: (a) terpengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya, (b) kekurangpahaman pemakai bahasa terhadap bahasa yang dipakainya, (c) pengajaran bahasa yang kurang tepat atau sempurna; (3) Cara mengatasi kesalahan gramatikal dalam karangan narasi Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang yaitu dengan memperkuat penguasaan bahasa kedua dengan cara mempelajari kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia khususnya pada tataran morfologi dan sintaksis, sehingga tidak terjadi interferensi bahasa dan kurangnya penguasaan akan kaidah bahasa yang dapat menimbulkan kesalahan dalam berbahasa.
ABSTRACT
ASWADI. 2013: ―The Grammatical Errors in Students‘ Narrative Writing of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang‖. This thesis is supervised by H. M. Ide Said D.M and Munirah.
The aims of this study is to describe: (1) grammatical errors either at the level of morphology and the syntactic level, (2) the factors that cause the grammatical errors in students‘ narrative essay of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, (3) how to resolve grammatical errors in students‘ narrative essay of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang.
This study uses the error analysis procedure by: (1) collecting the sample, (2) identifying the errors, (3) explaining the errors, (4) classifying the errors; (5) evaluating the errors. The data of this study is the students‘ narrative essay of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang Indonesian Education and Literature Program.
The data obtained in this study were analyzed using qualitative descriptive analysis technique.
The results of this study show that: (1) The form of grammatical errors in the students‘ narrative essay of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, from 81 students‘ narrative essay, it was found 364 grammatical errors. The errors consisted of 252 (69 %) morphological errors and 112 (31 %) syntactic errors; (2 ) There are three causes of grammatical errors at students‘ of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, namely : (a) affected by the first language (mother tongue), (b) the speakers are lack of understanding of the language, (c) the lack of proper or perfect language teaching; (3) To resolve grammatical errors in the students‘ narrative essay of STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, the mastery of second language should be strengthened by studying the grammar rules of Indonesian particularly at the level of morphology and syntax, so there is no language interference and lack of mastery grammar rules that can lead to errors in using language.
KATA PENGANTAR
Puji syukur yang tiada henti-hentinya penulis ucapkan kepada Allah swt. yang senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulisan tesis ini dapat terselesaikan. Tesis ini berjudul ―Kesalahan Gramatikal dalam Karangan Narasi Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang.
Penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian tesis ini, banyak terdapat kekurangan sehingga masih membutuhkan uluran tangan dan kritik untuk penyempurnaannya. Tesis ini dapat terselesaikan berkat adanya bantuan dari berbagai pihak, baik bersifat moril maupun materil. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pembimbing Prof. Dr. H.M. Ide Said D.M, M. Pd. dan Dra. Munirah M. Pd. yang telah banyak memberikan bimbingannya kepada penulis sejak awal penulisan hingga tesis ini selesai. Selanjutnya ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya disampaikan kepada Ketua STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang dan para dosen yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang pada program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Rektor dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar beserta dosen dan staf Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia yang telah menyediakan segenap fasilitas dan sarana Pendidikan selama mengikuti perkuliahan Program Megister.
Teristimewa ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ayah Bundaku (M. Tahir dan Hj. Sakka) yang selama ini memberikan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. Lebih teristimewa lagi, ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya penulis sampaikan kepada Istriku tercinta (Darmi, S. Pd.) yang selalu memberikan dukungan dan motivasinya serta sumbangsih pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan Pendidikan Program Magister pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Akhirnya, ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas disampaikan kepada rekan-rekan Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar dan teman-teman Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang Kabupaten Sidrap atas bantuan tenaga dan buah pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Semoga segala bantuan, petunjuk, bimbingan, dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis bernilai ibadah dan mendapat pahala di sisi Allah swt.
Semoga tesis ini dapat bermanfaat pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Rappang, Desember 2013
Penulis
Aswadi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia yang ditunjukkan dengan keberadaannya sebagai alat komunikasi. Dalam berkomunikasi, manusia dapat menggunakan bahasa secara lisan maupun tulisan. Dalam berbahasa secara tulis, seorang penutur harus memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan berbahasa secara lisan. Hal ini dimaksudkan agar ide atau gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis dapat dipahami secara tepat oleh pembaca.
Bahasa memungkinkan manusia untuk saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dengan yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Dengan demikian, fungsi utama bahasa ialah sebagai alat komunikasi dan sarana berpikir. Selain itu, bahasa merupakan alat yang dipakai untuk menyampaikan keinginan maupun perasaan yang dihadapi manusia. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Samsuri (1987:37) yang menyatakan bahwa bahasa adalah alat yang dipakai untuk memengaruhi dan dipengaruhi, bahasa adalah dasar yang pertama- tama yang paling berurat berakar pada masyarakat manusia.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bangsa Indonesia memiliki nilai politik yang sangat penting karena telah menjadi lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia, alat penyatuan berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan dan kesukuannya ke dalam suatu masyarakat nasional Indonesia, dan alat perhubungan antarsuku, antardaerah, serta antarbudaya (Said. 2011:22).
Aktivitas dan interaksi manusia dengan manusia lainnya dalam kelompok masyarakat selalu membutuhkan bahasa sebagai alat komunikasi, baik yang berupa tulisan maupun lisan. Melalui bahasa, seseorang dapat manyampaikan ide, gagasan, dan perasaan kepada orang lain. Sehingga orang lain dapat menangkap atau memahami ide, gagasan, dan perasaan yang disampaikan oleh lawan bicara.
Kemampuan berbahasa mencakup empat aspek penting, yaitu (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Kemampuan berbahasa ini berhubungan erat dalam usaha seseorang memperoleh kemampuan berbahasa yang baik. Berbagai usaha dilakukan untuk membina dan mengembangkan bahasa agar benar-benar memenuhi fungsinya.
Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah melalui program pendidikan di sekolah, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Depdiknas (2003:6-7), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan; (2) menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara; (3) memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan; (4) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
(5) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Menyimak dan membaca erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10).
Menulis merupakan kegiatan mengekspresikan informasi yang diterima dari proses menyimak dan membaca. Jadi, semakin banyak seseorang menyimak atau membaca semakin banyak pula informasi yang diterimanya untuk diekspresikan secara tertulis
Kemudian, Crimmon (dalam Kurniawan, 2006:122) mengatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan memengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para pembelajar yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat.
Salah satu kegiatan menulis yang biasa dilakukan oleh peserta didik adalah kegiatan mengarang. Namun, mengarang merupakan keterampilan berbahasa yang tidak mudah dilakukan. Kemampuan mengarang seseorang sangat bergantung pada kemampuan dalam mengungkapkan suatu gagasan ke dalam bentuk tulisan dan gagasan ini harus sesuai dengan tata bahasa. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa
di dalam kegiatan mengarang tersebut terdapat kesalahan-kesalahan atau pelanggaran-pelanggaran terhadap tata bahasa (gramatikal) yang dilakukan oleh peserta didik.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul ―Kesalahan Gramatikal dalam Karangan Narasi Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang.‖
Beberapa penelitian tentang analisis kesalahan gramatikal telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Salah satu peneliti yang telah melakukan penelitian serupa tersebut yaitu Safarina dan Indawati (2006) dengan judul ―Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Ragam Tulis Siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Palembang‖.
Hasil penelitian menunjukkan kesalahan fonologi merupakan kesalahan yang paling banyak ditemukan dalam karangan siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Palembang. Dari 1280 kesalahan yang ditemukan, terdapat 978 (76,4%) kesalahan fonologi. selebihnya sebanyak 146 (11,4%) kesalahan sintaksis, 102 (8%) kesalahan leksikon, dan 54 (4,2%) kesalahan morfologi.
Mencermati penelitian Safarina dan Indrawati tersebut, tampak persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaannya yaitu kedua penelitian kajiannya tentang analisis kesalahan. Sedangkan perbedaannya yaitu selain tempat dan waktu penelitiannya, penelitian yang dilakukan oleh Safarina dan Indrawati objek kajiannya lebih luas (kesalahan berbahasa) sedangkan penelitian ini objek kajiannya lebih sempit yaitu kesalahan gramatikal (kesalahan dalam bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kesalahan gramatikal dalam karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang?
2. Faktor-faktor apakah yang memengaruhi terjadinya kesalahan gramatikal dalam karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang?
3. Bagaimanakah cara mengatasi kesalahan gramatikal dalam karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang?
C. Tujuan
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang:
1. Kesalahan gramatikal pada karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang.
2. Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya kesalahan gramatikal pada karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang.
3. Cara mengatasi kesalahan gramatikal pada karangan narasi mahasiswa STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang.
D. Manfaaat Penelitian
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. baik manfaat secara teoritis maupun manfaat praktis.
1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah dapat memperluas kajian kebahasaan mengenai analisis kesalahan gramatikal dalam karangan narasi.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini yaitu:
a. Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai bentuk-bentuk kesalahan gramatikal yang ada pada karangan sehingga mahasiswa lebih berhati-hati dalam berbahasa.
b. Bagi Dosen
Hasil penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran kepada dosen mengenai kesalahan gramatikal (tata bahasa) yang dilakukan oleh mahasiswa sehingga dosen dapat membimbing mahasiswa dalam penggunaan bahasa.
c. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi penenliti lain yang akan melakukan penelitian dengan permasalahan yang sejenis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka 1. Analisis kesalahan
a. Pengertian analisis
Analisis adalah suatu proses yang dilaksanakan terhadap suatu peristiwa yang dikaji dan ditelaah sampai ke unsur-unsur yang mendetail sehingga merujuk pada suatu hasil yang diharapkan. Definisi analisis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Alwi, dkk.2005:59) adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sugono (2008:19) mendefinisikan analisis sebagai kajian, penyelidikan, studi telaah, ulasan, atau uraian.
Achmadi (1988:79) mendefinisikan analisis sebagai cara memecah suatu pokok masalah. Lebih lanjut Kridalaksana (2008:14) mengemukakan analisis bahasa berarti istilah umum yang digunakan untuk mengemukakan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh penyelidik bahasa dalam mengolah data yang diperoleh dari penelitian lapangan atau dari pengumpulan teks.
Dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa analisis bahasa adalah penyelididikan terhadap suatu bahasa untuk mengolah data yang diperoleh melalui penelitian.
b. Pengertian analisis kesalahan
Proses komunikasi yang dilakukan antara individu yang satu dengan individu yang lain tentu saja menggunakan bahasa sebagai medianya. Proses komunikasi yang terjadi melalui bahasa sering menimbulkan kekurangan atau kekeliruan. Kegiatan
analisis didasarkan atas adanya kekurangan atau kekeliruan yang terjadi didalam proses komunikasi. Kekurangan atau kekeliruan tersebut menimbulkan rasa keingintahuan terhadap apa yang menyebaban terjadinya kesalahan atau kekeliruan dalam penggunaan bahasa tersebut.
Menurut Hastuti (1989:73) analisis kesalahan adalah sebuah proses yang didasarkan pada analisis kesalahan orang yang sedang belajar bahasa. Baik bahasa ibu, bahasa nasional, ataupun bahasa asing. Sedangkan menurut Parera (1997:98) analisis kesalahan berbahasa merupakan suatu tindakan dan studi secara formal dan sistematis untuk mengidentifikasi kesulitan, hambatan, kendala dalam proses pembelajaran berbahasa bagi pelajar yang memiliki latar belakang kebahasaan yang berbeda.
Analisis kesalahan juga merupakan prosedur kerja seperti yang dikemukakan oleh Ellis (dalam Tarigan dan Tarigan, 1995:68) bahwa analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan pengajar bahasa, yang meliputi pengumpulan sampel, pengidentifikasian kesalahan, penjelasan kesalahan, pengklasifikasian kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta penilaian taraf keseriusan kesalahan itu.
Dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa analisis kesalahan adalah suatu proses untuk menilai dan menganalisis kesalahan melalui langkah-langkah yang sistematis dengan menggunakan teori-teori dan prosedur-prosedur analisis kesalahan. Adapun prosedur kerja atau langkah-langkah kerja yang digunakan adalah pengumpulan sampel,
pengidentifikasian kesalahan, penjelasan kesalahan, pengklasifikasian kesalahan, dan penilaian atau pengevaluasian kesalahan.
c. Tujuan analisis kesalahan
Analisis kesalahan dilakukan untuk mengidentifikasi kesalahan yang terjadi sehingga bisa dikenali oleh pembelajar dalam upaya perbaikan kemampuan berbahasa yang sedang dipelajari. Hasil analisis kesalahan ini juga bermanfaat sebagai bahan acuan dari pembelajaran bahasa yang sama agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Cordor (dalam Nurgiyantoro, 1984:16) berpendapat bahwa tujuan analisis kesalahan meliputi tujuan praktis dan tujuan teoritis. Tujuan praktis adalah (a) mengidentifikasi daerah kesalahan, (b) menentukan urutan sajian, (c) menentukan penekanan dalam penjelasan dan pemberian latihan, (d) memperbaiki pengajaran secara remedial. Sedangkan tujuan teoritis adalah usaha untuk memahami proses mempelajari bahasa kedua yang terdapat dalam mental pembelajaran bahasa.
Berdasarkan beberapa pendapat sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan analisis kesalahan adalah untuk mengidentifikasi kesalahan yang dilakukan serta membantu menemukan cara yang tepat untuk menilai proses pembelajaran berbahasa dengan perbaikan program pembelajaran.
d. Langkah-langkah analisis kesalahan
Analisis kesalahan yang dilakukan terhadap pembelajaran bahasa meliputi beberapa tahapan analisis. Tahap-tahap analisis itu dilakukan secara berkesinambungan, bertahap, dan sistematis sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan yang tepat.
Tarigan dan Tarigan (1995:71) menguraikan langkah-langkah analisis kesalahan yang terdiri atas enam tahap. Tahap-tahap yang dimaksud yaitu : (1) mengumpulkan data kesalahan, (2) mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesalahan, (3) mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuensinya, (4) menjelaskan kesalahan,(6) mengoreksi kesalahan. Selanjutnya, langkah-langkah analisis menurut Pranowo (1996:54) adalah (1) tahap pengenalan kalimat, (2) mendeskripsikan bahasa berdasarkan berdasarkan pasangan kalimat yang benar dan salah strukturnya, dan (3) penjelasan.
Ellis dalam Tarigan dan Tarigan (1995:68) memiliki langkah-langkah tersendiri mengenai analisisis kesalahan berbahasa yaitu (1) mengumpulkan sampel kesalahan, (2) mengidentifikasi kesalahan, (3) menjelaskan kesalahan, dan (4) mengklasifikasi kesalahan. Selain itu, Parera (1997:45) mengemukakan bahwa pada umumnya analisisis kesalahan dilaksanakan dengan langkah-langkah berikut : (1) pengumpulan data, (2) identifikasi kesalahan, (3) klasifikasi atau pengelompokan kesalahan, (4) pernyataan tentang frekuensi tipe kesalahan, (5) identifikasi lingkup kesalahan, dan (6) usaha perbaikan.
Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan di atas, disimpulkan bahwa tahap-tahap analisis kesalahan terdiri atas: mengumpulkan data kesalahan, pengenalan, identifikasi kesalahan, menjelaskan kesalahan, mengklarifikasi kesalahan, dan mengevaluasi kesalahan.
e. Klasifikasi kesalahan berbahasa
Nurgiantoro (1984:13) membedakan antara kesalahan (error) dengan kekeliruan (mistake). Menurutnya kesalahan adalah penyimpangan yang disebabkan
kompetensi belajar sehingga bersifat sistematis dan konsisten. Kekeliruan merupakan penyimpangan pemakaian bahasa yang bersifat insidental, tidak sistematis, tidak terjadi pada daerah-daerah tertentu. Kesalahan yang disebabkan oleh penerapan kaidah yang menyimpang dari kaidah bahasa yang dipelajari akibat kompetensi pembelajar. Kesalahan ini tidak dapat diperbaiki sendiri oleh pebelajar. Ia hanya dapat diperbaiki oleh penutur asli atau orang yang sudah menguasai bahasa tersebut seperti halnya penutur asli.
Selanjutnya, Norish (1983:6-8) membedakan tiga tipe penyimpangan yang meliputi (1) error, (2) mistake, dan (3) lapse. Error merupakan penyimpangan berbahasa secara sistematis dan terus-menerus sebagai akibat belum dikuasainya kaidah-kaidah atau norma-norma bahasa target. Mistake terjadi ketika seorang pebelajar tidak secara konsisten melakukan penyimpangan dalam berbahasa, kadang- kadang pebelajar dapat menggunakan kaidah/norma yang benar tetapi kadang- kadang pebelajar membuat kekeliruan dengan menggunakan kaidah/norma dan bentuk-bentuk yang keliru. Lapse diartikan sebagai bentuk penyimpangan yang diakibatkan karena pebelajar kurang konsentrasi, rendahnya daya ingat atau sebab- sebab lain yang dapat terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Selain membedakan berbagai bentuk penyimpangan berbahasa, Noris juga mengatakan bahwa kesalahan- kesalahan berbahasa pembelajar dapat dijadikan alat bantu yang positif dalam pembelajaran karena dapat dipergunakan oleh pebelajar maupun pengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran bahasa
Pendapat di atas juga didukung oleh pendapat Brown (2000: 218) dan James (1998: 2) yang mengatakan bahwa kesalahan adalah suatu gejala yang dapat diamati,
dianalisis dan diklasifikasikan untuk memunculkan sistem operasi pebelajar dan membedakan kesalahan yang dilakukan oleh pebelajar.
Tarigan (2011:129) memberikan pengklasifikasian atau taksonomi kesalahan berbahasa dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain taksonomi kategori linguistik, taksonomi siasat permukaan, taksonomi komparatif, dan taksonomi efek komunikatif. Untuk lebih jelasnya keempat klasifikasi berbahasa tersebut dapat diuraikan berikut ini.
1) Taksonomi kategori linguistik
Ada beberapa taksonomi kesalahan berbahasa yang telah didasarkan pada hal linguistik yang dipengaruhi oleh kesalahan. Taksonomi-taksonomi kategori linguistik tersebut mengklasifikasikan kesalahan-kesalahan berbahasa berdasarkan komponen linguistik atau unsur linguistik tertentu yang dipengaruhi oleh kesalahan, ataupun berdasarkan keduanya.
Taksonomi kategori linguistik mengklasifikasikan kesalahan berbahasa berdasarkan komponen lingistik atau unsur linguistik tertentu yang dipengaruhi oleh kesalahan. Komponen linguistik mencakup fonologi (ucapan), sintaksis dan morfologi (tata bahasa;gramatikal), semantik dan leksikon (makna dan kosakata) dan wacana (Tarigan, 1988:48)
a) Kesalahan berbahasa pada tataran fonologi
Kesalahan berbahasa Indonesia dalam bidang fonologi pertama-tama dipandang dari penggunaan bahasa apakah secara lisan dan apakah secara tulisan.
Baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan dikaitkan dengan tataran fonologi. Dari kombinasi kedua sudut pandang ini kita temukan aneka jenis kesalahan berbahasa.
Ada kesalahan berbahasa karena perubahan pengucapan fonem, penghilangan fonem, penambahan fonem, salah rneletakkan penjedaan dalam kelompok kata dan kalimat.
Di samping itu kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi dapat pula disebabkan oleh perubahan bunyi diftong menjadi bunyi tunggal atau fonem tunggal.
Sebagian besar kesalahan berbahasa Indonesia di bidang fonologi berkaitan dengan pengucapan. Tentu saja bila kesalahan berbahasa lisan ini dituliskan, maka jadilah kesalahan berbahasa itu dalam bahasa tulis.
Tarigan dan Suliastianingsih (1979) mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi meliputi perubahan pengucapan fonem, penghilangan fonem, penambahan fonem, dan perubahan bunyi diftong menjadi bunyi tunggal atau fonem tunggal. Kesalahan-kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi tersebut antara lain sebagai berikut.
(1) Pelafalan fonem /n/ diubah menjadi /ng/
Kata-kata yang berakhir fonem /n/ seperti makan, lafal bakunya /makan/.
Namun karcna faktor pengaruh bahasa daerah yang tidak mcngenal fonem /n/ pada akhir kata sehingga kadang-kadang kata-kata makan dilafalkan /makang/.Contoh yang lain:
Ikan dilafalkan /ikang/ semestinya /ikan/
arisan dilafalkan /arisang/ semestinya /arisan/
taman dilafalkan /tamang/ semestinya /taman/
(2) Pelafalan fonem /t/ pada akhir kata diubah menjadi /‘/
Kata-kata yang berakhir fonem /t/ seperti pada kata tepat, lafal bakunya adalah /tepat/. Namun karena faktor pengaruh bahasa daerah yang tidak mengenal
fonem /t/ pada akhir kata, yang ada adalah fonern /‘/ sehingga ―kadang-kadang‖ kata- kata tepat dilafalkan /tepa‘/. Kata-kata lain yang mengalami pelafalan seperti kata tepat antara lain adalah:
cepat dilafalkan /cepa '/ semestinya /cepat/
hormat dilafalkan /horma ’/ semestinya /hormat/
dapat dilafalkan /dapa ’/ semestinya /dapat/
(3) Pelafalan fonem /e/ diubah menjadi /E/
Kata-kata yang berfonem /e/ (e = enam) seperti pada kata senter, lafal bakunya adalah /sEnter/ (E=Ekor) Namun, karena faktor pengaruh bahasa daerah (Bugis) yang ―biasa‖ menyebut kata /sEntErE/, maka kata senter dilafalkan /sEntEr/.
Kata-kata Iain yang mengalami kesalahan pelafalan seperti kata senter antara lain adalah.
kalender dilafalkan /kalEndEr/ semestinya /kalEnder/
meter dilafalkan /mEtEr/ semestinya /mEter/
liter dilafalkan /litEr/ semcstinya /liter/
(4) Pelafalan fonem /E/ diubah menjadi /e/
Fonem /e/ pada kata peka seharusnya dilafalkan /E/ bukan /e/. Kesalahan pelafalan /E/seperti pada kata peka tersebut biasa kita jumpai dalam proses berkomunikasi situasi resmi, pada kata:
sukses dilafalkan /sukses/ semestinya /suksEs/
sugesti dilafalkan /sugesti/ semestinya /sugEsti/
lengah dilafalkan /lengah/ semestinya /lEngah/
(5) Pelafalan fonem /u/ diubah menjadi /o/
Fonem /u/ pada kata juang seharusnya dilapalkan /u/ bukan /o/. Kesalahan pelafalan /u/ seperti pada kata juang tersebut, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi, pada kata:
lubang dilafalkan /lobang/ semestinya /lubang/
gua dilafalkan /goa/ semestinya /gua/
(6) Pelafalan fonem /i/ diubah menjadi /E/
Fonem /i/ pada kata tarikat seharusnya dilafalkan /i/ bukan /E/. Kesalahan pelafalan /i/ pada kata tarikat, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi, seperti pada kata:
hakikat dilafalkan /hakEkat/ semestinya /hakikat/
nasihat dilafalkan /nasEhat/ semestinya /nasihat/
(7) Pelafalan fonem /ai/ dilafalkan /E/ atau /Ei/
Fonem /ai/ pada kata sampai seharusnya dilafalkan /ai/ bukan /E/ atau /Ei/ . Kesalahan pelafalan /ai/ pada kata sampai tersebut, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi , seperti pada kata:
santai dilafalkan /santEi/santE/ semestinya /santai/
pantai dilafalkan /pantEi/pantE/ semestinya /pantai/
balai dilafalkan /halEi/balE/ semestinya /balai/
(8) Pelafalan fonerm /g/ pada akhir kata diubah menjadi /h/ atau /ji/
Kata geologi seharusnya dilafalkan /geologi/ bukan /geolohi/ atau /geoloji/.
Kesalahan pelafalan /g/ pada kata geologi tersebut, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi, seperti pada kata:
idiologi dilafalkan /idiolohi/ semestinya /idiologi/
morfologi dilafalkan /morfolohi/ semestinya /morfologi/
sosiologi dilafalkan /s0siol0hi/ semestinya /sosiologi/
(9) Pelafalan fonem /h/ dihilangkan/ /
Fonem /h/ pada kata hilang seharusnya dilafalkan /h/ atau tidak dihilangkan.
Penghilangan pelafalan /h/ seperti pada kata hilang. Contoh lain:
hijau dilafalkan /ijau/ semestinya /hijau/
pahit dilafalkan /pait/ semestinya /pahit/
tahi dilafalkan /tai/ semestinya /tahi/
(10) Penambahan fonem /h/ pada awal atau akhir kata
Pelafalan kata andal seharusnya tidak ditambah /h/. Penambahan pelafalan /h/
seperti pada kata andal, di depan atau pada akhir kata, biasa pula dijumpai dalam proses komunikasi situasi resmi. Contoh lain:
imbau dilafalkan /himbau/ semestinya /imbau/
silakan dilafalkan /silahkan/ semestinya /silakan/
sempurna dilafalkan /sempurnah/ semestinya /sempurna/
(11) Pelafalan fonem /f/ diubah menjadi /p/
Fonem /f/ pada kata aktif harusnya tidak dilafalkan /p/ , Contoh yang lain:
negatif dilafalkan /negatip/ semestinya /negatif/
kreatif dilafalkan /kreatip/ semestinya /kreatif/
(12) Pelafalan fonem /z/ diucapkan /j/ atau /s/
Fonem /z/ pada kata izin seharusnya tidak dilafalkan /s/ atau /j/. Kesalahan pelafalan /z/ pada kata izin. Contoh yang lain:
zakat dilafalkan /sakat /jakat/ semestinya /zakat/
zaman dilafalkan /saman/jaman/ semestinya /zaman/
ijazah dilafalkan /ijasah/ ijajah/ semestinya /1jazah/
(13) Pelafalan /au/ diganti menjadi /h/
Fonem /kh/ pada kata khawatir seharusnya tidak dilafalkan /h/ tetapi /kh/.
Kesalahan pelafalan /kh/ pada kata khawatir. Contoh yang lain:
khatib dilafalkan /hatib/ semestinya /khatib/
khutbah dilafalkan /hutbah/ semestinya /khutbah/
khusyuk dilafalkan /husyuk/ semestinya /khusyuk/
b) Kesalahan berbahasa pada tataran morfologi
Badudu (1980:15) mengemukakan bahwa ―morfologi adalah ilmu bahasa yang mebicarakan morfem dan bagaimana morfem itu dibentuk menjadi sebuah kata‖. Berbicara tentang morfem terbagi atas tiga macam morfem bebas seperti makan, minum, dan lain-lain, morfem terikat seperti ber- ,ber -kan, dan lain sebagainya, morfem unik, misalnya juang, tawa, dan sebagainya. Morfem bebas /makan/ digabung morfem terikat -an/ menjadi kata berimbuhan, misanya, makanan.
Morfem bebas /minum/ mengalami péngulangan /minum-minum/ disebut kata ulang.
Morfem bebas /mata/ digabung dengan morfem bebas /hari/ menjadi matahari disebut kata majemuk.
Kaitannya dengan keperluan analisis kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi, menurut Badudu (1982) dan Tarigan dan Sulistyaningsih (1979) terbagi atas tiga kelompok (a) kesalahan afiksasi, (b) kesalahan reduplikasi, (c) kesalahan pemajemukan.
Kesalahan berbahasa dalam bidang afiksasi antara lain seperti yang dipaparkan berikut ini.
(1) Afik yang luluh, tidak diluluhkan
Kaidah afiksasi awalan meng- manakala memasuki kata dasar yang dimulai huruf t, s, k, p harus luluh menjadi meng-, meny-, meng-, dan mem- , misalnya meng- memasuki kata dasar tarik, satu, kurang, dan pinjam akan menjadi menarik, menyatu, mengurang, dan meminjam. Dalam proses berkomunikasi biasa ditemukan:
mentabrak seharusnya menabrak mempahat seharusnya memahat (2) Afiks yang tidak luluh, diluluhkan
Afiks meng- memasuki kata asal atau kata dasar yang dimulai huruf kluster seperti transmigrasi dan prosentase tidak luluh misalnya mentrasmigrasikan dan memprosentasekan. Akan tetapi, dalam proses berkomunikasi biasa ditemukan penggunaan kata berimbuhan seperti:
menerasmigrasikan seharusnya mentransmigrasikan memerotes seharusnya memprotes
memerakarsai seharusnya memprakarsai (3) Morf meng- disingkat n,
Bentuk narik merupakan salah satu contoh kata dasar dari sekian kata dasar yang nonbaku. Kata dasar tersebut muncul dari pengaruh kesalahan afiksasi. Yakni dari kata tarik lalu mendapat awalan meng-, menjadilah kata menarik. Selanjutnya, dalam proses komunikasi hanya menggunakan narik padahal seharusnya menarik
seperti dalam kalimat Saya belum menarik kesimpulan. Kata-kata yang tidak baku seperti itu adalah:
natap seharusnya menatap nangis seharusnya menangis nabrak seharusnya menabrak (4) Morf meny- disingkat ny, misalnya
Bentuk kata nyampaikan, bukanlah kata dasar yang baku. Kata dasar tersebut muncul dari pengaruh kesalahan afiksasi. Yakni dari kata sampai lalu mendapat awalan meng-, menjadilah kata berimbuhan menyampaikan. Selanjutnya, dalam proses berkomunikasi hanya menggunakan nyampai atau nyampaikan padahal seharusnya menyampaikan. Contoh yang lain:
nyapu seharusnya menyapu nyisir seharusnya menyisir nyusun seharusnya menyusun (5) Morf meng disingkat ng, misalnya:
Kata berimbuhan seperti ngoreksi bukanlah kata berimbuhan yang baku. Kata berimbuhan tersebut muncul dari pengaruh kesalahan afiksasi alomorf meng-. Yakni dari kata koreksi lalu dimasuki awalan meng-, menjadilah kata berimbuhan mengoreksi. Selanjutnya, dalam proses berkomunikasi hanya menggunakan ngoreksi padahal seharusnya mengoreksi seperti dalarn kalimat Aminuddin mengoreksi pemerintah secara sopan. Kata berimbuhan lain yang tidak baku seperti itu, sebagai berikut:
ngarang seharusnya mengarang
ngantuk seharusnya mengantuk ngurung seharusnya mengurung (6) Morf menge- disingkat nge-
Kata dasar seperti ngebom bukanlah kata yang baku. Kata dasar tersebut muncul sebagai akibat kesalahan afiksasi alomorf menge-. Yakni, dari kata dasar bom lalu dimasuki awalan meng-, menjadilah kata berimbuhan mengebom.
Selanjutnya, dalam proses berkomunikasi masyarakat hanya menggunakan ngebom padahal seharusnya mengebom seperti dalam kalimat Syarifuddin berencana akan mengebom pantai Sanur. Contoh lain kata berimbuhan yang tidak baku seperti itu adalah sebagai berikut
ngelap seharusnya mengelap ngecet seharusnya mengecet ngelas seharusnya mengelas
Salah satu betuk kesalahan morfologis dalam segi redukplikasi perulangan bentuk dasar , misalnya ngarang-mengarang. Bentuk perulangan tersebut berdasar dari kata asal karang lalu mendapat awalan meng- menjadilah mengarang.
Selanjutnya, kata dasar mengarang mengalami proses reduplikasi ngarang- mengarang, yang semestinya karang-mengarang seperti dalam kalimat Mereka belajar tentang karang-mengarang di sekolah. Kata ulang lain yang biasa ditemukan scperti itu adalah scbagai berikut:
ngejek-mengejek seharusnya ejek-mengejek ngutip-mengutip seharusnya kutip-mengutip ngunjung-mengunjungi seharusnya kunjung-mengunjungi
Kesalahan morfologis segi proses pemajemukan antara lain:
(1) Kata majemuk yang seharusnya disatukan tetapi dipisahkan
Kata majemuk yang ditulis terpisah seperti pasca panen, ekstra kurikler, adalah kata majemuk yang nonbaku. Kata tersebut semestinya ditulis serangkai seperti pascapanen dan ekstrakurikuler. Karena kata-kata: pasca, ektra, antar, infra, intra, anti, panca, dasa, anti, pra, prolo, mikro, maha, psiko, ultra, supra, para, dan sebagainya adalah kata-kata yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contoh kata majemuk yang seharusnya ditulis serangkai tetapi ditulis terpisah adalah sebagai berikut.
anti karat seharusnya antikarat antar kanpus seharusnya antarkampus para medis seharusnya paramedis (2) Kata majemuk yang seharusnya dipisahkan tetapi disatukan
Kata majemuk yang ditulis serangkai seperti ibukota, anakasuh, kepalakantor, butahuruf, hakcipta, jurumasak adalah contoh kata majemuk yang semestinya ditulis terpisah seperti ibu kota, anak asuh, kepala kantor, buta huruf, hak cipta, juru masak.
Karena, kedua kata tersebut masing-masing adalah kata dasar yang tergolong rnorfem bebas. Contoh kata majemuk yang seharusnya dipisahkan tetapi disatukan adalah sebagai berikut.
aducepat seharusnya adu cepat ibuangkat seharusnya ibu angkat kerjabakti seharusnya kerja bakti obatnyamuk seharusnya obat nyamuk
c) Kesalahan berbahasa pada tataran sintaksis
Tarigan (1983) mengemukakan bahwa sintaksis adalah salah satu cabang tatabahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frasa. Kridalaksana (2008) mengemukakan bahwa kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri atas klausa, misalnya saya makan nasi. Sedang klausa adalah satuan bentuk linguistik yang terdiri atas subjek dan predikat. Sedangkan Frasa adalah satuan tatabahasa yang tidak melampaui batas fungsi subjek atau predikat (Ramlan, 1988).
Kaitannya dengan hal tersebut, Tarigan dan Sulistyaningsih (1979) dan Semi (1990) mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis meliputi:
kesalahan frasa, kesalahan klausa, dan kesalahan kalimat, Adapun rincian kesalahan setiap aspek tersebut antara lain sebagai berikut.
Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya dalam bidang frasa, antara lain sebagai berikut.
(1) Pengunaan kata depan tidak tepat
Beberapa frasa preposisional yang tidak tepat karena mengunakan kata depan yang tidak sesuai. Hal ini pcngaruh dari bahasa sastra atau bahasa media massa, misalnya sebagai berikut.
di masa itu seharusnya pada masa itu di waktu itu seharusnya pada waktu itu di hari itu seharusnya pada hari itu
(2) Penyusunan frasa yang salah struktur
Sejumlah frasa kerja yang salah karena strukturnya yang tidak tepat karena kata keterangan atau modalitas terdapat sesudah kata kerja. Misalnya:
belajar sudah seharusnya sudah belajar minum belum seharusnya belum minum makan sudah seharusnya sudah makan (3) Penambahan yang dalam frasa benda (B+S)
Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata sifat tidak diantarai kata penghubung yang. Misalnya:
petani yang muda seharusnya petani muda pedagang yang hebat seharusnya pedagang hebat guru yang profesional seharusnya guru profesional Anak yang saleh seharusnya anak saleh
(4) Penambahan kata dari atau tentang dalam frasa benda (B+B)
Frasa benda yang berstruktur Kata benda + kata benda tidak diantarai kata penghubung yang atau dari, karena tanpa kata dari sudah menunjukkan asal. Contoh:
gadis dari Bali seharusnya gadis Bali pisang dari Ambon seharusnya pisang ambon garam dari inggris seharusnya garam inggris (5) Penambahan kata kepunyaan dalam frasa benda (B+Pr)
Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata pronomina tidak diantarai kata penghubung milik atau kepunyaan, karena tanpa kata itu sudah menunjukkan kepunyan posesif, misalnya:
Destar kepunyaan ibu seharusnya destar ibu Golok milik Abdullah seharusnya golok Abdullah Buku kepunyaan adik seharusnya buku adik (6) Penambahana kata untuk dalam frasa kerja (K pasif+ K lain)
Frasa kerja yang berstruktur kata kerja pasif + kata kerja aktif tidak diantarai kata seperti untuk supaya makna yang ditunjuk tanpak jelas, misalnya sebagai berkut.
diajar untuk membaca seharusnya diajar membaca dituduh untuk membunuh seharusnya dituduh membunuh dibimbing untuk menulis seharusnya dibimbing menulis (7) Penghilangan kata yang dalam frasa benda (Benda+yang+K pasif)
Frasa benda yang berstruktur kata bcnda + kata kerja pasif memerlukan kata yang untuk memperjelas makna frase tersebut. Misalnya sebagai berikut.
Kursi kududuki seharusnya kursi yang kududuki Taman kupelihara seharusnya taman yang kupelihara Baju kubersihkan seharusnya baju yang kebersihkan (8) Penghilangan kata oleh dalam frasa kerja pasif (K pasif+oleh+B)
Frasa yang berstruktur dimulai dari kata kerja fasif+ kata benda seharusnya tidak dihilangkan kata oleh atau perlu ada kata oleh di antaranya untuk memperjelas makna pasif frase tersebut. Misalnya sebagai berikut:
diminta ibu seharusnya diminta oleh ibu dinasihati kakak seharusnya dinasihati oleh kakak dibimbing paman seharusnya dibimbing oleh paman (9) Penghilangan kata yang dalam frasa sifat (yang +paling +sifat)
Dialah paling pintar di kampung ini . Kalimat tersebut kurang tegas makna yang dimaksud karena tidak menggunakan kata penghubung yang sesudah kata Dialah. Oleh karena itu, kalimat tersebut seharusnya menjadi Dialah yang paling pintar di kampung ini. Jadi, frase sifat yang dimulai kata paling seharusnya diawali kata yang, misalnya sebagai berikut.
paling besar seharusnya yang paling besar paling tinggi seharusnya yang paling tinggi sangat berwibawa seharusnya yang sangat berwibawa
Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya dalam bidang klausa, antara lain sebagai berikut
(1) Penambahan preposisi di antara kata kerja dan objeknya dalam klausa aktif Dalam klausa aktif seharusnya antara kata kerja dan objeknya tidak diantarai modalitas atau kata keterangan tertentu. Hal ini agar supaya tanpak hubungan yang erat antara predikat dan objek dalam kalimat. Selain itu, agar makna kalimat tersebut tidak menjadi agak kabur. Misalnya:
- Rakyat mencintai akan pimpinan yang jujur. seharusnya - Rakyat mencintai pimpinan yang jujur.
- Pemimpin itu melindungi akan rakyatnya, seharusnya - Pemimpim itu melindungi rakyatnya.
(2) Penambahan kata kerja bantu dalam klausa ekuasional
Dalam klausa ekuasional atau nominal, kata kerja bantu adalah tidak perlu ada di antara subjek dan predikat. Hal ini agar keterpaduan antara subjek dan
predikat terpadu secara erat. Selain itu, makna kalimat tersebut nampak dengan jelas.
Misalnya:
- Nenekku adalah dukun. seharusnya - Nenekku dukun
- Bapakku adalah guru SD, seharusnya - Bapakku guru SD
(3) Pemisahan pelaku dan kata kerja dalam klausa aktif
Dalam klausa aktif, kata modalitas semestinya tidak ada di antara subjek dan predikat. Hal ini agar hubungan dan keterpaduan subjek dan predikat tampak secara jelas sekaligus memberikan efek makna yang jelas. Misalnya:
- Saya akan membeli rumah itu. seharusnya - Akan saya membeli rumah itu.
- Pak Lurah selalu mengunjungi wilayahnya, seharusnya, - Selalu Pak Lurah mengunjungi wilayahnya.
(4) Penghilangan kata oleh dalam klausa pasif.
Klausa pasif adalah klausa yang salah satu ciri-cirinya adalah menggunakan kata oleh. Misalnya Buku Pendidikan Agama Islam itu dibaca oleh Andi. Namun, biasa dijumpai penggunaan klausa pasif tanpa ada kata oleh di dalamnya. Klausa pasif seperti itu seharusnya menggunakan kata oleh supaya ciri-cirinya sebagai klausa pasif semakin jelas. Misalnya:
- Roman Tenggelamnya Kapal Tanpomas dibaca Rina. seharusnya - Roman Tenggelamnya Kapal Tanpomas dibaca oleh Rina.
- Buku ekonomi itu telah dibaca Amir, seharusnya
- Buku ekonomi itu telah dibaca oleh Amir.
(5) Penghilangan kata kerja dalam klausa intranstif
Dalam situasi pembicaraan yang resmi, kadang-kadang digunakan klausa intransitif, yakni klausa yang predikatnya dari kata kerja intransitif. Namun, kata kerja tersebut tidak masuk dalam kalimat, misalnya /Ibu ke Makassar/. Klausa intranstif tersebut tidak jelas predikatnya; klausa tersebut bukan tergolong klausa yang benar. Oleh karena itu, klausa itu perlu diperbaiki menjadi Ibu pergi ke Makassar. Contoh lain adalah sebagai berikut.
- Pak Samat ke kantor kemarin. Semestinya - Pak Samat pergi ke kantor.
- Amin di kolam renang. Semestinya - Amin berenang di kolam renang
Kesalahan yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya dari tataran kalimat antara lain sebagai berikut.
(1) Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa daerah.
Berbahasa Indonesia dalam situasi resmi kadang-kadang tidak disadari menerapkan struktur bahasa daerah. Seperti (a) Amin pergi ke rumahnya Rudi. (b) Buku ditulis oleh saya (c) Rumah itu dibuat oleh saya. Kalimat (a), (b), dan (c) terpengaruh pada struktur bahasa daerah. Oleh karena itu, ketiga kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi:
- Amin pergi ke rumah Rudi.
- Buku itu saya tulis.
- Rumah itu saya buat.
(2) Kalimat yang tidak bersubjek karena terdapat preposisi di awal
Ketika menulis atau berbicara dengan orang lain pada situasi resmi, kadang- kadang menggunakan kalimat yang tidak bersubjek karena adanya kata penghubung seperti dalam, pada, untuk, kepada diletakkan di awal kalimat. Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi tidak bersubjek misalnya
- Dalam pertemuan itu membahas berbagai persoalan. Supaya kalimat itu menjadi bersubjek, seharusnya
- Pertemuan itu membahas berbagai persoalan. atau - Dalam pertemuan itu dibahas berbagai persoalan.
(3) Penggunaan subjek yang berlebihan
Biasa kita mendengar kalimat Eti membeli ikan ketika Eti akan makan malam. Kalimat tersebut menggunakan dua subjek yang sama. Semestinya subjek kedua dihilangkan dan hal itu tidak memengaruhi rnakna kalimat. Dengan demikian, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi Ety membeli ikan ketika akan makan malam.
(4) Penggunan kata penghubung secara ganda pada kalimat majemuk
Dalam kalimat majemuk setara berlawanan kadang-kadang ada yang menggunakan dua kata penghubung sekaligus. Penggunaan kata penghubung yang ganda dalam suatu kalimat perlu dihindari. Semestinya hanya satu kata penghubung, misalnya sebagai berikut.
Meskipun sedang sakit kepala, namun Alimuddin tetap pergi sekolah.
Seharusnya:
Meskipun sedang sakit kepala, Alimuddin tetap pergi ke sekolah.
(5) Penggunaan kalimat yang tidak logis
Buku itu membahas peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar. Kalimat tersebut tidak logis karena tidak mungkin buku mempunyai kemampuan membahas peningkatan mutu pcndidikan SD. Oleh karena itu, kalimat tersebut perlu diperbaiki menjadi Dalam buku itu dibahas tentang peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar.
(6) Pengunaan kata penghubung berpasangan secara tidak tepat
Kata penghubung berpasangan yang berfungsi menafikan suatu hal terdiri atas bukan berpasangan melainkan untuk menafikkan ‖benda‖ dan kata penghubung bukan berpasangan tetapi untuk menafikkan ‖peristiwa atau kerja‖. Kedua kata penghubung berpasangan tersebut seharusnya digunakan secara konsisten dalam berbahasa Indonesia. Misalnya:
- Mereka tidak menulis melainkan sedang melukis. Seharusnya Mereka tidak menulis tetapi sedang melukis.
- Dia bukan perampok tetapi pengemis. Seharusnya Dia bukan perampok melainkan pengemis.
(7) Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa asing.
Kata di mana, yang mana, dengan siapa, adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam membuat kalimat tanya. Kata-kata tersebut bila digunakan di tengah kalimat yang fungsinya bukan menanyakan scsuatu merupakan pengaruh bahasa asing. Dengan demikian, perlu dihindari penggunaan di mana, yang mana, dengan siapa diganti dengan kata bahasa Indonesia. Misalnya sebagai berikut.
- Rumah di mana dia bermalam dekat daripasar. seharusnya
Rumah tempat dia bermalam dekat daripasar.
- Orang dengan siapa dia ajak bicara belum datang. Seharusnya Orang yang akan dia ajak bicara belum datang.
(8) Penggunaan kalimat yang tidak padu
Kalimat yang digunakan kadang-kadang kurang padu karena kesalahan struktur kata yang kurang tepat sehingga maknanya agak kabur. Misalnya:
- Mereka menyatakan persetujuannya tentang keputusan yang bijaksana itu seharusnya
- Mereka menyetujui keputusan yang bijaksana itu.
- Yang menjadi sebab rusaknya hutan adalah pembalakan liar. seharusnya Penyebab rusaknya hutan adalah pembalakan liar
(9) Penyusunan kalimat yang mubazir
Kalimat yang mubazir biasanya disebabkan penggunaan kata- kata yang berulang secara berlebihan, penggunaan dua kata yang relatif sama maknanya, misalnya sebagai berikut.
- Dalam konsep pedidikan yang disusunnya banyak terdapat berbagai kesalahan. Seharusnya
- Dalam konsep pendidikan yang disusunnya terdapat banyak kesalahan.
2) Taksonomi kategori siasat permukaan
Taksonomi siasat permukaan (surface strategy taxonomy) menyoroti bagaimana cara struktur-struktur permukaan berubah. Para pelajar mungkin saja: (1) menghindarkan/menghilangkan hal-hal penting, (2) menambahkan sesuatu yang tidak perlu, (3) salah menformasikan hal-hal, dan (4) salah menyusun hal-hal
tersebut. Akan tetapi, para peneliti telah mencatat bahwa unsur-unsur permukaan suatu bahasa berubah dengan cara-cara yang spesifik dan sistematis.
Menganalisis kesalahan-kesalahan dari persfektif siasat permukaan memang memberi banyak harapan bagi para peneliti, terutama yang berkaitan dengan pengenalan proses-proses kognitif yang mendasari rekonstruksi pelajar mengenai bahasa baru yang dipelajarinya itu. Hal itu juga menyadarkan kita bahwa kesalahan- kesalahan pelajar memang berdasarkan beberapa logika. Kesalahan tersebut bukanlah merupakan kemalasan dalam berfikir, tetapi merupakan akibat penggunaan prinsip-prinsip sementara untuk menghasilkan bahasa baru yang dilakukan oleh para pelajar. Secara garis besarnya, kesalahan-kesalahan yang terkandung dalam taksonomi siasat permukaan ini adalah:
a) Penghilangan (omission)
Kesalahan-keslahan yang bersifat ―penghilangan‖ ini ditandai oleh ketidak hadiran suatu hal yang seharusnya ada dalam ucapan yang baik dan benar. Memang kita dapat memahami bahwa setiap morfem atau kata dalam suatu kalimat merupakan calon potensial bagi penghilangan, tetapi beberapa tipe morfem justru lebih sering dihilangkan daripada yang lainnya. Morfem-morfem penuh (content morphemesh) seperti nomina, verba, adjektiva dan adverbial memang merupakan pendukung makna referensial (reverential meaning) yang terbesar dalam kalimat.
Seperti contoh berikut.
Kami membeli makanan yang enak di warung
Kata-kata kami, membeli, makanan, enak, warung merupakan morfem penuh yang mendukung beban makna terpenting dalam kalimat di atas. Apabila kita mendengar ucapan seperti berikut ini.
Kami membeli makanan enak warung
Maka kita dapat mendedukasikan suatu kalimat yang bermakna, sedangkan jika kita mendengar
Yang di
Maka kita bahkan mulai menerka-nerka apa sebenarnya yang ada pada pikiran pembicara.
Yang, di merupakan morfem gramatikal, kata-kata tugas yang memainkan peranan kecil dalam penyampaian makna suatu kalimat. Morfem gramatikal atau kata tugas ini, dalam bahasa Indonesia antara lain:
(1) Preposisi: di, ke, dari, daripada, pada, dan lain-lain.
(2) Konjungsi: dan, atau, tetapi, karena, sebab, kalau, jika, jikalau, walaupun, dan lain-lain.
(3) Artikel: si, sang.
Dalam kenyataannya para pelajar bahasa lebih banyak dan lebih sering menghilangkan kata tugas atau morfem garamatikal daripada kata penuh atau content words, terlebih dalam percakapan sehari-hari, seperti contoh berikut ini (yang berada dalam tanda kurung (...) berarti dihilangkan dalam percakapan itu).
Adi : ―siapa namamu?‖
Budi : ―nama saya [si] Budi‖
Adi : ―dimana kamu tinggal?‖
Budi : ―[di] Lembang‖
Adi : ―dimana kamu sekolah?‖
Budi : ―[di] sekolah dasar Lembang‖
Adi : ―mau pergi ke mana kamu?‖
Budi : ―[ke] Bandung‖
Adi : ―dengan siapa ke Bandung?‖
Budi : ―[dengan] teman saya‖
Adi : ―darimana kalian berangkat?‖
Budi : ―[dari] terminal ini‖
Adi : ―itu ada dua opelete datang. Yang mana kalian pilih?‖
Budi : ―[yang] duluan berangkat saja‖.
Adi : ―selamat jalan‖
Budi : ―terima kasih, sampai ketemu lagi!‖
Kesalahan berbahasa yang berupa penghilangan ini terdapat lebih banyak dan lebih bervariasi selama tahap-tahap awal pemerolehan bahasa kedua (PB2).
Penghilangan kata penuh, walaupun cukup khas pada tahap-tahap awal pemerolehan bahasa pertama (PB1), tidak sesering itu terjadi pada PB2 urutan (sequential L2 acquisition atau SLA) karena para pelajar sudah lebih tua dan sudah lebih dewasa secara kognitif. Kalaupun kata penuh dihilangkan dalam ujaran B2, maka biasanya hal itu terjadi karena kurangnya kosakata, terbatasnya perbendaharaan kata, dan umumnya para pelajar menyatakan kesadaran mereka mengenai unsur yang hilang itu. Beberapa diantaranya menggunakan gerak-gerik untuk menjelaskan makna yang dimaksudkan.Contoh:
Peneliti : sedang apa anak itu? (menunjuk pada seorang anak yang sedang membaca).
Pelajar (anak) : dia begini (gerak-geriknya melukiskan orang yang sedang membaca).
Contoh-contoh lain seperti ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga, terlebih pada anak kecil.
b) Penambahan (addition)
Kesalahan yang berupa penambahan ini merupakan kebalikan dari penghilangan. Kesalahan penambahan ini ditandai oleh hadirnya suatu hal atau unsur yang seharusnya tidak muncul dalam ucapan yang baik dan benar. Kesalahan ini biasanya terjadi pada tahap-tahap akhir PB2 pada saat para pelajar telah selesai menerima beberapa kaidah bahasa sasaran. Sebenarnya, kesalahan penambahan merupakan akibat dari pemakaian kaidah-kaidah tetentu yang terlalu teliti dan berhati-hati.
Para ahli telah mengamati serta menemukan adanya tiga tipe kesalahan penambahan pada ujaran para pelajar bahasa pertama dan bahasa kedua, yaitu: (1) penandaan ganda (double markings), (2) regularisasi (regularizations), dan (3) penambahan sederhana (simple additions). Kesalahan-kesalahan ini merupakan petunjuk-petunjuk yang menyatakan bahwa beberapa kidah dasar telah diperoleh, tetapi perbaikan-perbaikannya belum dilakukan.
c) Salah formasi
Kesalahan yang berupa misformation atau salah-formasi ini ditandai oleh pemakaian bentuk morfem atau strukur yang salah. Kalau dalam kesalahan
penghilangan, unsur tidak ada atau tidak tersedia sama sekali maka, dalam kesalahan salah-formasi ini para pelajar menyediakan serta memberikan sesuatu, walaupun hal itu tidak benar sama sekali.
d) Salah susun
Kesalahan-kesalahan yang berupa salah susun (misodering) ditandai oleh penempatan yang tidak benar bagi suatu morfem atau kelompok morfem dalam suatu ucapan atau ujaran. Kesalahan berbahasa dapat pula disebabkan oleh kesalahan susunan, seperti kesalahan frasa yang seharusnya bersusun AB dibalik menjadi BA terjadi frasa yang salah. Frasa yang salah ini sering digunakan sehingga tidak dirasakan lagi kesalahannya. Frasa dengan susunan terbalik ini banyak ditemukan dalam ragam bahasa nonstandar, bahasa iklan, dan bahasa sastra. Perhatikan contoh berikut ini!
Salah Benar
Ini hari hari ini
Ini malam malam ini
Besar amat amat besar
Saya punya punya saya
Nanti malam malam nanti
3) Taksonomi komparatif
Klasifikasi kesalahan dalam taksonomi komparatif didasarkan pada perbandingan-perbandingan antara struktur kesalahan B2 dan tipe konstruksi tertentu lainnya. Sebagai contoh kalau kita menggunakan taksonomi komparatif untuk mengklasifikasikan kesalahan pelajar Indonesia yang belajar bahasa Inggris maka,
kita dapat membandingkan struktur kesalahan pelajar tersebut dengan kesalahan yang dilakukan oleh pelajar yang memperoleh bahasa Inggris sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama (B1).
4) Taksonomi efek komunikasi
Apabila taksonomi siasat permukaan dan taksonomi komparatif memusatkan perhatian pada aspek-aspek kesalahan itu sendiri, maka taksonomi efek komunikatif memandang serta menghadapi kesalahan-kesalahan dari perspektif efeknya terhadap penyimak atau pembaca. Pusat perhatian tertuju pada pembedaan antara kesalahan- kesalahan yang seolah-olah menyebabkan salah komunikasi (miscomunication) dan yang tidak menyebabkan salah komunikasi. Dengan demikian, tipe kesalahan yang terjadi membuat perbedaan yang kritis apakah penyimak atau pembaca memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara dan penulis atau tidak. Kesalahan yang memengaruhi seluruh organisasi kalimat mengganggu keberhasilan komunikasi, sedangkan kesalahan yang hanya memengaruhi suatu unsur kalimat biasanya tidak mengganggu komunikasi.
f. Gejala bahasa
1) Pengertian gejala bahasa
Gejala bahasa adalah semua peristiwa yang menimbulkan terjadinya penyimpangan aturan-aturan bahasa yang menyangkut lafal, kata, frasa, dan kalimat.
Badudu (1983:47) mengemukakan bahwa gejala bahasa ialah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya.
Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa gejala bahasa ialah peristiwa bahasa yang menimbulkan bentukan-bentukan baru. Bentukan-bentukan baru itu ada yang sering dan lazim digunakan dalam bahasa Indonesia bahkan dijadikan bahasa baku, tetapi ada yang bisa merusak perkembangan bahasa.
Ada beberapa macam gejala bahasa antara lain, gejala analogi, gejala kontaminasi, gejala pleonasme, gejala hiperkorek, gejala protesis, gejala epentetis, gejala paragoge, gejala afaeresis, gejala sinkop, gejala apokop, gejala kontraksi, dan gejala adaptasi.
Beberapa gejala bahasa tersebut, ada yang dapat memperkaya khazanah bahasa ada juga yang merusak perkembangan bahasa misalnya, bentukan kata-kata atau kalimat yang ditimbulkan oleh gejala pleonasme, kontaminasi, dan hiperkorek.
2) Kesalahan sebagai suatu gejala bahasa
Kridalaksana (1993:120) mengemukakan bahwa ―kontaminasi adalah proses atau hasil pengacuan atau penggabungan dua bentuk yang secara tidak sengaja atau lazim dihubung-hubungkan; kerancuan‖.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Badudu (1982:16) menjelaskan bahwa istilah kontaminasi diambil dari bahasa Inggris contamination yang dapat diberi arti pencemaran. Dalam bidang bahasa, gejala tersebut kita padankan dengan kata
―kerancuan‖. Kata kerancuan diturunkan dari bentuk dasar rancu yang mendapat simulfiks ke-an, rancu bersinonim dengan kacau. Jadi, kerancuan berarti kekacauan.
Bentuk-bentuk yang rancu atau kata yang muncul dalam bahasa dapat dianggap sebagai suatu jenis pencemaran di dalam bahasa.
Kusno (1990:97) mengemukakan bahwa kontaminasi adalah pemakaian dua buah kata yang bersinonim yang dirangkai atau dicampuradukkan menjadi satu sehingga merupakan pemakaian yang berlebihan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gejala kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang diistilahkan dengan kekacauan. Kerancuan yang dimaksud adalah penggabungan dua unsur yang masing-masing berdiri sendiri dan menghasilkan bentukan baru yang tidak tepat atau kacau.
2. Tata bahasa (gramatikal) a. Pengertian tata bahasa
Tata bahasa merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan dalam stuktur bahasa. Stuktur bahasa itu meliputi bidang-bidang tata bunyi, tata bentuk, tata kata, dan tata kalimat serta tata makna. Dengan kata lain bahasa meliputi bidang-bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis (Keraf, 1994:27).
Crystal (dalam Tarigan, 2009:2) mengutarakan tata bahasa (grammar) adalah studi mengenai struktur kalimat, yang mengacu kepada sintaksis dan morfologi, seringkali disajikan dalam bentuk teks atu buku pegangan. Suatu penerimaan kaidah- kaidah yang mengendalikan bahasa secara umum, atau bahasa-bahasa tertentu, yang mencakup semantik, fonologi, bahkan pragmatik.
Richards (dalam Tarigan, 2009:3) mengemukakan bahwa tata bahasa adalah suatu pemerian atau deskripsi mengenai struktur suatu bahasa dan cara menggabungkan unit-unit linguistik seperti kata dan frasa untuk menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa tertentu. Biasanya juga turut mempertimbangkan makna-makana dan fungsi-fungsi yang dikandung dalam kalimat-kalimat tersebut
dalam keseluruhan sistem bahasa itu. Pemerian itu mungkin atau mungkin tidak meliputi pemerian bunyi-bunyi suatu bahasa.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam arti sempit tata bahasa mencakup sintaksis dan morfologi sedangkan dalam arti luas tata bahasa selain mencakup sintaksis dan morfologi,juga mencakup semantik, fonologi, dan pragmatik.
b. Jenis-jenis tata bahasa 1) Tata bahasa tradisional
Linguistik modern awal mulai pada saat munculnya paham baru Ferdinand de Saussure. Dibalik itu, terbentang ke belakang kira-kira 2000 tahun masa tata bahasa tradisional. Tata bahasa tradisional adalah suatu istilah yang kerap kali digunakan untuk meringkaskan jajaran sikap-sikap dan metode-metode yang dijumpai pada masa studi gramatikal sebelum kedatangan/ munculnya ilmu linguistik. ―Tradisi‖ yang dipermasalahkan itu telah berkisar sekitar 2000 tahun, Masa tersebut begitu panjang, dan menyangkut berbagai bahasa kuno, seperti Yunani, latin didunia barat, bahasa sangsekerta di India, bahasa Ibrani di timur tengah, Romawi kuno dan begitu pula karya- karya para pakar beserta para penulis Renaissance dan para pakar tata bahasa preskriptif abad ke-18. Pengajaran bahasa dikaitkan dengan pembicaraan dalam buku ini adalah bahasa Indonesia dan bahasa asing di Indonesia yang berasal dari barat, yakni bahasa Inggris, pengajaran bahasa Indonesia mendapat pengaruh dari bahasa Belanda yang juga berasal dari dunia barat.
Analisis tata bahasa tradisional mendasarkan pada kaidah bahasa lain terutama Yunani, Romawi, dan Latin. Semua mafhum bahwa karakteristik bahasa Indonesia, misalnya, tidak sama dengan bahasa-bahasa tersebut. Bahasa Yunani, Romawi, dan Latin tergolong bahasa deklinatif, yaitu yang perubahan katanya menunjukkan kategori, kasus, jumlah, atau jenisnya (Kridalaksana,1984: 36), sedangkan bahasa Indonesia tergolong sebagai bahasa inflektif, yaitu perubahan bentuk katanya menunjukkan hubungan gramatikal (Kridalaksana, 1984: 75). Oleh karena itu, analisis yang demikian akan menjumpai berbagai kesulitan.
2) Tata bahasa struktural
Tatabahasa struktural mendasarkan analisisnya pada karakteristik bahasa yang bersangkutan sebagaimana adanya bukan didasarkan pada kaidah bahasa lain.
Dengan demikian, kajiannya bersifat deskriptif. Sesuai namanya, pengkajian tidak didasarkan pada nosi atau arti, tetapi pada struktur atau perilakunya dalam sruktur:
fona dalam fonem, fonem dalam silabel, silabel dalam leksem, leksem dalam tagmem (frasa, klausa, kalimat). Untuk menggambarkan struktur tertentu, struktur tersebut ditempatkan pada kontinum struktur lain yang melingkupinya.
Simposium tata bahasa tentang kata majemuk pada 20 Oktober 1979 merumuskan simpulan, di antaranya sebagai berikut.
a) Prinsip yang harus dipegang di dalam mengidentifikasikan apakah suatu konstruksi merupakan konstruksi majemuk atau tidak ialah bahwa konstruksi itu memperlihatkan derajat keeratan yang tinggi sehingga merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.
b) Sebagai konstruksi yang tak terpisahkan, konstruksi majemuk berperilaku sebagai kata, artinya masing-masing konstituen konstruksi hilang otonominya.
Hilangnya otonomi itu berarti bahwa masing-masing konstituen tidak dapat dimodifikasikan secara terpisah, maupun di antaranya tidak dapat disisipkan morfem lain tanpa perubahan atas makna aslinya. (Parera, 1988: 117-118)
Rumusan simpulan tersebut dengan jelas menunjukkan penggunaan teori struktural dalam pengindentifikasian konstruksi majemuk seperti tersurat pada istilah (1)konstruksi, (2)kesatuan, (3)konstituen konstruksi, (4)derajat keeratan, dan (5)disisipi.
3) Tata bahasa generatif
Arti tata bahasa generatif adalah bahwa bahasa adalah struktur pikiran manusia. Tujuan tata bahasa generatif adalah membentuk model lengkap bahasa terdalam ini (dikenal sebagai i-language). Model ini dapat digunakan untuk menjelaskan semua bahasa manusia dan memperkirakan ketatabahasaan dari ungkapan apapun (yang berarti memperkirakan apakah ungkapan ini terdengar benar oleh para penutur asli suatu bahasa). Pendekatan terhadap bahasa dirintis oleh Noam Chomsky. Kebanyakan teori generatif (meskipun tidak semuanya) menganggap bahwa sintaksis didasarkan pada struktur kalimat yang konstituen. Tata bahasa generatif berada diantara teori yang berfokus terutama pada bentuk kalimat, daripada fungsi komunikatifnya.
4) Tata bahasa transformasi
Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky (1957) mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic