IDENTIFIKASI KEPATUHAN BANK SYARIAH DI INDONESIA TERHADAP PRINSIP SYARIAH BERBASIS ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DENGAN
PENDEKATAN PBI NO.11/15/PBI/2009
Ai Nur Bayinah dan Elvasiwi1
Abstract
Comply with Islamic principles is an obligation of Islamic Bank. Because it involves its
credibility. However bank credibility could been seen from its financial performance. This
research is aims to identify Islamic Bank compliance toward sharia for period 2009-2011. This
research is a qualitative research, using descriptive analysis. The analysis uses the regulation of
Bank Indonesia No.11/15/PBI/2009 as a reference, and based on the goals of financial report at
KDPPLKS, to evaluate the financial report of Islamic Bank in Indonesia, especially in side of
Assets, Liabilities, Incomes and Expenses. However this research is only analysis the financial
aspect, without management criteria. The result of this research reveals that almost a ll Islamic
Bank in Indonesia have complied with sharia.
Keywords: Complaince, Islamic Bank, Sharia Principles, F inancial Report.
1. PENDAHULUAN
Sejak berdirinya bank umum Syariah pertama di Indonesia pada tahun 1992, geliat
pertumbuhan perbankan Syariah sangatlah pesat. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan aset
dan pertumbuhan dana pihak ketiga serta pembiayaan yang makin signifikan. Hingga bulan
Oktober 2012 pertumbuhan asetnya mencapai ±37% (yoy) dengan total ±Rp179 triliun. Bahkan
Bank Indonesia optimis pertumbuhan ini dapat melesat lebih dari 50% jika ekonomi Indonesia
juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi di kisaran 6,3%-6,7%. Selain itu, pertumbuhan
penghimpunan dana juga melaju lebih dari 30% dan pembiayaan meningkat hingga 40%.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan tersebut belum mampu mendokrak
pangsa pasar perbankan Syariah di Indonesia dengan kisaran market share yang masih relatif
Dosen Tetap dan Sekretaris Program Studi Akuntansi Syariah STEI SEBI. Alumni STEI SEBI.
1
kecil 4,3% dibandingkan pangsa pasar perbankan secara keseluruhan. Padahal target Bank
Indonesia, perbankan Syariah seharusnya mampu mencapai market share 5% pada tahun 2008.
Namun hingga lebih dari dua dekade ini belum juga diraih.
Beberapa tantangan yang dihadapi perbankan Syariah dalam sosialisasi dan
mentransformasi paradigma berpikir masyarakat Indonesia untuk beralih ke bank Syariah
memang sangat beragam. Di antaranya, menurut penelitian Mu’allim2, tiga (3) dari lima (5) hal
teratas yang menjadi perhatian utama nasabah dalam memilih Bank Syariah adalah terkait
kredibilitas bank, kredibilitas manajemen bank, serta reputasi dan image bank yang
bersangkutan. Di mana pada saat ini bahkan masih banyak masyarakat (Muslim khususnya) yang
masih meragukan kesyariahan bank Syariah, apakah benar-benar patuh terhadap ketentuan
Syariah, ataukah sama saja dengan bank konvensional, dan hanya sekedar berbeda penamaan.
Kredibilitas sendiri dalam hal ini kaitannya dengan perbankan dapat dilihat dari kinerja
keuangan bank tersebut. Di mana kinerja bank secara umum merupakan gambaran prestasi yang
dicapai oleh bank dalam operasionalnya. Sementara kinerja keuangan merupakan cerminan
kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik mencakup aspek penghimpunan maupun
penyaluran dananya. Kinerja ini selanjutnya dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan
dan kelemahan suatu perusahaan agar dapat dimanfaatkan dan dilakukan langkah-langkah
perbaikan ke depannya. Di mana salah satu alat untuk mengevaluasi kinerja perusahaan adalah
melalui analisis terhadap laporan keuangan perusahaan yang dimaksud3.
Analisis laporan keuangan ini selanjutnya bertujuan untuk menilai kemampuan perusahaan
setidaknya dalam tiga cakupan, yaitu penilaian perusahaan itu sendiri, posisi relatif perusahaan
dalam industri, dan perbandingan dengan perusahaan sejenis4. Dalam hal perbankan Syariah
analisis terhadap laporan keuangan ini juga bertujuan diantaranya untuk menilai tingkat
kepatuhan terhadap prinsip Syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha. Serta untuk
memberikan informasi kepatuhan bank Syariah terhadap prinsip syariah mengenai aset,
kewajiban, pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip Syariah bila ada, dan
bagaimana perolehan dan penggunaannya, sebagaimana tercantum dalam Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
2Amir Mu’allim.
Persepsi Masyarakat terhadap Lembaga Keuangan Syariah. Jurnal Hukum Islam Al-Mawarid, No.10. 2003.
3 Yunanto Adi Kusumo. Analisis Kinerja Keuangan BSM periode 2002-2007 (dengan pendekatan PBI No. 9/1/PBI/2007). Jurnal Ekonomi Islam La Riba, Vol.2 No.1. 2008.
Analisis terhadap laporan keuangan ini juga menjadi sangat penting dalam menilai
kredibilitas perbankan Syariah, apalagi melihat semakin banyaknya bank konvensional yang
melakukan konversi ke bank Syariah. Sebagaimana dirilis oleh Bank Indonesia, saat ini telah ada
lebih dari 10 bank umum konvensional yang konversi menjadi bank syariah. Peralihan ini tentu
memerlukan dukungan dan perhatian semua pihak, agar dapat menciptakan iklim perbankan
Syariah yang sehat dan tangguh. Sebab sebagai bank yang membawa nilai-nilai Syariah dalam
setiap kegiatan usahanya, bank Syariah mengemban resiko reputasi yang sangat signifikan
pengaruhnya apabila ternyata terbukti melakukan pelanggaran Syariah. Oleh karena itu, Bank
Indonesia juga memberikan arahan dan batasan kepada pihak perbankan dalam perubahan bank
umum konvensional menjadi bank umum Syariah dengan mengeluarkan peraturan bank
Indonesia No. 11/15/PBI/2009.
Peraturan ini dimaksudkan untuk tetap menjaga atmosfer usaha yang kondusif sekaligus
mengawal kesyariahan bank Syariah, dengan mengatur bahwa hanya bank konvensional yang
dapat berubah menjadi bank Syariah dan tidak berlaku sebaliknya, serta di pasal 18 disebutkan
bahwa bank konvensional yang telah mendapat izin perubahan kegiatan usaha menjadi Bank
Syariah wajib menyelesaikan hak dan kewajiban dari kegiatan usaha secara konvensional paling
lambat 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal izin perubahan kegiatan usaha diberikan.
Sehingga untuk mengidentifikasi kepatuhan perbankan Syariah di Indonesia dalam
menjalankan prinsip-prinsip Syariah dalam kegiatan operasionalnya, dalam rangka menjaga
kredibilitas kesyariahan bank Syariah, paper ini mencoba meneliti dan melakukan analisis
berbasis laporan keuangan dan pendekatan peraturan bank Indonesia tersebut, dengan
mengambil judul “Identifikasi Kepatuhan Bank Syariah Di Indonesia Terhadap Prinsip
Syariah Berbasis Analisis Laporan Keuangan Dengan Pendekatan PBI No.11/15/PBI/2009.”
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Kepatuhan
Mengacu pada kamus besar bahasa Indonesia, „kepatuhan‟ bersinonim dengan kata
„ketaatan‟. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (Qs. An-Nisa: 59)
Dari ayat diatas dapat dilihat bahwa taat atau patuh merupakan hal yang wajib dan sangat
penting dalam Islam, karena taat atau patuh merupakan bentuk pertanggungjawaban pihak yang
diberikan amanat atas apa yang diperintahkan oleh pemberi amanat.
Dalam kaitannya dengan tata kelola perusahaan, kepatuhan berarti mengikuti suatu
spesifikasi, standar, atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang biasanya diterbitkan oleh
lembaga atau organisasi yang berwenang dalam suatu bidang tertentu. Dalam kategori
perbankan, lembaga keuangan berarti harus mematuhi segala peraturan yang dibuat oleh Bank
Indonesia sebagai regulator yang berwenang mengawasi kegiatan industri perbankan.
Secara spesifik, terkait perbankan Syariah, Othman dan Owwen5 menyebutkan bahwa
penilaian terhadap kepatuhan ditujukan untuk mengukur kemampuan perusahaan agar sesuai
dengan hukum Islam dan prinsip-prinsip perbankan dan ekonomi Islam. Di antara indikator
kepatuhan yang disampaikan meliputi: (1) Institusi sesuai dengan hukum Islam, (2) Institusi
tidak menarik atau memberikan bunga pada produk pembiayaan dan simpanan, (3) Ketentuan
produk dan layanan yang Islami, (4) Ketentuan bebas bunga pada produk pembiayaan, dan (5)
Ketentuan bagi hasil pada produk-produk investasi.
2.2. Prinsip Syariah
Secara teknis sebagaimana tercantum dalam pasal 1 butir 13 Undang-Undang No 7
Tahun 1998 tentang perbankan, memaparkan bahwa prinsip syariah adalah aturan perjanjian
berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau
pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah.
Antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan
prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual-beli barang dengan memperoleh
keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa
pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa
dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).
Di mana dalam pelaksanaan prinsip Syariah pada transaksi yang terjadi di Bank Syariah
harus memenuhi karakteristik dan persyaratan6: (a) Transaksi hanya dilakukan berdasarkan
prinsip saling paham dan saling ridha; (b) Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang
objeknya halal dan baik (thayib); (c) Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan
pengukur nilai, bukan sebagai komoditas; (d) Tidak mengandung unsur riba; (e) Tidak
mengandung unsur kezaliman; (f) Tidak mengandung unsur maysir; (g) Tidak mengandung
unsur gharar; (h) Tidak mengandung unsur haram; (i) Tidak menganut prinsip nilai waktu dari
uang (time value of money); (j) Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan
benar; (k) Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan (najasy) maupun rekayasa
penawaran (ikhtikar); dan (l) Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap menyuap (risywah).
2.3. Analisis Laporan Keuangan
2.3.1. Definisi Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan menurut Baridwan7 merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, meruapakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi yang terjadi selama tahun buku
yang bersangkutan. Sedangkan menurut Kasmir8, ia merupakan laporan yang menunjukkan
kondisi keuangan perusahaan pada saat ini (yang dicerminkan oleh laporan posisi keuangan) atau
dalam suatu periode tertentu (yang ditunjukkan oleh laporan laba/rugi).
Sedangkan analisis laporan keuangan merupakan proses evaluasi atas laporan keuangan
suatu perusahaan dengan melakukan pemilahan atas perkiraan yang dilaporkan untuk kemudian
dilakukan perbandingan9. Tujuannya antara lain untuk membedah laporan keuangan, menelaah
masing-masing unsur dan menelaah hubungan di antara unsur tersebut dengan tujuan untuk
memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik dan tepat atas laporan keuangan yang
dianalisis10.
2.3.2. Tujuan Laporan Keuangan Bank Syariah
Tujuan penyajian laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi terkait posisi
keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
6
Ikatan Akuntan Indonesia, Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah. IAI. 2007. hal.10
7 Zaki Baridwan, Intermediate Acconting (2nd
ed), Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta. 2005 8
Kasmir, Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2011. 9 Soepardi, Op.cit.
pemakan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Di samping itu, tujuan lainnya yang utama
adalah untuk : Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan
kegiatan usaha; dan berisi Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta
informasi aset, kewajiban, pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, bila
ada, dan bagaimana perolehan dan penggunaannya. Dalam hal ini, penelitian ini fokus pada
tujuan tersebut untuk mendapatkan analisis yang lebih mendalam terkait kepatuhan bank Syariah
dalam pelaksanaan prinsip-prinsip syariah pada kegiatan operasionalnya.
2.3.3. Teknik Analisis Laporan Keuangan
Terdapat beberapa teknik dan metode yang dapat digunakan dalam melakukan analisis
laporan keuangan perbankan Syariah. Metode ini sangat beragam dan dipilih sebagaimana tujuan
yang hendak dicapai dalam penelitian yang dimaksud. Dalam hal ini, teknik yang digunakan
dalam paper ini adalah menggunakan analisis sumber dan penggunaan dana serta analisis trend.
Analisis sumber dan penggunaan dana merupakan analisis yang dilakukan untuk
mengetahui sumber-sumber dana perusahaan dan penggunaan dana dalam suatu periode.
Analisis ini juga untuk mengetahui jumlah modal kerja perusahaan dalam suatu periode.
Sedangkan analisis tren atau tendensi merupakan analisis laporan keuangan yang biasanya
dinyatakan dalam persentase tertentu. Analisis ini dilakukan dari periode ke periode sehingga
akan terlihat apakah perusahaan akan mengalami perubahan yaitu naik, atau turun, atau tetap,
serta sebarapa besar perubahan tersebut yang dihitung dalam persentase, atau disebut juga
dengan analisis laporan keuangan komparatif (comparative financial statement analysis), yaitu
analisis dilakukan dengan cara menelaah neraca, laporan laba rugi, atau laporan arus kas yang
berurutan dari satu periode ke periode berikutnya11.
3. METODE PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini meliputi identifikasi kepatuhan Bank Syariah terhadap
Prinsip Syariah, dalam hal aset (harta yang dimiliki perusahaan), kewajiban (hutang), pendapatan
dan biaya yang dikeluarkan oleh bank yang menjadi objek penelitian. Data yang digunakan
dalam penelitian ini meliputi data laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan pada tahun
2009-2011. Penelitian ini menurut analisis datanya termasuk penelitian kualitatif, sedangkan
menurut kegunaannya penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang hendak membuat
gambaran dan menjabarkan suatu peristiwa atau gejala secara sistematis.
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Bank Umum Syariah (BUS) yang ada di
Indonesia, yang seluruhnya berjumlah 11 bank. Namun berdasarkan kriteria penelitian yang
mengharuskan analisis perbandingan selama 3 (tiga) tahun pelaporan keuangan, maka
berdasarkan metode purposive sampling hanya didapat 5 (lima) BUS sampel yang representatif
sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Meliputi PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI), PT.
Bank Mandiri Syariah (BSM), PT. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI), PT. Bank Rakyat
Indonesia Syariah (BRIS), PT. Bank Syariah Bukopin (BSB). Sebab 6 BUS lainnya belum
mempublikasikan laporan keuangannya selama periode yang dimaksud.
Adapun komponen kepatuhan yang digunakan dalam penelitian ini sebagaimana pada
tabel 1. Jika sumber dan penggunaan dana yang dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan
masing-masing BUS sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, maka komponen penilaian dari
masing-masing akun bernilai patuh, dan sebaliknya.
Tabel 1. Komponen Akun Teridentifikasi Ketidakpatuhan Syariah
Aset Kewajiban Pendapatan Beban
- Giro pada bank lain
Dengan komponen penelitian tersebut, maka alur penelitian yang dilakukan dalam paper
ini untuk mencapai tujuan penelitian yang dimaksud meliputi hal berikut:
Bagan 1. Alur Penelitian
Prinsip Syariah Laporan Keuangan BUS periode 2009-2011
Kepatuhan Syariah BUS
Purposive sampling
Analisis Akun Teridentifikasi
4. PEMBAHASAN
Dalam rangka mengidentifikasi kepatuhan bank syariah di Indonesia terhadap
prinsip-prinsip Syariah, berikut diuraikan hasil penelitian terhadap akun-akun yang berkemungkinan
teridentifikasi memiliki unsur ketidakpatuhan terhadap Syariah dengan penekanan pada
kelompok akun “Aset”, “Kewajiban”, “Pendapatan”, dan “Beban, yang terjadi dalam periode penelitian pada bank Syariah yang dimaksud.
4.1. Kepatuhan “Aset” Bank Syariah Terhadap Prinsip Syariah a. Bank Muamalat Indonesia (BMI)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen aset Bank
Muamalat Indonesia:
Tabel 2. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Aset BMI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Giro pada bank lain Giro milik Bank Muamalat Indonesia yang ditempatkan pada lembaga
keuangan lain, hanya pada 4 lembaga keuangan syariah di Indonesia yaitu BSM, BSMI, BNI-UUS, dan BPD Sumbar-UUS dalam bentuk Rupiah, sedangkan giro yang lainnya ditempatkan di lembaga keuangan konvensional sebanyak 11 bank konvensional. Giro pada bank lain dalam bentuk mata uang asing pun sama. Hanya 4 lembaga keuangan syariah yang menempatkan giro BMI dalam bentuk mata uang asing, dan selebihnya lebih banyak menempatkan giro BMI pada lembaga keuangan konvensional. Dan dilihat dari nilainya, giro BMI yang ditempatkan pada bank lain ini fluktuatif, dari tahun pertama ke tahun kedua mengalami penurunan, dan pada tahun kedua menuju tahun ketiga angkanya menjadi naik.
Penempatan pada bank Indonesia dan bank lain
Penempatan pada bank lain ini terjadi pada lembaga keuangan syariah, dan lebih banyak lembaga keuangan syariahnya dalam bentuk BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah)
Investasi pada efek/ surat berharga
Dalam catatan atas laporan keuangan, saham BMI diinvestasikan pada lembaga keuangan syariah, dan mengalami peningkatan nilai dari tahun ke tahun walaupun peningkatannya tidak begitu signifikan.
Surat berharga/ efek-efek yang dimiliki
Dalam efek, efek yang dimiliki Bank Muamalat Indonesia kebanyakan ditempatkan pada perusahaan-perusahaan. Selain itu efek-efek BMI dari tahun 2009 sampai tahun 2011 mengalami peningkatan yang signifikan.
Kredit yang diberikan Tidak ditemukan informasi mengenai akun kredit yang diberikan.
Pendapatan yang masih akan diterima
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun pendapatan yang masih akan diterima.
b. Bank Mandiri Syariah (BSM)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen aset Bank
Tabel 3. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Aset BSM
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Giro pada bank lain Giro pada bank lain dinyatakan sebesar saldo giro dikurangi dengan
penyisihan kerugian. Bonus yang diterima Bank dari bank umum syariah diakui sebagai pendapatan usaha lainnya. Dilihat dari giro pada bank lain yang ada di Bank Mandiri Syariah merupakan giro yang disimpan di Bank Mandiri (konvensional), dan nominal penyimpanan giro pada bank mandiri dari tahun ke tahun semakin meningkat. Akan tetapi, penerimaan jasa giro dari bank non-syariah tidak diakui sebagai pendapatan Bank dan digunakan untuk dana kebajikan (qardhul hasan). Penerimaan jasa giro dari bank non-syariah tersebut sebelum disalurkan dicatat sebagai kewajiban BSM. Penempatan pada bank
lain
Penempatan pada bank lain dalam Bank Mandiri Syariah adalah penanaman dana BSM pada bank syariah lainnya dan/atau bank perkreditan rakyat syariah antara lain dalam bentuk wadiah, deposito berjangka dan/atau tabungan mudharabah, pembiayaan yang diberikan, dan bentuk-bentuk penempatan lainnya berdasarkan prinsip syariah. Investasi pada efek/
surat berharga
Surat berharga syariah adalah surat bukti penanaman dalam surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang lazim diperdagangkan di pasar uang syariah dan/atau pasar modal syariah antara lain obligasi syariah, sertifikat reksadana syariah dan surat berharga lainnya berdasarkan prinsip syariah. Surat berharga yang
dimiliki
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun surat berharga yang dimiliki.
Kredit yang diberikan Tidak ditemukan informasi mengenai akun kredit yang diberikan.
Pendapatan yang masih akan diterima
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun pendapatan yang masih akan diterima.
c. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen aset Bank
Mega Syariah Indonesia:
Tabel 4. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Aset BMSI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Giro pada bank lain Giro pada bank lain dinyatakan sebesar saldo dikurangi dengan
penyisihan kerugian. Bonus yang diterima bank dari Bank Umum Syariah diakui sebagai pendapatan usaha lainnya. Penerimaan jasa giro dari Bank Umum Konvensional (jika ada) tidak diakui sebagai pendapatan Bank & digunakan untuk dana kebajikan (qardhul hasan) Penempatan pada bank
lain
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun penempatan pada bank lain.
Kredit yang diberikan Tidak ditemukan informasi mengenai akun kredit yang diberikan.
Pendapatan yang masih akan diterima
d. Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRISyariah)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen aset Bank
Rakyat Indonesia Syariah:
Tabel 5. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Aset BRIS
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Giro pada bank lain Akun giro pada bank lain, yaitu giro pada PT. Bank Mandiri (Persero)
Tbk merupakan dana collateral (deposit) keanggotaan ATM Bersama. Bank tidak memperoleh pendapatan jasa giro atas seluruh penempatan giro pada bank lain tersebut. Giro pada Bank lain dinyatakan sebesar saldo giro dikurangi dengan penyisihan kerugian. Bonus yang diterima BRIS dari bank umum syariah diakui sebagai pendapatan usaha lainnya. Penerimaan jasa giro dari bank nonsyariah tidak diakui sebagai pendapatan BRIS dan digunakan untuk dana kebajikan (qardhul hasan). Penerimaan jasa giro dari bank nonsyariah tersebut sebelum disalurkan dicatat sebagai kewajiban BRIS. Giro BRIS ditempatkan pada PT. BRI (Persero) dan PT. Bank Mandiri (Persero).
Penempatan pada bank lain
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun penempatan pada bank lain.
Investasi pada surat berharga
Surat berharga syariah adalah surat bukti penanaman dalam surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang lazim diperdagangkan di pasar uang syariah dan/atau pasar modal syariah antara lain obligasi syariah, sertifikat reksadana syariah dan surat berharga lainnya berdasarkan prinsip syariah. BRIS melakukan investasi surat berharga pada Pemerintah Negara RI, PT. Pupuk Kalimantan Timur (Persero), PT. Indosat Tbk, dan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero).
Surat berharga yang dimiliki
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun surat berharga yang dimiliki.
Kredit yang diberikan Tidak ditemukan informasi mengenai akun kredit yang diberikan.
Pendapatan yang masih akan diterima
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun pendapatan yang masih akan diterima.
e. Bank Syariah Bukopin
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen aset Bank
Syariah Bukopin:
Tabel 6. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Aset BSB
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Giro pada bank lain Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun giro pada
bank lain. Penempatan pada bank
lain
syariah yang menempatakan giro BSB. Investasi pada efek/ surat
berharga
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun investasi pada efek/ surat berharga
Surat berharga/ efek yang dimilik
Efek-efek BSB yaitu obligasi Negara Republik Indonesia dan sukuk mudharabah Negara Republik Indonesia.
Kredit yang diberikan Kredit yang diberikan dinyatakan sebesar jumlah tagihan kepada nasabah
dikurangi dengan penyisihan penghapusan yang dibentuk berdasarkan hasil penelaahan terhadap kolektibilitas dari kredit yang diberikan dengan berbasis bunga.
Berdasarkan analisis sumber dan penggunaan dana di atas diketahui bahwa Bank Syariah
Bukopin diantaranya masih menyalurkan kredit berbasis bunga yang dilarang secara Syariah. Di
mana menurut PBI No.11/15/PBI/2009 telah dijelaskan bahwa bank syariah hanya diberi waktu
1 (satu) tahun untuk menunaikan hak dan kewajibannya dengan bank konvensional. Sehingga
pada BSB, kredit yang diberikan pada tahun pertama masih dianggap patuh karena kondisi yang
tidak memungkinkan dan secara regulasi masih diperbolehkan, akan tetapi di tahun kedua dan
tahun ketiga, BSB masih melakukan kegiatan konvensional, artinya BSB dari sisi aset dianggap
belum patuh. Meskipun begitu terjadi tren penurunan sebesar 0,15% di tahun 2010 dari tahun
2009, dan 21% di tahun 2011 dari tahun sebelumnya, yang menunjukkan tingginya keinginan
BSB untuk menghilangkan transaksi konvensional dalam operasional usahanya.
f. Kepatuhan “Aset” Bank Syariah di Indonesia
Sehingga dari sisi aset bank umum syariah di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat
kepatuhan yang dinilai dari sisi aset telah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah kecuali Bank
Syariah Bukopin. Pada tahun pertama, bank tersebut masih melakukan kegiatan konvensional.
Hal ini dimaklumi karena pada peraturan Bank Indonesia tentang perubahan kegiatan usaha
Bank Konvensional menjadi Bank Syariah telah dijelaskan mengenai kelonggaran waktu selama
1 (satu) tahun untuk menunaikan hak dan kewajiban konvensionalnya. Akan tetapi pada tahun
kedua dan tahun ketiga, BSB masih melakukan kegitan konvensional. Sesuai dengan PBI, maka
BSB telah melanggar peraturan yang telah ada dan tidak patuh terhadap prinsip syariah.
Tabel 7. Kepatuhan Syariah dari sisi Aset Bank Umum Syariah di Indonesia
Komponen Akun BMI BSM BMSI BRIS BSB
T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3
Penempatan pada bank lain P P P P P P P P P P P P P TP TP
4.2. Kepatuhan “Kewajiban” Bank Syariah Terhadap Prinsip Syariah a. Bank Muamalat Indonesia
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen kewajiban
Bank Muamalat Indonesia:
Tabel 8. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Kewajiban BMI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Simpanan dari bank lain Pada catatan atas laporan keuangan dijelaskan bahwa simpanan dari bank
lain ini dalam bentuk giro dan deposito dengan akad syariah, yaitu akad wadiah dan wakalah.
Pinjaman yang diterima Pinjaman yang diterima oleh Bank Muamalat Indonesia selain dari
Departemen Keuangan RI, ada juga perusahaan, yaitu PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) dan PT. Sarana Multigriya Finansial (Persero). Dalam catatan atas laporan keuangan dijelaskan tentang nisbah dan pinjaman dari PT. Multigriya Finansial (Persero) dengan menggunakan akad pembiayaan mudharabah.
Surat berharga yang diterbitkan
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun surat berharga yang diterbitkan.
Kewajiban lain-lain Pada akun ini, tidak ada kewajiban dalam bentuk tidak syariah.
Kewajiban pada bank lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun kewajiban pada bank lain.
b. Bank Mandiri Syariah (BSM)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen kewajiban
Bank Mandiri Syariah:
Tabel 9. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Kewajiban BSM
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Simpanan dari bank lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun simpanan dari bank lain.
Pinjaman yang diterima Tidak ditemukan informasi mengenai akun pinjaman yang diterima.
Surat berharga yang diterbitkan
Tidak ditemukan informasi mengenai akun surat berharga yang diterbitkan.
Kewajiban lain-lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun kewajiban lain-lain.
c. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen kewajiban
Bank Mega Syariah Indonesia:
Tabel 10. Analisis Sumber dan Penggunaan Dana dari Sisi Kewajiban BMSI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Simpanan dari bank lain Simpanan yang dilakukan oleh BMSI merupakan simpanan pihak lain
dalam bentuk giro wadiah dan tabungan wadiah.
Pinjaman yang diterima Tidak ditemukan informasi mengenai akun pinjaman yang diterima.
Surat berharga yang diterbitkan
Tidak ditemukan informasi mengenai akun surat berharga yang diterbitkan.
Kewajiban lain-lain Kewajiban pada bank lain adalah dana yang diterima dari bank lain
dalam bentuk Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank, kewajiban kepada bank lain dalam rangka perdagangan dan lain-lain dengan kewajiban membayar kembali dalam jangka pendek sesuai persyaratan dalam akad. Kewajiban yang dilakukan oleh BMSI dengan lembaga keuangan syariah dan juga dengan beberapa lembaga keuangan konvensional.
Kewajiban pada bank lain
Terdapat kewajiban lain-lain yang terjadi di BMSI, yaitu kewajiban imbalan kerja, biaya yang masih harus dibayar, pendapatan ditangguhkan-talangan haji, zakat, pendapatan ditangguhkan-lainnya, setoran jaminan, dana titipan sosial, dan dana lain-lain.
d. Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRISyariah)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen kewajiban
Bank Mega Syariah Indonesia:
Tabel 11. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Kewajiban BRIS
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Simpanan dari bank lain Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (SIMA) merupakan
penanaman dana dari bank lain dengan sistem bagi hasil. SIMA dinyatakan sebesar kewajiban Bank kepada bank lain. Dalam catatan atas laporan keuangan, jenis transakasi yang digunakan sudah menggunakan prinsip syariah walaupun lembaga keuangannya bukan syariah.
Pinjaman yang diterima Tidak ditemukan informasi mengenai akun pinjaman yang diterima.
Surat berharga yang diterbitkan
Tidak ditemukan informasi mengenai akun surat berharga yang diterbitkan.
Kewajiban lain-lain Kewajiban lain-lain pada laporan keuangan BRIS yaitu kewajiban
imbalan tenaga kerja yang belum terbayar.
Kewajiban pada bank lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun kewajiban pada bank lain.
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen kewajiban
Bank Syariah Bukopin:
Tabel 12. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Kewajiban BSB
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Simpanan dari bank lain/ penempatan dari bank lain
Jenis transaksi yang digunakan BSB kepada bank lain dalam bentuk investasi mudharabah, deposito mudharabah, tabungan bisnis mudharabah, dan giro pada bank lain.
Pinjaman yang diterima Pinjaman yang akan diterima terdiri dari kredit likuiditas
KP-RS/RSS dan Bank Indonesia.
Surat berharga yang diterbitkan Tidak ditemukan informasi mengenai akun surat berharga
yang diterbitkan.
Kewajiban lain-lain Kewajiban lainnya merupakan rekening titipan atas
angsuran pokok dan bunga bantuan uang muka (BUM) KPRS dan YKPP.
Kewajiban pada bank lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun kewajiban pada
bank lain.
f. Kepatuhan “Kewajiban” Bank Syariah di Indonesia
Tabel 13. Kepatuhan Syariah dari sisi Kewajiban Bank Umum Syariah di Indonesia
Komponen Akun BMI BSM BMSI BRIS BSB
T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3
Simpanan dari bank lain P P P P P P P P P P P P P P P
Pinjaman yang diterima P P P P P P P P P P P P P P P
Surat berharga yang diterbitkan P P P P P P P P P P P P P P P
Kewajiban lain-lain P P P P P P P P P P P P P TP TP
Kewajiban pada bank lain P P P P P P P P P P P P P P P
*P: Patuh, TP: Tidak Patuh
T1: Tahun 2009; T2: Tahun 2010; T3: Tahun 2011
Dari kesimpulan tabel di atas bahwa hanya BSB yang masih belum patuh terhadap prinsip
syariah dan terhadap PBI No. 11/15/PBI/2009. Sementara Bank Umum Syariah lainnya telah
patuh terhadap prinsip-prinsip syariah dan Peraturan Bank Indonesia.
4.3. Kepatuhan “Pendapatan” Bank Syariah Terhadap Prinsip Syariah a. Bank Muamalat Indonesia
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen pendapatan
Tabel 14. Analisis Sumber dan Penggunaan Dana dari Sisi Pendapatan BMI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Pendapatan dari bank lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun pendapatan dari bank
lain.
Pendapatan bunga Tidak ditemukan informasi mengenai akun pendapatan bunga.
Pendapatan operasional lainnya
Tidak ditemukan informasi ketidakpatuhan syariah pada akun pendapatan operasional lainnya.
Pendapatan non operasional lainnya
Pendapatan non operasional lainnya terdiri dari pendapatan non usaha, keuntungan penjualan aset tetap, pendapatan dari penyaluran kepada usaha kecil, dan lain-lain yang tidak mengandung unsur riba.
b. Bank Mandiri Syariah (BSM)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen pendapatan
Bank Mandiri Syariah:
Tabel 15. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Pendapatan BSM
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Pendapatan dari bank lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun pendapatan dari bank lain.
Pendapatan bunga Tidak ditemukan informasi mengenai akun pendapatan bunga.
Pendapatan usaha/
operasional lainnya
Pendapatan usaha/ operasional lainnya terdiri atas pendapatan imbalan jasa perbankan dan imbalan investasi terikat yang bukan mengandung unsur riba.
Pendapatan non operasional/ usaha
Pendapatan non usaha terdiri atas laba penjualan aset tetap, sewa gedung, keuntungan selisih kurs, dan lainnya yang tidak mengandung unsur riba.
c. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen pendapatan
Bank Mega Syariah Indonesia:
Tabel 16. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Pendapatan BMSI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Pendapatan dari bank lain
Tidak ditemukan informasi mengenai akun pendapatan dari bank lain.
Pendapatan bunga Tidak ditemukan informasi mengenai akun pendapatan bunga.
Pendapatan operasional lainnya
Sumber pendapatan dari usaha terdiri dari pembalikan penyisihan kerugian, jasa administrasi, provisi dan asuransi, komisi asuransi, transfer, transaksi valuta asing, dan dari lain-lain.
Pendapatan non
d. Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRISyariah)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen pendapatan
Bank Rakyat Indonesia Syariah:
Tabel 17. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Pendapatan BRIS
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Pendapatan dari bank lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun pendapatan dari bank lain.
Pendapatan bunga Pendapatan dan beban bunga diakui berdasarkan konsep akrual.
Pendapatan bunga atas kredit yang diberikan atau aset produktif lainnya yang diklasifikasikan sebagai bermasalah diakui pada saat bunga tersebut diterima (cash basis). Pada saat kredit yang diberikan diklasifikasikan sebagai bermasalah, bunga yang telah diakui tetapi
belum tertagih akan dibatalkan pengakuannya. Penerimaan
pembayaran atas kredit yang diklasifikasikan sebagai diragukan atau macet dipergunakan terlebih dahulu untuk mengurangi pokok kredit. Kelebihan penerimaan dari pokok kredit diakui sebagai pendapatan bunga dalam laporan laba rugi.
Pendapatan operasional lainnya
Pendapatan non operasional lainnya berasal dari imbalan jasa perbankan. Imbalan jasa perbankan terdiri dari jasa investasi terikat (mudharabah muqayyadah), pendapatan jasa garansi bank, biaya
administrasi pembiayaan, pendapatan administrasi deposito,
penggantian biaya percetakan, pendapatan administrasi gadai, pendapatan administrasi talangan haji, dan pendapatan provisi transfer.
Pendapatan non operasional lainnya
Pendapatan non operasional lainnya terdiri atas laba penjualan aset tetap, administrasi, sewa gedung, dan lainnya yang tidak mengandung unsure riba.
Terlihat bahwa BRIS masih menerima pendapatan non halal yaitu pendapatan bunga pada
tahun 2009. Penggunaan dana tersebut terlebih dahulu untuk mengurangi pokok kredit dari kredit
yang bermasalah dan yang belum tertagih. Jika masih ada kelebihan dari pendapatan bunga
tersebut, maka kelebihan tersebut diakui sebagai pendapatan bunga dalam laporan laba rugi. Jika
menggunakan analisis trend untuk tahun 2010 dan tahun 2011, maka hasil analisis trend dari
akun tersebut adalah 0% (nol persen), baik di tahun 2010 dan tahun 2011.
e. Bank Syariah Bukopin
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen pendapatan
Bank Bukopin Syariah:
Tabel 18. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Pendapatan BSB
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Pendapatan bunga Pendapatan bunga diperoleh dari bunga jasa giro dari bank lain dan pinjaman atas modal kerja, investasi, dan konsumtif.
Pendapatan provisi dan komisi yang berkaitan langsung dengan kegiatan pembiayaan diakui sebagai pendapatan pada saat diterima. Pendapatan operasional
lainnya
Pendapatan lain-lain diperoleh dari administrasi dan lainnya yang bukan merupakan unsur riba.
Pendapatan non
operasional lainnya
Pendapatan non operasional terdiri atas akun pendapatan sewa, keuntungan penjualan aset tetap dan agunan yang diambil alih, koreksi PPAP, dan lainnya.
Dari tabel diatas terlihat bahwa Bank Syariah Bukopin masih menerima pendapatan non
halal, yaitu akun pendapatan bunga. Dari tahun ke tahun, pendapatan bunga pada BSB
mengalami peningkatan. Namun secara tren, pendapatan bunga pada tahun 2010 mengalami
penurunan yang sangat signifikan dari tahun 2009 sebesar 97%. Sementara pendapatan bunga di
tahun 2011 pun juga mengalami penurunan sebesar 91% dari tahun 2010. Pendapatan non halal
dalam hal ini adalah pendapatan bunga, seharusnya dana tersebut dialihkan pada laporan qardhul
hasan atau laporan dana kebajikan. Namun, Bank Syariah Bukopin tidak membuat laporan
tersebut karena bank tidak secara langsung menjalankan fungsi penyaluran dana zakat, infaq, dan
shodaqoh serta dana qardhul hasan. Hal ini berarti pendapatan bunga dijadikan sebagai dana
operasional oleh Bank Syariah Bukopin yang dapat dilihat dari laporan arus kas bank tersebut.
Dalam Peraturan Bank Indonesia No. 11/15/PBI/2009 Pasal 18 dijelaskan bahwa Bank
Konvensional yang telah mendapat izin perubahan kegiatan usaha menjadi Bank Syariah wajib
menyelesaikan hak dan kewajiban dari kegiatan usaha secara konvensional paling lambat 1 (satu)
tahun terhitung sejak tanggal izin perubahan kegiatan usaha diberikan. Jika dilihat dari laporan
keuangannya, artinya BSB masih belum patuh terhadap Peraturan Bank Indonesia No.
11/15/PBI/2009. Sebab Bank Syariah Bukopin masih menerima pendapatan bunga sejak mulai
BSB berdiri yaitu pada bulan November 2008 hingga tahun 2011. Meskipun dari tahun ke tahun
penerimaan pendapatan bunga tersebut mengalami menurun.
f. Kepatuhan “Pendapatan” Bank Syariah di Indonesia
Sehingga secara umum dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan dari sisi pendapatan
bank umum syariah di Indonesia, hanya Bank Syariah Bukopin yang belum patuh terhadap
prinsip-prinsip syariah karena masih melakukan kegiatan konvensional yaitu adanya akun
pendapatan bunga. Bank umum syariah lainnya seperti BMI, BSM, BMSI, dan BRIS sudah
Tabel 19. Kepatuhan Syariah dari sisi Pendapatan Bank Umum Syariah di Indonesia
Komponen Akun BMI BSM BMSI BRIS BSB
T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3
Pendapatan dari bank lain P P P P P P P P P P P P P P P
Pendapatan bunga P P P P P P P P P P P P P TP TP
Pendapatan operasional lainnya P P P P P P P P P P P P P P P
Pendapatan non operasional lainnya P P P P P P P P P P P P P P P
*P: Patuh, TP: Tidak Patuh
T1: Tahun 2009; T2: Tahun 2010; T3: Tahun 2011
4.4. Kepatuhan Beban Bank Syariah Terhadap Prinsip Syariah a. Bank Muamalat Indonesia
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen beban Bank
Muamalat Indonesia:
Tabel 20. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Beban BMI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Beban Bunga Tidak ditemukan informasi mengenai akun beban bunga.
Beban lain-lain Beban operasional-lainnya terdiri atas jasa konsultan, keperluan
umum dan kegiatan kantor, beban fee, beban premi asuransi, iuran keanggotaan, dan lain-lain yang tidak mengandung unsur riba.
Beban non operasional/ usaha Beban non operasional/ usaha terdiri atas beban pajak, zakat, infak,
shadaqah, sumbangan dan hadiah, dan lainnya yang tidak mengandung unsur riba.
b. Bank Mandiri Syariah (BSM)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen beban Bank
Syariah Mandiri:
Tabel 21. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Beban BSM
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Beban Bunga Tidak ditemukan informasi mengenai akun beban bunga.
Beban lain-lain Beban lainnya terdiri dari terdiri dari premi asuransi
penjamin dana pihak ketiga, penyisihan risiko operasional, dan lainnya yang tidak mengandung unsur riba.
Beban non operasional/ usaha Beban non usaha terdiri dari denda dan sanksi. Kerugian
selisi kurs, dan lainnya yang tidak mengandung unsur riba.
c. Bank Mega Syariah Indonesia (BMSI)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen beban Bank
Tabel 22. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Beban BMSI
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Beban Bunga Tidak ditemukan informasi mengenai akun beban bunga.
Beban lain-lain Beban umum dan administrasi (lain-lain dan non
operasional terdiri atas sewa, penyusutan aset tetap, pemeliharaan dan perbaikan, komunikasi, biaya premi asuransi penjamin dana pihak ketiga, listrik air dan gas, alat tulis dan barang cetak, pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain yang tidak mengandung unsur riba.
Beban non operasional/ usaha
d. Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRISyariah)
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen beban Bank
Rakyat Indonesia Syariah:
Tabel 23. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Beban BRIS
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Beban Bunga Pendapatan dan beban bunga diakui berdasarkan konsep akrual.
Pendapatan bunga atas kredit yang diberikan atau aset produktif lainnya yang diklasifikasikan sebagai bermasalah diakui pada saat bunga tersebut diterima (cash basis). Pada saat kredit yang diberikan diklasifikasikan sebagai bermasalah, bunga yang telah diakui tetapi belum tertagih akan dibatalkan pengakuannya. Penerimaan pembayaran atas kredit yang diklasifikasikan sebagai diragukan atau macet dipergunakan terlebih dahulu untuk mengurangi pokok kredit. Kelebihan penerimaan dari pokok kredit diakui sebagai pendapatan bunga dalam laporan laba rugi.
Beban bunga terdiri atas giro, deposito berjangka, tabungan, dan simpanan dari bank lain.
Beban lain-lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun beban operasional lainnya.
Beban non operasional/ usaha
Tidak ditemukan informasi mengenai akun beban non operasional lainnya.
e. Bank Syariah Bukopin
Berikut ini adalah tabel analisis sumber dan penggunaan dana dari komponen beban Bank
Syariah Bukopin:
Tabel 24. Analisis Sumber dan Pengguna Dana dari Sisi Beban BSB
Komponen Akun Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Beban Bunga Beban bunga BSB meliputi bunga atas deposito berjangka,
pinjaman yang diterima dan bunga atas tabungan dan jasa giro (bukan bank).
Beban lain-lain Tidak ditemukan informasi mengenai akun beban lain-lain.
Beban non operasional/ usaha Beban non operasional/ usaha terdiri atas akun sumbangan,
Terdapat akun beban bunga pada laporan laba rugi Bank Syariah Bukopin. Artinya bank
tersebut masih melakukan transaksi konvensional. Melewati dari waktu yang diberikan oleh
Bank Indonesia, maka bank tersebut seharusnya mendapat sanksi dari Bank Indonesia. Sebab
berdasarkan perhitungan analisis tren kenaikan atau penurunan terhadap komponen akun beban
bunga Bank Syariah Bukopin, ditemukan bahwa beban bunga tahun 2009 memang turun sebesar
85% dari tahun 2010. Namun di tahun 2011, beban bunga tersebut naik sangat signifikan sebesar
755% dari tahun 2010.
f. Kepatuhan “Beban” Bank Syariah di Indonesia
Sehingga secara umum dari analisis di atas menunjukan bahwa Bank Syariah telah patuh
terhadap prinsip-prinsip syariah dinilai dari sisi bebannya, kecuali Bank Syariah Bukopin.
Sebagaimana tersimpulkan dalam tabel berikut.
Tabel 25. Kepatuhan Syariah dari sisi Beban Bank Umum Syariah di Indonesia
Komponen Akun BMI BSM BMSI BRIS BSB
T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3 T1 T2 T3
Beban bunga P P P P P P P P P P P P P TP TP
Beban lain-lain P P P P P P P P P P P P P P P
Beban non operasional/ usaha P P P P P P P P P P P P P TP TP
*P: Patuh, TP: Tidak Patuh
T1: Tahun 2009; T2: Tahun 2010; T3: Tahun 2011
5. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap indikasi ketidakpatuhan perbankan Syariah terhadap
prinsip-prinsip Syariah terutama dilihat dari sisi kepemilikan dan penggunaan “Aset”,
“Kewajiban”, “Pendapatan” serta “Beban” yang dimiliki, secara umum bank Syariah sudah
mematuhi prinsip-prinsip Syariah yang berlaku.
Dari 5 (lima) sampel penelitian bank Syariah yang memenuhi kriteria penilaian tingkat
kepatuhan berdasarkan ukuran laporan keuangan yang dapat diperbandingkan selama 3 (tiga)
tahun terakhir, yakni 2009-2011, hanya terdapat 1 (satu) bank umum syariah yang masih
menjalankan kegiatan konvensional berbasis bunga yang secara prinsip Syariah hal tersebut
dilarang pelaksanaannya. Yakni terjadi pada Bank Syariah Bukopin (BSB). Di mana diketahui
berharga dan memberikan kredit kepada nasabah, serta pendapatan yang masih akan diterima,
dengan berbasis bunga. Selain itu, BSB juga masih memililiki kewajiban lain-lain yang bersifat
konvensional. Sehingga hal tersebut menimbulkan pendapatan dan beban berbasis bunga bagi
bank tersebut yang telah jelas dilarang oleh Syariah karena termasuk riba.
Oleh karena itu, kehadiran Peraturan Bank Indonesia No. 11/15/PBI/2009 yang
memberikan arahan dan panduan bagi bank konvensional yang ingin konversi menjadi bank
Syariah diharapkan dapat lebih berperan dalam memberikan pengawasan kepada bank-bank
tersebut untuk lebih menjaga kesyariahan produk dan kegiatan operasionalnya agar lebih sesuai
dengan hukum Islam. Sehingga hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat
kepada bank Syariah, agar tidak perlu ragu lagi untuk memilih bank Syariah sebagai mitra
keuangannya. Selain itu, peningkatan fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas
Syariah (DPS) bank yang bersangkutan juga perlu ditingkatkan lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Amir Mu’allim. Persepsi Masyarakat terhadap Lembaga Keuangan Syariah. Jurnal Hukum Islam Al-Mawarid, No.10. 2003.
Arifin J. Cara Cerdas Menilai Kinerja Perusahaan (Aspek Finansial dan Non Finansial)
Berbasis Komputer. Jakarta: Gramedia. 2007.
Bank Indonesia.. Peraturan Bank Indonesia Nomor11/15/PBI/2009. Jakarta: Bank Indonesia.
2009
Ikatan Akuntan Indonesia, Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah. IAI. 2007
Kasmir, Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2011.
PT. Bank Mega Syariah Indonesia.. Laporan Tahunan Periode 2009-2011. Retrieved 10 15,
2012, from PT. Bank Mega Syaria Indonesia: www.bsmi.com
PT. Bank Muamalat Indonesia. Laporan Tahunan Periode 2009-2011. Retrieved 10 15, 2012,
from PT. Bank Muamalat Indonesia: www.muamalatbank.com
PT. Bank Syariah Bukopin. Laporan Tahunan Periode 2009-2011. Retrieved 10 15, 2012, from
PT. Bank Syariah Mandiri. Laporan Tahunan periode 2009-2011. Retrieved 10 15, 2012, from
PT. Bank Syariah Mandiri: www.syariahmandiri.co.id
PT. BRISyariah. Laporan Tahunan Periode 2009-2011. Retrieved 10 15, 2012, from PT.
BRISyariah: www.brisyariah.co.id
Septin Puji Astuti, Wiwik Wilasari, Datien Eriska Utami, Meningkatkan Kualitas Pelayanan di
Bank Syariah (BRI Syariah): Penelitian dengan Fuzzy Servqual dan Dimensi Carther.
Jurnal Manajemen Bisnis, Vol. 2 No.1, April-Juli 2009.
Soepardi, E.M. Memahami Akuntansi Keuangan. Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2006.
Yunanto Adi Kusumo. Analisis Kinerja Keuangan BSM periode 2002-2007 (dengan pendekatan
PBI No. 9/1/PBI/2007). Jurnal Ekonomi Islam La Riba, Vol.2 No.1. 2008.