BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN B. Hasil Penelitian Setelah melakukan analisis pada transkrip dan menemukan pengalaman masing-masing subjek secara naratif. Berikut ini adalah rangkuman hasil penelitian dan struktur dasar pengalaman subjek. Tabel. Karakteristik Gagap Subjek Karakteristik Sora Gd Cip Tidak mengalami gangguan neurologis √ √ √ Pengulangan kata/suku kata √ √ √ Penghentian/kata-kata terputus-putus √ √ √ Adanya gerakan pada wajah dan atau bagian tubuh lainnya bersamaan saat gagap √ √ √ 1. Subjek 1 a. Profil Sora adalah seorang laki-laki berusia 21 tahun dan beragama Islam. Sora memiliki tubuh yang kurus dan berkulit kuning langsat. Sora anak ketiga dari 4 bersaudara. Ayah Sora adalah seorang guru SMP dan ibunya memiliki sebuah toko kelontong di depan rumah. Kakak pertama Sora adalah perempuan, tidak pernah mengalami gagap, dan kini telah menikah. Kakak kedua Sora adalah laki-laki yang juga pernah mengalami gagap saat kanak-kanak namun kini gagapnya hilang, dan telah bekerja. Adik Sora adalah laki-laki, ia masih bersekolah di sekolah dasar dan tidak mengalami gagap. Sora saat ini kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Sora berasal dari daerah Kebumen dan di Yogyakarta menyatakan tidak berbicara pada kedua orang tuanya bila tidak ditanya dan tidak dekat dengan saudara-saudaranya. Sora menyatakan bahwa bila ia pulang ke rumah, ia lebih suka diam dan menyendiri di dalam kamarnya yang bisa membuatnya merasa aman, tidak membantu ibunya berjualan maupun membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Sora sangat suka bermain game di komputernya dan menggambar. Sora lebih suka jenis game komputer terutama arcade dan semua game kesukaannya diinstal sendiri di komputernya. Sora lebih suka menggambar menggunakan warna hitam dan putih karena Sora hanya tahu menggunakan dua warna itu saja. Sora mengganggap bahwa dunia hanya terdiri dari dua warna itu saja. Selama wawancara berlangsung Sora tampak kesulitan untuk berbicara sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Sora menyelesaikan ceritanya dan merokok karena ia merasa dengan merokok membuatnya lebih nyaman untuk bercerita. Sora menghindari kontak mata dengan peneliti. Sora lebih sering menatap ke depan atau menundukkan kepalanya saat wawancara berlangsung. Sora tidak ingat secara pasti kapan ia mulai mengalami gagap tetapi yang diingatnya ia mulai gagap antara kelas 4 dan 5 SD. Sora merasa masa terparah kegagapannya saat berada di kelas 7 atau 8 SMP. Sora pernah melakukan pengobatan hipnoterapi untuk namun menjadi gagap lagi. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ahli saraf menyatakan bahwa subjek tidak memiliki gagguan neurologis (terlampir). b. Struktur Dasar Pengalaman Saat TK sebelum gagap terjadi, Sora sering ditolak dan dikritisi sebagai anak yang nakal karena selalu ingin ikut pergi bersama orang tuanya. “Waktu TK aku pernah ngerengek terus nangis mau ikut bapaknya dan ibunya pergi. Aku liat orang kayak gitu pasti diajak. Tapi ibunya ngebentak bilang kalau aku nakal sering aku digituin kalau mau ikut-ikut pergi sampe aku pernah ancurin rumah tapi tetap aja gak pernah diajak ikut.” (1) “Aku gak ingat kapan aku gagap tapi yang aku tahu dulu itu aku cerewet, aku gak bisa diam, kan aku bilang aku nakal itu. Pas aku masih TK, sama awal-awal SD itu aku masih nakal.”(2) Seringnya Sora ditolak dan dikritisi membuatnya tidak meminta apapun yang diingikannya karena pasti akan ditolak oleh orang tuanya. “Ibu emang gitu, suka marah-marah. Apalagi kalau dimintain apa-apa. Sering. Aku jadinya tidak minta apa-apa kecuali untuk saya sekolah atau uang jajan. Pernah aku lihat kok bagus kalau gambar-gambar pake warna, jadinya minta sama ibu. Ibu bilang “Tidak Usah! Tidak usah minta macam-macam. Pakai saja yang itu!” Kata ibu gitu, aku turutin, tidak mau lagi minta. Jadinya sampai sekarang tidak pernah minta dibelikan warna-warna gambar pake warna hitam saja. Ya sudah aku langsung masuk kamar terus gambar-gambar pakek pulpen aja.” (3) Orang tua juga dianggap tidak peduli padanya sehingga Sora merasa tidak penting baginya menceritakan permasalahan yang dialami dan memilih untuk diam di dalam kamarnya. “Orangtua juga gak tanya. Mereka kerja aja sendiri-sendiri, aku udah dilihat gak sekolah, tapi gak ditanya. Mungkin dipikir libur, padahal bapak guru ya. Harus tahu kalau itu belum libur. Aku juga gak mau cerita karena gak ditanya aku gak cerita. Aku diam aja di kamar.Ya udah aku masuk kamar aja, main sendiri di kamar, diam sambil mengkhayal gitu.” (12) Kenakalan Sora yang selalu ingin ikut pergi bersama orang tua dan kurangnya kompetensi akademiknya dalam membaca membuatnya gagal dalam studi saat TK dan saat menilai guru aneh dan ketidaksukaannya pada guru juga membuatnya gagal dalam studi di kelas 4 SD. “Waktu TK sama pas kelas 4 SD aku gak naik kelas. Kalau TK itu gara-gara aku nakal, gak bisa membaca. Aku mau dimasukan di SD di kota tapi gak bisa baca sudah tidak diterima di sana. Abis itu saya TK lagi, terus tamat TK akhirnya sekolah di SD di kampung aja. Yang kedua itu karena guru kelasnya pas kelas 4. Gurunya aneh. Aku tidak suka sama gurunya terus jadi kayak gitu.” (5) Di kelas 4 itu, Sora selalu mengalami penolakan seperti direndahkan, dikritisi, tidak disukai, dicela, dan tidak menganggapnya sebagai apa adanya dirinya saat berelasi dengan ibu gurunya karena ia tidak bisa agama yang dianggap penting oleh orang lainnya. Orang tua pernah mengajari Sora tetapi ia lupa lagi “Jadi guru SD itu kan cuma satu, dia ngajar semua pelajaran termasuk agama. Dia itu galak sama anak-anak yang tidak bisa shalat dan baca Al-Quran. Aku salah satu dari yang paling gak bisa itu. Celakanya, aku yang paling parah. Doa shalat pun aku gak tahu. Kalau diajar, pasti sebentarnya lupa. Gak pernah tahu Shalat gimana, gak pernah bisa baca Al-Quran. Orang tua pernah ajar, tapi cuma sesekali. Keluarga memang tidak terlalu penting agama. Aku gak begitu bisa agama. Kalau di kampung itu kayak gimana gak bisa agama. Agama itu pasti dipentingkan di sekolah.” (6) “Sebelum nyuruh gurunya udah menghina duluan bilangnya “Jangan kayak Sora, baca Quran gak bisa, ntar dia masuk neraka, berdosa dan dilaknat sama Allah.” Digituin aja aku udah gak suka, malu ama semua teman-teman.” (8) Penolakan guru tersebut membuat Sora merasa benci, marah, malu, dan bolos sekolah. “Akhirnya aku gak tahan, aku gak masuk sekolah. Satu bulan aku gak masuk, aku diam di rumah aja. Pagi-paginya karena udah malu, marah, jengkel, aku gak berangkat sekolah.” (11) Walaupun di kelas 4 SD Sora belum gagap tetapi Sora sudah suka menarik diri dan menjadi pendiam. “Aku juga dulu ketua kelas. Jadi walau aku pendiam gitu, aku suka sendiri, aku suka sendiri di belakang sekolah, tapinya aku ketua kelas sampai kelas 4. Di situ aku belum gagap. Ya aku ingat aku belum gagap. Tapi gak tahu kapan aku mulai gagap itu yang gak jelas.”(4) Sora tidak ingat secara pasti kapan ia mulai gagap tetapi sora mulai menyadari adanya perubahan alur bicara saat kelas 4 atau 5 SD dan puncak kegagapan terjadi antara kelas 7 dan 8 SMP, “Kalau aku ingat-ingat. Ini mungkin, aku gagap itu antara kelas 4 sampai kelas 5 SD. Itu awalnya mulai aku sudah gagap di sini. Tapi aku gak ingat persis.”(13) “Jadinya aku ingat banget sampai sekarang kalau antara kelas 7 dan 8 puncaknya aku gagap,lama-lama gagapnya jadi makin parah. Parah-parahnya malah waktu antara SMP mungkin sampai sekarang juga cuma jadi terbiasa udah dan SMA waktu terparahnya kehidupanku.”(25) Kegagapan Sora terjadi di awal kata saat Sora menilai hal yang dimilikinya lebih buruk dari teman-temannya. Tetapi adanya penilaian yang baik pada sesuatu membuat Sora menjadi tidak gagap. “Pas kelas 7 dan 8 kan kalau di kelas, guru-guru sering minta murid buat kasih tahu nilainya dari ujian-ujiannya. Nah pas itu ingat banget, gurunya manggil nama-nama dari absennya. Aku kan dapat nilai 7. Terus aku gak suka sama nilainya, karena teman-teman itu bagus nilainya. Itu nilai 7 aku malu. Terus dipanggil namaku, aku gagap bilang nilaiku 7. Lama banget awal ngucapin. Karena gagap bilang 7 aku ganti jadi 8 dan itu aku bisa lancar bilang.” (18) Saat Sora memiliki pemikiran bahwa hal yang dimilikinya buruk dan menilai diri rendah menimbulkan perasaan cemas, ingin menghindar, menyembuyikan kekurangannya, dan menahan ucapan, sehingga terjadi ketidaksingkronan antara otak dan gerak motorik bicara yang kaku, wajah memucat, serta tubuh menjadi gemetar. “Waktu gagap rahangku jadi terkunci rapat, kaku mau bilang sesuatu. Gak sinkron otakku sama rahangku untuk bergerak bebas. Aku berusaha tidak terkunci di rahang. Mukaku pucat, aku gerakkin rahangku biar gak kaku. Aku menahannya. Aku tarik nafas panjang mau ngucapin 7 tapi gak bisa. Aku bilang 8 abis itu rahangku gak kaku lagi. Aku bebas rasanya.”(19) “Waktu gagap buat gemetar juga, rasanya mau lari dari tempat ini, jadi ada sesuatu yang mau aku sembunyikan karena aku gak suka. Aku ngerasa hina, aneh dan gak berharga.”(20) “Gagapku buat pikiran di otakku itu putus-putus. Otakku gak sama dengan rahangku yang terkekang. Tiap ada ide, otakku tahu mau ngucapinnya, tapi dirahang, ide itu ketahan dan pikiranku putus.”(21) Salah satu situasi yang membuat Sora gagap adalah saat Sora dikritisi oleh ibunya ketika gagal dalam studi sehingga menimbulkan keinginan Sora untuk dihargai sebagai dirinya tanpa dibanding-bandingkan dengan saudaranya karena saat dibanding-dibanding-bandingkan Sora merasa marah, kecewa, menyesal dengan diri, dan sedih. “Ibu pernah marahin aku karena dapat laporan dari guruku kalau aku gagal semua mata pelajaran kecuali seni gambar. Rahang kaku lagi. Aku gak bisa membela diri.”(21) “Ibu ngebandingin aku dengan kakaknya yang semuanya pintar, hebat, juara kelas, kuliah di kampus bagus. Ibu marah terus bilang, “Kamu mau jadi apa?” Aku nangis.”(23) Sora juga merasa dirinya berbeda dari saudara karena ia gagap. “Mbaknya gak gagap, kalau masnya kebalikanku, dulu waktu kecilnya dia gagap tapi pas udah SMP gitu udah sembuh. Sekarang saja udah lancar. Kalau adiknya yang sekarang masih kelas 4 SD itu lancar banget, kalau gak di stop gak berhenti bicaranya. Nah aku dulu waktu kecil kayak adiknya tapi kebalikan sama masnya sekarang malah gagap. Adik juga sama aja. Adiknya nakal banget. Tidak bisa diam. Cerewet, beda banget ama aku yang gagap, dia malah gak bisa direm bicaranya. Cocok sama dia itu kalau main PS. Kalau yang lain ndak pernah.”(67) Sora menilai bahwa orang lain memandangnya sebagai orang yang aneh karena bicara gagap sehingga adanya ketakutan akan penolakan orang lain terutama oleh lawan jenis bila mengetahui ia gagap. “Pas pertama kuliah. Wah aku gak enak banget. Kan kalau kuliah itu pasti banyakan cewek, jadinya aku pikir gimana caranya nanti aku di kampus baru kalau ada cewek. Apalagi gagap gini. Kalau sama cowoknya ya gak enak juga awalnya, apalagi pas mereka udah tahu aku gagap.”(58) “Aku takut mereka berpikir macam-macam tentang gagapku terus bilang aku aneh karena itu.”(59) Pemikiran dan perasaan tersebut membuat Sora tidak berani menjalin relasi dengan orang lain dan jarang melakukan kegiatan bersama teman-temannya. “Kalau jeda aku pulang. Aku gak pernah lama di kampus. Kalau kuliahnya udah beres, aku langsung pulang. Jarang makan sama teman kampus. Gak ikut kumpul-kumpul juga sama mereka. Kalau mereka mungkin kumpul-kumpul tapi akunya gak gak ikut. Kecuali diajakin, kalau pas ada temannya yang aku tahu kenal aku ikut.”(61) “Aku juga gak berani kenalan atau punya teman baru soalnya aku takut sama gagapku. Pasti karena gagapku orang-orang mikir-mikir sesuatu. Pas aku kenalan sama mbak, aku rasanya takut mikir aku ini orang aneh yang gagap.”(62) Kegagapan yang dialami Sora membuatnya semakin menarik diri, suka menyendiri, dan pendiam. Hal tersebut membuat Sora merasa lebih nyaman karena tidak perlu merasa takut akan adanya penolakan. Keadaan ini membuat Sora tidak dekat dengan “Aku kan udah pendiam ama suka sendiri dari kecil sebelum gagap, tapi pasnya udah gagap, aku lebih menyendiri lagi. Aku jadi makin gak bisa bicara. Makanya aku lebih senang sendiri di kamar, merenung aja.”(26) “Gak ikut teman-teman main. Gak ada yang dekat sama mereka. Kalau temenan, gitu aja. Kalau istirahat biasanya ikut teman ke kantin, makan gitu sama mereka, terus udah kalau gak mau lama-lama langsung ke belakang sekolah sendirian, duduk sambil lihat langit.”(28) “Di rumah dan di sekolah sama. Aku diam sendiri di kelas, atau ke belakang sekolah, duduk sendirian di sana.” (27) Selama gagap Sora pernah melakukan pengobatan tetapi belum berhasil menghilangkan gagap. “Lama-lama karena aku gagap, orang tua pernah sekali bawa ke dukun gitu, dikasih cincin di dalam mulutnya, tapi gak sembuh. Sama kakak pernah diajak ke hipnoterapi, berhasil sembuh satu minggu tapi abis itu gagap lagi. Iya tapi gak ada yang berhasil.”(68) Sora merasa adanya ketidakpedulian orang tua dengan gagap yang dialaminya. “Orangtuanya gak begitu peduli. Tapi pas udah lama-lama pernah ditanya, “Kamu kok sekarang gagap” Cuma gitu aja. Orang tuanya udah biasa. Kayaknya udah gak peduli lagi.”(69) Sora merasa ayahnya menolak melakukan kegiatan bersamanya yang dianggap Sora aneh namun ia tidak perlu merasa malu karena tidak harus bertemu dengan ayahnya. “Tamat SD, aku masuk di SMP kota tempat bapaknya ngajar. Di sana bapaknya udah ngatur aku supaya ditempatkan di kelas belakang, karena bapaknya ngajar di kelas A, B, C. Jadi aku kalau naik kelas dipindahin sekitar kelas D, E, F atau kalau bapaknya ngajar di kelas belakang, aku yang dipindah. Pokoknya bapaknya gak mau ngajar di kelas yang ada aku. Ya bagus tapi aneh juga. Kenapa bapaknya gak mau ajar anaknya sendiri, ya sama kayak di rumah gak pernah diajarin juga. Jadi sama juga di sekolah. Bagusnya gak malu di kelas karena diajar bapaknya sendiri.”(14) Sora yakin orang tua menolak untuk memberikan sesuatu yang diinginkan Sora. Tetapi mereka akan memberikan sesuatu kepada Sora saat tidak memintanya. Orang tua juga tidak memberikan kebebasan kepada Sora sehingga Sora tidak pernah mencoba melakukan hal yang sesuai dengan dirinya dan merasa adanya keharusan untuk menuruti apa yang dikatakan orang tuanya. “Pas SMP begitu tahu naik motor, langsung dibeliin motor gede itu.Waktu itu ibu bilang kalau aku dibeliin motor saja, nanti ibu kasi uang. Aku senang mau dibelikan motor tanpa aku minta.”(16) Tadinya aku mau masuk SMK aku mau milih jurusan gambar, desain gambar yang di komputer, tapi sama bapaknya gak dibolehin. Dipilihin jurusan mesin. Aku turutin, aku dipilihin sekolah mesin padahal gak aku suka.Gak tahu bapaknya gimana. Aku ikut bapaknya aja. Gak boleh ini ya udah, di suruh ini ya udah ikut. Rasanya ya harus manut aja apa kata orang tua. Aku juga gak tahu mana yang baik atau gak buat aku. Bingung aja.”(30) Saat Sora mengalami kecelakaan motor ia berpikir bahwa ayahnya lebih menyayangi motor dibandingkan dirinya karena ayah memberinya uang untuk memperbaiki motor tanpa peduli pada kondisinya. “Beberapa bulan kemudian aku kecelakaan. Aku dorong motorku pulang sambil hujan-hujanan. Sampai di rumah bapaknya dan ibunya bengong melihat aku yang dorong motor hancur. "Itu gimana?" tanya ibu. "Tadi nabrak orang yang motong jalanku. Aku kenceng bawanya, langsung nabrak. Aku kelempar." "Orang yang ditabrak?" tanya bapaknya. "Gak apa-apa. Gak ada yang luka. Bapak tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Gak lama bapaknya keluar bawa segepok uang seratus ribuan. Banyak banget. "Ini uang 5 juta buat perbaiki motornya." lalu pergi ninggalin aku. Ibu juga pergi. Bapaknya sayang motornya! Atau gimana? Aku bertanya dalam hati.”(17) Sora juga ditolak ibunya ketika membantu ibu untuk mengerjakan perkerjaan rumah dan merasa kehadirannya tidak dianggap. “Aku gak pernah bantuin orangtuanya. Sama ibu gak boleh. Semuanya ibu lakuin sendiri. Jadi tiap dibantu, pasti dijawab “Ibu bisa sendiri.” Aku gak bantu juga daripada dimarahin sama ibu. Aku masuk kamar aja. Kalau aku mau bantu, aku pasti diam-diam. Aku tunggu dulu sampai tengah malam, jam 12an gitu. Kalau ibu bangun, aku sembunyi di bawah meja makan, supaya gak ketahuan kalau aku bantu-bantu bersihin rumah. Tapi tetep ketahuan besoknya. Jadi kalau pagi ibu pasti ketuk pintu kamar terus bilangnya gini “Lain kali gak usah bantu-bantu, ibu bisa sendiri!” udah gitu jawabannya. Aneh ya rasanya. Di rumah sendiri jadi kayak maling yang mau bantuin orang tuanya.”(34) “Kalau masnya masih sering dimintai tolong. Aku gak tahu kenapa kalau mas masih dimintai tolong, tapi aku gak. Misalnya, ibu minta tolong beli barang jualan, nganter uang, atau jaga warung kalau sibuk, pasti masnya dimintai tolong. Sedangkan kalau ada aku, gak pernah minta tolong. Gak pernah disuruh. Yang paling aneh itu ya jaga warung. Masa kalau kakak di Jogja kuliah, aku gak disuruh bantu, tapi kalau kakak pulang, pasti disuruh bantu. Padahal kan ada aku selama di rumah. Tapi gak dimintai tolong.”(35) Besarnya rasa takut Sora akan adanya penolakan dari ibu membuat Sora tidak membantu ibunya walaupun Sora memiliki kebutuhan untuk membantu pekerjaan orang tuanya. “Kakiku gak bisa bergerak mau bantuin ibunya. Kayaknya aku punya keinginan. Tapi lebih besar ketakutanku dari pada keinginan itu. Ibu pasti teriak keras dengan kata-katanya yang udah aku hafalin. Terlanjur aku hafal, “Ia Bisa Sendiri.” Jadinya aku udah biasa. Cuma sendiri diam di kamar aja. Aku gak pernah cerita apa-apa sama orang tua. Apapun aku gak pernah cerita kalau gak ditanya.”(37) Sora tidak pernah bercerita dan meminta bantuan kepada orang tuanya. “Aku gak pernah cerita-cerita sama orangtuanya. Misalnya aku dapat apa gitu, aku gak bilang. Misalnya aku susah, aku gak bisa, aku juga gak cerita. Gak pernah minta tolong juga sama orang tua.”(38) Besarnya rasa takut Sora akan penolakan membuatnya juga menarik diri ketika keluarganya berkumpul dan saling bercerita. Ini dikarenakan Sora merasa dengan kegagapan membuatnya semakin susah untuk bercerita sehingga bila ikut berkumpul ia merasa akan ditolak. Walaupun Sora memiliki kebutuhan untuk melakukan kegiatan bersama dengan keluarganya. “Kalau hari raya di rumah juga ada sungkeman kayak biasanya. Mereka kumpul sama makan-makan di ruang tengah. Aku dikamar aja, dengerin mereka yang ribut di luar atau liatin mereka ngapain. Jarang banget aku ikut sama merekanya buat makan-makan atau cerita-cerita. Paling juga kalau aku di sana, aku gak mungkin cerita-cerita. Jadinya aku diam dikamar, mengkhayal, dengerin mereka sama ngeliatin aja.”(39) “Gak tahu mau ngapain ke sana. Sebenarnya pengen. Aku nanya dalam hatiku, kok bisa mereka kumpul-kumpul tanpa aku. Sebenarnya ingin datang ke sana sama-sama mereka. Jadi kan di dalam kamar itu aku mikir kayak gitu kenapa mereka gak manggil, kenapa mereka bisa kayak gitu tanpa aku. Aku pengen ke sana tapi gak diajakin.”(40) Sora memandang bahwa orang tua selalu memenuhi kebutuhan dan kesukaan anggota keluarganya tetapi bukan kebutuhan serta kesukaan Sora sehingga Sora menilai dirinya bukan sebagai bagian dari kelurganya. “Aku anak bapaknya, ibunya, adik dari dua kakaknya dan kakak dari satu adiknya. Aku tinggal di dalam rumah besar yang katanya keluarga berarti aku bagian dari keluarga. Aku tinggal di dalam tapi aku merasa bukan bagian dalam Dalam dokumen PENGALAMAN ORANG GAGAP DAN DAMPAK TERHADAP KEHIDUPANNYA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi (Halaman 49-95)