BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
b. Hasil penelitian ini dapat menjadi motivasi untuk menulis dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan;
c. Hasil penelitian ini dapat menambah referensi dan literatur untuk penulisan karya ilmiah dibidang Hukum Acara Pidana.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Hakim: memberikan saran dan masukan agar penelitian ini nantinya dapat menjadi salah satu bahan acuan atau referensi yang digunakan oleh Hakim dalam menganalisis konsekuensi ketidakhadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik agar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Bagi penulis: menambah wawasan dan pengetahuan dibidang Hukum Acara Pidana khususnya terkait dengan perkembangan konsekuensi ketidakhadiran
Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik.
E. Metode Penelitian
Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi (Peter Marzuki, 2014: 35). Untuk dapat menjawab rumusan masalah penelitian dan mencapai hasil yang diharapkan, penelitian ilmiah harus dilakukan berdasarkan metode penelitian yang tepat. Metode penelitian mencakup jenis penelitian, sifat penelitian, pendekatan penelitian, jenis dan sumber data penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Adapun metode penelitian yang digunakan oleh Penulis dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian hukum doktrinal. Penelitian hukum normatif dilakukan dengan meneliti dan mengkaji bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder. Bahan-bahan hukum tersebut disusun secara sistematis, dikaji dan ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 95).
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian ini yaitu bersifat preskriptif dan terapan. Sebagai ilmu preskriptif, objek ilmu hukum adalah koherensi antara norma hukum dan prinsip hukum, antara aturan hukum dan norma hukum serta koherensi antara tingkah laku, bukan perilaku, individu dengan norma hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014 : 41). Sedangkan sebagai ilmu terapan, ilmu hukum hanya dapat diterapkan oleh ahlinya untuk menyelesaikan masalah hukum.
3. Pendekatan Penelitian
Dalam suatu penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi guna menjawab isu hukum
yang sedang diteliti, adapaun pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 133).
Pendekatan yang digunakan oleh Penulis dalam melakukan penelitian ini adalah pendekatan kasus (case approach). Pendekatan kasus dilakukan dengan cara menelaah kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi dan telah menjadi putusan pengadilan yangberkekuatan hukum tetap. Penelitian ini menelaah satukasus tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dengan Putusan Mahkamah Agung Nomor 110PK/Pid.Sus/2016, sehingga biasa disebut dengan studi kasus (case study).
4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum
Sumber bahan hukum yang digunakan oleh penulis dalam melakukan penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif, yaitu bahan hukum yang memiliki otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan Hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 141). Adapun bahan hukum primer yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana disebut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP);
2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;
4) Putusan Mahkamah Agung Nomor 110PK/Pid.Sus/2016. b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder merupakan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder berupa buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atas putusan pengadilan. Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini berbentuk:
1) Buku-buku teks yang ditulis oleh para ahli hukum; 2) Artikel;
3) Jurnal hukum;
4) Bahan dari internet yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini; 5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum.
Teknik yang dipakai oleh penulis dalam mengumpulkan bahan hukum untuk melakukan penelitian ini adalah dengan studi kepustakaan atau studi dokumen, yaitu dengan cara membaca dan mengkaji materi dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah silogisme deduktif, yaitu dengan menarik kesimpulan dari premis mayor dan premis minor. Premis mayor merupakan aturan hukum, sedangkan premis minor merupakan fakta hukum. Dari kedua hal tersebut kemudian ditarik kesimpulan (conclusion) (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 47). Premis mayor dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana disebut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP) dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sedangkan premis minornya adalah fakta hukum dalam Putusan Mahkamah AgungNomor 110PK/Pid.Sus/2016.
F. SistematikaPenulisa Hukum BAB I : PENDAHULUAN
Bab I menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan hukum.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab II menguraikan kerangka teori dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka teori, Penulis menguraikan pembuktian menggunakan alat bukti sah menurut undang-undang, dasar hukum Tindak Pidana ITE dan pengaturan tentang upaya hukum Peninjauan Kembali.
BAB III : PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
Bab III menguraikan hasil penelitiannya, berupa pembahasan berdasarkan rumusan masalah yaitu apakah pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan dapat dijadikan sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali dan apakah pertimbangan MahkamahAgung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadapPemohon Peninjauan Kembali telah sesuai dengan KUHAP. BAB IV : PENUTUP
Bab IV menguraikan simpulan dari keseluruhan pembahasan dan saran-saran bagi pihak terkait dengan penulisan hukum ini.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Pembuktian Menggunakan Alat Bukti Sah Menurut Undang-Undang a. Pembuktian
1) Pengertian Pembuktian
Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada Terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang yang boleh dipergunakan Hakim untuk membuktikan kesalahan Terdakwa (M. Yahya Harahap, 2016: 273). Adapun arti pembuktian ditinjau dari segi Hukum Acara Pidana, antara lain yaitu ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usaha mencari dan mempertahankan kebenaran, baik Hakim, Penuntut Umum, Terdakwa atau Penasehat Hukum, semua terikat pada ketentuan tata cara dan penilaian alat bukti yang ditentukan undang-undang (Bastianto Nugroho, 2017: 21). Pembuktian merupakan inti dari persidangan dalam perkara pidana, karena hasil dari pembuktian akan menentukan nasib Terdakwa. Dalam pemeriksaan perkara di pengadilan, yang harus dibuktikan adalah perbuatan Terdakwa yang dianggap merupakan suatu tindak pidana sesuai dengan yang tercantum dalam surat dakwaan Penuntut Umum.
2) Sistem Pembuktian
Terdapat 4 (empat) sistem pembuktian dalam Hukum Acara Pidana, yaitu:
a) Conviction in time
Sistem pembuktian Conviction in time menentukan salah tidaknya seorang Terdakwa semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan Hakim, dari mana Hakim menarik dan menyimpulkan
keyakinannya tidak menjadi masalah dalam sistem ini. Keyakinan tanpa alat bukti yang sah sudah cukup untuk membuktikan kesalahan Terdakwa.
b) Conviction Raisonee
Dalam sistem ini, keyakinan Hakim harus didukung dengan alasan-alasan yang jelas. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan Terdakwa.
c) Positief wettelijk stelsel atau pembuktian menurut undang-undang secara positif
Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang maka sudah cukup untuk menentukan kesalahan Terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan Hakim. Keyakinan Hakim dalam sistem ini tidak ikut berperan menentukan salah atau tidaknya Terdakwa.
d) Negatief wettelijk stelsel atau pembuktian menurut undang-undang secara negatif
Untuk menyatakan salah atau tidaknya Terdakwa tidak cukup berdasarkan keyakinan Hakim semata, atau hanya semata didasarkan atas keterbuktian menurut ketentuan dan cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang. Seorang Terdakwa baru dapat dinyatakan bersalah apabila kesalahan yang didakwakan kepadanya dapat dibuktikan dengan cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang serta sekaligus keterbuktian kesalahan itu dibarengi dengan keyakinan Hakim (M. Yahya Harahap, 2016: 279).
Berdasarkan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut KUHAP, alat bukti yang diajukan di depan persidangan saja tidak cukup untuk menyatakan Terdakwa bersalah dan menjatuhkan pidana, karna masih harus dibarengi dengan keyakinan
Hakim. Hal ini terkait dengan sistem pembuktian yang dianut Indonesia yaitu menggunakan Teori Pembuktian Negatif (Negatif wettelijk Bewijstheorie) seperti yang tampak dalam Pasal 183 KUHAP yang berbunyi “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya” (Bastianto Nugroho, 2017: 20). Jadi, Hakim hanya bisa menyatakan bahwa seseorang bersalah dan menjatuhkan pidana kepadanya apabila telah memenuhi dua syarat, yaitu:
a) Terdapat sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah;
b) Terdapat keyakinan Hakim yang diperoleh berdasarkan alat-alat bukti yang sah tersebut.
Pembuktian dalam perkara pidana berbeda dengan pembuktian dalam perkara perdata, sebab dalam pembuktian perkara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, yaitu kebenaran sejati atau yang sesungguhnya. Sedangkan pembuktian dalam perkara perdata bertujuan untuk mencari kebenaran formil, artinya Hakim tidak boleh melampaui batas-batas yang diajukan oleh para pihak yang berperkara (Andi Sofyan dan Abd. Asis, 2014: 229). Sehingga dalam perkara pidana, Hakim harus bersikap aktif untuk mencari kebenaran materiil. Hakim harus mampu menggunakan penalaran yang logis dalam memeriksa alat bukti yang diajukan dalam pemeriksaaan perkara di persidangan guna menjadi dasar dalam penjatuhan putusan.
b. Alat Bukti Keterangan Saksi
Alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan. Alat-alat bukti tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan Hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh Terdakwa (Bastianto Nugroho, 2017: 27). Macam-macam alat bukti ditentukan secara limitatif
oleh undang-undang, yaitu tercantum dalam Pasal 184 Ayat (1) KUHAP yang berbunyi:
Alat bukti yang sah ialah: 1) Keterangan Saksi; 2) Keterangan Ahli; 3) Surat;
4) Petunjuk;
5) Keterangan Terdakwa.
Awalnya, alat bukti selain yang disebutkandalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah di pengadilan. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi terdapat pembaruan dalam hal alat bukti yaitu dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, salah satu pasalnya yaitu Pasal 5 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang ITE menyebutkan bahwa :
Ayat (1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.
Ayat (2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia.
Alat bukti dalam pembuktian perkara pidana saat ini terdiri dari lima alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP dan ditambah dengan alat bukti Informasi Elektronik atau Dokumen Elektronik yang diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang ITE (Nur Laili Isma & Arima Koyimatun, 2014: 112).
Meskipun telah dikenal beberapa macam alat bukti dengan kekuatan pembuktian yang sama tingkatannya, namun kedudukan Saksi dalam proses peradilan pidana menempati posisi kunci. Sebagai alat bukti utama, tentu dampaknya sangat terasa bila dalam suatu perkara tidak diperoleh Saksi. Pentingnya kedudukan Saksi dalam proses peradilan pidana, telah dimulai sejak awal proses peradilan pidana. Harus diakui bahwa terungkapnya kasus
pelanggaran hukum sebagian besar berdasarkan informasi dari masyarakat. Begitu pula dalam proses selanjutnya, ditingkat kejaksaan sampai pada akhirnya di pengadilan, keterangan Saksi sebagai alat bukti utama menjadi acuan Hakim dalam memutus bersalah atau tidaknya Terdakwa. Jadi jelas bahwa Saksi mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam upaya menegakkan hukum dan keadilan (Prasetyo Margono, 2017: 44).
Definisi Saksi dapat dilihat pada Pasal 1 Angka 26 KUHAP menyatakan “Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri”. Adapun definisi dari keterangan Saksi tercantum dalam Pasal 1 Angka 27 KUHAP, yang berbunyi“Keterangan Saksi adalah salah satu alat bukti dalam pidana yang berupa keterangan dari Saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu”. Jenis-jenis Saksi yaitu :
1) Saksi a charge adalah Saksi-Saksi yang memberikan keterangan yang menguatkan pihak Jaksa (melemahkan pihak Terdakwa);
2) Saksi a de charge adalah Saksi-Saksi yang memberikan keterangan yang menguatkan pihak Terdakwa (melemahkan pihak Jaksa);
3) Saksi de auditu adalah Saksi yang memberikan keterangan yang diperolehnya dari orang lain atau Saksi yang tidak perlu didengar kesaksiannya karena mendengar dari pihak ketiga;
4) Saksi Mahkota (kroon Getuige) atau Saksi utama adalah Saksi yang berasal atau diambil dari salah seorang atau lebih Tersangkaatau Terdakwa lainnya yang bersama-sama melakukan suatu tindak pidana akibat tindakannya yang kooperatif tersebut Saksi tersebut diberikan "mahkota" (dibebaskan dari penuntutan atau dituntut lebih ringan dari tuntutan Terdakwa lainnya);
5) Saksi Korban yaitu orang yang mengalami kerugian akibat suatu perbuatan tindak pidana atau orang yang melapor atau Saksi yang mengadu;
6) Saksi Pelapor adalah orang yang mengetahui, mendengar, melihat kejadian atau proses kejadian suatu peristiwa hukum dan kemudian menyampaikannya kepada Aparatur Penegak Hukum;
7) Saksi Fakta memiliki pengertian yang sama seperti Saksi Pelapor. Perbedaan terletak pada tindakan Saksi. Saksi fakta tidak melapor/menyampaikan hal yang ia ketahui, tetapi ia ditarik menjadi Saksi oleh pihak penyidik guna kepentingan pemeriksaan suatu perkara; 8) Saksi relatief onbevoegd mereka yang tidak mampu secara nisbi atau relatief, mereka ini boleh didengar, tetapi tidak sebagai Saksi. Termasuk mereka yang boleh didengar, tetapi tidak sebagai Saksi ialah: a) Anak-anak yang belum mencapai umur 15 tahun (Pasal 145 Ayat (1)
sub 3 jo Ayat (4) HIR);
b) Orang gila, meskipun kadang-kadang ingatannya terang atau sehat (Pasal 145 Ayat (1) sub 4 jo Ayat (4) HIR). Mereka yang diletakkan di bawah pengampuan (curatele, pengawasan) karena boros.
9) Saksi absolut onbevoegd mereka yang tidak mampu secara mutlak atau absolut, Hakim dilarang untuk mendengar mereka ini sebagai Saksi. Mereka itu adalah :
a) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari Terdakwa atau yang bersama-sama sebagai Terdakwa (Pasal 145 Ayat (1) sub 1 HIR).Alasan pembentuk undang-undang memberi pembatasan ini adalah :
(1) Bahwa mereka ini umumnya dianggap tidak cukup obyektif apabila didengar sebagai Saksi;
(2) Untuk menjaga hubungan kekeluargaan yang baik, yang mungkin akan retak apabila mereka ini memberi kesaksian; (3) Untuk mencegah timbulnya tekanan batin setelah memberi
keterangan;
(4) Secara moral adalah kurang etis apabila seseorang menerangkan perbuatan yang kurang baik keluarganya.
b) Saudara dari Terdakwa atau yang bersama-sama sebagai Terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara Terdakwa sampai derajat ketiga;
c) Suami atau istri dari salah satu pihak, meskipun sudah bercerai (Pasal 145 Ayat (1) sub 2 HIR).
10) Saksi Ahli (deskundigenbericht, espertise) atau keterangan Ahli adalah keterangan pihak ketiga yang obyektif dan bertujuan untuk membantu Hakim dalam pemeriksaan guna menambah pengetahuan Hakim sendiri;
11) Saksi Verbalisan (penyidik), apabila dalam persidangan Terdakwa mencabut keterangannya pada waktu pemeriksaan penyidikan (Berita Acara Penyidikan) atau mungkir, seringkali Penyidik yang memeriksa perkara tersebut dipanggil jadi Saksi (Prasetyo Margono, 2017: 48-49).
Pengaturan mengenai keterangan Saksi diatur dalam Pasal 185 KUHAP dari Ayat (1) sampai dengan Ayat (7), yaitu:
1) Keterangan Saksi sebagai alat bukti ialah apa yang Saksi nyatakan di sidang pengadilan;
2) Keterangan seorang Saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya; 3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2) tidak berlaku apabila
disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya;
4) Keterangan Saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan Saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu;
5) Baik pendapat maupun rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran saja bukan merupakan keterangan Saksi;
6) Dalam menilai kebenaran keterangan seorang Saksi, Hakim harus dengan sungguh- sungguh memperhatikan :
a) Persesuaian antara keterangan Saksi satu dengan yang lain; b) Persesuaian antara keterangan Saksi dengan alat bukti lain;
c) Alasan yang mungkin dipergunakan oleh Saksi untuk memberi keterangan tertentu;
d) Cara hidup dan kesusilaan Saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.
7) Keterangan Saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari Saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.
Pasal di atas menunjukkan bahwaagar keterangan seorang Saksi dapat dianggap sah sebagai alat bukti yang memiliki nilai kekuatan pembuktian, harus dipenuhi aturan ketentuan sebagai berikut:
1) Pertama, harus mengucapkan sumpah atau janji. Hal ini diatur dalam Pasal 160 Ayat (3), sebelum Saksi memberi keterangan “wajib mengucapkan” sumpah atau janji, adapun sumpah atau janji, dilakukan menurut cara agamanya masing-masing;
2) Keterangan Saksi yang mempunyai kekuatan pembuktian ialah keterangan yang sesuai dengan apa yang dijelaskan Pasal 1 Angka 27 KUHAP yang Saksi lihat sendiri, Saksi dengar sendiri, dan Saksi alami sendiri, serta menyebut alasan dari pengetahuannya itu;
3) Keterangan Saksi baru dapat bernilai sebagai alat bukti apabila keterangan itu Saksi nyatakan di sidang pengadilan. Keterangan yang dinyatakan di luar sidang pengadilan (outside the court) bukan alat bukti, tidak dipergunakan untuk membuktikan kesalahan Terdakwa; 4) Jika alat bukti yang dikemukakan Penuntut Umum hanya terdiri dari
seorang Saksi saja tanpa ditambah dengan keterangan Saksi yang lain atau alat bukti yang lain, “kesaksian tunggal” yang seperti ini tidak dapat dinilai sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan
kesalahan Terdakwa sehubungannya dengan tindak pidana yang didakwakan kepadanya;
5) Keterangan beberapa Saksi yang berdiri sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai slat bukti yang sah dengan syarat apabila keterangan Saksi itu “ada hubungannya” satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu (Bastianto Nugroho, 2017:30).
Keterangan Saksi yang hanya dimuat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dalam penyidikan, tanpa hadir langsung memberikan keterangan di persidangan bukanlah merupakan alat bukti yang sah.Apabila seseorang yang mendengar, melihat dan mengalami sendiri suatu perkara pidana, kemudian orang tersebut dimintai keterangannya serta dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), secara yuridis orang tersebut statusnya masih sebagai Saksidan keterangannya tersebut belum dapat dikatakan sebagai keterangan Saksi, karena keterangan tersebut belum Saksi nyatakan di depan persidangan, namun apabila keterangan Saksi tersebut tetap disampaikan di luar persidangan, maka pemberian keterangan tersebut tidaklah dapat diklasifikasikan sebagai alat bukti keterangan Saksi melainkan hanya sebatas Saksi selaku person (Dian Erdianto, 2015:68).
Seiring dengan perkembangan zaman, KUHAP dirasa belum mampu menjawab permasalahan-permasalahan baru yang terjadi di masyarakat, hingga akhirnya pada tahun 2011, terjadi perubahan terkait dengan alat bukti dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia. Keterangan yang tidak ia dengar sendiri, tidak ia lihat sendiri, dan tidak ia alami sendiri suatu peristiwa pidana yang terjadi, telah diterima sebagai alat bukti dalam perkara pidana. Definisi Saksi sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 26 jo Pasal 184 Ayat (1) huruf a KUHAP diperluas berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010. Perluasan definisi dalam putusan Mahkamah Konstitusi tersebut pada intinya menyatakan bahwa definisi Saksi sebagai alat bukti adalah keterangan dari Saksi mengenai suatu peristiwa yang pidana yang ia dengar, ia lihat sendiri,
dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan pengetahuannya itu, termasuk pula keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri (Asprianti Wangke, 2017: 148). Dalam sebuah Kajian Putusan MK 65/PUU-VIII/2010 yang diakses dari laman Komisi Yudisial antara lain dijelaskan bahwa Putusan MK 65/PUU-VIII/2010 mengakui Saksi Testimonium de Auditu dalam peradilan pidana. Testimonium de Auditu yaitu kesaksian atau keterangan karena mendengar dari orang lain
(https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt58dcb3732cca3/arti-itestimonium-de-auditu-i, diakses 1 Februari 2019 Pukul 11: 17 WIB).