• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulisan Hukum (Skripsi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penulisan Hukum (Skripsi)"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

KONSEKUENSI KETIDAKHADIRAN SAKSI PELAPOR

DI PERSIDANGAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK SEBAGAI ALASAN

PENINJAUAN KEMBALI

(STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 110PK/Pid.Sus/2016)

Penulisan Hukum (Skripsi)

Disusun dan Diajukan untuk

Melengkapi Persyaratan Guna Meraih Derajat Sarjana S1 dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh: Eli Sulis Setiyani

E0015127

Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret

Surakarta 2019

(2)
(3)
(4)
(5)

v ABSTRAK

Eli Sulis Setiyani. E0015127. 2018. KONSEKUENSI KETIDAKHADIRAN SAKSI PELAPOR DI PERSIDANGAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK SEBAGAI ALASAN PENINJAUAN KEMBALI (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 110PK/Pid.Sus/2016). Penulisan Hukum (Skripsi). Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dapat dijadikan sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali dan apakah pertimbangan Mahkamah Agung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadap Pemohon Peninjauan Kembali telah sesuai dengan KUHAP. Jenis penelitian ini adalah penelitian normatif dengan Teknik pengumpulkan bahan hukum studi kepustakaan dan teknik analisisnya adalah silogisme deduktif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dapat dijadikan sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali dengan merujuk Pasal 263 Ayat (2) huruf c KUHAP yaitu adanya kekhilafan Hakim atau kekeliruan yang nyata. Namun, pertimbangan Mahkamah Agung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadap Pemohon Peninjauan Kembali tidak sesuai dengan Pasal 266 Ayat (2) Huruf b angka 4 jo Pasal 193 ayat (1) KUHAP karena dalam pertimbangannya Mahkamah Agung berpendapat bahwa dakwaan tunggal dari Penuntut Umum tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan.

Kata Kunci: Saksi Pelapor, Peninjauan Kembali, Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik

(6)

vi

ABSTRACT

Eli Sulis Setiyani. E0015127. 2018. Consequences of Absences the Whistle

Blower in the trial of the Electronic Information and Transaction Crime as Reason Judicial Review (Study decision of Supreme Court Number 110PK/Pid.Sus/2016). Legal Writing. Law Faculty of Sebelas Maret University Surakarta.

The purposes of this researchis to find out whether the examination of the case without the presence of the Whistle Blower could be used as the reason for the submission of a Judicial Review in the trial of the Electronic Information and Transaction Crime case and to find out whether the Supreme Court's consideration in imposing a lighter imprisonment on the Petitioners for Judicial Review was in accordance with the Criminal Procedure Code. This research is normative legal research. Data collection techniques used is library study and analysed by using deductive syllogism. The results of the study show that the examination of the case without the presence of the Wistle Blower in the trial of the Electronic Information and Transaction Crime case, could be used as the reason for the submission of a Judicial Review, referring to Article 263 Section (2) c of the Criminal Code Procedure, namely the of a real mistake. However, the Supreme Court's consideration in imposing lighter imprisonment on the Petitioners for Judicial Review is not in accordance with Article 266 Section (2) b number 4 jo Article 193 section (1) of the Criminal Code Procedure because in its consideration the Supreme Court argues that a single indictment from the Public Prosecutor cannot accepted and cannot be justified.

Keywords: Wistle Blower, Judicial review, Electronic Information and Transaction Crime

(7)

vii MOTTO

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S. Alam-Nasyrah: 6)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”

(Q.S. Ar-Ra’d: 11)

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan” (QS. Al-Baqarah : 286)

(8)

viii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya tercinta, Bapak Nurrohman dan Ibu Sarliyah.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan segala nikmat dan karunianya sehingga Penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum (skripsi) dengan judul KONSEKUENSI KETIDAKHADIRAN SAKSI PELAPOR DI PERSIDANGAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK SEBAGAI ALASAN PENINJAUAN KEMBALI (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 110PK/Pid.Sus/2016).

Penulisan hukum (skripsi) ini membahas mengenai pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam Perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali dan kesesuaian antara pertimbangan Mahkamah Agung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadap Pemohon Peninjauan Kembali dengan KUHAP. Penulis tidak akan dapat menyelesaikan penulisan hukum ini tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S. selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta;

2. Prof. Dr. Supanto, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta;

3. Dr. Soehartono, S.H., M.Hum. selaku Ketua Bagian Hukum Acara Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta;

4. Ibu Sri Wahyuningsih Yulianti, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar dan ikhlas memberikan bimbingan dalam penulisan hukum ini; 5. Bapak Moch. Najib Imanullah, S.H., M.H. Ph.D. selaku Pembimbing

Akademik yang senantiasa memberikan pengarahan selama Penulis belajar di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta;

6. Ketua dan Sekretaris Pengelola Penulisan Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yangs senantiasa memberikan pengarahan terkait dengan penulisan hukum (skripsi);

(10)

x

7. Seluruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang dengan ikhlas memberikan ilmu kepada Penulis selama perkuliahan;

8. Kedua Orang Tua Penulis, Bapak Nur Rohman dan Ibu Sarliyah yang telah memberikan doa, kasih sayang, dukungan, waktu, biaya dan segalanya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum ini dengan lancar; 9. Kakak-kakak Penulis yang senantiasa memberikan bantuan dan juga

dukungan sehingga Penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum ini;

10. Seluruh keluarga besar Alm. Bapak Sanrohyat dan Alm. Bapak Dasuki yang senantiasa mendoakan kesuksesan Penulis;

11. Agung Saputro Dwi Haryanto yang selalu menemani, menjaga dan mendukung Penulis selama Penulis jauh dari keluarga;

12. Indah Nur Fajri, Kusnias Suryaningrum dan juga sahabat-sahabat Penulis lainnya yang selalu mendukung dan membantu Penulis menyelesaikan penulisan hukum ini;

13. Teman-Teman Wisma Putri Kyoung Kim yang senantiasa menemani dan memberikan dukungan kepada Penulis;

14. Teman-teman Tim KKN Kuto 2018, khususnya Dheanisa Septiani yang telah membantu menyusun abstrak dan memberikan dukungan serta doa;

15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah memberikan doa dan dukungan kepada Penulis,

Penulis menyadari bahwa penulisan hukum ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran sehingga dapat menjadi lebih baik dikemudian hari.

Surakarta, Februari 2019 Penulis

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv ABSTRAK ... v MOTTO ... vii PERSEMBAHAN ... viii KATA PENGANTAR ... ix DAFTAR ISI ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 4

C. Tujun Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Metode Penelitian ... 6

F. Sistematika Penulisan Hukum ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. Kerngka Teori ... 10

1. Pembuktian Menggunakan Alat Bukti Sah Menurut Undang-Undang ... 10

2. Dasar Hukum Tindak Pidana Informasi dan Transakti Elektronik .... 21

3. Pengaturan Upaya Hukum Peninjauan Kembali ... 26

B. Kerangka Pemikiran ... 31

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33

A. Hasil Penelitian ... 33

B. Pembahasan ... 51

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ... 70

A. Simpulan ... 70

(12)

xii

DAFTAR PUSTAKA ... 72 LAMPIRAN

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan Teknologi telah menimbulkan perubahan yang signifikan terhadap seluruh aspek kehidupan. Berbagai informasi dapat tersebar dalam hitungan detik ke seluruh belahan dunia, berbagai transaksi juga dapat dilakukan dengan media elektronik. Kemudahan yang didapat dengan adanya perkembangan teknologi telah membuat masyarakat secara perlahan meninggalkan cara-cara konvensional, seperti mengirim surat melalui Kantor Pos digantikan dengan mengirim E-mail, membeli barang cukup dengan menggunakan gadget tanpa harus datang langsung ke toko. Adanya perkembangan teknologi diharapkan menjadi sarana untuk mendukung ilmu pengetahuan, meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan nasional, serta mendukung kebebasan berekspresi tiap-tiap individu.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengakui dan menjamin kebebasan tiap-tiap warga negara dalam penggunaan sarana elektronik sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 F yang berbunyi “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala saluran yang tersedia”. Namun demikian, perkembangan positif ilmu pengetahuan dan teknologi informasi juga dibarengi dengan aspek negatif yang melekat padanya yaitu dengan munculnya kejahatan-kejahatan baru yang sangat kompleks disertai dengan modus operandi yang baru (Mahrus Ali, 2012: 251). Tak bisa dipungkiri bahwa selain memudahkan setiap aktivitas kehidupan manusia, pemanfaatan perkembangan teknologi sering menimbulkan kerugian bagi orang lain.

(14)

Teknologi yang semakin canggih melahirkan kejahatan yang semakin canggih pula, banyak aktivitas di dunia maya yang menimbulkan kerugian bagi orang lain. Perkembangan teknologi bisa dibilang sebagai pedang bermata dua, karena disatu sisi memberikan keuntungan yang memudahkan setiap aktifitas kehidupan manusia dan disisi lain menjadi sarana efektif untuk melakukan perbuatan melawan hukum. Sehingga perlu dilakukan pembatasan terhadap kebebasan tersebut untuk melindungi hak dan kepentingan orang lain, sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 J Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi:

Ayat (1)

Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ayat (2)

Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Diperlukan suatu sistem hukum yang mampu melindungi hak-hak setiap warga negara dari dampak negatif adanya perkembangan teknologi tersebut. Salah satu cara pemerintah dalam mewujudkan perlindungan hukum bagi warga negaranya adalah dengan dibentuknya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang kemudian diperbaharui dengan adanya Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, selanjutnya disebut dengan Undang ITE. Tindak Pidana dalam Undang-Undang ITE diatur dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 37 dengan ancaman sanksinya berupa pidana penjara dan pidana denda. Tindak Pidana ITE biasa disebut dengan Cybercrime. Cybercrime is an illegal activity conducted in cyberspace with computer intermediaries or other electronic equipment. It includes technologies that support technological means such as mobile phones, smartphones and others that can be done through a global electronic network (Cybercrime adalah aktivitas ilegal yang dilakukan di dunia maya dengan

(15)

perantara komputer atau elektronik lainnya. Peralatan ini mencakup teknologi yang mendukung sarana teknologi seperti ponsel, telepon pintar, dan lainnya yang bisadilakukan melalui jaringan elektronik global) (Masdin Saragih, Henry Aspan, Andysah Putra Utama Siahaan, 2017: 210).Seseorang yang diduga melakukan tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang ITE akan diadili di persidangan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) merupakan landasan yuridis dalam praktek beracara di pengadilan dan pembuktian merupakan inti dari persidangan perkara pidana.Pembuktianlah yang akan menentukan nasib dari Terdakwa, sebagaimana Pasal 183 KUHAP yang menyatakan “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya”. Sehingga, baik Penuntut Umum maupun Terdakwa harus benar-benar memperhatikan alat bukti yang akan diajukan di persidangan. Alat bukti dalam perkara pidana diatur dalam Pasal 184 KUHAP, salah satunya adalah alat bukti keterangan Saksi. Keterangan Saksi sangat diperlukan dalam membuktikan ada atau tidaknya tindak pidana, terutama keterangan dari Saksi Pelapor. Saksi Pelapor adalah orang yang mengetahui, mendengar, melihat kejadian atau proses kejadian suatu peristiwa hukum dan kemudian menyampaikannya kepada aparatur penegak hukum (Prasetyo Margono, 2017: 48). Lantas bagaimana jika Saksi Pelapor hanya melaporkan tentang adanya suatu tindak pidana, namun ia tidak pernah hadir sebagai Saksi di persidangan, sementara keterangan Saksi dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah apabila keterangan tersebut diberikan di depan persidangan. Hal tersebut terjadi dalam pemeriksaan perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik yang dilakukan oleh seorang Notaris di Surakarta bernama Anthon Wahjupramono, S.H., M.Hum.

Anthon Wahjupramono, S.H., M.Hum. dilaporkan oleh H.Muh.Lukminto selaku Saksi Pelapor. Namun, Saksi Pelapor tidak pernah hadir di persidangan

(16)

sampai dengan putusan hakim dijatuhkan. Tidak terima dengan putusan pemidanaan 3 tahun penjara yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat Pertama, Anthon Wahjupramono, S.H., M.Hum. mengajukan upaya hukum Banding dan upaya hukum Kasasi, namun usahanya nihil. Langkah terakhir yang dilakukan oleh Anthon Wahjupramono, S.H., M.Hum. adalah mengajukan permohonan Peninjauan Kembali dengan alasan adanya kekeliruan dan kekhilafan yang nyata dari Majelis Hakim dalam hukum pembuktian karena telah melakukan pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam rangka penulisan hukum skripsi dengan judul “Konsekuensi Ketidakhadiran Saksi Pelapor di Persidangan dalam Perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik sebagai Alasan Peninjauan Kembali (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 110PK/Pid.Sus/2016)”.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dapat dijadikan sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali?

2. Apakah pertimbangan Mahkamah Agung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadap Pemohon Peninjauan Kembali telah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Objektif

a. Mengetahui pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam Perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali;

b. Mengetahui kesesuaian antara pertimbangan Mahkamah Agung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadap Pemohon Peninjauan Kembali dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

(17)

2. Tujuan Subjektif

a. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam Hukum Acara Pidana, khususnya terkait dengan konsekuensi ketidakhadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik;

b. Menerapkan ilmu yang telah diperoleh penulis, khususnya selama penulis belajar Hukum Acara Pidana di bangku kuliah agar ilmu tersebut dapat bermanfaat, baik bagi diri penulis sendiri maupun masyarakat;

c. Memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang Hukum Acara Pidana melalui penelitian ini;

d. Melengkapi syarat akademis untuk memperoleh gelar sarjana dibidang ilmu hukum pada Universitas Sebelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dibidang ilmu hukum khususnya dalam Hukum Acara Pidana; b. Hasil penelitian ini dapat menjadi motivasi untuk menulis dalam rangka

pengembangan ilmu pengetahuan;

c. Hasil penelitian ini dapat menambah referensi dan literatur untuk penulisan karya ilmiah dibidang Hukum Acara Pidana.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Hakim: memberikan saran dan masukan agar penelitian ini nantinya dapat menjadi salah satu bahan acuan atau referensi yang digunakan oleh Hakim dalam menganalisis konsekuensi ketidakhadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik agar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

b. Bagi penulis: menambah wawasan dan pengetahuan dibidang Hukum Acara Pidana khususnya terkait dengan perkembangan konsekuensi ketidakhadiran

(18)

Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik.

E. Metode Penelitian

Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi (Peter Marzuki, 2014: 35). Untuk dapat menjawab rumusan masalah penelitian dan mencapai hasil yang diharapkan, penelitian ilmiah harus dilakukan berdasarkan metode penelitian yang tepat. Metode penelitian mencakup jenis penelitian, sifat penelitian, pendekatan penelitian, jenis dan sumber data penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. Adapun metode penelitian yang digunakan oleh Penulis dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian hukum doktrinal. Penelitian hukum normatif dilakukan dengan meneliti dan mengkaji bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder. Bahan-bahan hukum tersebut disusun secara sistematis, dikaji dan ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 95).

2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian ini yaitu bersifat preskriptif dan terapan. Sebagai ilmu preskriptif, objek ilmu hukum adalah koherensi antara norma hukum dan prinsip hukum, antara aturan hukum dan norma hukum serta koherensi antara tingkah laku, bukan perilaku, individu dengan norma hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2014 : 41). Sedangkan sebagai ilmu terapan, ilmu hukum hanya dapat diterapkan oleh ahlinya untuk menyelesaikan masalah hukum.

3. Pendekatan Penelitian

Dalam suatu penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi guna menjawab isu hukum

(19)

yang sedang diteliti, adapaun pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan historis (historical approach), pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach) (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 133).

Pendekatan yang digunakan oleh Penulis dalam melakukan penelitian ini adalah pendekatan kasus (case approach). Pendekatan kasus dilakukan dengan cara menelaah kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi dan telah menjadi putusan pengadilan yangberkekuatan hukum tetap. Penelitian ini menelaah satukasus tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dengan Putusan Mahkamah Agung Nomor 110PK/Pid.Sus/2016, sehingga biasa disebut dengan studi kasus (case study).

4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang digunakan oleh penulis dalam melakukan penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif, yaitu bahan hukum yang memiliki otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan Hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 141). Adapun bahan hukum primer yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana disebut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP);

2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;

3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik;

4) Putusan Mahkamah Agung Nomor 110PK/Pid.Sus/2016. b. Bahan Hukum Sekunder

(20)

Bahan hukum sekunder merupakan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder berupa buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atas putusan pengadilan. Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini berbentuk:

1) Buku-buku teks yang ditulis oleh para ahli hukum; 2) Artikel;

3) Jurnal hukum;

4) Bahan dari internet yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini; 5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum.

Teknik yang dipakai oleh penulis dalam mengumpulkan bahan hukum untuk melakukan penelitian ini adalah dengan studi kepustakaan atau studi dokumen, yaitu dengan cara membaca dan mengkaji materi dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

6. Teknik Analisis Bahan Hukum

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah silogisme deduktif, yaitu dengan menarik kesimpulan dari premis mayor dan premis minor. Premis mayor merupakan aturan hukum, sedangkan premis minor merupakan fakta hukum. Dari kedua hal tersebut kemudian ditarik kesimpulan (conclusion) (Peter Mahmud Marzuki, 2014: 47). Premis mayor dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana disebut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP) dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sedangkan premis minornya adalah fakta hukum dalam Putusan Mahkamah AgungNomor 110PK/Pid.Sus/2016.

F. SistematikaPenulisa Hukum BAB I : PENDAHULUAN

Bab I menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan hukum.

(21)

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab II menguraikan kerangka teori dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka teori, Penulis menguraikan pembuktian menggunakan alat bukti sah menurut undang-undang, dasar hukum Tindak Pidana ITE dan pengaturan tentang upaya hukum Peninjauan Kembali.

BAB III : PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

Bab III menguraikan hasil penelitiannya, berupa pembahasan berdasarkan rumusan masalah yaitu apakah pemeriksaan perkara tanpa kehadiran Saksi Pelapor di persidangan dapat dijadikan sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali dan apakah pertimbangan MahkamahAgung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadapPemohon Peninjauan Kembali telah sesuai dengan KUHAP. BAB IV : PENUTUP

Bab IV menguraikan simpulan dari keseluruhan pembahasan dan saran-saran bagi pihak terkait dengan penulisan hukum ini.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(22)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

1. Pembuktian Menggunakan Alat Bukti Sah Menurut Undang-Undang a. Pembuktian

1) Pengertian Pembuktian

Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada Terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang yang boleh dipergunakan Hakim untuk membuktikan kesalahan Terdakwa (M. Yahya Harahap, 2016: 273). Adapun arti pembuktian ditinjau dari segi Hukum Acara Pidana, antara lain yaitu ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usaha mencari dan mempertahankan kebenaran, baik Hakim, Penuntut Umum, Terdakwa atau Penasehat Hukum, semua terikat pada ketentuan tata cara dan penilaian alat bukti yang ditentukan undang-undang (Bastianto Nugroho, 2017: 21). Pembuktian merupakan inti dari persidangan dalam perkara pidana, karena hasil dari pembuktian akan menentukan nasib Terdakwa. Dalam pemeriksaan perkara di pengadilan, yang harus dibuktikan adalah perbuatan Terdakwa yang dianggap merupakan suatu tindak pidana sesuai dengan yang tercantum dalam surat dakwaan Penuntut Umum.

2) Sistem Pembuktian

Terdapat 4 (empat) sistem pembuktian dalam Hukum Acara Pidana, yaitu:

a) Conviction in time

Sistem pembuktian Conviction in time menentukan salah tidaknya seorang Terdakwa semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan Hakim, dari mana Hakim menarik dan menyimpulkan

(23)

keyakinannya tidak menjadi masalah dalam sistem ini. Keyakinan tanpa alat bukti yang sah sudah cukup untuk membuktikan kesalahan Terdakwa.

b) Conviction Raisonee

Dalam sistem ini, keyakinan Hakim harus didukung dengan alasan-alasan yang jelas. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan Terdakwa.

c) Positief wettelijk stelsel atau pembuktian menurut undang-undang secara positif

Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang maka sudah cukup untuk menentukan kesalahan Terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan Hakim. Keyakinan Hakim dalam sistem ini tidak ikut berperan menentukan salah atau tidaknya Terdakwa.

d) Negatief wettelijk stelsel atau pembuktian menurut undang-undang secara negatif

Untuk menyatakan salah atau tidaknya Terdakwa tidak cukup berdasarkan keyakinan Hakim semata, atau hanya semata didasarkan atas keterbuktian menurut ketentuan dan cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang. Seorang Terdakwa baru dapat dinyatakan bersalah apabila kesalahan yang didakwakan kepadanya dapat dibuktikan dengan cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang serta sekaligus keterbuktian kesalahan itu dibarengi dengan keyakinan Hakim (M. Yahya Harahap, 2016: 279).

Berdasarkan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut KUHAP, alat bukti yang diajukan di depan persidangan saja tidak cukup untuk menyatakan Terdakwa bersalah dan menjatuhkan pidana, karna masih harus dibarengi dengan keyakinan

(24)

Hakim. Hal ini terkait dengan sistem pembuktian yang dianut Indonesia yaitu menggunakan Teori Pembuktian Negatif (Negatif wettelijk Bewijstheorie) seperti yang tampak dalam Pasal 183 KUHAP yang berbunyi “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa Terdakwalah yang bersalah melakukannya” (Bastianto Nugroho, 2017: 20). Jadi, Hakim hanya bisa menyatakan bahwa seseorang bersalah dan menjatuhkan pidana kepadanya apabila telah memenuhi dua syarat, yaitu:

a) Terdapat sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah;

b) Terdapat keyakinan Hakim yang diperoleh berdasarkan alat-alat bukti yang sah tersebut.

Pembuktian dalam perkara pidana berbeda dengan pembuktian dalam perkara perdata, sebab dalam pembuktian perkara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, yaitu kebenaran sejati atau yang sesungguhnya. Sedangkan pembuktian dalam perkara perdata bertujuan untuk mencari kebenaran formil, artinya Hakim tidak boleh melampaui batas-batas yang diajukan oleh para pihak yang berperkara (Andi Sofyan dan Abd. Asis, 2014: 229). Sehingga dalam perkara pidana, Hakim harus bersikap aktif untuk mencari kebenaran materiil. Hakim harus mampu menggunakan penalaran yang logis dalam memeriksa alat bukti yang diajukan dalam pemeriksaaan perkara di persidangan guna menjadi dasar dalam penjatuhan putusan.

b. Alat Bukti Keterangan Saksi

Alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan. Alat-alat bukti tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan Hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh Terdakwa (Bastianto Nugroho, 2017: 27). Macam-macam alat bukti ditentukan secara limitatif

(25)

oleh undang-undang, yaitu tercantum dalam Pasal 184 Ayat (1) KUHAP yang berbunyi:

Alat bukti yang sah ialah: 1) Keterangan Saksi; 2) Keterangan Ahli; 3) Surat;

4) Petunjuk;

5) Keterangan Terdakwa.

Awalnya, alat bukti selain yang disebutkandalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah di pengadilan. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi terdapat pembaruan dalam hal alat bukti yaitu dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, salah satu pasalnya yaitu Pasal 5 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang ITE menyebutkan bahwa :

Ayat (1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.

Ayat (2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia.

Alat bukti dalam pembuktian perkara pidana saat ini terdiri dari lima alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP dan ditambah dengan alat bukti Informasi Elektronik atau Dokumen Elektronik yang diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang ITE (Nur Laili Isma & Arima Koyimatun, 2014: 112).

Meskipun telah dikenal beberapa macam alat bukti dengan kekuatan pembuktian yang sama tingkatannya, namun kedudukan Saksi dalam proses peradilan pidana menempati posisi kunci. Sebagai alat bukti utama, tentu dampaknya sangat terasa bila dalam suatu perkara tidak diperoleh Saksi. Pentingnya kedudukan Saksi dalam proses peradilan pidana, telah dimulai sejak awal proses peradilan pidana. Harus diakui bahwa terungkapnya kasus

(26)

pelanggaran hukum sebagian besar berdasarkan informasi dari masyarakat. Begitu pula dalam proses selanjutnya, ditingkat kejaksaan sampai pada akhirnya di pengadilan, keterangan Saksi sebagai alat bukti utama menjadi acuan Hakim dalam memutus bersalah atau tidaknya Terdakwa. Jadi jelas bahwa Saksi mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam upaya menegakkan hukum dan keadilan (Prasetyo Margono, 2017: 44).

Definisi Saksi dapat dilihat pada Pasal 1 Angka 26 KUHAP menyatakan “Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri”. Adapun definisi dari keterangan Saksi tercantum dalam Pasal 1 Angka 27 KUHAP, yang berbunyi“Keterangan Saksi adalah salah satu alat bukti dalam pidana yang berupa keterangan dari Saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu”. Jenis-jenis Saksi yaitu :

1) Saksi a charge adalah Saksi-Saksi yang memberikan keterangan yang menguatkan pihak Jaksa (melemahkan pihak Terdakwa);

2) Saksi a de charge adalah Saksi-Saksi yang memberikan keterangan yang menguatkan pihak Terdakwa (melemahkan pihak Jaksa);

3) Saksi de auditu adalah Saksi yang memberikan keterangan yang diperolehnya dari orang lain atau Saksi yang tidak perlu didengar kesaksiannya karena mendengar dari pihak ketiga;

4) Saksi Mahkota (kroon Getuige) atau Saksi utama adalah Saksi yang berasal atau diambil dari salah seorang atau lebih Tersangkaatau Terdakwa lainnya yang bersama-sama melakukan suatu tindak pidana akibat tindakannya yang kooperatif tersebut Saksi tersebut diberikan "mahkota" (dibebaskan dari penuntutan atau dituntut lebih ringan dari tuntutan Terdakwa lainnya);

5) Saksi Korban yaitu orang yang mengalami kerugian akibat suatu perbuatan tindak pidana atau orang yang melapor atau Saksi yang mengadu;

(27)

6) Saksi Pelapor adalah orang yang mengetahui, mendengar, melihat kejadian atau proses kejadian suatu peristiwa hukum dan kemudian menyampaikannya kepada Aparatur Penegak Hukum;

7) Saksi Fakta memiliki pengertian yang sama seperti Saksi Pelapor. Perbedaan terletak pada tindakan Saksi. Saksi fakta tidak melapor/menyampaikan hal yang ia ketahui, tetapi ia ditarik menjadi Saksi oleh pihak penyidik guna kepentingan pemeriksaan suatu perkara; 8) Saksi relatief onbevoegd mereka yang tidak mampu secara nisbi atau relatief, mereka ini boleh didengar, tetapi tidak sebagai Saksi. Termasuk mereka yang boleh didengar, tetapi tidak sebagai Saksi ialah: a) Anak-anak yang belum mencapai umur 15 tahun (Pasal 145 Ayat (1)

sub 3 jo Ayat (4) HIR);

b) Orang gila, meskipun kadang-kadang ingatannya terang atau sehat (Pasal 145 Ayat (1) sub 4 jo Ayat (4) HIR). Mereka yang diletakkan di bawah pengampuan (curatele, pengawasan) karena boros.

9) Saksi absolut onbevoegd mereka yang tidak mampu secara mutlak atau absolut, Hakim dilarang untuk mendengar mereka ini sebagai Saksi. Mereka itu adalah :

a) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari Terdakwa atau yang bersama-sama sebagai Terdakwa (Pasal 145 Ayat (1) sub 1 HIR).Alasan pembentuk undang-undang memberi pembatasan ini adalah :

(1) Bahwa mereka ini umumnya dianggap tidak cukup obyektif apabila didengar sebagai Saksi;

(2) Untuk menjaga hubungan kekeluargaan yang baik, yang mungkin akan retak apabila mereka ini memberi kesaksian; (3) Untuk mencegah timbulnya tekanan batin setelah memberi

keterangan;

(4) Secara moral adalah kurang etis apabila seseorang menerangkan perbuatan yang kurang baik keluarganya.

(28)

b) Saudara dari Terdakwa atau yang bersama-sama sebagai Terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara Terdakwa sampai derajat ketiga;

c) Suami atau istri dari salah satu pihak, meskipun sudah bercerai (Pasal 145 Ayat (1) sub 2 HIR).

10) Saksi Ahli (deskundigenbericht, espertise) atau keterangan Ahli adalah keterangan pihak ketiga yang obyektif dan bertujuan untuk membantu Hakim dalam pemeriksaan guna menambah pengetahuan Hakim sendiri;

11) Saksi Verbalisan (penyidik), apabila dalam persidangan Terdakwa mencabut keterangannya pada waktu pemeriksaan penyidikan (Berita Acara Penyidikan) atau mungkir, seringkali Penyidik yang memeriksa perkara tersebut dipanggil jadi Saksi (Prasetyo Margono, 2017: 48-49).

Pengaturan mengenai keterangan Saksi diatur dalam Pasal 185 KUHAP dari Ayat (1) sampai dengan Ayat (7), yaitu:

1) Keterangan Saksi sebagai alat bukti ialah apa yang Saksi nyatakan di sidang pengadilan;

2) Keterangan seorang Saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya; 3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2) tidak berlaku apabila

disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya;

4) Keterangan Saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan Saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu;

5) Baik pendapat maupun rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran saja bukan merupakan keterangan Saksi;

6) Dalam menilai kebenaran keterangan seorang Saksi, Hakim harus dengan sungguh- sungguh memperhatikan :

(29)

a) Persesuaian antara keterangan Saksi satu dengan yang lain; b) Persesuaian antara keterangan Saksi dengan alat bukti lain;

c) Alasan yang mungkin dipergunakan oleh Saksi untuk memberi keterangan tertentu;

d) Cara hidup dan kesusilaan Saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

7) Keterangan Saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari Saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.

Pasal di atas menunjukkan bahwaagar keterangan seorang Saksi dapat dianggap sah sebagai alat bukti yang memiliki nilai kekuatan pembuktian, harus dipenuhi aturan ketentuan sebagai berikut:

1) Pertama, harus mengucapkan sumpah atau janji. Hal ini diatur dalam Pasal 160 Ayat (3), sebelum Saksi memberi keterangan “wajib mengucapkan” sumpah atau janji, adapun sumpah atau janji, dilakukan menurut cara agamanya masing-masing;

2) Keterangan Saksi yang mempunyai kekuatan pembuktian ialah keterangan yang sesuai dengan apa yang dijelaskan Pasal 1 Angka 27 KUHAP yang Saksi lihat sendiri, Saksi dengar sendiri, dan Saksi alami sendiri, serta menyebut alasan dari pengetahuannya itu;

3) Keterangan Saksi baru dapat bernilai sebagai alat bukti apabila keterangan itu Saksi nyatakan di sidang pengadilan. Keterangan yang dinyatakan di luar sidang pengadilan (outside the court) bukan alat bukti, tidak dipergunakan untuk membuktikan kesalahan Terdakwa; 4) Jika alat bukti yang dikemukakan Penuntut Umum hanya terdiri dari

seorang Saksi saja tanpa ditambah dengan keterangan Saksi yang lain atau alat bukti yang lain, “kesaksian tunggal” yang seperti ini tidak dapat dinilai sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan

(30)

kesalahan Terdakwa sehubungannya dengan tindak pidana yang didakwakan kepadanya;

5) Keterangan beberapa Saksi yang berdiri sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai slat bukti yang sah dengan syarat apabila keterangan Saksi itu “ada hubungannya” satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu (Bastianto Nugroho, 2017:30).

Keterangan Saksi yang hanya dimuat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dalam penyidikan, tanpa hadir langsung memberikan keterangan di persidangan bukanlah merupakan alat bukti yang sah.Apabila seseorang yang mendengar, melihat dan mengalami sendiri suatu perkara pidana, kemudian orang tersebut dimintai keterangannya serta dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), secara yuridis orang tersebut statusnya masih sebagai Saksidan keterangannya tersebut belum dapat dikatakan sebagai keterangan Saksi, karena keterangan tersebut belum Saksi nyatakan di depan persidangan, namun apabila keterangan Saksi tersebut tetap disampaikan di luar persidangan, maka pemberian keterangan tersebut tidaklah dapat diklasifikasikan sebagai alat bukti keterangan Saksi melainkan hanya sebatas Saksi selaku person (Dian Erdianto, 2015:68).

Seiring dengan perkembangan zaman, KUHAP dirasa belum mampu menjawab permasalahan-permasalahan baru yang terjadi di masyarakat, hingga akhirnya pada tahun 2011, terjadi perubahan terkait dengan alat bukti dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia. Keterangan yang tidak ia dengar sendiri, tidak ia lihat sendiri, dan tidak ia alami sendiri suatu peristiwa pidana yang terjadi, telah diterima sebagai alat bukti dalam perkara pidana. Definisi Saksi sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 26 jo Pasal 184 Ayat (1) huruf a KUHAP diperluas berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010. Perluasan definisi dalam putusan Mahkamah Konstitusi tersebut pada intinya menyatakan bahwa definisi Saksi sebagai alat bukti adalah keterangan dari Saksi mengenai suatu peristiwa yang pidana yang ia dengar, ia lihat sendiri,

(31)

dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan pengetahuannya itu, termasuk pula keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri (Asprianti Wangke, 2017: 148). Dalam sebuah Kajian Putusan MK 65/PUU-VIII/2010 yang diakses dari laman Komisi Yudisial antara lain dijelaskan bahwa Putusan MK 65/PUU-VIII/2010 mengakui Saksi Testimonium de Auditu dalam peradilan pidana. Testimonium de Auditu yaitu kesaksian atau keterangan karena mendengar dari orang lain

(https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt58dcb3732cca3/arti-itestimonium-de-auditu-i, diakses 1 Februari 2019 Pukul 11: 17 WIB). Dengan demikian, maka Testimonium de Auditu termasuk dalam perluasan definisi keterangan Saksi yang dimaksud dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010.

Terdapat pengecualian terhadap Saksi yang wajib untuk disumpah, yaitu termuat dalam Pasal 171 KUHAP, yang berbunyi:

Saksi yang boleh diperiksa untuk memberi keterangan tanpa sumpah ialah:

1) Anak yang umurnya belum cukup lima belas tahun dan belum pernah kawin;

2) Orang sakit ingatan atau sakit jiwa meskipun kadang-kadang ingatannyabaik kembali.

Anak yang umurnya belum cukup lima belas tahun dan belum pernah kawin dan Orang sakit ingatan atau sakit jiwa meskipun kadang-kadang ingatannya baik kembali tidak dapat dipertanggungjawabkan secara sempurna dalam hukum pidana. Selain Saksi yang disebut dalam Pasal 171 KUHAP, wajib hukumnya untuk mengucapkan sumpah. Berdasarkan Pasal 161 KUHAP, apabila Saksi enggan untuk bersumpah tanpa disertai alasan yang sah, maka ia dapat disandera di Rumah Tahanan Negara (Rutan) paling lama 14 (empat belas) hari. Apabila waktu penyanderaan tersebut telah habis dan Saksi tetap enggan untuk disumpah, maka Saksi harus dikeluarkan dari Rutan, sementara itu keterangan yang diberikan oleh Saksi

(32)

tersebut tidak dapat diberlakukan sebagai alat bukti yang sah, melainkan hanya dianggap sebagai keterangan yang menguatkan keyakinan Hakim.

Menjadi seorang Saksi, maka wajib baginya untuk memenuhi panggilan dalam rangka pemeriksaan perkara di pengadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 159 KUHAP yang menyatakan bahwa “Dalam hal Saksi tidak hadir, meskipun telah dipanggil secara sah dan Hakim ketua sidang mempunyai cukup alasan untuk menyangka bahwa Saksi itu tidak akan mau hadir, maka ketua sidang dapat memerintahkan supaya Saksi tersebut dihadapkan ke persidangan”. Apabila hal tersebut tidak dipenuhi maka Saksi tersebut dapat dijatuhi hukuman pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 224 KUHP yang menyatakan:

Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi Saksi, Ahli atau Juru Bahasa, dengan sengaja tidak memenuhi sesuatu kewajiban yang sepanjang undang-undang harus dipenuhi dalam jabatan tersebut, dihukum :

1) Dalam perkara pidana, dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan;

2) Dalam perkara lain, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam bulan.

Terdapat pengecualian terhadap berlakunya Pasal 185 Ayat (1) KUHAP, yakni sebagaimana diatur dalam Pasal 162 Ayat (1) KUHAP yang menyatakan bahwa keterangan Saksi yang dimuat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dapat dibacakan di depan persidangan tanpa dihadiri langsung oleh Saksi yang bersangkutan dengan empat alasan, yaitu:

1) Saksi meninggal dunia;

2) Terdapat halangan yang sah sehingga Saksi tidak dapat hadir di persidangan;

3) Tidak dipanggil karena tempat kediaman atau tempat tinggal Saksi jauh; 4) Terdapat kepentingan negara.

Kemudian dalam Pasal 161 Ayat (2) disebutkan pula bahwa apabila keterangan yang dimuat dalam BAP sebelumnya telah dilakukan dibawah sumpah, maka keterangan tersebut disamakan nilainya dengan keterangan Saksi di bawah sumpah yang diucapkan di sidang. Dapat diambil

(33)

kesimpulan bahwa menjadi Saksi tidaklah mudah, karena harus memenuhi beberapa persyaratan dan ketentuan yang diatur dalam undang-undang. Apabila Saksi diduga memberikan keterangan palsu, ia dapat dituntut dengan dakwaan Sumpah Palsu sebagaimana diatur dalam Pasal 174 KUHAP.

2. Dasar Hukum Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik

Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik untuk selanjutnya disebut Tindak Pidana ITE, merupakan salah satu dari Tindak Pidana Khusus. Tidak ada definisi Tindak Pidana Khusus secara baku, akan tetapi berdasarkan Memori Penjelasan (Memori Van Toelichting/MvT) dari Pasal 103 KUHP, istilah pidana khusus dapat diartikan sebagai perbuatan pidana yang ditentukan dalam perundang-undangan tertentu di luar KUHP (Aziz Syamsuddin, 2014: 13). Sehingga yang dimaksud dengan Tindak Pidana Khusus adalah tindak pidana yang diatur diluar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana selanjutnya disebut KUHP. Selain itu Tindak Pidana Khusus juga memiliki ketentuan-ketentuan khusus dalam acara pidananya yang berbeda dari tindak pidana lainnya. Selain Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik, terdapat Tindak Pidana Khusus lainnya yaitu Tindak Pidana Ekonomi, Tindak Pidana Korupsi, Tindak Pidana Pencucian Uang, Tindak Pidana Terorisme, Tindak Pidana Psikotropika dan Tindak Pidana Narkotika dan lain sebagainya.

Hukum Pidana Khusus merupakah langkah untuk memenuhi tuntutan dari sistem hukum Eropa Kontinental yang dianut oleh Indonesia. Sistem hukum Eropa Kontinental mempunyai ciri utama yaitu menjunjung tinggi Asas Legalitas atau yang disebut dengan “Nullum Delictum Nulla Poena Praevia Sine Lege Poenali” yang artinya tidak ada perbuatan pidana jika sebelumnya tidak dinyatakan dalam suatu ketentuan undang-undang (Tina Asmarawati, 2014: 3). Suatu perbuatan baru dapat dituntut apabila sudah diatur dalam undang-undang. Demi menjamin terwujudnya tujuan hukum yaitu Keadilan, Kepastian Hukum dan Kemanfaatan maka Hukum Pidana Khusus ini adalah salah satu cara untuk mewujudkan Kepastian Hukum. Meskipun sudah berlaku

(34)

KUHP, hukum yang berlaku di Indonesia terus diperbaharui demi memenuhi kebutuhan hukum masyarakat. Hukum harus mampu mengikuti tuntutan perkembangan zaman dikarenakan jenis-jenis kejahatan baru muncul seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Salah satu contohnya yaitu Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik.

Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik secara khusus diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Undang-undang tersebut kemudian diperbaharui dengan adanya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik selanjutnya disebut Undang-Undang ITE. Undang-Undang ITE memiliki jangkauan yurisdiksi tidak semata-mata untuk perbuatan hukum yang berlaku di Indonesia, tetapi juga berlaku untuk perbuatan hukum yang dilakukan di luar wilayah hukum (yurisdiksi) Indonesia baik oleh Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) atau Badan Hukum Indonesia maupun Badan Hukum Asing yang memiliki akibat hukum di Indonesia, mengingat pemanfaatan teknologi informasi untuk informasi elektronik dan transaksi elektronik dapat bersifat lintas teritorial atau universal (Tina Asmarawati, 2014: 60).

Berlakunya Undang-Undang ITE bukan berarti ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menjadi tidak berlaku, KUHAP tetap berlaku terhadap hal-hal yang tidak diatur secara khusus dalam Undang-Undang ITE. Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik mempunyai ketentuan khusus acara pidana yaitu tambahan alat bukti yang sah berupa alat bukti informasi elektronik atau dokumen elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang berbunyi “Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.”Selain kekhususan terkait dengan alat bukti,

(35)

Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik juga mempunyai kekhususan dibidang penyidikan, yaitu:

a. Penyidik yang menangani tindak pidana siber ialah dari instansi Kepolisian Negara RI atau Kementerian Komunikasi dan Informatika;

b. Penyidikan dilakukan dengan memperhatikan perlindungan terhadap privasi, kerahasiaan, kelancaran layanan publik, integritas data, atau keutuhan data;

c. Penggeledahan dan atan penyitaan terhadap Sistem Elektronik yang terkait dengan dugaan tindak pidana harus dilakukan atas izin Ketua Pengadilan Negeri setempat;

d. Dalam melakukan penggeledahan dan/atau penyitaan Sistem Elektronik, penyidik wajib menjaga terpeliharanya kepentingan pelayanan umum(https://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl5960/landasan-hukum penanganan-cyber-crime-di-indonesia diakses pada 1 Oktober 2018, pukul 16:27).

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Bab VII mencakup perbuatan-perbuatan yang dilarang yaitu diatur dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 37, sedangkan Bab XI mengatur mengenai ketentuan pidananya. Tindak pidana dalam Undang-Undang ITE yaitu:

a. Distribusi, transmisi atau membuat dapat diaksesnya konten illegal yang memuat pelanggaran kesusilaan

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 27 Ayat (1) dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 (enam) tahun dan denda maksimal Rp 1 milyar.

b. Distribusi, transmisi atau membuat dapat diaksesnya konten illegal yang memuat perjudian

(36)

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 27 Ayat (2) dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 (enam) tahun dan denda maksimal Rp 1 milyar.

c. Distribusi, transmisi atau membuat dapat diaksesnya konten illegal yang memuat penghinaan atau pencemaran nama baik

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 27 Ayat (3) dengan ancaman pidana penjara maksimal 4 (empat) tahun dan denda maksimal Rp 750 juta.

d. Distribusi, transmisi atau membuat dapat diaksesnya konten illegal yang memuat pemerasan atau pengancaman

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 27 Ayat (4) dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 (enam) tahun dan denda maksimal Rp 1 milyar.

e. Menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang merugikan konsumen Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 28 Ayat (1) dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 (enam) tahun dan denda maksimal Rp 1 milyar.

f. Menyebarkan informasi yangmenimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 28 Ayat (2) dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 (enam) tahun dan denda maksimal Rp 1 milyar.

g. Mengirimkan informasi yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 29 dengan ancaman pidana penjara maksimal 4 (empat) tahun dan denda maksimal Rp 750 juta. h. Secara illegal mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain

dengan cara apapun

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 30 Ayat (1) dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 (enam) tahun dan denda maksimal Rp 600 juta.

(37)

i. Secara illegal mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain dengan tujuan untuk memperoleh informasi

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 30 Ayat (2) dengan ancaman pidana penjara maksimal 7 (tujuh) tahun dan denda maksimal Rp 700 juta.

j. Secara illegal mengakses komputer atau sistem elektronik milik orang lain dengan menerobos sistem pengamanan

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 30 Ayat (3) dengan ancaman pidana penjara maksimal 8 (delapan) tahun dan denda maksimal Rp 800 juta.

k. Secara illegal melakukan penyadapan terhadap informasi milik orang lain Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 31 Ayat (1) dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) tahun dan denda maksimal Rp 800 juta.

l. Secara illegal melakukan intersepsi atas transmisi informasi elektronik milik orang lain yang tidak bersifat publik

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 31 Ayat (2) dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) tahun dan denda maksimal Rp 800 juta.

m. Secara illegal menganggu informasi elektronik milik orang lain atau milik publik

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 32 Ayat (1) dengan ancaman pidana penjara maksimal 8 (delapan) tahun dan denda maksimal Rp 2 milyar.

n. Secara illegal memindahkan informasi elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 32 Ayat (2) dengan ancaman pidana penjara maksimal 9 (sembilan) tahun dan denda maksimal Rp 3 milyar.

o. Membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang bersifat rahasia oleh publik

(38)

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 32 Ayat (3) dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) tahun dan denda maksimal Rp 5 milyar.

p. Secara illegal menimbulkan gangguan terhadap sistem elektronik

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 33 dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) tahun dan denda maksimal Rp 10 milyar.

q. Memfasilitasi perbuatan yang dilarang

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 34 ayat (1) dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 (sepuluh) tahun dan denda maksimal Rp 10 milyar.

r. Pemalsuan informasi atau dokumen elektronik

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 35 dengan ancaman pidana penjara maksimal 12 (dua belas) tahun dan denda maksimal Rp 12 milyar.

s. Melakukan perbuatan sebagaimana Pasal 27 sampai Pasal 34 yang menimbulkan kerugian bagi orang lain

Tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 36 dengan ancaman pidana penjara maksimal 12(dua belas) tahun dan denda maksimal Rp 12 milyar.

t. Melakukan perbuatan sebagaimana Pasal 27 sampai Pasal 36 yang dilakukan diluar wilayah Indonesia terhadap sistem elektronik yang berada di wilayah yurisdiksi Indonesia

3. Pengaturan tentang Upaya Hukum Peninjauan Kembali

Pengertian upaya hukum menurut Pasal 1 Angka12 KUHAP adalah “Hak Terdakwa atau Penuntut Umum untuk tidak menerima putusan pengadilan yang berupa perlawanan atau banding atau kasasi atau hak Terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini”.

(39)

Jenis upaya hukum menurut KUHAP dibagi menjadi dua, yaitu: a. Upaya Hukum Biasa

Upaya Hukum Biasa diatur dalam Bab XVII KUHAP, terdiri dari: 1) Upaya Hukum Banding

Upaya hukum banding dapat diajukan oleh Terdakwa maupun Penuntut Umum terhadap putusan Pengadilan Negeri dengan batas waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak putusan dijatuhkan atau putusan diberitahukan kepada Terdakwa.

2) Upaya Hukum Kasasi

Upaya hukum kasasi dapat diajukan oleh Terdakwa maupun Penuntut Umum terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain Mahkamah Agung dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak putusan yang dimohonkan kasasi diberitahukan kepada Terdakwa.

b. Upaya Hukum Luar Biasa

Upaya hukum luar biasa diatur dalam Bab XVIII KUHAP, meliput: 1) Pemeriksaan Kasasi Demi Kepentingan Hukum

Diajukan oleh Jaksa Agung terhadap semua putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dari pengadilan lain selain Mahkamah Agung. 2) Upaya Hukum Peninjauan Kembali (PK)

Diajukan oleh Terpidana atau Ahli Warisnya terhadap putusan yang berkekuatan hukum tetap kecuali terhadap putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum.

Peninjauan Kembali merupakan salah satu upaya hukum yang disediakan oleh hukum, yang dijadikan sebagai sarana atau alat untuk meminta Mahkamah Agung agar memeriksa ulang Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) karena dirasakan tidak adil. Sifat dari upaya hukum Peninjauan Kembali adalah meninjau kembali atas putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Ramiyanto, 2019: 109). Sedangkan menurut ketentuan Pasal 263 ayat (1)

(40)

KUHAP, jika diurai ketentuan pasal tersebut memiliki unsur yang sangat limitatif yaitu :

a. Putusan pengadilan yang dimintakan peninjauan kembali telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

b. Bukan merupakan putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan; c. Diajukan oleh Terpidana atau Ahli Warisnya.

Berkaitan dengan definisi Peninjauan Kembali tersebut, dapat disimpulkan bahwa Peninjauan Kembali adalah hak Terpidana dan Ahli Warisnya untuk melakukan upaya hukum luar biasa (Ahmad Fauzi, 2014: 143).

Putusan Pengadilan dijatuhkan oleh Hakim, manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Karena itu dibuka kemungkinan memohon Peninjauan Kembali putusan. Adanya lembaga Peninjauan Kembali supaya pengadilan benar-benar menjalankan keadilan sehingga para pencari keadilan akan dipenuhi hasratnya untuk memperoleh keadilan (Herri Swantoro, 2017: 2). Pasal 263 Ayat (2) mengatur mengenai syarat pengajuan peninjauan kembali yaitu :

a. Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum atau tuntutan Penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan;

b. Apabila dalam berbagai putusan, terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain;

c. Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan Hakim atau kekeliruan yang nyata.

Syarat pengajuan Peninjauan Kembali ditentukan secara limitatif oleh KUHAP, sehingga apabila tidak memenuhi syarat tersebut maka permohonan Peninjauan Kembali tidak dapat diterima. Apabila Mahkamah Agung membenarkan alasan pemohon Peninjauan Kembali, maka Mahkamah Agung

(41)

harus membatalkan putusan yang dimintakan Peninjauan Kembali tersebut. Adapun putusan yang dapat dijatuhkan oleh Mahkamah Agung setelah membenarkan alasan pemohon Peninjauan Kembali tercantum dalam Pasal 266 Ayat (2) Huruf b KUHAP, yaitu:

a. Putusan bebas;

b. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum;

c. Putusan tidak dapat menerima tuntutan Penuntut Umum;

d. Putusan dengan menerapkan ketentuan pidana yang lebih ringan.

Sementara ketentuan yang mengatur tentang permintaan Peninjauan Kembali diatur dalam Pasal 268 Ayat (1), (2), dan (3) KUHAP, yaitu:

a. Permintaan Peninjauan Kembali atas suatu putusan tidak menangguhkan maupun menghentikan pelaksanaan dari putusan tersebut;

b. Apabila suatu permintaan Peninjauan Kembalisudah diterima oleh Mahkamah Agung dan sementara itu pemohon meninggal dunia, mengenai diteruskan atau tidaknya Peninjauan Kembali tersebut diserahkan kepada kehendak Ahli Warisnya;

c. Permintaan Peninjauan Kembali atas suatu putusan hanya dapat dilakukan satu kali saja.

Pengajuan Peninjauan Kembali hanya satu kali, sebagaimana dijelaskan dalam Pasaal 268 ayat (3) KUHAP adalah rumusan hukum yang lebih menekankan kepada asas kepastian hukum karena perkara yang bersangkutan telah di uji oleh Hakim melalui pemeriksaan di Pengadilan Negeri (PN) hingga kasasi di Mahkamah Agung (MA). Rangkaian tahapan pengujian materi dapat menjadi alasan hukum bahwa putusan MA dalam PK memiliki kebenaran yang sangat menyakinkan atau tingkat kepastian hukum yang sangat tinggi (M. Lutfi Chakim, 2015: 336).Selain diatur dalam Pasal 263 Ayat (3) KUHAP, ketentuan tersebut juga diperkuat oleh Mahkamah Agung dengan menerbitkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 10 Tahun 2009 tentang Peninjauan Kembali (SEMA Peninjauan Kembali) yang kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2016 tanggal 9 Desember 2016 tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun

(42)

2016 sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Pengadilan (Herri Swantoro, 2017:6).

Memperhatikan ketentuan Pasal 264 Ayat (1) dan Ayat (4), syarat formal menentukan sahnya permohonan Peninjauan Kembali ialah surat permintaan Peninjauan Kembali.Apakah surat permintaan yang memuat alasan itu dibuat sendiri oleh Terpidana atau Panitera Pengadilan Negeri sesuai dengan Pasal 264 Ayat (4), tidak menjadi persoalan, yang penting sebagai syarat sahnya permohonan, harus diajukan dalam surat permintaan Peninjauan Kembali yang menjelaskan alasan-alasan yang mendasari permohonan. Tanpa surat permintaan yang memuat alasan-alasan sebagai dasar, permintaan yang demikian dianggap tidak ada. Pendapat ini didukung oleh Pasal 264 Ayat (1) dan Ayat (4) yang menegaskan:

a. Ayat (1) kalimat terakhir menegaskan, pemohon harus menyebut secara jelas alasan permintaan Peninjauan Kembali;

b. Ayat (4) menegaskan, jika pemohon Peninjauan Kembali adalah Terpidana yang kurang memahami hukum, Panitera pada waktu penerima permintaan Peninjauan Kembali, wajib menanyakan alasannya kepada pemohon dan untuk itu Panitera membuat surat permintaan Peninjauan Kembali (M. Yahya Harahap, 2016: 619).

(43)

B. Kerangka Pemikiran

Keterangan:

Kerangka pemikiran di atas menjelaskan alur pemikiran, menganalisis, menjabarkan dan menemukan jawaban atas penelitian hukum, yaitu mengenai Konsekuensi Ketidakhadiran Saksi Pelapor di Persidangan dalam Perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik. Bermula dari adanya dugaan tindak

Putusan Nomor 79/PID.SUS/2013/PN.Ska

Tindak Pidana ITE

Pasal 29 jo Pasal 45 Ayat (3) UU No.11 Tahun 2008

Putusan Nomor 44/Pid/2014/PT.Smg

Putusan Nomor 1086K/PID.SUS/2014

Alasan PK oleh Terpidana

Pertimbangan Mahkamah Agung Putusan Nomor 110PK/Pid.Sus/2016 Putusan Pemidanaan 3 tahun penjara Putusan PT Menguatkan putusan PN Putusan Menolak Permohonan Kasasi Adanya kekeliruan dan kekhilafan yang

nyata dari Majelis Hakim Dakwaan tidak dapat dibenarkan Putusan Pemidanaan 1 tahun penjara Permohonan Kasasi

oleh Terdakwa dan Penuntut Umum Permohonan Banding

oleh Terdakwa dan Penuntut Umum

Pasal 263 Ayat (2) huruf c KUHAP Saksi Pelapor tidak

pernah hadir di persidangan

(44)

pidana ITE yang dilakukan oleh Anthon Wahjupramono, S.H., M.Hum. yang didakwa dengan Pasal 29 jo Pasal 45 Ayat (3) Undang-Undang ITE, yaitu “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi”, dengan ancaman 12 tahun penjara dan/denda paling banyak Rp 2 milyar. Meskipun Saksi Pelapor tidak pernah hadir di persidangan setelah dipanggil sebanyak 12 kali, namun Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surakarta tetap melanjutkan pemeriksaan perkara dan menjatuhkan Putusan Nomor 79/PID.SUS/2013/PN.Ska berupa putusan pemidanaan 3 tahun penjara kepada Terdakwa. Padahal menurut keterangan Ahli yang dihadirkan di persidangan, Saksi Pelapor harus memberikan keterangan langsung di persidangan untuk membuktikan unsur menakut-nakuti yang termuat dalam tindak pidana tersebut.

Terdakwa dan Penuntut Umum mengajukan upaya hukum Banding ke Pengadilan Tinggi Semarang dan Hakim menjatuhkan Putusan Nomor 44/Pid/2014/PT.Smg yang amarnya menguatkan putusan Pengadilan Negeri Surakarta. Tak puas dengan putusan Pengadilan Tinggi Semarang, Terdakwa dan Penuntut Umum kembali mengajukan upaya hukum yaitu kasasi ke Mahkamah Agung. Dalam amar Putusan Nomor 1086K/PID.SUS/2014, Mahkamah Agung menolak permohonan Kasasi. Langkah terakhir yang dilakukan Terpidana adalah mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) dengan alasan yang termuat dalam Pasal 263 Ayat (2) huruf c yaitu adanya kekeliruan dan kekhilafan Hakim yang nyata. Meskipun dalam pertimbangannya Mahkamah Agung menyatakan bahwa dakwaan tidak dapat dibenarkan, namun dalam amar putusannya yaitu Putusan Nomor 110PK/Pid.Sus/2016, Mahkamah Agung menjatuhkan pidana 1 tahun penjara. Penelitian ini akan menganalisis apakah ketidakhadiran Saksi Pelapor di Persidangan dalam Perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dapat dijadikan sebagai alasan permohonan Peninjauan Kembali dan apakah pertimbangan Mahkamah Agung dalam menjatuhkan putusan pidana lebih ringan terhadap Pemohon Peninjauan Kembali telah sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP.

(45)

33 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Menjadi Saksi hukumnya wajib untuk hadir di persidangan dan memberikan keterangan. Apabila Saksi tidak hadir di persidangan setelah dipanggil secara sah, beberapa upaya dapat dilakukan seperti pemanggilan paksa hingga menjerat Saksi dengan tindak pidana karena tidak memenuhi kewajibanya sebagai Saksi. Hal ini karena kedudukan Saksi sangat penting dalam hal pembuktian suatu tindak pidanauntuk membantu Hakim menemukan kebenaran materiil. Maka dalam penelitian ini penulis akan mengkaji konsekuensi ketidakhadiran Saksi Pelapor di persidangan dalam perkara Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik dengan studi kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 110PK/Pid.Sus/2016.

The rules of criminal acts committed therein are proven to threaten the internet users. Since the enactment of Law No. 11 Year 2008 on Information and Electronic Transactions on 21 April 2008, has caused many victim (aturan tindak pidana di dalamnya terbukti mengancam pengguna internet. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik pada tanggal 21 April 2008, telah menyebabkan banyak korban)(Masdin Saragih, Henry Aspan, Andysah Putra Utama Siahaan, 2017: 213).Media elektronik yang membantu dan memudahkan setiap aktivitas kehidupan manusia justru sering kali menjerat orang dengan pasal-pasal yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebagaimana kasus yang terjadi di Surakarta, Jawa Tengah.Seorang Notaris di Surakarta dijatuhi pidana karena melakukan Tindak Pidana Informasi dan Transaksi Elektronik. Hal tersebut dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian argumentasi Kasasi Penuntut Umum terhadap putusan bebas Judex Facti akibat kesalahan penilaian pembuktian dalam

Penelitian hukum ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian upaya pembuktian Penuntut Umum terhadap tindak pidana pembunuhan yang dilakukan terdakwa berdasarkan alat-alat

Penulisan hukum ini membahas tentang apakah pengajuan kasasi penuntut umum terhadap putusan bebas perkara perkosaan dengan alasan adanya kesalahan penerapan hukum

TINJAUAN KETIDAKKONSISTENAN KETERANGAN AHLI DALAM BAP PENYIDIKAN DENGAN DI PERSIDANGAN SEBAGAI ALASAN KASASI PENUNTUT UMUM TERHADAP PUTUSAN BEBAS PERKARA ILLEGAL

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluraga apabila diberikan di bawah sumpah

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian keterangan oleh seorang saksi yang berstatus suami Terdakwa sebagai alat bukti dan kekuatannya dalam

“UPAYA PEMBUKTIAN KESALAHAN TERDAKWA PELAKU TINDAK PIDANA PERZINAHAN DENGAN MENDENGARKAN KETERANGAN ISTRI TERDAKWA SEBAGAI KETERANGAN YANG MEMBERATKAN (STUDI PUTUSAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesalahan dalam penerapan hukum pembuktian oleh Hakim sebagai alasan hukum Penuntut Umum mengajukan kasasi terhadap