Kekuatan alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah dengan terdakwa dalam tindak pidana pencurian
Dalam keluarga
(studi kasus di pengadilan negeri surakarta)
Penulisan Hukum (Skripsi)
Disusun dan diajukan untuk
Melengkapi Persyaratan Guna Meraih Derajat Sarjana dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh :
Grace Suliestiowati NIM : E .0004174
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2008
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Penulisan Hukum (Skripsi)
KEKUATAN ALAT BUKTI KETERANGAN SAKSI YANG MEMILIKI HUBUNGAN DARAH DENGAN TERDAKWA DALAM TINDAK
PIDANA PENCURIAN DALAM KELUARGA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)
Disusun oleh :
GRACE SULIESTIOWATI NIM : E 0004174
Disetujui untuk Dipertahankan Dosen Pembimbing
EDY HERDYANTO, S.H.,M.H. NIP. 131 472 194
iii
PENGESAHAN PENGUJI
Penulisan Hukum (Skripsi)
KEKUATAN ALAT BUKTI KETERANGAN SAKSI YANG MEMILIKI HUBUNGAN DARAH DENGAN TERDAKWA DALAM TINDAK PIDANA
PENCURIAN DALAM KELUARGA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta )
Disusun oleh :
GRACE SULIESTIOWATI NIM : E 0004174
Telah diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Penulisan Hukum (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
pada : Hari : Selasa
Tanggal : 29 April 2008 TIM PENGUJI
1Bambang Santoso, S.H.,M.Hum. : ... Ketua 2.Kristiyadi, S.H.,M.Hum. : ... Sekretaris 3.Edy Heryanto, S.H.,M.H. : ... Anggota : Mengetahui : Dekan
( Moh. Jamin, S.H., M.Hum. ) NIP. 131 570 154
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”
(QS. Ar Ra’du : 11)
“...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat...”
(Q.S. Al Mujaadillah:11)
“Cara pandang dan sikap mental yang positif akan menciptakan jauh lebih banyak keajaiban ketimbang obat-obatan manapun ”
(Patricia Neal)
Penulisan Hukum ini kupersembahkan kepada : © Ayah dan Ibuku, yang selalu memberikan doa dan
kasih sayang
© Kakak-kakakku, Mas Eko & Mas Sonny yang sudah jadi teladan dan pemberi semangat buat aku © Almameterku yang tercinta
v ABSTRAK
Grace Suliestiowati, E 0004174, KEKUATAN ALAT BUKTI KETERANGAN SAKSI YANG MEMILIKI HUBUNGAN DARAH DENGAN TERDAKWA DALAM TINDAK PIDANA PENCURIAN DALAM KELUARGA (Studi kasus di Pengadilan Negeri Surakarta). Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.2008
Penelitian ini mengkaji dan menjawab permasalahan mengenai kekuatan alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa dan hambatan-hambatan dalam proses pembuktian di sidang pengadilan terhadap kasus pencurian dalam keluarga. Kekuatan pembuktian alat bukti keterangan saksi dalam proses pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap kasus pencurian dalam keluarga adalah merupakan alat bukti yang sah dan dapat merupakan alat bukti yang tidak sah: apa saja yang menjadi hambatan dalam sidang pemeriksaan kasus tindak pidana pencurian dalam keluarga yang menggunakan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak. Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder diperoleh dengan jalan studi kepustakaan. Data sekunder yang dipakai meliputi bahan hukum primer yaitu berupa Undang Dasar 1945, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Kitab Undang-Undang-Undang-Undang Hukum Pidana; bahan hukum sekunder yaitu buku-buku referensi dan putusan Pengadilan Negeri, khususnya mengenai kasus pencurian dalam keluarga; dan bahan hukum primer yaitu data yang diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dengan mengadakan wawancara dengan hakim yang menangani perkara tindak pidana pencurian dalam keluarga di Pengadilan Negeri Surakarta. Setelah data teridentifikasi secara sistematis kemudian dianalisis dengan analisis kualitatif dengan model interaktif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluraga apabila diberikan di bawah sumpah yang dilakukan atas kehendak mereka dan kehendaknya itu disetujui secara tegas oleh penuntut umum dan terdakwa, memiliki nilai sebagai alat bukti yang sah, namun apabila jaksa penuntut umum dan terdakwa tidak menyetujui mereka sebagai saksi dengan disumpah maka bagi saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluarga dapat memberikan keterangan tanpa sumpah, nilai keterangan tidak merupakan alat bukti yang sah dan nilai pembuktian yang melekat pada keterangan tersebut dapat dipakai sebagai petunjuk. Mengenai hambatan pada proses pemeriksaan alat bukti keterangan saksi yang dapat terjadi pada kasus tindak pidana pencurian dalam keluarga adalah apabila tidak terpenuhinya batas minimum pembuktian yaitu minimal terdapat 2 alat bukti yang sah yang menunjukkan bahwa terdakwa memang bersalah adalah pada saat keterangan saksi diberikan tanpa sumpah, keterangan tersebut menjadi alat bukti petunjuk, dan apabila tidak ada alat bukti sah lainnya selain keterangan terdakwa, kemudian terdakwa menyatakan tidak bersalah, maka tidak terpenuhi batas minimum pembuktian sehingga terdakwa dapat dinyatakan tidak bersalah dan diputus bebas.
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum yang berjudul : “KEKUATAN ALAT BUKTI KETERANGAN SAKSI YANG MEMILIKI HUBUNGAN DARAH DENGAN TERDAKWA DALAM TINDAK PIDANA PENCURIAN DALAM KELUARGA” (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta).
Penulisan hukum ini membahas tentang kekuatan pembuktian keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa dan hambatan dalam proses pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap kasus pencurian dalam keluarga, khususnya pada kasus pencurian dalam keluarga yang telah diputus oleh Pengadilan Negeri Surakarta.
Pencurian merupakan salah satu tindak pidana. Tidak menutup kemungkinan tindak pidana ini dilakukan dalam lingkungan keluarga, dan untuk melanjutkan lewat jalur hukum maka dibutuhkan adanya pengaduan. Setelah adanya pengaduan maka tindak pidana ini bisa diperiksa di pengadilan. Salah satu hal yang akan diperiksa adalah keterangan saksi yang memiliki hubungan darah. Seperti pada kasus yang dibahas pada penulisan hukum ini yaitu mengenai kekuatan alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluarga beserta hambatannya.
Penulis menyadari bahwa penulisan hukum ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, motivasi dan bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Moh. Jamin, S.H.,M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak Edy Herdyanto, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing Skripsi serta Ketua Bagian Hukum Acara di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah sabar dalam membimbing saya.
vii
3. Bapak Moch. Najib. I, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberikan nasehat dan masukan kepada penulis.
4. Bapak dan Ibu dosen beserta segenap karyawan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
5. Ketua Pengadilan Negeri Surakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di kantor Pengadilan Negeri Surakarta.
6. Bapak Simanjuntak, Bapak Ari, Bapak Tarto, Bapak Isnu yang telah membantu saya dalam mengumpulkan dan bapak ibu lainnya yang telah membantu penulis saat penelitian di kantor Pengadilan Negeri Surakarta 7. Bapak Widyo Harno,S.H selaku pegawai rumah tahanan yang telah memberi
inspirasi bagi saya untuk menemukan judul skripsi.
8. Keluarga besarku di Bogor, Jakarta, Medan dan Pontianak. 9. Shinta, Dita, Ika, Ayu, Damayanti, teman-temanku di Bogor .
10. Ulfa Septiana yang sudah jadi alasan untuk aku kuliah di Universitas Sebelas Maret, terima kasih temanku,karena kamu aku punya kesempatan dan alasan bisa kuliah di Universitas Sebelas Maret.
11. Andina, Nurul, Heri, Zuhratul Aini, Dustin, Muhammad, Ika Ariani Kartini, yang tidak pernah sungkan memberikan bantuan bagi saya
12. Teman-temanku satu bimbingan Akademik
13. Bapak&Ibu Kost Wisma Putri Nita; Wismoner’s : Mbak Herlin, Erin, Arina, Era, Seha, Grace, Yau, Atiek, Uty, Peny, Like, Ria, dll
14. Seluruh teman – teman program strata satu reguler Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Angkatan 2004 yang telah memberikan bantuan dan saran dalam pembuatan dan penyusunan skripsi ini.
15. Seluruh pihak yang telah membantu dalam kelancaran penyusunan skripsi ini. Demikian mudah-mudahan penulisan hukum ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, terutama untuk penulis sendiri, kalangan akademis, praktisi serta masyarakat umum.
Surakarta, April 2008 Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Perumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Metode Penelitian ... 5
F. Sistematika Penulisan Hukum ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
A. Kerangka Teori ... 10
1. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian ... 10
a. Pengertian Pembuktian ... 10
b. Sistem Pembuktian... 11
1) Beberapa Sistem Pembuktian... 11
2) Sistem Pembuktian yang Dianut KUHAP ... 13
2. Tinjauan Umum Tentang Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian... 14
a. Keterangan Saksi... 15
b. Keterangan Ahli ... 16
c. Surat ... 18
ix
e. Keterangan Terdakwa ... 20
3. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga ... 22
a. Pengertian Tindak Pidana ... 22
b. Pengertian Tindak Pidana Pencurian ... 23
c. Pengertian Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga . 24 d. Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga sebagai Delik Aduan ... 25
B. Kerangka Pemikiran... 33
BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Kekuatan Alat Bukti Keterangan Saksi yang memiliki Hubungan Darah Dengan Terdakwa Dalam Tindak Pidana Pencurian Dalam Keluarga ... 35
1. Kasus Posisi ... 35 2. Dakwaan... 36 3. Keterangan Saksi... 37 4. Petunjuk ... 41 5. Keterangan Terdakwa ... 42 6. Tuntutan ... 43 7. Pertimbangan Hakim... 43 8. Putusan Hakim ... 46 9. Pembahasan... 47
B. Hambatan dalam Pembuktian Dengan Menggunakan Alat Bukti Keterangan Saksi yang Memiliki Hubungan Darah Dengan Terdakwa Dalam Tindak Pidana Pencurian Dalam Keluarga ... 53
BAB IV. PENUTUP ... 57
A. Simpulan ... 57
B. Saran... 58 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Skema Bagan Metode Analisis Interaktif ... 8 Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran ... 33
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I. Surat Ijin Penelitian
Lampiran II Surat Keterangan Penelitian
Lampiran III Putusan Pengadilan No.169/ Pid.B/ 2007/ PN.SKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia adalah negara hukum, demikian penegasan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Sebagai negara hukum, Indonesia menempatkan warga negara dalam kedudukan yang sama dalam hukum sebagaimana ditegaskan pada Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, yaitu yang berbunyi : “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.
Adapun ciri-ciri dari negara hukum menurut Nico Ngani antara lain meliputi :
1. Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia yang mengandung persamaan dalam bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
2. Peradilan yang bebas dan tidak memihak serta tidak dipengaruhi oleh sesuatu kekuasaan atau kekuasaan apapun juga.
3. Legalitas dalam arti dan segala bentuknya (Nico Ngani, 1984 : 1).
Berdasarkan ciri-ciri negara hukum seperti yang dituliskan di atas, Indonesia sebagai negara hukum mempunyai salah satu ciri yang penting yaitu adanya peradilan yang bebas. Untuk melaksanakan peradilan yang bebas, Negara Indonesia telah mewujudkannya dengan diaturnya proses
peradilan pidana dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat, dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menentukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan (Moch. Faisal Salam, 2001 : 1).
Hukum acara pidana mengatur cara-cara yang harus ditempuh untuk menegakkan atau menciptakan ketertiban di dalam masyarakat. Hal ini wajib diterapkan dalam masyarakat agar tecapai suatu masyarakat yang tertib, aman, dan tenteram.
Mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil diterapkan pada sidang pemeriksaan perkara pidana di pengadilan yaitu pada tahap pembuktian. Pada tahap ini merupakan tahap yang penting dalam proses pemeriksaan di sidang pengadilan. Dikatakan penting karena pada tahap ini dapat ditentukan apakah terdakwa benar-benar bersalah atau tidak. Pembuktian dilakukan dengan mendatangkan alat-alat bukti yang telah ditentukan oleh undang-undang. Dengan begitu dapat membantu hakim dalam menjatuhkan putusan.
Dalam pembuktian perkara pidana akan ditentukan oleh adanya alat bukti.Perihal alat-alat bukti yang sah yang ditentukan oleh undang-undang, Pasal 184 KUHAP menyebutkan sebagai berikut :
(1) Alat bukti yang sah ialah : a. keterangan saksi; b. keterangan ahli;
xiii c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Dalam pemeriksaan perkara pidana di persidangan diwajibkan menggunakan minimal dua alat bukti. Salah satu alat bukti yang dapat digunakan dalam proses pemeriksaan perkara pidana di sidang pengadilan adalah keterangan saksi. Keterangan saksi merupakan alat bukti yang paling utama. Pada umumnya semua orang dapat menjadi saksi. Menurut pasal 168 KUHAP terdapat beberapa kekecualian untuk menjadi saksi, antara lain:
a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;
b. Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan, dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;
c. Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai hambatan dan kekuatan pembuktian keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa dalam proses pemeriksaan perkara pidana pencurian dalam keluarga di sidang pengadilan, khususnya di Pengadilan Negeri Surakarta. Dengan demikian penulis mengadakan penelitian hukum dengan judul “KEKUATAN ALAT BUKTI KETERANGAN SAKSI YANG MEMILIKI HUBUNGAN
DARAH DENGAN TERDAKWA DALAM TINDAK PIDANA
PENCURIAN DALAM KELUARGA” (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Surakarta)
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kekuatan alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah dengan terdakwa dalam tindak pidana pencurian dalam keluarga?
2. Apa saja yang menjadi hambatan dalam pembuktian dengan mengunakan alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah dengan terdakwa dalam tindak pidana pencurian dalam keluarga?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian adalah suatu yang hendak dicapai dalam suatu penelitian sebagai suatu penyelesaian atas masalah yang dihadapi (tujuan obyektif), maupun dalam hal untuk memenuhi kebutuhan perorangan (tujuan subjektif). Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah:
1. Tujuan objektif
a. Untuk mengetahui bagaimana kekuatan pembuktian dari alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap tindak pidana pencurian dalam keluarga.
b. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja dalam pembuktian dengan menggunakan alt bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluarga.
xv
a. Untuk memenuhi persyaratan akademis yang diwajibkan guna meraih gelar sarjana di bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Untuk menambah pengetahuan, pemahaman dan wawasan penulis dalam bidang Ilmu Hukum Acara Pidana, khususnya mengenai kekuatan alat bukti yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluarga.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya, di bidang Hukum Acara Pidana pada khususnya mengenai alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah terhadap terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluarga.
b. Hasil penelitian diharapkan bermanfaat sebagai tambahan informasi sekaligus menambah literatur di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Manfaat Praktis
a. Dengan diadakan penelitian hukum ini menjadi sarana penambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan penulis di bidang hukum. b. Memberi masukan sekaligus membantu para pihak yang tertarik
ataupun terkait dengan masalah yang diteliti oleh penulis.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut:
Penelitian ini termasuk pada penelitian hukum empiris, yaitu suatu penelitian yang berusaha mengidentifikasikan hukum yang terdapat dalam masyarakat dengan maksud untuk mengetahui gejala-gejala lainnya (Soerjono Soekanto:1986:52). Dalam Penulisan hukum ini penulis melakukan penelitian terhadap law in action atau hukum operasionalisasinya.
2. Sifat Penelitian
Penelitian merupakan penelitian deskriptif. Adapun pengertian penelitian deskriptif, yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambar atau melukiskan keadaan obyek penelitian pada saat sekarang, berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Hadari Nawawi, 1996:74)
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian dalam penulisan hukum ini bersifat kualitatif yaitu pendekatan dengan mendasarkan pada data yang diberikan oleh responden secara lisan atau tertulis,dan juga perilaku yang nyata diteliti, dipelajari sebagai suatu yang utuh, menggunakan data verbal dan kualifikasi bersifat teoritis diolah dan ditarik kesimpulan dengan metode berfikir induktif.
4 Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis memilih lokasi di :
Pengadilan Negeri Surakarta, yang beralamat di Jalan Brigadir Jenderal Slamet Riyadi Nomor. 290 Surakarta.
xvii 5 Jenis Data Penelitian
Data dibedakan menjadi dua yaitu: data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari penelitian perilaku masyarakat. Data sekunder mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan, buku-buku harian, dan seterusnya (Soerjono Soekanto, 1986:12)
6 Sumber Data
Berdasarkan jenis data, ditentukan pula sumber data, sumber data yang digunakan adalah:
a. Sumber data primer
Merupakan sumber data yang terkait langsung dengan permasalahan yang diteliti. Dalam hal ini yang menjadi sumber data primer adalah pejabat atau pegawai Pengadilan Negeri Surakarta. Data tentang penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dengan hakim yang menangani perkara tersebut, sehingga diharapkan agar hasil yang diperoleh merupakan hal obyektif dan sesuai dengan obyek yang diteliti
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder yaitu sumber data yang secara tidak langsung memberikan keterangan dan bersifat melengkapi sumber data primer. Yang menjadi sumber data sekunder adalah buku-buku ilmiah, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen, dan sumber-sumber lain yang mendukung penelitian.
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah:
a. Studi kepustakaan
Pada metode ini, Penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari buku-buku literatur, peraturan-peraturan hukum, surat kabar dan lain-lain yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
b. Wawancara
Penulis langsung ke lapangan untuk memperoleh data primer dengan cara mengadakan wawancara langsung dengan hakim Pengadilan Negeri Surakarta yang pernah memeriksa dan memutus perkara tindak pidana pencurian dalam keluarga.
8 Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori dan uraian dasar, sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan oleh data (Lexy J.Moleong, 1994: 103).
Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif model interaktif. Pengertian dari model interaktif adalah bahwa data yang telah terkumpul akan dianalisis melalui tiga tahap, yaitu : mereduksi data, menyajikan data kemudian menarik kesimpulan. Selanjutnya dilakukan proses siklus antara tahap-tahap tersebut, sehingga data yang terkumpul berhubungan satu dengan yang lainnya secara sistematis (H.B. Sutopo,1991 : 13).
Untuk memperjelas dapat dilihat skema di bawah ini
xix Penjelasannya adalah sebagai berikut:
- Reduksi Data
Merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian kepada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.
- Penyajian Data
Sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan penarikan kesimpulan dan penarikan data.
- Penarikan Kesimpulan
Pengumpulan data dan dari data tersebut ditarik kesimpulan, mula-mula belum jelas, meningkat menjadi lebih rinci dan mengarah pada pokok.
F. Sistematika Penulisan Hukum
BAB I : PENDAHULUAN
Reduksi data Penyajian data
Penarikan kesimpulan
Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian , manfaat penelitian dan metode penelitian.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini akan diuraikan mengenai kerangka teori dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka teori diuraikan tentang tinjauan umum tentang pembuktian, tinjauan umum tentang alat bukti dan kekuatan pembuktian, tinjauan umum tentang tindak pidana, tinjauan umum tentang tindak pidana pencurian, tinjauan umum tentang tindak pidana pencurian dalam keluarga
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini memuat hasil penelitian dan pembahasan tentang kekuatan alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah dengan terdakwa dan hambatan-hambatan yang dapat terjadi pada pembuktian yang menggunakan alat bukti keterangan saksi yang memiliki hubungan darah dengan terdakwa tindak pidana pencurian dalam keluarga.
BAB IV : PENUTUP
Dalam bab ini memuat mengenai kesimpulan dan saran yang terkait dengan permasalahan yang diteliti.
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
xxi
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka teori
1. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian
a. Pengertian Pembuktian
Pembuktian berasal dari kata dasar bukti. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, arti bukti adalah sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa; keterangan nyata; tanda; hal yang menjadi tanda perbuatan jahat. Sedangkan pembuktian memilki arti proses, cara, perbuatan membuktikan; usaha menunjukkan benar atau salahnya si terdakwa dalam sidang pengadilan ( Balai Pustaka, 2001:172).
Pembuktian dalam perkara pidana berbeda dengan pembuktian dalam perkara perdata. Hukum acara pidana itu bertujuan mencari kebenaran sejati atau yang sesungguhnya, hakimnya bersifat aktif, hakim berkewajiban untuk mendapatkan bukti yang cukup untuk membuktikan tuduhan kepada tertuduh (www.kdp.or.id).
Definisi pembuktian menurut M. Yahya Harahap, adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang yang boleh dipergunakan hakim untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan. Persidangan pengadilan tidak boleh sesuka hati dan semena-mena membuktikan kesalahan terdakwa (M. Yahya Harahap, 2002: 273).
b. Sistem Pembuktian
1) Beberapa sistem pembuktian
Tujuan pembuktian menurut M.Yahya Harahap adalah untuk mengetahui bagaimana cara meletakkan hasil pembuktian terhadap perkara yang sedang diperiksa. Hasil dan kekuatan pembuktian yang dianggap cukup memadai untuk membuktikan kesalahan terdakwa didapat melalui beberapa sistem pembuktian antara lain (M. Yahya Harahap, 2002: 277-280):
a) Conviction-in Time
Sistem pembuktian conviction-in time menentukan salah tidaknya seorang terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan hakim. Keyakinan hakim yang menentukan keterbuktian kesalahan terdakwa. Dari mana hakim menarik dan menyimpulkan kayakinannya, tidak menjadi masalah dalam sistem ini. Keyakinan boleh diambil dan disimpulkan hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan. Bisa juga hasil pemeriksaan alat-alat bukti itu diabaikan hakim, dan langsung menarik keyakinan dari keterangan atau pengakuan terdakwa.
xxiii
Dalam sistem inipun dikatakan keyakinan hakim tetap memegang peranan penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi, dalam sistem pembuktian ini, faktor keyakinan hakim dibatasi. Jika dalam sistem pembuktian conviction-in time peran keyakinan hakim leluasa tanpa batas maka pada sistem conviction-raisonee, keyakinan hakim harus didukung dengan alasan-alasan yang jelas. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Tegasnya, keyakinan hakim dalam sistem conviction-raisonee, harus dilandasi reasoning atau alasan-alasan, dan reasoning itu harus reasonable, yakni berdasar alasan yang dapat diterima. Keyakinan hakim harus mempunyai dasar-dasar alasan yang logis dan benar-benar dapat diterima akal. Tidak semata-mata atas dasar keyakinan yang tertutup tanpa uraian alasan yang masuk akal.
c) Pembuktian menurut Undang-Undang Positif
Pembuktian menurut undang-undang secara positif merupakan pembuktian yang bertolak belakang dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction-in
time.
Pembuktian menurut undang-undang secara positif, keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian dalam membuktikan kesalahan terdakwa. Keyakinan hakim dalam sistem ini, tidak ikut berperan menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan dengan undang-undang. Untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa semata-mata ditentukan
kepada alat-alat bukti yang sah. Asal sudah dipenuhi syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang, sudah cukup menentukan kesalahan terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan hakim. Apakah hakim yakin atau tidak tentang kesalahan terdakwa, bukan menjadi masalah. Pokoknya, apabila sudah terpenuhi cara-cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, hakim tidak lagi menanyakan hati nuraninya akan kesalahan terdakwa. Dalam sistem ini, hakim seolah-olah “robot pelaksana” undang-undang yang tak memiliki hati nurani. Hati nuraninya tidak ikut hadir dalam menetukan salah atau tidaknya terdakwa.
d) Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk Stelsel)
Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan teori antara sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau
conviction-in time.
Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan keseimbangan antara kedua sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrem. Dari keseimbangan tersebut, sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif menggabungkan ke dalam dirinya secara terpadu sistem pembuktian menurut keyakinan dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif. Dari hasil penggabungan kedua sistem dan yang saling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu sistem
xxv
pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Rumusannya berbunyi : salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.
2) Sistem pembuktian yang dianut KUHAP
Salah satu pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan pembuktian adalah Pasal 183 KUHAP. Bunyi Pasal 183 KUHAP adalah hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Kemudian dalam penjelasan disebutkan ketentuan ini adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan dan kepastian hukum bagi seseorang. Dari penjelasan Pasal 183 KUHAP pembuat undang-undang telah menentukan pilihan bahwa sistem pembuktian yang paling tepat dalam kehidupan penegakan hukum di Indonesia ialah sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif, demi tegaknya keadilan, kebenaran, dan kepastian hukum. Karena dalam sistem pembuktian ini, terpadu kesatuan penggabungan antara sistem conviction in-time dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif (positief
wettelijk stelsef) (M. Yahya Harahap, 2002 : 280).
2. Tinjauan Umum Tentang Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian
Pengertian alat bukti adalah suatu hal (barang atau non barang) yang ditentukan oleh Undang-Undang yang dapat dipergunakan untuk
memperkuat dakwaan, tuntutan atau gugatan (Bambang Waluyo, 1996:3).
Selanjutnya mengenai alat bukti yang sah menurut undang-undang ditentukan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP sebagai berikut:
(1) Alat bukti yang sah ialah : a. keterangan saksi; b. keterangan ahli; c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan. Pasal 184 ayat (1) KUHAP seperti yang telah disebutkan di atas telah menentukan batasan alat bukti yang sah menurut undang-undang. Di luar alat bukti yang telah disebutkan oleh undang-undang tersebut tidak boleh dipergunakan untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Hakim, penuntut umum, serta terdakwa atau penasihat hukumnya hanya diperbolehkan mempergunakan alat-alat bukti seperti yang telah disebutkan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Mereka tidak dapat dengan leluasa menentukan atau menggunakan alat bukti lain selain yang disebutkan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP karena alat-alat bukti yang telah ditentukan tersebut telah dibenarkan mempunyai kekuatan pembuktian. Pembuktian dengan menggunakan alat bukti di luar macam alat bukti yang disebutkan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, tidak mempunyai nilai dan kekuatan pembuktian yang mengikat.
Selanjutnya akan diuraikan kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti yang tercantum dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP (M. Yahya Harahap, 2002: 286-333)
xxvii
Pengertian keterangan saksi menurut Pasal 1 angka 27 KUHAP, keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. Sedangkan pengertian saksi juga dijelaskan dalam KUHAP yaitu pada Pasal 1 angka 26. Isi dari Pasal 1 angka 26 KUHAP yaitu saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri,dan ia alami sendiri.
Seseorang yang akan menjadi saksi, terlebih dahulu harus memenuhi syarat-syarat menjadi saksi. Pada umumnya semua orang dapat menjadi saksi. Kekecualian menjadi saksi tercantum dalam Pasal 168 KUHAP(Andi Hamzah, 1996 : 268) :
a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;
b. Saudara dari terdakwa atau bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;
c. Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa (Andi Hamzah, 1996 : 268).
Mengenai sampai sejauh mana kekuatan pembuktian keterangan saksi sebagai alat bukti yang sah, maupun nilai kekuatan pembuktian keterangan saksi dapat diikuti penjelasan berikut.
Berikut akan dijelaskan tentang kekuatan pembuktian keterangan saksi. Keterangan saksi yang diberikan dalam sidang pengadilan, dapat dikelompokkan pada dua jenis :
a) Mempunyai kekuatan pembuktian bebas.
Kalau begitu pada alat bukti kesaksian tidak melekat sifat pembuktian yang sempurna (volledig- bewijskrachf). Tegasnya, alat bukti kesaksian sebagai alat bukti yang sah mempunyai nilai kekuatan pembuktian bebas. Oleh karena itu, alat bukti kesaksian sebagai alat bukti yang sah, tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna dan juga tidak memiliki kekuatan pembuktian yang menentukan. Atau dengan singkat dapat dikatakan, Alat bukti kesaksian sebagai alat bukti yang sah adalah bersifat bebas dan tidak sempuma dan tidak menentukan atau mengikat.
b) Nilai kekuatan pembuktiannya tergantung pada penilaian hakim.
Alat bukti keterangan saksi sebagai alat bukti yang bebas yang tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan tidak menentukan, sama sekali tidak mengikat hakim. Hakim bebas untuk menilai kesempumaan dan kebenarannya. Tergantung pada penilaian hakim untuk menganggapnya sempurna atau tidak. Tidak ada keharusan bagi hakim untuk menerima kebenaran setiap keterangan saksi. Hakim bebas menilai kekuatan atau kebenaran yang melekat pada keterangan itu, dan dapat menerima atau menyingkirkannya (M. Yahya Harahap, 2002 : 294).
2 Keterangan Ahli
Pengertian keterangan ahli menurut Pasal 1 angka 28 KUHAP, keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Pada Pasal 186 KUHAP juga disebutkan
xxix
bahwa keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Pada prinsipnya alat bukti keterangan ahli tidak mempunyat nilai kekuatan pembuktian yang mengikat dan menentukan. Dengan demikian nilai kekuatan pembuktian keterangan ahli sama halnya dengan nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan saksi. Oleh karena itu, nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan ahli:
a) Mempunyai kekuatan pembuktian yang “bebas” atau “vrij
bewijskracht”
Di dalam dirinya tidak ada melekat nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan menetukan. Terserah pada penilaian hakim. Hakim bebas menilainya dan tidak terikat kepadanya. Tidak ada keharusan bagi hakim untuk mesti menerima kebenaran keterangan ahli dimaksud. Namun, Hakim dalam mempergunakan wewenang kebebasan dalam penilaian pembuktian, harus benar-benar bertanggung jawab, atas landasan moral demi terwujudnya kebenaran sejati dan demi tegaknya hukum serta kepastian hukum.
b) Di samping itu, sesuai dengan prinsip minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, keterangan ahli yang berdiri sendiri saja tanpa didukung oleh salah satu alat bukti yang lain, tidak cukup dan tidak memadai membuktikan kesalahan terdakwa. Apalagi jika Pasal 183 KUHAP dihubungkan dengan ketentuan Pasal 185 ayat (2) KUHAP, yang menegaskan, seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Prinsip ini juga berlaku untuk alat bukti keterangan ahli. Bahwa keterangan seorang
ahli saja tidak cukup membuktikan kesalahan terdakwa harus disertai dengan alat bukti lain (M. Yahya Harahap, 2002 : 304).
3 Surat
Alat bukti surat diatur dalam Pasal 187 KUHAP. Bunyi dari Pasal 187 KUHAP adalah surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu; b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan diperuntukkkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;
d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
Nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti surat, dapat ditinjau dari segi teori serta menghubungkannya dengan beberapa prinsip pembuktian yang diatur dalam KUHAP.
a) Ditinjau dari segi formal
Ditinjau dari segi formal, alat bukti surat yang disebut pada Pasal 187 huruf a, b, dan c adalah alat bukti yang
xxxi
sempurna. Sebab bentuk surat-surat yang disebut di dalamnya dibuat secara resmi menurut formalitas yang ditentukan peraturan perundang-undangan. Dengan dipenuhinya ketentuan formal dalam pembuatannya serta dibuat dan berisi keterangan resmi dari seorang pejabat yang berwenang, dan pembuatan serta keterangan yang terkandung dalam surat dibuat atas sumpah jabatan maka ditinjau dari segi formal alat bukti surat seperti yang disebut pada Pasal 187 huruf a, b, dan c adalah alat bukti yang bernilai sempurna. Oleh karena itu, alat bukti surat resmi mempunyai nilai pembuktian formal yang sempurna.
b) Ditinjau dari segi materiil
Dari sudut materiil, semua bentuk alat bukti surat yang disebut dalam Pasal 187 KUHAP, bukan alat bukti yang mempunyai kekuatan mengikat. Pada diri alat bukti surat itu tidak melekat kekuatan pembuktian yang mengikat. Nilai kekuatan pembuktian alat bukti surat, sama halnya dengan nilai kekuatan pembuktian keterangan saksi dan alat bukti keterangan ahli, sama-sama mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang bersifat bebas. Tanpa mengurangi sifat kesempurnaan formal alat bukti surat yang disebut pada Pasal 187 huruf a, b, dan c KUHAP sifat kesempurnaan formal tersebut tidak dengan sendirinya mengandung nilai kekuatan pembuktian yang mengikat. Hakim bebas untuk menilai kekuatan pembuktiannya. Hakim dapat mempergunakan atau menyingkirkannya (M. Yahya Harahap, 2002 : 310).
4 Petunjuk
Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan alat bukti petunjuk adalah Pasal 188 KUHAP. Dalam Pasal 188 ayat (1)
KUHAP dijelaskan bahwa petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Ayat (2) menyebutkan bahwa petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat, keterangan terdakwa. Pada ayat (3) juga dituliskan bahwa penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan berdasarkan hati nuraninya.
Peringatan yang digariskan dalam Pasal 188 ayat (3) KUHAP, merupakan ajakan kepada hakim, agar sedapat mungkin lebih baik menghindari penggunaan alat bukti petunjuk dalam penilaian pembuktian kesalahan terdakwa. Hanya dalam keadaan yang sangat penting dan mendesak sekali alat bukti ini dipergunakan (M. Yahya Harahap, 2002: 312).
Sebagaimana yang sudah diuraikan mengenai kekuatan pembuktian keterangan saksi, keterangan ahli dan alat bukti surat, hanya mempunyai sifat kekuatan pembuktian yang bebas. Maksudnya adalah :
a) hakim terikat atas kebenaran persesuian yang diwujudkan oleh petunjuk, oleh karena itu, hakim bebas menilainya dan mempergunakannya scbagai upaya pembuktian,
b) petunjuk sebagai alat bukti, tidak bisa berdiri sendiri membuktikan kesalahan terdakwa, dia tetap terikat kepada prinsip batas minimum pembuktian. Oleh karena itu, agar petunjuk mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang cukup, harus didukung dengan sekurang-kurangnya satu alat bukti yang lain.
xxxiii 5 Keterangan Terdakwa
Keterangan terdakwa merupakan alat bukti yang urutannya paling terakhir di antara alat-alat bukti lain yang disebutkan dalam Pasal 184 KUHAP. Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan keterangan terdakwa adalah Pasal 189 KUHAP. Bunyi dari Pasal 189 KUHAP tersebut adalah sebagai berikut: (1) Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di
sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.
(2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
(3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.
(4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.
Nilai kekuatan pembuktian alat bukti keterangan atau pengakuan terdakwa adalah sebagai berikut:
a) Sifat nilai kekuatan pembuktiannya adalah bebas
Hakim tidak terikat pada nilai kekuatan yang terdapat pada alat bukti keterangan terdakwa. Dia bebas untuk menilai kebenaran yang terkandung di dalamnya. Hakim dapat menerima atau menyingkirkannya sebagai alat bukti dengan jalan mengemukakan alasan-alasannya. Jangan hendaknya penolakan akan kebenaran keterangan terdakwa tanpa alasan yang didukung oleh argumentasi yang tidak proporsional dan
akomodatif. Demikian juga sebaliknya, seandainya hakim hendak menjadikan alat bukti keterangan terdakwa sebagai salah satu landasan pembuktian kesalahan terdakwa, harus dilengkapi dengan alasan yang argumentatif dengan menghubungkannya dengan alat bukti yang lain.
b) Harus memenuhi batas minimum pembuktian
Yang harus diperhatikan hakim yakni ketentuan yang dirumuskan pada Pasal 189 ayat (4) KUHAP, yang menentukan : “keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain”. Dari ketentuan ini jelas dapat disimak keharusan mencukupkan alat bukti keterangan terdakwa dengan sekurang-kurangnya satu lagi alat bukti yang lain, baru mempunyai nilai pembuktian yang cukup. Penegasan Pasal 189 ayat (4) KUHAP, sejalan dengan dan mempertegas asas batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP. Seperti yang sudah berulang-ulang dijelaskan, asas batas minimum pembuktian telah menegaskan, tidak seorang terdakwa pun dapat dijatuhi pidana kecuali jika kesalahan yang didakwakan kepadanya telah dapat dibuktikan dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.
c) Hal inipun sudah berulang kali dibicarakan. Sekalipun kesalahan terdakwa telah terbukti sesuai dengan asas batas minimum pembuktian, masih harus lagi dibarengi dengan keyakinan hakim, bahwa memang terdakwa yang bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Asas keyakinan hakim harus melekat pada putusan yang
xxxv
diambilnya sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut Pasal 183 KUHAP adalah : “pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Artinya di samping dipenuhi batas minimum pembuktian dengan alat bukti yang sah maka dalam pembuktian yang cukup tersebut harus dibarengi dengan keyakinan hakim bahwa terdakwalah yang bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya (M. Yahya Harahap, 2002 : 332).
3 Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga
a. Pengertian Tindak Pidana
Pembentuk undang-undang telah menggunakan perkataan
straafbaarfeit untuk menyebutkan apa yang dikenal sebagai tindak
pidana di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana tanpa memberikan sesuatu penjelasan mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dengan perkataan straafbaarfeit tersebut (P.A.F. Lamintang,1997:181)
Perkataan feit di dalam bahasa Belanda berarti sebagian dari suatu kenyataan atau een gedeelte van de werkelijkheid, sedang
straafbaar berarti dapat dihukum, hingga secara harafiah perkataan straafbaarfeit itu dapat diterjemahkan sebagai sebagian dari suatu
kenyataan yang dapat dihukum yang sudah barang tentu tidak tepat, oleh karena kelak akan kita ketahui bahwa yang dapat dihukum itu sebenarnya adalah manusia sebagai pribadi dan bukan kenyataan, perbuatan ataupun tindakan (P.A.F.Lamintang, 1997: 8).
Moeljatno mengatakan, perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana barangsiapa yang melanggar larangan tersebut. Lebih lanjut menjelaskan mengenai perbuatan pidana ini menurut ujudnya atau
sifatnya, perbuatan pidana ini adalah perbuatan yang melawan hukum. Perbuatan yang merugikan masyarakat, dalam arti bertentangan dengan atau menghambat akan terlaksananya tatanan dalam pergaulan masyarakat yang dianggap baik dan adil (Moeljatno dalam Martiman Prodjohamidjojo,1997:16).
Selanjutnya Roeslan Saleh mengatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh masyarakat dirasakan sebagai perbuatan yang tidak boleh atau tidak dapat dilakukan (Roeslan Saleh dalam Martiman Prodjohamidjojo,1997:17).
b. Pengertian Tindak Pidana Pencurian
Pencurian diambil dari kata curi. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kata curi memiliki arti mengambil milik orang lain tanpa ijin atau tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi. Sedangkan pencurian sendiri memiliki arti proses, cara perbuatan mencuri ( Balai Pustaka, 2001: 225).
Tindak pidana pencurian pun diatur di dalam pasal 362 KUHP yang menyatakan: ”Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah”.
Selanjutnya unsur-unsur dari pasal 362 KUHP adalah sebagai berikut:
1. Unsur barang siapa
2. Unsur mengambil barang sesuatu
3. Unsur yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain 4. Unsur dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum
xxxvii
c. Pengertian Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga
Pengertian pencurian telah dijabarkan diatas. Selanjutnya adalah pengertian keluarga. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, keluarga memiliki arti:
- ibu dan bapak beserta anak-anaknya, seisi rumah; - Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; - Sanak saudara; kaum kerabat;
- Satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat (Balai Pustaka, 2001: 536)
Mengenai pencurian dalam keluarga juga diatur dalam pasal 367 KUHP yang berbunyi:
(1) Jika pembuat atau pembantu dari salah satu kejahatan dalam bab ini adalah suami (istri) dari orang yang terkena kejahatan dan tidak terpisah meja dan tempat tidur atau terpisah harta kekayaan, maka terhadap pembuat atau pembantu itu, tidak mungkin diadakan tuntutan pidana.
(2) Jika dia adalah suami (istri) yang terpisah meja dan tempat tidur atau terpisah harta kekayaan atau jika dia keluarga sedarah atau semenda, baik dalam garis lurus, kedua, maka terhadap dua orang itu hanya mungkin diadakan penuntutan jika ada pengaduan yang terkena kejahatan.
(3) Jika menurut lembaga matriakhal, kekuasaan bapak dilakukan oleh orang lain dari pada bapak kandungnya, maka aturan tersebut ayat di atas, berlaku juga berlaku bagi orang itu.
d. Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga sebagai Delik Aduan
Pengaduan (klacht) adalah suatu pernyataan tegas (lisan atau tertulis atau dituliskan) dari seseorang yang berhak (mengadu) yang
disampaikan kepada pejabat penyelidik atau pejabat penyidik (kepolisian R.I.) tentang telah diperbuatnya suatu tindak pidana( in casu kejahatan aduan) oleh seseorang dengan disertai permintaan agar dilakukan pemeriksaan untuk selanjutnya dilakukan penuntutan ke pengadilan yang berwenang (Adami Chazawi, 2002: 201).
Selanjutnya mengenai dua unsur esensial pengaduan yaitu :
a. Pernyataan tentang telah diperbuatnya tindak pidana oleh seseorang, dan disertai
b. Permintaan untuk diadakan pemeriksaan (penyidikan) untuk dilakukan penuntutan pidana ke sidang pengadilan (Adami Chazawi, 2002 :201)
Selanjutnya pembentuk undang-undang (KUHP) menetapkan pengaduan sebagai syarat untuk dapat dituntut pidana terhadap si pembuat kejahatan aduan. Dalam hal kejahatan aduan pentingnya bagi yang berhak mengadu atau yang kepentingan hukumnya dilanggar apabila perkara itu dituntut pidana adalah lebih besar daripada pentingnya bagi negara apabila perkara itu dilakukan penuntutan pidana. Dalam hal kejahatan aduan, terdapat dua kepentingan yang saling bertentangan, yaitu disatu pihak perlunya hukum ditegakkan, artinya penting bagi negara untuk dilakukan penuntutan, dan dilain pihak bagi korban ada kepentingan agar perkara kejahatan aduan untuk tidak dilakukan penuntutan seperti pembuatnya ada hubungan keluarga, atau kepentingan hukum yang dilanggar adalah bersifat pribadi (misalnya zina atau penghinaan). Dalam hal ini kepentingan korban untuk tidak dilakukan penuntutan pidana lebih diutamakan daripada kepentingan negara dalam hal menegakkan hukum. Sehingga peranan korban menjadi sangat dominan (diutamakan) dalam hal negara untuk melakukan penuntutan pidana (Adami Chazawi, 2002:202-203)
Menilik dari sifatnya, kejahatan atau delik aduan dapat dibedakan antara kejahatan aduan mutlak (absolut) dan kejahatan aduan relatif
xxxix
(nisbi). Kejahatan aduan absolut adalah kejahatan yang pada dasarnya adalah berupa kejahatan aduan artinya untuk segala hal dan atau kejadian diperlukan syarat pengaduan untuk dapatnya negara melakukan penuntutan mengenai perkara itu. Sedangkan kejahatan aduan relatif, ialah kejahatan yang pada dasarnya bukan berupa kejahatan aduan, melainkan hanya dalam hal-hal atau keadaan tertentu saja kejahatan itu menjadi kejahatan aduan. Hanya karena adanya unsur-unsur tertentu saja, syarat pengaduan untuk melakukan penuntutan diperlukan. Sedangkan dalam keadaan biasa artinya tanpa adanya unsur tertentu, syarat pengaduan tidak diperlukan untuk melakukan penuntutan. Salah satunya, pencurian dalam segala bentuknya (362- 365) pada dasarnya bukan kejahatan aduan, akan tetapi dengan adanya unsur dalam kalangan keluarga atau kejahatan itu dilakukan dalam kalangan keluarga, maka menjadi kejahatan aduan ( relatif)
(Adami Chazawi,2002:204)
Berikut ini adalah isi dari pasal 362 sampai 367 tentang pencurian :
Pasal 362
Barangsiapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah.
Pasal 363
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun: Ke-1.pencurian ternak;
Ke-2.pencurian pada waktu ada kebakaran, letusan banjir, gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang;
Ke-3.pencurian di waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang adanya disitu tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak;
Ke-4 pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
Ke-5 pencurian yang untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambilnya, dilakukan, dengan merusak, memotong atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.
(2) Jika pencurian yang diterangkan dalam ke-3 disertai dengan salah satu tersebut ke-4 dan 5, maka dikenakan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 364
Perbuatan yang diterangkan dalam pasal 362 dan pasal 363 ke-4, begitupun perbuatan yang diterangkan dalam pasal 363 ke-4, begitupun perbuatan yang diterangkan dalam pasal 363 ke-5, apabila tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau
pekarangan tertutup yang ada rumahnya, jika harga barang yang dicuri tidak lebih dari dua puluh lima rupiah, dikenai, karena pencurian ringan, pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak enam puluh rupiah.
(Lihat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.16 Tahun 1960 dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.18 Tahun 1960).
Pasal 365
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang, dengan maksud untuk mempersiap atau
xli
mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya.
(2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun :
Ke-1.jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, di jalan umum, atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan;
Ke-2.Jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
Ke-3.Jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan, dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu;
Ke-4.Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat.
(3) Jika perbuatan mengakibatkan mati, maka dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
(4) Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau mati dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, pula disertai oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no.1 dan 3.
Pasal 366
Dalam pemidanaan karena salah satu perbuatan yang diterangkan dalam pasal 365 dapat dijatuhkan pencabutan hak tersebut dalam pasal 35 no.1-4 Pasal 367
(1) Jika pembuat atau pembantu dari salah satu kejahatan dalam bab ini adalah suami (istri) dari orang yang terkena kejahatan, dan tidak terpisah meja dan tempat tidur atau terpisah harta kekayaan, maka terhadap pembuat atau pembantu itu, tidak mungkin diadakan tuntutan pidana.
(2) Jika dia adalah suami (istri) yang terpisah harta kekayaan, atau jika dia keluarga sedarah atau semenda, baik dalam garis lurus, mauoun garis menyimpang derajat kedua, maka terhadap orang itu hanya mungkin diadakan penuntutan, jika ada pengaduan yang terkena kejahatan. (3) Jika menurut lembaga matriarkhal, kekuasaan bapak dilakukan oleh
orang lain dari pada bapak kandungnya,maka aturan tersebut ayat di atas, berlaku juga bagi orang lain.
Selanjutnya menurut Modderman, ada alasan khusus, dijadikannya kejahatan-kejahatan tertentu yang menjadi kejahatan aduan relatif bilamana dilakukan dalam kalangan keluarga, yaitu:
a. Alasan susila, yaitu untuk mencegah pemerintah menghadapkan orang-orang satu terhadap yang lain yang masih ada hubungan yang sangat erat dan dalam sidang pengadilan;
b. Alasan materiil (stoffelijk), yaitu pada kenyataannya di dalam suatu keluarga antara pasangan suami dan istri ada semacam condominium (Utrecht dalam Adami Chazawi, 2002: 205).
Dalam hal pengaduan, orang yang berhak mengajukan pengaduan adalah orang yang terkena kejahatan (korban). Namun dalam pasal 72 ayat 1 KUHP apabila korban kejahatan itu:
a. Masih anak-anak yang kriterianya ialah umur belum 16 (enam belas tahun) dan belum dewasa, (perkawinan menyebabkan kedewasaan walaupun umurnya belum 16 tahun); atau
b. Korban berada di bawah pengampuan selain karena sifat boros, maka yang berhak mengadu adalah wakilnya yang sah dalam perkara perdata. Wakilnya yang sah dalam perkara perdata dalam hal kebelumdewasaan adalah walinya (voogd) yaitu orang tua kandung (ayahnya), jika ayahnya tiada, maka ibunya yang menjadi wali, jika ayah ibu tiada ialah siapa yang menurut hukum yang berlaku bagi anak itu (BW atau adat) menurut cara tertentu menjadi wali. Dalam hukum adat bisa pamannya, kakak dan lain-lain orang yang menurut hukum menjadi wali dari anak itu.
xliii
Jika tidak ada wakil sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 72 ayat (1) KUHP, atau wakilnya itu sendiri adalah si pembuat yang harus diadukan, maka orang yang berhak mengajukan pengaduan itu adalah:
a. Wali Pengawas (tooziende voogd,366 jo 370 BW); atau b. Pengampu Pengawas (tooziende curator, pasal 449 BW); atau
c. Majelis yang menjadi Wali Pengawas atau menjadi Pengampu Pengawas; atau juga
d. Istrinya, atau
e. Salah satu dari keluarga sedarah dalam garis lurus, atau jika itu tidak ada maka pengaduan dilakukan oleh
f. Salah satu dari keluarga sedarah dalam garis menyimpang sampai derajat ketiga (pasal 72 ayat 2)(Adami Chazawi ,2002:206)
Selanjutnya mengenai persoalan apabila korban yang berhak mengadu meninggal dunia, hal ini telah diatur dalam pasal 73 KUHP yang menyatakan bahwa “Jika yang terkena kejahatan meninggal dunia didalam tenggang waktu yang ditentukan dalam pasal berikut maka tanpa memperpanjang tenggang itu, penuntutan dilakukan atas pengaduan orang tuanya, anaknya, istrinya, atau suaminya yang masih hidup kecuali kalau ternyata bahwa yang meninggal itu tidak menghendaki penuntutan”.
Dari pasal diatas, orang yang terlanggar kepentingan hukumnya oleh kejahatan aduan, meskipun kemudian meninggal dunia, maka hak mengajukan pengaduan tetap berlangsung selama tenggang waktu hak mengadu masih ada (masih berlangsung) sesuai dengan pasal 74 KUHP. Hak pengaduan itu beralih pada para ahli warisnya sebagaimana disebutkan secara limitatif dalam pasal 73 KUHP. Hak pengaduan oleh ahli waris dari korban kejahatan aduan yang dimaksud oleh pasal 73
KUHP tidak berlaku dalam hal kejahatan aduan perzinaan (pasal 284 ayat 3 KUHP).
Tenggang waktu hak mengajukan pengaduan yang dimaksud pasal 73 KUHP ialah dalam waktu 6 (enam) bulan sejak orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan aduan, jika ia bertempat tinggal di Indonesia, atau dalam waktu 9 (sembilan) bulan apabila dia bertempat tinggal di luar Indonesia. Mengenai tenggang waktu 6 (enam) dan 9 (sembilan) bulan disini dikecualikan dalam hal kejahatan aduan pasal 293 ayat (3) KUHP ialah kejahatan pembujukan terhadap orang belum dewasa yang baik tingkah lakunya untuk berbuat cabul atau membiarkan diri untuk dilakukan perbuatan cabul, yang tenggang waktu hak mengadu adalah 9(sembilan) bulan dan 12 (dua belas) bulan.
Sehubungan dengan ketentuan siapa yang berhak mengajukan pengaduan dalam hal korban meninggal dunia, perlu diperhatikan kejahatan aduan yang dirumuskan dalam pasal 320 KUHP dan 321 KUHP, di mana hak mengadu juga ada pada ahli warisnya, yakni pada salah seorang keluarga sedarah maupun semenda dalam garis lurus atau menyimpang sampai derajat kedua dari yang meninggal dunia, dan jika karena lembaga matriarchal kekuasaan bapak, maka kejahatan juga dapat dituntut atas pengaduan orang itu(pasal 320 jo pasal 321 KUHP). Hak mengadu pada ahli waris menurut pasal 320 KUHP dan 321 KUHP berbeda dengan hak mengadu dari pasal 73 KUHP. Perbedaannya ialah hak mengadu menurut pasal 73 KUHP adalah hak mengadu yang dialihkan, tetapi hak mengadu yang diatur dalam pasal 320 KUHP dan 321 KUHP adalah hak mengadu asli yang langsung diletakkan pada ahli waris dari orang yang sudah meninggal, bukan yang dialihkan sebagaimana pasal 73 KUHP.
Mengenai cara melakukan pengaduan diatur pasal 74 ayat (1) KUHP menentukan bahwa “Pengaduan hanya boleh dilakukan dalam waktu 6(enam) bulan sejak orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di Indonesia, atau dalam waktu
xlv
9 (sembilan) bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia”. Perkecualian dari waktu enam dan sembilan bulan itu adalah 9 (sembilan) bulan untuk yang tinggal di Indonesia, atau 12 (dua belas) bulan bagi yang tinggal di luar Indonesia bagi kejahatan dalam pasal 293 KUHP. Menurut Jonkers, jangka waktu sembilan dan dua belas ini disesuaikan dengan jangka waktu kehamilan seorang perempuan ( Jonkers dalam Adami Chazawi, 2002) .
Berhubung dengan cara atau bentuknya pengaduan, ada dua macam, yakni pengaduan lisan dan pengaduan dengan tulisan atau tertulis, maka waktu pengajuan pengaduan itu ada perbedaan. Pada pengaduan lisan, pengaduan itu telah terjadi pada saat diucapkan atau dinyatakan secara lisan, apabila pengaduan diajukan secara tertulis, maka pengaduan itu terjadi ialah pada waktu surat pengaduan itu dikirim, dan bukan pada saat pengaduan itu diterima oleh Pejabat Penyelidik atau Pejabat Penyidik yakni Kepolisian. Dalam praktik selama ini, apabila pengadu datang ke Kantor Kepolisian untuk mengajukan pengaduan lisan, kemudian oleh Pejabat Kepolisian yang menerima pengaduan itu dibuat tanda penerimaan pengaduan (tertulis) di mana didalamnya dimuat tanggal pengajuan pengaduan dan informasi atau keterangan tentang terjadinya tindak pidana dan permintaan untuk dilakukan pemeriksaan/penyidikan dan penuntutan pidana. Lalu pengadu menandatanganinya, berikut juga pejabat Kepolisian penerima pengaduan itu. Dengan demikian pengaduan lisan itu pada dasarnya telah menjadi pengaduan tertulis atau dituliskan. Waktu melakukan pengaduan adalah pada hari dan tanggal pengajuan pengaduan yang dituliskan dalam tanda penerima pengaduan itu (Adami Chazawi,2002;208)
Bagi pengaduan oleh korban kejahatan yang masih dalam tenggang waktu 6 (enam) atau 9 (sembilan) bulan kemudian menjadi berhak untuk mengajukan pengaduan, maka pengaduan tersebut boleh dilakukan dalam sisa tenggang waktu yang masih ada (pasal 74 ayat 2).
xlvi B. Kerangka Pemikiran
kerangka pemikiran digambarkan lewat bagan sebagai berikut:
Tindak Pidana Pencurian dalam Keluarga
Pembuktian
Alat bukti Hambatan Alat
Bukti Saksi yang Memiliki
Hubungan Darah Terhadap
Terdakwa Tindak
Kekuatan Alat Bukti Saksi yang Memiliki
Hubungan Darah Terhadap
xlvii
Meningkatnya tindak kejahatan dalam masyarakat dirasa semakin meresahkan. Hal ini bahkan bisa terjadi di dalam keluarga. Kejahatan dalam keluarga hanya dapat diproses ke Pengadilan apabila ada aduan dari yang dirugikan.
Setelah adanya aduan dari korban yang dirugikan maka perkara tersebut dapat dilanjutkan untuk dilakukan pemeriksaan perkara dalam persidangan di pengadilan. Salah satu hal yang penting dalam pemeriksaan perkara di persidangan adalah pembuktian. KUHAP telah mengatur alat-alat bukti apa saja yang bisa diajukan di persidangan. Salah satunya adalah keterangan saksi. Terdapat ketentuan-ketentuan seseorang dapat menjadi saksi dan apakah keterangannya itu dapat dipertimbangkan atau tidak oleh hakim. Selain itu dalam
Kekuatan pembuktian
proses pembuktian juga akan dilihat bagaimana nilai dan kekuatan dari alat-alat bukti yang diajukan serta apa saja yang menjadi hambatan dalam proses pembuktian tersebut. Dari pemeriksaan alat-alat bukti ini, hakim memiliki keyakinan untuk menjatuhkan putusan
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kekuatan Alat Bukti Keterangan Saksi Yang Memiliki Hubungan Darah Dengan Terdakwa Dalam Tindak Pidana Pencurian Dalam Keluarga
Dalam pemeriksaan perkara tindak pidana ada beberapa hal yang harus dikemukakan di dalam persidangan guna mengetahui duduk perkara sehingga memudahkan hakim dalam menjatuhkan putusan antara lain:
1 Kasus Posisi
Tindak pidana pencurian dalam keluarga ini dilakukan oleh terdakwa Joko Siyanto alias Anto (kakak kandung korban) terhadap korban Endang Nur Yanti (adik kandung terdakwa)
Pencurian dalam keluarga ini terjadi pada hari Selasa tanggal 13 Februari 2007 sekitar jam 10.00 Wib di rumah terdakwa sekaligus rumah korban tepatnya di Priyobadan Rt 01/ 4 kel. Sriwedari Kec.Laweyan Surakarta. Pada hari itu Joko Siyanto melakukan pencurian dengan cara masuk ke kamar Endang Nur Yanti yang tidak terkunci kemudian mengambil uang sebesar Rp.1.100.000,00 berbungkus plastik yang diletakkan di rak buku. Uang ini terdiri dari 10 lembar pecahan Rp 100.000,- dan 2 lembar pecahan Rp50.000,- yang didapat dari hasil mengajar mengaji yang dilakukan Endang Nur Yanti guna membayar kuliah di UMS. Uang yang telah dicuri oleh Joko Siyanto ini dipakai untuk membeli barang-barang berupa sepasang sepatu merk Reebok,