HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan Implementasi E-procurement di Kabupaten Gowa
1. Hasil Penelitian
E-procurement merupakan sebuah inovasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi dalam mengembangkan tata kelola sebuah instansi dalam pengadaan barang dan jasa di suatu daerah. Dalam Peraturan Presiden No.16 Tahun 2018 pasal 1 Pengadaan barang/jasa melalui penyedia adalah cara memperoleh barang/jasa yang disediakan oleh penyedia.
Data hasil pengadaan barang/jasa menggunakan E-procurement dapat diakses di website resmi LPSE kabupaten Gowa. Beberapa data pengadaan barang/jasa oleh instansi melalui sistem E-procurement dari tahun 2020-2021, data menunjukkan bahwa konsumen yang ikut serta dalam pengadaan barang dan jasa di kantor LPSE Gowa sebanyak 26 pada tahun 2020 sebanyak dari berbagai instansi pemerintah maupun perusahaan swasta yang berlomba-lomba dalam memberikan barang dan jasa, konsumen yang antusias dalam memenangkan tender dengan cara memberikan layanan barang dan jasa yang terjamin dan terpercaya sehingga tidak ada lagi yang perlu khawatirkan dalam mendapatkan barang dan jasa di kantor LPSE Gowa.
Dengan banyaknya jumlah konsumen yang berpartisipasi pada pengadaan barang dan jasa dikantor LPSE Gowa diharapkan dapat membuat tingkat pengadaan barang dan jasa khususnya di Kabupaten
Gowa lebih meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada konsumen, terus berinovasi dalam melaksanakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik di Kabupaten Gowa sehingga banyak konsumen yang tertarik untuk melakukan pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Gowa terkhusus pada kantor LPSE Kabupaten Gowa.
Di Kabupaten Gowa khususnya di Kantor Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa mengadopsi inovasi pola pengadaan barang dan jasa ini (E-procurement). E-procurement di Kabupaten Gowa ditinjau dari indikator (1) E-tendering, (2) E-catalogue, (3) E-bidding dan (4) E-purchasing. Adapun pembahasan secara rinci mengenai hal tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. E-tendering (pemilihan pemasok/penyedia)
E-tendering adalah tata cara pemilihan pemasok yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua pemasok yang terdaftar pada sistem pengadaan secara elektronik.
Pelaku usaha adalah setiap individu atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian penyelenggaran kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. Dalam pasal 17 dijelaskan bahwa penyedia wajib memenuhi kualifikasi sesuai dengan barang/jasa yang diadakan dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangn. Penyedia harus bertanggung jawab atas:
a. Pelaksanaan kontrak b. Kualitas barang/jasa
c. Ketepatan perhitungan jumlah atau volume d. Ketepatan waktu penyerahan
e. Ketepatan tempat penyerahan
Sistem yang digunakan untuk penjualan barang/jasa yakni dengan aplikasi SPSE dan E-catalogue. Penyedia perlu mendaftar terlebih dahulu yang tentunya memiliki badan usaha syaratnya harus ada berkas perusahaan dan identitas kepemilikan, jika telah memenuhi syarat maka diberikan account untuk masuk diaplikasi menawarkan barang/jasa.
Berdasarkan dengan indikator diatas peneliti kemudian mewawancarai Kepala Sub Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Dengan adanya kebutuhan satu sama lain, pemasok mudah untuk melengkapi apa yang dibutuhkan pelanggan supaya dipilih dan mendapatkan tender.”(Hasil Wawancara I Senin 21 September 2020)”. Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-tendering dapat dipahami bahwa terkait dengan pemilihan tender ini para pihak pemasok cukup antusias dalam melengkapi hingga memasarkan barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen karena dalam melengkapi data persyaratan produk yang diinginkan konsumen lebih mudah, dengan melihat kebutuhan satu sama lain antara pemasok, penyedia dan juga konsumen antusias menggunakan sistem E-procurement tersebut.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya dengan Kepala Sub Bagian Layanan Pengadaan Secara Elektronik, mengatakan:
“ Dulu mengurus langsung itu berbelit-belit. Dengan adanya sistem online maka jadi cepat dan mudah sesuai dengan tujuannya.”(Hasil Wawancara AM Senin 21 September 2020)‟‟.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-tendering dapat dipahami bahwa berkaitan persoalan pengadaan barang dan jasa yang dulunya dengan cara manual dan cukup rumit sekarang dengan adanya E-procurement ini maka menjadi lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya selaku pengguna layanan E-procurement, mengatakan:
“Saya selaku salah satu pengguna layanan ini sangat terbantu dengan sistem online yang dimekanismekan, akan tetapi masih perlunya pengawasan yang cukup komprehensif dari awal pendaftaran akun hingga sampai pengumuman agar tidak ada lagi kejadian yang mau bayar panitia supaya dimenangkan dengan cara yang tidak adil dan tidak sesuai dengan aturan.”(Hasil Wawancara H Kamis 24 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-tendering dapat dipahami bahwa selaku pengguna layanan E-procurement mengakui masih kurangnya pengawasan yang diberikan pihak pengadaan barang kepada panitia sehingga perlunya pengawasan secara komprehensif dari tahap hingga akhir pengumuman, agar tidak ada lagi kejadian gratifikasi untuk memenangkan tender dan dipilih untuk dibeli barangnya oleh instansi sebagai konsumen.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya selaku pemenang tender E-procurement, mengatakan:
“Saya selaku salah satu pemenang tender untuk E-procurement ini memang masih rawan adanya tindakan suap yang kami mainkan dengan petugas panitia, karena kapan tidak begitu maka barangtra ini tidak bisa menang, seperti uang terimakasih lah bgitu.”(Hasil Wawancara JR Kamis 24 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-tendering dapat dipahami bahwa Proses pelaksanaan E-procurement dalam memilih pemenang tender masih adanya celah kasus Gratifikasi yang dapat terjadi oleh pihak pemenang ataupun peserta tender dengan panitia pelaksana.
Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan indikator E-tendering bahwa terkait dengan pemilihan tender ini para pihak pemasok cukup antusias dalam melengkapi hingga memasarkan barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen karena dalam melengkapi data persyaratan produk yang diinginkan konsumen lebih mudah. Persoalan pengadaan barang dan jasa yang
dulunya dengan cara manual dan cukup rumit sekarang dengan adanya E-procurement ini maka menjadi lebih efektif dan efisien. Selaku pengguna
layanan E-procurement mengakui masih kurangnya pengawasan yang diberikan pihak pengadaan barang kepada panitia sehingga perlunya pengawasan secara komprehensif dari tahap hingga akhir pengumuman, agar tidak ada lagi kejadian gratifikasi untuk memenangkan tender dan dipilih untuk dibeli barangnya oleh instansi sebagai konsumen.
2. E-catalogue (katalog)
E-catalogue adalah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai penyedia barang dan jasa.
Berdasarkan dengan indikator diatas peneliti kemudian mewawancarai Kepala Sub Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Dengan memberikan informasi yang baik. Baik itu dari penyedia ataupun konsumen yang menginginkan barang yang bisa dicek dari jenis, spesifikasi, dan lainnya yang menjadi tujuan utama.”(Hasil Wawancara I Senin 21 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-catalogue dapat dipahami bahwa sistem informasi elektronik mulai dari daftar jenis, spesifikasi teknis dan harga barang selalu disiapkan oleh panitia agar penyedia ataupun konsumen dapat mengakses informasi dengan baik dan tepat sesuai dengan barang yang diinginkan konsumen.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya dengan Kepala Sub Bagian Layanan Pengadaan Secara Elektronik, mengatakan:
“Dengan sistem E-catalogue ini dapat menjadi bayangan bagi konsumen baik dari spesifikasi dan harga sudah jelas. Keuntungan lain dari segi cepatnya layanan, para pelanggan tidak merasa was-was karena terjamin oleh instansi terpercaya serta menjadi tanggung jawab instansi terkait jika terjadi masalah.”(Hasil Wawancara AM Senin 21 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-catalogue dapat dipahami bahwa informasi kelengkapan spesifikasi dan harga telah tersedia, maka penyedia ataupun konsumen tidak ragu untuk menggunakan dan mengakses informasi tersebut diaplikasi sistem karena merasa aman.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya dengan pengguna layanan E-procurement di Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Saya sebagai konsumen tetap berpatokan pada regulasi. Ini seperti belanja online tetapi ini berbeda karena dilakukan oleh instansi pemerintah seperti dinas terkait yang ingin membeli kebutuhan kantor lainnya dalam jumlah yang banyak.”(Hasil Wawancara H Kamis 24 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-catalogue dapat dipahami bahwa sebagai konsumen yang berpatokan pada regulasi, sistem E-procurement yang mekanismenya seperti belanja online tapi ini dilakukan oleh instansi pemerintah dalam pengadaan sarana ataupun prasarana yang akan disediakan.
Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan indikator E-catalogue bahwa sistem informasi elektronik mulai dari daftar jenis, spesifikasi teknis dan harga barang selalu disiapkan oleh panitia agar penyedia ataupun konsumen dapat mengakses informasi dengan baik dan tepat sesuai dengan barang yang diinginkan konsumen. Informasi kelengkapan spesifikasi dan harga telah tersedia, maka penyedia ataupun konsumen tidak ragu untuk menggunakan dan mengakses informasi tersebut diaplikasi sistem karena merasa aman. Sebagai konsumen yang berpatokan pada regulasi, sistem E-procurement yang mekanismenya seperti belanja online tapi ini dilakukan oleh instansi pemerintah dalam pengadaan sarana ataupun prasarana yang akan disediakan.
3. E-bidding (Penyampaian informasi)
E-bidding merupakan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dengan cara penyampaian informasi atau data pengadaan dari penyedia barang dan jasa,dimulai dari pengumuman sampai dengan pengumuman hasil pengadaan, yang dilakukan dengan media elektronik antara lain menggunakan media internet, intranet dan electronic data. Berdasarkan dengan indikator diatas peneliti Kemudian mewawancarai Kepala Sub Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Dengan membuka aplikasi pengadaan barang dan jasa lalu mengikuti prosedur pendaftaran sampai selesai. Konsumen dengan mudah untuk menawarkan barang serta jasa. Perjanjian pertama penyedia itu harus tersedia supaya memberikan barang kekonsumen.” (Hasil Wawancara I Senin 21 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-bidding dapat dipahami bahwa terkait dengan penyampaian informasi barang dan jasa hanya dilakukan dengan mengakses aplikasi SIRUP (Sistem Rencana Unit Pengadaan) dengan melengkapi data berdasarkan kebutuhan konsumen seperti menetapkan spesifikasi teknis barang/jasa. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi peneliti dilapangan yang menemukan bahwa semua spesifikasi dari barang dan jasa yang di daftarkan di sistem E-procurement telah lengkap spesifikasinya baik itu daftar jenis, spesifikasi teknis dan harga barang selalu disiapkan oleh panitia agar penyedia ataupun konsumen dapat mengakses informasi dengan baik dan tepat.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya dengan kepala sub bagian layanan pengadaan secara elektronik Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Penyedia ataupun konsumen dapat melihat informasi mulai dari tahap awal sampai tahap evaluasi akhir di aplikasi sistem. Apabila ada yang dirugikan maka bisa menyampaikan keluhannya di aplikasi tersebut dan akan direspon cepat oleh sistem.”(Hasil Wawancara AM Senin 21 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-bidding dapat dipahami dan disimpulkan bahwa untuk melihat informasi mengenai tahap awal sampai ditahap akhir ataupun jika salah satu pihak ada yang dirugikan, penyedia ataupun konsumen dapat melihat dan mengakses di aplikasi sistem.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya dengan pengguna layanan E-procurement di Kabupaten Gowa, mengatakan:
“itu tadi yang saya katakan tidak adanya lagi yang menyogok panitia supaya adil dan terhindar dari KKN ini sistem, gratifikasi ataupun kolusi yang terjadi harusnya di awasi lebih ketat oleh pihak LPSE.”(Hasil Wawancara H Jumat 25 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-bidding dapat dipahami bahwa untuk pengguna berharap tidak adanya lagi sistem gratifikasi ataupun kolusi sehingga sistem E-Procurement terhindar dari KKN sesuai dengan tujuan kebijakan tersebut. Pengawasan yang harus dilakukan oleh pihak LPSE untuk penyedia dan panitia dalam tahapan lelang barangnya.
Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan indikator E-bidding bahwa terkait dengan penyampaian informasi barang dan jasa hanya dilakukan dengan mengakses aplikasi SIRUP (Sistem Rencana Unit Pengadaan) dengan melengkapi data berdasarkan kebutuhan konsumen seperti menetapkan spesifikasi teknis barang/jasa. Dalam melihat informasi mengenai tahap awal sampai ditahap akhir ataupun jika salah satu pihak ada yang dirugikan, penyedia
ataupun konsumen dapat melihat dan mengakses di aplikasi sistem. Untuk pengguna berharap tidak adanya lagi sistem gratifikasi ataupun kolusi sehinggasistem E-Procurement terhindar dari KKN sesuai dengan tujuan kebijakan tersebut. Pengawasan yang harus dilakukan oleh pihak LPSE untuk penyedia dan panitia dalam tahapan lelang barangnya.
4. E-purchasing (Penentuan Pemenang dan Transaksi Pembelian)
Apabila telah ditentukan pemenang tender oleh POKJA (Kelompok Kerja) pada Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa maka setelah itu konsumen melakukan pembelian (transaksi) barang dan jasa kepada Penyedia melalui sarana sistem SPSE.
Berdasarkan dengan indikator diatas peneliti kemudian mewawancarai Kepala Sub Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Secara tidak langsung instansi harus mendukung, tapi ini sebenarnya sudah jadi kewajiban. Jika tidak melaksanakan kewajiban yakni mengumumkan hasil pemenangnya atau menunda maka itu merupakan pelanggaran.”(Hasil Wawancara I Senin 21 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-purchasing dapat dipahami bahwa kantor bagian pengadaan barang dan jasa wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga penentuan yang adil dalam memilih pemenang. Ketika panitia tidak melaksanakan atau menunda kewajiban dalam pengumuman hasil pemenang, maka dianggap pelanggaran.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya dengan kepala sub bagian layanan pengadaan secara elektronik Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Para konsumen tidak perlu khawatir karena keamanan data di LPSE Gowa terjamin karena legalitas pemerintah sudah jelas. Kalau ada masalah akan ditanggung oleh pemerintah.”(Hasil Wawancara AM Senin 21 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-purchasing dapat dipahami bahwa dalam segi keamanan transaksi, penyedia ataupun konsumen merasa aman karena semua dilindungi oleh legalitas pemerintah berdasarkan aturan perundang-undangan.
Berikutnya dengan pengguna layanan E-procurement di Kabupaten Gowa, mengatakan:
“Kami konsumen harus mendukung dalam tata caranya mulai dari tahap awal sampai selesai bahkan sampai dengan penentuan pengumuman pemenang.”(Hasil Wawancara H Jumat 25 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-purchasing dapat dipahami bahwa instansi terkait wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga ditahap evaluasi terakhir pengumuman pemenang, menunjukkan tata cara diawal hingga diakhir pengumuman pemenang.
Selanjutnya hasil wawancara berikutnya selaku pemenang tender E-procurement, mengatakan:
“pengawasan masih kurang ketat dilakukan jadi masih gampang diatur itu pemenangnya oleh panitia pelaksana karena saya sendiri kemarin janji uang terimakasih dari awal hingga akhir prosesnya sampai menang tender tersebut.”(Hasil Wawancara JR Kamis 24 September 2020)”.
Berdasarkan hasil wawancara informan diatas berkaitan dengan indikator E-purchasing dapat dipahami bahwa pengawasan yang masih kurang ketat dilakukan dari tahapan awal hingga akhir , pemenang tender mengakui adanya uang terimakasih yang dijanjikan kepada panitia pelaksana.
Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan indikator E-purchasing ini dapat dipahami bahwa kantor bagian pengadaan barang dan jasa
wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga penentuan yang adil dalam memilih pemenang. Ketika panitia tidak melaksanakan atau menunda kewajiban dalam pengumuman hasil pemenang, maka dianggap pelanggaran. Dalam segi keamanan transaksi, penyedia ataupun konsumen merasa aman karena semua dilindungi oleh legalitas pemerintah berdasarkan aturan perundang-undangan. Instansi terkait wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga ditahap evaluasi terakhir pengumuman pemenang, menunjukkan tata cara diawal hingga diakhir pengumuman pemenang.
2. Pembahasan
Implementasi E-procurement Kabupaten Gowa berdasarkan hasil pemaparan data yang didapatkan dari hasil wawancara langsung kepada setiap informan yang telah ditentukan sebelumnya dengan menggunakan teori (Willem
dalam Damayanti, dkk 2013) untuk mendeskripsikan hasil Implementasi E-procurement Kabupaten Gowa. Terdapat 4 indikator yang dikemukakan oleh
(Willem dalam Damayanti, dkk 2013) yaitu (1) E-tendering, (2) E-Catalogue, (3) E-Bidding dan (4) E-purchasing Sebagai Berikut:
1. E-tendering
Terkait dengan pemilihan tender ini para pihak pemasok cukup antusias dalam melengkapi hingga memasarkan barang dan jasa yang ditawarkan kepada konsumen karena dalam melengkapi data persyaratan produk yang diinginkan konsumen lebih mudah. Persoalan pengadaan barang dan jasa yang
dulunya dengan cara manual dan cukup rumit sekarang dengan adanya E-procurement ini maka menjadi lebih efektif dan efisien. Selaku pengguna layanan E-procurement mengakui masih kurangnya pengawasan yang diberikan pihak pengadaan barang kepada panitia sehingga perlunya pengawasan secara komprehensif dari tahap hingga akhir pengumuman, agar tidak ada lagi kejadian gratifikasi untuk memenangkan tender dan dipilih untuk dibeli barangnya oleh instansi sebagai konsumen, hal tersebut belum sesuai dengan teori yang dijelaskan Menurut Indrajit (2002) dalam Budi Rianto dkk (2012:36) serta Willem dalam Damayanti, dkk (2013) karena masih kurangnya pengawasan yang diberikan pihak pengadaan barang kepada panitia sehingga perlunya pengawasan secara komprehensif dari tahap hingga akhir pengumuman sehingga masih ada celah untuk kasus KKN.
2. E-catalogue
E-catalogue yakni sistem informasi elektronik mulai dari daftar jenis, spesifikasi teknis dan harga barang selalu disiapkan oleh panitia agar penyedia ataupun konsumen dapat mengakses informasi dengan baik dan tepat sesuai dengan barang yang diinginkan konsumen. Informasi kelengkapan spesifikasi dan harga telah tersedia, maka penyedia ataupun konsumen tidak ragu untuk menggunakan dan mengakses informasi tersebut diaplikasi sistem karena
merasa aman. Sebagai konsumen yang berpatokan pada regulasi, sistem E-procurement yang mekanismenya seperti belanja online tapi ini dilakukan
disediakan, hal tersebut sesuai dengan teori E-catalogue oleh McDermont (2006) dan Willem dalam Damayanti, dkk (2013).
3. E-bidding
Terkait dengan penyampaian informasi barang dan jasa hanya dilakukan dengan mengakses aplikasi SIRUP (Sistem Rencana Unit Pengadaan) dengan melengkapi data berdasarkan kebutuhan konsumen seperti menetapkan spesifikasi teknis barang/jasa. Dalam melihat informasi mengenai tahap awal sampai ditahap akhir ataupun jika salah satu pihak ada yang dirugikan, penyedia ataupun konsumen dapat melihat dan mengakses di aplikasi sistem. Untuk pengguna berharap tidak adanya lagi sistem gratifikasi ataupun kolusi sehingga sistem E-procurement terhindar dari KKN sesuai dengan tujuan kebijakan tersebut. Pengawasan yang harus dilakukan oleh pihak LPSE untuk penyedia dan panitia dalam tahapan lelang barangnya, hal tersebut belum sesuai dengan teori Kodar Udoyono (2012) dan Willem dalam Damayanti, dkk (2013) karena masih kurangnya pengawasan pihak LPSE kepada penyedia ataupun panitia sehingga masih adanya kesempatan untuk melakukan gratifikasi.
4. E-purchasing
Kantor bagian pengadaan barang dan jasa wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga penentuan yang adil dalam memilih pemenang. Ketika panitia tidak melaksanakan atau menunda kewajiban dalam pengumuman hasil pemenang, maka dianggap pelanggaran. Dalam segi keamanan transaksi, penyedia ataupun konsumen merasa aman karena semua dilindungi oleh legalitas pemerintah berdasarkan aturan perundang-undangan. Instansi terkait wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga ditahap evaluasi terakhir
pengumuman pemenang, menunjukkan tata cara diawal hingga diakhir pengumuman pemenang, hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh Maria Avilla dalam jurnalnya (2014:14).
72 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai Implementasi E-procurement Barang dan Jasa di Kabupaten Gowa sebagai berikut:
1. E-tendering
Persoalan pengadaan barang dan jasa yang dulunya dengan cara manual dan cukup rumit sekarang dengan adanya E-procurement ini maka menjadi lebih efektif dan efisien. Selaku pengguna layanan E-procurement mengakui masih kurangnya pengawasan yang diberikan pihak pengadaan barang kepada panitia sehingga perlunya pengawasan secara komprehensif dari tahap hingga akhir pengumuman, agar tidak ada lagi kejadian gratifikasi untuk memenangkan tender dan dipilih untuk dibeli barangnya oleh instansi sebagai konsumen sehingga masih ada celah untuk kasus KKN.
2. E-catalogue
E-catalogue yakni sistem informasi elektronik mulai dari daftar jenis, spesifikasi teknis dan harga barang selalu disiapkan oleh panitia agar penyedia ataupun konsumen dapat mengakses informasi dengan baik dan tepat sesuai dengan barang yang diinginkan konsumen. Informasi kelengkapan spesifikasi dan harga telah tersedia, maka penyedia ataupun konsumen tidak ragu untuk menggunakan dan mengakses informasi tersebut diaplikasi sistem karena
merasa aman. Sebagai konsumen yang berpatokan pada regulasi, sistem E-procurement yang mekanismenya seperti belanja online tapi ini dilakukan oleh instansi pemerintah dalam pengadaan sarana ataupun prasarana yang akan disediakan.
3. E-bidding
Terkait dengan penyampaian informasi barang dan jasa hanya dilakukan dengan mengakses aplikasi SIRUP (Sistem Rencana Unit Pengadaan) dengan melengkapi data berdasarkan kebutuhan konsumen seperti menetapkan spesifikasi teknis barang/jasa. Dalam melihat informasi mengenai tahap awal sampai ditahap akhir ataupun jika salah satu pihak ada yang dirugikan, penyedia ataupun konsumen dapat melihat dan mengakses di aplikasi sistem. Untuk pengguna berharap tidak adanya lagi sistem gratifikasi ataupun kolusi sehinggasistem E-Procurement terhindar dari KKN sesuai dengan tujuan kebijakan tersebut. Pengawasan yang harus dilakukan oleh pihak LPSE untuk penyedia dan panitia dalam tahapan lelang barangnya.
4. E-purchasing
Kantor bagian pengadaan barang dan jasa wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga penentuan yang adil dalam memilih pemenang. Ketika panitia tidak melaksanakan atau menunda kewajiban dalam pengumuman hasil pemenang, maka dianggap pelanggaran. Dalam segi keamanan transaksi, penyedia ataupun konsumen merasa aman karena semua dilindungi oleh legalitas pemerintah berdasarkan aturan perundang-undangan. Instansi terkait wajib mendukung mulai dari tahap awal hingga ditahap evaluasi terakhir
pengumuman pemenang, menunjukkan tata cara diwal hingga diakhir pengumuman pemenang.
2. Saran
1. Sebaiknya pemerintah dan stakeholder terkait untuk lebih meningkatkan atensinya terhadap Implementasi E-procurement.
2. Seharunsya perekrutan tenaga ahli (SDM yang berkompeten, jujur dan